Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan

Blitar, Ulama Salaf Online. Resolusi Jihad NU yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 merupakan kepawaian pembacaan para kiai NU terhadap situasi bangsa saat itu. Keberhasilan itu harus diikuti NU pada situasi sekarang ini.

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan

Menurut Ach. Dofir Zuhri, bahwa semua kader NU harus mengembalikan nalar kritis dalam mebaca situasi bangsa ini, karena pada zaman sekarang tantangan NU dan bangsa ini sangat kompleks, mulai ekonomi, budaya, politik dan lain sebagainya.

“Untuk itu mengembalikkan nalar kritis sangat penting dalam kondisi saat ini yakni perang dingin atau perang ideologi,” katanya pada Bedah Film dan Refleksi Sejarah peringatan Resolusi Jihad NU yang digelar Lakpesdam NU Kota Blitar di Aula Masjid Agung, Sabtu, (26/10).

Ulama Salaf Online

Selain itu menurut narasumber Drs. Syaiful Maarif, bahwa NU sekarang belum memiliki ulama yang memiliki ketokohan dan kewaro’an seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Wahid Hasyim.

Ulama Salaf Online

“Untuk itu kader-kader NU khususnya ulama-ulama sekarang harus merefleksikan dan mencontoh? ketokohan ulama-ulama tersebut,” imbaunya.

Gigih Wardana selaku Sekretaris PC Lakpesdam NU Kota Blitar mengatakan, peringatan Resolusi Jihad NU harus menjadi agenda rutinan tiap tahun. “Peringatan ini sebagai momentum refleksi kader-kader NU untuk senantiasa meneruskan perjuangan ulama dan santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Kegiatan bertema “Resolusi Jihad NU Melawan Penjajah: Peran NU Bagi NKRI” dibuka Ketua PCNU Kota Blitar KH. Ahmad Subakir.

Hadir dalam acara tersebut Ketua GP Ansor Kota Blitar Drs Ahmad Harir, Ketua Umum PC PMII Blitar Mahathir Muhammad serta kader-kader PMII, dan anggot banom-banom NU seperti GP Ansor dan Banser, Musimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, ISNU dan lainnya. (Imam Kusnin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Kajian Ulama Salaf Online

Jumat, 16 Februari 2018

Muslimat NU-PT Lion Group Sepakati Pemberdayaan Ekonomi

Jakarta, Ulama Salaf Online. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama dan PT. Lion Group menandatangano nota kesepahaman (MoU) meliputi pemberdayaan ekonomi, pendanaan, dan pemasaran produk-produk UKM yang dibina PP Muslimat NU.

Muslimat NU-PT Lion Group Sepakati Pemberdayaan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU-PT Lion Group Sepakati Pemberdayaan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU-PT Lion Group Sepakati Pemberdayaan Ekonomi

Kesepahaman tersebut ditandatangani Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dengan Presiden Direktur Lion Group Rusdi Kirana di Gedung Serba Guna 1 Asrama Haji Jakarta pada Ahad (1/6).

Dalam rilis MoU menjelaskan, kedua pihak juga sepakat untuk mengedukasi dalam rangka mengembangkan wirausaha unggul dan membangun ekonomi nasional berbasis kerakyatan.

Ulama Salaf Online

“Saya meyakini bahwa apa yang kita tanda tangani ini bukan hanya seremonial atau sekadar kosmetik dalam Rakernas Muslimat NU ini,” ujar Rusdi Kirana dalam sambutannya di Gedung Serba Guna 1 Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Ahad (1/6) malam.

Ulama Salaf Online

Karena, lanjut Rusdi, Lion Group akan bersama dengan Muslimat NU meyakini bahwa program kerja sama ini akan berjalan. Rusdi menjelaskan bahwa keyakinan ini dasarnya mudah, yaitu ketika di Muslimat NU Expo, karya kerajinan ibu-ibu Muslimat sangat baik.

“Ini tinggal dikembangkan, meskipun produk-produk yang sudah ada sudah bisa dipasarkan, di pesawat itu, sekadar air mineral dan roti saja laku keras, apalagi produk-poduk Muslimat seperti dodol Garut dan lain-lain, pasti diminati,” papar pria berkumis ini.

Sementara Khofifah menjelaskan, dari kesepakatan ini, Muslimat NU akan menyiapkan tim QC (Quality Control). Tim ini, lanjut Khofifah, akan bekerja menyiapkan produk dari mulai proses hingga pengepakan.

“Dari proses tersebut, Muslimat akan menyiapkan kualitas dan jumlah produk, serta kontrol kualitas, jangan cuma sekali siap tapi dipesan berikutnya kita kedodoran,” jelas Khofifah dalam sambutannya yang juga mengharap semua perangkat kerjanya dapat berbasis kewirausahaan sehingga menghasilkan produk-produk yang dapat dipasarkan.  

Khofifah menuturkan, kerja sama lahir dari kreativitas kader Muslimat di daerah-daerah yang mampu menghasilkan produk makanan berkualitas untuk dipasarkan di dalam penerbangan.

“Tentu, produk-produk yang ada disesuaikan dengan kriteria penerbangan. Jadi ini sebetulnya produk yang sudah lama digeluti dengan peluang baru yang akan kita jalani,” jelas Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Abdurrahman Wahid ini. (Fathoni/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pesantren, Bahtsul Masail, Nahdlatul Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Februari 2018

Bersama Ansor, LTM Sertifikasi Masjid NU di Jombang

Jombang, Ulama Salaf Online. Lembaga Tamir Masjid NU Jombang dibantu pemuda Ansor setempat melakukan pendataan jumlah masjid dan musholla milik warga NU. Kegiatan ini dilakukan untuk mengamankan tempat ibadah warga yang biasa mengamalkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah ini sebagai aset NU.

Bersama Ansor, LTM Sertifikasi Masjid NU di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Ansor, LTM Sertifikasi Masjid NU di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Ansor, LTM Sertifikasi Masjid NU di Jombang

"Ke depan kita keluarkan sertifikasi atas pendataan masjid dan mushola yang sudah dilakukan. Sertifikasi itu merupakan bentuk pengamanan asset. Sehingga aset milik NU tidak diambil kelompok lain," ujar Ketua LTMNU Jombang AH Sutari saat pelatihan manajemen masjid bersama GP Ansor Jombang di aula MAN Tambakberas, Ahad (8/2).

Sutari menambahkan, data masjid dan musholla NU yang telah masuk di mejanya sebanyak 2000. Data ini murni yang mengisi adalah takmir masjid dan musholla sendiri. "Kita tinggal mencocokkan dan segera mengeluarkan sertifikasi saja. Ke depan harapannya dengan pelatihan bersama Ansor ini ada penggerak di setiap masjid dan musholla," ujar Sutari.

Ulama Salaf Online

Ketua GP Ansor Zulfikar D Ikhwanto meminta seluruh kader Ansor memfungsikan masjid dan musholla sebagai basis kegiatan kader-kader NU. Tidak hanya itu, diharapkan setiap masjid dan musholla ada Banser yang menjadi penggerak. "Saya sudah intruksikan, minimal satu masjid dan musholla ada 2 Banser. Di samping untuk menjaga aset, Banser harus bisa menjadi penggerak kegiatan," ujarnya.

Keberadaan tempat ibadah milik warga NU, lanjut Gus Antok, menjadi tanggung jawab Ansor bersama Bansernya. "Apalagi seluruh Banom NU bisa menjadikan musholla menjadi semacam sekretariat, sehingga tidak ada lagi kelompok yang bertentangan dengan Pancasila berani mengambil atau menguasai aset milik NU," tandasnya.

Ulama Salaf Online

Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar meminta LTM dan Ansor lebih giat lagi untuk meramaikan kegaiatan berbasis masjid dan musholla. "Sudah seharusnya yang menjaga aset dan menjadi penggerak masjid musholla milik warga NU adalah Ansor bersama Bansernya. Jangan sampai masjid dan musholla malah diisi kelompok lain," ujarnya saat membuka kegiatan.

Peserta pelatihan ini terdiri atas pengurus masjid, pengurus MWCNU, pengurus Ansor tingkat anak cabang. Mereka menerima materi penataan organisasi masjid, manajemen dan fungsi masjid dalam kehidupan bermasyarakat. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pemurnian Aqidah, News, Nahdlatul Ulama Salaf Online

Sabtu, 10 Februari 2018

HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013

Brebes, Ulama Salaf Online. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Kabupaten Brebes Jawa Tengah akan menggelar pasar rakyat. Pasar rakyat HIPSI 2013 rencananya akan digelar pada 10 Oktober di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes.

“Pasar Rakyat ini tidak hanya menjual produk saja,” tegas Ketua PW HIPSI Jateng H Moh Imaduddin.

HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013

Tetapi, lanjutnya, juga ada pertemuan-pertemuan khusus dengan para pengusaha berkelas nasional maupun internasional.

Ulama Salaf Online

HIPSI juga menggelar Seminar Wirausaha 1000 santri dan pelantikan pengurus baru HIPSI Brebes. Mereka yang akan dilantik antara lain Ketua H Moh Sodikin, Sekretaris Fatkhurojak dan Bendahara Nely Astuti.

Ulama Salaf Online

Pembina HIPSI Brebes KH Solahudin Masruri (Gus Solah) menandaskan, kalau di Brebes banyak terdapat pesantren, lebih dari 120 pesantren aktif. Untuk jiwa wirausaha, para santri tidak diragukan lagi. Tetapi untuk permodalan memang masih perlu bapak angkat.

“Dengan persatuan para anggota HIPSI, saya pandang persatuan ini bisa saling bergandeng tangan dan juga saling berbagi untuk eksistensi santri,” tambah Gus Sholah yang juga pengasuh Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes.

Audiensi anggota dan pengurus HIPSI diterima langsung Bupati Brebes Hj Idza Priyanti didampingi Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Brebes Asih Pambudi, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Brebes Herman Ady, Kabag Kesra Setda Brebes Mabruri dan Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Doktor Angkatno.

Bupati menyambut baik rencana HIPSI Brebes yang akan menggelar pasar rakyat. Apalagi Kabupaten Brebes dalam salah satu pilar pembangunannya akan meningkatkan ekonomi kerakyatan antara lain dengan pengembangan UMKM.

“Saya yakin HIPSI bisa berperan serta dalam percepatan pembangunan di sektor ekonomi, sehingga bisa meningkatkan IPM Brebes,” harapnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, IMNU Ulama Salaf Online

Kamis, 01 Februari 2018

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Depok, Ulama Salaf Online. Sejak pagi, ribuan warga Nahdliyin Kota Depok tampak gembira. Dengan berseragam batik hijau, anggota Fatayat-Muslimat memenuhi aula Masjid Dian Al-Mahri Jl Meruyung Raya Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (15/5).

Mereka bersiap sejak kemarin untuk menyambut kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang dijadwalkan melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Depok periode 2013-2018.

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Dalam pantauan Ulama Salaf Online, di sepanjang jalan menuju masjid yang kerap disebut Masjid Kubah Mas ini tampak bendera NU yang melambai-lambai dari pepohonan rindang. Beberapa jamaah Nahdliyat tampak berjalan santai menuju aula masjid tempat pelantikan digelar. Bus-bus dan kendaraan pribadi berdatangan sejak pagi hingga menjelang siang. Aparat keamanan baik negeri (Polisi) maupun swasta (Banser) tampak berjaga-jaga di beberapa titik.

Ulama Salaf Online

Dalam pidato pengarahannya selaku Ketum PBNU, Kiai Said menyatakan pentingnya Nahdliyin Depok memahami garis perjuangan NU. Selain mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), NU Depok juga harus mendakwahkannya. Hal ini dilakukan agar bangsa ini tidak pecah, tidak tercabik-cabik, dan tererai-berai. Agama Islam harus dipahami dan dikaji, bukan dilembagakan.

Ulama Salaf Online

“NU tidak butuh negara Islam. Sayang kalau namanya sudah kadung jadi negara Islam tetapi pejabatnya banyak yang korupsi, banyak yang dipanggil KPK. Malu nggak Islam? Makanya, NU lebih memilih negara kebangsaan, negara nasionalis, tetapi berakhlak mulia,” kata Kang Said.

Hal ini, lanjutnya, seperti Nabi Muhammad SAW ketika dari kota Mekah ke kota Yatsrib. Pada waktu itu, Rasulullah mendapati masyarakat yang plural. Ada orang orang Islam: Auz dan Khazraj, ada pula non muslim, Yahudi: Bani Quraidhah, Bani Qainuqa’, Bani Nadlir. Makanya di Quran banyak ayat yang mengajak bicara orang Yahudi. Artinya penduduk Yatsrib itu multikultural.

“Lalu, Rasulullah membuat perjanjian yang disepakati bersama antara kaum muslimin dan non muslim. Perjanjian tersebut terkenal dengan sebutan Mitsaq al-Madinah. Rasulullah menegaskan, Ini ketetapan Muhammad untuk semua warga, asal satu cita-cita, satu visi-misi, satu garis perjuangannya sesungguhnya mereka itu umat yang satu,” papar Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah Saudi Arabia ini menambahkan, Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah negara yang diikat dengan satu cita-cita dan visi-misi. Tidak diikat dengan dasar agama atau kesukuan. Nabi tidak mendeklarasikan negara berbasis agama dan suku karena di dalamnya ada Muslim dan non-Muslim, ada Arab dan non-Arab.

“Anehnya, dalam perjanjian Madinah itu sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawiyah juz II halaman 61, 2 setengah halaman tidak ditemukan kata-kata Islam sama sekali. Artinya Nabi membangun masyarakat berbasis budaya dan peradaban,” tegas Kiai Said.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Said, yang asalnya bernama Yatsrib berubah nama menjadi Madinah yang berarti peradaban (berasal dari kata tamaddun, madaniyyah, masyarakatnya disebut mutamaddin). Warganya yang benar dilindungi, yang salah dihukum. Negara seperti ini disebut Negara Madinah.

“Contohnya, ada sahabat membunuh orang Yahudi. Nabi marah besar. Barangsiapa membunuh nonmuslim berhadapan dengan saya, saya advokatnya nanti. Dan barangsiapa yang berhadapan dengan saya, maka tidak akan masuk surga,” ujar Kiai Said. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Doa, Hadits Ulama Salaf Online

Selasa, 23 Januari 2018

Mustasyar PBNU: Nahdliyin Harus Ramah terhadap Perbedaan

Kudus, Ulama Salaf Online. Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama (NU) harus selalu mengedepankan keramahan terhadap setiap orang yang memiliki perbedaan pandangan. Kendati dari golongan yang berbeda, warga NU harus tetap merangkul dan menyampaikan pemahaman yang benar.

Mustasyar PBNU: Nahdliyin Harus Ramah terhadap Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU: Nahdliyin Harus Ramah terhadap Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PBNU: Nahdliyin Harus Ramah terhadap Perbedaan

“Orang berbeda bisa jadi karena tidak tahu, jadi kita harus bersikap ? ramah seraya memberikan penjelasan kepadanya,” kata Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi dalam acara tasyakuran harlah ke-89 NU yang diselenggarakan PCNU Kudus, Selasa (5/6) malam.

Ulama kharismatik yang sering disapa Mbah Sya’roni ini menceritakan ada salah seorang warga Muhammadiyah yang datang ke rumahnya membicarakan perbedaan rekaat ? shalat tarawih. Dengan cara halus, Mbah Sya’roni menunjukkan ? kitab karangan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan yang menyebutkan dengan jelas bahwa shalat tarawih itu berjumlah 20 rekaat yang setiap 2 rekaat diakhiri dengan salam.

Ulama Salaf Online

Orang Muhammadiyah tadi ? terheran-heran terhadapnya dan mempertanyakan KH Syaroni bisa memiliki kitab karangan KH Ahmad Dahlan tersebut. “Saya pun menjawab, saya juga heran kenapa sampeyan warga Muhammadiyah tidak memiliki kitab tersebut? ? Dari pembicaraan itu, orang tadi bisa menerima dan sampai sekarang ? sering ke rumah saya,” tuturnya mencontohkan pentingnya sikap ramah.

Ulama Salaf Online

Dalam kesempatan itu, pengasuh pengajian Jum’at pagi di masjid menara Kudus itu lebih banyak bercerita perjuangan Nahdlatul Ulama pada masa penjajah. Dikatakan, pada waktu itu, kyai-kyai NU selalu mengobarkan semangat berjuang melawan penjajah dengan mendeklarasikan resolusi jihad.

“Jadi pada waktu dulu, kyai-kyai sudah ikut berjuang demi membela bangsa. Makanya, sampai saat ini NU masih tetap menjaga NKRI. NU tidak akan mau menjadi pengkhianat terhadap bangsa,” tandas Kiai Sya’roni.

Mbah Sya’roni juga menyinggung bahwa NU masih tetap menjadi rujukan dalam mencari solusi atas permasalahan hukum agama yang timbul di masyarakat. “Sampai saat ini masyarakat masih condong kepada NU sebagai pilihannya,” ujarnya singkat.

Di depan ratusan pengurus NU yang hadir, Kiai Sya’roni menjelaskan peringatan harlah NU seyogyanya dilaksakan berdasarkan tahun Hijriyah yakni setiap tanggal 16 Rajab . “Kita harus tahu , NU lahir hari Ahad Legi tanggal 16 rajab 1344 H atau bertepatan 31 Januari 1926. Dan kita peringati sekarang ini sudah tepat,” tandasnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama Salaf Online

Minggu, 31 Desember 2017

Komunitas Pegon Temukan Karya Syekh Nahrawi di Banyuwangi

Banyuwangi, Ulama Salaf Online - Salah seorang ulama Nusantara yang terkemuka pada akhir abad XIX di Haramain adalah Syekh Nahrawi Al-Banyumasi. Ia adalah guru besar di Masjidil Haram yang semasa dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Mahfudz Termas.

Ulama asal Banyumas ini juga merupakan guru pendiri NU KH Hasyim Asyari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan semasa keduanya belajar di Mekkah.

Komunitas Pegon Temukan Karya Syekh Nahrawi di Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Pegon Temukan Karya Syekh Nahrawi di Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Pegon Temukan Karya Syekh Nahrawi di Banyuwangi

Sayangnya, kiprah Syekh Nahrawi yang cukup masyhur pada masanya itu, laksana hilang terkubur pada masa kini. Tak banyak catatan yang menulis tentang biografinya atau karya-karyanya.

Ulama Salaf Online

Direktur Islam Nusantara Center (ICN) Ahmad Ginanjar Syaban dalam bukunya yang terbaru, Mahakarya Islam Nusantara (2017), hingga saat ini, masih belum menemukan karya intelektual Syekh Nahrawi.

Amirul Ulum, salah seorang penulis biografi ulama Nusantara, juga tak mencantumkan satu judul pun karya Syekh Nahrawi saat mengupas biografinya. Dalam bukunya, Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (2015), ia hanya menulis tentang Syekh Nahrawi sebagai guru besar di Masjidil Haram dan mursyid tarekat Syadiliyah. Tak disinggung sedikitpun tentang karyanya.

Di tengah "hilangnya" jejak intelektual putra KH Harja Muhammad itu, Komunitas Pegon berhasil menemukan sebuah karya intelektual Syekh Nahrawi. Komunitas yang bergerak di dalam mendokumentasi dan memublikasi sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi itu, menemukannya dari koleksi kitab KH. Abdullah Faqih, Cemoro, Songgon.

Ulama Salaf Online

"Kami menemukannya saat memeriksa empat kardus dari tujuh kardus kitab peninggalan Kiai Faqih Cemoro," kata Koordinator Komunitas Pegon Ayung Notonegoro saat ditemui di markasnya yang berada di kompleks Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (10/7).

Kitab langka ini, terang Ayung, merupakan catatan (ta‘liq) dari Risalah Istiarat karya Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, salah seorang mufti Mekkah dari madzab Syafi’iyah yang menjadi guru para ulama besar di Indonesia. Termasuk juga Syekh Nahrawi sendiri. "Kitabnya hanya terdiri dari 8 halaman," tutur Ayung.

Kitab ini, diterbitkan oleh Mathbaah Taraqi Al-Majidiyah al-Utsmaniyah di Mekkah pada 1331 H atau sekitar 1912 M. Penerbit ini, dikenal sebagai pencetak utama karya-karya ulama Nusantara di Mekkah yang dimiliki oleh adik ipar Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. "Di dalamnya tidak ada keterangan kapan Syekh Nahrawi memulai ataupun menyelesaikan karyanya tersebut," kata Ayung.

Dengan penemuan kitab langka ini di Banyuwangi, Ayung meyakini bahwa keterlibatan ulama-ulama Banyuwangi pada awal abad ke-20 telah berjejaring dengan ulama lainnya. Tidak hanya di Nusantara, tapi juga di dunia.

"Banyak sebenarnya, kiai-kiai Banyuwangi pada masa awal abad ke-20 yang telah berjejaring dengan ulama-ulama besar Nusantara, bahkan hingga ke Haramain. Selain Kiai Faqih, ada juga Kiai Saleh Lateng, Kiai Syamsuri Singonegaran dan juga Kiai Manan Berasan," jelasnya.

Tetapi, keluh Ayung, kiprah para kiai Banyuwangi tersebut tak banyak terungkaps sehingga kiprah kiai Banyuwangi seolah tak ada dalam perbincangan khazanah Islam Nusantara di Indonesia.

"Atas keprihatinan ini, kami menginisiasi Komunitas Pegon," pungkasnya. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Berita, Nahdlatul, Tegal Ulama Salaf Online

Sabtu, 30 Desember 2017

PBNU: Veto, Bukti Bush Tak Mau Dengarkan Rakyatnya

Jakarta, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan, veto Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush terhadap rancangan undang-undang (RUU) penarikan pasukan AS dari Irak merupakan bukti bahwa Bush tak mau mendengarkan suara sebagian besar rakyatnya.

“Keputusan Kongres Amerika Serikat itu ‘kan keputusan mayoritas. Artinya, itu suara mayoritas rakyatnya. Kalau Bush mem-veto, jelas membuktikan bahwa Bush tidak mau mendengarkan rakyatnya,” ujar Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (2/5)

PBNU: Veto, Bukti Bush Tak Mau Dengarkan Rakyatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Veto, Bukti Bush Tak Mau Dengarkan Rakyatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Veto, Bukti Bush Tak Mau Dengarkan Rakyatnya

Bahkan, imbuhnya, veto orang nomer satu di negeri Paman Sam itu pun cukup menjadi bukti bahwa Bush mengabaikan desakan masyarakat dunia yang menginginkan pasukan pendudukan AS segera keluar dari Irak.

“Semua orang tahu, PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) saja tidak didengar. Termasuk unjuk rasa jutaan rakyat Inggris di London yang menolak invasi AS ke Irak. Juga unjuk rasa lebih 1,5 juta rakyat Australia di Melbeurne dengan slogan; ‘No War For Oil’,” terang Presiden World Conference on Religion for Peace itu.

Namun demikian, Hasyim menegaskan, veto Bush terhadap keputusan Kongres AS yang dipelopori Partai Demokrat itu bukan berarti tidak ada lagi harapan bagi perdamaian di Irak. Perlawanan terhadap kesewenangan negara Adidaya tersebut, apa pun bentuknya, tetap harus digelorakan.

Begitu juga, lanjutnya, desakan terhadap upaya penarikan pasukan AS dan sekutunya bagi perdamaian di Irak jangan pernah berhenti. “Kita tidak bisa berharap bahwa penjajahan Amerika Serikat itu berhenti dengan sukarela. Kita tidak mungkin mengharapkan amal saleh dari penjajah itu,” terangnya.

Ulama Salaf Online

Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu menambahkan, selain desakan dari semua pihak agar AS segera meninggalkan Irak, lebih penting lagi adalah persatuan rakyat Irak sendiri. Pasalnya, tanpa persatuan itu, AS akan semakin mudah untuk menaklukkan negeri kaya minyak itu.

Presiden Bush, seperti diberitakan diberitakan AFP, Rabu (2/5), memveto rancangan RUU mengenai penarikan pasukan AS dari Irak. Hal tersebut berarti legislasi yang telah disetujui Kongres AS yang didominasi Partai Demokrat itu tidak bisa dilaksanakan.

Ulama Salaf Online

Bush langsung menolak RUU penarikan pasukan tersebut begitu kembali ke Gedung Putih usai melakukan kunjungan ke pangkalan Angkatan Udara MacDill di Florida, AS yang merupakan markas besar Central Command AS.

RUU tersebut berisi tentang penarikan tahap pertama pasukan tempur AS dari Irak yang harus sudah dilakukan pada 1 Oktober. Penarikan keseluruhan akan selesai pada 6 bulan mendatang.

Sesuai RUU tersebut, penarikan pasukan AS akan dimulai paling awal pada 1 Juli dan selambat-lambatnya pada 1 Oktober. Di Kongres AS pekan lalu, RUU Demokrat ini disetujui dengan hanya mendapat dukungan dari 4 anggota Partai Republik. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Kyai, Ubudiyah Ulama Salaf Online

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU

Tarim, Ulama Salaf Online

Sebagai dari acara pra-konferensi cabang (konfercab), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman menggelar diskusi publik tentang metode dakwah NU dan sikap bijak dalam menghadai perbedaan.

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU

Forum yang berlangsung di aula sakan Dakhili, Universitas al-Ahgaff Tarim, Yaman, Senin (16/1), ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ustadz Thohirin Shodiq dengan tema ”Manhaj NU dalam Berdakwah” dan Ahmad Dimyathi dengan tema “Bijak Menyikapi Perbedaan.” Acara diikuti pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di Yaman.

Thohirin Shodiq memaparkan kontribusi NU dalam berdakwah dari segi manhaj yang ditempuhnya. Menurut mahasiswa asal Cirebon ini, NU sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan selalu proakfif dalam berdakwah. Tak hanya di Indonesia, sentuhan dakwah NU juga menyebar ke dunia internasional.

Ulama Salaf Online

Ia berpendapat, dalam menjalankan visi-misi dakwah, NU mengedepankan visi integralistik, sebuah konsep pendekatan kepada semua golongan. Untuk mencapai pada tujuan tersebut, NU menerapkan tiga macam pola keterpaduan; ukhuwah islamiyah (persaudaraan antar sesama Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan terkait ikatan kebangsaan & kenegaraan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan terkait hubungan manusia secara universal). Sedangkan upaya perealisasian ketiga pendekatan tersebut tercermin dari sikapnya yang menjunjung tinggi sikap rahmatan lil ’alamin, tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Ulama Salaf Online

”Dengan memegang metode bilmau’idhah walhasanah dan beberapa prinsip yang telah disebutkan, maka dakwah Nahdliyyin dengan mudah diterima dan berkembang di tanah air,” ujarnya.

Sementara Ahmad Dimyathi lebih menekankan adanya sikap yang bijak dalam menyikapi sebuah perbedaan. Lanjutnya, perbedaan merupakan sunnatullah yang tak bisa dilenyapkan dari kehidupan ini. Bahkan sudah ada sejak sebelum manusia ini dicipatakan.

Ia menjelaskan, dalam pengkategoriannya, perbedaan itu terbagi kepada perbedaan terpuji dan tercela. Perbedaan terpuji yang terjadi di tubuh umat Islam khususnya, merupakan salah satu keistimewaan syariat Islam. Karena dengan adanya perbedaan tersebut justru menunjukkan kekayaan khazanah syariat Islam yang fleksibel, lintas zaman dan tempat. ?

Sedangkan perbedaan yang harus diwanti-wanti adalah perbedaan tercela. Menurut mahasiswa semester VII itu, perbedaan tercela secara global terdapat pada; perbedaan dalam ushuluddin, perbedaan yang berdasarkan hawa nafsu dan pembangkangan, dan perbedaan di luar lingkup ijtihad.

Sementara itu, kebijakan yang harus dipegang dalam menanggapi perbedaan tercela itu bisa ditempuh dengan beberapa hal, di antaranya melakukan kroscek dan klarifikasi, menjelaskan titik kelemahan dan kebathilannya, melakukan nahi-munkar dengan mau’idhah hasanah, berdiskusi serta menjauhi kata-kata yang menyerang, dan yang terakhir adalah tidak serampangan menvonis kafir.

“Salah satu kebijakan dalam dalam mengambil sikap yaitu melakukan klarifikasi dan kroscek terlebih dahulu, sehingga dapat meminimalisir terjadinya permusuhan,” ujarnya.

Berlanjut ke sesi pertanyaan, salah satu audiens, M. Burhanuddin menyoal perihal sikap NU yang menurutnya terkesan tidak terlalu membela dalam aksi-aksi bela Al-Qur’an di Indonesia beberapa waktu lalu. Narasumber pertama, Thohirin menjelaskan bahwa ketidakikutsertakan NU dalam aksi tersebut bukan bermakna NU tidak mempunyai ghairah kepada Islam. Namun, sebagaimana diketahui, tidak semua pihak setuju dengan aksi tersebut.

Oleh karena itu, menurutnya, dalam hal ini pihak NU memilih jalan moderat (tawasuth). Selanjutnya PBNU juga tetap tidak tinggal diam. Bahkan ia terus berupaya dan berusaha menjalani pendekatan dengan beberapa pihak, termasuk pihak kepresidenan. Di sisi lain, juga tidak mencela atau mencaci pihak yang ikut aksi. Narasumber kedua, Ahmat Dimyathi, mengungkapkan pandangannya dalam menyikapi perbedaan tersebut harus dengan bijak, yaitu dengan tidak saling mencaci dan menyalahi.

Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan oleh audiens kepada dua narasumber tersebut hingga acara berakhir ketika azan dzuhur berkumandang. (Aidil Ridhwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama Salaf Online

Rabu, 20 Desember 2017

Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3

Solo, Ulama Salaf Online - Kesebelasan Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Klaten berhasil melenggang ke babak final di Liga Santri Nusantara (LSN) U-18 Region Jateng 3 Zona Soloraya. Hasil tersebut diperoleh setelah mereka berhasil mengalahkan tim dari Boyolali, Al-Ikhlas Dawar dengan skor telak 5-0, pada laga yang digelar di Stadion Kotta Barat, Senin (29/8).

Gol-gol kemenangan Al-Manshur dicetak dari kaki M. Baidlowi di menit ke-5 dan 57’, Rahmadani (37’), Wahidin (50’), dan Rico Diman (56’). Hasil ini mengantar tim Al-Manshur melaju ke final, melawan sang juara bertahan Pesantren Walisongo Sragen.

Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3 (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3 (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3

Sementara itu, tim sepakbola Pondok Pesantren Walisongo Sragen juga berhasil melenggang ke partai puncak, dengan skor yang cukup meyakinkan, 5-0. Masing-masing gol dicetak di Akbar Ramadhani (2 gol), Aldino Salva, Dicky Yuana dan Orananda Endar Aji.

Kemenangan Walisongo ini sudah diprediksi sebelumnya mengingat tim ini masih jadi unggulan lantaran berstatus sebagai juara bertahan Jawa Tengah musim lalu.

Ulama Salaf Online

Berbeda dengan musim lalu yang langsung maju ke level nasional setelah jadi kampiun. Musim ini Jawa Tengah dibagi tiga region. Region 1 meliputi wilayah Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang, dan Cilacap. Region 2 wilayah Kendal, Semarang, Kudus, Demak, Jepara, Blora, dan Pati. Sedangkan Region 3 dipertandingkan di dua wilayah yakni Soloraya dan Magelang (eks Karesidenan Kedu).

Ulama Salaf Online

“Sistem pertandingan berbeda dengan tahun lalu. Target kami jelas masuk putaran nasional. Tim yang menjadi juara di Region 3 akan bertanding lebih dulu dengan kampiun Magelang. Kabarnya kemungkinan besar level nasional digelar di Solo. Ini akan menjadi keuntungan bagi kami,” papar manajer Walisongo, Mustawa.

Namun demikian, Walisongo mesti menjadi pemenang di Region 3 terlebih dulu. “Juara Soloraya nanti akan bertanding melawan juara dari Magelang Raya, setelah itu pemenangnya berhak lolos ke babak 32 besar nasional,” imbuh Koordinator Liga Santri Nasional Region 3 Jateng, Abil Khoirudin. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Halaqoh, Kajian, Nahdlatul Ulama Salaf Online

Selasa, 12 Desember 2017

Kesan Wartawan Non-Muslim Asal Malaysia tentang NU

Jakarta, Ulama Salaf Online

Di sela-sela perhelatan International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil), Amy Chew wartawan asal Malaysia, menceritakan kesan dan pengalamannya kepada Ulama Salaf Online, tentang kehidupan umat Islam, khususnya NU, di Indonesia.

“Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 1998. Saya sampai ke Jakarta 6 minggu sebelum Pak Harto (Presiden Soeharto) lengser. Jadi saya waktu itu banyak meliput aksi demonstrasi setiap harinya,” papar Amy memulai ceritanya, Selasa (10/5), di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Kesan Wartawan Non-Muslim Asal Malaysia tentang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Wartawan Non-Muslim Asal Malaysia tentang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Wartawan Non-Muslim Asal Malaysia tentang NU

Amy yang saat itu menjadi wartawan Reuters meneruskan, suatu hari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menggelar istighotsah di Istora Senayan. Teman-teman Amy memintanya agar berangkat pagi-pagi, karena massa Gus Dur sangat besar.

Ulama Salaf Online

Amy sampai di lokasi 45 menit sebelum acara. Waktu itu Istora Gelora Bung Karno (dulu bernama Istora Senayan) sudah dipadati warga, keadaan pun susah untuk dilewati.

Ulama Salaf Online

“Saya sampai mencopot sandal ketika jalan,” tutur perempuan ini dengan wajah berbinar-binar mengingat semua pengalamannya.

Amy sebenarnya belum tahu sosok Gus Dur seperti apa dan belum mengenal secara dekat. Informasi tentang Gus Dur Amy dapatkan  dari membaca surat kabar.

Amy melihat sajadah-sajadah  peserta istighotsah sudah terhampar di tanah. Orang-orang itu sangat ramah dan menerima Amy dengan mengatakan, “Silakan silakan.”

Keramahan itu membuat Amy sangat tersentuh. Sampai ketika akhirnya Amy bertemu Gus Dur di atas panggung, Amy sungguh terharu.

Menurut Amy, bagaimana sosok pemimpin bisa dinilai dari warganya. Amy mendapati warga NU sangat ramah dan sangat inklusif. Mulai dari situ Amy, tahu. “Oh, ini yang namanya Gus Dur.”

Amy tinggal di Indonesia selama 12,5 tahun. Ia sering meliput acara Gus Dur, dan mendengar pidato Gus Dur. Dari situ ia semakin mengenal Gus Dur dan NU.  Menurutnya, cara NU dalam beragama sungguh indah.

“Buat saya walau saya nonmuslim, cara NU beragama mencerminkan asas nilai-nilai agama Islam yang ramah dan inklusif, penuh kepedulian terhadap orang lain,  bersikap baik walaupun kepada warga nonmuslim,” kata Amy.

Gus Dur turun langsung ke lapangan atau mengerahkan Banser untuk membantu warga nonmuslim dalam kesusahan atau dalam keadaan terancam, misalnya setelah aksi pengeboman gereja pada Natal tahun 2000.

“Saya masih ingat Gus Dur mengerahkan Banser untuk mengamankan gereja. Saya rasa sampai hari ini pun NU seperti itu, semua orang bisa berpartisipasi dan kehidupan beragama dan kehidupan Islam menjunjung tinggi  nilai kekeluargaan, kemasyarakatan, dan persahabatan. Ini bukan hal yang saya baca, tapi sesuatu yang saya alami sendiri.”

Itu sebabnya jika  ada orang bertanya tentang NU, Amy menjawab bahwa NU bukan untuk dipelajari, tapi untuk dialami.

Ketika ditanya kesannya sebagai warga Malaysia bila NU hadir di sana, misalnya melalui Muslimat NU seperti yang sudah berjalan beberapa waktu, Amy merasa sangat senang mendengarnya.

“Saya menyambut kehadiran NU dengan baik karena NU membantu memperkaya Islam, Islam  Nusantara yang amat ramah dan inklusif mencakup nilai-nilai yang ada di Nusantara. Saya menyambut kehadiran NU di  Malaysia,” paparnya. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Olahraga, Pahlawan, Nahdlatul Ulama Salaf Online

Selasa, 28 November 2017

Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang

Umat Islam yang ikhlas dalam melaksanakan ibadah haji akan diselamatkan oleh Allah dari berbagai hambatan dan rintangan, sebagaimana kisah yang disampaikan oleh KH Tb Ahmad Rifqi Chowas saat memberikan tausiyahnya dalam acara walimatus safar di Pesantren Al-Huda, Pungangan, Subang, Ahad (31/7).

Pengasuh Pesantren Darussalam Buntet Pesantren Cirebon ini mengisahkan bahwa pada tahun 1940-an Kiai Abbas Buntet beserta istri dan dua anaknya yaitu KH Mustamid Abbas yang pada saat itu baru aqil baligh dan KH Nahduddin Abbas yang baru saja menginjak usia empat tahun.

Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang

"Kalau Kiai Mustamid itu bisa haji berkat burung perkutut yang dapat nemu dari kebun belakang rumah dan dibeli oleh Kuwu (Lurah) di Cikedung Inderamayu seharga ONH (Ongkos Naik Haji, red)," ujarnya.

Ulama Salaf Online

Kiai yang biasa disapa Kang Entus itu melanjutkan, saat Kiai Abbas dan ribuan calon haji lainnya berada di tengah tengah samudera Indonesia, sang Kapten kapal mendapat telegram berisi ancaman dari tentara Jepang yang akan membombardir dan menenggelamkan kapal beserta isinya.

"Ribuan penumpang itu panik, namun sebagian dari mereka mengadu kepada Kiai Abbas. Akhirnya kiai sepuh ini istikharah," katanya.

Ulama Salaf Online

Hasil istikharah Kiai Abbas, kata dia, jamaah calon haji yang berada di kapal itu boleh melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci, boleh juga balik lagi ke kampung halaman, namun Kiai Abbas beserta keluarganya tetap melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan separuh penumpang kapal, sisanya pulang kampung dengan kapal susulan.

"Akhirnya, jamaah haji ini tiba di Makkah dengan selamat, namun kemudian saat kapal balik lagi ke Indonesia, ternyata kapal yang tadi membawa jamaah haji ini benar-benar di bom oleh Jepang dan teggelam beserta ABK-nya," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Ahlussunnah, Nahdlatul, Kajian Sunnah Ulama Salaf Online

Rabu, 22 November 2017

Seminar Internasional Islam Nusantara Awali Konfercab NU Belanda

Amsterdam, Ulama Salaf Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda hari ini, Senin (27/3), membuka konferensi cabang (konfercab) dengan seminar internasional tentang Islam Nusantara.

Seminar Internasional  Islam Nusantara Awali Konfercab NU Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminar Internasional Islam Nusantara Awali Konfercab NU Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminar Internasional Islam Nusantara Awali Konfercab NU Belanda

Konferensi bertema Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: from Local Relevance to Global Significance ini berlangsung di kampus Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, pukul 10.00 hingga 17.00 waktu setempat.

"Sejak Islam Nusantara menjadi tema di Muktamar Jombang tahun 2015, ini seminar pertama Islam Nusantara yang dilakukan elemen NU di luar negeri," ungkap panitia seminar, Muhammad Shohib kepada Hamzah Sahal di Amsterdam, Ahad (26/3).

Ulama Salaf Online

Seminar internasional ini, kata Shohib, adalah "mandat kultural" PBNU bagi orang atau komunitas NU yang tinggal di luar negeri. "Tapi bagi kami pengurus cabang istimewa syiar Islam Nusantara ke dunia adalah mandat institusional, atau wajib. Sebab, PCI NU bagian dari struktur Nahdlatul Ulama," tambahnya.

Ulama Salaf Online

Senada dengan Shohib, Ahmad Dakhoir dari IAIN Palangkaraya mengatakan bahwa seminar ini menjadi pionir gerakan Islam tradisional Indonesia di dunia internasional. Tapi di sisi lain juga menjadi kelanjutan dari gerakan ulama-ulama Indonesia yang telah lama berkiprah di dunia, khususnya Timur Tengah.

"Seminar ini kampanye penting tentang Islam di Indonesia yang muktikultural. Topik yang diangkat betul-betul Indonesia yang relevan untuk dunia, khususnya kehidupan beragama," tambah Dakhoir yang ke Belanda untuk membimbing dua mahasiswanya yang akan presentasi dalam seminar tersebut. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Berita, Nahdlatul, Aswaja Ulama Salaf Online

Selasa, 21 November 2017

Kang Said: Ulama, Tonggak Ilmu-ilmu Keislaman

Jakarta, Ulama Salaf Online

Keberlanjutan Islam yang diperjuangkan Rasulullah dan sahabatnya bergantung pada prestasi para ulama. Pasalnya, ilmu-ilmu keislaman justru banyak muncul dari generasi tabi’in, tabi’ut tabiin, dan setelahnya.

Pandangan ini disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat membuka Pendidikan Kader Dai yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di Jakarta, Senin (13/5) petang.

Kang Said: Ulama, Tonggak Ilmu-ilmu Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Ulama, Tonggak Ilmu-ilmu Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Ulama, Tonggak Ilmu-ilmu Keislaman

Kiai yang akrab disapa Kang Said ini mencontohkan betapa al-Qur’an di periode awal tersusun dalam huruf yang amat sederhana. Baru sesudah tahun 62 Hijriyah melalui tangan Abul Aswad ad-Du’ali tanda titik muncul, lalu disempurnakan Imam Khalil al-Farahidi dengan menyertakan harakat pada huruf.

Dari al-Qur’an, disiplin keislaman terus berkembang dengan hadirnya ilmu Tajwid rintisan Imam Abu Ubayd Qasim bin Salam, Mushalahul Hadits yang dipelopori Syihabuddin Ramahurmuzi, tafsir, fiqih, dan lain sebagainya.

”Jadi Islam itu menuntut kita untuk berilmu secara cerdas, berkreasi, dan yang sudah menciptakan ilmu itu kebanyakan adalah tabiin, tabiit tabiin. Sahabat hanya menciptakan beberapa ilmu saja,” ujar Kang Said.

Ulama Salaf Online

Di hadapan sekitar seratus dai, Kang Said mengajak umat Islam untuk tidak keliru memahami slogan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits dengan cara meninggalkan ulama. Menurut dia, ulama telah menyumbangkan tradisi keilmuan yang kaya.

” Walhasil, Islam itu adalah agama pengetahuan, mendorong umatnya untuk berpengetahuan,” tuturnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama Salaf Online

Sabtu, 11 November 2017

Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE

Jember, Ulama Salaf Online. Aswaja Center NU Jember melakukan langkah maju di bidang penulisan. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari diterbitkannya Majalah OASE. Peluncuran majalah tersebut dilakukan di sela-sela pertemuan bulanan warga nahdliyyin di halaman Kantor PCNU Jember, Senin (7/8) malam.

Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE

Direktur Aswaja Center NU Jember, Kiai Abdul Haris menegaskan bahwa penerbitanmajalah tersebutdimaksudkan sebagai media dakwah NU  sekaligus media silaturrahim antar warga nahdliyyin. Lebih dari itu, kehadiran OASE dirancang untuk mengimbangi penetrasi penerbitan media cetak yang selama ini gencar dilancarkan oleh sejumah kelompok kontra Aswaja An-Nahdliyah.

"Bagaimanapun, kita harus mengimbangi untuk memberikanpencerahan, yang salah satunya lewat media ini," tukas Kiai Abdul Haris saat meluncurkan OASE.

Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Jember tersebut berharap agar kehadiran OASE dapat menjadi penyejuk di tengah riuhnya  tudingan dan berita-berita provokatif cenderung menyudutkan amaliah NU. Karenaitu, ia mohon dukungan dari segenap warga NU demi kesinambungan media dakwah tersebut. 

Ulama Salaf Online

"Isitilahnya bukan membeli, tapi beramal dengan menyumbang untukmemperoleh majalah ini,meski sumbangantersebut ada batas minimalnya," lanjut Kiai Abdul Haris.

Majalah OASE tampil menawan, dengan tebal 43 halaman full colour. Di box redaksi, pelindung adalah KH. Muhyidin Abdusshomad dan KH. Abdullah Syamsul Arifin (Rais Syuriyah dan Ketua PCNU Jember). Sedangkan pemimpin umum dijabat oleh Kiai Abdul Haris sendiri. Sementara pemimpin redaksi ditangani  oleh Abdul Wahab Ahmad. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pendidikan, Nahdlatul, RMI NU Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Minggu, 22 Oktober 2017

Sempat Vakum, IPNU-IPPNU Sewon Aktif Kembali

Bantul, Ulama Salaf Online - Tujuan diadakan rekrutmen melalui Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) adalah mengenalkan Nahdlatul Ulama khususnya IPNU dan IPPNU kepada para peserta. Makesta kali ini diadakan untuk mengerakkan kembali Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Sewon yang telah lama vakum.

Demikian diungkapkan Ketua IPNU Bantul Ahmad Sidiq usai Makesta yang berlangsung di SMP Ma’arif Bantul di Sorogenen Sewon, Pesantren Nurul Iman, Sabtu-Ahad (30-31/1).

Sempat Vakum, IPNU-IPPNU Sewon Aktif Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Vakum, IPNU-IPPNU Sewon Aktif Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Vakum, IPNU-IPPNU Sewon Aktif Kembali

Acara yang dihadiri oleh 45 peserta ini mendatangkan beberapa pembicara antara lain Wakil Sekretaris PWNU DIY Masyhuri, Ketua MWCNU Sewon H Mahmud Jawahir, pengurus GP Ansor Sewon, dan juga pengurus IPNU-IPPNU Bantul.

Ulama Salaf Online

Penyebab kevakuman IPNU-IPPNU Sewon, menurut Ahmad Sidiq, adalah karena adanya bencana gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada 2006.

Ulama Salaf Online

“Mungkin karena adanya gempa tersebut, para pengurus kehilangan semangat dan akhirnya tidak aktif lagi. tetapi, saya belum melakukan kroscek kepada para senior IPNU-IPPNU Sewon terkait hal tersebut,” ujar Sidiq.

Dalam acara tersebut, para peserta yang terdiri dari para pelajar dan santri ini sangat antusias mengikuti jalannya acara. Banyak ide-ide kreatif yang muncul ketika diadakan forum diskusi.

“Forum seperti inilah yang membuat hidup karakter seorang pelajar,” tambah Sidiq.

Ia berharap IPNU-IPPNU Sewon menjadi barometer IPNU-IPPNU Bantul. (Nur Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Cerita, Hikmah, Nahdlatul Ulama Salaf Online

Kamis, 19 Oktober 2017

Pandangan Visioner Para Sufi

Surabaya, Ulama Salaf Online. Sejak awal, sufisme dalam Islam diwatakkan oleh sebuah penekanan pada masalah-masalah spiritual fundamental tertentu. Hal ini memberi sebuah kunci pada doktrin-doktrin esoteriknya sebagaimana telah dibongkar selama berabad-abad kemudian. Para sufi senantiasa berkonsentrasi pada pemahaman visioner (batin) dan praktis (lahir), melawan pemahaman yang murni spekulatif atau teoritis terhadap pemaknaan “wujud”.?

“Bagi kaum sufi, pemahaman teoritis yang berpangkal pada rasio dianggap hampa terhadap keuntungan spiritual dan bahkan secara sosial dan moral membawa seseorang pada kekaburan atas kebenaran,” kata Kiai Said Aqil dalam pengukuhan guru besar ilmu tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/11).

Pandangan Visioner Para Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Visioner Para Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Visioner Para Sufi



Adanya pemahaman terhadap ‘wujud’ secara visioner menyiratkan penglihatan hati, sebuah kemampuan penglihatan yang dikenal hanya oleh “para pemilik hati” yakni mereka yang selalu menjauhkan diri dari wilayah ego dan kepribadian temporal berkat cinta ilahi dan merenungkan Tuhan melalui penglihatan Tuhan. Pendekatan visioner semata didasarkan pada cinta dan dipraktikkan oleh mereka yang bebas dari kepentingan pribadi.?

Ulama Salaf Online

“Dengan pendekatan visioner ini, sesungguhnya kaum sufi hendak membangun relasi interpersonal dengan Tuhan yang terbina secara progresif dan dinamis. Relasi tersebut menuntut sufi untuk meminimalkan bahkan menagasikan segala interaksi (‘alaqah) dengan kefanaan, realitas selain Tuhan. Cinta kepada-Nya tak boleh dicemari dengan hal-hal profan.” ? ?

Pendekatan visioner ini, kata Kiai Said, secara praksis justru bisa membawa implikasi-sebagaimana dinyatakan oleh Javad Nurbakhsh bahwa keyakinan sufistik yang menekankan sikap pelayanan pada masyarakat, memberi panutan kemuliaan manusia, meneladankan semangat kerja, kedermawanan, kesopanan spiritual, sikap sayang kepada binatang, dan toleransi yang begitu besar terhadap agama lain.

Penekanan pada sikap praksis ini menjadi jelas, lantaran pemahaman spiritual sufi terfokus pada satu media, yaitu hati manusia (al-qalb). Hati yang diposisikan sebagai persemayaman untuk seluruh pengalaman spiritual adalah “singgasana” Tuhan yang dititipkan pada diri manusia. Karena telah berada dalam diri manusia, maka hati merupakan ruang terbuka tempat bermuaranya seluruh intuisi dan potensi.?

Ulama Salaf Online

“Disinilah tepat dikatakan bahwa tasawuf merupakan ilmu tentang kedudukan atau tingkatan hati (maqamat) dan kondisi spiritual (ahwal). Dalam Hadits Qudsi dikatakan, ”Seandainya Aku butuh tempat, langit dan bumi tidaklah cukup buat-Ku, Yang cukup bagi tempat-Ku adalah hatinya orang mukmin”.”?

“Lantas apa sebenarnya makna hati itu sendiri? Kaum sufi sebagaimana kita tahu berurusan dengan masalah hati. Kita sering mendengar dan membaca ada istilah akal dan pikiran. Dua kata tersebut sebagai kata benda tidak terdapat dalam Al-Quran. Al-Quran menunjukkan aktivitas akal dan pikiran sebagai kata kerja. Seperti kita baca ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan afala tatafakkarun atau afala ta’qilun. Artinya di sini, bahwa akal dan pikiran sebagai kegiatan bernalar dan merenungi yang perlu dilakukan oleh setiap insan.”?

Sementara, istilah qalb yang diartikan secara popular sebagai hati merupakan wujud ruhani. Jadi istilah qalb tidak mesti merujuk pada segumpal daging yang biasa disebut hati yang terdapat dalam tubuh manusia. Pemaknaan qalb lebih tertuju pada suatu “ruhani” yang sifatnya metafisik, bukan materi. Ruhani dan jasmani sendiri tidaklah berhubungan secara kausalitas, melainkan sifat hubungannya aksidental. Di dalam ruhanilah tersimpan ide-ide kebaikan dan universalitas yang tidak berhubungan dengan keadaan tubuh atau jasmani. ?

Pendeknya, pemahaman visioner ini merupakan sebuah praktik yang dijangkarkan pada pengalaman dan perwujudan langsung, Ma’rifat yang diwujudkan dalam bentuk wahyu dan penglihatan batin atau membebaskan seseorang dari kesadaran diri dan membawanya menuju kehidupan dalam Tuhan. Jadi ketika Al-Hallaj berteriak “Akulah Kebenaran; ana Al-Haqq”, dia sesungguhnya adalah sebuah trompet yang sedang ditiup oleh nafas Tuhan. Atau ketika ? Abu Yazid berteriak “Maha suci Aku, betapa agungnya Aku ini; subhani ma a’dhama sya’ni”, ia adalah firman Tuhan melalui dirinya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama Salaf Online

Sabtu, 23 September 2017

Perintah Ayatnya Sama, Praktiknya Boleh Berbeda

Jepara, Ulama Salaf Online. Kalam Allah yang diturunkan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad bunyi perintahnya sama namun dalam praktiknya bisa saja berbeda. Hal itu mengemuka dalam pengajian akbar dalam rangka Harlah Majlis Kenduri Syafaat ke-7 dan Haul ke-9 Kiai Muhammad Suhaimi berlangsung di pesantren Nailun Najah Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.  

KH Muwafiq saat memberikan tausiyah pada Ahad (7/9) malam itu menyontohkan perintah menikah. Menurut dia orang Arab lebih condong menikah masna wasulatsa waruba. Maka di sana lanjut kiai asal Yogyakarya itu suka poligami.

Perintah Ayatnya Sama, Praktiknya Boleh Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Perintah Ayatnya Sama, Praktiknya Boleh Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Perintah Ayatnya Sama, Praktiknya Boleh Berbeda

Namun sejatinya, lanjut Gus Muwafiq Nabi Muhammad telah menegur Ali saat hendak menduakan Fatimah. Jika Ali benar-benar hendak poligami Nabi meminta mengembalikan Fatimah kepadanya.

Ulama Salaf Online

Hal itu, tambah kiai nyentrik itu jika diterapkan di Indonesia menunai banyak dilema semisal yang dilakukan Aa Gym. Perintah shalat juga demikian. Di Arab sebelum adzan dan iqamah jamaah sudah datang mendahului.

Di Nusantara berbeda. Para penyebar agama, jelasnya mempunyai siasat agar muslim mau jamaah. “Adzan dzuhur dikumandangkan jam 13.30 WIB. Itu saja jamaah tidak lantas datang,” paparnya.

Ulama Salaf Online

Setelah adzan, dilanjutkan dengan untaian shalawat. Shalawatnya sesuai dengan konteks kampung bisa dilantunkan ala dangdut, nasidaria, pop dan lain-lain.

Karenanya, ia menegaskan adanya perbedaan dalam praktik tidak lain untuk meneguhkan cinta. Cinta kepada Sang Pencipta. Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Dari itu, orang yang sedikit-sedikit membidahkan urainya tidak tahu kedudukannya. “Janganlah mudah untuk membidahkan!” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Meme Islam, Khutbah Ulama Salaf Online

Rabu, 20 September 2017

Obor dan Gambus, Suguhan Pesantren Alpansa Sambut Kirab Resolusi Jihad

Klaten, Ulama Salaf Online. Setelah diterima di Pendopo Kabupaten Sragen dan bersilaturahmim ke Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo, Tim Kirab Resolusi Jihad NU bersilaturahim ke Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) Senin (17/10) malam.?

Memasuki kawasan pesantren yang berada di Desa Troso, Karanganom, Klaten, para santri dan segenap keluarga besar Pesantren Alpansa menyambut dengan iringan marching band konvoi obor. Tim pun dikawal dalam barisan konvoi. Sementara para santri yang tidak masuk barisan konvoi, berdiri di kanan dan kiri arena konvoi hingga mengular sepanjang kurang lebih 300 meter.?

Obor dan Gambus, Suguhan Pesantren Alpansa Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Obor dan Gambus, Suguhan Pesantren Alpansa Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Obor dan Gambus, Suguhan Pesantren Alpansa Sambut Kirab Resolusi Jihad

Para santri itu berdiri tegak dengan kedua tangan masing-masing saling bertautan. Mulut mereka melafalkan solawat hingga Tim memasuki ruang upacara penyambutan di halaman makam H Muslim Rifa’I Imampuro atau yang lebih akrab dikenal sebagai Mbah Liem.

Masih dalam posisi berdiri, Tim pun diajak mengumandangkan lagu Indonesia Raya, tanda upacara penyambutan sudah dimulai. Suara mereka menyatu dengan suara seluruh hadirin. Tak lupa lantunan doa dan tahlil dipanjatkan.

Ulama Salaf Online

Ketua Yayasan Ponpes Alpansa A. Muhammad Choiri Fatkullah berpesan agar para peserta kirab dapat menjiwai makna kirab, sehingga dapat mewarnai Indonesia dan dunia, menegakkan rasa aman dan damai.?

Sementara itu, Ketua PCNU Klaten H Mujiburohman menyampaikan, adalah tepat Tim Kirab singgah di Ponpes Alpansa. Karena dapat meneladani Mbah Liem, yang dikenal sebagai tokoh ulama yang sangat memedulikan persoalan kebangsaan. Hal itu merupakan acuan dalam kehidupan di Indonesia.?

Selesai mendengarkan sambutan, 21 personel Kelompok Gambus Alpansa siap menghibur. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan begitu terasa. Juga lelah yang sebenarnya dirasakan anggota Tim, seakan sirna. Tidak hanya mendengar dan melihat aksi Gambus Alpansa, Tim juga ikut bernyanyi dan menari, bahkan memesan sebuah lagu.

Tetapi hanya dua judul lagu yang bisa mereka nikmati, karena perjalanan Tim harus segera berlanjut, yakni ke Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak, Yogyakarta. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Sholawat, Pertandingan, Nahdlatul Ulama Salaf Online

Kamis, 06 April 2017

Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga

Dalam keseharian, setiap orang diharuskan untuk selalu menambah kebaikan dan selalu bertambah baik setiap harinya. Seperti kata pepatah: hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. ? Ketika seseorang berhenti dan merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dilakukan, maka itu adalah hal yang kurang bisa dibenarkan.

Begitu pun dalam sikap beragama kita. Sedari mula kita diajarkan untuk menempuh satu persatu ajaran Islam, melaksanakan kewajiban dan kesunnahan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan ulama yang bisa diteladani. Tentunya tidak bisa berhenti di situ. Banyak ilmu Allah yang belum diketahui. Pemahaman dan perilaku beragama kita tidak boleh dirasa puas dengan capaian-capaian tertentu.

Puasa Ramadan, adalah bagian dari syariat Islam, bahkan dikenal sebagai rukun Islam. Allah memerintahkan umatnya yang beriman untuk menunaikan puasa, dengan tujuan menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan ini akan menghantarkan pelaku puasa menjadi hamba yang dikasihinya, karena sebagaimana disebut dalam banyak ayat Al Quran: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga

Bagaimana ketakwaan seorang hamba sehingga bisa mendekatkan seseorang kepada Allah? Kitab Kifayatul Atqiya’wa Minhajul Ashfiya’ karya Sayyid Al Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyathi menjelaskan bahwa takwa adalah pusat segala sumber kebahagiaan. Takwa diartikan sebagai sikap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik yang bersifat lahir maupun bersifat batin karena mengenal kuasa dan keagungan Allah.

Kitab yang menjadi syarah dari kitab Hidayatul Adzkiya’ila Thariqil Awliya’ karya Syekh Zainuddin Al Malibari ini menyebutkan bahwa menjaga ketakwaan dan menjauhi hawa nafsu itu ditempuh dengan mengamalkan syariat, thariqat, dan hakikat.

Disebutkan dalam syair:

Ulama Salaf Online

? ? ? ? # ? ? ? ? ?

Ulama Salaf Online

Syariat itu seperti kapal, dan thariqat itu seperti lautan. Dan Hakikat adalah mutiara (di lautan) yang bernilai mahal.

Lebih lanjut disebutkan, bahwa seseorang yang hendak mencapai derajat muttaqin dan dekat dengan Allah, harus menempuh laku syariat. Ia harus mau “naik kapal” yang telah ditetapkan oleh Allah, menekuninya dengan konsisten. Tidak mungkin seseorang akan mampu mengarungi lautan yang luas, tanpa naik kapal terlebih dahulu. Ia pun jadi tak kenal lautan, tak tahu keadaan. Demikian kurang lebih dalam Kifayatul Atqiya’.

Thariqat sebagai proses suluk dimaknai sebagai sikap untuk menahan diri, konsisten dalam beramal, serta menjaga dari hal-hal yang merusak kebaikan suatu amal. Jika syariat menekankan pada memenuhi rukun dan menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan keabsahan ibadah, maka thariqat sebagai proses menuju derajat muttaqin ini adalah menjaga diri dari hal-hal yang mengurangi nilai ibadah tersebut. Jadi bagaimana bisa mencapai derajat yang lebih tinggi tanpa mengenal syariat secara mencalam terlebih dahulu?

Setelah menaiki kapal syariat, lalu ngelangi, mengarungi lautan proses thariqat, maka diharapkan seorang hamba bisa menjaga ketakwaan, menjaga diri dari menuruti hawa nafsu dan godaan setan, lantas menemukan mutiara-mutiara hakikat ibadah sehingga bisa dekat dengan Allah. Semoga syariat puasa yang kita amalkan ini tidak berhenti pada taraf yang dikatakan Rasulullah: “Banyak orang puasa yang tidak mendapat apa pun kecuali lapar dan dahaga”, serta semakin bisa mendekatkan diri kepada Allah sebagai orang yang bertakwa. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Quote, IMNU Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock