Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

NU Padang Sosialisasikan Kartanu

Padang, Ulama Salaf Online. Warga Nahdlatul ? Ulama (NU) di Kota Padang diminta untuk terus meningkatkan ukhuwah islamiyah, baik di bulan suci Ramadhan maupun setelahnya. Karena dengan ukhuwayah ? islamiyah yang semakin kuat, berbagai persoalan di tengah umat dapat dicarikan solusinya.?

?

Ketua PC Nahdlatul Ulama Kota Padang Yultel Ardi, menyebutkan hal itu pada acara buka bersama keluarga besar NU Kota Padang, Jumat (1/7), di kantor PCNU Padang. Menurut Yultel ? jika ukhuwah islamiyah umat rusak, maka akan menimbulkan kekacauan. Kalau sudah kacau, tentu tidak akan memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam beribadah dan berbuat amal kebaikan.

NU Padang Sosialisasikan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Padang Sosialisasikan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Padang Sosialisasikan Kartanu

"Dengan acara buka bersama ini, momen penting bagi keluarga NU Padang meningkatkan ukhuwah islamiyah," kata ? Yultel Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.?

Menurut Yultel, selain buka bersama, yang lebih penting pula adalah sosialisasi Kartanu (Kartu Anggota NU). Disebutkan, anggota NU di Indonesia berjumlah jutaan orang. Namun tidak memiliki kartu sebagai tanda anggota. "Salah satu upaya mendata anggota NU tersebut adalah dengan menerbitkan Kartanu. Melalui momen ini, kami minta agar orang NU di Padang dan Sumatera Barat mulai mendaftarkan dirinya sebagai anggota NU ke kantor PC NU," ujar dia.?

Ulama Salaf Online

"Selain itu, di bulan Ramadhan masjid, surau, mushalla ramai dikunjungi jamaah. Pasca Ramadhan biasanya masjid, surau dan mushalla kembali sepi dari jamaah. Pengurus NU sebagai tokoh umat diminta tetap memakmurkan masjid pasca Ramadhan. Masjid harus dimakmurkan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amaliah," kata Yultel menambahkan.?

Usai buka bersama, Ketua PC NU Padang Yulter Ardi menyerahkan paket lebaran kepada salah seorang anggota NU Padang secara simbolis. (Armaidi Tanjung/Zunus)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Hadits Ulama Salaf Online

Jumat, 23 Februari 2018

Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian

Lombok Tengah, Ulama Salaf Online. Ekspedisi Islam Nusantara yang dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh tiba di pulau Lombok pada Ahad (5/6). Mereka disambut Wakil Bupati dan pengurus NU di Desa Lendang Simbe, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian

Mereka disambut dengan iringan gendang baleq. Kemudian satu per satu tim Ekspedisi Islam Nusantara dikalungi songket khas Sasak.

Menurut salah seorang tokoh kesenian Sasak, Lalu Putria, gendang beleq pada mulanya adalah kesenian penyemangat kepada prajurit perang di kerajaan Sasak di masa lampau.

Ulama Salaf Online

“Di era kekinian gendang beleq dijadikan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang hadir di bumi Sasak ini,” katanya.

Ulama Salaf Online

Setelah disambut, kemudian Ekspedisi Islam Nusantara disuguhi penampilan pria-pria pemberani sasak, melalui presean. Menurut Lalu, presean adalah olahraga kedigjayaan pria Sasak untuk memilih prajurit tangguh pada era kerajaan.

“Saat ini olahraga tersebut untuk menunjukkan sebagai sifat kekesatriaan para lelaki Sasak,” lanjutnya.

Kemudian tim Ekspedisi Islam Nusantara berpindah tempat ke Pondok Pesantren Nurul Qur’an. Mereka berjalan kaki sekitar 300 meter sambil tetap diiringi gendang beleq.

Di pesantren tersebut lagi-lagi disambut kesenian, yaitu marawis dari santri putra dan putri serta tarian rudat.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat TGH Ahmad Tqiyuddin Mansur, Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah TGH Ma’ruf Ma’mun, putra TGH Faisal yaitu TGH Habib Rahman, dan para tuan guru lain, serta ratusan masyarakat di sekitar pesantren. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Anti Hoax, Quote, Hadits Ulama Salaf Online

Kamis, 22 Februari 2018

Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan

Brebes, Ulama Salaf Online

Pimpinan Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPNU-IPPNU) Kecamatan Ketanggungan Brebes, mewajibkan peserta Pendidikan dan Pelatihan Utama (Diklatama) CBP dan KPP menghafal Mars Syubanul Wathan. Lagu kebangsaan karangan KH Wahab Chasbullah ini diyakini mampu menginspirasi para pelajar NU untuk lebih mencintai tanah air.

“Saya yakin para pelajar NU akan termotivasi lebih mencintai tanah air ketika menyanyikan Mars Syubhanul Wathan,” ucap Ketua PAC IPNU Ketanggungan Abdul Aziz di sela-sela pendidikan dan latihan utama Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Lembaga Korps Pelajar Putri (KPP) Kecamatan Ketanggungan di SMK Islam Bustanul Ulum, Karangmalang, Ketanggungan, Brebes, Ahad (5/6).

Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Brebes Wajib Hafal Mars Syubhanul Wathan

Setiap peserta, lanjut Azis, untuk bisa lulus Diklatama wajib setor mars tersebut dihadapan para fasilitator dan instruktur. “Kalau belum bisa, maka akan diulang-ulang terus hingga hafal sehingga dinyatakan lulus diklatama,” tuturnya.

Diklatama diikuti 43 peserta yang nantinya akan kembali menjalani seleksi sebagai pengurus Dewan Kerja Anak Cabang (DKAC) CBP-KPP Ketanggungan sehingga menjadi kader yang tangguh dan militan.?

Diklatama digelar selama tiga hari dengan materi ideologisasi berupa paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, ? Ke-CBP/KKP-an.?

Materi Wajib meliputi peraturan baris–berbaris dan tata laksana upacara, latihan dasar bela diri, manajemen perjalanan, medical first responder basic, pengetahuan SAR, wawasan kebangsaan dan bela negara, pelestarian alam dan lingkungan hidup, komunikasi dan kerjasama Tim, serta sosiologi pedesaan.

Ulama Salaf Online

Untuk materi teknis lapangan meliputi basic ropes (dasar tali temali), prusicking dan rappelling, navigasi darat I, dan survival.

Alfiyatun Hasanah dari Ranting Cikeusal Kidul terpilih menjadi peserta terbaik untuk KPP dan Abdul Rohman dari Ranting Kubangsari berhasil menjadi peserta terbaik CBP.

“Sebagai generasi muda wajib hukumnya meneruskan perjuangan para ulama NU dalam mempertahankan NKRI dan Pancasila dari rongrongan para pemberontak yang ingin meruntuhkan NKRI dan berusaha mengganti Pancasila dengan Khilafah,” kata salah satu peserta, Abdul Rohman. (Wasdiun/Zunus)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Hadits, Kajian Islam Ulama Salaf Online

Sabtu, 10 Februari 2018

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Ulama Salaf Online. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Ulama Salaf Online

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ulama Salaf Online

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online AlaNu, Doa, Hadits Ulama Salaf Online

Kamis, 01 Februari 2018

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Depok, Ulama Salaf Online. Sejak pagi, ribuan warga Nahdliyin Kota Depok tampak gembira. Dengan berseragam batik hijau, anggota Fatayat-Muslimat memenuhi aula Masjid Dian Al-Mahri Jl Meruyung Raya Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (15/5).

Mereka bersiap sejak kemarin untuk menyambut kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang dijadwalkan melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Depok periode 2013-2018.

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Dalam pantauan Ulama Salaf Online, di sepanjang jalan menuju masjid yang kerap disebut Masjid Kubah Mas ini tampak bendera NU yang melambai-lambai dari pepohonan rindang. Beberapa jamaah Nahdliyat tampak berjalan santai menuju aula masjid tempat pelantikan digelar. Bus-bus dan kendaraan pribadi berdatangan sejak pagi hingga menjelang siang. Aparat keamanan baik negeri (Polisi) maupun swasta (Banser) tampak berjaga-jaga di beberapa titik.

Ulama Salaf Online

Dalam pidato pengarahannya selaku Ketum PBNU, Kiai Said menyatakan pentingnya Nahdliyin Depok memahami garis perjuangan NU. Selain mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), NU Depok juga harus mendakwahkannya. Hal ini dilakukan agar bangsa ini tidak pecah, tidak tercabik-cabik, dan tererai-berai. Agama Islam harus dipahami dan dikaji, bukan dilembagakan.

Ulama Salaf Online

“NU tidak butuh negara Islam. Sayang kalau namanya sudah kadung jadi negara Islam tetapi pejabatnya banyak yang korupsi, banyak yang dipanggil KPK. Malu nggak Islam? Makanya, NU lebih memilih negara kebangsaan, negara nasionalis, tetapi berakhlak mulia,” kata Kang Said.

Hal ini, lanjutnya, seperti Nabi Muhammad SAW ketika dari kota Mekah ke kota Yatsrib. Pada waktu itu, Rasulullah mendapati masyarakat yang plural. Ada orang orang Islam: Auz dan Khazraj, ada pula non muslim, Yahudi: Bani Quraidhah, Bani Qainuqa’, Bani Nadlir. Makanya di Quran banyak ayat yang mengajak bicara orang Yahudi. Artinya penduduk Yatsrib itu multikultural.

“Lalu, Rasulullah membuat perjanjian yang disepakati bersama antara kaum muslimin dan non muslim. Perjanjian tersebut terkenal dengan sebutan Mitsaq al-Madinah. Rasulullah menegaskan, Ini ketetapan Muhammad untuk semua warga, asal satu cita-cita, satu visi-misi, satu garis perjuangannya sesungguhnya mereka itu umat yang satu,” papar Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah Saudi Arabia ini menambahkan, Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah negara yang diikat dengan satu cita-cita dan visi-misi. Tidak diikat dengan dasar agama atau kesukuan. Nabi tidak mendeklarasikan negara berbasis agama dan suku karena di dalamnya ada Muslim dan non-Muslim, ada Arab dan non-Arab.

“Anehnya, dalam perjanjian Madinah itu sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawiyah juz II halaman 61, 2 setengah halaman tidak ditemukan kata-kata Islam sama sekali. Artinya Nabi membangun masyarakat berbasis budaya dan peradaban,” tegas Kiai Said.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Said, yang asalnya bernama Yatsrib berubah nama menjadi Madinah yang berarti peradaban (berasal dari kata tamaddun, madaniyyah, masyarakatnya disebut mutamaddin). Warganya yang benar dilindungi, yang salah dihukum. Negara seperti ini disebut Negara Madinah.

“Contohnya, ada sahabat membunuh orang Yahudi. Nabi marah besar. Barangsiapa membunuh nonmuslim berhadapan dengan saya, saya advokatnya nanti. Dan barangsiapa yang berhadapan dengan saya, maka tidak akan masuk surga,” ujar Kiai Said. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Doa, Hadits Ulama Salaf Online

Minggu, 21 Januari 2018

Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas

Jakarta, Ulama Salaf Online - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menggelar kajian fikih ramah penyandang disabilitas di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (19/10). Mereka dalam kajian ini menghadirkan sejumlah komunitas penyandang disabilitas.

Dalam kesempatan ini komunitas tersebut mengungkapkan sejumlah konstruksi dan fasilitas rumah ibadah agama Islam yang belum ramah terhadap penyandang disabitilas. Mereka juga menyampaikan kebutuhan buku-buku hadits dan fikih berhuruf Braile yang masih sangat minim.

Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas

Ketua LBM PBNU KH Najib Hasan menyampaikan bahwa kesadaran raham penyandang disabilitas memang belum merata di kalangan pengelola fasilitas ibadah baik masjid maupun mushala.

Ulama Salaf Online

“Belum ada masjid dan pesantren yang memikirkan masalah penyandang disabilitas. Untuk itu kita ingin mendorong semua pihak untuk terbuka dengan amsalah ini,” kata Kiai Najib.

Ulama Salaf Online

Sekretaris LBM PBNU KH Sarmidi Husna mengatakan bahwa P3M sebenarnya sudah lama memberikan masukan kepada PBNU.

“Pak Setia, waktu itu ia datang ke PBNU menemui Ketua PBNU KH Imam Aziz, lalu ia memanggil saya. Isu disabilitas ini disetujui Kiai Said Aqil Siroj dan Rais Aam PBNU. Pertemuan kita kali adalah dalam rangka menyiapkan draf awal terkait materi fikih ramah disabilitas,” kata Sarmidi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Hadits, RMI NU, Sunnah Ulama Salaf Online

Sabtu, 13 Januari 2018

Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit

Semarang, Ulama Salaf Online. Panitia pelaksana Liga Santri Nusantara (LSN) Regional 2 Jawa Tengah menggelar Technical Meetting (TM) dan diskusi publik di Gedung Berlian (DPRD Jawa Tengah) Kota Semarang, Kamis (25/8).?

Demi menjaga moralitas santri yang dikenal santun dan anti kekerasan, dalam TM itu disepakati oleh para manajer klub bahwa setiap pemain yang mendapat kartu kuning harus mencium tangan wasit. "Ini demi menjaga supaya tidak ada santri yang main kemudian terjadi hal-hal yang diinginkan," demikian dikatakan salah satu peserta TM. ?

Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit

Ketua panitia pelaksana Regional 2 Jateng, Shalahuddin menyatakan ada 18 klub pesantren yang telah dinyatakan lolos verifikasi data dengan catatan penting semua klub harus main fair play terlebih masalah pemain santri. "Kalau ditemukan ada pemain dari non-santri, kami tidak segan untuk mendiskualifikasi klub tersebut," tandasnya. (Mundzir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama, Hadits, Habib Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock