Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Kiai Abbas Buntet, selain menjadi salah seorang tokoh sentral NU, juga pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren tersebut, hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang. Di sana, bukan saja menggelar kitab kuning, tapi mengobarkan semangat juang.

Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam sistem pendidikan pesantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kanacah perjuangan. 

Ulama Salaf Online

Kiai Abdullah ukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet, ayah Kiai Abdullah sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Ulama Salaf Online

Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. 

Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon. 

Setelah  meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir tiap hari tentara penjajah Belanda melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus  begerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mhah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu  dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia  pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. 

Tiga tahun pertama, ditunjukkan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini  menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

Dengan demikian, pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf bdi daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. 

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu Syekh Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karyanya masyhur itu. 

Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada  para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante- Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet, warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fiqih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Dengan sikapnya itu, nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seurang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas  menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Duhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. 

Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. 

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya  mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. 

Ketika memasuki masa senjanya, Kiai Abbas lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah. Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucunya. Karena itu, Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya dan memperkaya jiwanya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu  Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. 

Dalam kamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.   

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.  

Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tangguh dan disegani musuh, kekuatan itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid. 

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas, putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak di dareah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tersebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu  di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Di antaranya adalah KH Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. 

Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas, sebagai Laskar andalannya, datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. 

Atas restu Hadratus Syaikh, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, Kiai Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. 

Sekitar tahun 1900, Kiai Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi ang mengganggu pesantren tebuireng kapok tidak berani mengganggu lagi. 

Tradisi pesantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya. Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946  itu. 

Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit. Kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Jumat pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.  

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Dan karena itu pula, ketika masa ramainya gerakan reformasi, pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. 

Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (Abdul Munim DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Maret 2018

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Probolinggo, Ulama Salaf Online. Sebagai upaya untuk meneladani para tokoh pendiri NU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, Rabu (30/4).

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Nobar film Sang Kiai ini diikuti oleh seluruh pengurus dan kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Sumberasih. Mereka berbaur dengan Nahdliyin menyaksikan tayangan film di layar lebar dengan menggunakan LCD.

Hadir dalam nobar Sang Kiai tersebut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim serta para Ketua Ranting dan komisariat IPNU se Kecamatan Sumberasih.

Ulama Salaf Online

Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim mengungkapkan bahwa nobar Sang Kiai ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan para tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah berdirinya NU. Dengan demikian, para kader IPNU tahu perjuangan ulama dalam mendirikan organisasi terbesar di Indonesia ini.

Ulama Salaf Online

“Kami ingin memperkenalkan lebih dalam bagaimana sejarah tokoh NU, terutama KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu melahirkan sebuah resolusi jihad,” ungkapnya.

Menurut Lukman, nobar Sang Kiai ini sangat penting bagi kader IPNU untuk masa depan perjuangan NU. Sebab selama ini banyak Nahdliyin yang hanya mengetahui sejarah berdirinya NU dari buku-buku dan cerita saja.

“Mudah-mudahan dengan nobar Sang Kiai ini ada semacam inspirasi dan motivasi serta semangat untuk berjuang demi membesarkan organisasi NU. Sebab dengan menonton langsung, para kader tentunya akan tahu seberapa besar pengorbanan para ulama untuk bisa mendirikan NU,” tegasnya.

Nobar Sang Kiai ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono. Menurutnya, langkah ini merupakan sebuah cara yang positif dan efektif supaya para kader IPNU bisa meneladani figur pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang sangat gigih berjuang demi merebut kemerdekaan Indonesia.

“Semoga sosok dari Kiai Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi teladan dan inspirasi para kader IPNU dan Nahdliyin agar tidak berputus asa dalam mengkader pelajar NU yang nantinya akan menjadi estafet penerus perjuangan di organisasi NU beberapa tahun mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Jadwal Kajian, AlaNu Ulama Salaf Online

Sabtu, 24 Februari 2018

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

Sleman, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Nusron Wahid mengutuk kekerasan atas nama agama yang dilancarkan kelompok kecil bersenjata. Nusron menyebut kelompok ekstrem ini sebagai penjahat kemanusiaan tiada tara.

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

“Kekerasan beberapa hari lalu di Perancis dan juga di Timur Tengah, sama sekali mencemarkan keluhuran ajaran Islam,” kata Nusron dalam sambutan pembukaan Kongres XV GP Ansor di pesantren Sunan Pandanaran jalan Kaliurang, kabupaten Sleman, Kamis (26/11) pagi.

Perhatian masyarakat dunia dikejutkan oleh penyerangan kelompok kecil bersenjata terhadap sipil yang merenggut lebih dari seratus korban jiwa. Bagaimana pun, Nusron menambahkan, kekerasan atas nama apapa pun tidak bisa diterima.

Ulama Salaf Online

Ia mengajak warga Nahdlatul Ulama termasuk aktivis GP Ansor untuk berpartisipasi menyebarkan keluhuran dan keberadaban Islam di tengah masyarakat dunia.

Ulama Salaf Online

“NU dan Ansor wajib melawan kejahatan semacam ini. Wajib dicegah,” tegas Nusron. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pertandingan, Jadwal Kajian, Tokoh Ulama Salaf Online

Senin, 19 Februari 2018

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa

Semarang, Ulama Salaf Online

Dalam rangka menyongsong bulan Muharram serta meramaikan Hari Santri Nasional, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan mengadakan lomba esai tingkat mahasiswa se-Pulau Jawa.

Kegiatan perdana ini mengambil tema “Inovasi Muslim untuk Dunia” dengan enam subtema, yakni teknologi, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, lingkungan, dan politik. Pendaftaran lomba tersebut dibuka mulai 10 Agustus hingga 20 September 2016.

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa

Proses registrasi dapat dilakukan melalui pesan singkat (SMS) ke Dani Puspitasari (085600570393) dengan format Nama_Perguruan Tinggi_3 Kata Awal Judul Esai. Untuk mengikuti lomba esai, peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp35 ribu per karya.

Ulama Salaf Online

Peserta merupakan mahasiswa D3 atau S1 dari perguruan tingi negeri atau swasta di Jawa. Peserta diperbolehkan mengirim maksimal dua karya untuk dilombakan.

Zainuddin, selaku panitia kegiatan tersebut menuturkan bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah untuk memberikan sarana berkreasi bagi mahasiswa. "Lomba ini menjadi ajang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk meningkatkan daya intelektualitas dan kreativitas dengan memberikan gagasan bagi peradaban Islam dunia," tuturnya.

Ulama Salaf Online

Informasi lebih lanjut berkenaan dengan lomba tersebut dapat menghubungi ke 085600570393 (Dani Puspitasari) dan 089689310963 (Zaenuddin) atau mengunjungi portal resmi penyelenggara di http://ipnuippnuunnes.or.id.

Hadiah lomba esai tersebut adalah Rp1 juta (Juara 1), Rp750 ribu (Juara 2), dan Rp500 ribu (Juara 3). Selain itu seluruh peserta juga akan mendapatkan e-sertifikat dari panitia. (Mazid Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Jombang, Ulama Salaf Online - Setidaknya ada enam lagu baru yang akan? ditetapkan sebagai lagu perjuangan nasional oleh Kementerian Sosial, salah satunya adalah "Ya Ahlal Wathan" atau yang kerap disebut “Ya ‘Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah.

"Kini dalam proses penyelesaian oleh tim sebelum nanti ditetapkan jelang peringatan hari pahlawan, 10 November 2016," ujar Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansah saat menghadiri Haul pendiri , penggerak NU, KH Wahab Chasbullah ke-45 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (13/8) malam.

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Mensos menambahkan, lagu Cinta Tanah Air yang diciptakan KH Wahab Chasbullah ini menurutnya layak untuk menjadi salah satu lagu nasional. Karena menggelorakan semangat cinta tanah air yang sangat luar biasa. (Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini)

"Kita tahu lagu-lagu nasional sejak lama tidak ada perubahan, sejak saya duduk di SD lagu-lagu nasional tidak ada perubahan. Ketika lagu ini saya perdengarkan ke tim yang sudah menggodok ternyata layak untuk dijadikan lagu nasional," imbuh Khofifah yang datang bersama pejabat Direktorat Jenderal Kepahlawanan dari Kementerian Sosial.

Ulama Salaf Online

Menurutnya, untuk dapat menjadi lagu perjuangan nasional, maka ada sejumlah syarat yang harus dilalui, di antaranya aransemen. "Kami telah menyiapkan aransemen dan partitur lagu tersebut," kata perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Demikian pula syair lagu yang awalnya berbahasa Arab, maka harus digubah ke bahasa Indonesia. "Karena kalau tetap berbahasa Arab, kami khawatir ini dikira lagunya ISIS. Itu kan bahaya," katanya disambut tawa hadirin.

Persyaratan lain yang mesti dilalui dalam penetapan ini adalah izin dari pihak keluarga. Jika direstui untuk diubah, kata Khofifah, maka lagu Ya Ahlal Wathon akan menjadi salah satu dari 6 lagu yang sekarang dalam penyelesaian oleh tim.

Ulama Salaf Online

“Saat ini sudah ada 5 lagu, jika disetujui pihak keluarga maka akan ada 6 lagu nasional. Salah satunya lagu Ya Ahlal Wathan," kata Menteri yang dikenal dekat dengan Presiden KH Abdurrahman Wahidini.

Lagu Ya Ahlal Wathan diciptakan Mbah Wahab sekitar tahun 1916, saat aktif dalam dunia pergerakan kebangsaan di Surabaya. Lagu ini selalu dinyanyikan siswa atau santri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya.

?

Khofifah pun mengatakan, sebelumnya sudah meminta elemen yang ada di NU agar selalu menyanyikan lagu ini saat mengadakan acara. Seperti acara diklat, seminar, maupun lainnya. "PMII, Fatayat, Muslimat sudah kami minta menyanyikan lagu ini saat acara," katanya.

?

Haul Mbah Wahab kali ini mengambil tema mengukuhkan hubbul wathan minal iman. Tampak hadir Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dan pejabat yang lain. (Muslim Abdurrahman/Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Hikmah, Pondok Pesantren Ulama Salaf Online

Jumat, 16 Februari 2018

Shalat Tarawih NU Lama dan Baru

Meski dikenal mempunyai perbedaan pendapat yang sangat tajam, Gus Dur dan Soeharto tetap berteman baik. Gus Dur merupakan salah seorang tokoh yang kerap berani mengkritik rezim Soeharto di era Orde Baru.

Suatu hari di bulan Ramadhan, Gus Dur diundang oleh mantan Presiden Soeharto ke kediamannya di Jalan Cendana Jakarta untuk berbuka puasa bersama. Waktu itu Gus Dur hadir ditemani Kiai Asrowi.

?

Shalat Tarawih NU Lama dan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Tarawih NU Lama dan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Tarawih NU Lama dan Baru

Setelah buka, kemudian shalat maghrib berjamaah. Setelah minum kopi, minum teh, dan makan, terjadilah dialog antara Soeharto dan Gus Dur.

?

Ulama Salaf Online

Soeharto: Gus Dur sampai malam di sini?

Gus Dur: Enggak pak! Saya harus segera pergi ke tempat yang lain.

Soeharto: Oh, iya ya ya....silaken. Tapi kiainya kan di tinggal disini, ya?

Ulama Salaf Online

Gus Dur : Oh, ? Iya Pak! Tapi harus ada penjelasan.?

Soeharto: Penjelasan apa?

Gus Dur: Shalat tarawihnya nanti itu "ngikutin " NU lama atau NU baru?

Mendengar ucapan Gus Dur itu, Soeharto jadi bingung. Baru kali ini ia mendengar ada NU lama dan NU baru. Kemudian dia bertanya.?

Soeharto: Lho, NU Lama dengan NU baru apa bedanya?

Gus Dur: Kalau NU lama, tarawih dan witirnya itu 23 rakaat.

Soeharto: Oh Iya..ya..ya..ya....gak apa-apa.

Gus Dur sementara diam tak lagi berbicara. Sejurus kemudian Suoharto bertanya lagi.

Soeharto: Lha, kalau NU baru bagaimana?

Gus Dur: Diskon 60 persen! Hahaha... (Gus Dur, Soeharto dan semua orang yang ada di sekitarnya ngakak mendengar dialog itu)?

Gus Dur: Ya, jadi shalat tarawih dan witirnya cuma tinggal 11 rakaat.

Soeharto: Ya sudah, saya ikut NU baru saja, pinggang saya sakit.

(Fathoni)

Disunting dari buku “Ngakak Bareng Gus Dur” karya Muhammad Wahab Hasbullah (Penerbit Insania Yogyakarta, 2010).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, AlaNu Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Februari 2018

Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU

Jakarta,Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj resmi membuka kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Kamis (3/12) malam. Didampingi Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa, Kang Said mengungkapkan apresiasinya terhadap pengabdian Muslimat NU untuk kemaslahatan umat maupun warga NU.

Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU

“Faktor kepemimpinan yang disertai dengan pengembangan program membuat saya sangat mengapresiasi Hj Khofifah, semoga kader lain bisa mewarisi dan meniru beliau,” ujar Kang Said di depan ratusan kader Muslimat NU dari berbagai wilayah.

Muslimat NU yang memiliki cabang istimewa di negara Saudi Arabia, Malaysia, maupun di negara-negara lain juga membuktikan, bahwa semangat berkhidmah ibu-ibu NU ini tidak diragukan lagi meskipun berada jauh di negeri seberang.

Ulama Salaf Online

Selanjutnya, Kang Said mengungkapkan, bahwa konsep kembali ke pesantren sebagai representasi jati diri NU perlu dikembangkan oleh Muslimat NU. “Misal kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Muslimat bisa memanfaatkan pesantren sebagai simbol kultural kebanggam NU yang penuh dengan komitmen dan ketuma’ninahan,” jelasnya.

Sebelum Kang Said memberikan sambutannya, Khofifah lebih dulu memberikan arahan kepada para peserta Rakernas. Selain melibatkan seluruh pengurus wilayah di Indonesia, beberapa cabang Muslimat dari luar negeri juga hadir mengikuti kegiatan bertajuk ‘Penguatan Organisasi menuju Kemandirian Muslimat NU’ ini. (Fathoni)?

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pesantren, Kyai, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Selasa, 13 Februari 2018

Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro

Bulukumba, Ulama Salaf Online. Pemerintah Kabupaten Bulukumba bekerja sama dengan Komunitas Rumah Cinta dan Universitas Islam Makassar mengadakan Festival Datu Tiro. Kegiatan bertajuk “Vitalisasi Budaya dan Spirit Islamisasi Datu Tiro” tersebut dipusatkan di Pantai Samboang Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro

Festival Budaya pada 1 Februari 2015 ini bertujuan mengingatkan upaya Datu Tiro dalam menyebarkan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah di tanah Bulukumba atau yang dikenal Bumi Panrita Lopi.

“Datu Tiro menyebarkan Islam tanpa harus menghilangkan identitas budaya yang melekat di masyarakat Bulukumba,” ungkap Andika sebagai Ketua Panitia.

Ulama Salaf Online

Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud menghargai para leluhur, utamanya Datu Tiro sebagai salah satu penyebar Islam Ahlusunnah wal Jamaah di Bulukumba.

Untuk memajukan sebuah wilayah, kata dia, masyarakat mesti memelihara dan mengamalkan nilai-nilai kearifan lokal apa tak lagi terkait dengan nilai-nilai keislaman Nusantara. ?

Ulama Salaf Online

Rektor Universitas Islam Makassar Dr. Majdah M. Zain Agus AN menyampaikan orasi budaya. Menurut dia, penyebaran Islam di Sulawesi Selatan tak terlepas dari peran tiga datu yang dikenal, yaitu Datu Ribandang, Datu Fatimang, dan Datu Tiro.

Nama Datu Tiro, kata yang juga Ketua Lajnah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan ini, dikenal sebagai peletak batu pertama penyebaran Islam di Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Menurut Majdah, kedatangan Datu Tiro dalam menyebarkan Islam di Bulukumba, dikenal mampu memadukan ajaran Islam dan nilai-nilai budaya sebagai sebuah ajaran yang diterima secara luas masyarakat Bulukumba.

Ia berpendapat, nilai-nilai budaya yang disebarkan Datu Tiro di tanah Bulukumba ini harus senantiasa dipelihara dan diamalkan sebagai sebuah ajaran dan identitas masyarakat Bulukumba.

Kemudian Majdah juga menyinggung bobroknya moralitas kepemimpinan bangsa ini, tak lain disebabkan nilai-nilai Islam jauh dari amalan keseharian kita. Dalam tradisi kepemimpinan Bugis yang sesuai dengan ajaran Islam, kita mengenal istilah macca (cerdas), lempu (jujur), warani (berani), dan getteng (tegas).

“Ketika empat nilai ini diamalkan, Insya Allah bangsa ini jauh dari keterpurukan moralitas, tambahnya.

Dalam prosesi Festival Datu Tiro ini menampilkan beberapa kesenian diantaranya pembacaan riwayat dan sepak terjang Datu Tiro melalui kesenian Singrili, Gandrang Bulu Sitobo Lalang Lipa, seni bela diri.

Secara simbolik Rektor UIM memberikan bantuan Al Quran kepada masyarakat Desa Tri Tiro Bulukumba yang diwakili Pemerintah setempat sebagai bentuk UIM peduli buta aksara Quran.

Tampak hadir menyaksikan Festival Datu Tiro ini Ketua DPRD Bulukumba, Wakil Rektor I UIM Musdalifah Mahmud, Dekan Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIM Arfah Shiddiq, Asdir I Pasca Sarjana UIM Suardi Bakri, Ketua Muslimat NU Bulukumba, dan ribuan masyarakat Nahdliyin Bulukumba. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sunnah, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Selasa, 06 Februari 2018

Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center

Kudus, Ulama Salaf Online. Pengurus ? Majlis Dzikir dan Sholawat "Rijalul Ansor Kudus Jawa Tengah meluncurkan Aswaja Center di Pondok Pesantren Yanbuuul Quran Kudus, Sabtu malam (20/8). Menandai peluncuran, Rais PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani mendoakan dengan bacaan Surat Alfatihah.

Ketua Rijalul Ansor Kudus KH Muhammad Alamul Yaqin mengatakan Aswaja Center sebagai wadah bertujuan meningkatkan pemahaman dan penghayatan wawaan keislaman ahlussunnah Wal Jamaah di kalangan pemuda Ansor dan masyarakat Umum.

Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center (Sumber Gambar : Nu Online)
Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center (Sumber Gambar : Nu Online)

Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center

"Tujuan lainnya menginternalisasi dan mengaktualisasikan faham Aswaja dalam kehidupan beragama,berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Kiai muda yang biasa disapa Gus Muh ini menandaskan Aswaja Center merupakan jawaban atas kondisi masyarakat zaman sekarang yang mudah terpengaruh dari berbagai informasi bersifat khilafiah, perbedaan pemikiran keagamaan yang bisa membahayakan silaturrahim dalam kehidupan berbangsa.

Ulama Salaf Online

"Lembaga ini ini juga dimaksudkan mewadahi dan menggerakkan gus-gus ? (kiai muda) yang selama ini masih berkiprah di pesantren daan belum mempunyai jaringan silaturrahim yg kuat," tegasnya.

Ia mengharapkan para alumni pesantren mau melebur menjadi satu dalm.rangka memyatukan pemahaman sebagai generasi untuk menjaga kota menjaga daerah Kudus yang terkenal kota santri.?

Ulama Salaf Online

"Harapan kami Alumni pesantren maupun kiai muda ? berkenan meluruskan gerakaan yang harus yang dilakukan sefidaknya memberikan dasar kepada mesyarakat yang berbeda dan belum sepaham dengan amaliah aswaja," ujar Gus Muh yang juga pengasuh pesantren Darul Ulum Jekulo Kudus.

Mengenai programnya, Aswaja center akan melakukan kajian-kajian ke-Aswaja-an bersama Majlis Dzikir dan sholawat Nabi Rijalul ansor secara bergiliran di masing-masing kecamatan. Selain itu, mengadakan kajian keagamaan yang kemudian disebarluaskan kepada masyarakat.

"Langkah kami ini sebagai upaya membentengi aqidah warga NUdari gerusan ancaman faham-faham non Aswaja," jelas Gus Muh.

Sementara KH. Ulil Albab Arwani mengapresiasi upaya yang dilakukan Rijalul Ansor PC GP Ansor Kudus yang berinisiatif membentuk lembaga penguatan Aswaja ini. Ia mengharapkan pemuda Ansor giat memberi bekal keilmuan kepada masyarakat hingga di tingkatan pedesaan.

"Kita perlu membimbing masyarakat supaya mantap aqidah aswajanya tidak goyah oleh faham lain yang menyesatkan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rijalul Ansor juga meluncurkan Sentral Data dan Dokomentasi (Sendok). Setelah itu, acara dilanjutkan dialog Keaswajaan bersama Katib Am PBNU KH Yahya Tsaquf dan Instruktur nasional PP GP Ansor KH Ahmad Nadhif Mujib.

Disamping keduanya, acara yang mengambil tema urgensi aswaja di kalangan pemuda NUdalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini juga dihadiri Mustasyar PCNU Kudus KH. Muslim A Kadir, PCNU Kudus dan ratusan kader ansor, santri serta alumni pondok pesantren. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Lomba Ulama Salaf Online

Minggu, 04 Februari 2018

PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi

Pekalongan, Ulama Salaf Online 

PAC GP Ansor Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan masa khidmah 2016-2018 secara resmi dilantik oleh M Ahsin Hana, mewakili ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah.  

Pelantikan berlangsung dengan suasana hidmat di hadapan ribuan Nahdliyin Kecamatan Kajen yang menghadiri acara tersebut yang sekaligus diisi pengajian umum dan tahlil massal sebagai rangkaian peringatan harlah ke-93 NU Kecamatan Kajen. 

PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi

Acara pelantikan dihadiri PW GP Ansor Jawa Tengah, PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Pengurus MWC NU Kecamatan Kajen dan segenap badan otonom NU di Kecamatan Kajen.

Dalam sambutan pelantikannya, Ahsin Hana selaku wakil ketua PW GP Ansor Jawa Tengah berpesan kepada pengurus yang dilantik untuk mengimplementasikan tiga visi besar GP Ansor ke dalam program-program yang riil, meliputi: (1) revitalisasi nilai dan tradisi Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, (2) menguatkan sistem kaderisasi, dan (3) pemberdayaan potensi kader. Dan untuk dapat mewujudkan visi GP Ansor tersebut harus dibangun kebersamaan dan soliditas organisasi. 

"Tanpa adanya kebersamaan dan soliditas di antara segenap pengurus tidak mungkin terwujud visi dan cita-cita GP Ansor," tegas Ahsin.

Ulama Salaf Online

Sementara itu, Abdul Muid selaku ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kajen masa khidmah 2016-2018 dengan segenap dukungan segenap kader GP Ansor yang potensial siap mengemban amanah untuk mewujudkan visi GP Ansor. Untuk itu pengurus sudah menetapkan beberapa progam prioritas yang nantinya akan dilaksanakan. 

Ulama Salaf Online

"Kami akan meneruskan program-program pengurus periode yang lalu dengan fokus pada kemandirian organisasi. Untuk dapat mewujudkan kemandirian organisasi, sebagaimana arahan Pimpinan Pusat, mutlak dibutuhkan soliditas organisasi. Untuk itu konsolidasi akan terus kami gencarkan  untuk menyatukan persepsi dan gerakan Ansor," tandasnya. (Alim Mustofa/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Olahraga, Jadwal Kajian, Humor Islam Ulama Salaf Online

Minggu, 28 Januari 2018

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bagaimana seseorang memanggil orang lain sangat ditentukan oleh hubungan di antara mereka. Orang yang lebih muda atau lebih rendah memanggil orang yang lebih tua atau di atasnya harus dengan embel-embel tertentu seperti “Mbak”, “Mas”, “Paklik”, “Bulik”, “Pakde”, “Bude”, dan sebagainya.?

Sebaliknya orang yang lebih tua atau lebih tinggi, boleh memanggil orang yang lebih muda atau di bawahnya tanpa embel-embel apa pun sehingga cukup menyebut namanya saja. Namun, bagi Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—tradisi ini bisa tidak berlaku karena Mbah Ngis biasa menggunakan sudut pandang lain sehingga memungkinkannya memanggil orang yang lebih muda atau di bawahnya dengan embel-embel di atas.

Mbah Ngis adalah adik dari Mbah Umar, Mbah Mustaqimah, Mbah Muslihah, Mbah Nidzom Mbah Jisam, dan sebagainya. Mbah Ngis biasa memanggil Mbah Mustaqimah dan Mbah Muslihah dengan embel-embel “Bude”; dan memanggil Mbah Umar dengan embel-embel “Pakde”. Demikian pula ketika memanggil Mbah Nidzom dan Mbah Jisam.?

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Ngis, Sudut Pandang, dan Kerendahan Hati

Padahal Mbah Ngis seharusnya atau sewajarnya, memanggil beliau-beliau itu cukup dengan “Mbak” atau "Yu", “Mas” atau “Kang” karena Mbah Ngis adalah adik. Sudut pandang yang digunakan Mbah Ngis memanggil beliau-beliau dalam hal ini adalah sudut pandang anak-anak Mbah Ngis sehingga memungkinkannya memberikan penghormatan yang lebih tinggi sekaligus untuk “mbasakke” anak-anak sendiri.

Terhadap para keponakan dari putra-putri Mustaqimah, Mbah Muslihah, Mbah Nidzom, Mbah Jisam, dan sebagainya, ? Mbah Ngis selalu memanggil mereka “Mas” atau “Mbak”, padahal seharusnya atau sewajarnya Mbah Ngis memanggil mereka cukup dengan menyebut namanya saja karena bagaimanapun Mbah Ngis adalah bibi bagi mereka. Tetapi Mbah Ngis memilih menggunakan sudut pandang anak-anak sendiri bukan saja untuk “mbasakke” mereka tetapi lebih dari itu Mbah Ngis ingin memberikan penghormatan atau penghargaan yang lebih tinggi.?

Ulama Salaf Online

Apalagi banyak dari keponakan-keponakan Mbah Ngis adalah orang-orang terpandang di komunitas masing-masing, seperti menjadi pengasuh pesantren atau pemuka agama di masyarakat. Tidak jarang bahasa yang digunakan Mbah Ngis untuk berbicara dengan para keponakan yang sudah berkeluarga adalah bahasa Jawa krama hinggil.

Demikian pula cara Mbah Ngis memanggil adiknya sendiri yang bernama Mbah Umi. Mbah Ngis selalu memanggil beliau “Lik Umi” atau “Bulik Umi”. Tentu saja sudut pandang yang digunakan Mbah Ngis adalah sudut anak-anak sendiri yang bukan saja untuk “mbasakke” mereka tetapi lebih dari itu memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Terhadap orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan, Mbah Ngis tetap berusaha memanggilnya dengan embel-embel tertentu. Misalnya, kepada para tetangga atau relasinya, Mbah Ngis memanggil mereka “Pak”, “Bu” atau “Mbok” bagi mereka yang sudah berkeluarga.?

Ulama Salaf Online

Kepada yang masih muda dan belum keluarga, Mbah Ngis biasa memanggil mereka dengan embel-embel “Mas”, “Kang” atau “Mbak”. Bahkan kapada para santri di pondok yang masih remaja atau anak-anakpun, Mbah Ngis tidak jarang memanggil mereka “Mas”, atau “Mbak”.

Tidak hanya itu, kepada anak tertua Mbah Ngis selalu memanggilnya “Mbak” dan “Mas” untuk suaminya. Hal ini selain untuk “mbasakke” adik-adik dari anak-anak tertua tersebut juga untuk memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Singkatnya, Mbah Ngis selalu mencari celah bagaimana bisa menghormati atau menghargai orang lain dalam hal memanggil dengan cara menggunakan sudut pandang atau posisi yang lebih rendah dari posisinya sendiri. Mbah Ngis jarang memanggil orang lain dengan embel-embel “Nduk”, “Le” atau “Dik” karena Mbah Ngis sering kali tidak ingin menunjukkan posisinya yang lebih tinggi dari pada orang lain.?

Mbah Ngis memang orang Jawa yang rendah hati (tawadhu’) dan senantiasa berhati-hati dalam tindak-tanduk hingga nyaris tidak ada orang lain yang merasa pernah direndahkannya. Mbah suka menjunjung tinggi akhlak mulia yang islami.?

Sebuah syair bahasa Arab berbunyi:?

? ? ? ? ? *** ? ? ? ? ?

? ? ? ? *** ? ? ? ? ? ?

Artinya:?

Tawadhulah, maka ? engkau akan seperti bintang yang terlihat rendah di permukaan air tapi sesungguhnya ia tinggi di langit.

Dan janganlah engkau seperti asap yang meninggi dengan sendirinya, padahal asalnya ia rendah.”

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Aswaja Ulama Salaf Online

Sabtu, 13 Januari 2018

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap

Cilacap, Ulama Salaf Online. Ribuan orang nampak mengantar pemakaman KH Syahid Muchson atau yang biasa di sapa Gus Sahid, Jumat (3/5). ? Meninggalnya Ketua PCNU Kabupaten Cilacap Jawa Tengah ini memang mengejutkan banyak orang.

Pasalnya setelah mengalami sakit gangguan paru, ulama yang dikenal pekerja keras dan salah satu pendiri KBIH NU Cilacap ini dikabarkan mulai membaik kesehatannya. Namun tiba-tiba ulama yang pernah tinggal di Mekkah belasan tahun itu mengalami kritis dan akhirnya meninggal dunia, Jum’at (3/5) pukul 11.30.

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap

Sontak kabar meninggalnya Ketua PCNU Cilacap periode 2012-2017 yang belum sempat dilantik menjadi kabar duka bagi warga Nahdliyin di Kabupaten Cilacap. Ribuan orang pun datang ke rumah duka di Komplek PP AL Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.

Ulama Salaf Online

Bahkan pelayat yang datang dari berbagai kalangan seperti ulama, tokoh masyarakat maupun pengjrus NU dari berbagai tingkatan yang ? sangat mengenal Gus Sahid. Salah satu tokoh yang cukup kehilangan adalah pengasuh PP Ail Ihya Ulumadin KH Hasbullah Badawi BA.

Ulama Salaf Online

Menurutnya sejak kembali dari Mekkah kiprah Gus Sahid memang cukup besar baik bagi PP AL Ihya Ulumadin maupun PC NU Kabupaten Cilacap. Hal itu juga diakui oleh kakaknya KH Suhud Muchson Lc yang mengakui sejak bersama-sama mendirikan KBIH NU.

“Waktu itu NU Kabupaten Cilacap ingin membuat KBIH namun tidak jalan-jalan, nah saya dengan Mbah Su’ada (Rois Suriyah) kemudian melihat potensi yang dimiliki adik saya itu sehingga kita minta untuk pulang ke Cilacap,” kata dia.

Di bawah kendalinya KBIH NU Cilacap langsung mendapat respon dari para jamaah yang mempercayakan bimbingannya kepada KBIH NU. Lantas pada periode ? 2007-2012 ? Gus Sahid juga masuk dalam struktur PCNU menjadi wakil ketua.

Satu periode masuk dalam struktur pengurus PCNU Cilacap ternyata membuat pengurus MWC dan Ranting NU se-Kabupaten Cilacap mempercayakan PCNU Cilacap dibawah pimpinnya. Sayang sejak itu pula ulama yang sudah 28 kali naik haji ini mengalamisakit hingga akhirnya meninggal.

“Saya tidak mengira jika semangat yang begitu membara ternyata telah mengalahkan rasa sakit yang diderita Gus Sahid hingga Allah SWT memanggilnya,” kata M Taufiq Hidayatullah SAg salahsatu tokoh muda Nu Cilacap yang mengenal dekat Gus Sahid.

Hal yang sama dikatakan oleh Ketua DPC PKB Kabupaten Cilacap H Akhmad Muslikhin SH MSi yang mengaku Gus Sahid sebagai sosok yang mampu memberikan semangat harmonisasi sehingga NU dan PKB di Kabupaten Cilacap mulai membangun kembali politi kebangsaan.

“Sayang beliau telah wafat dan membawa sebagain semangatnya yang tetap menyala diakhir hayatnya dan sebagian yang sudah ditorehkan harus kami lanjutkan sebagai wujud penghargaan kepada Gus Sahid atas jasa-jasanya,” kata dia.

KH Syahid Muchson meninggalkan seorang istri Ny Uun Unaisyah sahid Al Hafidzoh serta tiga orang putra Naely, Awwad dan ‘Affan Hafidz. Meski sedih harus melepas orang yang dicintainya namun apa yang telah diwasiatkan membuat putra-putri Gus Sahid terlihat tabah.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Daryanto?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Hikmah, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Selasa, 09 Januari 2018

Slamet Rahardjo: Alex Komang Mutiara dari Pecangaan

Jepara, Ulama Salaf Online. Aktor senio Slamet Rahardjo, menyebut Saifin Nuha atau Alex Komang merupakan “mutiara” dari Pecangaan Jepara. Desa Pecangaan Kulon kecamatan Pecangaan merupakan kampung kelahiran lelaki yang menghembuskan napas terakhir pada usia 53 ini.

Slamet Rahardjo: Alex Komang Mutiara dari Pecangaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Slamet Rahardjo: Alex Komang Mutiara dari Pecangaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Slamet Rahardjo: Alex Komang Mutiara dari Pecangaan

Alex muda, anak seorang kiai kampung KH Shohibul Munir memberanikan diri untuk hijrah ke Jakarta dan menemui sutradara kenamaan Teguh Karya. Meski ia sempat diejek sebagai anak kampungan, namun lambat laun ia diterima sebagai muridnya.

Waktu itu, Teguh Karya akan menerimanya dengan syarat dilarang malas dan harus tekun. Dengan bekal ketekunan, patuh terhadap guru lambat-laun kiprahnya makin diterima masyarakat.

Ulama Salaf Online

Buktinya ia pernah menyabet predikat aktor terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 1987. “Jakarta hanya sebagai pembungkus. Mutiaranya salah satunya lahir dari Pecangaan,” tegasnya.

Ulama Salaf Online

Bagi lelaki kelahiran Serang, Banten 66 tahun ini, Alex memang memiliki kebiasaan unik. Saat teman di sanggar tidur, ia bangun. Saat orang tertidur lelap ia malah bangun. Meski begitu keberadaannya semakin mewarnai sanggar teater Popular.

Sehingga Slamet meyakini kepergian almarhum tidaklah sia-sia. Sebab sudah banyak karya kebudayaan ia dedikasikan untuk bangsa dan negara.

Memet panggilan masa kecil Slamet juga mengenal ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) sebagai warga “bintang sembilan” tulen. Terbukti dengan keikutsertaannya dengan lembaga NU, Pimpinan Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU.

Kakak kandung Erot Djarot ini menambahkan kematian adalah keniscayaan. “Pergilah kamu, Alex. Pergilah dengan baik. Kamu tidak dipanggil oleh bupati, tidak gubernur dan tidak juga presiden. Tetapi kamu dipanggil oleh Allah. Datanglah dengan terhormat,” tuturnya.

Hanya doa, lanjutnya, yang bisa dipanjatkan untuk mengantarkan kepergian Alex Komang ke tempat peristirahatan terakhir. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Islam, Warta, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Selasa, 26 Desember 2017

Amalan Antiejakulasi Dini

Assalamu ’alaikum wr. wb

Redaksi Bahtsul Masail Ulama Salaf Online yang saya hormati. Sebelumnya saya mohon maaf, karena saya mau menanyakan hal yang agak sensitif. Saya mohon nama saya dirahasiakan. Sudah hampir satu tahun saya mengalami masalah kehidupan seks. Saya selalu “keluar” duluan. Awalnya isteri sering protes, tetapi sekarang sudah tidak.

Amalan Antiejakulasi Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan Antiejakulasi Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan Antiejakulasi Dini

Namun sebagai seorang suami tentu saya merasa bersalah sebab tidak bisa membahagiakan isteri di ranjang. Saya sudah berobat ke mana-kemana, tapi hasilnya belum maksimal. Memang tidak cukup hanya berobat, tetapi berdoa juga sangat penting. Usaha dan doa harus seimbang. Pertanyaan saya adakah doa khusus yang diajarkan Nabi SAW atau doa dari para ulama mengenai masalah yang saya hadapi. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr, wb

(Klaten/Nama dirahasiakan)

Ulama Salaf Online

Jawaban

Ulama Salaf Online

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Seorang isteri sudah semestinya menaati suaminya. Namun suami juga harus memenuhi hak-hak isterinya termasuk juga di dalamnya hak untuk mendapatkan kenikmatan seksual. Dalam hubungan intim dengan isteri suami jangan hanya mencari kepuasan diri sendiri, tetapi harus sama-sama saling menikmati.

Jika kemudian ada masalah dalam hubungan intim seperti pihak suami kurang bisa memuaskan isterinya karena mengalami ejakulasi dini, hal ini harus dikonsultasikan baik-baik dengan isteri dan dicari jalan keluarnya. Misalnya dengan melakukan konsultasi kepada dokter spesialis dan melakukan pengobatan. Dalam hal ini dukungan isteri mutlak diperlukan.

Kami melihat bahwa penanya sudah melakukan upaya-upaya serius untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dalam kasus ini berobat menjadi keharusan, tetapi berdo’a juga tidak kalah pentingnya. Berobat dan berdo’a sudah semestinya berjalan beriringan.

Sedangkan do’a khusus yang diajarkan Nabi Muhammad SAW mengenai kasus ejakulasi dini sepanjang penelusuran kami dalam pelbagai literatur Islam klasik tidak ditemukan. Tetapi kami hanya menemukan doa yang dipanjatkan oleh Ibnul Mukadir, salah seorang tabi’in. Doanya sebagai berikut.

? ? ? ? ? ?

Allahumma qawwi dzakarî fa innahû manfa’atun li ahlî. Artinya, “Ya Allah, kuatkan dzakarku karena sesungguhnya hal itu bermanfaat buat isteriku.”

Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Faidlul Qadir karya Abdurra’uf al-Munawi, Ibnul Munkadir memanjatkan do’a agar dikuatkan dzakarnya semata-mata untuk memenuhi apa yang menjadi hak isterinya. Dengan kata lain untuk memenuhi birahi isterinya. Sebab, syahwat-birahi perempuan itu ada pada laki-laki. Jika dibiarkan atau tidak “disentuh”, dikhawatirkan perempuan akan terjerumus ke dalam perzinahan.

? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Ibnul Munkadir berdo’a, ‘Ya Allah, kuatkan dzakarku karena sesungguhnya hal itu bermanfaat buat isteriku’. Doa itu dipanjatkan agar Allah menguatkan dzakar Ibnul Munkadir semata-mata untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami yang menjadi hak isterinya, bukan untuk mengumbar syahwatnya. Sebab, birahi perempuan itu ada pada laki-laki. Apabila dibiarkan, dikhawatirkan perempuan akan terjerumus ke dalam perzinahan,” (Lihat Aburra’uf al-Munawi, Faidlul Qadir, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz, IV, h 145).

Penjelasan yang terdapat dalam kitab Faidlul Qadir di atas sangat menarik untuk dicermati dan diperhatikan terutama bagi para suami. Sebab, acap kali kita mendengar berita di pelbagai media massa perselingkuhan perempuan yang sudah bersuami dengan alasan suaminya tidak bisa memuaskan atau membahagiakannya di ranjang. Kendati harus dicatat bahwa kekurangan suami itu bukan alasan pembenaran atas praktik zina dan menurunnya sikap harmonis.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Untuk para suami yang sedang mengalami masalah seperti yang dihadapi oleh penanya di atas kami sarankan terbuka kepada isteri dan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis agar cepat mendapat penangangan. Mereka yang mengalami masalah ini tidak perlu frustasi. Insya Allah ada jalan keluarnya.

Sembari berobat jangan lupa berdoa. Doa Ibnul Munkadir bisa dijadikan alternartif di samping do’a-doa lain. Sedangkan para isteri sudah semestinya bersikap sabar dan mendukung suami dalam menyelesaikan problem yang dihadapi. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Nusantara Ulama Salaf Online

Kamis, 21 Desember 2017

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional

Jombang, Ulama Salaf Online - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda? Ansor akan menggelar Halaqah Internasional di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tmabkberas, Jombang pada? Ahad hingga Senin (21-22/5). Kegiatan akan dipusatkan di GOR Hasbullah Said Bahrul Ulum.

Ketua Panitia Halaqah Internasional GP Ansor Sholahul Am Notobuwono mengatakan, kegiatan tersebut bertema "Menuju Rekontekstualisasi Islam Demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban".

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional

"Berbagai persoalan wawasan keagamaan dunia Islam yang terjadi di berbagai negara itu, kami ingin mengetahui lebih detail melalui halaqah ini. Setelah mengetahui kondisinya, forum nanti kami harapkan bisa merumuskan peta jalan menuju rekontekstualisasi Islam demi perdamaian dan harmoni peradaban," ujarnya, Senin (15/5).

Pria akrab disapa Gus Aam menjelaskan, ada beberapa persoalan negara-bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi Muslim dan non-Muslim. Disamping itu, pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara juga akan menjadi salah satu poin pembahasan dalam forum tersebut.

Ulama Salaf Online

"Terutama isu-isu yang berkaitan dengan hubungan antara Muslim dan non-Muslim di berbagai negara. Serta keberadaan negara-bangsa modern dan keabsahannya sebagai sistem politik yang mengikat kehidupan umat Islam.," imbuh Katib Pesantren Bahrul Ulum ini menambahkan.

Ulama Salaf Online

Pada kegiatan tersebut, panitia mengundang perwakilan dari berbagai negara untuk menjadi pembicara dalam halaqah tersebut. Di antaranya Syekh Kabir Helminski (Kentucky USA), Shuhaib Benseikh (Marseille, Prancis), Ayeikh Ahmed (Abbadi, Maroko), C Holland Taylor (Bayt Ar Rahmah, USA), Magnus Ranstorp (Stockholm, Swedia), Syeikh Mohammed Abu El Fadl (Kairo, Mesir), Ash Shisty (India), Syeikh Amru Wardani (Kairo, Mesir), Mouhanad Khorchide (University Of Munster, Jerman), dan perwakilan dari Malaysia.

"Untuk undangan yang luar negeri, beberapa sudah konfirmasi kehadiran. Terutama Mesir sudah pasti datang. Komunikasi terus kita lakukan, sudah hampir semuanya memberi kepastian hadir. Kalau pembicara dari dalam negeri ada perwakilan dari Muhammadiyah, pemerintahan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dan BIN (Badan Intelejen Negara)," jelas Gus Aam.

Adapun peserta kegiatan ini diperkirakan sekitar 400 orang. Terdiri dari pengurus Ansor dari seluruh Indonesia, kiai-kiai pesantren, akademisi, Forum Musyawarah Ponpes, RMI (Rabitah Mahad Islamiyah), dan utusan Banom (Badan Otonom) NU. "Forum ini dialognya aktif. Jadi, nanti dari beberapa narasumber bisa saling menanggapi secara langsung. Begitupun peserta," bebernya.

Menurut Gus Aam, berbagai pembahasan yang dikaji dalam halaqah internasional itu akan direkomendasikan dibedah kembali di negaranya masing-masing.

"Karena bisa saja persoalan yang sudah dibahas disini nantinya akan relevan dengan yang terjadi di negara lain. Atau bisa saja hasil dari halaqah ini menjadi kesepakatan bersama lintas negara untuk perdamaian dunia dan harmoni peradaban," pungkasnya.

Untuk mensukseskan halaqoh ini, PP Pusat GP Ansor menggandeng Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan PC GP Ansor Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Senin, 25 September 2017

Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus

Jepara, Ulama Salaf Online. Pengurus IPNU-IPPNU Nalumsari mengadakan rapat kerja dalam rangka memaksimalkan peran di Gedung MWCNU Nalumsari kabupaten Jepara, Sabtu-Ahad (30-31/8). Mereka dalam rapat ini juga menyusun program kerja ke depan.

Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus

"Pertemuan ini bertujuan menegaskan kembali tugas pokok dan fungsi pengurus agar kualitas kerja mereka lebih baik dari tahun sebelumnya," kata Ketua PAC IPNU Nalumsari Lukman Hakim.

Sementara Wakil Ketua IPNU Jepara M Shidiq yang juga hadir dalam rapat itu mengingatkan maksud pertemuan. “Upgrading ini menyadarkan kita terhadap wilayah kerja masing-masing,” kata Shidiq.

Ulama Salaf Online

Shidiq mendorong pengurus anak cabang IPNU-IPPNU Nalumsari untuk menata ulang pola pikir. Pola pikir kita, ujar Shidiq, harus lebih baik dari pengurus ranting. Ia menyatakan, kepengurusan IPNU Jepara akan memfasilitasi mereka dalam memaksimalkan pengurus ranting. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Ulama Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Minggu, 10 September 2017

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

Jakarta, Ulama Salaf Online 



Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, reuni, kongres atau apapun namanya boleh saja dilakukan. Apalagi jika dimaksudkan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sesama warga negara).

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

Ia mengatakan hal itu ketika mengomentari Reuni alumni 212 yang akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Sabtu (2/12). Reuni itu memperingati aksi yang dilakukan umat Islam setahun yang lalu.   

"Namun, jangan ada upaya untuk mengarus-utamakan agama dalam percaturan politik praktis, apalagi menjadikan agama sebagai tunggangan politik. Politisasi agama akan mengoyak kohesivitas sosial yang pada gilirannya merusak persatuan dan kesatuan bangsa," katanya di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (30/11). 

Ia meminta untuk menjadikan agama sebagai inspirasi dalam  mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan jadikan agama sebagai aspirasi politik. Kesepakatan para pendiri bangsa atas NKRI (mu’ahadah wathaniyyah, konsep negara bangsa) harus kita junjung tinggi.

“Betapa rendah kedudukan agama bila dijadikan aspirasi politik hanya untuk menangguk keuntungan politik elektoral lima tahunan. Apalagi untuk dikonversi dengan perolehan suara dalam politik elektoral.” (Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Pemurnian Aqidah, Kiai Ulama Salaf Online

Senin, 31 Juli 2017

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Saling menghargai dan menghormati sesama warga merupakan ajaran yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita sejak Indonesia belum bernama ‘Indonesia’. Hal itu bisa kita ketahui dari kerajaan besar yang pernah berdiri dan berkembang pesat di wilayah Nusantara seperti Majapahit pada sekitar abad ke-13 M.?

Apakah kerajaan Majapahit mengajarkan persatuan dan kesatuan? Hal itu bisa kita lihat dari novel yang ditulis Langit Kresna Hariadi dengan Judul Gajah Mada. Buku Gajah Muda merupakan cerita Kerajaan Majapahit dengan menyoroti kebesaran Mahapatihnya, Gajah Mada. Buku ini terdiri dari lima seri dengan judul besar yang sama, yaitu Gajah Mada.?

Dari kelima seri buku tersebut, buku Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa merupakan buku kelima yang mengisahkan tentang Gajah Mada yang mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih. Pengunduran tersebut dikarenakan tragedi Perang Bubat yang menjadi tragedi berdarah antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh. Tragedi tersebut menyeret Gajah Mada yang pada saat itu bertindak sebagai Mahapatih menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Sampai pada akhirnya, Gajah Mada meninggalkan jabatannya dan yang pada awalnya mengambil sumpah Hamukti Palapa untuk menyatukan Nusantara, kini memilih Hamukti Moksa di tempat yang selanjutnya dinamakan Madakaripura.?

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Madakaripura merupakan tanah perdikan milik mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Tanah perdikan tersebut saat ini lebih terkenal dengan air terjunnya yang terletak di Dusun Branggah, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang,Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.?

Dalam novel tersebut, terdapat cuplikan perisitiwa yang menunjukkan bagaimana kuatnya saling menghormati dan menghargai pada masa Majapahit. Pengarang menceritakan mahapatih Gajah Mada dalam perjalanannya saat menuju tanah perdikan mengalami berbagai peristiwa. Salah satunya yaitu ? peristiwa yang terjadi di ? Perkampungan Pamadan. Kampung Pamadan merupakan sebuah desa yang harus dilalui ketika akan menuju tempat Madakaripura tersebut.?

Ulama Salaf Online

Saat itu, Gajah Mada mendapati perkampungan dalam keadaan sepi. Padahal ketika beberapa kali didatanginya merupakan tempat yang amat hidup dan penuh geliat. Gajah Mada bertanya-tanya dalam hati. Ke mana perginya mereka. Untuk memastikan penasarannya, ia memutuskan berbelok ke sebuah rumah. Namun, setelah mencoba masuk ke dalam rumah, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Akhirnya, Gajah Mada memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.?

Setelah berpacu dengan kudanya beberapa saat, ia melihat ada hal yang berbeda. Sebuah rumah, merupakan satu-satunya rumah yang mengalami nasib berbeda, hangus terbakar dan dengan kasat mata terlihat adanya jejak-jejak perusakan. Berbekal pengalaman yang dimiliki sebagai mantan pasukan khusus Bhayangkara, ia mencoba menelusuri jejak hangusnya tersebut.?

Pada akhirnya, Gajah Mada terbelalak melihat pemandangan yang mendebarkan dari ketinggian tempatnya berada. Ia melihat sekelompok orang dalam sebuah barisan berhadapan dengan kelompok lain yang bersikap sama. Dua kelompok itu terlihat seperti sedang bersiap untuk berperang habis-habisan. Selanjutnya, mereka diketahui berasal dari orang-orang yang berasal dari desa Saleces dan desa Pamadan.?

Ulama Salaf Online

Konflik itu tersulut oleh peristiwa yang bermula dari anak gadis Ki Buyut Saleces yang dibawa lari oleh Ki Pintasmerti. Hal itu sertamerta dilakukan akibat dari penolakan secara mentah-mentah dari Ki Buyut Saleces, pemimpin dari desa Saleces, yang anak gadisnya dipinang oleh Ki Pintasmerti, pemimpin dari desa Pamadan. Penolakan itu mempunyai dua alasan. Pertama, anak gadisnya telah dijodohkan dengan kerabat bangsawan Lumajang. Alasan kedua yaitu dari pihak Ki Buyut Saleces beragama Syiwa, sedangkan Ki Pintasmerti menganut Budha. Akhirnya, imbas dari perseteruan tersebut adalah bentrok dari kedua warga tersebut.

Sebelum terjadi perpecahan yang menimbulkan korban, akhirnya Gajah Mada menampakkan diri di tengah-tengah dua kelompok itu. Ia meminta keterangan lebih lanjut dari dua pihak yang berseteru. Sampai pada akhirnya, ia mengetahui bahwa sebenarnya kedua anak mereka saling mencintai. Namun, karena alasan yang sudah disebutkan di atas, mereka akhirnya melakukan tindakan tersebut. Selain itu, Gajah Mada juga terkejut dengan fenomena yang ada di warga Saleces, bahwa mereka semua menganut Syiwa. Setelah Gajah Mada bertanya kepada warga, ternyata Ki Buyut Saleces sebagai pemimpin melarang warganya menganut ajaran selain Syiwa. Jika ada yang menganut Budha, Ki Buyut mengancam mereka.?

Dari pengakuan tersebut, pada akhirnya Gajah Mada dengan suara lantang menjelaskan bahwa Majapahit memberikan pengakuan kepada agama Syiwa dan agama Budha serta meminta kepada semua penganutnya untuk hidup rukun dan berdampingan. Hal itu semuanya diatur dalam Tripaksa. Karena mereka udah melakukan kesalahan, mereka disuruh menghadap ke kotaraja Majapahit untuk menghadap Prabu dan meminta hukuman yang setimpal.

Pada akhirnya, dengan karisma yang dimiliki oleh Gajah Mada, mereka menghadap kepada Prabu serta meminta hukuman yang setimpal atas perbuatannya dalam melanggar aturan toleransi yang terkandung dalam Tripaksa tersebut.

Gambaran yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami kurun waktu abad ke-13 M. Pembaca dapat memahami Majapahit secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam kerajaan Majapahit juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan buku sejarah dan kitab kuno yang ditulis oleh Empu Prapanca secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mengupas habis sejarah kebesaran Majapahit pada masa mahapatih Gajah Mada ini, menggambarkan betapa besar dan luasnya pengaruh yang disebarkan oleh nenek moyang kita terdahulu. Bahkan, sebelum Pancasila lahir sebagai dasar negara, fenomena kehidupan yang ditampilkan dalam buku ini sudah menerapkan itu semua. Bahkan, sila ketiga menyebutkan bahwa negara kita menjadikan asas persatuan sebagai landasan bangsa, hal itu sudah diajarkan jauh sebelum Indonesia menjadi seperti sekarang. Persatuan itu tidak hanya kelompok-kelompok tertentu saja, entah kelompok suku maupun agama, tetapi persatuan yang dibingkai melalui keragaman budaya serta agama yang menjunjung tinggi toleransi.?

Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku ? ? : Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

Penulis ? ? ? ? ? : Langit Kresna Hariadi

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : 574 halaman

Cetakan ? ? ? ? ? : Keenam, Desember 2008

Penerbit ? ? ? ? ? : Tiga Serangkai Solo

ISBN ? ? ? ? ? ? ? ? : 979 33 0712 9

Peresensi ? ? ? : M. Ilhamul Qolbi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Kamis, 20 April 2017

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana

Pontianak, Ulama Salaf Online. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat (Kalbar) secara resmi berdiri bersamaan dengan ditandatanganinya “Prasasti Universitas Nahdlatul Ulama” oleh Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (31/1), dalam momen peringatan hari lahir ke-89 NU di Jakarta. Prasasti itu menjadi simbol bagi berdirinya 23 perguruan tinggi NU di berbagai daerah di Tanah Air.

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana

"Alhamdulillah, Pak Wapres sudah meresmikan UNU Kalbar. Itu berarti juga tahun ini kita siap menerima mahasiswa perdana. Kita mulai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang," kata Rektor UNU Kalbar Dr Agung Hartoyo M Pd di kantornya, Senin (2/2).

Ia menambahkan, pihaknya tengah mengisi kepengurusan atau personel UNU Kalbar, mulai dari dekan fakultas, ketua program studi, kepala biro, tenaga administrasi, keuangan, perpustakaan, laboratorium, tenaga informasi teknologi, dan sebagainya.

Ulama Salaf Online

UNU merupakan universitas kelima di Kalbar, selain Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak, Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP), dan Universitas Kapuas (Unka) Sintang. "Kita sama-sama memberikan kontribusi untuk kemajuan pendidikan di Kalbar. Untuk itu, mohon dukungan dari seluruh masyarakat agar UNU Kalbar bisa diterima," harap Agung.

Ulama Salaf Online

Begitu berdiri, UNU Kalbar langsung membuka empat fakultas, antara lain Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Pertanian (Faperta), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomi (Fekon). "Semuanya umum," ujarnya.

Keempat fakultas itu terdiri dari 10 program studi (prodi). Untuk FKIP terdiri tiga prodi, yakni Prodi Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemudian, Faperta terdiri empat prodi, yakni Prodi Agribisnis, Prodi Manajemen Sumber Daya Perairan, Prodi Agro Teknologi, dan Prodi Teknologi Hasil Perikanan.

"Untuk Fakultas Ekonomi hanya satu prodi, yakni Prodi Akuntansi. Sedangkan untuk Fakultas Teknik terdiri dua prodi, yakni Prodi Sistem Informasi dan Prodi Ilmu Lingkungan. Ini untuk tahap awal. Apabila nanti berkembang, bukan tidak mungkin kita menambah prodi, bila perlu fakultas," urai Agung yang dosen FKIP Untan ini.

Kampus sementara UNU Kalbar berada di Gang Jeruk Jalan KH Ahmad Dahlan, di samping kantor PMI Provinsi Kalbar. UNU Kalbar menerapkan sistem perkuliahan modern meski fasilitas kampus masih sederhana.

"Sistem perkuliahan menggunakan aplikasi yang dibuat oleh PBNU. Semua akan terkoneksi, baik materi kuliah, tugas belajar, sampailah pada soal keuangan. Dengan adanya sistem ini, untuk akreditasi menjadi sangat mudah. Tinggal buka aplikasi, semua akan terekam dengan jelas," beber Agung.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalbar ini berharap, pembukaan mahasiswa perdana UNU Kalbar mendapat respons positif. Bagi masyarakat yang ingin memasukkan anaknya kuliah di UNU, tunggu pengumuman resminya. "Nanti akan kita publikasikan secara luas ke masyarakat soal pendaftaran mahasiswa baru. Termasuklah segala persyaratannya," ujarnya. (Rosadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sunnah, Jadwal Kajian, Humor Islam Ulama Salaf Online

Minggu, 05 Maret 2017

Mengapa Gus Dur Membentuk Fordem?

Langkah politik Gus Dur sering tidak terbaca oleh kalangan awam. Gus Dur sering disalahpahami, karena jurus politiknya yang zig-zag, dengan keberanian menanggung resiko. Tentu saja, tujuan Gus Dur berjuang berbasis keyakinan dan berpinsip pada kaidah-kaidah fikih yang beliau resapi. Di antara langkah politik Gus Dur yang membuat cemas pemerintah, adalah gerakannya membentuk Forum Demokrasi (Fordem).

Dalam kesakisannya, Kiai Munasir Ali mengungkapkan betapa langkah politik Gus Dur sangat jitu. "Ketika Gus Dur bicara, kami mengerti siapa yang dituju dari pembicaraan itu. Apakah orang politik, jemaah NU atau oara elite. Kami tahu Gus Dur sedang berada di frekuensi apa ketika dia sedang bicara," terang Kiai Munasir Ali, sebagaimana terekam dalam buku Perjalanan Politik Gus Dur (2010).

Dalam ungkapan Kiai Munasir, ketika mendirikan Forum Demokrasi (Fordem), Gus Dur banyak mendapatkan tentangan dari para kiai. Mengapa? Karena Gus Dur dianggap mengurusi masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan problem ummat. Ketika masalah ummat sedang mendesak, Gus Dur justru merangkul kalangan intelektual lintas agama untuk membentuk satu kekuatan gagasan. Bagi para kiai tradisional, tindakan Gus Dur ini dianggap menjauhi problem mendasar ummat.

Mengapa Gus Dur Membentuk Fordem? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Gus Dur Membentuk Fordem? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Gus Dur Membentuk Fordem?

Perbedaan gagasan antara Gus Dur dengan beberapa kiai tradisional, seringkali karena berbeda cara pandang dan respons. Pada akhir tahun 1980an, Gus Dur terlihat berseberangan dengan Kiai Asad Samsul Arifin. Padahal, jika dicermati, perbedaan pandangan Gus Dur dengan Kiai Asad, berakar dari perbedaan kaidah ushul sebagai prinsip.?

Gus Dur menggunakan kaidah al-muhafadzah ala al-qadimi as-shalih wal akhdzu bil jadidi al ashlah (menjaga sesuatu lama yang baik, serta mengambil inovasi baru yang lebih baik). Dari prinsip ini, Gus Dur melakukan manuver progresif untuk mewujudkan visi misinya. Sedangkan, para kiai cenderung hati-hati untuk melangkah karena menghindari polemik.

Ulama Salaf Online

Gerakan Gus Dur membentuk Fordem bermula ketika pemerintah mensponsori pendirian ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Hampir semua intelektual Islam bergabung dengan ICMI, yang dikomando BJ Habibie, atas restu Presiden Soeharto. Gus Dur menolak ajakan bergabung dalam barisan ICMI. Adnan Buyung Nasution juga mengikuti Gus Dur, memilih tidak ikut bergabung sebagai intelektual ICMI. Gus Dur mengecam keras dukungan politik Soeharto kepada ICMI, yang dianggap beliau sebagai bentuk kebangkitan kembali politik sektarian (Hefner, 128; Nasution, 2010: 53).

Dalam catatan Adnan Buyung Nasution (Demokrasi Konstitusional: Pikiran dan Gagasan), upaya Gus Dur melawan pendirian ICMI tidak sekedar wacana. Gus Dur mengingatkan Soeharto, bahwa upaya pemerintah untuk mengontrol kelompok Islam militan lewat ICMI akan menjadi senjata makan tuan. Menurut Gus Dur, Indonesia perlu mengembangkan suatu toleransi beragama dengan berlandaskan pada kebebasan beragama dan menjalankan kepercayaan.

Demi membela prinsipnya, Gus Dur bergerak untuk melawan pendirian ICMI. Adnan Buyung Nasution, mengisahkan bahwa Gus Dur bersama Arief Rahman, Rahman Tolleng, Marsilam Simanjuntak, Bondan Gunawan, serta Adnan Buyung Nasution membentuk Forum Demokrasi (Fordem). Organisasi ini dibentuk sebagai diseminasi gagasan demokratisasi pada masyarakat yang lebih luas. Selain itu, Fordem juga bermaksud melakukan pembelaan individu maupun kelompok yang menjadi korban kesewenang-wenangan rezim yang berkuasa.

Ulama Salaf Online

Melihat manuver Gus Dur membentuk Fordem, pemerintahan Soeharto bereaksi untuk menutup akses kelompok ini. Fordem dianggap sebagai komunitas yang berbahaya, bahkan pemerintah mempersulit pertemuan Fordem dan menjelang Pemilu tahun 1992 pernah dilarang. Namun, Gus Dur tidak sejengkal pun mundur. Ia tetap bergerak untuk mengingatkan pemerintahan Soeharto agar tidak sewenang-wenang. Langkah taktis Gus Dur, jelas membikin Soeharto sakit kepala, apalagi putra Kiai Wahid Hasyim ini berusaha memobilisasi warga nahdliyyin.

Pada peringatan hari lahir ke-66 Nahdlatul Ulama, yang dihadiri ribuan orang di Senayan serta diagendakan sebagai selebrasi warga nahdliyyin, Gus Dur mendapat pesan khusus dari Soeharto. Melalui Letkol Kolonel (Inf) Prabowo Soebianto, Soeharto hendak menghentak Ketua Umum PBNU, dan memberi pesan betapa gerakan Gus Dur sudah menerabas garis yang ditetapkan pemerintah.?

Prabowo meminta Gus Dur agar tidak melibatkan diri dalam politik, serta fokus untuk mengurus ummat. Gus Dur juga diminta untuk mendukung kepemimpinan Soeharto, hingga periode berikutnya. Namun, Gus Dur tidak bersedia menggadaikan idealismenya, beliau bahkan mengancam untuk mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PBNU (Nasution, 2010: 55). Betapa, pilihan politik Gus Dur membawa resiko yang tidak ringan.

Gus Dur membentuk Fordem, karena beliau tidak ingin suara Islam hanya menjadi label kepentingan pemerintah. Demikian pula, kelompok cendekiawan muslim tidak hanya menjadi stempel kebijakan pemerintah. Jejak langkah Gus Dur, dalam merangkul intelektual lintas agama dan ideologi, jelas menjadi cermin bagi kita bagaimana menghindari jebakan fanatisme keagamaan yang pada akhirnya hanya menjadi stempel bagi kepentingan politik praktis.

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, bukunya bertema "Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara" dalam proses terbit.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Bahtsul Masail, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock