Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng

Jombang, Ulama Salaf Online - Para penggemar novel-novel Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) dapat kembali menikmati sajian cinta yang indah dan menggugah dari penulis terkemuka Indonesia tersebut. Kang Abik akan meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Bidadari Bermata Bening. Ia direncanakan tampil bersama Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah), Jumat (28/4) siang.

Dipilihnya Pesantren Tebuireng sebagai tempat peluncuran novel ini berasal dari inisiatif dan permintaan Kang Abik. Terkait pemilihan tempat, ada dua alasan yang diungkapkan pria kelahiran Semarang ini.

Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng

"Pertama, Tebuireng merupakan tempat yang bersejarah secara nasional. Tidak hanya tentang NU. Bicara tentang peta keislaman di Indonesia, maka Tebuireng dan Jombang tidak bisa dipisahkan," ujar Kang Abik.

Ulama Salaf Online

Alasan kedua, cerita dan tokoh dalam novel Bidadari Bermata Bening itu berakar dari pesantren. "Maka, sangat tepat novel Bidadari Bermata Bening diluncurkan di pesantren, tepatnya Pesantren Tebuireng," tutur novelis alumnus Al-Azhar University Kairo itu.

Ketua Panitia Peluncuran dan Bedah Novel Bidadari Bermata Bening Septian Pribadi menuturkan, acara tersebut akan dihadiri tidak hanya santri Tebuireng.

Ulama Salaf Online

"Panitia mengundang perwakilan seluruh pesantren di Jombang, bahkan hingga Kediri. Insya Allah peluncuran dan bedah novel Bidadari Bermata Bening akan dihadiri sekitar 2.000 orang," kata Septian, Pemimpin Redaksi Majalah Tebuireng ini. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Amalan, Aswaja Ulama Salaf Online

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Probolinggo, Ulama Salaf Online. Sebagai upaya untuk meneladani para tokoh pendiri NU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, Rabu (30/4).

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Nobar film Sang Kiai ini diikuti oleh seluruh pengurus dan kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Sumberasih. Mereka berbaur dengan Nahdliyin menyaksikan tayangan film di layar lebar dengan menggunakan LCD.

Hadir dalam nobar Sang Kiai tersebut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim serta para Ketua Ranting dan komisariat IPNU se Kecamatan Sumberasih.

Ulama Salaf Online

Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim mengungkapkan bahwa nobar Sang Kiai ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan para tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah berdirinya NU. Dengan demikian, para kader IPNU tahu perjuangan ulama dalam mendirikan organisasi terbesar di Indonesia ini.

Ulama Salaf Online

“Kami ingin memperkenalkan lebih dalam bagaimana sejarah tokoh NU, terutama KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu melahirkan sebuah resolusi jihad,” ungkapnya.

Menurut Lukman, nobar Sang Kiai ini sangat penting bagi kader IPNU untuk masa depan perjuangan NU. Sebab selama ini banyak Nahdliyin yang hanya mengetahui sejarah berdirinya NU dari buku-buku dan cerita saja.

“Mudah-mudahan dengan nobar Sang Kiai ini ada semacam inspirasi dan motivasi serta semangat untuk berjuang demi membesarkan organisasi NU. Sebab dengan menonton langsung, para kader tentunya akan tahu seberapa besar pengorbanan para ulama untuk bisa mendirikan NU,” tegasnya.

Nobar Sang Kiai ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono. Menurutnya, langkah ini merupakan sebuah cara yang positif dan efektif supaya para kader IPNU bisa meneladani figur pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang sangat gigih berjuang demi merebut kemerdekaan Indonesia.

“Semoga sosok dari Kiai Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi teladan dan inspirasi para kader IPNU dan Nahdliyin agar tidak berputus asa dalam mengkader pelajar NU yang nantinya akan menjadi estafet penerus perjuangan di organisasi NU beberapa tahun mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Jadwal Kajian, AlaNu Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Februari 2018

Lagi, ANNAS Catut NU untuk Musuhi Kelompok Lain

Jakarta, Ulama Salaf Online. Untuk kesekian kalinya organisasi intoleran yang menamakan diri ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syiah) mencatut nama Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari gerakan mereka. Kali ini terjadi menjelang acara pelantikan pengurus ANNAS Bogor Raya.

Lagi, ANNAS Catut NU untuk Musuhi Kelompok Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, ANNAS Catut NU untuk Musuhi Kelompok Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, ANNAS Catut NU untuk Musuhi Kelompok Lain

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor baru-baru ini menerima selebaran acara pengukuhan itu. Di dalamnya tertulis acara meliputi “Materi Ilmiyyah” yang berisi diskusi “Syiah Bukan Islam”, “Bahaya Syiah terhadap NKRI”, dan “Bahaya Syiah terhadap Umat Islam”.

Selebaran tersebut memasang logo resmi NU dan ormas-ormas lain seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Hidayatullah, MUI, Persis, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Forum Umat Islam, Majelis Az Zikra, dan lainnya. Di kertas itu juga terpampang foto Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Ketua Dewan Syuro ANNAS Bogor Didin Hafiduddin sebagai pembicara kunci.

Ulama Salaf Online

Ketua PCNU Bogor Ifan Haryanto mengatakan sangat keberatan dengan aksi pencantuman logo NU itu. “Jika organisasi tersebut tidak merevisi undangan yang mencatut logo NU itu, PCNU Kota Bogor mempertimbangkan untuk melaporkan organisasi tersebut ke pihak yang berwajib,” katanya kepada Ulama Salaf Online, Kamis (19/11) malam.

Ulama Salaf Online

Berdasarkan selebaran itu, acara pelantikan digelar Ahad, 22 November 2015, pukul 08.00 sampai dengan 11.30 WIB, di Aula KONI Kota Bogor, Jalan Pemuda No. 4, GOR Padjajaran Bogor, Jawa Barat. Narasumber pada “Materi Ilmiyyah” antara lain KH. Khaerul Yunus (Penasihat MUI Bogor dan Ketua Dewan Pakar ANNAS), Dr. H. Abdul Chair Ramadhan SH, MH (Komisi Hukum MUI Pusat dan Ketua Litbang MIUMI), dan KH. M. Rizal Fadhilah, SH (Dewan Pakar ANNAS Pusat).

Dalam kegiatannya di berbagai daerah ANNAS kerap mencatut NU secara organisasi terlibat dalam sejumlah aksi intoleransi. Dalam aksi deklarasi anti Syiah di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan pada Maret 2015 lalu, organisasi yang diketuai tokoh Wahabi KH Athian Ali Dai ini juga melakukan hal yang sama. PCNU setempat menegaskan menolak kegiatan tersebut.

Sebagai ormas berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, dalam berbagai forum, NU berulang kali menyatakan tak sepaham dengan Syiah. Hanya saja, perbedaan pendapat tersebut tak mesti diekspresikan dengan jalan memusuhi. (Mahbib)

Rabu, 14 Februari 2018

Kopri PB PMII Sikapi Beredarnya Situs Nikah Siri Online

Jakarta, Ulama Salaf Online. Adanya situs nikah siri online menjadi perhatian berbagai kalangan. Adanya syarat utama pernikahan yaitu minimal 14 tahun menjadi polemik tersendiri. Hal tersebut diungkap oleh Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) PB PMII, Septi Rahmawati.

"Pernikahan dibawah usia 18 tahun bagi perempuan dan 21 tahun bagi laki-laki hal ini berdampak pada psikis dan alat reproduksi," ungkap Septi, Senin (25/9).

Kopri PB PMII Sikapi Beredarnya Situs Nikah Siri Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Kopri PB PMII Sikapi Beredarnya Situs Nikah Siri Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Kopri PB PMII Sikapi Beredarnya Situs Nikah Siri Online

Untuk anak yang belum menikah akan mengalami gangguan psikis. Seperti tidak siap menjalani pernikahan, hamil dan merawat anak. Selain itu, secara kesehatan bagi anak yang belum siap reproduksinya tidak jarang akan mengalami keguguran.

Dia mengakui olehnya, pernikahan anak akan berimbas pada generasi penerus, baik secara fisik maupun psikis. Di mana anak-anak adalah generasi masa depan yang harus sekolah. Ketika anak-anak dipaksa untuk menikah, hal tersebut akan menggangu perkembangan usianya untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan

Di sisi lain, untuk menghindari anak membuka situs tersebut, orang tua harus mengawasi anak menggunakan gadget. Anak-anak telah menggunakan gadget sejak pendidikan usia dini, memudahkan mereka untuk mengetahui banyak hal, diakui atau tidak orang tua semakin sulit untuk mengontrol.

Ulama Salaf Online

"Hal ini membuat anak berpikir dan bertindak lebih cepat dari biasanya, karena informasi yang dengan cepat mereka terima," tegasnya.

Dalam konteks ini pendidikan, orang tua dalam keluarga sangat penting untuk pengawalan dalam proses perkembangan kepribadian anak menjadi tanggung jawab orangtua di rumah. Di sekolah guru juga membentuk karakter anak, sesuai dg perkembangan usianya.

Dilanjutkan dengan pendidikan ilmu agama di tempat mengaji atau disebut diniyah setelah pulang sekolah. Semua komponen akan membentuk karakter anak melalui aktivitas positif di dalamnya. rumah, sekolah, diniyah.

Ulama Salaf Online

"Semoga ini menjadi tugas kita semua, organisasi yang peduli dengan perempuan dan anak serta pemerintah terkait," pungkasnya. (Nita Nurdiani Putri/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Amalan Ulama Salaf Online

Selasa, 06 Februari 2018

Ibu-ibu Serahkan Cincin Emas Bantu Bangun Rumah Sakit

Sragen, Ulama Salaf Online. Ketua PCNU Sragen KH Ma’ruf Islamuddin berharap masyarakat yang menyaksikan peletakan pembangunan pertama rumah sakit NU tidak sekadar menonton atau melihat, namun menyaksikan dalam arti menjadi saksi dan mendoakan agar proses pembangunan berjalan lancar dan cepat selesai.

Ia menjelaskan rumah sakit NU yang dibangun menggunakan dana masyarakat Sragen melalui Kotak Infak (Koin) NU akan diberi nama Sido Waras. Bagian depan lahan pembangunan rumah sakit ini berlokasi di Kecamatan Sumberlawang menempati lahan wakaf dari MWCNU Sumberlawang .

“Ditambah dengan pembelian tanah dengan harga 225 ribu per meter,” kata Kiai Ma’ruf Islamuddin di lokasi peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit, Selasa (30/1) sore.

Ibu-ibu Serahkan Cincin Emas Bantu Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu-ibu Serahkan Cincin Emas Bantu Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibu-ibu Serahkan Cincin Emas Bantu Bangun Rumah Sakit

Nantinya rumah sakit menempati area total 9000 meter persegi yang saat ini masih ditanami tebu. Dari 9000 meter tersebut baru separuhnya yang sudah dibayar.

“Pembayaran separuh lahan itu pun masih utang,” kata Kiai Ma’ruf Islamuddin.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Ma’ruf Islamuddin bersama Tim NU Care-LAZISNU Sragen mengakomodir penggalangan dana secara spontan. Penggalangan dana dilakukan dengan menawarkan kepada hadirin untuk membeli sertifikat tanah bakal pembanguan rumah sakit.

Ulama Salaf Online

Bagi masyarakat yang menyumbang dengan nilai minimal Rp225.000, diberikan sertifikat. Masyarakat juga dapat memberikan sumbangan di luar angka tersebut.

Tak sedikit para peserta Rakornas turut berpartisipasi dalam momentum tersebut. Penggalagan dana yang dilakukan dalam lima menit mampu mengumpulkan dana mencapai enam juta rupiah. Menariknya ada seorang peserta yang memberikan cincin emas miliknya.

Ulama Salaf Online

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin yang datang tak lama setelah penggalangan tersebut mengapresiasi peserta perempuan yang memberikan cincin emasnya.

“Semangat yang luar biasa dengan menyumbangkan cincin secara spontan,” kata Kiai Ma’ruf Amin saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit NU Sido Waras.

Ia mengatakan kejadian tersebut mirip dengan masa Rasulullah saat ada ibu-ibu yang mencopot gelangnya untuk membantu perjuangan Rasulullah. Rais Aam mengatakan perjuangan perempuan memang sangat penting mendukung suatu keberhasilan.

“Adanya pejuang perempuan atau perempuan pejuang, semoga rizkinya berkah,” Rais Aam mendoakan. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja Ulama Salaf Online

Minggu, 28 Januari 2018

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bagaimana seseorang memanggil orang lain sangat ditentukan oleh hubungan di antara mereka. Orang yang lebih muda atau lebih rendah memanggil orang yang lebih tua atau di atasnya harus dengan embel-embel tertentu seperti “Mbak”, “Mas”, “Paklik”, “Bulik”, “Pakde”, “Bude”, dan sebagainya.?

Sebaliknya orang yang lebih tua atau lebih tinggi, boleh memanggil orang yang lebih muda atau di bawahnya tanpa embel-embel apa pun sehingga cukup menyebut namanya saja. Namun, bagi Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—tradisi ini bisa tidak berlaku karena Mbah Ngis biasa menggunakan sudut pandang lain sehingga memungkinkannya memanggil orang yang lebih muda atau di bawahnya dengan embel-embel di atas.

Mbah Ngis adalah adik dari Mbah Umar, Mbah Mustaqimah, Mbah Muslihah, Mbah Nidzom Mbah Jisam, dan sebagainya. Mbah Ngis biasa memanggil Mbah Mustaqimah dan Mbah Muslihah dengan embel-embel “Bude”; dan memanggil Mbah Umar dengan embel-embel “Pakde”. Demikian pula ketika memanggil Mbah Nidzom dan Mbah Jisam.?

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati

Padahal Mbah Ngis seharusnya atau sewajarnya, memanggil beliau-beliau itu cukup dengan “Mbak” atau "Yu", “Mas” atau “Kang” karena Mbah Ngis adalah adik. Sudut pandang yang digunakan Mbah Ngis memanggil beliau-beliau dalam hal ini adalah sudut pandang anak-anak Mbah Ngis sehingga memungkinkannya memberikan penghormatan yang lebih tinggi sekaligus untuk “mbasakke” anak-anak sendiri.

Terhadap para keponakan dari putra-putri Mustaqimah, Mbah Muslihah, Mbah Nidzom, Mbah Jisam, dan sebagainya, ? Mbah Ngis selalu memanggil mereka “Mas” atau “Mbak”, padahal seharusnya atau sewajarnya Mbah Ngis memanggil mereka cukup dengan menyebut namanya saja karena bagaimanapun Mbah Ngis adalah bibi bagi mereka. Tetapi Mbah Ngis memilih menggunakan sudut pandang anak-anak sendiri bukan saja untuk “mbasakke” mereka tetapi lebih dari itu Mbah Ngis ingin memberikan penghormatan atau penghargaan yang lebih tinggi.?

Ulama Salaf Online

Apalagi banyak dari keponakan-keponakan Mbah Ngis adalah orang-orang terpandang di komunitas masing-masing, seperti menjadi pengasuh pesantren atau pemuka agama di masyarakat. Tidak jarang bahasa yang digunakan Mbah Ngis untuk berbicara dengan para keponakan yang sudah berkeluarga adalah bahasa Jawa krama hinggil.

Demikian pula cara Mbah Ngis memanggil adiknya sendiri yang bernama Mbah Umi. Mbah Ngis selalu memanggil beliau “Lik Umi” atau “Bulik Umi”. Tentu saja sudut pandang yang digunakan Mbah Ngis adalah sudut anak-anak sendiri yang bukan saja untuk “mbasakke” mereka tetapi lebih dari itu memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Terhadap orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan, Mbah Ngis tetap berusaha memanggilnya dengan embel-embel tertentu. Misalnya, kepada para tetangga atau relasinya, Mbah Ngis memanggil mereka “Pak”, “Bu” atau “Mbok” bagi mereka yang sudah berkeluarga.?

Ulama Salaf Online

Kepada yang masih muda dan belum keluarga, Mbah Ngis biasa memanggil mereka dengan embel-embel “Mas”, “Kang” atau “Mbak”. Bahkan kapada para santri di pondok yang masih remaja atau anak-anakpun, Mbah Ngis tidak jarang memanggil mereka “Mas”, atau “Mbak”.

Tidak hanya itu, kepada anak tertua Mbah Ngis selalu memanggilnya “Mbak” dan “Mas” untuk suaminya. Hal ini selain untuk “mbasakke” adik-adik dari anak-anak tertua tersebut juga untuk memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Singkatnya, Mbah Ngis selalu mencari celah bagaimana bisa menghormati atau menghargai orang lain dalam hal memanggil dengan cara menggunakan sudut pandang atau posisi yang lebih rendah dari posisinya sendiri. Mbah Ngis jarang memanggil orang lain dengan embel-embel “Nduk”, “Le” atau “Dik” karena Mbah Ngis sering kali tidak ingin menunjukkan posisinya yang lebih tinggi dari pada orang lain.?

Mbah Ngis memang orang Jawa yang rendah hati (tawadhu’) dan senantiasa berhati-hati dalam tindak-tanduk hingga nyaris tidak ada orang lain yang merasa pernah direndahkannya. Mbah suka menjunjung tinggi akhlak mulia yang islami.?

Sebuah syair bahasa Arab berbunyi:?

? ? ? ? ? *** ? ? ? ? ?

? ? ? ? *** ? ? ? ? ? ?

Artinya:?

Tawadhulah, maka ? engkau akan seperti bintang yang terlihat rendah di permukaan air tapi sesungguhnya ia tinggi di langit.

Dan janganlah engkau seperti asap yang meninggi dengan sendirinya, padahal asalnya ia rendah.”

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Aswaja Ulama Salaf Online

Sabtu, 20 Januari 2018

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Yogyakarta, Ulama Salaf Online. Tahun 2017 ini Yogyakarta menjadi tempat bertarungnya sekitar 2000 siswa madrasah dengan level prestasi tingkat nasional dan internasional.

Mereka berkompetisi di ajang Ajang Kreasi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 pada 7-12 Agustus 2017.

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Kompetisi dipusatkan di dua tempat yaitu Stadion Mandala Krida dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Siswa Madrasah dari semua jenjang ini memperebutkan supremasi tertinggi di antara para siswa madrasah seluruh Indonesia.

Pembukaan kegiatan Aksioma-KSM 2017 ini dipusatkan di Stadion Mandala Krida, Senin (7/8) malam. Berbagai penampilan seni dan budaya disuguhkan dengan baik oleh siswa dari sejumlah siswa di Yogyakarta, salah satunya dari MAN 2 Yogyakarta.

Lengkap dengan busana ala Keraton, mereka menampilkan karnaval budaya dengan pergerakan lincah menelusuri salah satu sudut stadion Mandala Krida.

Ulama Salaf Online

Ribuan siswa berprestasi dari 34 Provinsi itu siap berkompetisi secara sportif. Mereka bangga memilih madrasah sebagai tempat menempuh ilmu dan akhlak.

"Saya bangga menjadi bagian dari siswa madrasah. Saya sangat siap berkompetisi dengan siswa-siswi lain dari seluruh Indonesia," ujar Kholida Nailul Muna, siswa MAN 3 Bantul, DIY juara ajang matematika internasional di Vietnam pada Juli 2017 lalu.

Senada dengan Kholida, Satria Widyanto yang merupakan siswa Madrasah Muallimin Yogyakarta juga siap mempertahankan emas yang dia peroleh dalam ajang KSM di Pontianak.

Ulama Salaf Online

"Saya meraih emas di KSM Pontianak, saya siap menghadapi teman-teman dari seluruh Indonesia. Saya bangga madrasah," ujarnya mengucapkan rasa antusiasmenya.

Seluruh kontingen yang mengisi penuh setiap tribun stadion menyambut penuh gembira dan semangat untuk menghadapi ajang sains ini.

Selain 2000 kontingen, Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh provinsi juga mengirimkan sekitar 10.000 pendamping yang terdiri dari guru, pelatih, Kepala Kanwil, dan para kepala bidang.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, PonPes Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock