Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA

Jakarta, Ulama Salaf Online. Presiden Turki terpilih Recep Tayyip Erdogan, dibantu oleh Perdana Menteri baru Ahmet Davutoglu memulai masa jabatannya dengan perbaikan besar-besaran pada sistem pendidikan di negeri ini. 

Meskipun telah ditetapkan setahun yang lalu, rencana reformasi, yang sebagian besar tidak menarik perhatian publik, mulai dilaksanakan tahun ini dan memperluas pendidikan agama Islam untuk semua tingkat sekolah. 

Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA

Turki baru Erdogan, yang akan merayakan seratus tahun Republik Turki sekuler yang didirikan oleh Kemal Ataturk pada 2023, mewajibkan pendidikan agama Islam dari tingkat sekolah dasar dan menengah untuk 12 jenjang kelas. Sampai saat ini, pendidikan agama hanya tersedia di sekolah menengah berbasis agama seperti Aliyah di Indonesia, mulai di kelas 9. 

Ulama Salaf Online

Perubahan signifikan lain adalah bahwa lulusan sekolah agama sekarang dapat mendaftar di seluruh fakultas di universitas agar bisa mendapat keahlian untuk posisi administrasi publik. Bahkan presiden Turki saat ini, yang mempelajari Administrasi Bisnis, bukan ilmu politik, harus keluar karena dia lulusan sekolah agama. 

Tampak jelas bahwa sistem sekolah yang dimimpikan oleh para pemimpin AKP terinspirasi oleh sekolah agama yang ada. 

Ulama Salaf Online

Langkah berikutnya dalam reformasi adalah pengajaran bahasa Arab, bahkan sebagai bahasa kedua, untuk memungkinkan siswa untuk memahami Al-Quran. 

Namun, sekolah Turki Armenia dan Ortodoks tidak perlu untuk memberikan pendidikan agama Islam untuk siswa mereka yang masing-masing berjumlah 2.000 dan 250. 

Mereka yang tidak ingin masuk sekolah negeri untuk menghindari pendidikan agama harus masuk ke sekolah swasta, yang hanya bisa dimasuki orang kaya karena biaya pendidikan yang tinggi. (islam. ru/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Fragmen, Meme Islam, Ahlussunnah Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Maret 2018

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Oleh Dawam Multazam

Akhir-akhir ini panggung diskusi publik kita diramaikan oleh tema Islam Nusantara, terutama sejak kejadian pembacaan al-Qur’an dalam sebuah acara di Istana Negara oleh seorang qori’ yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Qiro’ah tersebut menjadi buah bibir masyarakat karena, sebagaimana disebutkan oleh pembawa acara, menggunakan langgam khas Nusantara, tilawah (cara membaca) al-Qur’an yang kurang lazim didengar oleh sebagian masyarakat.

Setelah kejadian tersebut, tak pelak timbul pro-kontra yang cukup panjang, apalagi Pemerintah, melalui Presiden Jokowi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan dukungannya terhadap tilawah tersebut. Dukungan yang diberikan Pemerintah sebenarnya tidak hanya terhadap qiro’ah berlanggam Nusantara, tetapi lebih besar daripada itu, yakni dukungan terhadap Islam Nusantara. Menurut Presiden Jokowi, ia mendukung Islam Nusantara, karena merupakan “Islam kita, yang penuh sopan santun, tata krama, dan toleransi” (BBC Indonesia, 14/6).

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Ramainya panggung diskusi publik seputar Islam Nusantara ini juga seiring dengan rencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadikan tema Muktamar NU ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015, berbunyi“Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Menurut Ketua Muktamar tersebut, H Imam Aziz, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari agenda jam’iyyah NU menjelang seabad usianya. Islam Nusantara, sebagai model keislaman yang dianut oleh Nahdliyin (warga NU), perlu untuk ditunjukkan posisi strategisnya sebagai “agen” Islam rahmatan lil alamin di Indonesia dan di seluruh dunia. Terkait peran NU di Indonesia, tentu saja sudah menjadi pengetahuan umum bahwa NU yang lahir pada tahun 1926 merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, sehingga sudah barang tentu memiliki peran yang signifikan bagi perjalanan bangsa dan negara ini.

Kemudian, mengenai kiprah NU di panggung dunia, selain beberapa kali pengurusnya hadir dalam beberapa forum pro-perdamaian dan pro-toleransi Internasional,  NU juga menginspirasi, antara lain, ulama Afghanistan untuk membentuk organisasi masyarakat yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Berawal dari pertemuan dengan PBNU pada 2013, saat ini ulama Afghanistan sudah membentuk Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), organisasi masyarakat yang berprinsip tawasut (moderat), tawazun (seimbang-equal), adalah (keadilan), tasamuh (toleran), dan musyarokah (serikat-persatuan). Sebagaimana diketahui, prinsip yang dianut oleh NUA tersebut mengadopsi prinsip-prinsip yang dianut oleh NU berdasarkan petunjuk para ulama salaf (pendahulu).

Tanggung Jawab NU untuk Umat

Ulama Salaf Online

Berangkat dari kesadaran atas perannya yang signifikan bagi masyarakat, tampaknya NU juga menyadari bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar. Akhirnya, dengan menghilangkan sekat organisasi masyarakat yang dimilikinya, NU kemudian memunculkan tema Islam Nusantara. Pemunculan frasa Islam Nusantara ini sebenarnya bukan merupakan penemuan aliran atau ajaran Islam yang baru. Karena, menurut Dr H Eman Suryaman, Ketua PWNU Jawa Barat, Islam Nusantara merupakan “sebuah model keislaman yang berdasarkan demografi-sosiologis” (Ulama Salaf Online, 9/6).

Selain ia bukan merupakan aliran atau ajaran, ia juga bukan hal yang baru (saja) dilahirkan oleh NU. Memang betul bahwa NU adalah pihak pertama yang dewasa ini begitu gencar memunculkan istilah ini, tercatat pada tahun 2008 lalu, Taswirul Afkar (Jurnal yang diterbitkan oleh Lakpesdam NU), mengangkat tema “Islam Nusantara” sebagai bahan kajian di edisi ke-26.Kemudian, sejak tahun 2013 di lingkungan perguruan tinggi NU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama, STAINU, Jakarta) sudah dibuka program pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam yang berkonsentrasi pada Islam Nusantara. Tetapi sejatinya Islam Nusantara sudah eksis sejak pertama kali dakwah Islam hadir dan berkembang di Tanah Air Nusantara ini, meskipun tentu saja belum dirumuskan dalam frasa Islam Nusantara.

Ulama Salaf Online

Begitu dua kata yang tersusun dari entitas agama dan budaya ini ramai dibincangkan, barulah para tokoh NU berikhtiar merumuskan definisinya. Prof Isom Yusqi, Direktur Program Pascasarjana STAINU Jakarta, misalnya, menyebutkan bahwa Islam Nusantara merupakan “istilah yang digunakan untuk merangkai ajaran dan paham keislaman dengan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam” (Ulama Salaf Online, 25/6). KemudianKH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU dan Guru Utama Fiqh-Ushul Fiqh di Pesantren Sukorejo, Situbondo, memaknai Islam Nusantara sebagai “pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara” (Ulama Salaf Online, 27/6). Begitu juga Abdul Moqsith Ghozali, menyebut Islam Nusantara sebagai “Islam yang sanggup berdialektika dengan kebudayaan masyarakat” (Ulama Salaf Online, 29/6).

Aneka definisi yang diberikan para tokoh NU tersebut, semakin melengkapi tujuan mengingatkan umat untuk kembali meneladani perjuangan para ulama yang telah berhasil mendakwahkan Islam sehingga dapat tersebar secara kuat dan luas di bumi pertiwi. Keberhasilan dakwah para ulama tersebut, menurut Agus Sunyoto (2012), setelah mereka – para ulama, khususnya Walisongo pada abad ke-15, dapat memahami bagaimana cara mengenalkan Islam secara tepat kepada masyarakat asli Nusantara. Keberhasilan dakwah ala Walisongo tersebut, seperti hujan yang datang setelah kemarau panjang; tak kurang dari tujuh abad semenjak Muslim pertama datang di Aceh, Walisongo “hanya” perlu waktu kurang dari satu abad untuk menemukan “formula dakwah jitu” dan menyebarkan Islam di hampir semua pulau besar di Nusantara. Kekayaan, kekhasan, dan keunikan Islam Nusantara inilah yang hendak dieksplorasi oleh para mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta untuk kemudian dipublikasikan pada dunia internasional (STAINU Jakarta, 2013).

Nusantara, Tidak Hanya Jawa

Namun sayangnya, di tengah diskursus yang menarik tersebut, masih ada kesalahpahaman dari sementara kalangan, terutama pihak yang kontra terhadap topik Islam Nusantara ini. Menurut masyarakat yang tampaknya masih awam terhadap pengertian Islam Nusantara, misalnya, Islam Nusantara dianggapsesat dan menyesatkan, karena dikira anti-Arab dan hendak melakukan pribumisasi-nusantarasasi Islam yang bermuara pada sinkretisme. Dalam pemahaman mereka, sinkretisme yang ada dalam Islam Nusantara diwujudkan dalam, misalnya, wudhu dengan air kembang; membenci bahasa Arab sehingga adzan dan shalat dengan bahasa Indonesia; mengkafani jenazah dengan kain batik; arah kiblat dan pergi haji ke gunung atau candi di Indonesia;  dan beragam tuduhan menggelikan lainnya.

Terhadap tuduhan kelompok ini, Rijal Mumazziq Zionis, Dosen Pendidikan Anti Korupsi IAIN Jember, menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak mungkin anti-Arab (Suara-Islam, 18/6). Menyitir pendapat sastrawan Remi Sylado yang menyebut bahwa 9 dari 10 kosakata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Asing, ia menegaskan bahwa masyarakat pesantren, pendidikan khas Islam Nusantara, masih menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Sehingga, terlepas dari tidak mungkinnya beragam tuduhan tadi dijalankan oleh umat Islam, sikap anti-Arab merupakan hal yang mustahil.

Sedangkan sanggahan yang lebih baik datang dari sebagian pihak yang lebih memiliki pemahaman, tetapi menolak Islam Nusantara – terutama, menurut hemat penulis, semata karena alasan berbeda afiliasi organisasi. Bagi kelompok ini, Islam Nusantara perlu ditolak karena terlalu Jawa-sentris, sehingga ketika dipaksakan justru dapat memicu disintegrasi antar sesama muslim di Indonesia.Menurut mereka, adanya Islam Nusantara yang Jawa-sentris dapat memicu juga lahirnya Islam Minang, Islam Aceh, Islam Makassar, Islam Lombok, dan lain-lain, sebagai sikap ketidakpuasan terhadap Islam Nusantara. Selain itu, Islam Nusantara juga dapat memantik munculnya Islam Malaysia, Islam China, Islam Eropa, Islam Amerika, dan lain-lain.

Kelompok terakhir ini sepertinya belum mengetahui, atau sekurangnya lupa, bahwa terdapat jaringan ulama Nusantara yang membentang luas secara geografis dari seluruh wilayah Indonesia saat ini, hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani (Thailand). Pada masa Tanah Hijaz belum dikuasai oleh Kerajaan Saudi Arabia yang didukung oleh ulama Wahabi, ulama Nusantara berperan cukup penting di sana. Banyak ulama Nusantara yang belajar di tanah kelahiran Islam tersebut, dan tak sedikit pula yang menjadi pengajar di sana. Sebagai identitas terhadap orang-orang yang datang dari kawasan yang kini Asia Tenggara tersebut, diberikan nisbah sesuai negeri asalnya, al-Jawi. Bagi yang pernah membaca sekilas sejarah yang menyebut nama ulama al-Jawi ini, barangkali mengira bahwa yang dimaksud sebagai “Jawi” adalah Pulau Jawa saja.

Padahal, sebutan al-Jawi ini berlaku untuk semua orang yang berasal dari kawasan geografis yang membentang di Asia Tenggara kini. Sebagai contohnya, ada nama besar Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falimbani di Palembang, dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani al-Jawi di Patani (Thailand). Semuanya memakai nisbah al-Jawi sekalipun tidak berasal ataupun tinggal di Pulau Jawa. Selain itu, Ahmad Baso (2012), mengungkapkan sejarah jaringan kyai-santri, guru-murid, baik secara langsung maupun melalui tulisan,terjalin secara luas mulai dari wilayah-wilayah yang penulis singgung di atas, bahkan hingga ke daerah Kepala Burung dan Fakfak di Pulau Papua. Luasnya cakupan geografis ini, sejak zaman dahulu memang lazim disebut sebagai “Jawi”, “Negeri Bawah Angin”, dan “Nusantara” – terma yang menjadi bahan diskusi hangat kali ini.

Selain dari aspek kesejarahan yang menihilkan sangkaan Jawa-sentris terhadap Islam Nusantara, secara esensial pun Islam Nusantara tidak hendak melakukan Jawanisasi. Dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang terjalin antara ulama dari berbagai daerah di Nusantara, pada zaman dahulu maupun saat ini, tidak tampak adanya upaya radikal dari ulama Jawa untuk melakukan Jawanisasi di wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, misalnya, Islam sudah lebih dahulu berkembang daripada di Pulau Jawa, sehingga motif melakukan Jawanisasi Sumatera tidak menemukan bentuknya. Di Banjar Kalimantan, meskipun Islam masuk di sana sebagai syarat yang diberikan Sultan Demak atas dukungan politik pada Raja Banjar, tidak juga didapati upaya Jawanisasi Banjar yang berlebihan. Demikian juga di Lombok, yang mana Islamnya memiliki “citarasa” tersendiri dalam wujud Islam Wetu Telu, atau di Makassar, yang baru masuk Islam di awal abad ke-17 tetapi langsung gigih dalam menyebarkan agama tauhid tersebut. Sepanjang sejarah, harus diakui bahwa tidak ada upaya Jawanisasi terhadap model beragama yang ada di Nusantara.

Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara menjadi payung bagi “submodel” Islam Aceh, Islam Minang, Islam Jawa, Islam Lombok, Islam Banjar, Islam Makassar, Islam Melayu, Islam Patani, dan Islam-Islam “yang lain” di wilayahnya. Sebagai payung, Islam Nusantara akan menaungi dan mengayomi model keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal dalam koridor agama Islam, di manapun ia berada. Islam Nusantara bersifat lentur tetapi teratur. Terhadap hal ini, Zastrouw al-Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semacam “school of thought” dalam aspek apapun. Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing lahirnya model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Tiongkok, dan lain sebagainya, tidaklah menjadi persoalan sepanjang tetap di dalam kerangka Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.Wallahu a’lam.

 

*) Dawam Multazam, Santri Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Pesantren, Khutbah Ulama Salaf Online

Sabtu, 24 Februari 2018

NU Padang Sosialisasikan Kartanu

Padang, Ulama Salaf Online. Warga Nahdlatul ? Ulama (NU) di Kota Padang diminta untuk terus meningkatkan ukhuwah islamiyah, baik di bulan suci Ramadhan maupun setelahnya. Karena dengan ukhuwayah ? islamiyah yang semakin kuat, berbagai persoalan di tengah umat dapat dicarikan solusinya.?

?

Ketua PC Nahdlatul Ulama Kota Padang Yultel Ardi, menyebutkan hal itu pada acara buka bersama keluarga besar NU Kota Padang, Jumat (1/7), di kantor PCNU Padang. Menurut Yultel ? jika ukhuwah islamiyah umat rusak, maka akan menimbulkan kekacauan. Kalau sudah kacau, tentu tidak akan memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam beribadah dan berbuat amal kebaikan.

NU Padang Sosialisasikan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Padang Sosialisasikan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Padang Sosialisasikan Kartanu

"Dengan acara buka bersama ini, momen penting bagi keluarga NU Padang meningkatkan ukhuwah islamiyah," kata ? Yultel Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.?

Menurut Yultel, selain buka bersama, yang lebih penting pula adalah sosialisasi Kartanu (Kartu Anggota NU). Disebutkan, anggota NU di Indonesia berjumlah jutaan orang. Namun tidak memiliki kartu sebagai tanda anggota. "Salah satu upaya mendata anggota NU tersebut adalah dengan menerbitkan Kartanu. Melalui momen ini, kami minta agar orang NU di Padang dan Sumatera Barat mulai mendaftarkan dirinya sebagai anggota NU ke kantor PC NU," ujar dia.?

Ulama Salaf Online

"Selain itu, di bulan Ramadhan masjid, surau, mushalla ramai dikunjungi jamaah. Pasca Ramadhan biasanya masjid, surau dan mushalla kembali sepi dari jamaah. Pengurus NU sebagai tokoh umat diminta tetap memakmurkan masjid pasca Ramadhan. Masjid harus dimakmurkan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amaliah," kata Yultel menambahkan.?

Usai buka bersama, Ketua PC NU Padang Yulter Ardi menyerahkan paket lebaran kepada salah seorang anggota NU Padang secara simbolis. (Armaidi Tanjung/Zunus)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Hadits Ulama Salaf Online

Rabu, 07 Februari 2018

Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda

Solo, Ulama Salaf Online - Tanggal 28 Oktober 1928, menjadi  salah satu momen yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal itu, dicetuskan “Sumpah Pemuda” yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Rupanya, pada tanggal yang sama di Kota Solo, tepatnya di daerah Kampung Tegalsari, Bumi, Laweyan, dibangun sebuah masjid swasta (bukan dari keraton, red) yang pertama. Masyarakat di sana biasa menyebutnya dengan Masjid Tegalsari.

Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda

Tanggal pembangunan masjid pada tanggal 28 Oktober 1928 dibuktikan pada sebuah prasasti yang terletak di tembok sebelah barat masjid.

Ulama Salaf Online

Saat Ulama Salaf Online mengunjungi lokasi masjid, Sabtu (28/10), terlihat dua prasasti yang ditulis dengan aksara jawa serta aksara latin. Kedua prasasti tersebut menerangkan tahun pemasangan tiang utama, berikut sejumlah nama pendiri.

Sesepuh Masjid Tegalsari H Ahmaduhidjan menerangkan tiang utama masjid dipasang pada hari Ahad tanggal 13 Jumadil Awal 1347 H atau 28 Oktober 1928 M. “Para pendiri antara lain KH Ahmad Shofawi, H Umar, KH Asy’ari, KH Muh Adnan, dan lain sebagainya,” terangnya.

Masjid Tegalsari ini dibangun pada tahun 1928 dan diresmikan pada tahun 1929. Hingga saat ini, selama 89 tahun berdirinya Masjid Tegalsari, bangunan masjid masih berdiri kokoh, dan tidak banyak yang berubah bahkan hampir sama sejak pertama kali masjid ini berdiri. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Budaya, Meme Islam Ulama Salaf Online

Kamis, 11 Januari 2018

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Makassar, Ulama Salaf Online. Pengurus Wilayah GP Ansor Makassar, pada hari Jumat (3/4) mendatangi kantor Redaksi Harian Amanah yang beralamat di jalan Kakatua Makassar.

Kehadiran mereka disambut baik Pimpinan Redaksi Harian Amanah, Firmansyah Lafiri, Koordinator Liputan Irfan Abdul Gani, dan Pimpinan Perusahaan Abdul Salim Camma.

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Kedatangan GP Ansor ini guna meminta penjelasan terkait pemberitaan harian Amanah edisi Rabu, (30/3) terkait akar aliran sesat, di mana salah satunya yang disebutkan adalah paham Asy`ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al- Asyari.

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said dalam pertemuan tersebut meminta kepada Pimred Harian Amanah, Firmansyah Lafiri segera menyelesaikan semua tuntutan yang ditujukan kepadanya.

"Saya meminta agar media Amanah ini meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada masyarakat Nahdiyin dan kiai sepuh di Nahdatul Ulama (NU) dalam waktu 1×24 jam, dan jika hal itu tidak ditindak lanjuti, maka kami akan mengerahkan Banser untuk menyegel kantor Harian ? Amanah ini," tegas Agus.

Ulama Salaf Online

Menanggapi desakan tersebut, Firmansyah Lafiri mengaku kecolongan dan menyesal atas pemberitaan penyesatan paham Asyariyah itu. Pada waktu yang sama ia pun langsung menuliskan surat pernyataan permohonan maaf yang berisikan 4 poin, sebagai berikut :

1. Memohon maaf atas kelalaian kami kepada seluruh warga Nahdiyin.

Ulama Salaf Online

2. Berjanji tadak akan mengulangi hal tersebut.

3. Bersedia menjalin sinergi strategis dalam kerja ukwah.

4. Akan memohon maaf langsung kepada Kyai sepuh Nahdatul Ulama.

"Selain itu redaktur yang menangani rubrik yang memuat berita tersebut telah saya mutasi, bahkan jika teman-teman GP Ansor menginginkan saya untuk memecat dia saya akan lakukan." tegas Firmasyah. (Makmur Idrus/Zunus).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Lomba, Meme Islam Ulama Salaf Online

Jumat, 05 Januari 2018

Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan

Solo, Ulama Salaf Online - Banyak nama untuk penyebutan Bulan Ramadhan antara lain syahrus shiyam (bulan puasa), syahrul ibadah (bulan ibadah), syahrur rahmah (bulan penuh rahmat), syahrul Qur’an (bulan Al-Quran pertama kali diturunkan) dan lain sebagainya.

Banyaknya nama penyebutan itu menjadi salah satu ciri dari kemuliaan Ramadhan. “Ada ungkapan katsratul asma’ tadullu ‘ala syarafil musamma, banyaknya nama menunjukkan atas mulianya yang dikasih nama,” tutur Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Laweyan Kota Surakarta KH Agus Himawan kepada Ulama Salaf Online, Ahad (5/6) lalu.

Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan

Pengajar di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan ini menambahkan, sudah semestinya umat Islam menyambut gembira kedatangan bulan Ramadhan. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang dalam beberapa keterangan disebutkan, mereka telah bersiap menyambut kedatangan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya.

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa kembali agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan,” kata dia.

Ulama Salaf Online

Momentum bulan Puasa ini, lanjutnya, dapat digunakan untuk memperbanyak amalan ibadah.

Ulama Salaf Online

“Ini adalah bulan saling menolong, diterangkan dalam sebuah hadist, ‘Barang siapa memberi makanan berbuka untuk orang berbuka puasa berupa seteguk susu, atau sebutir kurma, atau seteguk air, maka Allah memberinya minuman dari telaga Nabi Muhammad SAW yang ia tidak akan kehausan sehingga masuk ke dalam surga,’” terangnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Bahtsul Masail, Meme Islam Ulama Salaf Online

Kamis, 04 Januari 2018

PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting

Pekalongan, Ulama Salaf Online. Banyaknya tantangan yang akan dihadapi Nahdlatul Ulama ke depan, terutama pada masalah kesolidan organisasi, membuat Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, menggelar kunjungan ke ke seluruh Pengurus Ranting NU (PRNU) se-Kota Pekalongan.

PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting

Agenda turun ke bawah (Turba) ini dibagi dalam 15 kali pertemuan dimulai sejak tanggal 23 Februari sampai dengan 9 Maret 2014. Turba dihadiri seluruh jajaran pengurus harian PCNU Kota Pekalongan, pengurus harian Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU), dan seluruh pengurus ranting serta pengurus badan otonom NU setempat.

"Persoalan yang sangat krusial di ranting-ranting adalah masalah kepemilikan tanah dan bangunan masjid dan musholla yang hingga kini belum dilakukan sertifikasi wakaf," ujar KH Romadlon Abdul Jali, Katib Syuriyah PCNU Kota Pekalongan yang juga koordinator tim turba seusai kunjungan tersebut.

Ulama Salaf Online

Dikatakan, berbagai persoalan yang mengemuka dalam turba telah berhasil dipetakan oleh tim turba antara lain masalah tanah wakaf, pendidikan dan pengkaderan di tingkat ranting. 

Ulama Salaf Online

Romadlon meminta kepada PCNU untuk segera menindaklanjuti temuan temuan di lapangan sehingga kekayaan Nahdlatul Ulamayang belum bersertifikat tanah wakaf dapat segera diselesaikan dengan baik.

Sementara itu, Sekretaris PCNU Kota Pekalongan H. Muhtarom kepada Ulama Salaf Online mengatakan, kegiatan turba merupakan agenda organisasi dalam rangka konsolidasi internal, sehingga tidak benar bahwa turba dicurigai sebagai upaya menggalang kekuatan menjelang Pemilu.

Menurut Muhtarom, turba kali ini merupakan bagian dari kegiatan besar NU, yakni peringatan Hari Lahir yang akan dilakukan pada bulan Mei 2014 mendatang dan merupakan agenda yang sudah lama dicanangkan PCNU Kota Pekalongan.

Dirinya menyadari, di internal warga Nahdliyyin di Kota Pekalongan banyak perbedaan pandangan dalam berpolitik, akan tetapi secara jamiyyah NU tetap solid dan kompak. Hal ini terbukti dari animo dan semangat pengurus cabang, wakil cabang, dan ranting NU se-Kota Pekalongan yang menyambut baik kegiatan turba.

Berbagai temuan di lapangan akan dikaji dan ditindaklanjuti oleh PCNU Kota Pekalongan terutama masalah pendidikan dan perwakafan serta kaderisasi di tingkat ranting yang dinilai sangat mendesak untuk direspon. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Halaqoh Ulama Salaf Online

Senin, 01 Januari 2018

Kiai Akhyar Ungkap Pentingnya Filosofi 3 Simbol

Kuningan, Ulama Salaf Online. Wakil Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar mengingatkan kembali filosofi tiga simbol yang disampaikan Syaikhuna Kholil Bangkalan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, yaitu QS Thoha ayat 17-23, tongkat, dan tasbih.

“Para muassis menginginkan NU yang sakti seperti tongkat Nabi Musa. Filosofi tongkat menunjukkan aspek kepemimpinan,” papar Kiai Akhyar, Selasa (24/10) pada Halaqah Alim Ulama se-Wilayah 3 Cirebon, Ciamis, dan Banjar di Pondok Pesantren Mursyidul Falah. 

Kiai Akhyar Ungkap Pentingnya Filosofi 3 Simbol (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Akhyar Ungkap Pentingnya Filosofi 3 Simbol (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Akhyar Ungkap Pentingnya Filosofi 3 Simbol

Rais Aam PBNU: Pengurus NU Ibarat Sopir

Aspek kepemimpinan tersebut, lanjut Kiai Akhyar, meniscayakan NU sebenarnya tidak alergi terhadap politik, namun tentu saja politik yang santun, bermoral, dan menjunjung kemaslahatan umat.

Ulama Salaf Online

Adapun simbol tasbih sebagai fondasi ruhaniyah dan religiusitas dalam ber-NU. 

Untuk menyambut 100 tahun NU, Kiai Akhyar mengusulkan perlunya tiga hal yaitu grand design, grand strategy, dan grand control dalam menjalankan roda organisasi.

Sementara itu, H Ali Anwar Yusuf dari PWNU Jawa Barat mengungkapkan menjadi pengurus NU merupakan khidmah atau pengabdian.

Ulama Salaf Online

“(Pengabdian yang) dilandasi oleh tiga hal yaitu ilmu, keikhlasan dan kesungguhan,” kata H Yusuf.

Sekretaris PCNU Kuningan KH Aang Asy’ari berharap, halaqah ini menjadi momentum menjadikan NU sebagai organisasi tangguh, memperkuat, mengembangkan pemikiran aswaja an-Nahdiyyah, dan menjaga eksistensi NKRI dan ideologi dari gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merongrongnya. (Das/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Fragmen, Ulama Ulama Salaf Online

Selasa, 19 Desember 2017

Tingkatkan Penalaran, IPNU Bojonegoro Gelar Pelatihan Kader

Bojonegoro, Ulama Salaf Online. Badan Student Crisis Center (BSCC) Pengurus Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Bojonegoro menggelar pelatihan kader, di gedung Lemdikacab Desa Kalianyar Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (4/5/2013). Kegiatan tersebut diadakan untuk meningkatkan nalar kritis kader NU di Bojonegoro.

Tingkatkan Penalaran, IPNU Bojonegoro Gelar Pelatihan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Penalaran, IPNU Bojonegoro Gelar Pelatihan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Penalaran, IPNU Bojonegoro Gelar Pelatihan Kader

Acara yang diikuti 40 orang itu dikemas secara menarik, diselenggarakan selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad (3-5/5/2013). Dengan mengambil tema Membangun kapasitas dalam mengawal pendidikan berkualitas.

Ada beberapa materi yang disampaikan seperti halnya advokasi, teknik investigasi, studi kasus, manajemen aksi, kajian kebijakan publik. Serta pengembangan kapasitas, analisis aktor dan juga kajian tentang kebijakan pendidikan nasional.

Ulama Salaf Online

Ketua panitia penyelenggara, Ainun Najib mengatakan, pelatihan ini untuk meningkatkan kualitas nalar dan intelektual pelajar dalam menghadapi perubahan sosial di masyarakat.

"Diharapkan kader NU mampu mengidentifikasi problematika pelajar-pelajar serta menyelesaikannya," ujarnya kepada Ulama Salaf Online, Sabtu (4/5/2013).

Ulama Salaf Online

Menurutnya, selama ini dunia pendidikan mengalami banyak permasalahan yang harus bisa diidentifikasi. Seperti halnya kurikulum pendidikan nasional yang berubah-ubah, sistem pendidikan nasional yang belum matang dan beberapa persoalan pendidikan lainnya.

"Segala permasalahan tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama yang harus segera dicarikan solusinya," terangnya.

Sementara itu, ketua PC IPNU Bojonegoro Misbakhul Munir mengharapkan, pasca pelatihan ini mampu mencetak kader NU di Bojonegoro yang konsisten dan komitmen menyikapi pendidikan. Dengan persoalan dan permasalahan didalamnya.

Segela keluhan pelajar lanjut Kak Bah sapaan akrabnya, bisa ditangani IPNU Bojonegoro. "Mengawal kebijakan pemerintah tentang pendidikan di Bojonegoro," pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: M Yazid

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Berita, Nahdlatul Ulama, Meme Islam Ulama Salaf Online

Minggu, 17 Desember 2017

Fatayat NU: Stanting Bukan Isu Seksi, Tapi Penting

Jakarta, Ulama Salaf Online. Ketua Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini mengungkapkan, Fatayat NU sangat concern dalam persoalan stanting atau gizi buruk. Persoalan gizi buruk selama ini seperti tidak diperhatikan, padahal keberadaannya sangat membahayakan.

Fatayat NU: Stanting Bukan Isu Seksi, Tapi Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU: Stanting Bukan Isu Seksi, Tapi Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU: Stanting Bukan Isu Seksi, Tapi Penting

Stanting ini sepertinya tidak terlihat, padahal ada di sekitar kita. Sangat membahayakan kalau kita tidak ikut andil (menangani persoalan ini),” kata Anggia saat pembukaan Semiloka Barisan Nasional Fatayat NU Cegah Stanting, di Hotel Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (27/9) malam.

Fatayat NU menjadikan stanting sebagai salah satu fokus penanganan, karena anggota Fatayat rata-rata berada pada rentang usia jelang pernikahan hingga pengasuhan anak-anak di masa awal pertumbuhan.

“Fatayat NU konsisten mengkampanyekan pemberian gizi yang tepat. Angka stanting mencapai 37, 2 persen. Dari 100 anak usia di TK dan SD ada sekitar 40 anak yang mengalami stanting,” papar Anggia. 

Ulama Salaf Online

Menurutnya bonus demografi yang diterima Indonesia, bukan menjadi bonus tetapi beban bila persoalan stanting tidak ditangani. 

“Kalau bonus demografi ini kita isi dengan anak yang kurang maksimal kesehatan dan pertumbuhannya, akan jadi beban negara,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan status gizi oleh Kementerian Kesehatan angka kasus stanting di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 27,5 persen bayi di Indonesia berada dalam status stanting. 

Ulama Salaf Online

Anggia menemukan persoalan stanting tidak cukup disampaikan hanya satu atau dua kali. Karena itu ia mengajak semua kalangan untuk bersama-sama mengatasi persoalan stanting. 

“Kita ajak para jurnalis, pemuka agama, pemerintah daerah, legislatif untuk mengatasi ini,” kata Anggia.

Fatayat NU juga telah membentuk barisan nasional cegah stanting untuk pencegahan stanting.

Semiloka diikuti perwakilan wilayah Fatayat NU dari 34 provinsi dan 20 cabang, berlangsung hingga 29 September. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam Ulama Salaf Online

Selasa, 12 Desember 2017

Tukar Guling Tanah Wakaf Sudah Ada Aturannya

Jakarta, Ulama Salaf Online

Pada dasarnya ruilslag atau tukar guling tanah wakaf tidak diperbolehkan dalam hukum positif di Indonesia. Pasal 40 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dengan jelas menyebutkan bahwa harta benda wakaf dilarang ditukar. 

Demikian disampaikan Wakil Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia Profesor Syibli Syarjaya di Kantor Badan Wakaf Indonesia (BWI), Jakarta, hari ini (22/11), menanggapi beredarnya pemberitaan mengenai penukaran tanah wakaf yang terdampak proyek pembangunan jalan tol.

Tukar Guling Tanah Wakaf Sudah Ada Aturannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tukar Guling Tanah Wakaf Sudah Ada Aturannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Tukar Guling Tanah Wakaf Sudah Ada Aturannya

Namun, jelas Syibli, larangan itu tidak mutlak. Pasal 41 Undang-Undang Wakaf menyatakan bahwa ruilslag tanah wakaf diperbolehkan apabila harta benda wakaf digunakan untuk kepentingan umum sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syariah dan setelah memperoleh izin tertulis dari menteri agama atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia.

“Adanya pengecualian ini, antara lain agar program pembangunan jalan yang melewati tanah wakaf tetap bisa dilaksanakan. Juga agar tanah wakaf bisa lebih produktif setelah dilakukan ruilslag,” kata Syibli.

Ulama Salaf Online

Menurut Syibli, undang-undang wakaf melarang ruilslag harta wakaf untuk menjaga kemaslahatan harta wakaf. Maka ketika ruilslag diperbolehkan, kemaslahatan harta wakaf pun harus tetap dijaga.

“Karena itulah ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam proses ruilslag,” jelas Syibli.

Syibli pun mengingatkan agar tahapan ruilslag sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Wakaf segera dilaksanakan agar proses ruilslag tanah wakaf yang terdampak jalan tol bisa cepat selesai. 

“Jangan sampai karena ingin serba cepat, lalu aturan undang-undang diabaikan. Akibatnya nanti cacat hukum dan di kemudian hari bisa digugat,” ujar Syibli.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 dan prosedur ruilslag yang dimuat di laman resmi Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag, disebutkan bahwa proses ruilslag setidaknya melewati tujuh tahap sebelum keluarnya izin menteri agama.

Ulama Salaf Online

Tahapan itu ialah (1) KUA, (2) Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, (3) Tim Penilai yang terdiri atas unsur Pemkot/Pemkab, MUI kab/kota, BPN kab/kota, dan nazhir, (4) Kantor Kementerian Agama Provinsi, (5) Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama, (6) Badan Wakaf Indonesia, dan (7) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama. 

“Kalau dibaca prosedurnya memang panjang, tetapi ya itulah undang-undangnya yang saat ini ada. Pembangunan jalan tol itu kan sudah direncanakan jauh-jauh hari. Seharusnya sudah jauh hari pula urusan ruilslag diproses dengan nazhir dan kementerian terkait,"  kata Syibli.

Ia menambahkan sebetulnya yang lama adalah pada proses pencarian tanah pengganti yang sesuai dengan kebutuhan wakaf. Proses lainnya bisa dipercepat karena alasan ruilslagnya jelas untuk pembangunan.

Syibli berharap semua pihak bisa memahami ketentuan undang-undang mengenai proses ruilslag ini sehingga tidak saling menyalahkan, proyek pembangunan bisa berjalan dengan lancar, dan tanah wakaf menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.(Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Hadits Ulama Salaf Online

Senin, 11 Desember 2017

Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat

Jakarta, Ulama Salaf Online 



KH Buchori Masroeri menceritakan keistimewaan KH Abdurraahman Wahid (Gus Dur) terkait kemampuan membacanya. Menurut dia, ketika menjadi santri KH Chudlori di Tegalrejo, Magelang, sekitar tahun 1955, bacaan Gus Dur yang masih berusia 15 tahun adalah Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris, “The Holy Quran”.

“Zaman tahun 1955, Gus Dur cekenale (pegangannya) Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris. “The Holy Quran”. Pangepunten (mohon maaf), kacamatanya udah tebel waktu itu,” katanya pada ceramah Haul Gus Dur di Masjid Agung Demak 2014 yang diakses Ulama Salaf Online Sabtu (5/8) melalui video yang disebarluaskan di YouTube.  

Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia Keanehan Gus Dur Membaca dengan Cepat

Waktu itu, Kiai Buchori yang pencipta lagu “Perdamaian” yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria, masih belum mengenalnya dan merasa heran akan kemampuan cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu. 

“Saya heran, di dunia ini kok ada orang yang seperti Gus Dur. Pabrik ora ngetokno orang koyok kui (pabrik tidak mengeluarkan lagi orang seperti itu,” ungkap dai yang menurut Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) berdakwah dengan ilmu itu.

Ulama Salaf Online

Ia melanjutkan keanehan tentang Gus Dur membaca dari informasi lain. Informasi itu adalah, Gus Dur mampu menyelesaiakan "The Satanic Verses" (Ayat-ayat Setan) karangan Salman Rushdie di pesawat terbang dari Soekarno Hatta, Jakarta, sampai Juanda, Surabaya. Buku tebal itu dilahap Gus Dur sampai tamat.  

Kulo diceritakno; mboten ngandel, mosok iyo, (saya diceritakan tentang hal itu, tidak percaya, masak iya),” katanya.  

Ulama Salaf Online

Lalu, ketika menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah, ia mengirimkan surat langsung ke Jakarta dan diterima langsung Gus Dur. Nah, ketika menerima surat itu, Gus Dur membaca surat itu tidak seperti orang umumnya membaca. Ia tidak melihat surat itu. 

Kiai Buchori, di video itu, mempraktikkan cara membaca Gus Dur. Ia mengambil kertas yang ada di podium, kemudian kertas itu ditempelkan ke mukanya. Lalu ditarik ke atas dengan agak cepat, sementara kertas itu masih menempel muka, hingga melewati kepala. Ia mempraktikkan hal itu beberapa kali. 

Menurut Kiai Buchori, dengan menempelkan kertas ke muka, seolah-olah surat itu discanner atau difoto copy otak Gus Dur. 

Ternyata, lanjutnya, apa yang dilakukan Gus Dur itu tidak ngawur. Buktinya apa yang dinyatakan di surat itu, ditanyakan satu per satu oleh Gus Dur dengan tepat. 

“Kalau bukan discanner apa lagi? 

Dari situ, ia menyimpulkan, jika begitu, pantas saja, sejak kecil, Gus Dur sudah bisa membaca cepat dan bahkan dalam bahasa asing. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Amalan, Meme Islam Ulama Salaf Online

43 Peserta Ikut Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Kampus di Riyadh

Pati, Ulama Salaf Online. Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) menyeleksi sebanyak 43 peserta dari berbagai penjuru wilayah Indonesia tahap kedua beasiswa S2 dan S3 di Kajen, Margoyoso, Pati, Selasa (3/3). Para peserta harus mengikuti ujian lisan yang meliputi Bahasa Arab, baca kitab, pengetahuan Aswaja, dan baca tulis Al-Quran.

43 Peserta Ikut Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Kampus di Riyadh (Sumber Gambar : Nu Online)
43 Peserta Ikut Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Kampus di Riyadh (Sumber Gambar : Nu Online)

43 Peserta Ikut Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Kampus di Riyadh

Seleksi yang berlangsung pada Senin hingga Selasa ini (2-3/3) ini, diselenggarakan LPTNU yang bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Bahasa Arab (LPBA), dan perpustakaan Mutamakkin. Seleksi berjalan tertib dan lancar.

“Ujian tahap kedua ini merupakan yang kedua kalinya diadakan LPTNU. Penempatan ujian di Kajen di gedung LPBA dan perpustakaan Mutamakkin memberikan makna tersendiri. Karena selain tabarruk dengan para kiai di Kajen, peserta bisa bersilaturahmi dengan mereka,” kata Kholis Fuad.

Ulama Salaf Online

Peserta yang dinyatakan lolos akan mengikuti ujian tahap ketiga yang akan diselenggarakan di Jakarta pada pertengahan Maret. Peserta akan diuji langsung oleh pihak dari universitas Imam Ibnu Su’ud Riyadh, Arab Saudi dan juga Menteri Agama Lukman Hakim. (Siswanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Meme Islam, Ubudiyah Ulama Salaf Online

Sabtu, 02 Desember 2017

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Jombang, Ulama Salaf Online. Terhitung sejak bulan lalu, Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAU WH) Tambakberas Jombang membentuk kelompok baca perpustakaan. Meskipun baru memiliki 15 anggota yakni para siswa dan siswi madrasah setempat, diharapkan jumlah kelompok ini terus bertambah.

"Alhamdulillah, sejak bulan Januari telah terbentuk kelompok baca perpustakaan MAU WH yang anggotanya 15 siswa," kata Ustadz Mustaufikin, Senin (13/2) siang.?

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Staf unit Pengendalian Mutu Madrasah di MAU WH ini mengemukakan bahwa kelompok baca tersebut fokus pada kegiatan peningkatan minat baca dan menulis. "Kegiatan wajibnya, mereka harus membaca setiap hari, dan setiap minggu adalah menulis," jelas alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Sedangkan kegiatan insidental adalah kajian literasi, seperti yang dilakukan tadi siang. "Tema kajian adalah menggerakkan literasi madrasah yang menghadirkan Ustadz Miftahul Arif," ungkapnya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Miftahul Arif mengemukakan bahwa kesadaran literasi bangsa Indonesia termasuk rendah. "Rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor masifnya peredaran khabar bohong atau hoax," kata Ustadz Arif, sapaan akrabnya. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi, seacara instan, tanpa berupaya mencerna secara utuh, lanjutnya.

Ulama Salaf Online

Wakil Kepala Sekolah MAU WH bidang kurikulum tersebut menyebutkan data UNESCO bahwa indeks membaca bangsa Indonedia hanya 0,0001. "Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang punya tradisi membaca secara serius," ungkapnya.

Sementara itu ada sekitar 132, 7 juta orang telah menggunakan internet. Baginya, kondisi tersebut sebagai hal yang kontradiktif. "Menggunakan teknologi tinggi tanpa dilandasi tradisi membaca, maka buahnya adalah tradisi berteriak di jalanan sembari menyebar kebencian, memproduksi fitnah, serta memporak-porandakan ketentraman atas nama tuhan," tandas kandidat doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.?

Karenanya, Ustadz Arif mengajak seluruh elemen madrasah untuk mengawal gerakan literasi. "Tugas guru disamping mengajar adalah mendidik, menginspirasi dan menggerakkan," jelasnya.

Ulama Salaf Online

Harapan serupa disampaikan Ustadz Mustaufikin. "Kami mohon dukungan bapak dan ibu guru untuk ikut menyemangati anak-anak untuk lebih banyak membaca," pintanya. Dia juga berharap dari komunitas kecil ini akan lahir siswa dan siswi yang gemar membaca dan memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Lomba Ulama Salaf Online

Senin, 20 November 2017

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud

Jakarta, Ulama Salaf Online?

Penolakan massif dari berbagai kalangan masyarakat tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah menjadi perhatian serius bagi Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB).?

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud

Peraturan yang mewajibkan siswa berkegiatan dengan sekolah mulai Senin sampai Jumat dari pagi sampai petang ini dinilai gegabah dan merugikan masyarakat karena keadaan masyarakat Indonesia yang beragam baik secara geografis, sosiologis maupun budaya. ?

Merespon pengesahan peraturan yang lebih populer dikalangan masyarakat sebagai kebijakan Full Day School (FDS) ini DPP PKB melalui Desk Halaqoh mengundang berbagai kalangan masyarakat yang peduli dengan pendidikan untuk berdiskusi secara serius dalam acara Halaqoh Kebangsaan di Hotel Acacia Jakarta Pusat, Senin (7/8).?

Halaqoh kebangsaan ini akan dihadiri oleh anggota legislatif FPKB DPR RI komisi VIII dan X, perwakilan-perwakilan ormas Islam, Pengasuh Pesantren, Madrasah Diniyah dan TPQ dari DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, serta elemen masyarakat yang peduli pendidikan.?

“Dari awal sebelum dijadikan peraturan resmi, kami sudah menolak adanya sekolah lima hari yang mengatur jam sekolah dari pagi sampai sore hari,” ujar Abdul Kadir Karding, Sekretaris Jenderal DPP PKB.?

Ulama Salaf Online

“PBNU, KPAI, LPOI beberapa pemerintah daerah seperti Papua, NTT, Pasuruan, Tegal, Purwakarta sudah tegas menolak bahkan sejak peraturan ini masih jadi wacana dan sampai sekarang sikap mereka tidak berubah, hal ini seharusnya didengar oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi,” imbuhnya lagi.?

Seperti yang sudah diketahui, salah satu nawa cita Presiden Joko Widodo adalah merevolusi karakter bangsa, akan tetapi menerjemahkannya dengan peraturan sekolah lima hari atau full day school menurut Karding sama sekali tidak tepat.

“Kami sepakat dengan revolusi karakter bangsa atau penguatan karakter bangsa, sebab itu yang sudah dilakukan oleh Pesantren dan Madrasah Diniyah selama ini, bahkan sejak sebelum Indonesia Merdeka. Maka dari itu, kami akan tolak segala kebijakan yang akan melemahkan atau bahkan menghapus lembaga pendidikan asli Indonesia ini,” tegas Ketua FPKB MPR RI ini.?

Ulama Salaf Online

“Yang terancam bukan hanya Pesantren dan Madrasah Diniyah tapi justru karakter bangsa sedang terancam, lebih jauh NKRI bisa terancam,” katanya lagi.

Pria yang akrab disapa dengan AKK ini juga menegaskan bahwa partainya telah menginstruksikan kepada seluruh kader untuk terus berjuang menolak adanya FDS. PKB menilai FDS telah menafikan peran-peran kesejarahan dan peran madrasah dalam membangun karakter bangsa dan akhlak mulia.?

PKB menyatakan bahwa pembangunan karakter bangsa tidak bisa diukur dengan banyaknya hari dan jam anak belajar di sekolah akan tetapi lewat kualitas proses pendidikan dan kesungguhan para guru/ustadz dalam membimbing dan memberi tauladan bagi peserta didik.

Baginya, tidak semua kebijakan politik bisa dinegosiasikan, salah satunya adalah kebijakan full day school yang tidak boleh dinegosiasikan dengan alasan apapun.?

Harapannya, Halaqoh Kebangsaan ini bisa merumuskan hal-hal strategis menyangkut penguatan karakter bangsa dan langkah taktis-strategis untuk menolak pelaksanaan Permendikbud nomor 23 tahun 2017 ini.?

Adapun narasumber yang akan hadir adalah Robikin Emhas (Ketua PBNU Bidang Hukum), Arifin Junaidi (Ketua LP Ma’arif NU), Lukman Hakim (Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah), Irsyad Yusuf (Bupati Kab Pasuruan), dan Margaret AM (Komisioner KPAI). (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Hadits Ulama Salaf Online

Selasa, 31 Oktober 2017

Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September

Semarang, Ulama Salaf Online. Genderang kick off Liga Santri Nusantara (LSN) secara resmi membuka pertandingan di region-region. Zona Jawa Tengah terbagi menjadi tiga regional; region satu meliputi Banyumas Raya dan Pekalongan Raya. Region II terdiri dari Kendal, kota Semarang, Demak, Kudus, Pati, Jepara, Rembang, Blora, Grobogan, kabupaten Semarang dan kota Salatiga. Sedangkan region III Solo Raya dan Kedu Raya. Pelaksanaan pertandingan akan dimulai awal September nanti.?

Sepak bola U-18 ini merupakan liga amatir yang diperuntukkan untuk kaum santri, dimana pesantren yang berasosiasi di bawah naungan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU). LSN ini merupakan tahun kedua digelar. Pesantren dengan berbagai potensinya termasuk sepakbola memiliki andil besar untuk menyumbangkan talenta yang selama ini terpendam.?

"Kompetisi ini akan dilaksanakan pada 1-4 September 2016," papar koordinator LSN regional II Jateng, Sukirman.?

Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September

Penyelenggara juga berkerjasama dengan Asosiasi Wasit Profesional Indonesia (Awapi). Setidaknya terdapat 18 tim yang telah mendaftarkan diri kepada panpel.?

Pertandingan region II Jateng akan digelar di lapangan Arhanudse-15 Kodam IV Diponegoro, Semarang. Mekanisme pertandingan menggunakan sistem gugur, sampai akhirnya akan diambil satu tim untuk ditandingkan di tingkat nasional.?

Ulama Salaf Online

Kirman menambahkan bahwa Kamis, (25/8) akan digelar technical meeting (TM) untuk peserta panitia pelaksana. Sebelum TM mulai akan diawali dengan diskusi dengan tema?

"Revolusi Sepakbola Nasional dari Pesantren Pembinaan Usia Muda Tanggung jawab Siapa?" dengan menghadirkan Ketua PP RMI NU KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), pengasuh pondok pesantren API Tegalrejo Magelang dan juga Owner PPSM Magelang KH. Yusuf Chudlori (Gus Yus), Wakil Ketua DPRD Jateng dan Koordinator LSN Regional 2 Jateng 2016 Sukirman SS, Kepala Dinpora Provinsi Jateng Budi Santoso, dan pelatih usia muda yang juga mantan pelatih PPLP Jateng, Edi Prayitno. Diskusi ini akan dimulai pukul 11.00 WIB bertempat di gedung Berlian DPRD Jawa Tengah. (Zulfa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Meme Islam, Bahtsul Masail Ulama Salaf Online

Rabu, 25 Oktober 2017

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Jakarta, Ulama Salaf Online
Selama ini, sejarah tentang NU lebih banyak ditulis oleh para peneliti dari kalangan non NU, para orientalis dan pengikutnya. Dalam pandangan mereka, NU dicitrakan sebagai organisasi yang bersifat Jawa yang oportunis, koservatif serta agraris yang tidak rasional. Keadaan ini perlu dirubah dengan melakukan perubahan paradigma penulisan sejarah NU yang dilakukan kalangan sendiri yang bisa mencitrakan NU sesuai dengan apa adanya dengan data serta argumen yang memadai.

Lembaga Ta’lief Wan Nasr (LTN NU) atau Lembaga Penelitian dan Pengembangan Informasi NU mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya di daerah Minang, Sunda dan Sasak di Gd. PBNU (22/8). Penelitian merupakan upaya untuk melihat sejarah NU dari sudut pandang orang NU sendiri. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut Enceng Sobirin, Abdul Aziz Ahmad, Mun’im Dz, dan Adnan Anwar

“Walaupun dianggap tradisional, tetapi NU punya daya tahan sehingga bisa terus berkembang, ketika organisasi serupa sudah berguguran. Kekuatan itu tidak pernah diteliti, hanya kelemahan saja yang dicari,” tandas Ketua LTN NU Mun’im Dz (22/8).

Penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke daerah-daerah tersebut lebih memfokuskan pada dinamika internal, yaitu bagaimana para tokoh NU mencitrakan dirinya serta memaknai tindakannya serta menjelaskan argumennya sesuai dengan rasionalitas kaum nahdliyyin.

“Dengan pendekatan tersebut berbagai data bisa ditemukan, berbagai informasi didapatkan, beberapa pengalaman para tokoh dan saksi bisa diungkapkan dan dijadikan sumber utama penulisan,” tambahnya.

Dengan adanya sumber alternatif ini, buku babon tentang NU yang sudah dianggap klasik hanya dijadikan sumber sampingan, bahkan tidak sedikit yang terpaksa dibuang, diganti dengan sumber yang lebih orisinil dan lebih valid. Dengan cara demikian, citra NU bisa ditampakkan dan NU luar Jawa yang selama ini diabaikan juga bisa diperlihatkan eksistensi dan pengaruhnya terhadap NU Indonesia.

Budaya NU memiliki keragaman yang luas sesuai dengan lokalitasnya masing-masing. Dimanapun, baik di Jawa maupun luar Jawa, NU memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan diri dengan budaya lokal.

Di Sumatra Barat, NU berinteraksi erat dengan Perti, sementara di Sumatra Utara memiliki kesamaan cultural dengan jam’iyah Al Washiliyah. Di Sunda NU beraliansi dengan Mathla’ul Anwar sedangkan di NTB dengan Nahdlatul Wathon. Demikian juga, di Sulawesi bahu-membahu dengan Al-Khairat.

Mun’im yang juga peneliti di LP3Es tersebut menjelaskan selama berada di tiga daerah tersebut, para pimpinan NU lokal memberi sambutan yang luar biasa dengan memberikan data dan waktunya. Selama ini mereka sendiri kurang faham tentang sejarah NU di lingkungannya, bahkan banyak diantara tokohnya yang malah menulis sejarah tokoh dari ormas lainnya.

Hasil penelitian ini akan terus disempurnakan, baik dengan melakukan penelitian lebih lanjut atau mengundang para ahli untuk berdiskusi. Jika sudah dianggap memadai, penelitian ini akan diterbitkan dalam bentuk buku.(mkf)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai, Meme Islam Ulama Salaf Online

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Sabtu, 21 Oktober 2017

Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan

Tasikmalaya, Ulama Salaf Online - Hujan deras yang mengguyur bumi Kota Tasikmalaya sejak pukul 14.00 hingga sore hari, Sabtu (26/11), merendam sejumlah fasilitas publik. Salah satunya Rumah Sakit Umum dr. Soekardjo yang ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Air pun meluber hingga kedalam ruangan. Dari tempat pendaftaran pasen hingga pekarangan parkir. Dan situasi Rumah Sakit menjadi genting karena air terus merendam, masuk ke dataran rendah.

Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan

Sejumlah petugas yang bekerja dilantai satu berlarian menuju lantai atas. Mereka tidak berani turun karena belum surutnya air yang meluap dari Sungai Cimulu itu.

Ulama Salaf Online

Direktur RSU dr. Soekardjo, Wasisto belum bisa dihubungi. Namun menurut karyawan bahwa air masuk ke Rumah Sakit karena minimnya serapan air. Ketika serapan tidak ada, Sungai Cimulu meluap, maka air masuk Rumah Sakit.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky assegaf yang kebetulan sedang di Rumah Sakit melaporkan kondisi banjir tersebut. Hampir seluruh penjuru kota hingga pusat kota digenangi air.

"Maka Banser Tanggap Bencana (Bagana) harus siaga. Karena hujan? terus deras," ujarnya melalui sambungan telepon.

Ulama Salaf Online

Menurut Ricky, pihak BPBD Kota Tasikmalaya juga sudah menghubungi Bagana. Meminta siaga mengantisipasi segala kemungkinan.

Dan Alhamdulillah, ujarnya, tidak ada korban jiwa, kecuali sejumlah kendaraan yang macet ditengah jalan sehingga mengganggu lalu lintas. (Nurjani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Pesantren Ulama Salaf Online

Senin, 02 Oktober 2017

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap

Jakarta, Ulama Salaf Online

Nahdlatul Ulama (NU) mengutuk praktik suap-menyuap dalam pencalonan pejabat publik. Atas praktik itu, sikap tegas diambil NU terhadap pencalonan wakil rakyat, bupati, gubernur, maupun pencalonan kursi presiden.

Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyampaikan perihal itu saat dihubungi Ulama Salaf Online, Selasa (7/5) siang. Menurutnya, praktik suap itu merupakan perbuatan yang patut dikutuk karena dampak kerusakannya sangat luas.

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap

“Selain merusak moral masyarakat, praktik suap dalam pencalonan juga berisiko menimbulkan korupsi yang kini tengah diberantas aparat hukum,” kata KH Malik Madani.

Ulama Salaf Online

Kata Kiai Malik Madani, Praktik suap dalam pencalonan dibahas secara khusus dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Al-Waqi‘Iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas-Konbes NU di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, September 2012 lalu.

Para kiai NU dalam Munas-Konbes NU 2012, lanjut Kiai Malik Madani, menyebut praktik suap pencalonan itu dengan istilah “risywah politik”. Mereka dengan jelas mengharamkan praktik risywah itu.

Ulama Salaf Online

Dinyatakan atau tidak, risywah politik tetap haram. Hukum haram berlaku baik bagi calon atau tim sukses yang menyuap maupun penerima yang mengerti maksud penyuap. Sedangkan penerima suap wajib mengembalikan bentuk suap itu kepada penyuap, tegas Kiai Malik.

Para kiai perlu memutuskan persoalan itu dengan garis hitam-putih dalam Munas-Konbes NU mengingat praktik suap sangat meresahkan masyarakat. Celakanya, praktik itu dinilai lazim, pungkas KH Malik Madani.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Fragmen, Meme Islam Ulama Salaf Online

Kamis, 28 September 2017

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Bandung, Ulama Salaf Online

Selama ini wacana penguatan ulama sering diangkat, tapi sulit untuk diwujudkan. Beberapa hasil refleksi mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena fokus penguatan itu tertuju kepada para kiai atau ulama secara langsung. Sementara mereka memiliki banyak keterbatasan, menyangkut usia, kesibukan, dan lain-lain.



Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah Robithah Ma’ad Islamy (PW RMI) Jawa Barat, KH Abdul Chobir, dalam sambutan acara bertajuk Pelatihan Asistensi Kiai NU. Acara yang kelola RMI ini diikuti oleh 26 utusan pesantren dari 26 kabupaten/kota seluruh Jawa Barat.

Acara yang telah berlangsungkan dari tanggal 3-5 Desember ini bertempat di? Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, jalan Terusan galunggung No. 09 Bandung. Pelatihan yang rencanya dilakukan beberapa tahap ini dinilai unik, karena di baru pertama kali dilakukan.

Ulama Salaf Online

“Pelatihan ini ikhtiyar PW RMI Jabar untuk memecahkan problem yang disebut Kiai Chobir dalam sambutan tadi,” ujar Iip D Yahya, ketua panitia yang juga wakil sekretaris PW RMI Jawa Barat itu.

Ulama Salaf Online

“Pesertanya kebanyakan anak kiai, kerabat dekat atau santri kepercayaan. Saya kaget, ternyata mereka antusias,” tambah Iip D Yahya, penulis biografi KH Ilyas Ruchiyat, Cipasung Tasikmalaya.

Selama tiga hari para peserta diperkenalkan dengan teori jurnalisitik, teknik dasar penulisan biografi, pengenalan peta mutakhir pesantren dan NU di tingkat nasional dan internasional, serta manajemen internal pesantren. Acara ini mendatangkan Abdul Mun’im DZ (PBNU), Muhammad Syafi dan Hamzah Sahal dari Ulama Salaf Online, Ahmad Dairobi dari pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. (yy)Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Olahraga Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock