Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

PCINU Sudan Sambut Kehadiran Mahasiswa Baru

Khartoum, Ulama Salaf Online. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan menyambut kehadiran mahasiswa baru dari Indonesia yang telah lulus seleksi beasiswa dari Kementerian Pendidikan tinggi Sudan, Senin (5/11) di kantor PCINU Khartoum.

Mahasiswa baru dijadwalkan datang pada hari Senin pukul 13:10 WS. PCNU Khartoum Sudan secara langsung mengadakan acara ta’aruf sebagai penyambutan calon ulama NU masa depan, yang dikoordinatori oleh ketua panitia penyambutan, Miftahul Anwar.



PCINU Sudan Sambut Kehadiran Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Sambut Kehadiran Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Sambut Kehadiran Mahasiswa Baru

Sudan yang merupakan Negara yang dikenal sangat panas, namun tidak membuat para mahasiswa baru patah semangat untuk menimba ilmu. Bagitulah salah satu komentar mahasiswa baru ketika dimintai komentarnya saat keluar dari Bandara Internasional Khartoum Sudan.?

Acara penyambutan yang begitu meriah, diiringi dengan cuaca Sudan yang sangat mendukung, dingin disertai angin sepoi-sepoi, disambut musik seni hadrah JSQ PCINU Sudan dengan lantunan sholawat Thola’al Badru ‘alaina, yang dihadiri oleh Pensosbud KBRI Sudan, seluruh warga NU Sudan dan Muslimat NU Sudan.?

Ulama Salaf Online

Pensosbud KBRI Sudan H. Muhammad Safri dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru di negeri Sudan, semoga kalian semua betah dan dapat menuntut ilmu di Sudan dengan baik, dapat bermanfaat untuk Bangsa Indonesia ketika pulang ke Indonesia nanti.

Ulama Salaf Online

Jumlah mahasiswa baru PCINU Sudan pada tahun ini sangat banyak, sehingga jumlah total mahasiswa Sudan saat ini mencapai kurang lebih 300 an orang. “Insya Allah Sudan semakin lama, akan banyak diminati oleh Warga Indonesia untuk mencari ilmu,” ujar Safri yang disambut dengan tepuk tangan para hadirin.?

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Rais Syuriyah PCINU Sudan H Mirwan Ahkmad Taufiq. Ia berpesan kepada mahasiswa baru untuk meneguhkan niat yang tekad dalam menggali ilmu di Sudan. Dikatakannya, selama perjalanan di Sudan akan banyak tantangan, udara yang panas sekali, dingin sekali, jauh dari keluarga atau kekasih.?

Menurutnya, PCINU Sudan adalah cabang istimewa perwakilan organisasi NU, didirikan sebagai wadah organisasi warga NU yang berdomisili di Sudan. “Supaya ketika kita pulang, kita dapat menyampaikan ilmu yang sesuai dengan ulama-ulama terdahulu kita, sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah, yang tidak mudah untuk mengkafirkan amaliah orang lain,” tambahnya.?

Acara ditutup dengan saling ta’aruf mahasiswa baru, doa ? dan ramah tamah. Selanjutnya nantiakan diadakan ? seminar ke-NU-an, sebagai pengenalan organisasi NU di Sudan. ?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Zainul Alim ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Internasional, PonPes, Ulama Ulama Salaf Online

Sabtu, 27 Januari 2018

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Persahabatan kita dengan orang saleh dapat membawa keuntungan kepada kita. Persahabatan ini menjadi tanda bahwa kita juga setidaknya mendekati kesalehan yang diridhai oleh Allah SWT sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “(Mahasuci Allah) yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

Ulama Salaf Online

Syekh Syarqawi coba menjelaskan bahwa Allah juga memiliki kecemburuan di mana ia tidak memperkenankan orang lain bergaul dengan orang-orang saleh yang menjadi kekasih-Nya. Bahkan, sebagian kekasih-Nya (para wali) tidak dikenal oleh makhluk-Nya termasuk para malaikat sehingga Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka.

? ? ?) ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ulama Salaf Online

Artinya, “(Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’) memperkenalkan dan menyatukan (kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya) karena para wali itu adalah kekasih-Nya sehingga dapat menimbulkan ‘cemburu’ jika Allah mempertemukan selain kekasih-Nya dengan para wali itu. Ini berlaku untuk sebagian wali. Mereka adalah orang yang digerakkan untuk suluk. Sedangkan orang yang dikehendaki sampai pada-Nya akan dipertemukan dengan para wali dalam bentuk persahabatan khusus. Para wali itu terbagi dua kategori. Satu kelompok wali diperkenalkan oleh Allah kepada kalangan awam dan kalangan tertentu. Satu kelompok wali lainnya diperkenalkan oleh-Nya hanya kepada kalangan tertentu. Tetapi ada juga sekelompok wali yang tidak diperkenalkan kepada satupun makhluk-Nya termasuk malaikat hafazhah. Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka dan tidak memperkenankan tanah mengurai jasad mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 2-3).

Pergaulan dengan orang saleh membawa berkah tersendiri bagi kesehatan batin manusia. Pergaulan itu membawa pengaruh tersendiri kepada batin manusia dengan catatan tetap menjaga adab terhadap orang-orang saleh itu. Kalau hujan saja bermakna berkah, apalagi para kekasih Allah sebagaimana disebutkan oleh Syekh Zarruq dalam kutipan berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, yang dimaksud ‘wushul’ atau ‘sampai’ di sini adalah mengenal wali Allah dalam bentuk pergaulan yang menuntut pelaksanaan kewajiban berupa penghormatan terhadap perintah dan larangannya… Sejumlah ulama mengatakan, ‘Hujan adalah saat-saat dekat dengan Allah karenanya kita dianjurkan untuk keluar dan tabarukan saat hujan turun. Ini disebutkan oleh Rasulullah SAW. Itu baru keberkahan hujan, apalagi orang beriman ahli makrifat (arifin)?’... Salah satu dalil bahwa memandang wajah arifin dapat menambah makrifat dan lain sebagainya adalah ucapan Anas RA, ‘Tidaklah kami menghalau debu makam Rasulullah SAW yang melekat di tangan kami melainkan kami merasakan ada sesuatu yang kurang di hati ini,’ (lanjutkan terusannya). Secara umum, para wali Allah adalah pintu-Nya. Perkenalan dengan mereka adalah kunci pintu tersebut. Sementara gigi kunci itu adalah upaya menjaga diri agar tetap hormat, khidmat, sopan, dan keluasan rahmat kepada mereka. Siapa yang berinteraksi dengan mereka melalui cara demikian, maka ia akan dibukakan pintu. Tetapi kalau tidak dengan cara itu, maka ia berada dalam bahaya,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 133-134).

Orang-orang saleh adalah pintu kita masuk kepada Allah. Mereka adalah orang-orang pilihan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selayaknya kita kenal lebih dekat dengan penuh adab dan kesantunan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Makam, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Kamis, 25 Januari 2018

Buka Konbes, Waketum PBNU Sampaikan Ceramah Kepemimpinan

Jakarta, Ulama Salaf Online. Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali menyampaikan ceramah kepemimpinan saat pembukaan Konferensi Besar IPPNU 2014, Jumat (28/2) siang. Di hadapan sedikitnya 200 peserta, ia menyebutkan lebih terang sifat-sifat kepemimpinan sungguhan.

Buka Konbes, Waketum PBNU Sampaikan Ceramah Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Konbes, Waketum PBNU Sampaikan Ceramah Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Konbes, Waketum PBNU Sampaikan Ceramah Kepemimpinan

Kepemimpinan, menurutnya, harus dijiwai oleh semangat kejujuran, keadilan, istiqamah, dan amanah. Karena ia bukan sekadar gerakan lahir sebuah sistem dan struktur. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan proyek jangka panjang dalam membangun fondasi-fondasi kemaslahatan.

Dalam pada itu, sejauhmana pemimpin mengintegrasikan nilai-nilai di atas sangat menentukan warna kepmimpinan.

Ulama Salaf Online

Berkaitan dengan pelajar putri NU, H Asad mengatakan, “Tugas IPPNU sekurangnya dua, yaitu mengenal aswaja dan setia pada NKRI.”

Ulama Salaf Online

Dua hal itu bisa diterjemahkan bahwa kita sebagai warga negara harus tetap mengenal agama, tetapi juga di dalam rangka patuh bernegara, tandas H Asad di area Konbes IPPNU 2014 di Gedung PP PON Kemenpora Cibubur, Jakarta Timur.

Sedangkan seorang delegasi Kemenpora Hamka Hamdan mengatakan, IPPNU terbilang organisasi yang tertib. Karenanya, “Kemenpora beberapa bulan lalu menempatkan organisasi ini pada peringkat kedua OKP terbaik.”

Tampak hadir dalam pembukaan Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa dan Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Kajian Ulama Salaf Online

Sabtu, 20 Januari 2018

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Yogyakarta, Ulama Salaf Online. Tahun 2017 ini Yogyakarta menjadi tempat bertarungnya sekitar 2000 siswa madrasah dengan level prestasi tingkat nasional dan internasional.

Mereka berkompetisi di ajang Ajang Kreasi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 pada 7-12 Agustus 2017.

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Kompetisi dipusatkan di dua tempat yaitu Stadion Mandala Krida dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Siswa Madrasah dari semua jenjang ini memperebutkan supremasi tertinggi di antara para siswa madrasah seluruh Indonesia.

Pembukaan kegiatan Aksioma-KSM 2017 ini dipusatkan di Stadion Mandala Krida, Senin (7/8) malam. Berbagai penampilan seni dan budaya disuguhkan dengan baik oleh siswa dari sejumlah siswa di Yogyakarta, salah satunya dari MAN 2 Yogyakarta.

Lengkap dengan busana ala Keraton, mereka menampilkan karnaval budaya dengan pergerakan lincah menelusuri salah satu sudut stadion Mandala Krida.

Ulama Salaf Online

Ribuan siswa berprestasi dari 34 Provinsi itu siap berkompetisi secara sportif. Mereka bangga memilih madrasah sebagai tempat menempuh ilmu dan akhlak.

"Saya bangga menjadi bagian dari siswa madrasah. Saya sangat siap berkompetisi dengan siswa-siswi lain dari seluruh Indonesia," ujar Kholida Nailul Muna, siswa MAN 3 Bantul, DIY juara ajang matematika internasional di Vietnam pada Juli 2017 lalu.

Senada dengan Kholida, Satria Widyanto yang merupakan siswa Madrasah Muallimin Yogyakarta juga siap mempertahankan emas yang dia peroleh dalam ajang KSM di Pontianak.

Ulama Salaf Online

"Saya meraih emas di KSM Pontianak, saya siap menghadapi teman-teman dari seluruh Indonesia. Saya bangga madrasah," ujarnya mengucapkan rasa antusiasmenya.

Seluruh kontingen yang mengisi penuh setiap tribun stadion menyambut penuh gembira dan semangat untuk menghadapi ajang sains ini.

Selain 2000 kontingen, Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh provinsi juga mengirimkan sekitar 10.000 pendamping yang terdiri dari guru, pelatih, Kepala Kanwil, dan para kepala bidang.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, PonPes Ulama Salaf Online

Senin, 08 Januari 2018

Cara Santri Putri Al-Mizan Rayakan Khataman Hafalan Kitab

Majalengka, Ulama Salaf Online. Sebanyak 13 santri puteri kelas III Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, mengadakan syukuran hafalan kitab matan “Yaqulu” atau Nadham Maqshud di salah satu rumah orang tua santri di desa Mekarjaya, Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (25/5).

Cara Santri Putri Al-Mizan Rayakan Khataman Hafalan Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Santri Putri Al-Mizan Rayakan Khataman Hafalan Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Santri Putri Al-Mizan Rayakan Khataman Hafalan Kitab

Acara yang diawali dengan mancing dan makan bersama ini diikuti pula oleh ustadz M Zaenal Muhyidin sebagai Pengajar kitab Yaqulu di Pondok Pesantren al-Mizan.

Ade Emay, sebagai tuan rumah dan salahseorang yang hafal nazham Yaqulu mengatakan, “Acara ini sengaja diadakan sebagai ungkapan rasa syukur kami kepada Allah Swt atas khatamnya kitab Yaqulu yang kami pelajari. Mudah-mudahan kami mendapat berkah dari kitab tersebut,” katanya.

Ulama Salaf Online

Menurut Ade, walaupun diadakan secara sederhana tapi kegiatan ini sangat bermakna. Melalui syukuran ini, katanya, para santri yang berasal dari daerah yang berbeda bisa bergaul, memasak bersama, dan tentunya saling mengerti dan menghargai. Dan ini salahsatu ilmu yang kami dapatkan di Pesantren Al-Mizan.

Ulama Salaf Online

“Nadham Yaqulu atau Nazham Maqsud yang dikarang oleh Asyaikh Muhammad ‘Alis Rahimahullah dan terdiri dari 100 bait lebih ini kami hafal setiap pengajian shubuh dan itu pun tidak setiap hari kami hafal tapi dua hari sekali dengan minimal tiga bait satu harinya. Alhamdulillah walaupun awalnya kami merasakan sulit sekali menghafal kitab ini tapi akhirnya bisa hafal juga,” jelasnya. (Wildan Fauzi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tegal, PonPes, Ahlussunnah Ulama Salaf Online

Minggu, 31 Desember 2017

Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur

Sidoarjo, Ulama Salaf Online. Kantin yang berada di Sekolah Menengah Kejuruan Plus Nahdlatul Ulama (SMK Plus NU) Sidoarjo ini setiap harinya selalu menerapkan sifat dan sikap jujur dalam melakukan transaksi jual beli yakni dengan menciptakan kantin yang diberi nama ‘kantin kejujuran’.

Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur

Meskipun di belakang sekolah tersebut terdapat beberapa kantin, namun kantin kejujuran ini tetap menjadi rujukan bagi para siswa untuk mencari kebutuhan sekolah. Di dalamnya terdapat beberapa macam barang dagangan seperti obat-obatan (sirup dan lainnya), buku, pulpen, makanan ringan, air mineral, nasi bungkus, dan sebagainya.

Kantin yang mempunyai ukuran 3x6 meter itu dibangun sejak tahun 2014 lalu. Menurut Ketua OSIS SMK plus NU Sidoarjo Tri Dewi Nurjanah kelas XI Farmasi mengatakan, bahwa sekolah membiasakan berlaku dan berprilaku jujur sehingga bisa terwujud hingga ke masyarakat luas.?

Ulama Salaf Online

"Hal ini tidak lain untuk membiasakan kejujuran. Karena dengan kebiasaan itu nanti kedepannya akan jujur terus. Dan selama ini alhamdulillah tidak ada yang tidak jujur," tuturnya, Rabu (25/3).

Sementara itu, Kepala SMK Plus NU Sidoarjo M Fathul Jinan mengatakan, bahwa dengan adanya kantin kejujuran itu para siswa tidak lagi membeli apa yang menjadi kebutuhannya di tempat lain. Dengan adanya kantin kejujuran ini mereka akan menerapkan dan membiasakan jual beli dengan jujur.

Ulama Salaf Online

"Target kami adalah untuk melatih riyadho dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan membiasakan berbuat dan bersikap jujur, dalam kehidupan sehari-harinya mereka akan terbiasa jujur. Kelak ketika mereka sudah terjun di masyarakat, untuk berkata dan berbuat jujur pun mereka sudah bisa," ungkap Fathul Jinan. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Islam, PonPes, Makam Ulama Salaf Online

Minggu, 24 Desember 2017

Kang Said: Monopoli Sumber Produksi Langgar Sunnah Nabi

Jakarta, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menilai, faktor utama kemunduran ekonomi negara Indonesia terletak pada keserakahan segelintir orang untuk memonopoli cabang-cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak. Selain menyengsarakan rakyat, kejahatan ini bertentangan dengan pesan mulia Nabi Muhammad SAW.

“Rasululah bersabda 14 abad yang lalu, tsalaasun annaasu fiihi syuraka’ al-maa’u, wan nar, wal kalaa’. Tiga hal yang harus dimiliki oleh rakyat, tidak boleh ada yang memonopoli: air, energi dan hutan,” tegasnya di depan ratusan kader NU dalam Pengukuhan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Masa Khidmat 2012-2017 di Jakarta, Selasa (25/4) malam.

Kang Said: Monopoli Sumber Produksi Langgar Sunnah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Monopoli Sumber Produksi Langgar Sunnah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Monopoli Sumber Produksi Langgar Sunnah Nabi

Hadir dalam kesempatan itu, Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudz, Wakil Rais Aam KH Mustofa Bisri, Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud MD, Ketua DPR Marzuki Ali, Ketua BPK Hadi Purnomo, dan sejumlah petinggi negara lainnya.

Ulama Salaf Online

Menurut Kang Said, praktik monopoli yang hingga kini masih terasa telah mengakibatkan kehidupan masyarakat di Tanah Air mengalami kesenjangan dan krisis yang tak kunjung usai.

“Selama warning Rasululah masih dilanggar, krisis tidak akan berhenti. Selama energi, batu bara, gas, minyak, dimonopoli oleh pengusaha-pengusaha swasta yang males bayar pajak itu. Selama hutan dirusak lewat illegal logging. Krisis ekonomi tidak akan selesai.”

Ulama Salaf Online

Kang Said menyatakan bahwa klausul dalam Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 Pasal 33 yang mengatur paradigma perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial sudah segaris dengan sunnah Nabi. Sehingga, pelanggaran terhadap pasal ini berarti pula pelanggaran terhadap semangat yang dijunjung Islam.

Ia berharap, dalam mengambil kebijakan ekonomi nasional pemerintah bisa bersikap lebih independen. Sebab telah terbukti ketergantungan republik ini pada skema ekonomi global membuat perekonomian Indonesia tidak berdaya dan melupakan misi kesejahteraan bagi rakyatnya sendiri.

“Saat kurs keuangan yang di sana (negara-negara maju, red) melambung saja, kita sudah mengalami krisis. Ini bukti bahwa rupiah kita sama sekali tak berdaya,” katanya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes Ulama Salaf Online

Senin, 18 Desember 2017

Jalan Sehat sampai Pembagian Beras di Peluncuran Majalah “As-Sofwah”

Solo, Ulama Salaf Online. Rangkaian acara seperti jalan sehat, pentas seni dan pembagian beras digelar untuk menyambut peluncuran majalah sekolah SD/MI Ta’mirul Islam Solo yang dinamai “As Shofwah”, Ahad (3/1) pagi.

Ribuan peserta ikut memeriahkan kegiatan yang dipusatkan di depan Plasa Sriwedari tersebut. Salah satu panitia kegiatan, Aris Paryanto, menerangkan kegiatan peluncuran majalah “As Shofwah” ini diikuti sekitar 2.600 orang.

Jalan Sehat sampai Pembagian Beras di Peluncuran Majalah “As-Sofwah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Sehat sampai Pembagian Beras di Peluncuran Majalah “As-Sofwah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Sehat sampai Pembagian Beras di Peluncuran Majalah “As-Sofwah”

Aris yang juga Pemimpin Redaksi Majalah “As Shofwah” mengatakan majalah tersebut menjadi sarana kreasi untuk menggugah inspirasi bersama. Selain itu sekaligus guna mempererat tali silaturahmi baik siswa, guru, alumni maupun wali murid.

Ulama Salaf Online

“Penerbitan Majalah “As Shofwah” ini untuk mewujudkan motto sekolah kami yaitu menggugah insiprasi,” kata dia.

Ulama Salaf Online

Untuk waktu penerbitan, Aris menargetkan majalah ini nantinya akan diterbitkan setiap 6 bulan sekali. Nama Majalah “As Shofwah” dipilih agar ikut mendapat berkah dari nama salah satu tokoh dari Tegalsari, KH Ahamd Shofawi.

“Untuk edisi perdana ini, kami mengangkat sejarah dan latar belakang berdirinya SD Ta’mirul, serta memaparkan biografi singkat pendiri Masjid Tegalsari KH Ahmad Shofawi,” papar dia.

Sementara itu acara jalan sehat di area Car Free Day (CFD) Jl. Slamet Riyadi Solo, berlangsung meriah. Saat bunyi aba-aba terdengar, peserta gerak jalan menempuh rute yang telah ditentukan panitia.

Acara peluncuran majalah dan jalan sehat pagi itu diakhiri dengan pembagian berbagai hadiah. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes Ulama Salaf Online

Kamis, 07 Desember 2017

Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru

Jakarta, Ulama Salaf Online. Menjelang perkuliahaan tahun akademik 2017/2018, Pascasarjana Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar orientasi studi, Kamis (7/9) di Gedung PBNU Jakarta.

Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru

Dalam orientasi studi itu, Pascasarjana Unusia menghadirkan Wakil Rektor III Unusia KH Mujib Qulyubi, dan dua asisten Direktur Pascasarajana Muhammad Ulinnuha serta Hamdani.

Kiai Mujib mendorong mahasiswa baru untuk menyelesaikan studi tepat waktu dua tahun alias empat semester. Kiai Mujib juga mendorong mahasiswa untuk melakukan riset tesisnya tidak hanya mengkaji tentang Indonesia

“Bisa tentang Thailand, Malaysia dan negara-negara tetangga lainnya,” ujar Kiai Mujib kepada seluruh mahasiswa Pascasarajana yang hadir memadati ruang acara.

Ulama Salaf Online

Sebab menurut Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini, serpihan-serpihan Islam Nusantara baik dari sisi naskah, tradisi dan budaya negara-negara di Asia Tenggara memiliki keterkaitan dengan Indonesia.  

Sementara itu, Ulinnuha, Asdir Keuangan menyoroti soal ketepatan melakukan administrasi bagi mahasiswa reguler. Ia juga menyinggung soal komitmen untuk menggali dan mengeksplorasi khazanah Islam Nusantara yang menurutnya penting dilakukan secara bersama-sama. 

“Hanya dengan mengenali jati diri, bangsa ini bisa maju. Salah satu caranya adalah dengan kerja akademik melalui Pascasarjana Unusia.

Senada dengan Ulinnuha, Hamdani mendorong mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris akan diajak mengikuti berbagai riset dan konferensi-konferensi akademik baik nasional maupun internasional. 

Ulama Salaf Online

“Tahun ini salah satu mahasiswa Pascasarjana Unusia juga ada yg mengikuti diskusi panel di AICIS, sebuah konferensi tahunan yang digelar oleh Kementerian Agama,” ujar Hamdani.

Hamdani juga menyampaikan cakupan topik penelitian Islam Nusantara itu luas. Bisa berkaitan dengan budaya/tradisi, pemikiran, gerakan, manuskrip, arsitektur, dan topik sosial keagamaan lainnya. 

Dalam penulisan akademik, mahasiswa juga harus memperhatikan penggunaan bahasa akademik dan tata cara penulisan menurut sistem yang sudah ditentukan.                        

Mahasiswa baru Pascasarjana UNU Indonesia tahun akademik 2017/2018 berjumlah 45 orang dengan komposisi 25 mahasiswa reguler dan 20 mahasiswa beasiswa kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Purwakarta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Kajian Islam Ulama Salaf Online

Kamis, 30 November 2017

Logo NU pada Takbir Keliling Pemuda Desa

Mojokerto, Ulama Salaf Online?

Takbir keliling merupakan budaya turun-temurun yang sampai saat ini masih dijalankan masyarakat luas ketika malam hari raya Idul Fitri seperti yang dilakukan Remaja Masjid (Remas) dan Karang Taruna Tunas Harapan Dusun Pasinan Wetan, Desa Kupang Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Logo NU pada Takbir Keliling Pemuda Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Logo NU pada Takbir Keliling Pemuda Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Logo NU pada Takbir Keliling Pemuda Desa

Panitia Takbir Keliling tersebut, Khoirul Mustain berpendapat kegiatan itu merupakan ungkapan rasa syukur karena telah selesai menjalankan puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan.?

Tradisi itu, kata dia, seharusnya terus dilestarikan karena sebagai ungkapan rasa syukur dan tentunya bisa menjaga kerukunan di masyarakat itu sendiri.?

"Sebagai pemuda, kita harus bisa merawat dan melestarikan tradisi. Seiring dengan pergeseran zaman, pemuda saat ini enggan melakukan pawai takbir, melainkan lebih memilih untuk melakukan kegiatan lainnya," ujarnya Sabtu (23/6).

Ulama Salaf Online

Pawai takbir itu menyedot perhatian masyarakat. Perhatian masyarakat di antaranya pada suguhan simbol bintang sembilan pada dengan balutan hiasan lampu yang mengelilingnya.

?

"Kami mengusung simbol NU karena kami cinta NU. Sejak masuk bulan Ramadhan rancangan sudah ada, namun setelah pertengahan Ramadhan mulai kita eksekusi," ujar Khafid salah seorang pengurus NU daerah tersebut.?

Tidak hanya remaja saja yang mengikuti pawai ini. Masyarakat pun antusias turun ke jalan. Pawai ini bisa berjalan lancar berkat bantuan masyarakat yang mengamankan jalan sehingga tidak sampai terjadi kemacetan di jalan raya. (Nuruddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online AlaNu, Santri, PonPes Ulama Salaf Online

Senin, 13 November 2017

Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah

Padangpariaman, Ulama Salaf Online. Wartawan Ulama Salaf Online di Sumatera Barat, Armaidi Tanjung, menerima penghargaan dari Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) Kabupaten Padangpariaman sebagai Tokoh Dakwah Pembangunan 2015 dengan kategori Dakwah Pembangunan Pengkaderan. Penyerahan penghargaan bersamaan dengan 10 penerima lainnya dengan berbagai kategori.

Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah

Ketua MDI Padangpariaman Rahmat Tuanku Sulaiman saat penyerahan, Sabtu (31/19), di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, menyebutkan penghargaan diberikan kepada sebelas tokoh dengan berbagai kategori yang dianggap sudah berbuat di tengah masyarakat.

"Selama ini banyak orang hanya mencaci maki dan mencela kekurangan yang sudah dilakukan seseorang. Tidak banyak orang yang memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan oleh seseorang. Penghargaan ini diberikan MDI Padangpariaman, karena apa yang dilakukannya bernilai positif terhadap masyarakat," kata Rahmat.

Ulama Salaf Online

Mereka yang menerima penghargaan Tokoh Dakwah Pembangunan 2015 masing-masing Bupati Padangpariaman 2010-2015 Drs. H. Ali Mukhni? kategori Dakwah Pembangunan Berkelanjutan, mantan Wakil Gubernur Sumbar Drs. H. Muslim Kasim, Ak, MM, Dt Sinaro Basa kategori Dakwah Pembangunan Adat dan Budaya,? anggota DPR RI H. Jhon Kenedy Azis, SH kategori Dakwah Pembangunan Kampung Halaman.

Ulama Salaf Online

Pimpinan Pondok Pesantren Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan kategori Dakwah Pembangunan Pendidikan Ulama, Ketua MUI Padangpariaman Dr. Zainal Tk Mudo, M.Ag kategori Dakwah Pembangunan Syiar Islam, Ketua BAZNAS Padangpariaman Syamsuardi Surma, S.Sos kategori? Dakwah Pembangunan dan Pembedayaan Zakat.

Sementara Ketua Yayasan Pesantren Nurul Yaqin Drs. Idarussalam Tuanku Sutan kategori Dakwah Pembangunan Manajemen Pesantren, Ketua PC GP Ansor Padangpariaman Zeki Ali Wardana,? kategori Dakwah Pembangunan Generasi Muda,? Kontributor Ulama Salaf Online Armaidi Tanjung kategori Dakwah Pembangunan Pengkaderan, Ketua PC IPNU Padangpariaman Fauzan Ahmad Tk Malin Sinaro kategori Dakwah Pembangunan Pelajar.

Penyerahan penghargaan disaksikan sekitar 200 para ulama, alumni Pesantren Nurul Yaqin, guru dan santri Pesantren Nurul Yaqin.

Ali Mukhni dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan. Namun penghargaan tersebut menjadi beban tersendiri yang menerimanya. "Dengan adanya penghargaan tersebut, berarti kami harus lebih baik lagi di masa depan dalam menjalankan aktifitas yang sudah dilakukan selama ini," kata Ali Mukhni.

Sedangkan Jhon Kenedy menyampaikan pentingnya peran? pondok pesantren dalam pembangunan sumber daya manusia. Pondok pesantren merupakan lembaga yang akan melahirkan para ulama sebagai penerang umat. "Kita prihatin dengan kondisi banyaknya muncul paham-paham keagamaan yang bermasalah di tengah masyarakat. Agama yang seharusnya menjadikan manusia hidup damai, tenang, nyaman dan rukun, ternyata menimbulkan kesengsaraan akibat salah memahami agama. Untuk itu butuh ulama yang akan meluruskannya. Hanya ulama yang mampu meluruskan pemikiran dan paham yang sudah tidak tepat lagi. (Red: Abdullah Alawi)

?

Keterangan foto:

No. 1 Foto bersama Ketua PC Ansor Padangpariaman Zeki ALiwardana, Kontributor Ulama Salaf Online Armaidi Tanjung (tengah) dan Ketua PC IPNU Padangpariaman

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nasional, PonPes, Pondok Pesantren Ulama Salaf Online

Rabu, 08 November 2017

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Solo, Ulama Salaf Online. Pengasuh majelis Rijalul Ansor Solo Habib Muhammad Al-Habsyi mengimbau umat Islam untuk tetap menaruh rasa hormat kepada para kiai yang berbeda wadah partai dengan mereka. Karena, sebagai warga negara para kiai memiliki hak berpolitik di partai mana pun.

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

“Orang tidak lagi hormat dan patuh pada ulama. Apabila ada ulama di partai A, maka sebagian umat yang di partai B tidak menyukai ulama tersebut,” terang Habib Muhammad yang merupakan cucu penulis kitab Simthud Durar Habib Ali Al-Habsyi menyayangkan sikap umat Islam demikian, Rabu (5/3).

Menurutnya, keterlibatan para kiai di ranah politik praktis menjadi berkah tersendiri. Sekurangnya mereka dapat memperbaiki kondisi politik, yaitu mengisi pemerintahan dengan jiwa keulamaan.

Ulama Salaf Online

Ia berharap, para ulama yang terjun dalam lingkar kekuasaan dapat meniru jejak para khalifah yang sukses menggabungkan kesalehan dan kekuasaan kendati tidak menutup fakta bahwa sebagian kiai belum berhasil mengharmoniskan keduanya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Doa Ulama Salaf Online

Senin, 31 Juli 2017

Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat

Subang, Ulama Salaf Online

Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH. Maman Imanulhaq mengecam keras aksi penolakan terhadap kegiatan buka puasa Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Pernyataan itu disampaikan usai mengisi kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Dekopinda Subang, Subang, Jawa Barat.

Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat

"Sulit dipahami acara positif kok dibubarkan. Sejak 2001 Bu Sinta sudah terbiasa buka bersama dengan berbagai elemen masyarakat, buka bersama itu kadang diadakan di pesantren, kolong jembatan, pura, wihara, penjara, dan beberapa tempat lain," kata Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu, Sabtu (18/6).

Bahkan, kata dia, sudah jutaan orang yang merasa gembira dengan kegiatan buka bersama Bu Shinta karena bisa makan takjil dan sekaligus berbagi keluh kesah tentang hidup mereka.

Ulama Salaf Online

Ditambahkannya, aksi penolakan terhadap kegiatan buka bersama Bu Shinta, menunjukan ketidakmengertian yang sengaja terus dipelihara dan tidak mau belajar, merasa paling benar sendiri dan merasa yang paling mengerti tentang agama.

"Arogansi itu bentuk indikasi pemahaman keagamaan yang dangkal. Ini berbahaya karena merusak ketentraman juga memicu konflik agama. Justru aksi mereka itu malah merusak saklaritas puasa," ungkapnya.

Ulama Salaf Online

Tidak hanya itu, anggota DPR RI ini juga mengecam kicauan akun yang menghina Bu Shinta seperti Mustofa Nahrawardaya lewat akun Twitter @TofaLemon yang menyinggung keterbatasan Bu Shinta dalam upayanya untuk berbagi dengan orang lain.

"Bikin tweet itu yang cerdas dan mencerahkan, ini malah bikin gaduh yang ngga jelas. Apalagi katanya dia itu aktivis," tegas Kang Maman, sapaan akrabnya.

Atas dua perlakuan terhadap Bu Shinta itu, Kang Maman mendesak adanya tindakan tegas dari Pemerintah karena menurutnya isu agama sangat sensitif jika dibiarkan akan mengganggu kerukunan antar umat beragama serta dapat menyulut konflik yang lebih luas. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Sejarah, PonPes Ulama Salaf Online

Rabu, 19 Juli 2017

Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia

Jombang, Ulama Salaf Online. Ujian dalam menjaga integritas bangsa semakin berat lantaran banyaknya kepentingan yang melingkupi. Baik kepentingan investasi, kekuasaan serta motivasi yang lain. Mereka seakan tidak terlalu peduli dengan ancaman terhadap keutuhan NKRI. Padahal kemajemukan adalah sebuah pilihan yang tidak terhindarkan.

Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia

Demikian disampaikan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang, saat menjadi pembicara dalam diskusi "Mengungkap Penyebab dan Penyelesaian Konflik Antar Agama di Ambon" yang digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Ahad (29/9).

"Kemajemukan itu sunnatullah, harus diterima, majemuk ada dimana-mana," katanya. Belajar dari kasus kerusuhan Ambon dan Maluku beberapa tahun silam, Sarundajang meminta semua pihak tidak menggunakan simbol agama untuk memuluskan langkahnya meraih tujuan. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan politik. Menurutnya, penggunaan simbol agama dalam tujuan politik bisa membahayakan keutuhan bangsa. "Jangan menggunakan agama sebagai alat politik, ini berbahaya," ujarnya.

Ulama Salaf Online

Sarundajang mengungkapkan bahwa akar penyebab konflik di Maluku dan Maluku Utara, antara lain persoalan kesenjangan sosial, perebutan sumberdaya alam, serta pertikaian elit politik dan birokrasi. Faktor-faktor tersebut kemudian dibungkus menjadi konflik agama. "Sebenarnya tidak ada konflik agama, tetapi provokasi yang kuat dari sejumlah fihak mengarahkan konflik itu sebagai konflik agama," terangnya.

Dia menuturkan, saat diminta untuk memediasi konflik di Maluku dan Maluku Utara, dirinya selalu memegang keyakinan bahwa konflik itu bukan konflik berlatar agama. "Prinsip saya bahwa suku, etnis, ras dan agama boleh berbeda, iman dan keyakinan boleh berbeda. tetapi semuanya adalah satu, yaitu satu bangsa Indonesia," kata Surandajang.

Ulama Salaf Online

Keberagaman suku, ras, agama dan etnis merupakan sesuatu yang ada sejak lahirnya bangsa Indonesia dan hal itu harus dijaga sebab itu merupakan ciri kebesaran bangsa Indonesia. Menurut Surandajang, kebersamaan dalam keberagaman yang kini tercipta di Indonesia, tidak lepas dari peran-peran tokoh Nahdlatul Ulama (NU), seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Bisri Syansuri yang sedari awal memperjuangkan asas Pancasila sebagai dasar negara.

Negara Pancasila, lanjutnya, memperjuangkaan kesetaraan antar semua golongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Negara Pancasila menolak diktator mayoritas dan tirani minoritas,” katanya. “Saya mempelajari betul bagaimana perjuangan tokoh-tokoh pendiri NU. Pandangan saya, tidak ada NU, tidak ada ini Republik," lanjut Surandajang.

Diskusi ini menghadirkan pembicara yakni, DR. Sinyo Harry Sarundajang, mantan PJ. Gubernur Maluku Utara, DR. H. Muhammad at Tamimy, mantan wakil panglima perang Laskar Jihad, DR. H. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang, serta KH. Sholahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Acara diikuti sejumlah akademisi, mahasiswa dan para santri sejumlah pondok pesantren di Jombang. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, News, Amalan Ulama Salaf Online

Selasa, 11 Juli 2017

Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam

Oleh? Islah Gusmian

Pada tanggal 3 Maret lalu, penulis diundang Sekolah Tinggi Agama Islam Khozinatul Ulum, Blora untuk bicara terkait etika Islam dalam pemanfaatan sumber daya alam di tengah arus industrialisasi. Diskusi ini menarik bukan hanya dari sisi temanya, tetapi juga penyelenggara dan lokasinya, yaitu STAI yang berbasis pesantren dan Blora sebagai wilayah dengan sumber daya alam melimpah.



Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam

Berbicara pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup tidak bisa lepas dari kisah Revolusi Industri, sebuah era peralihan mendasar dan revolusioner atas pekerjaan-pekerjaan berbasis tradisional ke teknologi mesin. Perekonomian “agrikultural” digeser ke “industrial”; “peradaban batu” (stone age) bergeser menuju “era industri”. Transformasi secara besar-besaran ini terjadi sejak abad ke-18, tepatnya tahun 1785, di Inggris kemudian meluas di berbagai negara Eropa dan belahan dunia.



Beragam teknologi ditemukan pada mulanya untuk memudahkan dan mensejahterakan umat manusia. Tetapi dalam perkembangannya, gaya hidup manusia beralih menjadi konsumtif, menumpuk dan memupuk hasrat yang berlebih. Terjadilah “revolusi konsumsi”. Sumber daya alam dan lingkungan dikelola bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, lebih dari itu untuk memuaskan segala hasrat dan keinginan mereka.


Ulama Salaf Online



Berbagai bencana akibat eksploitasi alam mulai akrab dalam kehidupan. Pencemaran udara oleh carbon dioksida akibat industrialisasi yang massif menjadikan bumi semakin panas. Kutub utara dan selatan mencair mengakibatkan permukaan air laut naik. Hujan asam yang merusak hutan dan danau-danau. Kawasan Hutan menciut karena dirusak untuk lahan industri dan pemukiman. Kisah inilah yang oleh Arnold Toynbee disebut sebagai awal terjadinya “degradasi lingkungan” dan terjadilah apa yang diistilahkan Seyyed Hossen Nasr sebagai “nestapa manusia modern”.

?

Postulat-postulat Islam

Ulama Salaf Online

Lantas bagaimana Islam memberikan kerangka etis terkait masalah pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan?



Pertama, mengembangkan kesadaran ekoteologis, yakni memahami Tuhan, sekaligus memahami manusia dan alam. Berbicara tentang pemanfaatan alam dan lingkungan hidup, selaiknya dikaitkan dengan bagaimana cara pandang kita dalam memahami Tuhan, manusia, dan alam serta hubungan antara ketiganya. Fazlur Rahman telah mengulas tiga topik ini dalam
? Mayor Themes of the Qur’an. Hanya saja ia belum sampai mengaitkan kajian teologi dengan isu pemanfaatan lingkungan hidup.



Teologi adalah ilmu tentang Tuhan dengan segala hal yang melingkupinya. Dalam sejarah, kajian ini lebih bersifat “teosentris”. Padahal, bertauhid manfaat sejatinya adalah untuk? manusia, bukan untuk Tuhan. Munculnya istilah ekoteologi adalah sebagai bentuk kesadaran dan pemahaman baru bahwa keimanan manusia kepada Tuhan selaiknya dihubungkan dengan makhluk hidup dan lingkungan. Kita tahu bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.




Al-Qur’an memberikan informasi secara tegas bahwa ruh kehidupan manusia ini berasal dari ruh Allah. Setidaknya bisa dilihat dalam dua tempat; QS. Al-Hijr [15]: 29 dan Al-Anbiya? [21]: 91. Pernyataan ini secara simbolik memberikan isyarat bahwa citra Allah semestinya terpancar pada setiap diri manusia. Hal ini merupakan fitrah keterciptaan manusia.? Dalam artikel
? the Concept of Human Perfection, William Chittick menyakini pandangan yang demikian itu. Singkatnya, dari ayat tersebut manusia selayaknya mewujudkan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan dunia yang semuanya itu bersumber dari Allah. Konsepsi semacam ini dipertegas kembali oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa kesempurnaan iman seseorang ditentukan oleh kemampuannya memberikan kebaikan dan kemaslahatan kepada orang lain. Dengan demikian, iman yang baik adalah iman yang dibuktikan secara historis dan sosiologis, sehingga secara nyata bisa dirasakan oleh umat manusia dan alam.?



Dengan pemahaman yang demikian, bertauhid juga harus dibuktikan dengan sikap baik bukan hanya kepada Tuhan dan manusia, tetapi juga alam semesta. Selain
? habl min-Allah? dan? habl min-‘l-nas? penting dikembangkan ke arah? habl min-‘l-âlam wa ‘l-bî’ah.? Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang bicara tentang alam dan lingkungan. Bahkan ada sejumlah surat yang dinamai dengan nama hewan, seperti Al-Baqarah (sapi), Al-Anfâl (binatang ternak), Al-Nahl (lebah), Al-Naml (semut), dan nama semesta seperti Al-Ra’du (halilintar), Al-Nûr (cahaya), Al-Qamar (bulan), Al-Syams (matahari), Al-Lail (malam), Al-Najm (bintang). Ayat-ayat yang bicara tentang alam, manusia, dan ekosistem dalam Al-Qur’an lebih sering dikaitkan dengan iman dan berzikir kepada Allah. Misalnya, QS. Al-Dâriyât [51]: 49, Yâsîn [36]: 36, 80. Dan segalanya ditegaskan oleh Al-Qur’an akan bermuara kepada-Nya (QS. Al-An’am [6]: 38). Dalam ayat ini dikisahkan binatang-binatang dan burung yang ada di bumi semuanya akan dihimpun menuju kepada Allah.



Dalam kerangka ekoteologis harus dibangun berpikir teleologis. Al-Qur’an sendiri mengajarkan kepada kita bahwa kosmos semesta ini diciptakan Tuhan “bukan tanpa tujuan” (QS. Al-Jasiyah [45]: 22). Pandangan yang demikian mengajarkan kita untuk melakukan tindakan dan sikap terhadap alam dengan menyelaraskannya pada unsur-unsur dalam tujuan tersebut. Di sinilah sebenarnya, keimanan tersebut juga dipahami dalam kerangka menyelaraskan hidup dengan sunah dan ekosistem alam.




Dengan kesadaran bahwa Allah sebagai pusat rotasi hidup, maka iman harus mensejarah dan historis. Adanya nilai teleologis dalam penciptaan alam menyadarkan umat manusia tentang dua peran pokok yang dibebankan kepada manusia, yaitu sebagai
? khalifatullâh? dan ‘abdullâh.? Khalifatullâh? merupakan tugas sejarah bagi setiap manusia, sedangkan ‘abdullâh? adalah kesadaran spiritualitasnya. Kemurnian iman dan tauhid berada dalam ruang ‘abdullâh,? sedangkan pembuktiannya berada dalam sejarah. Itulah ruang? khalifatullâh.



Kedua, menumbuhkan kesadaran ekosufisme sebagai sumber kerangka etis. Sebagai salah satu khazanah Islam, tasawuf atau sufisme, oleh sebagian orang seringkali dipandang nyiyir: dianggap anti dunia dan karenanya tidak memberikan spirit produktif dalam kehidupan nyata. Istilah ekosufisme di sini dipakai untuk mengaitkan nilai-nilai dalam ajaran tasawuf dengan eksplorasi, pengelolaan, dan pelestarian lingkungan dan alam. Pengkaitan ini penting karena dalam ajaran tasawuf terdapat postulat penting tentang gagasan etik dalam aktivitas pemberdayaan dan pemanfaatan alam dan lingkungan hidup serta mengelola kehidupan manusia.




Dunia tasawuf telah memberikan kerangka nilai etis dalam berbagai konsep yang telah dirumuskan oleh para sufi. Konsep-konsep tersebut berkait erat dengan usaha menjaga keberlangsungan lingkungan dan alam. Konsep
? zikir, faqr, sabr, zuhd, hubb, dan yang lain secara universal menggerakkan manusia agar hidupnya selaras dengan sunah Allah, yaitu ekosistem alam.

?

Kerangka Etis

Berpijak pada dua prinsip utama di atas, maka prinsip etis dalam pemanfaatan dan pemberdayaan lingkungan hidup haruslah mencerminkan hal-hal sebagai berikut.? Pertama, Pemanfaatan lingkungan hidup haruslah mempertimbangkan aspek “kemaslahatan”umat manusia. Dalam? maqâshid al-syar’iyyah? disebutkan bahwa ada lima hal yang harus dilindungi sebagai? al-dlarûriyyat al-khams,? yaitu menjaga agama (hifdz al-dîn), jiwa (hifdz al-nafs), anak keturunan (hifdz al-nasl), kekayaan atau properti (hifdz al-mâl), dan akal (hifdz al-‘aql). Oleh karena itu, pemanfaatan alam dan lingkungan hidup haruslah mempertimbangkan aspek perlindungan dan kemasalatan manusia.



Praktik-praktik pemanfaatan alam dan lingkungan hidup yang secara nyata mengancam keberlangsungan jiwa manusia, secara etis haruslah ditolak. Kaidah ushul fiqih telah memberikan kerangka konseptual:
? dar’ul mafâsid muqaddamun ‘ala al-jalb al-mashâlih.? ‘Izzuddin bin ‘Abdus Salam dalam? Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm? menjelaskan pengertian? mafsadat? sebagai rasa sakit serta rasa sedih dan segala faktor penyebabnnya. Adapun? mashlahat? ? adalah kelezatan (al-ladzat) dan kesenangan (al-afrah) dengan berbagai faktor penyebabnya.



Pengertian menjaga diri (hifdz al-nafs) bukan hanya diletakkan pada konteks masa kini, tetapi juga masa yang akan dijalani oleh generasi mendatang. Oleh karena itu, faktor
? mashlahat? dan? mafsadat? tersebut haruslah mempertimbangkan nasib kehidupan generasi mendatang. Islam mempunyai prinsip melarang umat manusia meninggalkan generasi yang lemah (QS. Al-Nisa’ [4]: 9), akibat persoalan-persoalan yang mereka lakukan dalam berinteraksi sesama manusia dan dengan lingkungan serta alam semesta.



Kedua, pemanfaatan lingkungan hidup haruslah mempertimbangkan aspek menjaga dan merawat keberlangsungan serta kemaslahatan alam, tumbuhan, dan binatang. Konsep
? maqâshid al-syar’iyyah? yang selama ini kita kenal memberi kesan bersifat sangat? antroposentris. Di dalamnya, yang menjadi pusat pembicaraan adalah manusia. Alam semesta dan lingkungan hidup tampak diabaikan. Oleh karena itu, selain? habl minallâh? dan? habl minan-nâs,? diperlukan kesadaran? habl minal ‘âlam wa al-bi’ah,? yaitu memahami fungsi dan kondisi air, tanah, udara, hewan, dan tumbuh-tumbuhan serta kaitannya dengan keberlangsungan kehidupan umat manusia.? Terjadinya kerusakan alam dan kerakusan umat manusia salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kesadaran dan pemahaman yang baik tentang alam, tumbuhan, dan binatang serta fungsi-fungsinya.



Al-Qur’an telah memberikan inspirasi penting terkait dengan masalah ini. Misalnya, Al-Qur’an menjelaskan bagaimana air merupakan sesuatu yang vital dalam kehidupan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa segala sesuatu yang hidup diciptakan dari air (QS. Al-Anbiya [21]: 30). Kehidupan dengan demikian sangat membutuhkan air (QS. Al-Hajj [22]: 5). Karena perannya yang penting tersebut, air tidak boleh dikuasai dan dimonopoli oleh kalangan tertentu, tetapi digunakan bersama-sama untuk kemaslahatan umat manusia. Nabi Saw telah mengingatkan kita, “Orang Islam berserikat dalam tiga hal: rumput, air, dan api.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa air tidak boleh dikuasai oleh koorporasi kapital, tetapi haruslah dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat.




Al-Qur’an juga mengajarkan prinsip menjaga dan merawat udara. Misalnya, Al-Qur’an mengaitkan iman dengan kebersihan, fungsi angin sebagai pendorong kapal (QS. Yunus [10]: 22) dan sebagai pendorong hujan (QS. Al-A’raf [7]: 57). Kita tahu sekarang ini udara begitu kotor dan lapisan ozon terkisis oleh polusi yang ditimbulkan dari limbah pabrik.




Alam dan tumbuhan sebenarnya mampu melayani kebutuhan umat manusia, tetapi ia tak mampu melayani semua hasrat dan kerasukannya. Islam mengajarkan hidup? kebersahajaan. Manusia sebenarnya tak perlu rakus dan menjadi konsumerisme dalam menjalani hidup. Dengan kesadaran ini, maka alam dan seluruh isinya selaiknya diposisikan sebagi subjek yang kedudukannya setara dengan kedudukan manusia, karena kerusakan alam pada akhirnya juga akan berakibat buruk bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia.




Pemanfaatan sumberdaya alam yang mempertimbangkan aspek kemaslahan umat manusia haruslah didukung dengan kebijakan politik dan hukum oleh pemerintah. Tujuannya adalah menggerakkan kesadaran melalui prinsip perundang-undangan yang mengikat seluruh warga negara.




Kebijakan pemerintah haruslah berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemaslahatan kehidupan alam dan lingkungan, bukan sekadar mengejar keuntungan kapital yang bersifat sesaat. Sungguh merusak alam jauh lebih mudah ketimbang merawat dan menjaganya.Pengertian
? mashlahah? dalam kaidah? ? tasharruful imâm ala al-ra’iyah manûtun bil mashlahah,? bukan hanya terkait dengan rakyat (ummah) tetapi juga lingkungan hidup (bi’ah).



Sudah saatnya pesantren dan kampus-kampus Islam memberikan rumusan etis dalam perspektif Islam kepada pemerintah terkait pemanfaatan lingkungan secara konseptual dan sistematis. Sudah saatnya dirumuskan teologi lingkungan, fiqih lingkungan, dan tafsir Al-Qur’an bidang alam dan lingkungan menjadi salah satu mata kuliah yang diajarkan di kampus. Pesantren dan kampus selaiknya mengambil peran dalam penyusunan konsep perundang-undangan dengan berbasis pada kaidah ushul fiqih untuk didesakkan kepada negara dalam rangka memberikan jaminan politik dan hukum bagi rakyat dalam pemanfaatan lingkungan hidup.








Penulis adalah? Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Makam Ulama Salaf Online

Selasa, 04 Juli 2017

Kontekstualisasi Penafsiran Al-Quran di Panggung Mufassir AIAT

Sleman, Ulama Salaf Online. Pelokalan Al-Qur’an terjadi pada aspek penfasiran makna. Signifikasi penafsiran lokal oleh para mufassir di Nusantara selama ini adalah dalam rangka menjawab problema yang terjadi di masyarakat.

Kontekstualisasi Penafsiran Al-Quran di Panggung Mufassir AIAT (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontekstualisasi Penafsiran Al-Quran di Panggung Mufassir AIAT (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontekstualisasi Penafsiran Al-Quran di Panggung Mufassir AIAT

Demikian disampaikan Ahmad Rafiq saat membuka perbincangan "Panggung Mufassir Nusantara" pada Seminar Nasional dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir se-Indonesia (AIAT) di STAI Sunan Pandanaran, Jumat (09/12) malam. Panggung Mufassir yang mengusung tema Kajian Al-Quran dan Tafsir (di)? Nusantara ini menghadirkan narasumber KH Husein Muhammad.

Menurut Kiai Husein, jika kita hanya terfokus pada tekstualitas Al-Qur’an maka yang terjadi hanya pengulangan-pengulangan semata dengan penafsiran sebelumnya. Namun, perlu diingat pula bahwa kontekstualisasi tafsir, dalam rangka merespon dinamika zaman, harus dengan membawa misi rahmatan lil alamin.

Ulama Salaf Online

"Di abad modern ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan terjemahan tekstual sebagai pedoman mutlak. Sebab, teks atau Al-Qur’an turun dalam konteks dan kedaan tertentu, baik sosial, ekonomi,? maupun politik. Karenanya, menjadi penting untuk diperhatikan pula berbagai konteks pada masa turunnya Al-Qur’an tersebut untuk mendapat pesan nilai-nilai rahmatan lil alamin", kata pengasuh Pesantren Darut Tauhid, Cirebon kepada sedikitnya dua ratus peserta yang hadir.

Ulama Salaf Online

Sementara, narasumber lain, Sahiron Syamsuddin mengatakan, pada era penafsiran klasik banyak sekali potret Al-Qur’an yang membumi. Jika ingin penafsiran berkembang maka kita perlu berinteraksi dengan Al-Qur’an, dalam arti menyelami berbagai konteks yang meliputi proses pewahyuan untuk kemudian menangkap pesan rahmatan lil alamin darinya. Sehingga, jika demikian Al-Qur’an itu akan menyinari era kontemporer.

"Sebab Al-Qur’an terlalu besar bila hanya diterjemahkan per kata. Sebaik apa pun terjemahan Al-Quran tetap saja tidak bisa dijadikan landasan. Karena terjemahan Al-Qur’an belum bisa menangkap maghza, yang itu hanya bisa ditangkap melalui proses penafsiran yang cukup panjang", jelas Ketua AIAT ini. (Anwar Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Pendidikan, Warta Ulama Salaf Online

Senin, 19 Juni 2017

Memutus Perkara yang Tidak Ada dalam Al-Quran dan Hadits

Oleh? Nadirsyah Hosen





Tahun 1932 Pengadilan Inggris harus memutuskan kasus yang tergolong unik. Nyonya Donoghue meminum bir jahe (ginger beer) yang dibeli temannya. Ternyata di dalam botol dia menemukan Snail (Bekicot) dan dia mengklaim mengalami sakit setelah meminum botol berisi bekicot itu. Donoghue memutuskan menggugat Stevenson, perusahaan pembuat bir jahe. Saat itu tidak ada aturan hukum yang bisa menjerat Stevenson. Tidak ada kontrak atau perjanjian antara penjual dan pembeli. Apa dasar hukumnya menghukum Stevenson? Apakah gugatan Donoghue harus ditolak?

Memutus Perkara yang Tidak Ada dalam Al-Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Memutus Perkara yang Tidak Ada dalam Al-Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Memutus Perkara yang Tidak Ada dalam Al-Quran dan Hadits

Dalam tradisi common law pada pengadilan Inggris, mereka melihat pada kasus-kasus sebelumnya untuk memutuskan hukum. Ini yang disebut dengan teori preseden. Memutuskan kasus baru dengan mencari cantolan pada keputusan sebelumnya. Preseden dalam tradisi common law ini mirip dengan analogi atau qiyas yang digunakan mayoritas ulama dalam tradisi hukum Islam. Ternyata sistem hukum Barat, khususnya common law, punya kemiripan dengan syariah. Kalau kita luaskan bacaan kita, kita akan melihat banyak persamaan di antara keduanya, ketimbang sibuk mencari perbedaan dan kemudian menistakan yang satu dengan lainnya.

Para ulama juga harus mencari cantolan hukum ke belakang, yaitu Al-Quran dan Hadits, untuk memecahkan kasus baru. Di sinilah para ulama secara brilian mengenalkan konsep qiyas sehingga hukum Islam selalu bisa menjawab perkembangan zaman. Apa yang dibahas dalam Al-Quran dan Hadits itu terbatas. Wahyu sudah terhenti. Nabi Muhammad sudah wafat. Tapi kasus-kasus baru terus bermunculan. Maka Qiyas menjadi jawabannya.

Ulama Salaf Online

Qiyas ini sebenarnya menggunakan logika. Ini analogi berdasarkan prinsip logika deduktif. Semua minuman yang memabukkan itu haram, whiskey itu memabukkan, maka whiskey hukumnya haram (meski sampai gondrongpun anda mencari dalam Al-Quran dan Hadits tidak akan ditemukan kata whiskey). Tentu saja para ulama menjustifikasi penggunaan Qiyas ini dengan sejumlah ayat dan hadits. Tapi susah menolak fakta bahwa bangunan qiyas ini dipengaruhi logika artistoteles. Artinya, mereka yang teriak-teriak tidak boleh pakai akal atau logika dalam memahami kitab suci dapat dipastikan mereka tidak sadar bahwa qiyas itu jelas berdasarkan logika deduktif. Dan ternyata, metode ini diterima juga oleh empat Imam Mazhab terkemuka (Hanafi,? Maliki,? Syafii, Hambali), meski mereka berbeda-beda dalam intensitas melakukan qiyas ini.

Namun bagaimana caranya memutus perkara kalau cantolannya tidak ada? Qiyas mengasumsikan bahwa ada hukum asal sebagai pijakan analogi. Tapi kalau hukum asalnya tidak ada, bagaimana? Para ulama kemudian menggunakan istidlal (mencari dalil) melalui kaidah kebahasaan: ibaratun nash, isyaratun nash, dan dilalatun nash. Para ulama menganalisa sejumlah indikasi (wajah istidlal) dalam nash untuk mengeluarkan berbagai kaidah ushuliyah dan fiqhiyah guna menjawab kasus-kasus baru yang tidak ada hukum asalnya. Inilah proses pengambilan hukum berdasarkan prinsip induktif. Misalnya dalam kasus asuransi, para ulama menjawabnya dengan menganalisa kata maysir, riba, gharar yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits untuk kemudian mengeluarkan prinsip hukum: tidak boleh ada spekulasi atau ketidakpastian, bunga ataupun penipuan.

Bagaimana bila aspek kebahasaan dan analogi tidak juga meng-cover kasus baru yang ditanyakan? Contohnya penggunaan facebook. Tidak bisa dilakukan qiyas dan juga al-istidlal bil qawaid al-lughawiyah. Lalu apa yang harus dilakukan para ulama? Tidak bisa mengatakan cukup dengan Al-Quran dan Hadits karena dicari sampai botak pun gak ada kata facebook ? dalam Al-Quran dan Hadits, dan belum ada kasus yang mirip di jaman dahulu untuk dilakukan qiyas.

Di sinilah para ulama menjawab dengan melakukan ijtihad istislahi, yang berdasarkan konsep kemaslahatan. Ditimbang-timbang mana yang lebih besar maslahat atau mudaratnya. Prinsip kemaslahatan ini bertumpu pada maqasid al-syariah dengan memperhatikan aspek dharuriyat, hajjiyat dan tahsiniyat. Dalam titik ini, para ulama tetap berusaha merujuk ke nash Al-Quran dan Hadits, bukan dari aspek kebahasaan atau hukum asal, tapi tujuan hukum Islam itu sendiri.

Ulama Salaf Online

Ini juga yang dialami oleh Pengadilan Inggris dalam kasus Donoghue di atas. Para hakim Inggris melakukan ijtihad melihat kemaslahatan kasus ini. Kalau tidak dihukum, maka Stevenson dan perusahaan lainnya tidak akan menunjukkan kepedulian (duty care) terhadap produk mereka. Hak-hak konsumen terabaikan hanya karena tidak ada kontrak atau perjanjian jual-beli. Lord Atkin, hakim Inggris dalam pengadilan tersebut, memutuskan Stevenson bersalah dengan mengajukan argumen "neighbour principle". Gemparlah dunia hukum saat itu menyimak terobosan hukum (ijtihad) yang dilakukan Lord Atkin. Sejak itu berkembanglah kajian Negligence dalam hukum Inggris, dan kasus-kasus berikutnya mengikuti argumen (illat hukum) apa yang diputuskan Lord Atkin.

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Pesantren Ulama Salaf Online

Senin, 12 Juni 2017

Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat!

Sleman, Ulama Salaf Online. Penasehat PSNU Pagar Nusa, KH Suharbillah,? adalah murid dari pendiri Pagar Nusa, KH Maksum Jauhari (Gus Maksum), sekaligus termasuk salah satu pendiri organisasi tersebut. Saat turut serta mendirikan organisasi Pagar Nusa (tahun 1985), usianya memang masih terbilang muda, sekitar 22 tahun.

Gus Maksum,  Seumur Hidup untuk Pencak Silat! (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat! (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Maksum, Seumur Hidup untuk Pencak Silat!

Mengenai sosok Gus Maksum, KH Suharbillah memiliki cerita, bahwa di saat PSNU Pagar Nusa akan mengadakan sebuah pertandingan antardaerah, Gus Maksum tidak menyetujui.

“Saya yang bagian matur beliau. Awalnya beliau bilang tidak setuju, dengan pertimbangan tidak adanya dana,” ceritanya kepada Ulama Salaf Online, saat ditemui usai menghadiri acara pembukaan pelatihan pelatih tingkat nasional PSNU Pagar Nusa, Senin (03/03), di Gedung Youth Centre, Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Ulama Salaf Online

Namun, ketika dikatakan acaranya masih perlu persiapan tiga bulan lagi, Gus Maksum berkata; “Tiga bulan lagi nanas saya sudah panen, silahkan uangnya digunakan sebagai dana.”

Ia juga menceritakan, bahwa di saat Gus Maksum sedang sakit dan ada wartawan yang ingin menemuinya untuk melihat gerakan, Gus Maksum masih bisa mempraktikkan gerakannya.

Ulama Salaf Online

“Beliau adalah sosok yang seumur hidupnya adalah untuk pencak silat, baik saat sehat maupun saat sakit. Bahkan kebun nanasnya pun diberikan untuk Pagar Nusa,” tandasnya.

KH Suharbillah, barangkali memang tak banyak yang mengenal nama itu. Usianya sudah tidak dapat dikatakan muda lagi, 66 tahun. Ia pun tak segan bercerita bahwa tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ia sudah meninggal.

“Lho, wong iku sih urip ta?,” (Lho, orang itu masih hidup kah?) ujarnya sambil terkekeh-kekeh menirukan orang-orang yang tidak percaya jika ia masih hidup.

Sosoknya yang berbadan tinggi-besar, disertai kumis dan jenggot yang dibiarkannya memanjang, tentu akan memberikan kesan sedikit ‘seram’ pada orang yang pertama kali melihatnya. Ia sendiri mengakui itu. Namun siapa sangka, dibalik wajah ‘seram’ tersebut tersimpan keramahan yang luar biasa.

KH Suharbillah kini berharap agar generasi PSNU Pagar Nusa dapat mengokohkan dan sekaligus mewariskan ilmu pencak silat tidak dengan sepotong-potong, tapi secara utuh.

Artinya, tidak hanya dari aspek bela diri saja yang akan dikuasainya, yang nantinya dapat memunculkan sikap arogan, namun juga aspek lainnya, seperti seni-budaya dan asma’ (aspek batin). Asma’ sendiri menurut KH Suhar Billah, adalah untuk mengikat bahwa tidak ada yang melebihi kekuatan Allah, sesuai dengan slogan PSNU Pagar Nusa, laa ghaaliba illa billah.

“Kami juga berharap, pada akhirnya nanti para pendekar yang dilahirkan oleh PSNU Pagar Nusa bukanlah menjadi orang yang salah dalam mengamalkan ilmu, melainkan menjadi penolong masyarakat,” tambah pria asli Trenggalek, Jawa Timur, tersebut. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Hikmah Ulama Salaf Online

Selasa, 09 Mei 2017

Dua Ciri Agama yang Paling Dicintai Allah

? ? ? ? ? ?

Dua Ciri Agama yang Paling Dicintai Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Ciri Agama yang Paling Dicintai Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Ciri Agama yang Paling Dicintai Allah

“Agama yang paling dicintai allah adalah agama yang lurus dan toleran.” [HR Bukhari]

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Olahraga, Cerita, PonPes Ulama Salaf Online

Jumat, 05 Mei 2017

Saatnya Santri Jadikan Medsos sebagai Media Dakwah

Padangpariaman, Ulama Salaf Online -

Santri yang tengah belajar ilmu agama di pondok pesantren diharapkan mampu menjadi penyejuk dalam penyampaian dakwah, ajaran agama, maupun ceramah agama Islam melalui media sosial. Pasalnya media sosial saat ini sudah banyak disalahgunakan pihak tertentu.

Santri yang belajar di pondok pesantren dengan belajar kitab-kitab ulama klasik, tentu berbeda pemahaman keagamaannya dengan orang kebanyakan yang hanya belajar agama sambilan.

Demikian diungkapkan Sekretaris Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda ? (GP) Ansor Sumatera Barat Arianto pada Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar dalam rangka Penguatan Nilai-Nilai Aswaja, Senin (12/12) malam di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Padangpariaman, Sumatera Barat. Pelatihan dengan tema, pencegahan radikalisme melalui jurnalistik santri yang ? santun, ramah dan rahmatan lil’alamin, dibuka oleh Kepala Aliyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Padangpariaman, Syekh Muda Muhammad Rais Tuanku Labai Nan Basa.?

Saatnya Santri Jadikan Medsos sebagai Media Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Santri Jadikan Medsos sebagai Media Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Santri Jadikan Medsos sebagai Media Dakwah

Menurut Arianto, makin massif beredar berita ? hoax di media sosial saat ini dapat merusak tatanan kehidupan. Istilah berita hoax yang digunakan dalam teknologi informasi sebagai berita atau informasi yang tidak benar, tidak ada dasarnya, dan berisi kebohongan. Berita hoax, bukan hanya tulisan, tapi termasuk foto, video, jika kontennya tidak mengandung kebenaran.

“Berita hoax tersebut juga terkait dengan nilai-nilai agama. Mengutip sebuah survey yang yang menyebutkan 59 persen media sosial efektif sebagai media dakwah di kalangan generasi muda. Artinya, media social menjadi acuan bagi generasi muda sebagai rujukan beragama,” kata Arianto.

Dengan data itu, kata Arianto, dapat dibayangkan kalau banyak informasi hoax yang diperoleh generasi muda sebagai sumber dakwahnya yang akan menyesatkan. Disinilah pentingnya para santri di pondok pesantren yang tidak hanya berdakwah melalui mimbar, tapi juga menggunakan media sosial sebagai media berdakwah.?

Ulama Salaf Online

“Ilmu yang diperoleh santri jangan disimpan sendiri, tapi harus disebarkan kepada publik agar bisa menjadi pembanding dari paham-paham keagamaan yang tidak benar. Ada portal-portal pembanding dalam pemahaman keagamaan. Saatnya santri ? menjadikan media sosial dan portal sebagai sarana media dakwah. Sehingga santri Pesantren Nurul Yaqin juga turut meredam paham radikalisme yang membanjiri situs-situs di dunia internet,” tambah Arianto, dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Padang.?

? “Nanti kita sediakan portalnya. Santri tinggal masukkan berita, laporan dan tulisan yang bernuansa dakwah Islam yang menyejukkan. Santri bisa menguploud sendiri tulisannya,” kata Arianto. ?

Kepala Aliyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Padangpariaman, Syekh Muda Muhammad Rais Tuanku Labai Nan Basa, mengakui kegiatan ini dalam rangka persiapan pembuatan website Pondok Pesantren Nurul Yaqin. “Dengan potensi yang ada di sini, kita berupaya meningkatkan dakwah Nurul Yaqin melalui internet, portal dan media sosial,” kata Tuanku Labai. ? (armaidi tanjung/abdullah alawi)?

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online AlaSantri, Quote, PonPes Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock