Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Agustus Ini, Gus Mus Siapkan Pagelaran Puisi Untuk Palestina

Jakarta, Ulama Salaf Online - KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan kawan-kawan kini tengah mempersiapkan pagelaran malam puisi yang dipersembahkan untuk Palestina. Malam puisi untuk Palestina ini diadakan sebagai bentuk solidaritas para penyair Indonesia dan pegiat kemanusiaan untuk Palestina.

“Ini bentuk solidaritas warga Indonesia terhadap konflik di Palestina,” kata Achmad Solechan, tim panitia penyelenggara, kepada Ulama Salaf Online, Kamis (3/8) sore.

Agustus Ini, Gus Mus Siapkan Pagelaran Puisi Untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Agustus Ini, Gus Mus Siapkan Pagelaran Puisi Untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Agustus Ini, Gus Mus Siapkan Pagelaran Puisi Untuk Palestina

Malam puisi bertajuk O…Palestina… Doa Untuk Palestina ini akan digelar pada Kamis malam, 24 Agustus 2017 di Graha Bakti Budaya, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Ulama Salaf Online

Mereka yang rencananya akan hadir adalah Gus Mus, Abdul Hadi WM, Sutarji Colzoum Bahri, KH M Quraish Shihab, Acep Zamzam Nur, Renny Djajusman, Fatin Hamamah, D Zawawi Imron, Butet Kertaredjasa, Slamet Rahardjo, Mahfud MD, Joko Pinurbo, Sosiawan Leak, Inayah Wahid, Najwa Shihab, Ratih Sanggarwati, Ulil Abshar Abdalla, Taufiq Ismail, Jamal D Rahman? dan Anis Sholeh Basyin.

Ulama Salaf Online

“Ini momentum pas untuk bicara kemerdekaan dan doa untuk Palestina. Kita akan membaca puisi-pusi kemerdekaan,” kata Solechan.

Acara yang diselenggarakan oleh Gus Mus dan kawan-kawan ini terbuka untuk umum dan gratis. Di acara ini nanti akan digelar perbincangan puisi-puisi Timur Tengah dan dimeriahkan oleh grup Laela Majnun dari Semarang.

“Ada pembacaan puisi Timur Tengah dan ada pembacaan puisi terjemahnya. Pak Quraisy sepertinya akan membaca puisi Timur Tengah.”

Acara seperti ini, kata Solechan, bukan untuk kali pertama diadakan. Pada tahun 1982 acara malam Palestina pernah digelar. Gus Dur yang waktu itu menjadi Ketua DKJ meminta Gus Mus membaca puisi-puisi Arab. Di tahun itu pula Gus Mus pertama kali tampil membaca puisi di publik. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Februari 2018

PCNU Pati Selenggalarakan Pendidikan Kader Penggerak NU

Pati, Ulama Salaf Online. Penggurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati menyelenggarakan Penddikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang dilaksanakan pada tanggal 14-17 Mei, bertempat di Pesantren Shofa Azzahro Desa Gembong Kecamatan Gembong Kabupaten Pati, Kamis (14/5).?

Pengasuh Pesantren Shofa Azzahro, KH Imam Shofwan dalam sambutannya menyatakan bahwa acara PKPNU ini merupakan langkah konkrit bagi NU untuk mencetak kader-kader NU yang berkualitas dan mampu untuk memahami tata kelola organisasi dengan baik dan benar sebagai modal untuk mengembangkan NU agar menjadi organisasi yang berdaya guna,” kata mantan Ketua PCNU Pati itu.

PCNU Pati Selenggalarakan Pendidikan Kader Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pati Selenggalarakan Pendidikan Kader Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pati Selenggalarakan Pendidikan Kader Penggerak NU

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kab. Pati KH Aniq Muhammadun menjelaskan bahwa PKPNU adalah upaya mengkader para calon pimpinan NU melalui kegiatan yang terarah dan terukur supaya bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi perkembangan NU ke depan. Karena kemajuan NU ke depan juga berada di tangan para generasi-generasi muda saat ini, ungkapnya.

Ulama Salaf Online

“Padatnya agenda selama pelatihan tidak lain adalah upaya untuk membekali para peserta agar mereka memiliki cikal bekal yang mumpuni di masyarakat serta mampu mengamalkan apa yang mereka dapat selama mengikuti acara PKPNU,” kata Kiai Aniq.

Sementara itu Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik dalam tausiyahnya menjelaskan pentingnya PKPNU yang diselenggarakan oleh PCNU Pati tidak lain adalah untuk memberikan bekal dan wawasan khazanah keilmuan yang luas. Para kader NU ini, harapannya mampu melestarikan tradisi dan nilai-nilai perjuangan yang dilanggengkan oleh para masyayikh pendiri NU, terangnya.?

Ulama Salaf Online

Terlebih saat ini banyak bermunculan ajaran atau kelompok radikal yang mencoba menyerang ajaran-ajaran NU yang dianggap mereka menghalang-halangi langkah dan gerakan ajarannya. Maka KH Masyhuri Malik menekankan agar para kader yang mengikuti pelatihan PKPNU yang diselenggarakan oleh PCNU Kabupaten Pati, bisa menggerakkan Jamiyyah Nahdlatul Ulama di masing-masing daerahnya agar tidak mudah terdoktrin oleh aliran radikalisme yang marak saat ini.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan pengetahuan yang mendalam tentang pemahaman Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja), keorganisasian, wawasan global, spiritual, serta penguatan tentang maraknya bahaya radikalisme, fundamentalisme dan aliran-aliran lainnya.?

Selama mengikuti pendidikan pelatihanPKPNU semua peserta wajib mengikuti program kegiatan yang telah diagendakan oleh panitia, bahkan tidak boleh meninggalkan tempat pelatihan. Harapan adalah agar mereka benar-benar bisa fokus terhadap kegiatan, sehingga nantinya bisa melahirkan kader-kader militan yang berwawasan luas. Target utamanya, para alumni PKPNU diharapkan dapat menghidupkan dan mengurus organisasi NU di wilayahnya masing-masing secara mandiri dan profesional. (siswanto el mafa/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Cerita Ulama Salaf Online

Rabu, 07 Februari 2018

Konferwil IPNU-IPPNU Sulsel Dihelat 7 November

Makassar, Ulama Salaf Online. Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) XIII dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) XII Sulawesi Selatan bakal digelar pada 7-8 November 2015 di Gedung Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar (UIM) Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 9 No. 29, Makassar, Sulsel.

Konferwil IPNU-IPPNU Sulsel Dihelat 7 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil IPNU-IPPNU Sulsel Dihelat 7 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil IPNU-IPPNU Sulsel Dihelat 7 November

Konferwil tersebut akan diikuti Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU dari 24 kabupaten/kota dan dihadiri oleh Ketua Umum IPNU Rekan Khairul Anam Harisah. Menurut Syahrul selaku ketua panitia, sekitar 250 rekan-rekanita IPNU-IPPNU akan berkumpul mewakili seluruh kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Salah satu agenda Konferwil adalah pemilihan ketua IPNU dan IPPNU yang baru dan membahas isu-isu strategis yang menjadi fokus perjuangan pelajar NU di Sulsel.

Ulama Salaf Online

Ketua Pimpinan Wilayah IPNU Sulsel Muh Ramli mengungkapkan, Konferwil merupakan forum permusyawaratan tertinggi IPNU-IPPNU di Sulsel yang dilaksanakan tiga tahun sekali.

"Agenda utama dalam konferwil adalah merumuskan program dan rekomendasi organisasi tiga tahun mendatang dan pemilihan Ketua dan Pengurus Wilayah IPNU-IPPNU yang baru masa bakti 2015-2018," katanya Sabtu (31/10) di Kantor IPNU Sulsel.

Ulama Salaf Online

Beberapa kader yang akan mencalonkan diri sebagai ketua IPNU di antaranya Syahrul yang saat ini menjadi Wakil Ketua IPNU Makassar, Andy Muhammad Idris (Wakil Ketua IPNU Sulsel), Asrijal (mantan Ketua IPNU Makassar), dan Sudirman (Bendahara IPNU Sulsel). Untuk calon ketua IPPNU, antara lain Salma (Sekretaris IPPNU Sulsel), Chaerana (mantan Ketua IPPNU Makassar), Susilawati (pengurus IPPNU Pare-pare), dan Azizah Dahlan (Ketua IPPNU Makassar). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Selasa, 30 Januari 2018

Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal

Wonosobo, Ulama Salaf Online. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin resmi me-launching Pendidikan Diniyah Formal (PDF) dan Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren. Peresmian ditandai dengan pemukulan bedug dan penyerahan Piagam Pendidikan Diniyah Formal untuk 14 pesantren dan Surat Keputusan bagi 31 Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren ? yang diwakili pimpinan pesantren masing-masing di Pesantren Al-Mubaarak, Manggisan – Wonosobo, Selasa (26/5) malam.

Hadir dalam acara tersebut, Direktur PD Pontren Mohsen, Kakanwil Kemenag Jateng Ahmadi, Kakanwil Kemenag Yogyakarta Nizar, Bupati Wonosobo Abdul Khalik Farid, dan ulama dan tokoh masyarakat Wonosobo. Demikian berita yang dikutip dari situs kemenag.go.id

Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal

Meng menjelaskan, pendidikan diniyah formal ini hakekatnya adalah pesantren yang selama ini mengembangkan pendidikan diniyah kemudian itu diformalkan. Dalam artian, bahwa tetap kebebasan masing-masing pontren itu tetap menjadi hak-nya masing-masing pontren.?

Ulama Salaf Online

“Pemerintah atau negara menyiapkan kurikulum, pola pengajaran, menyiapkan sejumlah mata pelajaran yang 70 persen itu agama, 30 persen umum yang semuanya itu kita coba standarkan,” terang Menag.?

Ulama Salaf Online

Dan ini, tandas Menag, tidak sama sekali ada paksaan, ini sepenuhnya sukarela bagi pondok-pondok pesantren yang bersedia mengikuti program ini, yang nanti kemudian dengan standarisasi yang sama dilakukan ujian dan evaluasi secara nasional.

Hingga kemudian, lanjut Menag, diniyah kita yang selama ini lulusannya sulit melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi itu, kemudian disamakan keberadaannya dengan madrasah-madrasah lain dan lulusannya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Bedanya pendidikan diniyah formal dengan madrasah, kalau madrasah formalnya ada di madrasah, sementara pendidikan diniyah formal proses belajarnya tetap dilakukan di pontren. Ini salah satu wujud tanggung jawab pemerintah ? terhadap keberadaan pontren kita,” ujar Menag.?

Dikatakan Menag, mengapa negara perlu bertanggungjawab terhadap keberlangsungan pontren, menurutnya karena kita sadar betul bahwa dalam konteks keindonesiaan, keberadaan pontren ada jauh sebelum merdeka, pontren hakekatnya adalah lembaga pendidikan khas Indonesia.?

Ini cara pendahulu dan guru-guru kita, begitu arifnya mereka dalam memperkenalkan nilai-nilai Islam masuk ke wilayah nusantara ini. Pontren sesungguhnya adalah pola pendidikan yang sebelum Islam masuk ke nusantara itu sudah dikenal oleh masyarakat nusantara. Bagaimana sejumlah santri berkumpul, lalu mencari seorang guru, lalu guru yang diangkat karena memiliki keahlian itu kemudian ditimba ilmunya.?

Menurutnya, itulah corak pendidikan sejak ratusan tahun lalu, oleh para pendahulu kita pola tersebut tidak dirubah, yang dirubah adalah materi atau muatannya. Hingga kemudian pontren merupakan corak khas pendidikan di Indonesia dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan keagamaan Islam.?

“Ini yang menyebabkan Islam di Indonesia memiliki ciri khasnya sendiri,” kata Menag. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Sejarah, Pertandingan Ulama Salaf Online

Sabtu, 27 Januari 2018

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Persahabatan kita dengan orang saleh dapat membawa keuntungan kepada kita. Persahabatan ini menjadi tanda bahwa kita juga setidaknya mendekati kesalehan yang diridhai oleh Allah SWT sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “(Mahasuci Allah) yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

Ulama Salaf Online

Syekh Syarqawi coba menjelaskan bahwa Allah juga memiliki kecemburuan di mana ia tidak memperkenankan orang lain bergaul dengan orang-orang saleh yang menjadi kekasih-Nya. Bahkan, sebagian kekasih-Nya (para wali) tidak dikenal oleh makhluk-Nya termasuk para malaikat sehingga Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka.

? ? ?) ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ulama Salaf Online

Artinya, “(Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’) memperkenalkan dan menyatukan (kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya) karena para wali itu adalah kekasih-Nya sehingga dapat menimbulkan ‘cemburu’ jika Allah mempertemukan selain kekasih-Nya dengan para wali itu. Ini berlaku untuk sebagian wali. Mereka adalah orang yang digerakkan untuk suluk. Sedangkan orang yang dikehendaki sampai pada-Nya akan dipertemukan dengan para wali dalam bentuk persahabatan khusus. Para wali itu terbagi dua kategori. Satu kelompok wali diperkenalkan oleh Allah kepada kalangan awam dan kalangan tertentu. Satu kelompok wali lainnya diperkenalkan oleh-Nya hanya kepada kalangan tertentu. Tetapi ada juga sekelompok wali yang tidak diperkenalkan kepada satupun makhluk-Nya termasuk malaikat hafazhah. Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka dan tidak memperkenankan tanah mengurai jasad mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 2-3).

Pergaulan dengan orang saleh membawa berkah tersendiri bagi kesehatan batin manusia. Pergaulan itu membawa pengaruh tersendiri kepada batin manusia dengan catatan tetap menjaga adab terhadap orang-orang saleh itu. Kalau hujan saja bermakna berkah, apalagi para kekasih Allah sebagaimana disebutkan oleh Syekh Zarruq dalam kutipan berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, yang dimaksud ‘wushul’ atau ‘sampai’ di sini adalah mengenal wali Allah dalam bentuk pergaulan yang menuntut pelaksanaan kewajiban berupa penghormatan terhadap perintah dan larangannya… Sejumlah ulama mengatakan, ‘Hujan adalah saat-saat dekat dengan Allah karenanya kita dianjurkan untuk keluar dan tabarukan saat hujan turun. Ini disebutkan oleh Rasulullah SAW. Itu baru keberkahan hujan, apalagi orang beriman ahli makrifat (arifin)?’... Salah satu dalil bahwa memandang wajah arifin dapat menambah makrifat dan lain sebagainya adalah ucapan Anas RA, ‘Tidaklah kami menghalau debu makam Rasulullah SAW yang melekat di tangan kami melainkan kami merasakan ada sesuatu yang kurang di hati ini,’ (lanjutkan terusannya). Secara umum, para wali Allah adalah pintu-Nya. Perkenalan dengan mereka adalah kunci pintu tersebut. Sementara gigi kunci itu adalah upaya menjaga diri agar tetap hormat, khidmat, sopan, dan keluasan rahmat kepada mereka. Siapa yang berinteraksi dengan mereka melalui cara demikian, maka ia akan dibukakan pintu. Tetapi kalau tidak dengan cara itu, maka ia berada dalam bahaya,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 133-134).

Orang-orang saleh adalah pintu kita masuk kepada Allah. Mereka adalah orang-orang pilihan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selayaknya kita kenal lebih dekat dengan penuh adab dan kesantunan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Makam, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Sabtu, 13 Januari 2018

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap

Cilacap, Ulama Salaf Online. Ribuan orang nampak mengantar pemakaman KH Syahid Muchson atau yang biasa di sapa Gus Sahid, Jumat (3/5). ? Meninggalnya Ketua PCNU Kabupaten Cilacap Jawa Tengah ini memang mengejutkan banyak orang.

Pasalnya setelah mengalami sakit gangguan paru, ulama yang dikenal pekerja keras dan salah satu pendiri KBIH NU Cilacap ini dikabarkan mulai membaik kesehatannya. Namun tiba-tiba ulama yang pernah tinggal di Mekkah belasan tahun itu mengalami kritis dan akhirnya meninggal dunia, Jum’at (3/5) pukul 11.30.

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap

Sontak kabar meninggalnya Ketua PCNU Cilacap periode 2012-2017 yang belum sempat dilantik menjadi kabar duka bagi warga Nahdliyin di Kabupaten Cilacap. Ribuan orang pun datang ke rumah duka di Komplek PP AL Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.

Ulama Salaf Online

Bahkan pelayat yang datang dari berbagai kalangan seperti ulama, tokoh masyarakat maupun pengjrus NU dari berbagai tingkatan yang ? sangat mengenal Gus Sahid. Salah satu tokoh yang cukup kehilangan adalah pengasuh PP Ail Ihya Ulumadin KH Hasbullah Badawi BA.

Ulama Salaf Online

Menurutnya sejak kembali dari Mekkah kiprah Gus Sahid memang cukup besar baik bagi PP AL Ihya Ulumadin maupun PC NU Kabupaten Cilacap. Hal itu juga diakui oleh kakaknya KH Suhud Muchson Lc yang mengakui sejak bersama-sama mendirikan KBIH NU.

“Waktu itu NU Kabupaten Cilacap ingin membuat KBIH namun tidak jalan-jalan, nah saya dengan Mbah Su’ada (Rois Suriyah) kemudian melihat potensi yang dimiliki adik saya itu sehingga kita minta untuk pulang ke Cilacap,” kata dia.

Di bawah kendalinya KBIH NU Cilacap langsung mendapat respon dari para jamaah yang mempercayakan bimbingannya kepada KBIH NU. Lantas pada periode ? 2007-2012 ? Gus Sahid juga masuk dalam struktur PCNU menjadi wakil ketua.

Satu periode masuk dalam struktur pengurus PCNU Cilacap ternyata membuat pengurus MWC dan Ranting NU se-Kabupaten Cilacap mempercayakan PCNU Cilacap dibawah pimpinnya. Sayang sejak itu pula ulama yang sudah 28 kali naik haji ini mengalamisakit hingga akhirnya meninggal.

“Saya tidak mengira jika semangat yang begitu membara ternyata telah mengalahkan rasa sakit yang diderita Gus Sahid hingga Allah SWT memanggilnya,” kata M Taufiq Hidayatullah SAg salahsatu tokoh muda Nu Cilacap yang mengenal dekat Gus Sahid.

Hal yang sama dikatakan oleh Ketua DPC PKB Kabupaten Cilacap H Akhmad Muslikhin SH MSi yang mengaku Gus Sahid sebagai sosok yang mampu memberikan semangat harmonisasi sehingga NU dan PKB di Kabupaten Cilacap mulai membangun kembali politi kebangsaan.

“Sayang beliau telah wafat dan membawa sebagain semangatnya yang tetap menyala diakhir hayatnya dan sebagian yang sudah ditorehkan harus kami lanjutkan sebagai wujud penghargaan kepada Gus Sahid atas jasa-jasanya,” kata dia.

KH Syahid Muchson meninggalkan seorang istri Ny Uun Unaisyah sahid Al Hafidzoh serta tiga orang putra Naely, Awwad dan ‘Affan Hafidz. Meski sedih harus melepas orang yang dicintainya namun apa yang telah diwasiatkan membuat putra-putri Gus Sahid terlihat tabah.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Daryanto?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Hikmah, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Kamis, 11 Januari 2018

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Makassar, Ulama Salaf Online. Pengurus Wilayah GP Ansor Makassar, pada hari Jumat (3/4) mendatangi kantor Redaksi Harian Amanah yang beralamat di jalan Kakatua Makassar.

Kehadiran mereka disambut baik Pimpinan Redaksi Harian Amanah, Firmansyah Lafiri, Koordinator Liputan Irfan Abdul Gani, dan Pimpinan Perusahaan Abdul Salim Camma.

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Kedatangan GP Ansor ini guna meminta penjelasan terkait pemberitaan harian Amanah edisi Rabu, (30/3) terkait akar aliran sesat, di mana salah satunya yang disebutkan adalah paham Asy`ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al- Asyari.

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said dalam pertemuan tersebut meminta kepada Pimred Harian Amanah, Firmansyah Lafiri segera menyelesaikan semua tuntutan yang ditujukan kepadanya.

"Saya meminta agar media Amanah ini meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada masyarakat Nahdiyin dan kiai sepuh di Nahdatul Ulama (NU) dalam waktu 1×24 jam, dan jika hal itu tidak ditindak lanjuti, maka kami akan mengerahkan Banser untuk menyegel kantor Harian ? Amanah ini," tegas Agus.

Ulama Salaf Online

Menanggapi desakan tersebut, Firmansyah Lafiri mengaku kecolongan dan menyesal atas pemberitaan penyesatan paham Asyariyah itu. Pada waktu yang sama ia pun langsung menuliskan surat pernyataan permohonan maaf yang berisikan 4 poin, sebagai berikut :

1. Memohon maaf atas kelalaian kami kepada seluruh warga Nahdiyin.

Ulama Salaf Online

2. Berjanji tadak akan mengulangi hal tersebut.

3. Bersedia menjalin sinergi strategis dalam kerja ukwah.

4. Akan memohon maaf langsung kepada Kyai sepuh Nahdatul Ulama.

"Selain itu redaktur yang menangani rubrik yang memuat berita tersebut telah saya mutasi, bahkan jika teman-teman GP Ansor menginginkan saya untuk memecat dia saya akan lakukan." tegas Firmasyah. (Makmur Idrus/Zunus).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Lomba, Meme Islam Ulama Salaf Online

Posko Tanggap Bencana NU Tahlilkan Mbah Sahal

Jepara, Ulama Salaf Online. Dalam rangka memperingati tujuh hari wafatnya KH Sahal Mahfudh, Posko Tanggap Bencana NU yang berada di Gedung NU Jepara melaksanakan tahlilan di aula lantai 1, Jalan Pemuda No.51, Kamis (30/1) malam.

Posko Tanggap Bencana NU Tahlilkan Mbah Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Posko Tanggap Bencana NU Tahlilkan Mbah Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Posko Tanggap Bencana NU Tahlilkan Mbah Sahal

Tahlilan untuk Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu dipimpin Sholikhin JR, mantan komandan Banser Satkorcab Jepara. Hadir dalam kesempatan itu Ketua MWCNU Kecamatan Kota K Hamzah, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kota Harun Salim dan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kembang, Zainuddin.

Kegiatan yang juga dihadiri puluhan relawan tanggap bencana itu dipungkasi dengan makan dekem bersama. Ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Syamsuri yang diwakili Wakil Ketua, H Anas Arbaani sebagai warga NU dipaparkannya harus meneladani Mbah Sahal yang menurutnya sosok nan kharismatik.

Ulama Salaf Online

Selain tinggalan ahli fikihnya (Mbah Sahal, red) tersohor dengan pandangan “khittah” politiknya. Anas lantas menceritakan kisahnya saat sowan ke ndalemnya ke Kajen pra pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) beberapa tahun lalu.

Ulama Salaf Online

Hasilnya, saat ia bersama Muhammadi Kosim, mantan ketua PCNU Jepara Mbah Sahal tidak setuju dengan pendirian partai tersebut, berbeda pandangan dengan KH Ilyas Ru’yat yang menyatakan setuju. “Itu yang menurut kami beliau sangat menjaga betul khittah NU,” jelasnya usai tahlilan.

Hal lain disampaikan H Hisyam Zamroni. Setelah wafatnya Mbah Sahal warga NU harus meneruskan perjuangan dan cita-citanya. Senada dengan Anas, Hisyam, Sekretaris Jamiyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Kabupaten Jepara juga menyatakan Mbah Sahal sangat memegang khittah NU.

Anas menambahkan cita-cita yang mesti diteruskan oleh warga NU yakni tahun 2026 sebagai high politics, politik tingkat tinggi. “Untuk menuju politik tingkat tinggi ini perlu kesiapan yang lama untuk menuju kemandirian dalam bidang organisasi, sosial dan ekonomi,” lanjut Anas Arbaani. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Pertandingan Ulama Salaf Online

Minggu, 07 Januari 2018

PMII dan Kaum Muda NU Banten Laporkan Deni ke Polda Metro Jaya

Jakarta, NU Online

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang dan Kaum Muda Nahdlatul Ulama Banten melaporkan pemilik akun facebook Dheny Goler Tea dengan nama asli Deni Iskandar ke Cyber Crime Polda Metro Jaya, Senin (07/11).

PMII dan Kaum Muda NU Banten Laporkan Deni ke Polda Metro Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII dan Kaum Muda NU Banten Laporkan Deni ke Polda Metro Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII dan Kaum Muda NU Banten Laporkan Deni ke Polda Metro Jaya

Aflahul Mumtaz, Ketua Komisariat PMII STISNU Nusantara menjelaskan bahwa akun facebook Dheny Goler Tea sudah keterlaluan. Ia menuduh Ulama, Nahdlatul Ulama dan Ketua Umum PBNU dengan pandangan yang sempit, kata-kata kasar, dan ujaran kebencian.?

“Status akun Dheny Goler Tea sudah kami telaah dengan pendekatan strukturalisme genetika-nya sehingga kami menyimpulkan tidak ada peluang bagi akun tersebut melakukan pembenaran,” jelasnya.

Jelas, motif dan tujuan yang bersangkutan menulis status karena ketidaksetujuannya dengan ijtihad NU terkait demo 4 November lalu sehingga diluapkan dalam bentuk tulisan menghina dan merendahakan NU secara institusi, Ulama Nahdlatul Ulama, ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan warga Nahdlatul Ulama umumnya.

"Kami hadir di Polda Metro Jaya untuk menuntut keadilan atas pencemaran nama baik institusi Nahdlatul Ulama, Ulama Nahdlatul Ulama, Ketua PBNU, dan warga Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Ulama Salaf Online

Nurullah, tokoh muda NU Banten menambahkan bahwa semua pihak harus mengerti dan memahami sikap yang diambil oleh Nahdlatul Ulama terkait aksi ratusan ribu umat Islam kemarin.?

NU adalah benteng terakhir Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sikap NU ejawantah dari pemahaman ushul fiqih "Darul Mafasid Muqaddamun Ala Jalbil Mashalih" sebab itu demi kemaslahatan Bangsa dan Negara NU lebih memilih kemaslahatan daripada kemafsadatan.

"Saya mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati bermedia sosial untuk tidak menebar fitnah dalam dunia maya. Termasuk share berita hoax di dunia maya. Bayangkan, jika share fitnah ditebarkan lalu semua orang menebarkan maka berapa banyak fitnah-fitnah yang kita tebarkan. Berapa banyak dosa kita yang kita tumpuk karena share-an fitnah dan yang disharekan orang lain karena kita. Naudzubillah,” ujarnya.

“Kita akan kawal pelaporan ini untuk ditindaklanjuti oleh Cyber Crime Polda Metro Jaya sampai pelakunya bisa ditarik keranah hukum agar semua bisa dijadikan pembelajaran untuk tidak merendahkan dan menghinakan organisasi Nahdlatul Ulama,” imbuhnya. (Red: Fathoni)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Sabtu, 23 Desember 2017

Rukyat Awal Rajab 1434 di Gresik Tak Berhasil

Gresik, Ulama Salaf Online. Rukyatul hilal penentuan awal bulan Rajab 1434 H pada Jum’at (10/5) sore bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir di Balai Rukyat Bukit Condrodipo Gresik tidak berhasil melihat hilal. Posisi hilal sebenarnya sudah layak dirukyat (imkanurrukyat) namun pengamatan hilal terhalang awan.

Dari markaz perhitungan Condrodipo Gresik, seperti dalam data hisab metode Irsyadul Murid yang dihitung oleh Ibnu Zahid Abdo el-Moeid, umur hilal sudah mencapai 09:48:54. Sementara tinggi hilal pada saat dilakukan pengamatan mencapai 03018’ 08,38”.

Rukyat Awal Rajab 1434 di Gresik Tak Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyat Awal Rajab 1434 di Gresik Tak Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyat Awal Rajab 1434 di Gresik Tak Berhasil

Rukyat diawali dengan istighotsah dan tahlil yang dipimpin oleh KH Taufiqurrahman. Rukyat awal Rajab kali ini sangat istimewa karena diikuti oleh para kiai dan ahli hisab dari berbagai daerah yang mengikuti kegiatan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Lajnah Falakiyah PBNU di Gresik.

Ulama Salaf Online

Proses rukyat dipandu oleh Abdo el-Moeid, pengurus Lajnah Falakiyah Gresik, bersama H. Ahmad Izzuddin, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat yang juga mengikuti rukyat di bukit Condrodipo yang berada pada ketinggian 120 meter di atas permukaan air laut.

Pada sekitar pukul 17.40 WIB saat hilal sudah tenggelam (ghurub) rukyat di Balai Rukyat Condrodipo itu Gresik. Sebenarnya di tengah pelaksanaan rukyat ada yang mengaku melihat hilal, namun setelah diverifikasi dengan gambar yang diambil persekian detik oleh kamera teleskop sama sekali tidak ditemukan hilal. Posisi ufuk barat memang sangat gelap karena tertutup awan.

Ulama Salaf Online

Hingga berita ini ditulis pada Jum’at malam, belum ada satu laporan pun yang mengatakan telah berhasil melihat hilal. Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri yang mengikuti rukyatul hilal di Condrodipo Gresik itu mengatakan, pihaknya masih menunggu laporan pengamatan hilal di titik rukyat yang lain.

Penulis: A. Khoirul Anam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian, Fragmen, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Rabu, 20 Desember 2017

Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2)

Mataram, Ulama Salaf Online. Proses pembuatan bendera raksasa NU, hingga kemarin, Senin (20/11) memakan waktu 40 hari. Beberapa faktor, terutama masalah cuaca, menyebabkan proses pembuatannya molor 10 hari dari waktu yang ditargetkan. Pasalnya, beberapa tahap perampungan bendera itu dilakukan di ruangan terbuka, bahkan di lapangan sepak bola.   

“Kini tahap finishing, tapi saya yakin akan selesai,” kata koordinator pembuatan bendera itu, Muhammad Hirjan, di kompleks Pendidik NU, kota Mataram, Senin malam (20/11).

Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah di Balik Bendera NU Raksasa Seberat 6 Kuintal (2)

Ia menjelaskan, bendera raksasa berukuran 60 m x 40 m atau seluas 240 m persegi. Bobotnya sekitar 600 kg atau 6 kuintal. Sementara yang menjahit kain-kain berwarna hijau itu menjadi satu, hanya satu orang, Ahmad Ritaudin, yang dibantu oleh beberapa asistennya.

Ulama Salaf Online

“Hingga malam ini, ia masih mengerjakannya, memperluas kain itu,” kata dia.

Ulama Salaf Online

Logo NU di bendera di kain itu, lanjutnya, dilakukan secara manual oleh sembilan orang. Mereka tidak membuat pola atau seketsa terlebih dahulu, melainkan langsung menggunakan rol. Sembilan orang itu memang ahli kaligrafi Lombok sehingga bisa menyerasikan ukuran besar huruf dengan luas kain.

Semua yang terlibat pada pembuatan itu, kata dia, adalah para santri dari pesantren-pesantren bumi seribu mesjid. Ahmad Ritaudin misalnya, adalah alumnus pondok pesantren Qomarul Huda, Bagu, yang diasuh Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badaruddin.

Bendera NU raksasa itu akan dihadirkan pada Pawai Ta’aruf Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 di Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/11).

Pawai itu akan diawali dengan yang dihadiri belasan ribu Nahdliyin, Selasa (22/11). Rute pawai itu dari Islamic Center kota Mataram ke lapangan Sangkareang sejauh 1 km. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Kajian, Makam Ulama Salaf Online

Selasa, 28 November 2017

Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang

Umat Islam yang ikhlas dalam melaksanakan ibadah haji akan diselamatkan oleh Allah dari berbagai hambatan dan rintangan, sebagaimana kisah yang disampaikan oleh KH Tb Ahmad Rifqi Chowas saat memberikan tausiyahnya dalam acara walimatus safar di Pesantren Al-Huda, Pungangan, Subang, Ahad (31/7).

Pengasuh Pesantren Darussalam Buntet Pesantren Cirebon ini mengisahkan bahwa pada tahun 1940-an Kiai Abbas Buntet beserta istri dan dua anaknya yaitu KH Mustamid Abbas yang pada saat itu baru aqil baligh dan KH Nahduddin Abbas yang baru saja menginjak usia empat tahun.

Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang

"Kalau Kiai Mustamid itu bisa haji berkat burung perkutut yang dapat nemu dari kebun belakang rumah dan dibeli oleh Kuwu (Lurah) di Cikedung Inderamayu seharga ONH (Ongkos Naik Haji, red)," ujarnya.

Ulama Salaf Online

Kiai yang biasa disapa Kang Entus itu melanjutkan, saat Kiai Abbas dan ribuan calon haji lainnya berada di tengah tengah samudera Indonesia, sang Kapten kapal mendapat telegram berisi ancaman dari tentara Jepang yang akan membombardir dan menenggelamkan kapal beserta isinya.

"Ribuan penumpang itu panik, namun sebagian dari mereka mengadu kepada Kiai Abbas. Akhirnya kiai sepuh ini istikharah," katanya.

Ulama Salaf Online

Hasil istikharah Kiai Abbas, kata dia, jamaah calon haji yang berada di kapal itu boleh melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci, boleh juga balik lagi ke kampung halaman, namun Kiai Abbas beserta keluarganya tetap melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan separuh penumpang kapal, sisanya pulang kampung dengan kapal susulan.

"Akhirnya, jamaah haji ini tiba di Makkah dengan selamat, namun kemudian saat kapal balik lagi ke Indonesia, ternyata kapal yang tadi membawa jamaah haji ini benar-benar di bom oleh Jepang dan teggelam beserta ABK-nya," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Ahlussunnah, Nahdlatul, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Senin, 09 Oktober 2017

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

Oleh Gatot Arifianto

?

Para pendiri bangsa telah mewariskan benih empat pilar kebangsaan terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan telah disemai puluhan tahun lalu. Persoalan hari ini, adalah bagaimana generasi bangsa Indonesia merawatnya sejalan dengan kehendak pendiri bangsa.

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu (Sumber Gambar : Nu Online)
Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu (Sumber Gambar : Nu Online)

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

?

Generasi bangsa yang diharapkan memegang sila (aturan) dalam Pancasila hingga 2016 ini terbukti masih gagal, belum gemilang. Harapan untuk saling mencintai sesama manusia, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan hingga gemar melakukan kegiatan kemanusiaan yang terkandung dalam "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab" masih jauh panggang dari api dengan kemudahan menghujat di media sosial hingga susahnya Palang Merah Indonesia (PMI) memenuhi kebutuhan darah di negeri sendiri.

?

Persoalan lain di Indonesia hari ini adalah adanya kelompok yang ngotot, memaksakan kehendak, agar sesuatu yang beragam menjadi seragam. Padahal, Allah yang menurunkan 114 kalam, satu diantaranya Surat al-Baqarah yang dalam ayat 256 menyatakan: "Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan".

Ulama Salaf Online

?

Allah juga telah menciptakan bangsa hingga manusia yang beragam. Termasuk Indonesia, yang memiliki keragaman budaya, suku hingga keyakinan.

?

Ulama Salaf Online

"Pancasila ialah perekat kebangsaan. Bagaimana, tenggang rasa hingga saling menghormati terkandung di dalamnya. Saya pikir kita beruntung mempunyai Pancasila," ujar Dewan Penasehat GP Ansor Way Kanan, Iskardo P Panggar.

?

Iskardo ialah dosen kewarganegaraan di salah satu perguruan tinggi di Way Kanan. Awal kali pertama memasuki satu ruang mengajar di kampus itu, ia memberi tugas mahasiwa untuk menulis Pancasila yang menurut KH A Wachid Hasyim merupakan kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

?

"Tapi tidak seratus persen mahasiswa bisa menyelesaikan tugas itu. Fakta tersebut tentu merupakan pekerjaan rumah bersama di zaman sekarang ketika informasi yang sebagian besar negatif, mudah sampai dan dikonsumsi generasi dan masyarakat bangsa," ujar Iskardo yang juga Ketua KPU Way Kanan itu.

?

Lantas bagaimana upaya merawat kebhinekaan? Mahalkah biayanya? Perlukah rapat dengar pendapat di ruang paripurna terlebih dahulu agar harakah (gerakan) merawat kebhinekaan berjalan kontinu?

?

Krisis berpikir jernih adalah hambatan tercapainya revolusi mental diharapkan Pemerintah Republik Indonesia. Akibatnya, hal yang semestinya gampang dibuat jadi rempong. Gitu Aja Kok Repot, dalam bahasa Gus Dur Allahu yarham.

?

Mungkinkah Tax amnesty (pengampunan pajak) hingga upaya lain akan membuat negara ini terbebas dari belenggu defisit? Jawaban tegas dan masuk akalnya "tidak", selama orientasi harakah adalah anggaran, bukan tujuan.

?

Merawat Kebhinekaan

?

"Indonesia merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu. Indonesia debar jantungku, denyut nadiku, berpadu dalam cita-citaku". Senandung itu meluncur dari mulut dua puluh pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Baradatu, Way Kanan, Lampung sembari melambaikan bendera merah putih dari tangan mereka.

?

Lagu berjudul Kebyar-Kebyar karya Gombloh itu membuka Jagongan Ramik Ragom (ramai beragam) untuk memperingati Hari Toleransi Sedunia 16 November. Jagongan (duduk bersama) tersebut mendiskusi Media Sosial Media Perdamaian, Rabu (16/11). Kenapa hari tersebut perlu diperingati dan toleransi harus dirawat? Pepatah bijak mengajarkan, mencegah lebih baik daripada mengobati, sayangnya hal tersebut belum dilakukan dengan baik.

?

Perbincangan mengenai kebhinekaan hanya disemai lagi ketika ada atau terjadi gesekan. Dan itu terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Maka tak heran ketika penyair dan budayawan Iman Budhi Santosa menyatakan: "Kita ini seperti rokok dalam etalase. Dekat, sejajar tapi tidak pernah bertegur sapa". Padahal, merawat kebhinekaan adalah tanggung jawab bersama generasi dan masyarakat bangsa. Terlebih institusi yang berwenang.

?

"Penting memang untuk melakukan diskusi lintas iman tanpa menunggu ada sesuatu yang tidak diinginkan," ujar pengajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Rosalia Gia Purwani menjelang berlangsungnya acara.

?

Jagongan Ramik Ragom merupakan kegiatan Sakai Sambayan (gotong royong/kerjasama) Gusdurian Lampung, Pesantren Assidiqqiyah 11, DPD KNPI, KAHMI, Pemuda Muhammadiyah, Peradah, Pemuda Katolik, Pokjawan, SMAN 1 Baradatu, SMK Kesehatan Cahaya Darma, Yayasan Bakti, Karang Taruna, dan PAC GP Ansor Baradatu.

?

Selain Iskardo, sejumlah pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut ialah Ketua DPD KNPI Andi Oktoviandi, Ketua Karang Taruna Sairul Sidik, Ketua Bidang Hukum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Agus Zulkarnain.

?

Lalu aktivis Pemuda Muhammadiyah Nasrullah, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) I Gede Klipz Darmaja, aktivis Pemuda Katholik dan anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Andreas Natalis Sapta Aji.

?

Kegiatan juga diramaikan Nasyid Acapela dari SMAN 1 Baradatu dan pembacaan puisi Sajak Atas Nama karya Gus Mus oleh M Subhan santri Assidiqqiyah 11 tersebut diramaikan dengan foto mempromosikan perdamaian, kemanusiaan dan kebangsaan yang berisi kutipan-kutipan inspiratif yang bukan akidah agama dari sejumlah tokoh, yang bebas dipilih ketika hendak berpose.

?

Sejumlah pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma yang mengenakan jilbab terlihat berpose dengan properti bertuliskan #BedaSetara #DamaiRamaiRamai #RamaiRamaiDamai yang memuat kutipan Bunda Teresa: "Buah dari perenungan adalah doa. Buah dari doa adalah iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah kedamaian."

Aktivis Pemuda Muhammadiyah Way Kanan Nasrullah terlihat berpose dengan properti memuat kutipan inspiratif Gus Dur: "Kemajemukan harus bisa diterima tanpa ada perbedaan."

Adapun aktivis Pemuda Khatolik Way Kanan Andreas Natalis Sapta Aji justru memilih berpose dengan properti yang memuat kutipan Sayyidina Ali: "Mereka yang bukan saudaramu seiman, saudaramu dalam kemanusiaan."

Aji yang juga anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Way Kanan itu juga berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Hasyim Asyari: "Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan".

?

Lantas anggota Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan Dwi Handoko, memilih berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Ahmad Dahlan: "Kasih sayang dan toleransi ialah identitas umat Islam." Termasuk dengan properti memuat kalimat inspiratif dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): "Dalam mengekspresikan kebebasan, sandingkanlah dengan kepatuhan pada aturan hukum dan toleransi."

?

"Bener ini," ujar Rosalia ketika membaca kutipan inspiratif Dalai Lama XIX: "Dalam praktik toleransi, musuh seseorang merupakan guru terbaik". Rosalia selanjutnya memperbincangkan mengenai toleransi dengan sejumlah guru di beberapa sekolah itu.

?

Properti murah dari kertas dan kardus bekas yang dirangkai Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Way Kanan 2015 Disisi Saidi Fatah tersebut memantik diskusi kecil mengenai toleransi para pembaca sebelum acara berlangsung.

?

"Komunikasi yang baik ialah tatap muka, tapi seiring kemajuan zaman, hal itu berkurang, tinggal bagaimana kita menyikapi penggunaan media sosial. Jadikan sarana itu untuk menyebarkan hal positif, membuat kebaikan dan jangan dijadikan sebagai media perpecahan," ujar Andi Oktoviandi dalam diksusi tersebut.

?

Indonesia ada karena perbedaan, ujar Sairul Sidik menambahkan. Perbedaanlah yang memperkuat toleransi. Namun demikian, keyakinan tidak boleh dirambah.

?

"Tidak boleh saya menafsirkan keyakinan Bung Klipz atau Bung Aji. Dalam konteks keyakinan, agamamu agamamu, agamaku agamaku, lu lu gue gue," katanya.

?

Media sosial harus digunakan dengan bijak. "Sebagai intelektual, kita harus membaca dulu sampai habis informasi yang didapat. Jangan langsung dibagikan dan disebarkan. Mudah-mudahan kita semua memiliki semangat membaca yang luar biasa sehingga kita tahu bahwa itu harus disebarkan atau harus disembunyikan atau malah harus segera di hapus," ujar Klipz memotivasi pelajar.

?

Pada kegiatan yang dihadiri Camat Baradatu Ari Anthony Thamrin, kader PMII, IPNU, Muslimat, Fatayat, Karang Taruna, GP Ansor, sejumlah pelajar dan pengajar dari beberapa sekolah setempat dengan moderator Ketua PC Fatayat NU Rosmalia Resma itu, Iskardo selanjutnya mengajak pelajar yang hadir untuk menjadi generasi yang dahsyat.

?

"Bukan generasi alay yang pintar update status OTW, lagi bête. Indonesia membutuhkan generasi dahsyat. Jadikan media sosial sebagai ruang berekspresi positif, untuk merawat kebhinekaan dan Indonesia," ujar Iskardo.

?

Gusdurian Lampung sebagai kolaborator dalam kegiatan dimulai pukul 13.15 WIB tersebut mengeluarkan dana Rp100 ribu untuk membeli dua dus air mineral dan roti. 16.15 WIB, dan acara diakhiri dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Murah, meriah dan memantik sejumlah pelajar untuk melakukan kegiatan serupa beberapa bulan mendatang. Jadi, mahalkah untuk merawat kebhinekaan?

?



Penulis founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sejarah, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Senin, 18 September 2017

Gus, Saya Minta Maaf

Sesekali saya mencoba untuk memungut serpihan-serpihan tentang masa lalu yang sudah lama terlewati. Dalam proses pemungutan itu, saya berusaha untuk memilih dan memperkirakan serpihan mana yang layak untuk diceritakan di sini.

Sekian banyak serpihan yang saya seleksi, ada satu yang membuat saya tertarik untuk kembali mengamatinya. Saya amati serpihan itu, saya genggam erat, saya renungi, entah kenapa timbul penyesalan dalam hati sanubari saya. Serpihan itu, mengingat akan sekolah tempat saya belajar dulu, al-Ma’arif namanya.

Gus, Saya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus, Saya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus, Saya Minta Maaf

Pesantren al-Ma’arif satu-satunya pesantren NU di tanah kelahirannya saya, Bukittinggi. Di sinilah saya diajari untuk mencium tangan orang tua, ustadz, bahkan senior. Beberapa kali teman saya pernah dimarahi lantaran tidak mencium tangan orang tuanya ketika datang ke pesantren. Pimpinan pesantren saya, termasuk pengurus NU wilayah Bukittinggi. Tak heran jika pesantren ini sarat dengan atribut-atribut NU. Bayangkan, mulai dari warna karpet asrama, musola, jendela, dinding sekolah, mobil, dan atap garasinya, semuanya berwarna hijau. Bahkan, kami pernah ditegur gara-gara membeli  selendang berwarna biru untuk tim shalawat.  Karena biru bukan NU.

Pimpinan pesantren saya itu memang NU tulen. Ia pencinta Gus Dur. Tiap ceramah dan menasehati kami, acapkali ia menyebut nama Gus Dur. Saya masih ingat, beliau mengatakan, “Gus Dur itu hebat, meskipun “buta” tapi bisa hafal  semua nomor telepon.”

Ulama Salaf Online

Waktu Gus Dur jadi Presiden, bukan main senang hatinya. Laik anak kecil ketemu mainan. Saking cintanya terhadap Gus Dur, ia menangis ketika menyaksikan Gus Dur melambaikan tangan dengan memakai celana pendek ketika keluar istana. Saya membatin, “Kayak cewek aja, masak gitu aja nangis.” Astagfirullah, saya sangat menyesal.

Sekalipun ustadz saya pencinta Gus Dur, tiap kali dia berbicara tentang Gus Dur sering kali saya remehkan dalam hati. Saya tidak terlalu suka dengan Gus Dur kala itu. Apalagi saya tidak pernah baca bukunya. Sekitar tahun 2005 saya meninggalkan pesantren NU itu. Cerita-cerita manis tentang Gus Dur tak pernah lagi saya dengar. Di Sekolah yang baru kondisinya sangat berbeda. Hampir tidak pernah saya mendengar kata Gus Dur keluar dari mulut guru-guru di sana. Akhirnya, ketidaksukaan saya semakin kuat.

Ulama Salaf Online

Di kampung seringkali berkembang cerita miring tentang Gus Dur, misalnya: PKB, Presiden Kita Buta. Ada juga yang bilang, Gus Dur baru saja jadi presiden sudah buang-buang uang untuk jalan-jalan ke luar negeri. Kampung saya sempat heboh ketika Gus Dur membela mati-matian Inul Darastita. Padahal, menurut kacamata lahir, goyangan Inul harus dihentikan karena meresahkan sebagian umat Islam.

Bagi Gus Dur, gitu aja kok repot! Teman saya  yang fans Rhoma Irama bilang, “Ya wajarlah Gus Dur buta, jadi dia ngak liat goyangan Inul seperti apa, alias nngak nafsu.”  Dan masih banyak lagi cerita seperti itu, semakin saya ungkapkan, semakin merintih.   

Begitulah kondisi lingkungan saya dibesarkan.  Akal saya dikontruksi oleh cerita-cerita miring semacam itu. Pandangan dan sikap saya terhadap Gus Dur, hampir sama dengan mereka, tidak jauh beda.

Pada tahun 2009 saya merantau ke Jakarta. Merantau adalah bagian dari tradisi kami. Dulu anak Minang yang tak merantau dikatakan, “Udah besar masih saja nyusu sama orang tua.” Dari struktur rumah, anak laki-laki tidak memiliki kamar di rumah orang tuanya. Orang tua membuatkan kamar hanya berdasarkan jumlah anak perempuan mereka. Artinya, anak laki-laki harus keluar rumah (merantau) ketika dewasa.

Di Jakarta, pandangan saya tentang Gus Dur masih sama seperti yang dulu. Beberapa bulan di Jakarta, sesekali saya melihat papan pengumuman berisi acara-acara yang mengundang Gus Dur sebagai narasumber. “Ah, nggak penting,” bisik saya dalam hati. Alangkah angkuhnya saya dahulu. Tak lama kemudian, teman saya mengucapkan berita duka atas wafatnya guru bangsa Abdurrahman Wahid di status FB-nya. Saking dungunya, saya tidak merasakan kehilangan apapun ketika membaca kalimat itu.

Malam itu, saya menyaksikan orang-orang di sekeliling banyak yang sedih. Ada juga yang bergegas ke rumah Gus Dur untuk sekadar menengok paras terakhir sang Guru Bangsa. Teman-teman di tempat saya biasa diskusi semuanya meluapkan memori mereka ihwal Gus Dur, rata-rata memuji. Saya tengok televisi, semua siaran membicarakan Gus Dur. Bukan hanya orang Islam yang menangis, tapi juga orang Budha, Kristen, Hindu, dan Tionghua.

Sambil merebahkan badan di lantai musola, saya merenung: apa hebatnya Gus Dur? Kenapa banyak orang yang menangisi kepergiannya? Kalau ada orang Islam meninggal, lantas ditangisi umat Islam sendiri, saya sudah sering melihat. Tapi, ada orang Islam ditangisi jutaan umat lintas agama, saya baru kali ini menyaksikan.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui saya, tiap hari makin penasaran. Rasa keingintahuan itu terus saya simpan. Hingga saya menemukan forum diskusi Tadarus Kolom Gus Dur yang diadakan  Wahid Isntitute sekitar dua atau tiga bulan pasca wafat Gus Dur. Di sana saya diajak untuk membaca tulisan-tulisan Gus Dur. Saya juga dipaksa menulis. Awalnya saya sulit untuk memahami isi artikel-artikel Gus Dur. Namun,  berkat diskusi dengan beberapa orang teman, saya udah agak mulai bisa memahaminya.

Gus, saat ini saya sudah mulai berubah. Saya tidak seperti dulu lagi. Meskipun engkau telah tiada, saya yakin engkau tengah mendengar suara penyelasan ini. Gus, saya minta maaf. Semoga engkau di sana menerima permintaan maafku. Kata maaf itu bukan hanya sekadar basa-basi, Gus. Saya akan buktikan lewat tindakan. Kalau ada lagi cerita-cerita miring tentangmu di kampung, saya akan berusaha meluruskannya sesuai kadar pengetahuan dan kemampuan saya. Jika mereka masih seperti itu, belum berubah, saya hanya bisa mengatakan: semoga kalian mendapat petunjuk. (Hengki Ferdiansyah)

 

Darus-Sunnah, 20 Desember 2013

Hengki Ferdiansyah adalah Redaktur Majalah Surah, santri Darus-Sunnah  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Minggu, 27 Agustus 2017

Hari Santri, Ratusan Kiai Sepuh Turun Gunung

Rembang, Ulama Salaf Online - Ratusan kiai dari seluruh penjuru Kabupaten Rembang ikut menghadiri peringatan hari santri di alun-alun kota, yang digelar secara bersama oleh PCNU Rembang dan Lasem, Sabtu (21/10) malam.

Peringatan hari santri 2017 diawali dengan zikir pesisiran, parade 1001 rebana, dan Keplok Alfiyah sebagai salah satu tradisi pesantren yang ada di Kabupaten Rembang, yaitu Pesantren Raudlotut Tholibien asuhan KH Ahmad Musthofa Bisri.

Hari Santri, Ratusan Kiai Sepuh Turun Gunung (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, Ratusan Kiai Sepuh Turun Gunung (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, Ratusan Kiai Sepuh Turun Gunung

Selain itu, acara yang dilanjutkan dengan ngobrol bersama delapan tokoh asal Kabupaten Rembang yang sudah berkiprah di Jakarta yang di antaranya KH A Musthofa Bisri, KH Maimoen Zubair yang membuka iftitah.

Sedangkan KH Yahya Cholil Staquf, KH Abdul Ghofur Maimoen, M Imdadun Rohmat, M Arwani Thomafi, Maryono, dan Phutut EA bertindak sebagai narasumber diskusi yang digelar di alun-alun Rembang.

Ulama Salaf Online

Menurut Panitia pelaksana Hamzah Iklil, sedikitnya ada sekitar 176 kiai dan sejumlah aparat dari Pemerintah Daerah Rembang yang didaftar hadir pada peringatan santri.

Ulama Salaf Online

"Ada sekitar 176, para kiai dari seluruh kecamatan yang ada. Minimal yang hadir itu ada perwakilan dari setiap kecamatan," katanya.

Selain zikir pesisiran, parade rebana, dan keplok alfiyah, puncak hari santri Kabupaten Rembang 2017 adalah apel santri di alun-alun yang berlanjut dengan kirab merah putih, yang akan diikuti ribuan santri yang sudah dikoordinir oleh PCNU Rembang dan Lasem, pada Ahad (22/10) pagi.

Peserta kirab merah putih akan berjalan mengelilingi jalan-jalan protokol yang ada di wilayah Kota Rembang, dan kembali finish di alun-alun kota. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Fragmen, Kajian Sunnah, Berita Ulama Salaf Online

Jumat, 18 Agustus 2017

Remaja Ngoro Jombang Isi Ramadhan dengan Pelatihan Film

Jombang, Ulama Salaf Online. Memasuki hari ke-8 bulan Ramadhan, sekumpulan anak muda di Desa Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang mengikuti pelatihan pembuatan film bertajuk Ngoro Kreatif 2017 “Mengenal Ngoro Lewat Film”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (Sabtu-Ahad, 3-4/6) di SMPN 1 Ngoro tersebut diselenggarakan oleh Lingkar Studi Warung Sastra (Liswas), sebuah komunitas sastra dan seni budaya di Ngoro.?

Selama pelatihan, setiap peserta diharuskan membuat sebuah sinopsis film bertema lokalitas Ngoro.?

“Setiap peserta diajak mengenal gambaran sosio-kultural Ngoro. Semoga kegiatan ini bisa menjadi ajang kreatifitas anak muda tentang kampungnya dan mengajak anak-anak untuk berkegiatan positif,” ungkap ketua panitia, Tri Tangguh.?

Remaja Ngoro Jombang Isi Ramadhan dengan Pelatihan Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Remaja Ngoro Jombang Isi Ramadhan dengan Pelatihan Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Remaja Ngoro Jombang Isi Ramadhan dengan Pelatihan Film

Mengapa mengangkat tema lokalitas? Ketua Liswas Ngoro, Aditya Ardi N menuturkan, agar anak muda Ngoro memiliki pola pikir yang positif, kreatif, dan inovatif, yang pada gilirannya akan mencetak generasi muda yang siap menghadapi ranah multikultur. “Selama ini kadang kita terlalu banyak mengangangkat tema-tema besar, tapi lupa pada hal-hal yang ada di sekitar kita,” katanya.

Kegiatan ini juga mendapatkan apresiasi dan dari berbagai kalangan, seperti Dadang Ari Murtono (Cerpenis), Hanafi (Film Maker), Beby (Manager Musik Surabaya), dan Ikhwan (Komunitas Film Sukarmaju Jombang).

Ulama Salaf Online

“Saya sangat senang pada kegiatan semacam ini. Di samping mendapatkan ilmu-ilmu baru juga bermanfaat mengisi waktu di bulan Ramadhan,” ujar Vabiola, siswi SMAN 1 Ngoro.?

Di hari pertama, Tri Tangguh yang merupakan kreator film menyampaikan materi tentang dunia perfilman, strategi pembuatan film, tema film, termasuk bagaimana memanfaatkan musik.?

Hari kedua diisi oleh Topan dari Kelompok Belajar Seni Jombang. Ia membahas seputar dasar-dasar cinema dan apresiasi dunia perfilman di daerah tersebut. Acara dilanjutkan dengan pemutaran 3 film pendek karya Gradasi Cinema (Liswas), yakni Ngoro, Tanda Tanya, dan Bulat Bundar. (Sulton/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Anti Hoax Ulama Salaf Online

Senin, 31 Juli 2017

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Saling menghargai dan menghormati sesama warga merupakan ajaran yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita sejak Indonesia belum bernama ‘Indonesia’. Hal itu bisa kita ketahui dari kerajaan besar yang pernah berdiri dan berkembang pesat di wilayah Nusantara seperti Majapahit pada sekitar abad ke-13 M.?

Apakah kerajaan Majapahit mengajarkan persatuan dan kesatuan? Hal itu bisa kita lihat dari novel yang ditulis Langit Kresna Hariadi dengan Judul Gajah Mada. Buku Gajah Muda merupakan cerita Kerajaan Majapahit dengan menyoroti kebesaran Mahapatihnya, Gajah Mada. Buku ini terdiri dari lima seri dengan judul besar yang sama, yaitu Gajah Mada.?

Dari kelima seri buku tersebut, buku Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa merupakan buku kelima yang mengisahkan tentang Gajah Mada yang mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih. Pengunduran tersebut dikarenakan tragedi Perang Bubat yang menjadi tragedi berdarah antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh. Tragedi tersebut menyeret Gajah Mada yang pada saat itu bertindak sebagai Mahapatih menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Sampai pada akhirnya, Gajah Mada meninggalkan jabatannya dan yang pada awalnya mengambil sumpah Hamukti Palapa untuk menyatukan Nusantara, kini memilih Hamukti Moksa di tempat yang selanjutnya dinamakan Madakaripura.?

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Madakaripura merupakan tanah perdikan milik mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Tanah perdikan tersebut saat ini lebih terkenal dengan air terjunnya yang terletak di Dusun Branggah, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang,Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.?

Dalam novel tersebut, terdapat cuplikan perisitiwa yang menunjukkan bagaimana kuatnya saling menghormati dan menghargai pada masa Majapahit. Pengarang menceritakan mahapatih Gajah Mada dalam perjalanannya saat menuju tanah perdikan mengalami berbagai peristiwa. Salah satunya yaitu ? peristiwa yang terjadi di ? Perkampungan Pamadan. Kampung Pamadan merupakan sebuah desa yang harus dilalui ketika akan menuju tempat Madakaripura tersebut.?

Ulama Salaf Online

Saat itu, Gajah Mada mendapati perkampungan dalam keadaan sepi. Padahal ketika beberapa kali didatanginya merupakan tempat yang amat hidup dan penuh geliat. Gajah Mada bertanya-tanya dalam hati. Ke mana perginya mereka. Untuk memastikan penasarannya, ia memutuskan berbelok ke sebuah rumah. Namun, setelah mencoba masuk ke dalam rumah, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Akhirnya, Gajah Mada memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.?

Setelah berpacu dengan kudanya beberapa saat, ia melihat ada hal yang berbeda. Sebuah rumah, merupakan satu-satunya rumah yang mengalami nasib berbeda, hangus terbakar dan dengan kasat mata terlihat adanya jejak-jejak perusakan. Berbekal pengalaman yang dimiliki sebagai mantan pasukan khusus Bhayangkara, ia mencoba menelusuri jejak hangusnya tersebut.?

Pada akhirnya, Gajah Mada terbelalak melihat pemandangan yang mendebarkan dari ketinggian tempatnya berada. Ia melihat sekelompok orang dalam sebuah barisan berhadapan dengan kelompok lain yang bersikap sama. Dua kelompok itu terlihat seperti sedang bersiap untuk berperang habis-habisan. Selanjutnya, mereka diketahui berasal dari orang-orang yang berasal dari desa Saleces dan desa Pamadan.?

Ulama Salaf Online

Konflik itu tersulut oleh peristiwa yang bermula dari anak gadis Ki Buyut Saleces yang dibawa lari oleh Ki Pintasmerti. Hal itu sertamerta dilakukan akibat dari penolakan secara mentah-mentah dari Ki Buyut Saleces, pemimpin dari desa Saleces, yang anak gadisnya dipinang oleh Ki Pintasmerti, pemimpin dari desa Pamadan. Penolakan itu mempunyai dua alasan. Pertama, anak gadisnya telah dijodohkan dengan kerabat bangsawan Lumajang. Alasan kedua yaitu dari pihak Ki Buyut Saleces beragama Syiwa, sedangkan Ki Pintasmerti menganut Budha. Akhirnya, imbas dari perseteruan tersebut adalah bentrok dari kedua warga tersebut.

Sebelum terjadi perpecahan yang menimbulkan korban, akhirnya Gajah Mada menampakkan diri di tengah-tengah dua kelompok itu. Ia meminta keterangan lebih lanjut dari dua pihak yang berseteru. Sampai pada akhirnya, ia mengetahui bahwa sebenarnya kedua anak mereka saling mencintai. Namun, karena alasan yang sudah disebutkan di atas, mereka akhirnya melakukan tindakan tersebut. Selain itu, Gajah Mada juga terkejut dengan fenomena yang ada di warga Saleces, bahwa mereka semua menganut Syiwa. Setelah Gajah Mada bertanya kepada warga, ternyata Ki Buyut Saleces sebagai pemimpin melarang warganya menganut ajaran selain Syiwa. Jika ada yang menganut Budha, Ki Buyut mengancam mereka.?

Dari pengakuan tersebut, pada akhirnya Gajah Mada dengan suara lantang menjelaskan bahwa Majapahit memberikan pengakuan kepada agama Syiwa dan agama Budha serta meminta kepada semua penganutnya untuk hidup rukun dan berdampingan. Hal itu semuanya diatur dalam Tripaksa. Karena mereka udah melakukan kesalahan, mereka disuruh menghadap ke kotaraja Majapahit untuk menghadap Prabu dan meminta hukuman yang setimpal.

Pada akhirnya, dengan karisma yang dimiliki oleh Gajah Mada, mereka menghadap kepada Prabu serta meminta hukuman yang setimpal atas perbuatannya dalam melanggar aturan toleransi yang terkandung dalam Tripaksa tersebut.

Gambaran yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami kurun waktu abad ke-13 M. Pembaca dapat memahami Majapahit secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam kerajaan Majapahit juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan buku sejarah dan kitab kuno yang ditulis oleh Empu Prapanca secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mengupas habis sejarah kebesaran Majapahit pada masa mahapatih Gajah Mada ini, menggambarkan betapa besar dan luasnya pengaruh yang disebarkan oleh nenek moyang kita terdahulu. Bahkan, sebelum Pancasila lahir sebagai dasar negara, fenomena kehidupan yang ditampilkan dalam buku ini sudah menerapkan itu semua. Bahkan, sila ketiga menyebutkan bahwa negara kita menjadikan asas persatuan sebagai landasan bangsa, hal itu sudah diajarkan jauh sebelum Indonesia menjadi seperti sekarang. Persatuan itu tidak hanya kelompok-kelompok tertentu saja, entah kelompok suku maupun agama, tetapi persatuan yang dibingkai melalui keragaman budaya serta agama yang menjunjung tinggi toleransi.?

Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku ? ? : Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

Penulis ? ? ? ? ? : Langit Kresna Hariadi

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : 574 halaman

Cetakan ? ? ? ? ? : Keenam, Desember 2008

Penerbit ? ? ? ? ? : Tiga Serangkai Solo

ISBN ? ? ? ? ? ? ? ? : 979 33 0712 9

Peresensi ? ? ? : M. Ilhamul Qolbi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Juni 2017

Syiah dan Kekerasan Terhadapnya

Jakarta, Ulama Salaf Online. Selain kelompok Ahmadiyah, komunitas Syiah juga acap kali menerima perlakuan yang keras dari sebagian kelompok Islam lainnya. Demonstrasi, penolakan kegiatan, dan bahkan pengusiran dari kampung halaman adalah sederet perlakuan keras yang diterima komunitas Syiah selama ini. 

Apa yang sebetulnya menyebabkan kekerasan terhadap komunitas yang bermazahab Syiah itu? 

Syiah dan Kekerasan Terhadapnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Syiah dan Kekerasan Terhadapnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Syiah dan Kekerasan Terhadapnya

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balitbang Diklat Kemenag RI tahun 2016 lalu, setidaknya ada enam penyebab kekerasan terhadap komunitas Syiah. Pertama, tuduhan sesat terhadap mereka yang bermazhab Syiah. Ada gerakan-gerakan yang melakukan mobilisasi dan menuduh Syiah itu sesat. Kaum muslim yang ‘tidak mengerti apa-apa’ akhirnya ikut-ikutan untuk membenci kelompok Syiah. Saat ada kelompok yang mengajak untuk melakukan demo dan kekerasan, kaum muslim ‘yang tidak mengerti apa-apa’ tentang Syiah secara mendalam itu ikut.

Kedua, kelompok Syiah Takfiri. Sama seperti Sunni, mazhab Syiah juga tidak bulat satu tetapi ada beberapa—bahkan puluhan—sekte Syiah. Syiah Takfiri adalah salah satunya. Ajaran Syiah ini tidak seperti umumnya dipahami oleh Syiah Imamiyah, sekte terbesar dalam mazhab Syiah. Salah satu pentolan sekte Syiah ini adalah Yasir Habib yang tinggal di London. Menurut Yasir, ada 8 televisi Syiah Takfiri dan semua didanai Zionisme internasional, termasuk Arab Saudi dan Bahrain. Semua televisi itu dibiarkan melaknat para sahabat besar Nabi Muhammad dan Aisyah.  

Ketiga, adanya kelompok Salafi Takfiri. Kelompok ini dari tahun ke tahun semakin menyebar di negara-negara Islam. Mereka seringkali mengkafirkan kelompok-kelompok yang tidak sepaham dengan mereka, baik kelompok Sunni lainnya apalagi kelompok Syiah. Hampir semua rentetan peristiwa yang memposisikan mazhab Syiah tidak layak menjadi alternatif suatu mazhab dipelopori oleh kelompok ini.

Selanjutnya, perbedaan dalam memposisikan kitab sebagai sumber ajaran (Kitab Sunni dan Kitab Syiah). Komunitas Syiah selalu melakukan kritik terhadap kitab—meskipun kitab tersebut dikarang oleh seorang ulama besar. Jika kitab tersebut tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan akal sehat, maka mereka tidak akan merujuknya lagi. Hal ini juga dilakukan sebagian kalangan Sunni. Ada sebagian kalangan Sunni dan anti-Syiah yang memposisikan kitab-kitab sahih sebagai rujukan setara dengan Al-Qur’an.

Ulama Salaf Online

Kelima, kelompok anti-Syiah tidak melakukan klarifikasi (tabayun). Memahami mazhab Syiah untuk kepentingan persatuan bangsa dan kerukunan internal umat beragama mestinya harus diikuti dengan tabayun atau klarifikas secara benar dan mendalam. Namun, terkadang mereka mengabaikan proses klarifikasi atau tabayun ini sehingga akhirnya mereka membenci kelompok Syiah berdasarkan persepsinya sendiri. Saat narasi kebencian terhadap Syiah terbangun, lalu disampaikan kepada umat Islam agar diikuti, maka terjadilah kebencian massal yang akut terhadap mazhab Syiah. 

Terakhir, komunitas Syiah berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kelompok Sunni. Ada kelompok-kelompok tertentu yang sengaja mengembuskan tuduhan bahwa Syiah itu berbahaya bagi NKRI dan Sunni. Berdasarkan fakta yang ada, tuduhan ini juga tidak memiliki dasar pijakan. Misalkan, saat terjadi perang antara Irak dan Iran. Meski di Irak yang mayoritas Syiah ketika perang dengan Iran, tetapi mereka tetap membela Irak, bukan Iran. Begitu pula dengan apa yang terjadi di Lebanon. 

Di Syiah memang ada sekte yang memang melenceng seperti Syiah Takfiri yang memaki-maki sebagian besar sahabat Nabi Muhammad. Tapi itu tentu tidak bisa mempresentasikan Syiah secara keseluruhan. Bukankah di Sunni juga ada sekte yang menyimpang dan melenceng, yaitu Islamic State of Iraq and Syuriah (ISIS)?   Wallahu ‘alam. (A Muchlishon Rochmat/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Senin, 29 Mei 2017

Shalat di Masjidil Haram Apakah Bisa Digantikan di Tempat Lain?

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Jamaah haji Indonesia rata-rata usianya sudah sepuh-sepuh dan tempat menginapnya jauh dari Masjidil Haram. Namun karena semangatnya yang luar biasa dan dengan keyakinan bahwa shalat di Masjidil Haram pahalanya seratu ribu kali lipat mereka rela berjalan kaki tanpa memperhitungkan kondisi cuaca dan kesehatannya. Mereka rajin ke Masjidil Haram untuk mengikuti shalat jamaah.

Tetapi ironisnya ketika akan masuk hari Arafah kondisi mereka sudah tidak fit, sehingga banyak yang jatuh sakit dan tidak bisa menjalankan wukuf di Arafah dengan baik, yang merupakan inti dari haji itu sendiri. Ini artinya, mereka mengejar yang sunah tetapi malah mengorban hal yang wajib. Belum lagi mabit di Muzdalifah, kemudian mabit Mina yang jelas-jelas-jelas sangat menguras tenaga.

Yang ingin saya tanyakan, apakah shalat di masjid yang dekat dengan tempat menginap atau di masjid yang disediakan hotel bagi jamaah haji di Makkah pahalanya sama dengan di Masjidil Haram? Atas penjelasannya kami sampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb (Hasan/Aceh)

Shalat di Masjidil Haram Apakah Bisa Digantikan di Tempat Lain? (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat di Masjidil Haram Apakah Bisa Digantikan di Tempat Lain? (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat di Masjidil Haram Apakah Bisa Digantikan di Tempat Lain?

 

Jawaban

Wa’alaikum Salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa memang terdapat hadits yang menyatakan bahwa shalat di Masjidil Haram pahalanya seratus ribu kali lipat di banding di masjid lain.

 ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?, ? ? ?)

Ulama Salaf Online

“Dari Ibn az-Zubair ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda, bahwa shalat di Masjid-ku ini lebih utama dibanding seribu shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram. Sedang shalat di Masjidil Haram lebih utama di banding shalat di Masjidku dengan kelipatan pahala seratus ribu shalat”. (H.R. Ahmad dan disahihkan oleh Ibnu Hibban).

Namun para ulama berselisih pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan Masjidil Haram. Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuti, yang dimaksudkan dengan Masjidil Haram adalah seluruh Tanah Haram. Karenanya menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi, pelipatgandaan pahala di Tanah Haram Makkah tidak dikhusukan di Masjidil Haram saja, tetapi mencakup semua Tanah Haram.   

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Sesungguhnya pelipatgandaan pahala di Tanah Haram Makkah tidak khusus di Masjidil Haram tetapi meliputi seluruh Tanah Haram. (Jalaluddin as-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nazha`ir, Bairut-al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H, h. 523)

Ulama Salaf Online

Pandangan Imam Jalaluddin as-Suyuthi itu selaras dengan pandangan mayoritas ulama. Hal ini bisa kita pahami dalam keterangan yang terdapat dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Madzhab Hanafi dalam pendapat yang masyhur, Madzhab Maliki dan Syafi’I berpendapat bahwa pelipatgandaan (pahala di Tanah Haram Makkah) itu meliputi seluruh Tanah Haram Makkah”. (Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Thab’ al-Wizarah, cet ke-2, 1427 H, juz, 37, h. 239)    

Jika penjelasan ini ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas maka sebenarnya pahala shalat jamaah di masjid yang dekat dengan tempat penginapan atau shalat jamaah di masjid yang disediakan hotel sama dengan shalat di Masjidil Haram. Sebab yang dimaksudkan dengan Masjdil Haram bukan hanya Masjdil Haram yang di dalamnya ada Ka’bahnya, tetapi keseluruhan Tanah Haram Makkah.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga bisa bermanfaat. Dan saran kami, bagi jamaah haji yang sudah berumur lanjut agar jangan memaksakan diri shalat berjamaah di Masjidil Haram, tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatannya. Jangan sampai kita mengejar hal-hal yang sunnah tetapi malah menyebabkan hal yang menjadi rukun haji dan wajibnya tidak bisa dijalankan dengan baik karena menurunnya kondisi kesehatan. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Halaqoh, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Selasa, 16 Mei 2017

Ansor NTT Siap Kawal Pilkada Damai

Kupang, Ulama Salaf Online. Ketua GP Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT) Abdul Muis mengatakan bahwa Pilkada NTT kali ini harus benar-benar damai untuk menghasilkan pemimpin yang cerdas dan berkualitas demi masa depan propinsi ini.?

Ansor NTT Siap Kawal Pilkada Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTT Siap Kawal Pilkada Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTT Siap Kawal Pilkada Damai

GP Ansor berharap, ? semua komponen-komponen Pilkada dan semua masyarakat pemilih harus mampu membawa kedamaian pada Pilgub NTT kali ini.?

Dikatakan Muis, bahwa partai politik harus memberikan pelajaran politik kepada pemilih yang berkualitas dan memberikan pendidikan politik kepada pemilih yang lebih bermartabat sehingga memilih pemimpin yang cerdas, agar dapat perhatikan masyarakat.?

Ulama Salaf Online

“Kita harus bisa memilih dengan cerdas dan bermartabat sehingga bisa menghasilkan pemimpin yang bisa membangun daerah ini dari keterpurukan,” ungkap Abdul Muis, Rabu (5/3/2013).

Ulama Salaf Online

GP Ansor berharap gubernur terpilih mampu membangun dan menata NTT untuk lima tahun ke depan menjadi lebih baik.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ajhar Jowe

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Kajian Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock