Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu

Guna mempersiapkan kader NUyang bermutu, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Jawa tengah akan menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator ke-2 tahun 2014.

Kegiatan ini akan di selenggarakan pada tanggal 23-25 Desember 2014 di Wisma Anak Mandiri kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu

Syarat mengikuti kegiatan tersebut di antaranya: pernah mengikuti LAKUT (dibuktikan dengan sertifikat), membuat paper dengan tema "IPNU-IPPNU dan Tantangan Bangsa" minimal 5 halaman kertas HVS A4, spasi 1,5, dan font Times New Roman.

Untuk info pendaftaran dan sebagainya bisa menghubungi 082 234 141 107 (Much Mashum) dan 085 876 212 380 (Rofika Cicau). (Ahmad Syaefudin/Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Khutbah Ulama Salaf Online

Senin, 26 Februari 2018

Hukum Adzan dan Iqamah Dilakukan oleh Orang Berbeda

Melaksanakan shalat berjamaah biasanya tidak terlepas dari adzan dan iqamah. Adzan adalah sarana untuk mengingatkan para Muslim atas masuknya waktu shalat sekaligus menjadi pemanggil bagi mereka untuk melangkahkan kaki dan berjamaah bersama di masjid. Sedangkan iqamah (qamat) adalah sarana untuk mengingatkan Muslim bahwa shalat jamaah akan dilaksanakan segera.

Biasanya kita sering melihat bahkan menjadi budaya di sebagian daerah bahwa setiap orang yang adzan (muadzin) maka dia lah yang seharusnya mengumandangkan iqamah juga. Benarkah hal ini menjadi sebuah keharusan? Apakah diperkenankan jika adzan dan iqamah dikumandangkan oleh orang yang berbeda?

Hukum Adzan dan Iqamah Dilakukan oleh Orang Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Adzan dan Iqamah Dilakukan oleh Orang Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Adzan dan Iqamah Dilakukan oleh Orang Berbeda

Abu Dawud dalam Sunan-nya membuat sebuah bab khusus yang menjelaskan tentang hal ini. Abu Dawud menamai bab tersebut dengan “Babu fir Rajuli Yuadzinu wa Yuqimul Akhar” (Bab yang menjelaskan seorang laki-laki melakukan adzan dan iqamahnya dilakukan oleh orang lain). Dalam bab ini Abu Dawud mencantumkan tiga hadits.

Ulama Salaf Online

Pertama, hadits yang menjelaskan tentang kebolehan bergantian adzan dan iqamah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid.

? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: " ? ? ?. ? ?". ? ?. ? ?: ? ? ? ? ?. ?: " ? ?"

Ulama Salaf Online

Artinya, “Dari Abdullah bin Zaid, ia berkata, ‘Nabi ingin melakukan beberapa hal dalam adzan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.’ Kemudian Abdullah bin Zaid diperlihatkan kalimat adzan melalui mimpinya. Lalu Abdullah bergegas mendatangi Nabi SAW dan memberitahukannya. Nabi pun berkata, ‘Berikan adzan itu kepada Bilal. Abdulah pun memberikan kepada Bilal. Bilal pun melaksanakan adzan.’ Abdullah bin Zaid berkata, ‘Saya melihat dalam mimpi bahwa saya menginginkan iqamah.’ Nabi pun lalu berkata, ‘Kumandangkanlah iqamah!’”

Tetapi hadits di atas hukumnya dhaif karena ada salah satu perawi dhaif dalam rangkaian sanad hadits tersebut. Rawi tersebut bernama Muhammad bin Amr Al-Waqifi.

Kedua, hadits yang mendukung kebolehan bergantian tersebut. Hadits ini menjadi pendukung dari hadits di atas akan tetapi hadits ini juga berstatus dhaif.

Ketiga, hadits yang menjelaskan anjuran agar adzan dan iqamah dilakukan oleh satu orang. Seorang yang mengumandangkan adzan, maka dia juga yang mengumandangkan iqamah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ziyad bin Al-Haris As-Shadai.

Saat itu waktu Subuh, Ziyad mengumandangkan adzan pertama, kemudian Bilal ingin iqamah tapi Nabi mencegahnya. Nabi kemudian berkata,

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sungguh saudaramu yang bagus itu telah mengumandangkan adzan, siapa yang mengumandangkan adzan, dia lah yang mengumandangkan iqamah.”

Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi dengan mengutip Al-Hafiz Al-Hazimi menjelaskan bahwa para ahli ilmu bersepakat tentang kebolehan bergantian adzan dan iqamah. Ibnu Malik mengatakan bahwa hal tersebut makruh tetapi menurut Imam Syafi’i dan Abu Hanifah tidak makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam Syafi’i berpendapat dan Abu Hanifah mengatakan bahwa hal itu tidak makruh. Atas dasar riwayat bahwa Ibnu Umi Maktum ketika adzan, maka yang iqamah adalah Bilal, begitu juga sebaliknya. Sedangkan hadits tersebut mengandung pesan agar orang yang adzan tidak ditimpa rasa kesedihan akibat iqamah dilakukan orang lain.”

Mereka berbeda pendapat terkait manakah yang lebih utama. Sebagian besar berpendapat tidak ada bedanya. Tetapi beberapa ulama seperti Malik, sebagian besar ahli Hijaz, Abu Hanifah dan sebagian besar ahli Kufah berpendapat bahwa yang lebih utama adalah adzan dan iqamah itu dilakukan oleh satu orang. Hal ini juga diungkapkan oleh Imam Ats-Tsauri dan Imam Syafi’i.

Sebenarnya larangan Nabi agar Bilal tidak iqamah dalam hadits riwayat Abu Dawud di atas adalah dalam rangka untuk menjaga hati si muadzin agar tidak kecewa sehingga para ulama tidak mempermasalahkan kebolehan bergantian. Tetapi mereka tetap bersepakat bahwa yang paling utama adalah adzan dan iqamah dilakukan oleh satu orang, yakni agar tidak terjadi kekecewaan di hati seorang muadzin. (Muhammad Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kyai, Quote Ulama Salaf Online

Jumat, 23 Februari 2018

Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian

Lombok Tengah, Ulama Salaf Online. Ekspedisi Islam Nusantara yang dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh tiba di pulau Lombok pada Ahad (5/6). Mereka disambut Wakil Bupati dan pengurus NU di Desa Lendang Simbe, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiba di Lombok, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Ragam Kesenian

Mereka disambut dengan iringan gendang baleq. Kemudian satu per satu tim Ekspedisi Islam Nusantara dikalungi songket khas Sasak.

Menurut salah seorang tokoh kesenian Sasak, Lalu Putria, gendang beleq pada mulanya adalah kesenian penyemangat kepada prajurit perang di kerajaan Sasak di masa lampau.

Ulama Salaf Online

“Di era kekinian gendang beleq dijadikan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang hadir di bumi Sasak ini,” katanya.

Ulama Salaf Online

Setelah disambut, kemudian Ekspedisi Islam Nusantara disuguhi penampilan pria-pria pemberani sasak, melalui presean. Menurut Lalu, presean adalah olahraga kedigjayaan pria Sasak untuk memilih prajurit tangguh pada era kerajaan.

“Saat ini olahraga tersebut untuk menunjukkan sebagai sifat kekesatriaan para lelaki Sasak,” lanjutnya.

Kemudian tim Ekspedisi Islam Nusantara berpindah tempat ke Pondok Pesantren Nurul Qur’an. Mereka berjalan kaki sekitar 300 meter sambil tetap diiringi gendang beleq.

Di pesantren tersebut lagi-lagi disambut kesenian, yaitu marawis dari santri putra dan putri serta tarian rudat.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat TGH Ahmad Tqiyuddin Mansur, Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah TGH Ma’ruf Ma’mun, putra TGH Faisal yaitu TGH Habib Rahman, dan para tuan guru lain, serta ratusan masyarakat di sekitar pesantren. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Anti Hoax, Quote, Hadits Ulama Salaf Online

Minggu, 18 Februari 2018

Kiai Manan Sebut Pentingnya Berorganisasi untuk Perjuangkan Kebenaran

Pohuwato, Ulama Salaf Online. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani mengatakan, untuk memperjuangkan kebenaran maka umat Islam harus berorganisasi agar gerakan dan dakwah mereka menjadi terorganisir dan tertata.

“Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan kebatilan yang terorganisir,” kata Kiai Manan dalam acara Pelatihan Pemuda Pelopor di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Pohuwato Provinsi Gorontalo, Rabu (6/12).

Pada dasarnya, lanjutnya, perjuangan itu tidak bisa dilakukan sendirian. Nabi Muhammad, juga menghimpun sahabat-sahabatnya untuk bersama-sama menyebarkan dan mendakwahkan Islam kepada masyarakat Arab zaman itu.

Kiai Manan Sebut Pentingnya Berorganisasi untuk Perjuangkan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manan Sebut Pentingnya Berorganisasi untuk Perjuangkan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manan Sebut Pentingnya Berorganisasi untuk Perjuangkan Kebenaran

Menurut dia, manusia diciptakan Allah itu sebagai umat atau kelompok, bukan individu-individu yang berdiri sendiri karena manusia itu secara kodrati adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan yang lainnya. 

Wakholaqol insanu dho’ifa (dan aku Allah menjadikan manusia itu lemah),” ucapnya mengutip ayat Al-Qur’an.

Lebih lanjut, Kiai Manan menuturkan, dengan adanya organisasi yang menjadi kekuatan masyarakat sipil maka konflik antar anak bangsa bisa diredam. Di Indonesia ada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas lainnya sehingga tidak ada konflik langsung antara masyarakat dengan pemerintah. 

Ulama Salaf Online

“Di Indonesia ada kiai-kiai yang terorganisir di bawah NU misalnya. Sehingga tidak mudah diprovokasi,” jelasnya.

Sementara di beberapa negara Islam seperti Afghanistan, Suriah, Yaman, Irak, dan lainnya tidak ada kekuatan masyarakat sipil seperti di Indonesia. Ketika terjadi konflik antara satu dengan yang lainnya, maka mereka tidak mudah didamaikan.

Ulama Salaf Online

“Berorganisasi harus, berorganisasi itu penting,” cetusnya.

Kenapa harus ber-NU

Kiai asal Cirebon itu menyebutkan, ada tujuh alasan mengapa umat Islam Indonesia –bahkan dunia- harus ikut organisasi NU, yaitu NU didirikan para ulama, ulama adalah pewaris nabi, ulama NU adalah penerus Wali Songo, NU berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, sanad keilmuan NU sampai kepada Nabi Muhammad, NU berdiri di atas kebenaran, dan NU memiliki pandangan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sesuatu yang sudah final.  

Acara pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara Lembaga Ta’mir Masjid PBNU bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI. Tema yang diangkat adalah Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng dan Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI. Di Provinsi Gorontalo, acara ini diadakan selama hari di lima kabupaten kota, yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, dan Kabupaten Bone Bolango. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Nasional Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Februari 2018

Kota Solo Bersiap Sambut Tamu Haul Habib Ali ke-106

Solo, Ulama Salaf Online. Menjelang puncak peringatan haul ke-104 penulis kitab maulid Simtuddurar Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi di Masjid Riyadh Solo, Jawa Tengah, Senin-Selasa (8-9/1) para tamu dari berbagai luar kota mulai hadir di Kota Solo.

Pihak Pemerintah Kota Solo bahkan telah mempersiapkannya sejak hari Ahad (6/9), dengan mengalihkan sebagian arus lalu lintas. Melalui edaran yang dikeluarkan Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Jalan Kapten Mulyadi yang berada di depan Masjid Riyadh selama 3 hari ke depan akan ditutup.

Kota Solo Bersiap Sambut Tamu Haul Habib Ali ke-106 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kota Solo Bersiap Sambut Tamu Haul Habib Ali ke-106 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kota Solo Bersiap Sambut Tamu Haul Habib Ali ke-106

“Untuk mengantisipasi kemacetan akan dilakukan beberapa perubahan arus lalu lintas, antara lain di Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Ahmad Dahlan,” terang Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta Hari Prihatno.

Sementara itu, salah satu perwakilan keluarga, Habib Muhammad bin Husein bin Anis, menuturkan rangkaian acara haul di Masjid Riyadh akan digelar selama 3 hari.

Ulama Salaf Online

“Rangkaian peringatan haul akan dilaksanakan mulai Ahad bakda ashar, dengan kegiatan Rauhah,” terangnya.

Ditambahkan dia, sejumlah kegiatan lainnya juga akan diadakan untuk memeriahkan acara haul ini. “Selama 3 malam berturut-turut, akan ada penampilan hijir marawis dan tarian zafin,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Quote, Nahdlatul Ulama Ulama Salaf Online

Sabtu, 03 Februari 2018

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Magelang, Ulama Salaf Online. Sinar Mentari pagi yang cerah menyambut ribuan guru yang mulai berdatangan ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Magelang, Sabtu 19 September 2015. Mereka menggunakan kaos putih berlengan hijau bertuliskan "Saatnya Maarifku bangkit" ini hendak mengikuti jalan sehat yang digelar pengurus Cabang LP Maarif NU Kabupaten Magelang dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-56 Lembaga Maarif NU.?

Kegiatan dengan melibatkan ribuan pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan NU tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan sikap perjuangan dan pengorbanan untuk Nahdlatul Ulama, menyehatkan badan juga ? mengingatkan masyarakat tentang hari lahir Lembaga Maarif yang notabene mengurusi bidang pendidikan Nahdlatul Ulama.

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Bambang Ardiansyah, ketua Maarif NU Magelang mengatakan kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Lembaga Maarif siap menerima amanah membantu mencerdaskan anak bangsa dalam bingkai Islam Ahlusunnah wal Jamaah sehingga ? diharapkan warga NU menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah maupun madrasah di bawah naungan Lembaga Maarif agar terhindar dari doktrinasi paham dan aliran sesat yang dalam beberapa tahun ini meluas.

Ulama Salaf Online

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengajak para guru bersemangat mengajar agar mendapat kepercayaan masyarakat.

Ribuan guru ? sejak pukul 07.00 WIB sudah mulai berdatangan, dan memenuhi parkiran kantor PCNU dan sekitarnya. Acara sendiri dimulai jam 08.00 WIB dengan start dan finish di halaman kantor tersebut.

Ulama Salaf Online

Jalan sehat yang dilepas oleh Wakil Bupati Magelang tersebut mengambil rute mengelilingi desa Bojong kecamatan Mungkid kurang lebih sejauh 3 km. Diakhir acara panitia membagikan ratusan doorprize dan sebagai hadiah utama berupa TV LED, sepeda, kompor gas dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Islam, Quote Ulama Salaf Online

Selasa, 16 Januari 2018

Pertandingan Sengit Babak 16 Besar LSN Siap Tersaji

Jakarta, Ulama Salaf Online. Setelah hasil rapat koordinasi di PP PON Kementerian Pemuda dan Olahraha, Jakarta Timur, Jumat, (16/10). Kompetisi sepak bola U-17 Liga Santri Nusantara (LSN) babak 16 besar akan digulirkan 26-31 Oktober 2015 dengan mengambil lokasi pertandingan di Lapangan Sepakbola AURI/PSAU Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma.

"Undian pertandingan sudah kami lakukan. Begitu juga dengan besaran hadiah yang akan diterima oleh pemenang," kata Ketua Panitia LSN 2015, Mukaffi Makki.

Pertandingan Sengit Babak 16 Besar LSN Siap Tersaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertandingan Sengit Babak 16 Besar LSN Siap Tersaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertandingan Sengit Babak 16 Besar LSN Siap Tersaji

Kompetisi yang bekerjasama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut akan memperebutkan Piala Menpora, dan juara pertama akan mendapatkan uang pembinaan Rp100 juta, juara dua 75 juta, dan juara ketiga 50 juta.

“Untuk hadiah uang pembinaan yang telah ditentukan kemarin, ada tambahan hadiah untuk juara harapan sebesar 25 juta, pemain terbaik, pelatih, dan top score masing-masing mendapatkan 10 juta,” kata Mukaffi Makki.

Sebelum persiapan menuju ke babak 16 besar Panpel LSN akan melakukan screening pemain. Proses screening melewati tiga tahap, administrasi, fisik, dan kesehatan.

Ulama Salaf Online

“Panitia screening terdiri dari perwakilan dokter umum/dokter tulang, dokter gigi, kepolisian dan Panpel LSN. Untuk administrasi, para official klub wajib menunjukkan ijazah dan akte kelahiran yang asli, atau salah satunya,” tambah Mukaffi Makki.

Berikut hasil undian pertandingan babak 16 besar LSN:

1. PP Nurul Islam Jember (Zona Jatim I) VS PP Al-Anwar Ngawen (Zona Jateng III)

2. PP Al-Mujaddadiyah Madiun (Zona Jatim III) VS PP Alfiah Purwakarta (Zona Jabar I)

3. PP Nur Iman Mlangi (Zona DI Yogyakarta) VS PP Salafiyah Polman (Zona Sulawesi Barat)

Ulama Salaf Online

4. PP Nurul Huda Natar (Zona Lampung) VS PP Darul Maarif Indramayu (Zona Jabar III)

5. PP Darunnajah Cikajang Garut (Zona Jabar II) VS PP Bayyinul Ulum Lombok Utara Zona NTB)

6. PP Ali Imron Sumenep (Zona Jatim II:) VS PP Walisongo Sragen (Zona Jateng I)

7. PP Ummushabri Kendari (Zona Sulawesi Tenggara) VS PP Al Ikhlas (Zona DKI Jakarta)

8. PPTQ Sabilillah Wonosobo (Zona Jateng II) VS PP Al Asy Ariyah Kabupaten Tanggerang (Zona Banten)

(Red. Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Hikmah Ulama Salaf Online

Sabtu, 30 Desember 2017

Pengadilan Irak Dinilai Tak Adil

Baghdad, Ulama Salaf Online. Tim pembela mantan Presiden Irak Saddam Hussein menuding vonis hukuman gantung atas kasus kejahatan kemanusiaan di desa Dujail tahun 1982 dianggap ilegal dan jelas bermuatan politis. Keputusan Pengadilan Tinggi Irak dianggap tidak adil karena selama ini menjadi "boneka Pemerintah AS".

Keputusan pengadilan Saddam itu dikecam berbagai pihak, khususnya komunitas Sunni dan tim pembela Saddam, Minggu (5/11). Bahkan, ketua tim pembela Saddam, Khalil al-Dulaimi, curiga keputusan hukuman mati itu telah direncanakan sejak awal. Karena itu, keputusan hakim dituding tak adil. "Sejak awal di hari pertama, pengadilan ini jelas bermotif politis. Pengadilan ini kami anggap ilegal karena sama sekali tidak memberi kesempatan suara yang membela Saddam," ujarnya.

Pengadilan Irak Dinilai Tak Adil (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengadilan Irak Dinilai Tak Adil (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengadilan Irak Dinilai Tak Adil

Ahli hukum internasional dari badan kajian Catham House Sonya Sceats juga menilai persoalan yang sebenarnya justru berada di proses pengadilan itu sendiri. Seharusnya Saddam tidak dihukum gantung dan dibiarkan hidup lebih lama agar kejahatan-kejahatan lain dapat ditelusuri dan diselesaikan dengan tuntas.

"Justru masalahnya pengadilan itu tidak adil dan cenderung berpihak. Selain itu juga tak memenuhi standar hukum Irak dan internasional. Ada bukti-bukti tekanan politik yang sangat jelas," ujarnya.

Hal senada dikatakan Presiden Gerakan Internasional untuk Keadilan Dunia Chandra Muzaffar. Ia menilai pengadilan Saddam itu cacat karena telah melanggar hukum internasional. "Saddam memang diktator yang brutal, tetapi tetap dia tidak pantas menerima hukuman mati," ujarnya.

Kecam hukuman mati

Ulama Salaf Online

Pengadilan Saddam sejak awal diprotes karena dianggap "aneh". Setelah menangkap Saddam, AS membentuk sekaligus membiayai operasional pengadilan.

Berbagai kelompok HAM seperti Amnesty International menilai proses pengadilan sama sekali tidak netral. Bahkan, standar paling dasar tidak terpenuhi, yakni adanya perlindungan keamanan bagi pengacara dan saksi-saksi. Ketua Program Afrika Utara dan Timur Tengah di lembaga Amnesty International Malcolm Smart menyebutkan, setiap individu berhak memperoleh pengadilan yang adil. Bahkan, Saddam sekali pun juga berhak.

Amnesty International yang menentang hukuman mati itu menyayangkan pengadilan itu karena seharusnya Pemerintah Irak yang baru bisa menegakkan hukum dengan adil. Tapi yang terjadi adalah campur tangan politis dalam hukum yang semestinya netral dan adil. "Seharusnya ini kesempatan bagi Pemerintah Irak. Sayang kesempatan ini lewat," kata Smart.

Ulama Salaf Online

Pusat Internasional Keadilan Transisional yang telah memantau proses pengadilan Dujail juga mengusulkan agar panel hakim di pengadilan proses naik banding sebaiknya mempertimbangkan meminta pengadilan ulang untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. "Terlalu banyak kesalahan yang terjadi sejak awal," kata ahli hukum Timur Tengah di ICTJ, Hanny Megally.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Louise Arbour yang juga menentang hukuman mati untuk semua kasus mengatakan, Irak harus bisa menjamin proses naik banding yang adil dan tidak melaksanakan hukuman mati.

Akan tetapi, Presiden Irak Jalal Talabani justru menilai pengadilan itu adil. Namun ia tidak bersedia memberikan komentar tentang vonis hukuman mati Saddam karena ia khawatir hal itu akan bisa memicu ketegangan antara Syiah dan Sunni. "Saya menghormati kebebasan hukum Irak. Komentar saya akan memengaruhi situasi," kata Talabani di Paris. (kom/dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote Ulama Salaf Online

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas

Jakarta, Ulama Salaf Online. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta pemerintah tegas dalam melindungi kelompok minoritas. Sejumlah persoalan keagamaan selama tahun 2013 masih terus bermunculan, yang mengganggu keharmonisan hubungan antar agama.

PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas

Pada Natal 2013 ini, Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi menggelar misa Natal di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta karena gereja karena masih adanya masalah terhadap keberadaan gereja mereka. Demikian pula, umat Islam yang menjadi minoritas di beberapa daerah juga mengalami kesulitan membangun masjid. Sementara umat diantara umat Islam sendiri menghadapi persoalan dengan aliran Syiah dan Ahmadiyah.

“PBNU berharap terjadinya hubungan keagamaan yang beradab dan toleran,” katanya di gedung PBNU, Kamis (26/12).?

Menurut Kiai Said, jika umat Islam mampu menghargai dan melindungi minoritas, maka umat Islam sendiri akan mendapatkan simpati.

Ulama Salaf Online

“Islam bukan sekedar soal akidah dan syariah, tetapi juga ada budaya, moral dan etika,” paparnya.

Ulama Salaf Online

Tetapi jika umat Islam sendiri bersikap jumud, menggunakan cara-cara kekerasan, maka yang timbul adalah sikap antipati.?

Ia menegaskan, dalam Al-Qur’an sendiri diperintahkan agar agama, nyawa dan martabat manusia dilindungi karena hal itu merupakan sesuatu yang suci, siapapun mereka. Jika kekerasan dilakukan oleh umat Islam, maka sama dengan mengotori kesucian umat Islam sendiri. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, RMI NU, Santri Ulama Salaf Online

Sabtu, 23 Desember 2017

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Oleh Hagie Wana



Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari proses berkomunikasi adalah kebutuhan akan simbolisasi atau penggunaan lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata (verbal), gerakan tubuh (nonverbal) ataupun objek lainnya yang maknanya disepakati bersama seperti contohnya memasang bendera kuning adalah tanda berduka bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa. Simbol atau lambang tersebut sangat variatif dan bergantung pada kebudayaan yang berlaku di sebuah tempat.

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Dalam dunia Islam, penggunaan simbol sebagai media berkomunikasi bukanlah hal yang asing. Namun minimnya pengetahuan dan kekakuan dalam menginterpretasikan nash/dalil, tak jarang banyak pihak yang menolak keberadaan simbol-simbol dalam proses kehidupan beragama. Yang kemudian mengategorikan simbol-simbol dalam kehidupan beragama itu ke dalam takhayul, bid’ah, khurafat atau bahkan tak tanggung-tanggung, yaitu musyrik.

Ulama Salaf Online

Sebagai contoh, suatu ketika saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa, Rasul memutar posisi sorbannya sebagai bentuk doa bir rumuz, yakni berdoa dengan menggunakan isyarat atau simbol. Berdoa dengan simbol pun sering dilakukan oleh umat Islam di Nusantara. Contohnya sebagian kelompok masyarakat Sunda ketika akan pindah/menempati rumah baru, hal yang pertama dipindahkan adalah pabeasan (tempat menyimpan beras) terlebih dahulu sebelum barang yang lain. Ini adalah bentuk doa agar kelak saat mendiami rumah tersebut akan tercukupi kebutuhan pangannya.

Ulama Salaf Online

Tidak hanya dalam doa, penggunaan simbol juga biasa dilakukan dalam proses pendidikan. Sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau mendapat aduan dari Yahudi yang merasa dizalimi oleh salah satu gubernurnya di wilayah pemerintahnnya kala itu, Umar bin Abdul Aziz mengambil sebuah tulang unta, kemudian membuat goresan lurus pada tulang tersebut dengan pedang, lalu beliau memerintahkan Yahudi itu untuk membawa tulang tersebut pada gubernurnya. Ketika tulang dibawakan ke hadapan gubernur, tiba-tiba sang gubernur bergetar dan bercucuran keringat. Si Yahudi pun terheran-heran. Saat ditanyakan, sang gubernur menjawab “Ini adalah pesan dari khalifah Umar agar aku berbuat adil (lurus) sebagaimana lurusnya garis pada tulang ini. Kalau aku tak sanggup, maka pedanglah yang akan meluruskan perbuatanku”. Sang gubernur itu lalu meminta maaf atas kekhilafannya. Menyaksikan kejadian ini, Yahudi itu tertunduk kagum pada dua orang yang ditemuinya itu, lalu dengan mantap ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses komunikasi dengan simbol tersebut, telah berperan mengantarkan Yahudi tadi memeluk agama Islam.

Jadi, proses pengunaan simbol yang kerap dilakukan oleh leluhur kita sebagai media bekomunikasi apa pun itu konteksnya, entah sebagai doa, nasihat, atau proses pendidikan, bukanlah hal yang bertabrakan dengan aqidah. Sebagaimana telah dilakukan dari zaman Rasul, Sahabat, dan generasi-generasi berikutnya hingga sampai pada kita sekarang. Ada banyak pesan moral yang terkandung dalam simbolisasi tersebut. Orang tua kita telah sedemikian sempurna dalam menyampaikan sebuah pesan melalui media simbol yang terkadang lebih efektif dan efisien dibanding dengan beretorika belaka. Masalahnya kita tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencari makna dari pesan yang terkandung di balik simbol-simbol tersebut, lalu terjebak pemahaman yang cenderung normatif daripada substanstif dalam menginterpretasikan dalil, menyebabkan kekeliruan memahami konsep musyrik yang sebenaranya.

Lalu seiring perubahan zaman, masih efektifkah proses penyampaian pesan menggunakan simbol-simbol? Atau mampukah kita membuat model komunikasi dengan penggunaan simbol sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang terdahulu kita?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Hikmah, Quote Ulama Salaf Online

Rabu, 20 Desember 2017

Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai

Kudus, Ulama Salaf Online - Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Salafiyah Desa Gondoharum Jekulo Kabupaten Kudus mengadakan lomba mewarnai di aula madrasah setempat, Sabtu (4/6). Kegiatan hasil kerja sama dengan Faber Castell ini diikuti 100 anak Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Desa Gondoharum.

Kepala MINU Salafiyah Naning Idha Rodliyah menjelaskan, lomba mewarnai ini dimaksudkan untuk memperingati Hari Lahir Pancasila dan promosi Penerimaan Pendaftaran Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2016/2017. Tujuannya adalah meningkatkan rasa cinta tanah air serta menumbuhkan semangat berprestasi bagi anak-anak TK/PAUD.

Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Pancasila, Pelajar MINU Salafiyah Lomba Warnai

"Rasa cinta tanah air sangat penting ditumbuhkan sejak dini di lingkungan anak-anak. Sehingga, ketika dewasa mereka akan tetap meyakini Negara Kesatuan Republik Indosia (NKRI) sebagai tanah airnya," ujarnya.

Ulama Salaf Online

Lomba mewarnai ini memberikan ruang bagi anak menunjukkan kreatifitasnya. Anak-anak mewarnai beragam gambar pemandangan alam, burung garuda sebagai lambang Negara, dan gambar sekolahan yang di dalamnya terdapat bendera merah putih.

"Mereka ternyata mampu mewarnai sesuai dengan daya kreasinya. Hasilnya sangat indah, mereka juga tidak salah mewarnai bendera merah putih," imbuh Naning.

Ulama Salaf Online

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari salah seorang wali murid peserta. Menurut H Achied Arifuddin, kegiatan semacam ini sangat bermanfaat meningkatkan kemampuan dan kreasi serta mengenalkan NKRI kepada anak.

"Lewat lomba mewarnai ini, anak bisa kenal lingkungannya, lambang atau simbol negara sehingga rasa cinta tanah airnya semakin meningkat," katanya kepada Ulama Salaf Online. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Anti Hoax Ulama Salaf Online

Jumat, 08 Desember 2017

Jangan Telanjangi Islam

Oleh Kumail Jafar



Pakaian atau penutup adalah sesuatu yang harus dipakai setiap manusia. Jika tidak maka ia akan merasakan yang namanya malu, dan yang melihatnya pun menilainya? negatif. Karena dengan berpakaian, manusia dapat menutupi anggota tubuhnya, juga agar selalu terjaga kehormatanya, sebab dengan berpakaian, manusia bisa dibedakan mana yang normal dan mana yang tidak normal. Oleh karena itu, saat menjelang tanggal 1 Syawal (Idul Fitri), kita selalu melihat, khususnya di Indonesia, umat muslim berbondong-bondong ke pasar untuk membeli pakaian baru. Tujuanya, untuk menghias dirinya, agar terlihat modis dan menarik.

Jangan Telanjangi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Telanjangi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Telanjangi Islam

Namun, lebih jauh,? banyak orang yang berpikir,? bahwa pakaiannya itu hanya sebatas celana dan baju yang selalu membalut tubuh mereka. Padahal, kalau kita perhatikan, ternyata bukan hanya manusia yang harus berpakaian. Lebih dari itu, agama Islam pun juga memiliki yang namanya pakaian atau penutup.? Seandainya pakaian Islam ini tidak diperhatiakan dan tidak dipakainya, penganut agama Islam pun sudah dipastikan telanjang, telanjang bukan secara dzahir (luar), melainkan dalam konteks batin (dalam/ruh).

Ulama Salaf Online

Terkait dengan kasus telanjang, ini juga tak luput dari singgungan Kanjeng Nabi Saw, ketika salah satu dari sahabatnya yang bernama Abi Dzar bertanya padanya, "Siapa orang Muslim itu wahai Kanjeng Nabi?" Ia pun? menjawabnya, "Orang Muslim adalah mereka yang selalu bertakwa, pakaian mereka adalah ketakwaaan." Kalau kita renungkan, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits tersebut, sebab hadits ini secara tidak langsung menyuruh kita agar tidak menelanjangi Islam, seperti judul? tulisan ini.

Kalau kita amati, di media pemberitaan, baik berupa cetak maupun elektronik,? tak sedikit orang yang perlahan berupaya mencoreng Islam itu sendiri. Dan bentuknya pun beragam, yang intinya merusak nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Apalagi bagi mereka yang memisahkan kebudayaan dari Islam, tentu hal ini tidak bisa dibenarkan, sebab masuknya Islam ke bumi Nusantara ini, melalui budaya-budaya yang ada. Jadi, bagi mereka yang memisahkan kebudayaan dari keIslaman, sudah dipastikan kalau pengetahuan mereka akan keislaman dan keindonesiaan masih terbilang minim.

Ulama Salaf Online

Seperti yang sudah kita lihat pada realita yang ada,? banyak dari individu umat Islam yang hanya mengklaim dirinya Muslim, atau mengaku dirinya sebagai umatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, namun sikap dan ucapannya sering kali bersebrangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Oleh karena itu, mengaku menjadi Muslim? itu mudah, namun sangat sulit apabila mengamalkan ajaran-ajaran luhurnya. Sederhananya, kita mengaku Muslim, tetapi sikap dan ucapan kita? kadang tidak mencerminkan layaknya orang Muslim.

Menurut? penulis, permasalahan yang mengungkung Umat Islam zaman sekarang ini ialah, bahwa; kebanyakan mereka? memiliki hobi yang berseberangan dengan ajaran Islam. Karena itu, Menantu Kanjeng Nabi yang bernama Sayyidina Ali kw berkata, "Wahai saudaraku, kebiasaan itu belum tentu benar, akan tetapi, kebenaran itu yang harus dibiasakan."? Maksudnya,? umat Islam jangan memelihara perbuatan yang negatif, yang pada akhirnya perbuatan yang negatif itu dijadikan kebiasaan, namun, kita seharusnya memelihara perbuatan yang positif, yang pada akhirnya yang positif itu yang seharusnya dibiasakan.

Nah, hobi negatif yang sudah menjadi kebiasaan umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia ialah; suka menilai kekurangan orang lain daripada menilai kekurangan? diri sendiri. Seperti yang sudah ramai terjadi pada saat ini, terlebih di negara-negara Timur-Tengah, seperti Irak, Syiria dan lainnya. Pembunuhan tanpa sebab sudah meraja lela, kezaliman pun sudah terjadi di mana-mana, saling mencaci, saling memgkafirkan, saling melaknat dan lain sebagainya yang merusak citra dan kultural Islam. Yang lebih fatal lagi, mereka mengatasnamakan bela Islam. Menurut penulis, mereka itulah di antara sebagian Muslim yang secara perlahan menelanjangi Islam, hingga banyak orang memandang Islam sebagai agama yang negatif, cinta kekerasan dan lain-lain.

Kita harus banyak merenung, kita biasakan suatu perbuatan yang baik dan yang positif.? Jangan sampai kita telanjangi Islam ini dengan perilaku kita yang amoral dan tidak sesuai? dengan ajaran suci? Rasulullah Saw.? Dan yang perlu kita catat, kita harus selalu sadar akan perkataan Kanjeng Nabi? Saw "Hisablah (perhitungkanlah) diri kita sebelum kita dihisab oleh Allah Swt kelak di akhirat". Maka itu, merenunglah, sebab masih banyak yang perlu kita perbaiki dari kita sendiri.

Akhir kata, hidup itu bukan tentang siapa yang terbaik, akan tetapi siapa yang bisa berbuat baik dan bisa menyembunyikan perbuatan baiknya dari pandangan orang lain, bukan berpura-pura baik.

Salam saling menebarkan senyum

Penulis adalah pendiri dan pengasuh "Majlis Syafaat" di Jakarta; pengajar di salah satu pesantren di Jakarta Timur



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tegal, Quote Ulama Salaf Online

Sabtu, 02 Desember 2017

Kitab Fiqih Terbesar Syekh Arsyad Banjar yang Tersimpan di Saudi

Ini adalah gambar halaman pertama dan kedua dari manuskrip kitab “Sabîlul-Muhtadîn fît-Tafaqquh bi Amrid-Dîn” (berarti “Jalan Para Pencari Petunjuk dalam Mempelajari Perkara Agama”) karangan ulama besar Nusantara abd ke-18 M asal Kesultanan Banjar, yaitu Syekh Muhammad Asyad ibn ‘Abdullâh al-Banjarî al-Jâwî (Syekh Muhammad Arsyad Banjar, w. 1227 H/ 1812 M).

Kitab ini berisi kajian tentang fiqih ibadah menurut madzhab Syafi’i, mencakup kajian tentang bersuci, sembahyang, zakat, puasa, haji, perburuan, dan makanan. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Jawi, dan dicatat sebagai kitab fiqih ibadah terbesar berbahasa Melayu klasik dalam sejarah khazanah literatur Islam Nusantara.

Kitab Fiqih Terbesar Syekh Arsyad Banjar yang Tersimpan di Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Fiqih Terbesar Syekh Arsyad Banjar yang Tersimpan di Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Fiqih Terbesar Syekh Arsyad Banjar yang Tersimpan di Saudi

Adapun gambar naskah ini saya dapatkan dari koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Riyadh, KSA, dengan nomor kode 2318. Dalam data identitasnya, disebutkan jika naskah ini adalah tulisan tangan sang pengarang, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Banjar, dengan tititamangsa penulisan pada hari Ahad, 27 Rabi’ul Akhir 1195 Hijri (bertepatan dengan 22 April 1781 M).

Ulama Salaf Online

Tertulis di halaman identitas manuskrip ini;

Ulama Salaf Online

217.3 ?.? / 2318 / ? ? ? ? ? ? (? ?)? ? ? ? ? ? ? ? _ ? ? 1195 ?. ? ? 1195 ?

Sayangnya, dalam kolofon tidak disebutkan tempat dilakukannya penyalinan naskah. Namun jika benar ini adalah naskah tulisan tangan Syekh Arsyad Banjar atas kitab karangannya yang fenomenal itu, maka naskah ini adalah naskah yang sangat istimewa yang menjadi naskah acuan utama.

Tebal keseluruhan naskah ini 288 halaman. Setiap halaman berisi rata-rata 23 baris teks. Kondisi tulisan naskah sangat bagus, jelas, dan mudah dibaca. Teks pada naskah ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Jawi, dengan tinta berwarna merah dan hitam.

Dalam pembukaan, Syekh Arsyad Banjar mengatakan bahwa dirinya diminta oleh Sultan Banjar pada masa itu, yaitu Sultan Tamhidullah anak dari Sultan Tamjidullah (juga bergelar Sunan Nata Alam, memerintah 1761-1801 M), untuk menulis sebuah kitab yang berisi kajian fiqih (yurisprudensi) Islam madzhab Syafi’i dalam bahasa Jawi (Melayu), agar dapat dijadikan acuan dan pedoman oleh masyarakat Muslim Kesultanan Banjar.

Syekh Arsyad Banjar menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

(Telah meminta kepadaku pada tahun J-SH-Q-‘A (1193) Hijriah, seorang raja yang bijaksana, pemilik kecerdasan dan pandangan yang sempurna, yang hatinya bening dan pemahamannya tajam, pemilik kekuasaan atas Negeri Banjar, yang melakukan segenap usaha perbaikan atas hal-hal agama dan negara, tuan junjungan kita yang agung dan pemimpin kita yang mulia, Sultan Tamhidullah putra dari Sultan Tamjidullah, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat atasnya, melanggengkan kerajaan dan keturunannya, yang mana poros kerajaannya masih terus berputar, dan gemawan kebajikan dan kedermawanannya masih terus membasuhi rakyatnya … (memerintahkanku) untuk menulis sebuah kitab dalam bidang fiqih madzhab Syafi’i RA, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawi (Melayu) yang diketahui dan difahami oleh para penduduk negeri Banjar).

Sebenarnya, sebelum upaya penulisan kitab “Sabîlul-Muhtadîn” ini, terdapat sebuah kitab fiqih yang mengkaji masalah-masalah ibadah dan ritual yang ditulis dalam bahasa Melayu, yaitu kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” karangan seorang ulama Nusantara dari Kesultanan Aceh, Syekh Nûr al-Dîn Muhammad ibn ‘Alî ibn Hasanjî al-Rânîrî (Nuruddin Raniri, w. 1069 H/ 1658 M). Sejak dikarangnya “al-Shirâth al-Mustaqîm” pada tahun 1054 H (1644 M), kitab tersebut telah tersebar luas dan sangat populer di kalangan Muslim Nusantara, serta dijadikan rujukan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan hukum di pelbagai Negara-Kesultanan di Nusantara.

Hal ini sebagaimana juga diungkap oleh Syekh Muhammad Arsyad Banjar;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Sesungguhnya kitab karangan seorang alim nan utama Syekh Nuruddin al-Rani[ri] yang bernama “al-Shirâth al-Mustaqîm” dalam menerangkan fiqih madzhab Syafi’I, adalah sebaik-baik kitab [dalam bidang tersebut] yang diterjemahkan [ditulis] ke dalam bahasa Jawi [Melayu]. Hal ini karena kajian-kajian di salamnya diambil dari beberapa sumber fiqih rujukan, karena itulah banyak orang yang mengambil kemanfaatan darinya, dan menerimanya dengan ramai. Semoga Allah membalas budi baik sang pengarangnya dengan keutamaanNya).

Namun, rupanya ada banyak hal yang perlu disempurnakan dari kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” tersebut. Sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad Banjar;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ...

(Tetapi di dalam kitab [al-Shirâth al-Mustaqîm] tersebut terdapat beberapa bahagian ungkapan yang terasa asing nan samar bagi para pengkaji, karena ia banyak memuat unsur bahasa Aceh yang tidak difahami oleh para pengkaji yang bukan penuturnya, di samping di banyak tempat dalam kitab tersebut juga telah terdapat kesalahan, perubahan, bahkan pengurangan yang diakibatkan oleh kesalahan para penyalin [naskah] yang kurang cakap).

Dalam upaya menulis kitab “Sabîlul-Muhtadîn”, Syekh Muhammad Arsyad Banjar pun merujuk kepada kitab-kitab referensial dalam fiqih madzhab Syafi’i, seperti “Fath al-Wahhâb bi Syarh Manhaj al-Thullâb” karangan Syekh Zakariyâ al-Anshârî, “Mughnî al-Muhtâj ilâ Ma’rifah Alfâzh al-Minhâj” karangan Syekh al-Khatîb al-Syarbînî, “Tuhfah al-Muhtâj bi Syarh al-Minhâj” karangan Syekh Ibn Hajar al-Haitamî, “Futûhât al-Wahhâb bi Taudhîh Syarh Manhaj al-Thullâb” (Hâsyiah al-Jamal) karangan Syekh Sulaimân ibn Manshûr al-Jamal al-Azharî, dan “Nihâyah al-Muhtâj bi Syarh al-Minhâj” karya Syams al-Dîn al-Ramlî.

Kitab ini pertama kali dicetak di Istanbul pada tahun 1300 H/1882 M atas inisiasi Syekh Ahmad al-Fathânî (Patani), kepala percetakan kitab-kitab berbahasa Jawi (Melayu) pada percetakan Negara Ottoman. Setelah versi cetak Istanbul, kitab ini kemudian dicetak ulang di Mekkah dan Kairo. Data cetakan “Sabîlul-Muhtadîn” di Istanbul pada tahun 1300 Hijri ini dapat dilacak dalam sumber arsip pemerintahan Imperium Ottoman untuk wilayah Hijaz (Hicaz Vilayet-i Salnamesi; Yil 1300 Hicri).

Pertanyaan lanjutan pun kian bermunculan; “Apakah kitab “Sabîlul-Muhtadîn” versi cetakan pertama di Istanbul pada tahun 1300 H (1882 M) tersebut berlandaskan pada naskah tulis tangan Syekh Arsyad Banjar (bertitimangsa 1195 H/ 1781 M) yang kini tersimpan di Riyadh dan sedang diperbincangkan ini?” (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Syariah Ulama Salaf Online

Kamis, 23 November 2017

Banser Harus Militan dan Ideologis

Jepara, Ulama Salaf Online. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Batealit Jepara selama tiga hari Jum’at-Ahad, (16-18/10) sukses menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Diklatsar yang digelar di Dukuh Setro, Desa Batealit, kecamatan Batealit kabupaten Jepara itu diikuti 45 peserta yang kini telah dibaiat menjadi angota Banser baru.

Diklatsar itu merupakan kali pertama digelar PAC GP Ansor Batealit. Sementara di Jepara, merupakan Dikltasar angkatan kelima.

Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Harus Militan dan Ideologis

Peserta yang mengikuti Diklastar itu sebagian besar dari wilayah Kemacatan Batealit dan beberapa ada delegasi dari PAC Tahunan, Keling dan Donorojo.

Ulama Salaf Online

Ketua PAC GP Ansor Batealit, Nur Alimin mengatakan Diklatsar banser diadakan dalam rangka menyiapkan barisan kader muda NU yang tanggap akan problem keumatan dan kebangsaan demi mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ulama Salaf Online

“Banser menjadi garda terdepan Ansor maupun NU yang harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai problem. Khususnya masalah-masalah keumatan dan kebangsaan,” tambahnya sebagaimana rilis yang diterima Ulama Salaf Online.

Subchan Zuhri, Wakil Ketua PAC Ansor Batealit menambahkan dalam rangka membentuk kader Banser yang tangguh peserta Diklastar diberi materi yang lengkap. Mulai dari materi Ke-NU-an, Aswaja, Keansoran, Kebanseran, analisis SWOT, leadership, wawasan kebangsaan, PBB, kelalulintasan, SAR, Bagana, dan materi-materi pendukung lainnya.

Pada malam terakhir kemarin, panitia juga menghadirkan KH Subakir dari Kudus untuk memberikan materi penguatan mental spriritual kader banser,” imbuhnya.

Diklatsar Banser di Batealit Jepara itu juga dihadiri Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Ali. Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah itu menyampaikan materi Keansoran di hari pertama.

Sholahuddin menegaskan, bahwa Banser sebagai kekuatan utama Ansor harus memiliki militansi dan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat. Tantangan Banser dan Ansor pada saat ini semakin kompleks dan harus dihadapi dengan kemampuan-kemampuan khusus.

“Sikap Banser adalah merepresentasikan Ansor dan NU yang harus menampakkan Islam Ahlussunah Waljamaah. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Budaya, Quote Ulama Salaf Online

Santri Al-Hikmah Brebes Peringati Kesaktian Pancasila dan Tahun Baru Hijriyah

Brebes, Ulama Salaf Online. Ribuan Santri Al Hikmah 2 Benda Sirampog Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memperingati hari Kesaktian Pancasila dan Tahun Baru Hijriyah dalam bentuk doa bersama. Doa dipimpin Habib Muhammad bin Agil bin Athos dalam suasana yang sejuk dan hening.

Pengasuh Pesantren Al Hikmah 2 Benda KH Sholahuddin Masruri menjelaskan, doa bersama sebagai bentuk peneguhan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara yang kokoh meski kerap mendapatkan rongrongan yang tidak ringan.

Santri Al-Hikmah Brebes Peringati Kesaktian Pancasila dan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Hikmah Brebes Peringati Kesaktian Pancasila dan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Hikmah Brebes Peringati Kesaktian Pancasila dan Tahun Baru Hijriyah

Gus Sholah, demikian panggilan akrabnya, menyayangkan tindakan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama, namun sesungguhnya menggerogoti Pancasila, memecah-belah NKRI. "Mereka mengibar-kibarkan bendera agama, namun sesungguhnya melukai Pancasila, memecah belah umat," tandasnya.

Ulama Salaf Online

Dia mengajak para santri untuk menegakkan Pancasila yang telah dilahirkan para ulama dan santri terdahulu. "Indonesia ke depan ada di tangan santri, mari kita sinergikan santri dan TNI untuk tegakan NKRI sebagai harga mati," kata Gus Sholah.

Ulama Salaf Online

Doa bersama diprakarsai Dandim 0713/Brebes Efdal Nazra. Dia mengajak para santri untuk menjadi generasi yang Pancasilais. Menurutnya, mengamalkan Pancasila, sama halnya berkontribusi kepada bangsa dan negara sebagai bentuk jihad fisabilillah.

Efdal menyemangati para santri untuk terus berjuang di alam kemerdekaan. Jihad dengan melestarikan menjaga Pancasila.

Sementara Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengaku bangga dengan semangat juang para santri dalam menuntut ilmu. Teruslah berjuang sebagaimana KH Masruri menyampaikan ilmu kepada para santri.

Idza juga meminta para santri? untuk mendoakan kabupaten Brebes, mendoakan Indonesia agar tenteram, damai, kondusif, maju dan sejahtera. Apalagi, sebentar lagi Kabupaten Brebes akan menghadapi Pilkada serentak.

Dalam kesempatan tersebut, para santri juga menyanyikan lagu Indonesia Raya, membaca teks Pancasila dan menyanyikan? lagu? Bagimu Negeri. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote Ulama Salaf Online

Rabu, 15 November 2017

Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN

Jakarta, Ulama Salaf Online. Indonesia merupakan negara dengan kualitas demokrasi terbaik di ASEAN, bahkan di tingkat dunia perkembangan demokrasi Indonesia telah diakui. Hal ini yang menjadi pembeda utama antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya.?

Menurut pengamat politik senior Fachry Ali, demokrasi yang dirasakan masyarakat Indonesia tidak dirasakan masyarakat negara ASEAN lainnya. Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak terlalu kaget dengan perkembangan internet dan media sosial yang melahirkan otonomi individual. Fachry justru mempertanyakan, sejauh mana pemerintah otoriter mampu bertahan di dalam lingkungan global, di mana arus informasi dan pengetahuan tak lagi bisa dibendung.

Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN

"Pertanyaan yang ingin saya kemukakan di sini bukanlah apakah MEA ini akan berhasil, melainkan apa kontribusi spesifik Indonesia di dalam masyarakat yang keberadaannya telah melampaui tapal-batas negara-bangsa? Di sini saya melihat kita bisa menyumbangkan demokrasi dan nilai-nilai gotong royong Indonesia," kata Fachry Ali dalam pertemuan nasional Relawan Komunitas Peduli ASEAN (KAPAS), di Ruang Nusantara, Kementerian Luar Negeri, Sabtu (30/4) akhir pekan lalu.

?

"Anak-anak muda harus paham, bahwa Indonesia sudah juara di ASEAN, yaitu dalam hal demokrasi, tidak ada masyarakat di negara ASEAN yang menikmati indahnya demokrasi sebagaimana dialami oleh masyarakat Indonesia. Masih banyak negara-negara ASEAN yang kurang demokratis, sementara di satu sisi perkembangan internet dan informasi semakin cepat, Indonesia adalah negara yang paling juara dalam hal ini," tambah Fachry Ali.

Ulama Salaf Online

Koordinator Relawan KAPAS Hariqo Wibawa Satria mengatakan perkembangan teknologi memudahkan setiap orang mempelajari isu-isu hubungan internasional, Di era digital ini pada hakikatnya setiap orang adalah diplomat."Sekarang diplomat bukan saja yang kuliah di Jurusan HI atau bekerja di KBRI, namun setiap kita adalah diplomat, olahragawan, seniman, dll juga adalah diplomat", tegas Hariqo.

Terkait agenda pertemuan nasional ini, Hariqo Wibawa menjelaskan tujuan berkumpul agar terjadi peningkatan gotong royong anak muda menjadikan Indonesia juara di ASEAN dalam berbagai bidang. Melihat situasi hari ini, dirinya optimis kolaborasi anak muda akan semakin meningkat."Peningkatan gotong royong menjadikan Indonesia juara ASEAN, sebaliknya tanpa gotong royong kita akan selalu minta tolong negara lain," jelas Hariqo seraya menyampaikan terima kasih kepada para relawan yang ikut menyuarakan tagar #IndonesiaJuaraASEAN.

Kegiatan yang dibuka Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir ini berlangsung dari pagi hingga sore hari. Semua peserta aktif memposting dan melakukan tweet dengan tagar #IndonesiaJuaraASEAN di media sosial. Puncaknya dari pukul 11.30 – 16.15 tagar #IndonesiaJuaraASEAN jadi trending topic di twitter.?

"Baru setengah hari udah jadi trending topic!, awesome! #IndonesiaJuaraASEAN," ungkap Fety Octaviia Niza lewat akun twitter @viianiza.

Ulama Salaf Online

"Akhirnya kami bisa melakukannya, mentwit hal-hal positif dengan tagar #IndonesiaJuaraASEAN menjadikannya kita bangga sebagai sebagai anak Indonesia," ungkap Kevlin relawan dari Jakarta.

Selain Fachry Ali dan? Hariqo Wibawa? hadir juga dalam kegiatan ini Direktur Kerjasama Fungsional ASEAN J. S George Lantu, Direktur Informasi dan Media, ? Arif Budimanta, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, CEO Jualio.com Nukman Lutfie. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Quote, Daerah Ulama Salaf Online

Selasa, 07 November 2017

Adab Bangun Tidur Menurut Imam Al-Ghazali

Kitab Bidayatul Hidayah Imam Al-Ghazali menerangkan tentang adab seorang muslim ketika ia bangun (terjaga) dari tidurnya. Adab tersebut sebagai berikut:

1. Hendaklah berusaha sebisa mungkin untuk bangun sebelum subuh.

Adab Bangun Tidur Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Adab Bangun Tidur Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Adab Bangun Tidur Menurut Imam Al-Ghazali

2. Hendaklah yang terlintas pertama kali dalam mulut dan hatinya adalah dzikir kepada Allah.

3. Membaca doa ketika bangun dari tidur dengan doa sebagai berikut

Ulama Salaf Online

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ulama Salaf Online

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nyalah kami kembali. Aku memasuki pagi, sedang kekuasaan tetap hanyalah milik Allah, kemuliaan dan kekuasaan milik Allah pula. (Dialah) Tuhan seru sekalian alam.  Aku menyongsong pagi dengan kesucian Islam dan dengan kalimat ikhlas (syahadat) serta dengan agama (yang dibawa) Nabi Muhammad SAW. Juga dengan agama Bapak kami Ibrahim dengan berserah diri, serta bukanlah kami termasuk golongan orang-orang musyrik. Ya Allah dengan-Mu lah kami memasuki pagi dan sore, dengan-Mu lah kami hidup dan mati dan kepada-Mu lah kami kembali. Ya Allah kami mohon bangkitkanlah kami di hari ini pada kebaikan. Dan kami berlindung kepadamu dari mengerjakan keburukan ata mempekerjakan orang islam pada keburukan dan dipekerjakan orang untuk keburukan. Aku meminta kepada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan yang ada di dalamnya serta memohon perlindungan dari kejelekan hari ini dan kejelekan yang ada di dalamnya.

4. Ketika hendak memakai baju, maka niatkanlah karena mengikuti perintah Allah untuk menutupi Aurat, bukan untuk dipamerkan orang.

Sumber:

Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah

Syaikh Nawawi al-Bantani, Maraqi Al-Ubudiyyah Syarh Bidayatul Hidayah

(Ahmad Nur Kholis)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tokoh, Sejarah, Quote Ulama Salaf Online

Senin, 06 November 2017

Kang Said: Hakim Pun Harus Punya "Hakim" dalam Dirinya

Jakarta, Ulama Salaf Online. Manusia dianugerahi Tuhan hati yang berfungsi sebagai petunjuk dan pengendali keseluruhan sikap pemiliknya. Meski bertingkat-tingkat, jika diberdayakan sebagaimana mestinya hati sanggup memandu manusia untuk tetap dalam koridor kebenaran.

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam kesempatan taushiyah di Jakarta, Jumat (4/10) siang. Kiai yang akrab disapa Kang Said ini menjelaskan lima tingkatan hati (qalb) dari sudut pandang ilmu tasawuf, yakni bashirah, dlamir, fu’ad, asrar, dan lathifah.

Kang Said: Hakim Pun Harus Punya Hakim dalam Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Hakim Pun Harus Punya Hakim dalam Dirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Hakim Pun Harus Punya "Hakim" dalam Dirinya

Terkait dlamir, doktor Universitas Ummul Qura Mekah ini mengartikannya sebagai nurani yang memerintah dan melarang manusia melakukan atau menghindari tindakan-tindakan tertentu. Intruksi batin tersebut, menurut Kang Said, umum dikenal sebagai “seruan moral”.

Ulama Salaf Online

Kang Said menambahkan, ada tiga jenis dlamir, yaitu moralitas yang didorong oleh norma yang berkembang di masyarakat atau lingkungan (dlamir ijtima’i), norma ditentukan oleh undang-undang formal (dlamir qanuni), dan norma yang dimotivasi oleh tujuan murni karena Allah (dlamir dini).

“Mau ada polisi atau tidak, mau ada KPK atau tidak, tetap sama: melakukan yang baik lillahi ta’ala. Itu yang disebut dlamir dini,” paparnya.

Ulama Salaf Online

Lebih lanjut, alumni Pesantren Lirboyo ini menerangkan, fu’ad dalam diri manusia berfungsi laksana hakim. Fu’ad memberi keputusan dan pengakuan tentang baik-buruk secara jujur. Hal ini selaras dengan hadits Rasulullah, “Ambillah fatwa dari hatimu sendiri (istafti qalbak)”.

“Semua pasti memiliki ‘hakim’ ini. Tidak bisa bohong. Hakim pun harus punya ‘hakim’ dalam dirinya,” tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kyai, Quote, Pendidikan Ulama Salaf Online

Kamis, 02 November 2017

Pesantren Raudlatul Mubtadiin Pupuk Semangat Kebangsaan Santri

Majalengka, Ulama Salaf Online. Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin  Cisambeng, Palasah, Majalengka, Jawa Barat, memperingati hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI ang ke-69 dengan menggelar upacara bendera di halaman pesantren setempat, Ahad (17/8).

Upacara pengibaran sang Saka Merah Putih ini berlangsung khidmat, diikuti seluruh santri dan ustadz pondok. Hj Atun Minatul Maula, pengasuh Pesantren Raudlatul Mubtadiin, menjadi pembina dalam acara tersebut. Upacara bendera dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan dan penumbuhan semangat rasa cinta Tanah Air di kalangan santri.

Pesantren Raudlatul Mubtadiin  Pupuk Semangat Kebangsaan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Raudlatul Mubtadiin Pupuk Semangat Kebangsaan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Raudlatul Mubtadiin Pupuk Semangat Kebangsaan Santri

Rais Am Pesantren Raudhlatul Mubtadiin Agus Rofii mengatakan, jika dahulu pesantren merespon realitas sosial dalam atmosfer perjuangan melawan penjajahan, maka respon pesantren pasca kemerdekaan tentu lebih condong kepada segala macam upaya untuk mengisi kemerdekaan.

Ulama Salaf Online

“Nah, dalam proses mengisi kemerdekaan inilah, peradaban Nusantara – dalam hal ini menyempit menjadi Indonesia-tidak bisa menghindar dari arus modernisasi dalam banyak bidang, berbaurnya pergaulan dengan masyarakat dunia global dengan berbagai macam latar belakang budayanya sehingga upaya memupuk semangat kebangsaan dan menumbuhkan jiwa patriotisme di kalangan generasi muda harus terus dilakukan,” katanya melalui rilis yang dikirim Ahad.

Ulama Salaf Online

Lebih lanjut Agus yang mendapat penghargaan sebagai pemuda pelopor ini berharap, generasi muda masa kini mesti mengenal dunia pesantren. Menurutnya, sumbangsih pesantren yangbegitu besar dalam mempertahankan kemerdekaan membuat negeri ini berhutang pada para ulama dan santri. Tanpa itu, katanya, Indonesia akan dijajah terus oleh negara asing.

Ia juga berujar untuk tak secara berlebihan membanggakan produk asing yang sampai hari ini dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. “Santri masa kini harus menjawab tantangan di masa kini dan yang akan datang sehingga makna mencintai negeri dan menghargai bangsa ini dengan menjunjung nilai kebersamaan untuk terciptanya rasa persatuan dan kesatuan Indonesia,” tuturnya. (Aris Prayuda/Mahbib)





Foto: Prosesi upacara bendera dalam rangka HUT RI ke-69 di Pesantren Raudhlatul Mubtadiin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Kyai, Syariah Ulama Salaf Online

Rabu, 01 November 2017

Pesantren Al-Mustaqim Parepare, Semua Serbagratis

Parepare, Ulama Salaf Online

Jika akrab terdengar sebagian pesantren menggratiskan biaya para santrinynya, maka salah satunya adalah Pesantren Al-Mustaqim di Kota Parepare. Di pesantren yang terletak di Jalan Perumahan Polwil Dua, Tassiso, Kelurahan Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan ini, para santri tak dibebani biaya sedikit pun. Mulai dari pakaian, alat tulis menulis, hingga makan-minum.

Pesantren Al-Mustaqim Parepare, Semua Serbagratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mustaqim Parepare, Semua Serbagratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mustaqim Parepare, Semua Serbagratis

Pondok Pesantren Al-Mustaqim didirikan Ustadz Abdullah Hamzah pada 10 oktober 2006 silam. Kini jumlah santri yang terdaftar ada 613 orang. Ongkos proses belajar di pesantren ini berasal dari satu sumber, yaitu Dana Abadi Umat (DAU). Dana ini berasal dari sumbangan dan sedekah kaum muslimin di seluruh tanah air.

Pesantren yang selain menekankan pelajaran keislaman juga senantiasa memadukannya dengan nilai-nilai kesetiaan terhadap Pancasila serta NKRI ini menjadi binaan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Korem 142 Taroada Tarogau dan Kodim 1405 Mallusetasi serta Lembaga Pemasyarakatan Parepare ini masih eksis di kota Parepare.

Ulama Salaf Online

Pendiri sekaligus pimpinan Pondok Psantren Al-Mustaqim, Abdullah Hamzah mengaku terinspirasi membangun pesantren pada awal Ramadhan 2006 lalu. Saat itu Abdullah gelisah karena dunia pendidikan semakin dikomersialkan.

Ulama Salaf Online

“Jargon pemerintah menggratiskan pendidikan belum sepenuhnya diwujudkan. Buktinya, hingga saat ini masih banyak sekolah yang promosinya gratis tapi kenyataannya siswa masih membayar,” tuturnya.

Abdullah Hamzah berinisiatif untuk mengajak komandan TNI dari Korem dan Kodim untuk memberikan motivasi serta bantuan awal pembangunan pesantren pembela Islam dan NKRI tersebut. Hasilnya, selama 10 tahun beroperasi pesantren ini banyak menelurkan alumni yang berprestasi, baik di bidang akademik maupun bidang ekstrakurikuler.

Abdullah yang merupakan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini mengaku sekali-kali mengalami kesulitan dana. Pendiri pesantren ini pun kerap meminjam uang di bank dengan menggadaikan sertifikat PNS bersama istrinya yang juga bekerja sebagai pendidik PNS.

Selain itu, ia senantiasa yakin Allah SWT kaya dan maha pemberi rezeki. Ia pun kerap mendapatkan bantuan dana yang tak disangka-sangka dari umat Islam, baik yang tinggal di Parepare maupun dari luar Parepare. “Saat ini asrama putri pesantren Al-Mustaqim sementara direhab sehingga membutuhkan bantuan dari pemerintah dan para dermawan,” tuturnya.

Menurutnya, pasca berdirinya ini panti asuhan sekaligus pesantren tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, kendati permohonan bantuan pernah diajukan. (Husnil/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock