Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu

Guna mempersiapkan kader NUyang bermutu, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Jawa tengah akan menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator ke-2 tahun 2014.

Kegiatan ini akan di selenggarakan pada tanggal 23-25 Desember 2014 di Wisma Anak Mandiri kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu

Syarat mengikuti kegiatan tersebut di antaranya: pernah mengikuti LAKUT (dibuktikan dengan sertifikat), membuat paper dengan tema "IPNU-IPPNU dan Tantangan Bangsa" minimal 5 halaman kertas HVS A4, spasi 1,5, dan font Times New Roman.

Untuk info pendaftaran dan sebagainya bisa menghubungi 082 234 141 107 (Much Mashum) dan 085 876 212 380 (Rofika Cicau). (Ahmad Syaefudin/Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Khutbah Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Maret 2018

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Oleh Dawam Multazam

Akhir-akhir ini panggung diskusi publik kita diramaikan oleh tema Islam Nusantara, terutama sejak kejadian pembacaan al-Qur’an dalam sebuah acara di Istana Negara oleh seorang qori’ yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Qiro’ah tersebut menjadi buah bibir masyarakat karena, sebagaimana disebutkan oleh pembawa acara, menggunakan langgam khas Nusantara, tilawah (cara membaca) al-Qur’an yang kurang lazim didengar oleh sebagian masyarakat.

Setelah kejadian tersebut, tak pelak timbul pro-kontra yang cukup panjang, apalagi Pemerintah, melalui Presiden Jokowi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan dukungannya terhadap tilawah tersebut. Dukungan yang diberikan Pemerintah sebenarnya tidak hanya terhadap qiro’ah berlanggam Nusantara, tetapi lebih besar daripada itu, yakni dukungan terhadap Islam Nusantara. Menurut Presiden Jokowi, ia mendukung Islam Nusantara, karena merupakan “Islam kita, yang penuh sopan santun, tata krama, dan toleransi” (BBC Indonesia, 14/6).

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Ramainya panggung diskusi publik seputar Islam Nusantara ini juga seiring dengan rencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadikan tema Muktamar NU ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015, berbunyi“Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Menurut Ketua Muktamar tersebut, H Imam Aziz, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari agenda jam’iyyah NU menjelang seabad usianya. Islam Nusantara, sebagai model keislaman yang dianut oleh Nahdliyin (warga NU), perlu untuk ditunjukkan posisi strategisnya sebagai “agen” Islam rahmatan lil alamin di Indonesia dan di seluruh dunia. Terkait peran NU di Indonesia, tentu saja sudah menjadi pengetahuan umum bahwa NU yang lahir pada tahun 1926 merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, sehingga sudah barang tentu memiliki peran yang signifikan bagi perjalanan bangsa dan negara ini.

Kemudian, mengenai kiprah NU di panggung dunia, selain beberapa kali pengurusnya hadir dalam beberapa forum pro-perdamaian dan pro-toleransi Internasional,  NU juga menginspirasi, antara lain, ulama Afghanistan untuk membentuk organisasi masyarakat yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Berawal dari pertemuan dengan PBNU pada 2013, saat ini ulama Afghanistan sudah membentuk Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), organisasi masyarakat yang berprinsip tawasut (moderat), tawazun (seimbang-equal), adalah (keadilan), tasamuh (toleran), dan musyarokah (serikat-persatuan). Sebagaimana diketahui, prinsip yang dianut oleh NUA tersebut mengadopsi prinsip-prinsip yang dianut oleh NU berdasarkan petunjuk para ulama salaf (pendahulu).

Tanggung Jawab NU untuk Umat

Ulama Salaf Online

Berangkat dari kesadaran atas perannya yang signifikan bagi masyarakat, tampaknya NU juga menyadari bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar. Akhirnya, dengan menghilangkan sekat organisasi masyarakat yang dimilikinya, NU kemudian memunculkan tema Islam Nusantara. Pemunculan frasa Islam Nusantara ini sebenarnya bukan merupakan penemuan aliran atau ajaran Islam yang baru. Karena, menurut Dr H Eman Suryaman, Ketua PWNU Jawa Barat, Islam Nusantara merupakan “sebuah model keislaman yang berdasarkan demografi-sosiologis” (Ulama Salaf Online, 9/6).

Selain ia bukan merupakan aliran atau ajaran, ia juga bukan hal yang baru (saja) dilahirkan oleh NU. Memang betul bahwa NU adalah pihak pertama yang dewasa ini begitu gencar memunculkan istilah ini, tercatat pada tahun 2008 lalu, Taswirul Afkar (Jurnal yang diterbitkan oleh Lakpesdam NU), mengangkat tema “Islam Nusantara” sebagai bahan kajian di edisi ke-26.Kemudian, sejak tahun 2013 di lingkungan perguruan tinggi NU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama, STAINU, Jakarta) sudah dibuka program pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam yang berkonsentrasi pada Islam Nusantara. Tetapi sejatinya Islam Nusantara sudah eksis sejak pertama kali dakwah Islam hadir dan berkembang di Tanah Air Nusantara ini, meskipun tentu saja belum dirumuskan dalam frasa Islam Nusantara.

Ulama Salaf Online

Begitu dua kata yang tersusun dari entitas agama dan budaya ini ramai dibincangkan, barulah para tokoh NU berikhtiar merumuskan definisinya. Prof Isom Yusqi, Direktur Program Pascasarjana STAINU Jakarta, misalnya, menyebutkan bahwa Islam Nusantara merupakan “istilah yang digunakan untuk merangkai ajaran dan paham keislaman dengan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam” (Ulama Salaf Online, 25/6). KemudianKH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU dan Guru Utama Fiqh-Ushul Fiqh di Pesantren Sukorejo, Situbondo, memaknai Islam Nusantara sebagai “pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara” (Ulama Salaf Online, 27/6). Begitu juga Abdul Moqsith Ghozali, menyebut Islam Nusantara sebagai “Islam yang sanggup berdialektika dengan kebudayaan masyarakat” (Ulama Salaf Online, 29/6).

Aneka definisi yang diberikan para tokoh NU tersebut, semakin melengkapi tujuan mengingatkan umat untuk kembali meneladani perjuangan para ulama yang telah berhasil mendakwahkan Islam sehingga dapat tersebar secara kuat dan luas di bumi pertiwi. Keberhasilan dakwah para ulama tersebut, menurut Agus Sunyoto (2012), setelah mereka – para ulama, khususnya Walisongo pada abad ke-15, dapat memahami bagaimana cara mengenalkan Islam secara tepat kepada masyarakat asli Nusantara. Keberhasilan dakwah ala Walisongo tersebut, seperti hujan yang datang setelah kemarau panjang; tak kurang dari tujuh abad semenjak Muslim pertama datang di Aceh, Walisongo “hanya” perlu waktu kurang dari satu abad untuk menemukan “formula dakwah jitu” dan menyebarkan Islam di hampir semua pulau besar di Nusantara. Kekayaan, kekhasan, dan keunikan Islam Nusantara inilah yang hendak dieksplorasi oleh para mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta untuk kemudian dipublikasikan pada dunia internasional (STAINU Jakarta, 2013).

Nusantara, Tidak Hanya Jawa

Namun sayangnya, di tengah diskursus yang menarik tersebut, masih ada kesalahpahaman dari sementara kalangan, terutama pihak yang kontra terhadap topik Islam Nusantara ini. Menurut masyarakat yang tampaknya masih awam terhadap pengertian Islam Nusantara, misalnya, Islam Nusantara dianggapsesat dan menyesatkan, karena dikira anti-Arab dan hendak melakukan pribumisasi-nusantarasasi Islam yang bermuara pada sinkretisme. Dalam pemahaman mereka, sinkretisme yang ada dalam Islam Nusantara diwujudkan dalam, misalnya, wudhu dengan air kembang; membenci bahasa Arab sehingga adzan dan shalat dengan bahasa Indonesia; mengkafani jenazah dengan kain batik; arah kiblat dan pergi haji ke gunung atau candi di Indonesia;  dan beragam tuduhan menggelikan lainnya.

Terhadap tuduhan kelompok ini, Rijal Mumazziq Zionis, Dosen Pendidikan Anti Korupsi IAIN Jember, menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak mungkin anti-Arab (Suara-Islam, 18/6). Menyitir pendapat sastrawan Remi Sylado yang menyebut bahwa 9 dari 10 kosakata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Asing, ia menegaskan bahwa masyarakat pesantren, pendidikan khas Islam Nusantara, masih menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Sehingga, terlepas dari tidak mungkinnya beragam tuduhan tadi dijalankan oleh umat Islam, sikap anti-Arab merupakan hal yang mustahil.

Sedangkan sanggahan yang lebih baik datang dari sebagian pihak yang lebih memiliki pemahaman, tetapi menolak Islam Nusantara – terutama, menurut hemat penulis, semata karena alasan berbeda afiliasi organisasi. Bagi kelompok ini, Islam Nusantara perlu ditolak karena terlalu Jawa-sentris, sehingga ketika dipaksakan justru dapat memicu disintegrasi antar sesama muslim di Indonesia.Menurut mereka, adanya Islam Nusantara yang Jawa-sentris dapat memicu juga lahirnya Islam Minang, Islam Aceh, Islam Makassar, Islam Lombok, dan lain-lain, sebagai sikap ketidakpuasan terhadap Islam Nusantara. Selain itu, Islam Nusantara juga dapat memantik munculnya Islam Malaysia, Islam China, Islam Eropa, Islam Amerika, dan lain-lain.

Kelompok terakhir ini sepertinya belum mengetahui, atau sekurangnya lupa, bahwa terdapat jaringan ulama Nusantara yang membentang luas secara geografis dari seluruh wilayah Indonesia saat ini, hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani (Thailand). Pada masa Tanah Hijaz belum dikuasai oleh Kerajaan Saudi Arabia yang didukung oleh ulama Wahabi, ulama Nusantara berperan cukup penting di sana. Banyak ulama Nusantara yang belajar di tanah kelahiran Islam tersebut, dan tak sedikit pula yang menjadi pengajar di sana. Sebagai identitas terhadap orang-orang yang datang dari kawasan yang kini Asia Tenggara tersebut, diberikan nisbah sesuai negeri asalnya, al-Jawi. Bagi yang pernah membaca sekilas sejarah yang menyebut nama ulama al-Jawi ini, barangkali mengira bahwa yang dimaksud sebagai “Jawi” adalah Pulau Jawa saja.

Padahal, sebutan al-Jawi ini berlaku untuk semua orang yang berasal dari kawasan geografis yang membentang di Asia Tenggara kini. Sebagai contohnya, ada nama besar Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falimbani di Palembang, dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani al-Jawi di Patani (Thailand). Semuanya memakai nisbah al-Jawi sekalipun tidak berasal ataupun tinggal di Pulau Jawa. Selain itu, Ahmad Baso (2012), mengungkapkan sejarah jaringan kyai-santri, guru-murid, baik secara langsung maupun melalui tulisan,terjalin secara luas mulai dari wilayah-wilayah yang penulis singgung di atas, bahkan hingga ke daerah Kepala Burung dan Fakfak di Pulau Papua. Luasnya cakupan geografis ini, sejak zaman dahulu memang lazim disebut sebagai “Jawi”, “Negeri Bawah Angin”, dan “Nusantara” – terma yang menjadi bahan diskusi hangat kali ini.

Selain dari aspek kesejarahan yang menihilkan sangkaan Jawa-sentris terhadap Islam Nusantara, secara esensial pun Islam Nusantara tidak hendak melakukan Jawanisasi. Dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang terjalin antara ulama dari berbagai daerah di Nusantara, pada zaman dahulu maupun saat ini, tidak tampak adanya upaya radikal dari ulama Jawa untuk melakukan Jawanisasi di wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, misalnya, Islam sudah lebih dahulu berkembang daripada di Pulau Jawa, sehingga motif melakukan Jawanisasi Sumatera tidak menemukan bentuknya. Di Banjar Kalimantan, meskipun Islam masuk di sana sebagai syarat yang diberikan Sultan Demak atas dukungan politik pada Raja Banjar, tidak juga didapati upaya Jawanisasi Banjar yang berlebihan. Demikian juga di Lombok, yang mana Islamnya memiliki “citarasa” tersendiri dalam wujud Islam Wetu Telu, atau di Makassar, yang baru masuk Islam di awal abad ke-17 tetapi langsung gigih dalam menyebarkan agama tauhid tersebut. Sepanjang sejarah, harus diakui bahwa tidak ada upaya Jawanisasi terhadap model beragama yang ada di Nusantara.

Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara menjadi payung bagi “submodel” Islam Aceh, Islam Minang, Islam Jawa, Islam Lombok, Islam Banjar, Islam Makassar, Islam Melayu, Islam Patani, dan Islam-Islam “yang lain” di wilayahnya. Sebagai payung, Islam Nusantara akan menaungi dan mengayomi model keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal dalam koridor agama Islam, di manapun ia berada. Islam Nusantara bersifat lentur tetapi teratur. Terhadap hal ini, Zastrouw al-Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semacam “school of thought” dalam aspek apapun. Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing lahirnya model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Tiongkok, dan lain sebagainya, tidaklah menjadi persoalan sepanjang tetap di dalam kerangka Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.Wallahu a’lam.

 

*) Dawam Multazam, Santri Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Pesantren, Khutbah Ulama Salaf Online

Minggu, 18 Februari 2018

Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU

Jakarta, Ulama Salaf Online. Pemerhati anak yang juga pendongeng Seto Mulyadi mengatakan akan mendorong istrinya untuk menjadi anggota Muslimat NU.

“Tadi pas dinyanyikan Mars Muslimat NU, saya ikut bernyanyi. Muslimat NU ini hebat sekali. Lalu saya ingin mendorong istri saya jadi anggota Muslimat NU,” kata Psikolog yang akrab disapa Kak Seto saat tampil pada Halal Bihalal Muslimat NU dan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.?

Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU

Tak ayal para hadirin pun menyambut ucapan Kak Seto dengan tepuk tangan meriah.

Pada kesempatan tersebut Kak Seto tampil bersama Kak Heny Purwonegoro dan tim akrobatik. Mereka membawakan lagu-lagu dan cerita berisi pesan-pesan kebaikan dan karakter yang sesuai untuk anak-anak serta aksi-aksi akrobat.

Ulama Salaf Online

?

Sesekali mereka menyapa dan mengajak anak-anak menari dan bernyanyi, sehingga pertunjukan menjadi sangat interaktif. Kegiatan halal bihalal ini dihadiri oleh Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan para kader Muslimat NU dari sejumlah daerah.? (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian, Fragmen, Khutbah Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Sabtu, 17 Februari 2018

Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan

Sarat Wajib adalah syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melaksanakan suatu ibadah. Seseorang yang tidak memenuhi syarat wajib, maka gugurlah tuntutan kewajiban kepadanya. Sedangkan rukun adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam sebuah ibadah.

Adapun Syarat pertama seseorang itu diwajibkan menjalankan ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan, yaitu ia seorang muslim atau muslimah. Karena puasa adalah ibadah yang menjadi keharusan atau rukun keislamannya, sebagaimana termaktub dalam hadits yang diriwayat kan oleh Imam Turmudzi dan Imam Muslim:



Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab r.a, berkata: saya mendengar Rasulullah s.a.w, bersabda: Islam didirikan dengan lima hal, yaitu persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, didirikannya shalat, dikeluarkannya zakat, dikerjakannya hajji di Baitullah (Ka’bah), dan dikerjakannya puasa di bulan Ramadhan. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 7 dan Muslim: 19)

Ulama Salaf Online

Syarat yang kedua seseorang itu berkewajiban menjalankan ibadah puasa ramadhan, yaitu ia sudah baligh, dengan ketentuan ia pernah keluar mani dari kemaluannya baik dalam keadaan tidur atau terjaga, dan khusus bagi perempuan sudah keluar haid. Dan syarat keluar mani dan haid pada batas usia minimal 9 tahun.

Ulama Salaf Online

Dan bagi yang belum keluar mani dan haid, maka batas minimal ia dikatakan baligh pada usia 15 tahun dari usia kelahirannya. Dengan syarat ketentuan baligh ini, menegaskan bahwa ibadah puasa ramadhan tidak diwajibkan bagi seorang anak yang belum memenuhi cirri-ciri kebalighan yang telah disebutkan di atas.

Syarat yang ketiga bagi seorang muslim dan baligh itu terkena kewjiban menjalankan ibadah puasa, apabila ia memiliki akal yang sempurna atau tidak gila, baik gila karena cacat mental atau gila disebabkan mabuk.

Seseorang yang dalam keadaan tidak sadar karena mabuk atau cacat mental, maka tidak terkena hukum kewajiban menjalankan ibadah puasa, terkecuali orang yang mabuk dengan sengaja, maka ia diwajibkan menjalankan ibadah puasa dikemudian hari (mengganti di hari selain bulan ramadhan).



رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ

Tiga golongan yang tidak terkena hukum syar’i: orang yang tidur sapai ia terbagngun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh. (Hadits Shahih, riwayat Abu Daud: 3822, dan Ahmad: 910. Teks hadits riwayat al-Nasa’i)

Syarat keempat adalah kuat menjalankan ibadah puasa. Selain islam, baligh, dan berakal,  seseorang harus  mampu dan kuat untuk menjalankan ibadah puasa. Dan apabila tidak mampu maka diwajibkan mengganti di bulan berikutnya atau membayar fidyah. Untuk keterangan lebih detailnya akan dijelaskan pada fasal selanjutnya yang insyaallah akan diterangkan pada pasal permasalahan-permasalahan yang berkenaan dengan ibadah puasa.

Syarat kelima Mengetahui Awal Bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan diwajibkan bagi muslim yang memenuhi persyaratan yang telah diuraikan di atas, apabila ada salah satu orang terpercaya (adil) yang mengetahui awal bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal secara langsung dengan mata biasa tanpa peralatan alat-alat bantu. Dan persaksian orang tersebut dapat dipercaya dengan terlebih dahulu diambil sumpah, maka muslim yang ada dalam satu wilayah dengannya berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Dan apabila hilal tidak dapat dilihat karena tebalnya awan, maka untuk menentukan awal bulan Ramadlon dengan menyempurnakan hitungan tanggal bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Sebagaimana hadits Nabi Muhammad s.a.w, yang diriwayatkan oleh Imam Buchori, r.a:



صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُواعِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ 



Berpuasa dan berbukalah karena melihat hilal, dan apabila hilal tertutup awan maka sempurnakanlah hitungannya bulan menjadi 30 hari (H.R. Imam Buchori)



عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ اَعْرَبِيُّ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِنِّي رَاَيْتُ اْلهِلَالَ فَقَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلّاَ اللهَ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: يَا بِلَالُ اَذِّنْ فِى النَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَدًا 

Dari ‘ikrimah, ia dapatkan dari Ibnu Abbas, berkata: datanglah orang Arab Badui menghadap Nabi s.a.w, ia berkata: sesungguhnya aku telah melihat hilal. Nabi menjawab: apakah kamu akan bersaksi (bersumpah) “sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah”, orang Arab Badui tadi menjawab; “ia”. Lalu Nabi bertanya lagi: apakah kamu akan bersaksi (bersumpah) “ sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah”, dan Orang Arab Badui menjawab “ia”. Lalu Nabi bersabda; “wahai Bilal perdengarkanlah adzan ditengah-tengah kerumunan manusia, dan perintahkanlah mereka untuk mengerjakan puasa pada esok hari” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh lima Imam, kecuali Ahmad)

Adapun Rukun puasa hanya dua, pertama Niat. Niat puasa Ramadhan merupakan pekerjaan ibadah yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefarduannya didalam niat tersebut, contoh; saya berniat untuk melakukan puasa fardlu bulan Ramadhan, atau lengkapnya dalam bahsa Arab, sebagai berikut:



نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانِ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ

Saya niat mengerjakan ibadah puasa untuk menunaikan keajiban bulan Ramadhan pada tahun ini, karena Allah s.w.t, semata.

Sedangkan dalil yang menjelaskan niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari adalah sabda Nabi Muhammad s.a.w, sebagai berikut:



 Ù…َنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ 



Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu hajar, maka ia tidak berpuasa. (Hadits Shahih riwayat Abu Daud: 2098, al-Tirmidz: 662, dan al-Nasa’i:2293).

Adapun dalil yang menjelaskan waktu mengucapkan niat untuk puasa sunnah, bisa dilakukan setelah terbit fajar, yaitu:



عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : دَخَلَ عَلَّيَّ رَسُولُ اللهِ صَلِّي اللهُ عَلَيْهِ ÙˆÙŽ سَلّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ شَيْءٍ ØŸ فَقُلْنَا لَا فَقَالَ: فَاِنِّي اِذًنْ صَائِمٌ. ثُمَّ اَتَانَا يَوْمًا اَخَرَ، فَقُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ اُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ: اَرِيْنِيْهِ فَلَقَدْ اَصْبَحْتُ صَائِمًا فَاَكَلَ 

Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, suatu hari Nabi s.a.w, dating kepadaku dan bertanya, “apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?”. Aku menjawab, “Tidak”. Maka Belaiu bersabda, “hari ini aku puasa”. Kemudian pada hari yang lain Beliau dating lagi kepadaku, lalu aku katakana kepadanya, “wahai Rasulullah, kami diberi hadiah makanan (haisun)”. Maka dijawab Rasulullah, “tunjukkan makanan itu padaku, sesungguhnya sejak pagi aku sudah berpuasa” lalu Beliau memekannya. (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 1952, Abu Daud: 2099, al-Tirmidzi; 666, al-Nasa’i:2283, dan Ahmad:24549)

Dan rukun kedua adalah Menahan Diri Dari Segala Sesuatu Yang Membatalkan Puasa. Untuk detailnya apa-apa yang membatalkan puasa akan dijelaskan pada pasal sesuatu yang membatalkan puasa.



...فَاْلئَنَ باَشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ ثُمَّ اَتِّمُوْا الصِّيَامَ اِلَى اللَّيْلِ...

“…maka sekarang campurilah, dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, serta makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai waktu malam tiba...(QS. al-Baqarah, 2: 187) 

(Penulis: KH.Syaifullah Amin/Red: Ulil H). Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Kajian Islam, IMNU Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Februari 2018

Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah

Jakarta, Ulama Salaf Online. Pikiran orang Wahabi tidak istiqomah. Klasifikasi bid‘ah seringkali ditentukan sepihak oleh mereka. Namun ketika mereka sendiri melakukan amal ibadah tertentu yang bersifat bid‘ah, mereka tidak komentar apapun, bahkan merasa nyaman dengan amal itu. 

Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur KH Muhyiddin Abdusshomad mengatakan perihal itu dalam pelatihan aswaja dan empat pilar di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7) sore.

KH Muhyiddin Abdusshomad menunjuk sejumlah praktik ibadah yang terdapat di bulan suci Ramadhan. Ia menyebut doa panjang seraya menangis saat sembahyang Tarawih di malam ke 27 dan 29 Ramadhan.

Ulama Salaf Online

“Ini tidak terdapat dalam hadis Rasulullah SAW apalagi Al-Quran,” tegas KH Muhyiddin Abdusshomad di hadapan sedikitnya 100 peserta pelatihan.

Ulama Salaf Online

Belum lagi misalnya, lanjut KH Muhyiddin Abdusshomad, mereka mematok satu juz Al-Quran setiap malamnya. Hal ini dimaksudkan agar Al-Quran bisa dikhatamkan selama bulan Ramadhan.

Kita baru mencatat ketidakistiqomahan pikiran ini di dalam bulan Ramadhan. Sementara praktik ibadah yang termasuk bid‘ah di luar bulan Ramadhan lebih banyak lagi ditemukan.

Penentuan bid‘ah secara sepihak sementara mereka juga mengerjakan bid‘ah dalam bentuk lainnya, merupakan tindakan sewenang-wenang dan kezaliman dalam beragama.

Pelatihan Aswaja dan Empat Pilar berlangsung dari Jum‘at-Ahad (19-21/7). Pelatihan diikuti oleh kader Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (Hidmat NU) di lima cabang Jakarta dan kader da‘i Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Ahlussunnah, Sunnah, Khutbah Ulama Salaf Online

Kamis, 18 Januari 2018

Kapolres Dukung Jember Kota Santri Tetap Lestari

Jember, Ulama Salaf Online. Wakil Ketua DPRD Jember, Jawa Timur, Ayub Junaidi mengaku risih dengan banyaknya tempat hiburan malam (karaoke) di Jember, lebih-lebih pasca tertangkapnya pelaku penyalahgunaan narkoba di sebuah tempat karaoke.?

Sebab, selama ini Jember disebut sebagai kota relijius dengan puluhan pesantren besar di dalamnya. Tidak hanya itu, Jember juga dikenal banyak melahirkan tokoh dan ulama ? nasional.?

Kapolres Dukung Jember Kota Santri Tetap Lestari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Dukung Jember Kota Santri Tetap Lestari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Dukung Jember Kota Santri Tetap Lestari

Pesantren-pesantren tersebut menjadi petunjuk tentang relijiusitas kota tembakau ini, bahkan Pemkab Jember sendiri sudah menjuluki diri sebagai kota relijius sejak lama.?

“Kalau seperti ini, kita semua jadi malu. Katanya Jember kota santri. Kenyataannya banyak rumah karaoke yang berubah fungsi jadi tempat mabuk-mabukan,” ucap Ayub saat hearing dengan Polres Jember, Dinas Pariwisata, Disperindag, Satpol PP dan perwakilan rumah karaoke Star di ruang Banmus, Rabu (19/4).

Menurutnya, ini bertolak belakang dengan semangat Jember yang menamakan diri kota santri, kota relijius. Ia berharap agar label Kota Santri jangan sampai ternodai.

Ulama Salaf Online

Dukungan terhadap lestarinya Jember sebagai kota santri juga disampaikan oleh Kapolres Jember, Kusworo Wibowo. Menurutnya, Jember yang telah lama mencanangkan diri sebagai kota santri harus tetap dipertahankan. Salah satu caranya adalah ? dengan menjaga dan menertibkan tempat-tempat hiburan malam.?

"Kita juga gak kepingin Jember yang dilabel sebagai kota santri, menjadi luntur. Nanti timbul pertanyaan, pas eranya siapa itu luntur. Kita malu, masak di era kita Jember kehilangan nama kota santri. Mudah-mudahan jangan ya. Jadi kita pertahankan hal yang baik," tuturnya.

Ulama Salaf Online

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jember, Anas Maruf mengungkapkan bahwa jumlah rumah karaoke di Jember mencapai 10 buah. Dari jumlah tersebut hanya satu yang punya ijin menjual minuman keras, yaitu Aston.?

"Karena itu, kita akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengadakan penertiban," jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pendidikan, Khutbah Ulama Salaf Online

Selasa, 16 Januari 2018

Manfaatkan Sampah, Pelopori Gerakan Berkebun di Lahan Sempit

Pati, Ulama Salaf Online. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengajak dan mengajarkan warga sekitar cara berkebun di lahan sempit serta menggunakan barang-barang bekas sebagai tempat media tanam. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sampah yang kerap menumpuk sia-sia.

“Seandainya semua rumah tangga mau menggunakan plastik bekas minyak goreng atau pun yang lainnya sebagai media tanam, maka tak perlu lagi membeli polybag untuk menawan sayuran seperti sledri, sawi, kangkung, bayam, cabe dan lain sebagainya.” jelas Siswanto, penanggung jawab Devisi Litbang Lakpesdam Pati, Senin (30/11).

Manfaatkan Sampah, Pelopori Gerakan Berkebun di Lahan Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Sampah, Pelopori Gerakan Berkebun di Lahan Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Sampah, Pelopori Gerakan Berkebun di Lahan Sempit

Gerakan ini diharapkan menjadi solusi bagi aksi hijau di tengah keterbatasan lahan dan pemanfaatan sampah yang semakin melimpah ruah. Lakpesdam NU Pati membuat percontohan di rumah-rumah pengurus terlebih dahulu, untuk kemudian ditiru masyarakat.

Ulama Salaf Online

“Untuk kali ini rumahnya Khoirun Niam di desa Plukaran Gembong Pati, yaitu pengurus Lakpesdam dari Devisi Kajian dan Penerbitan sebagai tempat percontohan, menanam sledri di media tanam dari plastik bekas,” ujar Ratna Andi Irawan, Ketua Lakpesdam NU Pati

Ke depan diharapkan masyarakat Pati bisa berkebun sendiri di lahan sempit, bisa di depan ataupun samping rumah. Media tanamnya pun bisa cukup dengan memanfaatkan barang-barang rumah tangga yang sudah tak terpakai. Selain mengurangi penumpukan sampah, kegiatan kreatif ini bisa sedikit menghemat anggaran dapur karena sawi, sledri, kangkung, bayam, atau cabe dapat dipetik dari kebun sendiri.

Ulama Salaf Online

Siswanto menambahkan, dalam waktu dekat ini Lakpesdam NU akan mengadakan pelatihan tentang menumpuk rupiah dari sampah. Peserta akan diberikan pemahaman bahwa sampah bisa bernilai ekonomis apabila kita mengetahui cara mengelolanya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Pendidikan, Pemurnian Aqidah Ulama Salaf Online

Senin, 15 Januari 2018

LDNU Siap Cetak Dai Toleran

Jakarta, Ulama Salaf Online

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) berkomitmen tidak hanya melahirkan para pendakwah yang piawai berpidato di atas mimbar tapi juga mampu bersikap toleran selama menjalankan tugasnya. Hal ini sebagai wujud penerapan prinsip yang menjadi pijakan kaum Nahdliyin.

Ketua Pengurus Pusat LDNU KH Zakky Mubarak mengatakan, komitmen tersebut ia rintis salah satunya dengan mengadakan Pendidikan Kader Dai satu tahun belakangan ini. Setelah memasuki angkatan ketiga, pihaknya mengaku berupaya meningkatkan kualitas pembinaan dan mengambil tema ” ”Mencetak Dai yang Toleran”.

LDNU Siap Cetak Dai Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Siap Cetak Dai Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Siap Cetak Dai Toleran

”Ada sekitar 90 yang ikut pendidikan kali ini. Pesertanya dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, dokter, dosen, ustad, dan lain-lain,” ujarnya di kantor LDNU belum lama ini.

Menurut Zakky, dakwah di Indonesia membutuhkan pembinaan dan pengelolaan yang serius. Kaderisasi menjadi langkah penting untuk memasukkan para calon dai pada fase perbaikan diri. Sebab juru dakwah dituntut menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang benar.

”Tidak boleh terlalu lembek tapi juga tidak boleh terlalu keras. Para dai mesti mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dakwah melawan kemungkaran pun tak boleh dengan cara-cara yang mungkar,” tuturnya.

Ulama Salaf Online

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Khutbah Ulama Salaf Online

Minggu, 31 Desember 2017

Hukum Membunuh dalam Islam

Oleh Hengki Ferdiansyah



Pada dasarnya tidak ada satupun agama di dunia ini yang menghalalkan pembunuhan, sebab tujuan agama adalah untuk perdamaian, menyebarkan kasih sayang, dan mengatur tatanan sosial agar lebih baik. Begitu pula dengan doktrin agama Islam, sejak awal penurunannya sudah ditegaskan bahwa Islam mengemban visi kerahmatan (QS: al-Anbiya’: 107). Sehingga hampir tidak ditemukan pembenaran kejahatan dalam ajaran Islam. Dengan demikian, bila ada sekelompok orang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam, ketahuilah bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan filosofi Islam itu sendiri.

Hukum Membunuh dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membunuh dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membunuh dalam Islam

Dalam al-Qur’an dikatakan, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS: Al-Maidah: 32).Ayat ini adalah salah satu contoh kecaman Islam atas setiap pembunuhan yang dilakukan dengan semena-mena.

Membunuh satu orang manusia ditamsilkan dengan membunuh semua manusia. Karena setiap manusia pasti memiliki keluarga, keturunan, dan ia merupakan anggota dari masyarakat. Membunuh satu orang, secara tidak langsung akan menyakiti keluarga, keturunan, dan masyarakat yang hidup di sekelilingnya. Maka dari itu, Islam menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar kedua setelah syirik (HR: al-Bukhari dan Muslim). Kelak pelaku pembunuhan akan mendapatkan balasan berupa neraka jahannam (QS: al-Nisa’: 93).

Ulama Salaf Online

Aturan ini tentu tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja dan bukan berati non-muslim dihalalkan darahnya,karena misi kerahmatan yang dibawa Islam tidak hanya untuk orang Islam semata, tetapi untuk seluruh semesta. Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan, man qatala dzimmiyan lam yarih ra‘ihah al-jannah, orang yang membunuh seorang dzimmi (non-muslim yang berada dalam perjanjian keamanan), maka ia tidak akan mencium aroma surga.? Hadis ini ialah salah satu landasan larangan membunuh non-muslim dalam Islam.

Pembunuhan yang Diperbolehkan

Ulama Salaf Online



Dalam kondisi terntentu, pembunuhan tetap diperbolehkan dengan beberapa syarat dan aturan. Ada dua kondisi yang dibolehkan untuk menghilangkan nyawa manusia: membunuh ketika perperangan dan membunuh ketika menghukum. Membunuh dalam kedua kondisi ini diperbolehkan selama tidak berlebih-lebihan (QS: Al-Baqarah: 190). Konflik yang berimbas pada perperangan tentu membunuh antara satu sama lainnya tidak terelakkan.

Perperangan yang dimaksud di sini ialah perperangan yang terjadi dalam rangka mempertahankan agama, negara, dan harga diri. Perang bisa dilakukan ketika keberadan satu komunitas diancam oleh komunitas lain dan tidak menemukan cara lain? untuk mengatasinya kecuali dengan berperang. Selama masih bisa diselesaikan dengan cara lain, maka perang tidak boleh dilakukan. Oleh sebab itu, jika merujuk kepada sejarah Islam, perang adalah solusi terakhir dan biasanya terjadi ketika umat Islam sudah diserang dan dikhianati terlebih dahulu oleh musuh.

Namun perlu digarisbawahi, membunuh diperbolehkan ketika kedua belah pihak sudah sepakat untuk berperang. Bila salah satunya sudah mengalah, maka menyerang lawan tidak boleh dilakukan. Dan perlu diketahui pula, yang diperbolehkan untuk dibunuh hanyalah pasukan perang saja. Sementara anak, istri, dan keluarganya yang tidak ikut berperang tidak boleh dibunuh.

Andaikan terjadi perperangan antara orang Islam dengan non-muslim, maka non-muslim yang dibunuh hanyalah yang ikut serta dalam perperangan saja, sedangkan yang tidak ikut berperang diharamkan untuk dibunuh. Ibnu al-‘Arabi dalam Ahkam al-Qur’an mengatakan, “Janganlah membunuh kecuali terhadap orang yang telah memerangimu. Orang yang diperbolehkan untuk dibunuh dalam perperangan ialah laki-laki dewasa saja, sementara perempuan, anak-anak, dan para pendeta tidak diperbolehkan untuk membunuhnya.”

Kemudian, pembunuhan boleh dilakukan ketika menghukum pelaku kriminal. Maksudnya, membunuh dalam rangka menghukum. Hal ini tentu hanya berlaku bagi negara yang menerapkan hukuman mati. Dalam Islam,? hukum mati boleh dilakukan ketika pelaku telah membunuh orang lain, melakukan pemberontakan, dan melakukan kejahatan yang menganggu kenyaman hidup orang banyak. Hukuman mati boleh dilakukan ketika di sebuah negara sepakat untuk menerapkannya dan orang yang diperbolehkan untuk melakukannya hanyalah pejabat yang sudah ditunjuk oleh hakim ataupun presiden.

Jika seorang melakukan pembunuhan misalnya, hukuman tersebut bisa diterapkan bila keluarga korban menuntut untuk membalasnya dengan bentuk hukuman yang setimpal (nyawa dibayar nyawa). Akan tetapi, hukuman qishash? terbatalkan bila pelaku mendapatkan ampunan dan maaf dari keluarga korban. Begitu pula dengan pelaku makar dan perusak hidup orang banyak, mereka baru bisa dihukum mati bila hakim dan pembuat kebijakan negara memutuskan hukuman mati untuk mereka. Wallahu a’lam

Hengky Ferdiansyah adalah Peneliti Hadis di El-Bukhori Institute. Alumni Pondok Pesantren ilmu hadis Darus-Sunnah, Ciputat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Sholawat Ulama Salaf Online

Rabu, 27 Desember 2017

Mendagri Sudah Koordinasi untuk Bubarkan Ormas Anti-Pancasila

Jakarta, Ulama Salaf Online

Kementerian Dalam Negeri sudah melakukan rapat koordinasi dengan Kejaksaan Agung dan Polri soal rencana pembubaran organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dinilai tidak Pancasilais.

"Kemendagri sudah rapat koordinasi dengan Kejaksaan dan Polri. Ada Ormas dapat disebut melakukan makar dan akan dibubarkan. Kami merekomendasikan agar tindakan ormas diproses secara hukum," kata Tjahjo Kumolo pada rapat kerja dengan Komisi II DPR RI, di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin.

Mendagri Sudah Koordinasi untuk Bubarkan Ormas Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendagri Sudah Koordinasi untuk Bubarkan Ormas Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendagri Sudah Koordinasi untuk Bubarkan Ormas Anti-Pancasila

Tjahjo Kumolo mengatakan hal itu menjawab pertanyaan Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Lukman Edy, yang meminta penjelasan soal pernyataan Menteri Dalam Negeri bahwa Pemerintah akan membubarkan ormas yang dinilai tidak sejalan dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebelumnya, pada Rembuk Nasional Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasai), di Purwakarta, Senin (9/5), Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, mengatakan, Pemerintah akan membubarkan ormas yang dinilai menolak Pancasila.

Menurut Tjahjo, Kemendagri, Kejaksaan Agung, dan Polri, sudah bertemu dan membahas hal itu, yakni melarang ormas anti-Pancasila.

Ulama Salaf Online

Tjahjo enggan menyebutkan nama ormas tersebut, tapi ormas itu cukup besar.

"Ormasnya cukup besar dan terang-terangan anti-Pancasila," katanya.

Ulama Salaf Online

Tjahjo menambahkan, hasil keputusan dari rapat koordinasi Kemendagri, Kejaksaan Agung, dan Polri, dikirim ke seluruh pemerintah daerah di Indonesia, agar menjadi pegangan di tiap daerah.

"Supaya pimpinan daerah tidak bingung menindaklanjutinya," katanya.

Dia menegaskan, Pancasila adalah konsensus nasional dan ideologi negara yang merekatkan bangsa Indonesia.

"Karena itu, kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh menghujat Pancasila," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Anti Hoax, Kyai, Khutbah Ulama Salaf Online

Membangun Pondasi Historiografi Pesantren

Bagaimana memahami alur pemikiran, pondasi pengetahuan dan historiografi pesantren? Abdul Munim DZ menulis refleksi mendalam tentang bagaimana membangun pengetahuan dan mengembangkan historiografi Nusantara.?

Melalui buku "Fragmen Sejarah NU", Munim mengembangan le petit histoire (sejarah kecil) pesantren yang disambungkan dengan peta besar dunia, dalam level nasional dan internasional.?

Buku ini berusaha menggali epistemologi Nusantara sekaligus mengembangkan historiografi pesantren. Dalam buku ini, Abdul Munim DZ menjelaskan bahwa wajah pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam buku-buku akademik, cenderung mengalami peyorasi dan marginalisasi gagasan. Hal ini, karena tidak adanya pemahaman komprehensif degan dimensi-dimensi kehidupan warga Nahdliyyin, dari sosiologis-antropologis hingga spiritualitasnya.?

Membangun Pondasi Historiografi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Pondasi Historiografi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Pondasi Historiografi Pesantren

Di sisi lain, ada warisan pemikiran dan sarjana-sarjana kolonial yang menempatkan pesantren dan jaringan kunci penggerak Nahdliyyin di lorong sepi sejarah serta pemikiran sosial. Warisan pemikiran yang khas kolonial ini, tidak memberi ruang bagi pemikiran, kekayaan budaya dan peran penting pejuang dari pesantren dalam proses panjang "menjadi Indonesia".?

Dalam buku ini, Munim juga menjelaskan ada dua proses pencarian ilmu, yang selama ini menjadi kekayaan peradaban Nusantara. Yakni, rihlah (lelono broto, perjalanan ilmiah) dan uzlah (topo broto). Perjalanan panjang untuk memahami dunia dengan segenap pengalaman, kemudian dikoneksikan dengan renungan dalam pertapaan untuk mengheningkan diri dan pikiran (hal. 17-18).?

Gagasan yang tumbuh dalam ruang hening, merupakan kristalisasi ide untuk memahami sesuatu yang berkecamuk dalam dunia luar, yang diperas selama perjalanan. Untuk itu, banyak kiai pesantren yang sering melakukan perjalanan panjang untuk silaturahmi, sekaligus melakukan renungan dalam kesunyian untuk mengendapkan pengalaman. Dari proses inilah, gagasan khas para begawan Nusantara mengalir.?

Ulama Salaf Online

Sejarah kecil gagasan besar

Kisah-kisah yang ditampilkan dalam buku ini sangat menarik. Bahkan, ada beberapa yang merupakan kisah istimewa, karena belum pernah dipublikasikan dalam buku ataupun media massa. Kisah-kisah rahasia itu, hasil wawancara pribadi maupun perbincangan penulis dengan warga Nahdliyyin selama perjalanan. Kisah-kisah tentang tokoh NU yang menjadi kunci dalam beberapa kebijakan strategis negara, jarang terdengar dalam perbincangan publik. Peran tokoh NU di lingkaran intelijen juga menjadi penting dipahami.?

Misalkan, sebuah kisah tentang bagaimana Gus Dur berdialog dengan Ali Moertopo, Ketua Operasi Khusus (Opsus) yang kemudian menjadi Ketua Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN). Ketika itu, Gus Dur baru pulang dari belajar di Mesir, Irak dan perjalanan berkeliling Eropa. Kedatangan Gus Dur berhasil menggebrak jagad intelektual Indonesia, dengan argumentasi yang jernih dan cemerlang.?

Ketika Gus Dur mulai menuliskan pemikirannya, banyak tokoh yang merasa putra Kiai Wahid Hasyim ini akan menjadi intelektual cemerlang. Ali Moertopo, sebagai petinggi intelijen tertarik dengan sosok Gus Dur. Ia mengundang Gus Dur dalam diskusi terbatas di bawah koordinasi BAKIN. Menghadapi Ali Moertopo, Gus Dur mampu berdebat dan melempar argumentasi secara tajam, jernih serta tidak mudah dipatahkan. Singkatnya, Gus Dur berhasil membuat Ali Moertopo simpatik dengan pikiran jernihnya. Dari jaringan intelijen, Gus Dur berkenalan dengan Benny Moerdani dan orang-orang penting dalam jajaran intelijen negara (hal. 211-213).?

Ulama Salaf Online

Bagaimana dengan sosok Subhan ZE? Dalam buku ini, disebutkan bagaimana Subhan merupakan kader muda Nahdliyyin yang matang dalam peta politik. Manuver-manuver Subhan ZE sangat penting untuk memahami bagaimana warga NU bersikap, terutama dalam konstelasi politik level nasional dan internasional.?

"Saat itu para kader NU selalu mendapatkan informasi tentang perkembangan politik, sehingga tahu peta politik nasional, sehingga mereka cerdik dalam politik. Nasehat itu menjadi pegangan aktifis NU dalam mengantisipasi perkembangan politik nasional pada awal Orde Baru, " tulis Munim (hal. 192). Kisah-kisah penting yang jarang terdengar serta analisis jernih tentang manuver tokoh NU dalam pendulum sejarah bangsa sangat penting disimak.?

Buku ini menjadi catatan sekaligus renungan berharga, bagaimana membangun pohon pengetahuan yang berakar dari pemikiran Nusantara, dengan ragam tradisi, pembelajaran dan khazanah sejarahnya.?

Data Buku

Judul: Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara

Penulis: Abdul Munim DZ

Penerbit: Compass Pustaka Jakarta

Cetakan: Januari 2017?

Tebal: xxii+413 hal

ISBN: 978-602-60537-2-5

Peresensi: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Khutbah, Nusantara Ulama Salaf Online

Selasa, 19 Desember 2017

Mantapkan Paham Aswaja, Tangkal Embrio Radikalisme

Pamekasan, Ulama Salaf Online - Pengurus Cabang PMII Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menggelar perayaan Maulid Nabi di Aula Kantor Kementerian Agama setempat, Jumat (15/1) malam. Pengasuh Pondok Pesantren Al Abror Pamekasan KH Syatibi Sayuthi, hadir sebagai penceramah.

Dalam taushiyah yang dirangkai dengan Muspimcab PMII, Kiai Syatibi mengajak seluruh kader PMII untuk bersama memantapkan paham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) di dunia kampus. Itu untuk menangkal radikalisme sebagai embrio dari terorisme.

Mantapkan Paham Aswaja, Tangkal Embrio Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantapkan Paham Aswaja, Tangkal Embrio Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantapkan Paham Aswaja, Tangkal Embrio Radikalisme

Kiai Syatibi juga menegaskan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan berorganisasi. Di samping itu, juga diketengahkan pentingnya memanfaatkan teknologi untuk kepentingan dakwah dan keagamaan.

Ulama Salaf Online

Serta, Kiai Syatibi menegaskan pentingnya mempertahankan seni budaya lokal yang selaras dengan syariat Islam.

"Dengan teknologi hidup menjadi mudah, dengan seni budaya hidup menjadi indah, dan dengan agama hidup menjadi terarah," pungkasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online RMI NU, Khutbah, Anti Hoax Ulama Salaf Online

Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah

Jakarta, Ulama Salaf Online

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nasaruddin mengatakan, kelompok teroris sebenarnya menyandera Islam dan berusaha mengubah wajah Islam menjadi anarkis serta bernuansa terorisme. Hal ini sangat bertentangan dengan Islam rahmatan lil alamin.

Mustasyar PBNU ini melanjutkan bahwa salahnya kelompok teroris terletak pada keinginan menyulap dan memaksakan manusia menjadi malaikat tanpa dosa dan kesalahan. Bid’ah itu adalah ingin membuat Islam melampaui Islam itu sendiri.

Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah

“Apapun yang menghalalkan kekerasan dalam memajukan Islam, maka itu wajib ditolak,” tuturnya pada pertemuan para dai yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui mitra kerjanya Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta, Rabu (20/4), di Jakarta.

Ulama Salaf Online

Dalam kegiatan yang dihadiri sekitar 250 peserta ini, Sekretaris Utama BNPT RI Mayjend TNI R Gautama Wiranegara memaparkan bahwa yang bertanggung jawab dalam aksi terorisme adalah mereka yang memiliki paham radikal dalam menafsirkan agama. “Sudah 15 tahun kita menangani aksi terorisme, sampai sekarang belum juga selesai,” ujar jendral bintang dua ini.

Ulama Salaf Online

Peran TNI, tambahnya, tidak cukup untuk mencegah terorisme. Menurutnya, harus ada usaha saling bahu-membahu dalam penggulangan radikalisme dan terorisme. Para dai diharapkan dapat memberikan solusi dan kontribusi dalam penanggulangan terorisme, termasuk menekan isu SARA yang mungkin terjadi di Jakarta.

Firdaus Syam, pembicara lain, mengatakan bahwa dai adalah seseorang yang diharapkan untuk mencerdaskan umat, bukan memprovokasi mereka sehingga melahirkan kebencian. Baginya, dakwah harus menebarkan kasih sayang dan cinta. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Pertandingan, Internasional Ulama Salaf Online

Sabtu, 16 Desember 2017

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan

Yogyakarta, Ulama Salaf Online. Pemerintah dinilai panik dan frustasi menyikapi persoalan perberasan yang meruncing karena harga beras di banyak tempat telah naik tajam. Keputusan pemerintah menambah jumlah beras impor sebesar 500.000 sangat membahayakan ketahanan pangan Indonesia.

”Bagi saya, ini sungguh keputusan politik yang tergesa-gesa. Alasan-alasan yang dibangun juga sangat klasik, produksi yang turun, konsumsi naik, jumlah penduduk naik, dan alasan-alasan instan reaktif lainnya,” kata KH. Mohammad Maksum, Wakil Ketua Penguruts Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta kepada Ulama Salaf Online di Yogyakarta, Kamis (15/2).

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan

Menurut Maksum yang juga peneliti di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gajah Mada (UGM), semua pihak harus duduk bersama dan mencermati urusan pangan dari perpektif jangka panjang. Keberlanjutan ketahanan dan kedaulatan RI harus diprioritaskan.

“Banyak yang harus kita telah sehingga tidak reaktif -impor begitu saja. Padahal itu membahayakan kedaulatan pangan dan RI kita. Selain itu impor beras untuk kebutuhan Operasi Pasar itu lebih banyak mubazirnya,” kata Maksum.

Dikatakan, mestinya pemerintah berangkat dari mempertanyakan kenapa OP yang baru-baru ini digencarkan selalu gagal dan tidak efektif. Menurut teori OP berfungsi untuk menyetabilkan harga, namun kenyataannya tidak demikian. “Misteri itu harus diungkap.. Harus kita sadari bahwa misteri itu ada,” katanya.

Gejolak perberasan memang menjadi kebiasaan tahunan. Pada Januari-Februari tahun ini kenaikan harga beras termasuk paling dahsyat. Namun, kata Maksum, perlu diingat bahwa ada kelambatan panen di satu fihak dan ada manipulasi pasar di fihak lain. Pembangunan pertanian harus dilakukan secara sistemik pernah sistemik dan tidak reaktif begitu saja.

Ulama Salaf Online

”Apakah dengan impor persoalan selesai? Saya yakin tidak! Kecuali kita reorientasi membangun bangsa ini dengan mementingkan pertanian dan kaum sebagai kiblat dan pusat perhatian, bukan hanya sebagai semboyan seperti dulu. Tanpa memahami sistem pasar yang terjadi di balik dinamika harga ini, solusinya pasti reaktif, jangka pendek, dan tidak pernah selesaikan persoalan,” katanya. (nam)

Ulama Salaf Online



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kyai, Habib, Khutbah Ulama Salaf Online

Senin, 11 Desember 2017

Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat

Jakarta, Ulama Salaf Online 



KH Buchori Masroeri menceritakan keistimewaan KH Abdurraahman Wahid (Gus Dur) terkait kemampuan membacanya. Menurut dia, ketika menjadi santri KH Chudlori di Tegalrejo, Magelang, sekitar tahun 1955, bacaan Gus Dur yang masih berusia 15 tahun adalah Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris, “The Holy Quran”.

“Zaman tahun 1955, Gus Dur cekenale (pegangannya) Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris. “The Holy Quran”. Pangepunten (mohon maaf), kacamatanya udah tebel waktu itu,” katanya pada ceramah Haul Gus Dur di Masjid Agung Demak 2014 yang diakses Ulama Salaf Online Sabtu (5/8) melalui video yang disebarluaskan di YouTube.  

Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat

Waktu itu, Kiai Buchori yang pencipta lagu “Perdamaian” yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria, masih belum mengenalnya dan merasa heran akan kemampuan cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu. 

“Saya heran, di dunia ini kok ada orang yang seperti Gus Dur. Pabrik ora ngetokno orang koyok kui (pabrik tidak mengeluarkan lagi orang seperti itu,” ungkap dai yang menurut Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) berdakwah dengan ilmu itu.

Ulama Salaf Online

Ia melanjutkan keanehan tentang Gus Dur membaca dari informasi lain. Informasi itu adalah, Gus Dur mampu menyelesaiakan "The Satanic Verses" (Ayat-ayat Setan) karangan Salman Rushdie di pesawat terbang dari Soekarno Hatta, Jakarta, sampai Juanda, Surabaya. Buku tebal itu dilahap Gus Dur sampai tamat.  

Kulo diceritakno; mboten ngandel, mosok iyo, (saya diceritakan tentang hal itu, tidak percaya, masak iya),” katanya.  

Ulama Salaf Online

Lalu, ketika menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah, ia mengirimkan surat langsung ke Jakarta dan diterima langsung Gus Dur. Nah, ketika menerima surat itu, Gus Dur membaca surat itu tidak seperti orang umumnya membaca. Ia tidak melihat surat itu. 

Kiai Buchori, di video itu, mempraktikkan cara membaca Gus Dur. Ia mengambil kertas yang ada di podium, kemudian kertas itu ditempelkan ke mukanya. Lalu ditarik ke atas dengan agak cepat, sementara kertas itu masih menempel muka, hingga melewati kepala. Ia mempraktikkan hal itu beberapa kali. 

Menurut Kiai Buchori, dengan menempelkan kertas ke muka, seolah-olah surat itu discanner atau difoto copy otak Gus Dur. 

Ternyata, lanjutnya, apa yang dilakukan Gus Dur itu tidak ngawur. Buktinya apa yang dinyatakan di surat itu, ditanyakan satu per satu oleh Gus Dur dengan tepat. 

“Kalau bukan discanner apa lagi? 

Dari situ, ia menyimpulkan, jika begitu, pantas saja, sejak kecil, Gus Dur sudah bisa membaca cepat dan bahkan dalam bahasa asing. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Amalan, Meme Islam Ulama Salaf Online

Kamis, 30 November 2017

PBNU Diprotes Tokoh-tokoh Muslim Dunia Soal Sanksi Iran

Jakarta, Ulama Salaf Online. Meski tak turut campur dalam pengambilan keputusan pemerintah Indonesia yang mendukung pemberlakuan sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran terkait program nuklirnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima banyak protes dari tokoh-tokoh muslim dunia.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum PBNU Dr KH Hasyim Muzadi kepada Ulama Salaf Online di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (26/3). Menurutnya, tokoh-tokoh muslim dunia sangat kesal dan memprotes keras sikap Indonesia yang menyetujui sanksi DK PBB terhadap Iran. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, katanya, Indonesia tak pantas menyepakati sanksi tersebut.

PBNU Diprotes Tokoh-tokoh Muslim Dunia Soal Sanksi Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Diprotes Tokoh-tokoh Muslim Dunia Soal Sanksi Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Diprotes Tokoh-tokoh Muslim Dunia Soal Sanksi Iran

”Saya sendiri kewalahan menerima kontak dari ulama-ulama terkemuka dunia yang mengungkapkan kekecewaan, kekesalan serta protes keras atas terlibatnya Indonesia dalam menyetujui sanksi PBB terhadap Iran. Karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, pelopor gerakan Nonblok dan eksponen penting OKI (Organisasi Konferensi Islam, Red),” tutur Presiden World Conference on Religion and Peace itu.

DK PBB menjatuhkan sanksi bagi Iran melalui Resolusi 1747 pada Ahad (25/3). Rancangan resolusi yang dirumuskan Inggris, Prancis, dan Jerman itu disepakati secara bulat oleh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia.

Resolusi ini memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 adalah larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran. Isi resolusi juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran.

Ulama Salaf Online

Iran juga dibatasi untuk memperoleh bantuan keuangan. DK PBB memberi batas waktu 60 hari setelah resolusi agar Iran menghentikan program nuklirnya. Jika diabaikan, DK PBB bisa mengambil langkah yang lebih pantas berupa sanksi ekonomi, bukan militer.

Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu mensinyalir, Amerika Serikat (AS) merupakan aktor utama di balik penjatuhan sanksi terhadap Iran. Sehingga pemerintah Indonesia pun tak berani mengambil sikap berseberangan dengan negara adidaya itu.

“Ternyata (pemerintahan) Megawati (Soekarnoputri) mempunyai kadar keberanian lebih tinggi dari pemerintah sekarang. Karena dulu Megawati berani menolak agresi Presiden AS Goerge W Bush ke Irak tanpa bermusuhan dengan Amerika,” sesal Hasyim yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur.

Hasyim mengimbau kepada elit politik di negeri ini agar bisa belajar dari sejarah para pemimpin dunia yang mendukung AS. Menurutnya, sebagian besar para pemimpin dunia yang membela AS itu, saat jatuh dari kepemimpinannya tak satupun yang mendapat perlindungan dari negara yang gemar membuat kekacauan itu.

Ulama Salaf Online

”Mereka, seperti Marcos, Idi Amin, Duvalier, Nguven Van Theu dan lain sebagainya, tak ada yang ditolong Amerika Serikat setelah jatuh. Mungkin saja Indonesia nanti juga demikian,” ungkap mantan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu.

Sebelum terlambat, ia meminta elit politik di Indonesia untuk ’tobat’ dengan tidak lagi menjadi agen AS. Karena, menurutnya, negara tersebut bukanlah negara yang setia terhadap negara lain, karena hanya setia terhadap kepentingan sesaat yang menguntungkan diri sendiri.

”Elit politik Indonesia hendaknya sadar sebelum terlambat. (George W) Bush bukanlah orang yang setia kawan, hanya setia kepentingan sesaat. Di Amerika Serikat sendiri, Bush dikritik pedas oleh rakyatnya. Bagaimana kita bisa menjadi bagian dari foreign policy Bush?,” gugat Hasyim. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah Ulama Salaf Online

Kamis, 23 November 2017

Pakai Batik Berarti Ikuti Jejak Nabi

Bandung, Ulama Salaf Online. Saya pernah menghadiri pengajian Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri di pengajian rutin komunitas Mata Air, di Jl Mangunsarkoro, Mentang, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011. Pengajian yang berlangsung pukul 19.30 ini dihadiri sekitar 40 orang peserta.?

Dalam pengajian itu, kiai yang akrab disapa Gus Mus itu memaparkan, dewasa ini, umat Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban, dan memelihara jenggot. Mereka menyangka, kata dia, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad.?

Pakai Batik Berarti Ikuti Jejak Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakai Batik Berarti Ikuti Jejak Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakai Batik Berarti Ikuti Jejak Nabi

“Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional (Arab),” ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini.?

Ulama Salaf Online

Kiai kita ini menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya. Buktinya ia memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah.?

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin, “Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam.?

“Ini, ittiba’ Kangjeng Nabi. Ya begini ini, bukan pake serban, berjenggot. Itu ittiba’ Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya,” tegasnya.

Ulama Salaf Online

Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba’ Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya. “Sekarang ini, nggak. Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya.?

UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik. (Abdullah Alawi)

?

Keterangan foto: Ratusan Muslimat NU sedang mengikuti pengajian rutin di gedung Kebersamaan Musmlimin milik Ranting NU Cimerah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka mengenakan batik.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Tokoh Ulama Salaf Online

Rabu, 15 November 2017

Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN

Jakarta, Ulama Salaf Online. Indonesia merupakan negara dengan kualitas demokrasi terbaik di ASEAN, bahkan di tingkat dunia perkembangan demokrasi Indonesia telah diakui. Hal ini yang menjadi pembeda utama antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya.?

Menurut pengamat politik senior Fachry Ali, demokrasi yang dirasakan masyarakat Indonesia tidak dirasakan masyarakat negara ASEAN lainnya. Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak terlalu kaget dengan perkembangan internet dan media sosial yang melahirkan otonomi individual. Fachry justru mempertanyakan, sejauh mana pemerintah otoriter mampu bertahan di dalam lingkungan global, di mana arus informasi dan pengetahuan tak lagi bisa dibendung.

Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fachry Ali: Kualitas Demokrasi Indonesia Jadi Pembeda Diantara Negara-negera ASEAN

"Pertanyaan yang ingin saya kemukakan di sini bukanlah apakah MEA ini akan berhasil, melainkan apa kontribusi spesifik Indonesia di dalam masyarakat yang keberadaannya telah melampaui tapal-batas negara-bangsa? Di sini saya melihat kita bisa menyumbangkan demokrasi dan nilai-nilai gotong royong Indonesia," kata Fachry Ali dalam pertemuan nasional Relawan Komunitas Peduli ASEAN (KAPAS), di Ruang Nusantara, Kementerian Luar Negeri, Sabtu (30/4) akhir pekan lalu.

?

"Anak-anak muda harus paham, bahwa Indonesia sudah juara di ASEAN, yaitu dalam hal demokrasi, tidak ada masyarakat di negara ASEAN yang menikmati indahnya demokrasi sebagaimana dialami oleh masyarakat Indonesia. Masih banyak negara-negara ASEAN yang kurang demokratis, sementara di satu sisi perkembangan internet dan informasi semakin cepat, Indonesia adalah negara yang paling juara dalam hal ini," tambah Fachry Ali.

Ulama Salaf Online

Koordinator Relawan KAPAS Hariqo Wibawa Satria mengatakan perkembangan teknologi memudahkan setiap orang mempelajari isu-isu hubungan internasional, Di era digital ini pada hakikatnya setiap orang adalah diplomat."Sekarang diplomat bukan saja yang kuliah di Jurusan HI atau bekerja di KBRI, namun setiap kita adalah diplomat, olahragawan, seniman, dll juga adalah diplomat", tegas Hariqo.

Terkait agenda pertemuan nasional ini, Hariqo Wibawa menjelaskan tujuan berkumpul agar terjadi peningkatan gotong royong anak muda menjadikan Indonesia juara di ASEAN dalam berbagai bidang. Melihat situasi hari ini, dirinya optimis kolaborasi anak muda akan semakin meningkat."Peningkatan gotong royong menjadikan Indonesia juara ASEAN, sebaliknya tanpa gotong royong kita akan selalu minta tolong negara lain," jelas Hariqo seraya menyampaikan terima kasih kepada para relawan yang ikut menyuarakan tagar #IndonesiaJuaraASEAN.

Kegiatan yang dibuka Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir ini berlangsung dari pagi hingga sore hari. Semua peserta aktif memposting dan melakukan tweet dengan tagar #IndonesiaJuaraASEAN di media sosial. Puncaknya dari pukul 11.30 – 16.15 tagar #IndonesiaJuaraASEAN jadi trending topic di twitter.?

"Baru setengah hari udah jadi trending topic!, awesome! #IndonesiaJuaraASEAN," ungkap Fety Octaviia Niza lewat akun twitter @viianiza.

Ulama Salaf Online

"Akhirnya kami bisa melakukannya, mentwit hal-hal positif dengan tagar #IndonesiaJuaraASEAN menjadikannya kita bangga sebagai sebagai anak Indonesia," ungkap Kevlin relawan dari Jakarta.

Selain Fachry Ali dan? Hariqo Wibawa? hadir juga dalam kegiatan ini Direktur Kerjasama Fungsional ASEAN J. S George Lantu, Direktur Informasi dan Media, ? Arif Budimanta, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, CEO Jualio.com Nukman Lutfie. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Quote, Daerah Ulama Salaf Online

Minggu, 12 November 2017

Sabtu Besok Pemikiran Gus Dur Dikaji di Lampung

Jakarta, Ulama Salaf Online. Rumah Ideologi Klasika Lampung kembali menggelar dialog bertema pluralisme dalam serangkaian agenda peringatan Haul Gus Dur ke-8, Sabtu (6/1). Pada kesempatan itu Klasika akan menghadirkan Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur yang sekaligus Ketua Jaringan Gusdurian. 

Dalam dialog, direncanakan Alissa Wahid akan mengurai tema mendasar Dialog Klasika yaitu Menanam dan Menjaga Toleransi Antarumat Beragama.

Sabtu Besok Pemikiran Gus Dur Dikaji di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Sabtu Besok Pemikiran Gus Dur Dikaji di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Sabtu Besok Pemikiran Gus Dur Dikaji di Lampung

Chepry Chaeruman Hutabarat selaku pendiri rumah Ideologi Klasika menjelaskan bahwa kesadaran beragama  kita samakin hari semakin menipis, hal ini terbukti dengan semakin merebaknya gejala saling menyalahkan yang lain di tengah masyarakat saat menghadapi perbedaan pemahaman dan tafsir tentang agama.

Padahal, agama sejatinya membawa misi kemanusiaan universal sebagaimana yang selalu diwartakan oleh guru bangsa kita, Gus Dur.

"Dengan beragama seseorang harus saling mencintai dan menyayangi tanpa mengenal suku, ras, antar golongan terlebih karena perbedaan agama dan kepercayaan," kata Chepry.

Ulama Salaf Online

Salah satu output yang diharapkan dari sesi dialog yaitu memberikan pemahaman tentang pluralisme dan bagaimana merawat pluralisme di tengah kaum mahasiswa dan intelektual Lampung, serta masyarakat luas pada umumnya.

Ulama Salaf Online

"Sosok Gus Dur selalu melihat setiap orang dengan kemerdekaannya dalam memilih agama, ia melihat yang lain dengan keberlainannya," lanjut Chepry.

Krisis membaca, krisis berpikir,  krisis diskusi menjadi alasan lain mengapa pendekatan dialog dipilih.

"Santai namun tetap aktif menjadi modal dasar untuk menjamin tercapainya target dialog," katanya.

Acara ini akan dimoderatori oleh Ahmad Syarifudin, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung. Dialog akan berlangsung mulai pukul 11.00-16.00 WIB.

Een Riansah selaku penanggung jawab kegiatan Haul Gusdur ke-8 berharap mahasiswa dan kelompok intelektual dapat hadir dalam acara tersebut.

"Kami mengundang mahasiswa dan kelompok intelektual untuk hadir meramaikan dialog tersebut, semua gratis dan insya allah menggembirakan. Tabik," kata Een.

Sebelumnya Klasika telah menggelar diskusi bersama penulis dan aktivis NU, Nur Kholik Ridwan dan intelektual NU Ahmad Baso. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah Ulama Salaf Online

Jumat, 27 Oktober 2017

Kisah Seorang Jurnalis 15 Tahun Belum Minta Maaf ke Gus Dur

Kudus, Ulama Salaf Online. Membincang sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memang seakan tak ada habisnya. Ada saja hal-hal menarik dan kontroversial yang bisa dikemukakan dari Presiden Ke-4 RI itu.

Salah satunya dikemukakan jurnalis senior, Yusuf Mars. Ini adalah pengalaman dia sekitar 15 tahun lalu, semasa dia masih menjadi jurnalis (wartawan) kampus di Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT IAIN Walisongo Semarang.

Kisah Seorang Jurnalis 15 Tahun Belum Minta Maaf ke Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Seorang Jurnalis 15 Tahun Belum Minta Maaf ke Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Seorang Jurnalis 15 Tahun Belum Minta Maaf ke Gus Dur

Waktu itu, dia waktu ditugaskan melakukan wawancara kepada Gus Dur ke PBNU. Dengan suka cita ia datang ke Jakarta. “Dasar anak kampung, langsung saja saya main nyelonong masuk ke kantor PBNU,” kenangnya.

Setelah masuk, Yusuf Mars yang kini menjadi Pemimpin Redaksi NetOn.id dan dan Channel NetOn.TV ini bilang ke Gus Dur: "Gus, (kami) dari SKM AMANAT IAIN Walisongo Semarang, hendak wawancara, apakah berkenan?"

Ulama Salaf Online

"Ooh, besok saja, ya. Kamu telpon lagi".

Besoknya saya menelpon Gus Dur: "Assalamualaikum, Gus. Saya Yusuf, dari SKM AMANAT, bisa wawancara kapan, Gus?" tanya saya sok akrab.

Jawab Gus Dur: "Saya sakit, lagi flu, nggak bisa sekarang".

Ulama Salaf Online

"Kapan sembuhnya, Gus?" tanya saya.

Suasana santai dan sok akrab, langsung berubah drastis. Gus Dur menjawab: "Kamu itu gimana, anak IAIN apa nggak tahu takdir? Orang sakit ditanya kapan sembuhnya. Sama dengan tanya, kapan saya matinya," ujar Gus Dur.

Atas kejadian itu, saya merasa bersalah, karena belum sempat minta maaf hingga Gus Dur wafat. “Namun rupanya Tuhan masih memberi ampunan dan kesempatan kepada saya. Ketika Gus Dur wafat, alhamdulillah saya salah satu orang yang bisa masuk ke rumah beliau dan ikut menshalati di rumah duka. Saya juga berkesempatan mencium kaki Gus Dur yang terbujur kaku,” terangnya.

Yusuf menambahkan, saat mencium kaki Gus Dur itu, ia berurai air mata sembil membatin: "Maafkan atas kelakuan saya 15 tahun lalu, Gus, yang sempat membuat Gus Dur tersinggung dan marah”.

Dia yang sekarang menjadi bos NetOn.id dan dan Channel NetOn.TV itu mengaku beruntung, bisa mencium kaki Gus Dur untuk yang terakhir kalinya, kendati untuk itu, dia harus akal-akalan dan mengelabui penjaga rumah Gus Dur.

“Perjuangan saya masuk ke rumah Gus Dur waktu beliau wafat, tidak mudah ternyata. Tetapi para penjaga rumah Gus Dur berhasil saya kelabui. Untuk masuk, saya bilang sebagai staf khusus Presiden dan harus masuk. Entah kenapa, mereka percaya dan menyuruh saya masuk,” kisahnya.

Hingga kini, Yusuf Mars pun tak pernah melupakan kisahnya tentang Gus Dur itu. “Cerita ini begitu membekas dalam diri saya,” katanya. (Rosidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock