Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Grobogan, Ulama Salaf Online. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan amal ibadah lainnya. Bahkan puasa pada 10 Muharram diyakini menghapus doa yang lalu dan akan datang.

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Kemuliaan bulan Muharram ini dihayati warga NU Grompol, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Di bawah pimpinan KH Imam Sujoto, mereka menggelar istighotsah dan tahlil setiap Kamis malam selama bulan Muharram di Masjid Baitus Salam, Kradenan, Grobogan. Kamis (28/11) kemarin menjadi puncak dari rutinitas istighasah dan tahlil di bulan Suro (Muharam) ini.

“Manusia hidup memiliki dua tas,” tutur Kiai Imam. “Tas plastik berguna untuk menampung harta, sementara tas qalb (hati) butuh siraman rohani. Manusia lebih sering memenuhi tas plastik dibanding tas qalb. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan hidup dan kurang nyamannya hidup,” tegasnya

Ulama Salaf Online

Ia menambahkan, dzikir sanggup menjadi penentram hati sekaligus bekal untuk kehidupan kelak. Selain itu, bagi anggota keluarga yang telah berpulang terlebih dahulu, doa sangat mereka butuhkan. Orang yang telah meninggal ibarat orang tenggelam. Melalui tahlil inilah, anak cucu saudara memberikan bantuan berupa “pelampung penyelamat”.

Ulama Salaf Online

Selama lebih dari dua jam jamaah tampak khusyuk berdzikir dan berdoa. Meskipun di dalam masjid yang masih dalam tahap renovasi, jamaah larut dalam ibadah. Mereka juga berdoa, agar pembangunan masjid kebanggaannya segera rampung. (Hanif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba Ulama Salaf Online

Jumat, 09 Maret 2018

Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan

Brebes, Ulama Salaf Online. Islam terlahir dan berkembang bukan karena hunusan pedang. Ia pun hadir untuk kedamaian melalui penyempurnaan akhlak. Ritual berupa shalat, puasa, haji, zakat, dan bentuk ibadah lainnya semata-mata untuk perubahan akhlak.

Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan

Demikian disampaikan Dr KH Abas Fuad Hasyim dari Buntet Pesanteren Cirebon, Jawa Barat, saat mengisi pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW tingkat Kabupaten Brebes di Masjid Darul Muttaqin Desa Cikeusal Kidul, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, Kamis (29/1).

Kang Babas, demikian biasa disapa, mengajak kepada warga untuk tidak mencoreng Islam dengan melakukan tindak kekerasan. “Jangan marah, karena marah berasal dari setan,” kata Babas yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor itu.

Ulama Salaf Online

Dia berharap umat Islam mampu menunjukan sebagai umat Nabi yang mengutamakan akhlakul karimah. Bisa santun, menebar kasih saying dan tidak mudah marah. “Bila dua kubu saling menyerang, maka kedua-keduanya akan masuk neraka,” tandas Babas seraya menyitir sebuah hadits.

Ulama Salaf Online

Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Kab Brebes K Agus Mudrik Khaelani Al Khafidz. Menurutnya, kehidupan akan terasa indah manakala dihiasi dengan kedamaian. Kenyamanan akan tercipta bila masyarakat bisa saling menjaga silaturahmi, saling menghargai, dan hidup rukun.

“Alangkah indahnya, pada saat ini juga tengah berkumpul antara ulama dan umara sebagai lambang kekuatan bangsa, kekuatan Brebes,” ungkap  Pengasuh Pondok Pesanteren Bustanul Arifin Bangbayang Bantarkawung itu.

Sementara Drs KH Dirjo Abdul Hadi menyampaikan pentingnya penghormatan kepada orang yang lebih tua dan menyayangi yang muda. Anak-anak jangan sampai durhaka kepada orang tua, demikian juga sebaliknya orang tua harus memberi contoh teladan yang terbaik bagi anak-anaknya. “Mau jadi apa kalau anak sampai durhaka pada orang tuanya,” tutur Ujo dalam bahasa yang kocak.

Peringatan Maulud Nabi mengambil tema menjalin persatuan, merajut persaudaraan demi terwujudnya masyarakat Brebes yang mandiri dan bermatarbat meski diguyur hujan deras namun pengunjung yang berjumlah ribuan orang itu tetap bertahan.

Bupati Brebes dalam kata sambutannya berharap kepada masyarakat Brebes untuk makin menguatkan persatuan dan kesatuan demi suksesnya pembangunan daerah. Pemerintahan tidak bisa berjalan kalau tidak ada dukungan dari umat. Untuk stabilitas keamanan dan keimanan harus sejajar demi mencapai kesuksesan bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati memberikan santunan kepada 100 anak yatim piatu. Santunan diberikan secara simbolis karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kapolres Brebes Ferdi Sambo, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI, staf Ahli Bupati, para pejabat eselon II, III dan IV Kabupaten Brebes dan undangan lainnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba, News Ulama Salaf Online

Rabu, 07 Maret 2018

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya

Purwakarta, Ulama Salaf Online

Akhlak menjadi hal paling pokok dalam kehidupan manusia. Ia menjadi parameter bagi keunggulan kualitas kepribadiannya. Atas dasar ini pula Allah memosisikan Rasulullah SAW pada derajat paling tinggi.

”Allah memuji Nabi Muhammad karena akhlaknya, bukan karena ilmunya,” Katib Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj dalam ceramah peringatan Isra’ dan Mi’raj di Purwakarta, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Menurut Kiai Musthofa, berbekal kemuliaan moral, Rasulullah sukses menyebarkan kebenaran Islam dalam waktu kurang dari 23 tahun. Rasulullah merupakan rujukan ajaran dan pusat teladan bagi setiap makhluk di semesta alam ini.

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya

Nahdlatul Ulama, lanjutnya, berusaha mengikuti jejak ini dengan terus mengedepankan akhlak dalam sikap dakwah dan perjuangannya. Ormasi Islam terbesar ini juga tak ingin gegabah menghujat atau memvonis sesat kelompok lain.

Peringatan Isra’ dan Mi’raj digelar bersamaan dengan acara pembukaan Konferenci Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Purwakarta. Perayaan rutin bulan Rajab ini antara lain diisi tahlil, hadlarah, dan tausiyah.

 

Ulama Salaf Online

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Lomba, Bahtsul Masail Ulama Salaf Online

Selasa, 27 Februari 2018

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global

Oleh Suwendi*

Belakangan ini, kalangan pendidikan Islam Indonesia, khususnya pemangku kebijakan yang bertanggung jawab atas pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, menekadkan diri untuk menjadikan pendidikan Islam Indonesia sebagai destinasi pendidikan Islam global. Tentu kebijakan ini pada aspek tertentu membutuhkan kesiapan strategi dan keseriusan internal Kementerian Agama, di samping dukungan masyarakat dan seluruh stakeholders secara serius.

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global

Terdapat sejumlah alasan mengapa kita perlu mendukung kebijakan itu. Pertama, pemahaman Islam yang berkembang di Indonesia adalah pemahaman Islam yang Rahmatan lil’alamin. Islam yang senaniasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak-hak asasi manusia, menghormati ragam budaya dan kultur masyarakat, mengidamkan kedamaian, keadilan, toleransi, dan sikap yang keseimbangan (tawazun). Di tengah pelbagai perbedaan dan keragaman sosio-kultural, agama, adat dan budaya, bahasa, dan lokalitas dalam ribuan pulau serta lainnya, namun Indonesia tetap kekar dalam bingkai persatuan dan kesatuan keindonesiaan. Ini menunjukkan pemahaman keagamaan Islam yang berkembang adalah Islam yang damai, toleran, dan menghargai segala bentuk perbedaan. Kedua, sebagai negara-bangsa yang mayoritas muslim dengan sosial budaya dan kultur yang sangat beragam, Indonesia patut untuk mengambil bagian strategis sebagai barometer tingkat peradaban pendidikan Islam yang dibanggakan. Dalam konteks ini, Indonesia diharapkan mampu menjadi teladan bagi negara muslim dunia lainnya. Ketiga, gejolak sosial politik di Indonesia jauh lebih kondusif dibanding dengan negara muslim lainnya. Kondisi gejolak sosial-politik dan perkembangan keislaman di sejumlah negara muslim belakangan ini, terlebih di kawasan Timur Tengah, patut disayangkan. Gejolak tersebut mengakibatkan pusat-pusat keislaman pun menjadi redup. Mesir, Libya, Suriah, Yaman dan Saudi, kini ditimpa musibah konflik yang hingga kini belum usai. Demikian juga dengan pusat-pusat keislaman di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei cenderung belum mendapatkan momentumnya yang tepat. Maka bisa dikatakan, Indonesia menjadi negara yang paling memungkinkan untuk mengambil posisi sebagai pusat harapan pendidikan Islam dunia.

Di samping sejumlah alasan di atas, sesungguhnya yang menjadi alasan kuat untuk menjadikan pendidikan Islam Indonesia sebagai destinasi pendidikan dunia lebih disebabkan karena negara ini memiliki lembaga pendidikan Islam asli (genuin) Indonesia, yakni pondok pesantren. Dibanding dengan lembaga pendidikan Islam lainnya, semisal sekolah, madrasah dan perguruan tinggi agama Islam, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam khas dan otentik Indonesia.

Pondok pesantren merupakan dunia tradisonal Islam yang mampu mewarisi dan memelihara kesinambungan tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu. Oleh karena itu, ketahanan lembaga pesantren agaknya secara implisit menunjukkan bahwa dunia Islam dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini bukan hanya disebabkan kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu, tetapi juga lebih banyak disebabkan karena karakter eksistensialnya. Karakter yang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan Nurcholish Madjid, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).?

Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat sekitar, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan. Hal ini tidak hanya terlihat dari hubungan latar belakang pendirian pesantren dengan lingkungan tertentu, tetapi juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri melalui pemberian wakaf, sadaqah, hibah, dan sebagainya. Sebaliknya, pihak pesantren melakukan ‘balas jasa’ kepada komunitas lingkungannya dengan bermacam cara, termasuk dalam bentuk bimbingan keagamaan, sosial, kultural, dan ekonomi. Dalam konteks terakhir inilah, pesantren dengan kiainya memainkan peran yang disebut Clifford Geertz sebagai ‘cultural brokers’ (pialang budaya) dalam pengertian seluas-luasnya.

Ulama Salaf Online

Di samping karakter keindonesiaan, pesantren senantiasa mentransmisikan pemahaman keagamaan Islam yang ramah, damai, toleran, saling menghargai, dan tidak radikal. Jauh dari doktrin terorisme, saling mengkafir-bid’ahkan, apalagi pembenaran atas letupan-letupan bom bunuh diri. Dalam kondisi Indonesia yang komplek dan plural, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat. Oleh karenanya, tidak berlebihan jika pesantren menjadi garda terdepan dalam membangun pemahaman Islam yang Rahmatan lil’alamin.

Setidaknya terdapat lima substansi yang dikembangkan oleh pondok pesantren. Pertama, Pesantren mengajarkan nasionalisme. Sejarah membuktikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperjuangkan oleh ulama-ulama. Para kiai dan santri memiliki ‘saham’ besar dalam membentuk bangsa dan negara ini. Sejak awal, nasionalisme sudah tertanam kuat dalam dada para santri. Tidak satupun pesantren yang menolak pondasi dassar negara; Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Kedua, pendidikan pesantren menanamkan ajaran-ajaran Islam yang toleran. Toleransi merupakan basis dan pilar pendidikan Islam di pesantren. Pesantren senantiasa menghargai akan perbedaan pendapat yang berbeda dan jauh dari klaim-klaim kebenaran tunggal. Ketiga, pendidikan Islam di pesantren mengajarkan Islam yang moderat, tidak ekstrim radikal dan tidak ekstrim liberal. Keseimbangan dan penguatan akan nilai-nilai moderasi (tawazun) ini telah menjadi kekhasan lembaga pendidikan pesantren. Keempat, pesantren menghargai keragaman agama, budaya, dan etnis (multikulturalisme) yang diarahkan dalam rangka lita’arafu (agar saling mengenal), bukan litabaghadu (saling membenci dan memusuhi). Kelima, pendidikan pesantren mengajarkan Islam yang bersifat inklusif, bukan eksklusif. Pesantren terbuka dan menerima siapapun, termasuk non-muslim. Kelima pilar inilah yang selama ini diajarkan di pondok-pondok pesantren.?

Peran dan karakteristik pesantren inilah yang di antaranya membedakan antara pesantren dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi agama Islam merupakan bentuk improvisasi dan modernisasi lembaga pendidikan yang mengadopsi dari dunia luar. Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan ini jauh lebih belakangan dibanding pondok pesantren. Demikian juga, lembaga-lembaga ini tidak hanya dimiliki oleh Indonesia, tetapi juga terdapat di dunia muslim lainnya, bahkan dengan tingkat kualitas yang lebih baik. Oleh karenanya, pesantrean sebagai kekhasan Indonesia patutlah didorong sebagai destinasi pendidikan Islam global, tentunya dengan keseriusan kita bersama.

Ulama Salaf Online

* Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi NU dan alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tokoh, Sholawat, Lomba Ulama Salaf Online

Jumat, 23 Februari 2018

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III)

Jakarta, Ulama Salaf Online 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menceritakan tentang toleransi dalam Islam kepada para personel grup musik Wali yang bersilaturahim ke PBNU beberapa waktu lalu. Kiai Said mencontohkan toleransi pada zaman awal Islam dan dilakukan langsung Nabi Muhammad SAW sendiri. 

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III) (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III) (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III)

Menurut Kiai Said, Nabi Muhammad pernah berkata, pada suatu saat nanti agama Islam akan sampai ke Mesir dengan tangan Umar bin Khatab.

“Islam akan sampai ke Mesir berkat tanganmu, Umar, berkat perjuanganmu,” ceritanya kepada manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).

(Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian I))

Ulama Salaf Online

Namun, kata Kiai Said, Nabi Muhammad mengingatkan Umar agar menjaga kehormatannya Kristen Qibthi (sekarang disebut Koptik). Mereka jangan dimusuhi. Amanat Nabi Muhammad itu dijaga sampai sekarang oleh umat Islam Mesir. 

“Perang Salib pernah terjadi, tapi Kristen Koptik tidak diganggu,” lanjut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut. 

Pada peristiwa lain, Kiai Said menceritakan Nabi Muhammad ketika mendapatkan kemenangan, yaitu Fathu Mekkah. Ketika Nabi Muhammad masuk mekkah, sebagian sahabatnya ada yang menganggap bahwa hari itu adalah untuk membalas dendam kepada kafir Mekkah. Dendam itu dalam bentuk membunuh kepada orang yang telah melakukan pembunuhan kepada orang Muslim (qishas).

Namun, Nabi Muhammad tidak membenarkan anggapan sahabat tersebut. Hari itu, menurut Nabi adalah hari silaturahim umat Islam dengan penduduk Mekkah.

Ulama Salaf Online

“Enggak, hari ini hari membangun silaturahim, semua penduduk Mekkah saya maafkan,” ungkap Kiai Said mengumpamakan perkataan Nabi Muhammad.

(Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian II))



Sebelum kedatangan Nabi Muhammad ke Mekkah itu, lanjut Kiai Said, ada 15 penduduk Mekkah yang kabur karena ketakutan. Lima belas orang tersebut menyangka bahwa kaum Muslimin akan melakukan pembalasan. Di antara yang kabur tersebut Ikrimah, anaknya Abu Jahal. 

“Yang lari, dijemput, saya maafkan, saya maafkan,” lanjut Kiai Said, mengumpamakan ungkapan Nabi Muhammad.

Menurut Kiai Said, NU adalah Ahlussunah wal-Jama’ah. Prinsipnya moderat dan toleran, menjalin persaudaraan sesama uamt Islam, sesama warga bangsa, sesama manusia. 

“Jadi, NU Tidak ada celah untuk radikal, toleran, moderat. Cita-citanya membangun persaudaraan sebangsa setanah air. Jadi, radikal tidak akan hidup di NU,” tegas Kiai Said. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Ubudiyah, Lomba Ulama Salaf Online

Sabtu, 17 Februari 2018

Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Capai 43 Orang

Jeddah, Ulama Salaf Online - Jemaah haji yang wafat di Arab Saudi kini mencapai 43 orang. Jumlah tersebut terhitung sejak pemberangkatan gelombang pertama 28 Juli 2017, hingga Sabtu (19/8) kedatangan di Kota Suci Makkah dan Madinah, Arab Saudi. Mayoritas jemaah meninggal karena terkena serangan jantung dan gangguan pernafasan.

Informasi ini berdasarkan data yang dikeluarkan Sistem Komputerisasi dan Informasi Haji Terpadu (Siskohat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, sebagaimana dilansir situs resmi Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI, Ahad (20/8).

Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Capai 43 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Capai 43 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Capai 43 Orang

Jemaah bernama Enung binti Renung Ukin (79) dari kloter 003 Jakarta (JKG 003) meninggal di pemondokan Makkah karena gangguan pernafasan.

Ulama Salaf Online

Marzuki bin Abdur Rahmat (79) dari kloter 01 Palembang (PLM 01) meninggal di Sektor Makkah karena serangan jantung.

Ulama Salaf Online

Suwanah binti Hajemin Maridin (60) dari kloter 40 Jakarta (JKG 40) meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Airport Jeddah karena serangan jantung.

Jakaria bin Jawas Pallo (54) dari kloter 015 Ujungpandang (UPG) meninggal di perjalanan menuju Makkah karena serangan jantung.

Kaseri bin Kasan Dikromo (68) dari kloter 012 Surabaya (SUB 012) meninggal di Sektor Makkah karena serangan jantung.

Abdul Rahman bin Kelsabar (68) dari kloter 014 Ujungpandang (UPG 0014) meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah karena gangguan saluran pernafasan.

Sarfiddin bin Sahbuddin Muhammad (65) dari kloter 04 Batam (BTH 04) meninggal di pemondokan Makkah karena gangguan saluran pernafasan.

Berikut data jemaah haji yang wafat sebelumnya:

1. Diah Rialati Kasbullah Tjasuri (SOC 05), wafat 7 Agustus 2017 di RS Al Ansaar, Madinah, karena sakit pada saluran pernafasan.

2. Samidi Ciro Sentono (BTH 06), wafat 7 Agustus 2017 di RS King Fahd karena serangan jantung.

3. Mudjiono Sukibat bin Somodimedjo (SUB 08), wafat 5 Agustus 2017 pukul 10.43 WAS di hotel karena mengalami serangan jantung.

4. Supono Suseno Satari bin Suseno (SUB 07), wafat 5 Agustus 2017 jelang Salat Subuh di halaman Masjid Nabawi karena mengalami serangan jantung.

5. Amnah Hasri Husin binti Husin (MES 02), wafat 4 Agustus 2017 pukul 03.00 WAS di hotel karena serangan jantung.

6. Sarnata Sarun (JKG 05), wafat 3 Agustus 2017 pukul 20.00 di hotel karena serangan jantung.

7. Ilebbi binti Jinatta Lepu (UPG 08), wafat 3 Agustus 2017 jam 16.16 WAS di pelataran Masjid Nabawi karena serangan jantung.

8. Hadiarjo Singarejo Singaleksana Kasenet bin Singarejo Kasenet (SOC 01), wafat 3 Agustus 2017 jam 13.00 WAS di hotel karena serangan jantung.

9. Sukamto bin Sudarman Muryadi (JKS 16), wafat 3 Agustus 2017 di RS Al Anshoor, karena serangan jantung.

10. Indriyani Wahadi Wiyono (SOC 02), wafat 2 Agustus 2017 di RS Al Anshoor, karena penyakit jantung.

11. Agus Salim Mulia Siregar (MES 02), wafat 1 Agustus 2017, karena trauma pada tulang leher disebabkan terjatuh.

12. Umi Nadiroh Yunus Husen (SUB 05), wafat 31 Juli 2017 di RS Al Anshoor, karena mengalami serangan jantung.

13. Marfuah merupakan jemaah dari kloter 17 embarkasi Surabaya (SUB 17), wafat di Al Dar Hospital Madinah karena mengalami serangan jantung.

14. Engkos Kostiman bin Darya dari embarkasi JKS 6, asal Parung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, wafat di Makkah karena serangan jantung.

15. Slamet Tarni Achad (62), calon haji asal Ploso Kandang, Tulungagung, Jawa Timur, mengembuskan napas terakhir di Makkah karena gangguan saluran pencernaan.

16. Risda Yarni Muhammad Rasyid (47) dari embarkasi Batam kloter 6. Meninggal di pemondokan, Madinah.

17. Siti Aminah Janip Sain (53) jemaah haji dari kloter 11 Jakarta-Bekasi, meninggal di pemondokan, Makkah, akibat serangan jantung.

18. Imas Yuhana Misbah dari Embarkasi Jakarta-Bekasi atau JKS 3 berumur 61 tahun, wafat di Makkah karena terkena serangan jantung.

19. Ilyas Muhammad Jasa dari embarkasi Batam atau BTH 8, wafat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah. Ilyas meninggal dunia dalam umur 64 tahun.

20. Ramlah Abdul Jalil Silalahi asal embarkasi Medan atau MES 8. Ia meninggal di pemondokan saat mengikuti rangkaian ibadah Arbain di Madinah. Ramlah meninggal di usia 69 tahun.

21. Dahlia Hanum Nasution (60), berasal dari Embarkasi Medan kloter 5 (MES 5), meninggal pada 12 Agustus 2017 di Rumah Sakit Arab Saudi akibat serangan jantung.

22. Jembar Untung Semo (61), berasal dari Embarkasi Surabaya kloter 18 (SUB 18), meninggal pada 14 Agustus 2017 di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) akibat gangguan pernafasan.

23. Suyahtri Kasmi Tohjoyo berusia 51 tahun, berasal dari Embarkasi Surabaya Kloter 7 (SUB 7). Meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) karena serangan jantung.

24. Dadang Iskandar Empan, berusia 65 tahun dan jemaah dari Jakarta kloter 35 (JKS 35). Meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) akibat serangan jantung.

25. Nasiman Mochamad Sahlan (65), dari kloter 46 Solo (SOC 46). Meninggal di pemondokan karena ada pendarahan dalam tubuhnya.

26. Ida Rosika P binti Maradaman HSB (78), berasal dari kloter 007 embarkasi Medan. Ia meninngal di pemondokan Makkah karena serangan jantung.

27. Razali Haka bin Abdul Karim (82), berasal dari 016 Batam, meninggal di Masjid Makkah karena serangan jantung.

28. Kusno bin Kadari Mursadi (75), berasal dari kloter 041 embarkasi Surabaya meninggal Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah, karena gangguan saluran pencernaan.

29. Utami binti Kasan Kasti (46) kloter 040 Jakarta-Bekasi (JK 040) meninggal Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah, karena gangguan pernapasan.

30. Bedjo Al Juwahir bin Poncokromo (73) dan Sumaryam binti Kerti Mat (62). Bedjo Al Juwahir yang tergabung dalam kloter 5 Embarkasi Surabaya (SUB 05) wafat di pemondokan. Makkah karena serangan jantung.

31. Sumaryam adalah jemaah kloter 53 Embarkasi Surabaya (SUB 53). Alrmahumah wafat di pemondokan Makkah karena serangan jantung.

32. Emdenis bin Mukhtarudin (60). Almarhumah adalah jemaah kloter 16 Embarkasi Padang (PDG 16). Almarhumah wafat di pemondokan Makkah karena gangguan pernafasan.

33. Purni binti Pungut Minan (65), kloter 023 Jakarta meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah karena serangan jantung

34. Iyah binti Saari Ili (50) kloter 040 embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 040) meninggal di pemondokan Madinah karena serangan jantung.

35. Solikhin bin Mursidik Dipawikrama (60) kloter 046 embarkasi Solo meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah karena gangguan pernafasan.

36. Sutomo bib H Sosro Harsono (83) kloter 022 Jakarta-Bekasi meninggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Makkah akibat penyakit tumor.

(Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba, Olahraga, Nahdlatul Ulama Ulama Salaf Online

Selasa, 06 Februari 2018

Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center

Kudus, Ulama Salaf Online. Pengurus ? Majlis Dzikir dan Sholawat "Rijalul Ansor Kudus Jawa Tengah meluncurkan Aswaja Center di Pondok Pesantren Yanbuuul Quran Kudus, Sabtu malam (20/8). Menandai peluncuran, Rais PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani mendoakan dengan bacaan Surat Alfatihah.

Ketua Rijalul Ansor Kudus KH Muhammad Alamul Yaqin mengatakan Aswaja Center sebagai wadah bertujuan meningkatkan pemahaman dan penghayatan wawaan keislaman ahlussunnah Wal Jamaah di kalangan pemuda Ansor dan masyarakat Umum.

Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center (Sumber Gambar : Nu Online)
Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center (Sumber Gambar : Nu Online)

Rijalul Ansor Kudus Luncurkan Aswaja Center

"Tujuan lainnya menginternalisasi dan mengaktualisasikan faham Aswaja dalam kehidupan beragama,berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Kiai muda yang biasa disapa Gus Muh ini menandaskan Aswaja Center merupakan jawaban atas kondisi masyarakat zaman sekarang yang mudah terpengaruh dari berbagai informasi bersifat khilafiah, perbedaan pemikiran keagamaan yang bisa membahayakan silaturrahim dalam kehidupan berbangsa.

Ulama Salaf Online

"Lembaga ini ini juga dimaksudkan mewadahi dan menggerakkan gus-gus ? (kiai muda) yang selama ini masih berkiprah di pesantren daan belum mempunyai jaringan silaturrahim yg kuat," tegasnya.

Ia mengharapkan para alumni pesantren mau melebur menjadi satu dalm.rangka memyatukan pemahaman sebagai generasi untuk menjaga kota menjaga daerah Kudus yang terkenal kota santri.?

Ulama Salaf Online

"Harapan kami Alumni pesantren maupun kiai muda ? berkenan meluruskan gerakaan yang harus yang dilakukan sefidaknya memberikan dasar kepada mesyarakat yang berbeda dan belum sepaham dengan amaliah aswaja," ujar Gus Muh yang juga pengasuh pesantren Darul Ulum Jekulo Kudus.

Mengenai programnya, Aswaja center akan melakukan kajian-kajian ke-Aswaja-an bersama Majlis Dzikir dan sholawat Nabi Rijalul ansor secara bergiliran di masing-masing kecamatan. Selain itu, mengadakan kajian keagamaan yang kemudian disebarluaskan kepada masyarakat.

"Langkah kami ini sebagai upaya membentengi aqidah warga NUdari gerusan ancaman faham-faham non Aswaja," jelas Gus Muh.

Sementara KH. Ulil Albab Arwani mengapresiasi upaya yang dilakukan Rijalul Ansor PC GP Ansor Kudus yang berinisiatif membentuk lembaga penguatan Aswaja ini. Ia mengharapkan pemuda Ansor giat memberi bekal keilmuan kepada masyarakat hingga di tingkatan pedesaan.

"Kita perlu membimbing masyarakat supaya mantap aqidah aswajanya tidak goyah oleh faham lain yang menyesatkan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rijalul Ansor juga meluncurkan Sentral Data dan Dokomentasi (Sendok). Setelah itu, acara dilanjutkan dialog Keaswajaan bersama Katib Am PBNU KH Yahya Tsaquf dan Instruktur nasional PP GP Ansor KH Ahmad Nadhif Mujib.

Disamping keduanya, acara yang mengambil tema urgensi aswaja di kalangan pemuda NUdalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini juga dihadiri Mustasyar PCNU Kudus KH. Muslim A Kadir, PCNU Kudus dan ratusan kader ansor, santri serta alumni pondok pesantren. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Lomba Ulama Salaf Online

Selasa, 23 Januari 2018

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama

Jakarta, Ulama Salaf Online



Di Indonesia terdapat enam agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Masing-masing agama tentu memiliki istilah keagamaan yang sifatnya spesifik. Untuk menghindari kesalahan pemaknaan terhadap istilah-istilah keagamaan tersebut Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan LKK) membuat sebuah Kamus Istilah Keagamaan (KIK).

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama

KIK pada dasarnya merupakan sebuah buku besar yang memuat entri pilihan yang disusun secara alfabetik menyangkut aspek keyakinan, hukum, etika, moral, dan sosial kemasyarakatan yang dipraktekkan dalam agama di Indonesia, khususnya Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.?

Dalam laporan yang disusun Puslitbang LKK (2015), penyusunan KIK bertujuan melindungi keyakinan umat beragama dari kekeliruan dalam memahami ajaran agama dan lebih mendorong terwujudnya kerukunan antar umat beragama di Indonesia.?

Puslitbang LKK berharap kehadiran KIK diharapkan dapat, pertama menghindarkan kesalahpahaman atau salah pengertian masyarakat terhadap istilah keagamaan setiap agama. Kedua, memperkuat jalinan persaudaraan dan perekat kerukunan antara umat beragama. Ketiga, mendidik masyarakat untuk menghargai adanya perbedaan dalam hal keyakinan beragama, dan keempat sebagai bahan rujukan dalam penulisan buku, baik buku pelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan maupun buku bacaan umum.

Proses penyusunan KIK yang berlangsung selama empat tahun ini, berhasil menyelesaikan sebuah produk yang memuat 9.134 entri meliputi peristilahan dalam agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu dengan berketebalan 623 halaman, yang bisa dimanfaatkan sebagai rujukan akedemik dan umum pemeluk agama di Indonesia. (Mukafi Niam)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Lomba, Fragmen, Daerah Ulama Salaf Online

Sabtu, 20 Januari 2018

Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi

Jalanan di sekitar kompleks Pengging, Banyudono, Boyolali usai shalat Jum’at (25/11), terlihat ramai. Meski gerimis, dari berbagai penjuru, warga mulai berdatangan. Bahkan, sebagian dari mereka datang sejak pagi.

Sementara itu, dua gunungan apem setinggi 1,5 meter sudah disiapkan di Kantor Kecamatan Banyudono Boyolali. Dua apem inilah yang akan diarak dalam acara tradisi Saparan Sebaran Apem Kukus Keong Mas.

Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi

Jelang pukul 14.00 WIB, acara pun dimulai. Setelah berbagai sambutan dari pemerintah, dua gunungan apem didoakan oleh ulama setempat untuk kemudian dikirab menuju ke lokasi sebar apem.

Ulama Salaf Online

Acara kirab, diiringi oleh rombongan berpakaian khas Keraton Surakarta dan beberapa warga yang juga ikut dengan menampilkan potensi budaya lokal. Dua gunungan kemudian berpisah, satu dibawa di depan Pasar Candirejo Pengging, lainnya diarak menuju arah Masjid Ciptomulyo.

Ulama Salaf Online

Begitu apem dibawa ke atas panggung, ribuan pengunjung yang sudah menanti, langsung pasang badan untuk bersiap mendapatkan apem.

Apem mulai dilempar. Sembari mendongak ke atas, warga berebut apem yang dilempar ke arahnya. Suasana menjadi sangat riuh. Namun, kemeriahan itu tak berlangsung lama, sebab rintik hujan mulai turun. Tanpa dikomando, mereka langsung mencari tempat berteduh.

Menurut salah satu sesepuh Pengging, Sunarto, Tradisi sebar apem di kawasan Pengging ini berawal di zaman pujangga kraton Yosodipuro I, kala itu masyarakat mengeluhkan serangan hama keong mas dan tikus yang mengakibatkan gagal panen.

Oleh Yosodipuro, petani diminta untuk memasak hama keong mas dengan cara dikukus dan dibungkus dengan janur. Sejak saat itu, hama keong mas menghilang dan petani kembali bisa menikmati panen.

Wakil Bupati Boyolali, Said Hidayat, yang hadir dalam acara itu, berharap tradisi ini juga dapat menjadi potensi ekonomi bagi warga skitar. “Berkah iya, tak kalah penting ekonomi masyarakat bisa terangkat dengan adanya traisi sebaran apam ini,” kata Said. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Syariah, Lomba Ulama Salaf Online

Minggu, 14 Januari 2018

Kiai Tholchah: Hukuman Mati Juga Berlaku Bagi Orang Islam

Jakarta, Ulama Salaf Online. Hukuman mati yang telah dijalani oleh terpidana mati kasus kerusuhan Poso, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marianus Riwu juga bisa diberikan kepada terpidana yang beragama Islam yang telah melakukan kesalahan serupa.

Hal itu dikatakan oleh mantan Menteri Agama RI KH. Moh. Tholchah Hasan kepada Ulama Salaf Online di Jakarta (23/9), menjawab pertanyaan seputar sentimen agama yang muncul menjelang dan pasca-pelaksanaan eksekusi mati Tibo Cs yang dilaksanakan Jumat (22/9) dini hari.

Kiai Tholchah: Hukuman Mati Juga Berlaku Bagi Orang Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tholchah: Hukuman Mati Juga Berlaku Bagi Orang Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tholchah: Hukuman Mati Juga Berlaku Bagi Orang Islam

“Bukan hanya Tibo, orang Islam juga kalau melakukan kesalahan serupa telah melalui proses pengadilan telah diputuskan untuk mendapatkan hukuman mati ya kita harius menghormati hukum. Jadi bukan persoalan agama,” kata Kiai Tholchah

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menegaskan bahwa sampai hari ini hukum posistif kita membolehkan hukuman mati.

 “Di dalam hukum agama Islam apalagi. Orang Islam boleh dihukum mati kalau membunuh dan lalu pihak yang dibunuh atau pemerintah menuntut dia dan telah dibuktikan. Itu disebut qishas. Nah, NU menganut hukum agama asekaligus tidak mengabaikan hukum positif,” kata kiai Tholchah.

Ulama Salaf Online

Soal penundaan dan kelambatan proses eksekusi mati Tibo Cs. yang diklaim banyak kalangan dilakukan secara sengaja oleh pemerintah atau pihak-pihak di belakangnya untuk memperpanas keadaan dan memicu konflik, Kiai Tholhah mengatakan, klaim itu terlalu berlebihan.

“Saya masih percaya kepada pemerintah, mudah-mudahan kepercayaan ini tidak berubah. Bahwa penundaan dan kelambatan prosses eksekusi mati itu hanyalah karena persoalan teknis,” kata Kiai Tholchah. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Lomba, Ulama Ulama Salaf Online

Kamis, 11 Januari 2018

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Makassar, Ulama Salaf Online. Pengurus Wilayah GP Ansor Makassar, pada hari Jumat (3/4) mendatangi kantor Redaksi Harian Amanah yang beralamat di jalan Kakatua Makassar.

Kehadiran mereka disambut baik Pimpinan Redaksi Harian Amanah, Firmansyah Lafiri, Koordinator Liputan Irfan Abdul Gani, dan Pimpinan Perusahaan Abdul Salim Camma.

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Kedatangan GP Ansor ini guna meminta penjelasan terkait pemberitaan harian Amanah edisi Rabu, (30/3) terkait akar aliran sesat, di mana salah satunya yang disebutkan adalah paham Asy`ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al- Asyari.

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said dalam pertemuan tersebut meminta kepada Pimred Harian Amanah, Firmansyah Lafiri segera menyelesaikan semua tuntutan yang ditujukan kepadanya.

"Saya meminta agar media Amanah ini meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada masyarakat Nahdiyin dan kiai sepuh di Nahdatul Ulama (NU) dalam waktu 1×24 jam, dan jika hal itu tidak ditindak lanjuti, maka kami akan mengerahkan Banser untuk menyegel kantor Harian ? Amanah ini," tegas Agus.

Ulama Salaf Online

Menanggapi desakan tersebut, Firmansyah Lafiri mengaku kecolongan dan menyesal atas pemberitaan penyesatan paham Asyariyah itu. Pada waktu yang sama ia pun langsung menuliskan surat pernyataan permohonan maaf yang berisikan 4 poin, sebagai berikut :

1. Memohon maaf atas kelalaian kami kepada seluruh warga Nahdiyin.

Ulama Salaf Online

2. Berjanji tadak akan mengulangi hal tersebut.

3. Bersedia menjalin sinergi strategis dalam kerja ukwah.

4. Akan memohon maaf langsung kepada Kyai sepuh Nahdatul Ulama.

"Selain itu redaktur yang menangani rubrik yang memuat berita tersebut telah saya mutasi, bahkan jika teman-teman GP Ansor menginginkan saya untuk memecat dia saya akan lakukan." tegas Firmasyah. (Makmur Idrus/Zunus).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Lomba, Meme Islam Ulama Salaf Online

Rabu, 10 Januari 2018

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak

Jakarta, Ulama Salaf Online?



Sebanyak 14 organisasi massa (ormas) Islam menolak kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sekolah Lima Hari. Penolakan ormas-ormas yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Islam (LPOI) tersebut disampaikan pada konferensi pers di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (7/7).?

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak (Sumber Gambar : Nu Online)
LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak (Sumber Gambar : Nu Online)

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak

Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj mengatakan, ormas-ormas Islam mengapresiasi langkah pemerintah yang membatalkan Permendikbud yang akan menggantinya dengan Perpres.

“Namun kami menunggu bukti nya Permen itu telah dibatalkan karena nyatanya Mendikbud masih bersikeras menjalankan Permen yang dibatalkan itu,” katanya.?

Madrasah yang ada di desa-desa ada sekitar 76 ribu lebih telah menjadi bagian dari masyarakat Islam.?

Ulama Salaf Online

“Sampai kapan pun, tidak dialog, tidak diskusi, tidak ada tawar-menawar, kami, NU, LPOI juga meminta (kebijakan) itu dibatalkan.”

Sekjen LPOI H. Luthfi At-Tamimi mengatakan, kebijakan tersbut mengancam keberadaan pendidikan di madrasah dan pesantren.?

“Mereka tidak membubarkan pesantren, tapi mereka membuat acara sampai jam lima supaya pesantren tidak laku,” katanya. (Abdullah Alawi) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Lomba, Pendidikan Ulama Salaf Online

Rabu, 03 Januari 2018

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far

Cirebon, Ulama Salaf Online. Bahtsul masail, salah satu rangkaian menyambut Peringatan Haul Al-Marhumin Sesepuh dan Warga Buntet Pesantren Cirebon diawali doa bersama untuk almarhum Buya KH Ja’far Aqil Siroj, pengasuh Pesantren Kempek Cirebon yang wafat hari Selasa (1/4). Doa bersama berlangsung khidmat di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Kamis (3/4) malam.

Sebelum membuka acara, KH Amirudin Abkari yang didaulat untuk memberikan sambutan atas nama dewan sesepuh Buntet Pesantren mengatakan, Buya Ja’far merupakan sosok yang banyak berjasa bagi masyarakat pesantren dan warga Cirebon secara umum.

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far

“Selain sebagai salah tokoh pesantren di Cirebon, almarhum merupakan orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap warga Cirebon secara keseluruhan. Beliau juga memaksimalkan peran selama hidup sebagai Ketua MUI Kabupaten Cirebon secara tulus,” ungkap Kiai Amir.

Ulama Salaf Online

Kiai Amir juga menyebutkan bahwa Buya Ja’far merupakan sosok yang dengan penuh semangat mendorong kemajuan pesantren. Hal ini, menurut Kiai Amir, yang membuat Buya Ja’far akan selalu dikenang banyak orang.

Ulama Salaf Online

“Mari kita mengirimkan Fatihah secara khusus untuk Buya KH Ja’far Aqil Siroj, sosok yang patut dikenang dan diteladani,” pungkasnya.

Setelah mengirimkan doa dan berbela sungkawa atas meninggalnya Buya Ja’far, ratusan peserta bahtsul masail yang terdiri dari para tokoh sepuh dan kiai muda se-Wilayah III Cirebon ini mulai membahas dan memecahkan masalah kontemporer melalui pandangan fiqih, di antaranya ialah pembahasan soal hukum pemburuan macan Sumatra dan hukum eksploitasi Gunung Ciremai oleh pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengundang kontroversi belakangan ini. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Daerah, Budaya, Lomba Ulama Salaf Online

Sabtu, 23 Desember 2017

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh

Probolinggo, Ulama Salaf Online. Siswa SMA Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo sukses membuat alat kontrol saklar listrik jarak jauh. Cara kerja alat ini dikendalikan melalui pesan singkat telpon genggam. Di samping sangat mudah dan praktis, karya siswa ini dapat membantu menghemat daya pakai listrik.

Inovasi ini diciptakan oleh siswa jurusan Sains Matematika SMA Nurul Jadid Paiton. Idenya berawal karena maraknya penggunaan lampu di ruang sekolahnya yang setiap hari tidak pernah dimatikan walaupun sedang tidak digunakan.

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh

Koordinator pembuat alat kontrol hemat listrik jarak jauh Muhammad Nur Ilham Mubarok mengatakan, inovasi ini berawal dari banyaknya pemborosan energi listrik. “Kemudian kami buat sebuah terobosan untuk mencari aplikasi yang tepat sebagai upaya penghemat energi,” ujarnya.

Ulama Salaf Online

Hebatnya, jelas Ilham, inovasi ini dibuat dengan menggunakan komponen bekas dari alat-alat elektronik yang sudah tidak terpakai. Alat utamanya adalah Print Circuit Board (PCB), yang berfungsi sebagai wadah komponen eletronika. Selain itu terdapat micro sebagai otak pengendali, relai sebagai saklar otomatis, modem untuk mengantarkan sms serta serial yang menjadi penghubung antara micro dan modem.

“Komponen yang dibutuhkan di antaranya transistor, kapasitor Kristal serta tombol swicth on off. Dari seluruh komponen ini, hanya modem berikut nomor operator selular yang dibeli. Selebihnya merupakan komponen alat elektronik bekas dengan biaya tak lebih dari 500 ribu rupiah,” jelasnya.

Ulama Salaf Online

Menurut Ilham, cara kerja alat ini adalah dengan mengirim sms ON9 ke nomor operator modem, otomatis lampu listrik sudah bisa dihidupkan. Sebaliknya sms OF9 berfungsi mematikan daya listrik. Sementara tarif sms disesuaikan dengan ketentuan operator seluler.

“Teknologi ini juga dapat mengendalikan saklar perangkat elektronik lain seperti kipas angin, televisi, bahkan kran air dengan kekuatan maksimal 8 ampere, baik aliran listrik bersistem paralel maupun seri,” terangnya.

Sementara guru pembina Affandi mengungkapkan bahwa saat ini warga maupun pelaku usaha dapat mengendalikan pemakaian listrik dari jauh tanpa harus ke saklar langsung, sepanjang masih terjangkau sinyal operator seluler. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba Ulama Salaf Online

Minggu, 17 Desember 2017

Siapa Guru Tasawuf Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dari Surabaya?

Surabaya, Ulama Salaf Online 

Direktur Eksekutif Islam Nusantara Center (INC) A. Ginanjar Syaban mengatakan, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari mengaji tasawuf kepada Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Abdul Syakur. Jika Syekh Nawawi adalah guru besar Ulama Nusantara yang namanya sangat terkenal, lalu siapa Syekh Abdul Syakur?

Hal ini menjadi pembahasan dan tema menarik yang diungkap Ginanjar dan Zainul Milal Bizawi dalam kajian Turats Ulama Nusantara di Islam Nusantara Center (INC), Sabtu (5/8). 

Syekh Abdul Syakur adalah salah satu guru KH Hasyim Asyari dari Surabaya. Mbah Hasyim mengkhatamkan kitab "al-Hikam al-Athiyyah" dengan metode "sorogan". Serta mendapat ijazah dan sanad dari gurunya ini.

Siapa Guru Tasawuf Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dari Surabaya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapa Guru Tasawuf Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dari Surabaya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapa Guru Tasawuf Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dari Surabaya?

"Karena itu Mbah Hasyim Asyari tidak populer sebagai ulama ahli tarekat. Bukannya tidak belajar tasawuf, tapi tasawuf yang diambil tasawuf akhlaqi," jelas penulis Mahakarya Islam Nusantara ini.

Bisa dilihat dalam pada naskah kitab Hikam milik KH Hasyim Asyari bahwa beliau mengaji pada bulan Ramadhan tahun 1318 Hijriah. 

Ulama Salaf Online

Dalam Kitab-kitab "Thabaqat" (Hagiography) ataupun "Asanid" (transmisi Intelektual) berbahasa Arab, menurut Ginanjar tidak ditemukan entri penjelasan Syekh Abdul Syakur Surabaya.

"Yang mengejutkan, informasi tentang Syekh Abdul Syakur Surabaya ada dalam sumber Barat, yaitu dalam catatan Snouck Hurgronje ketika berada di Makkah pada tahun 1885-1886," tandasnya.

Syekh Abdul Syakur punya jaringan yang sangat luas, aktivitas yang sangat padat, reputasi tinggi dengan para ulama yang mengajar di Mekkah. Rumah yang terletak di dekat masjidil Haram menjadi tujuan sowan orang-orang dari berbagai kalangan dan lapisan.

Catatan Mbah Hasyim dan Snock menjadi informasi pembuka tentang Syekh Abdul Syakur. "Pertanyaannya, kenapa nama Syekh Abdul Syakur terkubur, tidak seperti Syekh A. Khotib Minangkabau atau Syekh Mukhtar Bogor," kata Ginanjar.

"Mungkin karena karya-karya beliau belum ditemukan, atau tidak menulis. Tapi rasanya kemungkinan kecil kalau beliau tidak menulis. Karena mertuanya seorang ulama besar dan iparnya adalah pengarang Ianatut Thalibin. Sulit jika Syekh Abdul Syakur tidak memiliki kitab karangan", tambahnya.

Ulama Salaf Online

Sementara itu, Gus Milal mengatakan bahwa bisa jadi Syekh Abdul Syakur memakai nama lakob atau nama anaknya karena ketawadhuannya. Sehingga perlu dicari informasi detail. Termasuk wilayah tepatnya di Surabaya dimana ia berasal.

"Belum terlacak Surabayanya sebelah mana. Apakah Syekh Abdul Syakur berasal dari Sidoresmo Surabaya. Ini perlu dilemparkan kepada publik santri agar ikut mencari dan meneliti," ujar Milal.

Tugas para santri di sini adalah meneliti jejak langkah dan karya Syekh Abdul Syakur dan ulama Nusantara lainnya. (Damar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Santri, Pertandingan, Lomba Ulama Salaf Online

Kamis, 14 Desember 2017

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat

Jepara, Ulama Salaf Online. Keberadan madrasah saat ini harus benar-benar berada di tengah-tengah masyarakat. Semakin membuka diri (inklusif) tidak terkesan eksklusif. Hal itu dikemukakan Achmad Makhali, Sekretaris Yayasan Pendidikan Islam (YPI) NU Safinatul Huda Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Jika dulu menyebut madrasah murni pendidikan agama dan terkesan eksklusif, sekarang lanjutnya, hampir sama antara sekolah dan madrasah.? Madrasah ada pelajaran umum juga pelajaran agama. “Murid madrasah pinter sains juga pinter kitab salaf,” terang Kepala MA NU Safinatul Huda ini.?

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat

Jika pelajaran salaf dan umum dikuasai, menurut dia, siswa akan menjadi manusia yang seutuhnya.? Mestinya, madrasah saat ini harus semakin mempunyai kepercayaan diri. Sebab nilai plusnya pembelajaran akhlak tidak ditemukan di sekolah umum.?

“Guru dan siswa madrasah tidak boleh minder,” katanya yang juga Sekretaris Pergunu Jepara disela-sela kegiatan Sarasehan “Madrasah Dulu, Sekarang dan Akan Datang” di Madrasah Safinatul Huda, Kamis (15/9) lalu.

Ulama Salaf Online

Ia menegaskan kini kualitas madrasah juga semakin bagus. Misalnya guru madrasah tidak hanya menempuh S1 dan S2 saja tetapi sudah masuk ke jenjang S3. Itu tidak lain, tambahnya, dalam rangka menerjemahkan slogan Lebih Baik Madrasah, Madrasah Lebih Baik.?

Kegiatan Sarasehan merupakan rangkaian Harlah YPI NU Safinatul Huda ke-61. Dalam Harlah yang berlangsung dua hari itu Rabu-Kamis (14-15/9) juga diisi ? dengan Praktik Qurban, Aneka Lomba, Pentas Rebana, Istighotsah, Tahlil, Ziarah Wali dan Pendiri dan Kilas Balik Berdirinya Yayasan. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Lomba, Cerita, Pahlawan Ulama Salaf Online

Sabtu, 02 Desember 2017

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Jombang, Ulama Salaf Online. Terhitung sejak bulan lalu, Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAU WH) Tambakberas Jombang membentuk kelompok baca perpustakaan. Meskipun baru memiliki 15 anggota yakni para siswa dan siswi madrasah setempat, diharapkan jumlah kelompok ini terus bertambah.

"Alhamdulillah, sejak bulan Januari telah terbentuk kelompok baca perpustakaan MAU WH yang anggotanya 15 siswa," kata Ustadz Mustaufikin, Senin (13/2) siang.?

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Staf unit Pengendalian Mutu Madrasah di MAU WH ini mengemukakan bahwa kelompok baca tersebut fokus pada kegiatan peningkatan minat baca dan menulis. "Kegiatan wajibnya, mereka harus membaca setiap hari, dan setiap minggu adalah menulis," jelas alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Sedangkan kegiatan insidental adalah kajian literasi, seperti yang dilakukan tadi siang. "Tema kajian adalah menggerakkan literasi madrasah yang menghadirkan Ustadz Miftahul Arif," ungkapnya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Miftahul Arif mengemukakan bahwa kesadaran literasi bangsa Indonesia termasuk rendah. "Rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor masifnya peredaran khabar bohong atau hoax," kata Ustadz Arif, sapaan akrabnya. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi, seacara instan, tanpa berupaya mencerna secara utuh, lanjutnya.

Ulama Salaf Online

Wakil Kepala Sekolah MAU WH bidang kurikulum tersebut menyebutkan data UNESCO bahwa indeks membaca bangsa Indonedia hanya 0,0001. "Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang punya tradisi membaca secara serius," ungkapnya.

Sementara itu ada sekitar 132, 7 juta orang telah menggunakan internet. Baginya, kondisi tersebut sebagai hal yang kontradiktif. "Menggunakan teknologi tinggi tanpa dilandasi tradisi membaca, maka buahnya adalah tradisi berteriak di jalanan sembari menyebar kebencian, memproduksi fitnah, serta memporak-porandakan ketentraman atas nama tuhan," tandas kandidat doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.?

Karenanya, Ustadz Arif mengajak seluruh elemen madrasah untuk mengawal gerakan literasi. "Tugas guru disamping mengajar adalah mendidik, menginspirasi dan menggerakkan," jelasnya.

Ulama Salaf Online

Harapan serupa disampaikan Ustadz Mustaufikin. "Kami mohon dukungan bapak dan ibu guru untuk ikut menyemangati anak-anak untuk lebih banyak membaca," pintanya. Dia juga berharap dari komunitas kecil ini akan lahir siswa dan siswi yang gemar membaca dan memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Lomba Ulama Salaf Online

Pensiun dari Pengurus Harian, Nyai Machfudhoh Pilih Konsentrasi di Dakwah

Jakarta, Ulama Salaf Online. Palu yang dipegang diangkat tinggi-tinggi. “Apakah LPj (Laporan Pertanggungjawaban) bisa diterima?” tanyanya dengan suara datar penuh kharisma. “Setuju..!!” koor peserta kongres. Palu kemudian diketukan tiga kali tanda LPj disetuju secara utuh.

Begitulah ‘gaya’ Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid. Di usia 72 tahun masih penuh semangat memimpin sidang pleno LPj PP Muslimat NU masa khidmat 2011-2016 saat Kongres XVII, 23-27 November 2016 lalu di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Pensiun dari Pengurus Harian, Nyai Machfudhoh Pilih Konsentrasi di Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pensiun dari Pengurus Harian, Nyai Machfudhoh Pilih Konsentrasi di Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pensiun dari Pengurus Harian, Nyai Machfudhoh Pilih Konsentrasi di Dakwah

Tak sembarang kader bisa melakukannya, terlebih memimpin sidang yang dihadiri 500-an lebih anggota PW dan PC se-Indonesia plus PCI. Tapi salah satu putri pendiri Nahdlatul Ulama, KH Wahab Chasbullah itu melakukannya dengan tenang, tanpa gaduh dan semua PW diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan padangan terkait LPj.

Sayangnya, di kepengurusan 2016-2021 ini dia memilih pensiun dari pengurus harian. Padahal dalam banyak kesempatan, Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa kerap menyebut Nyai Machfudhoh adalah ‘jimat’ Muslimat NU.

“Saya ini sudah lima periode (25 tahun) dan usia tak muda lagi. Kalau terus di situ kapan memberi kesempatan yang lain. Tapi kalau masih diberi kesempatan biar saya fokus di dakwahnya, di Hikmat untuk melanjutkan pengabdian di Muslimat NU,” katanya, Selasa (29/11) dilansir laman resmi PP Muslimat NU, MUlama Salaf Online.

Ulama Salaf Online

Di periode 2011-2016, selain menjabat Ketua I, Nyai Machfudhoh merangkap sebagai ketua Hidmat (Himpunan Daiyah Majelis Taklim Muslimat NU). Di kepengurusan 2016-2021, Ketua I dimandatkan kepada Dr Hj Sri Mulyati.

“Saya sudah bilang ke Mbak Khofifah kalau menempatkan orang di yayasan ini (Hidmat) jangan rangkap jabatan. Saya mengalami, kemarin di bidang organisasi dan Hidmat, hati kecil saya nggak puas dan hasilnya nggak signifikan,” paparnya.

“Hidmat perlu penanganan sendiri. Itu kalau mau diurusi secara serius sibuknya kayak pengurus harian. Tergantung bagaimana kita memfungsikan wadah itu. Dengan kondisi dan usia saya saat ini rasanya lebih banyak manfaatnya di sini (Hidmat). Semoga diberi umur panjang agar bisa terus melanjutkan pengabdian di Muslimat NU.”

Penanganan lebih serius

Ulama Salaf Online

Bagi Nyai Machfudhoh, penanganan dakwah harus lebih serius karena tantangan yang dihadapi saat ini jauh lebih kompleks. Mulai soal bahaya narkoba, LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) serta aliran seperti Wahabi dan liberal.

“Kalau kita nggak kuat bisa merusak akidah,” katanya.

Dia meraskan tantangan yang ada sekarang sasarannya adalah orang NU karena memang gemar dzikir, ziarah ke makam, silaturahim hingga ? melakukan kegiatan secara aktif di hari besar Islam.

Tapi justru event itulah yang memperkuat posisi NU. “Karena rasa kekuatannya di situ, ya ibadahnya, ukhuwahnya bahkan bisa memberikan refreshing. Nah kalau ini nggak dipegang secara khusus bagaimana bisa signifikan hasilnya,” paparnya.

Tanpa Nyai Machfudhoh, apakah ‘jimat’ Muslimat NU akan hilang? “Ya nggak dong. Pengurus kan formalitas kepengurusan, tapi hati ini tetap di sana. Saya tetap bagian dari Muslimat NU, ketika nanti ada yang nggak benar, misalnya, ya tetap kita luruskan,” tandasnya.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tegal, Lomba Ulama Salaf Online

Rabu, 29 November 2017

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah

Di zaman Islam abad pertengahan, kita mengenal sebuah lembaga pendidikan bernama Madrasah Nidhamiyah. Sekolah tinggi yang berdiri di Bagdad pada masa Khalifah Abu Jafar Abdullah al-Qaim bi-Amrillah ini menjadi oase bagi studi keislaman. Ia menjadi mercusuar bergengsi sekaligus membanggakan bagi perkembangan ilmu pengetahuan zaman itu.

Di madrasah tersebut diajarkan berbagai keilmuan, mulai dari syariah, ilmu kalam, hingga tasawuf kelas berat. Para pengajarnya pun bukan orang sembarangan. Pihak kerajaan kala itu memastikan betul bahwa para mahaguru yang aktif di sana adalah orang-orang mumpuni. Imam Abu Ishaq asy-Syirazi, Imam Abu Hamid al-Ghazali, dan Imam Haramain adalah tiga tokoh yang pernah mendapat kesempatan menduduki posisi prestisius tersebut.

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah

(Baca juga: Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali)



Namun demikian, seperti ulama-ulama kaliber umumnya, mereka yang menjadi guru besar di Madrasah Nidhamiyah tak serta merta menunjukkan perubahan sikap yang menonjolkan diri. Di antara mereka bukan tak pernah terjadi perbedaan pemikiran, namun semuanya disikapi dengan penuh kedewasaan dan rendah hati. Adu argumentasi tentu sering terjadi, tapi saling memuji dan berempati juga menjadi kebiasaan mereka.

Ulama Salaf Online

Pernah suatu kali Imam asy-Syirazi menyanjung Imam Haramain dengan pernyataan, “Tuan adalah imamnya para imam.” Namun, di lain kesempatan Imam Haramain yang juga guru Imam al-Ghazali ini justru tak sungkan menuntun hewan tunggangan Imam asy-Syirazi. Demikian diceritakan kitab Irsyâdul Mu’minîn karya Muhammad Isham Hadziq.

Ulama Salaf Online

Cerita lainnya adalah tentang ketawadukan Imam Abu Bakr asy-Syasyi, penerus Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam memimpin Madrasah Nidhamiyah. Jabatan baru ini sesungguhnya menunjukkan bahwa Abu Bakr asy-Syasyi telah meraih capaian tertinggi secara formal di dunia keilmuan. Tapi sepertinya prestise itu hanya ada di benak orang-orang. Abu Bakr asy-Syasyi sendiri tak merasa layak menggantikan para pendahulu yang juga gurunya tersebut.

Ulama berjuluk fakhrul islam (kebanggaan Islam) ini selalu menampilkan rasa hormat dan pengagungan yang luar biasa tiap menyebut nama Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dan Imam al-Ghazali. Kadang ia menangis kala duduk di atas mimbar ajar sembari mengungkapkan kekurangan-kekurangannya dibanding guru-gurunya. Padahal, pemuka ulama syafi’iyah di Iraq di zamannya ini memiliki banyak karya dan diakui kealimannya oleh para ulama lain.

(Baca: Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub)

Begitulah keindahan hubungan para ulama terdahulu, bahkan saat mereka “distratifikasi” dengan relasi guru-murid. Mereka bersaing dalam mendalami ilmu tapi di saat yang sama seperti sedang berlomba berendah hati. Mereka mengerti bahwa ilmu bertalian erat dengan akhlak, bukan semata soal melimpahnya hafalan atau kepiawaian dalam berdebat. Para ulama itu jauh dari karakter ingin terlihat paling menonjol, mencapai posisi duniawi tertentu, apalagi menjatuhkan orang lain. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba Ulama Salaf Online

Selasa, 28 November 2017

Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp

Pringsewu,Ulama Salaf Online

Ketua Tanfidziyyah PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim mengatakan bahwa para pengurus NU di semua tingkatan harus bersyukur karena dipercaya untuk mengurusi Jamiyyahnya para Ulama yaitu NU.

Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp

"Beruntunglah bagi yang bergabung dengan NU karena dekat dengan para Ulama. Sekaligus kesempatan ini dapat menjadi ladang amal bagi kita. Mau hidup barokah dunia akhirat? Di NU tempatnya," katanya pada Safari Ramadhan PCNU Kabupaten Pringsewu yang dilaksanakan di MWCNU Kecamatan Sukoharjo, Rabu (15/6).

Taufiq mengingatkan juga kepada para pengurus untuk berkhidmah di NU dengan ikhlas tanpa ada maksud untuk mendapatkan imbalan sesuatu. "Banyak PR yang harus dikerjakan dalam berorganisasi di NU. Jangan harap ada Rpnya (rupiah, red.)," tegas Taufiq disambut senyum para pengurus di tingkat MWC dan 16 Ranting yang ada di Kecamatan Sukoharjo.

Ulama Salaf Online

Jika ada di antara pengurus yang memiliki niatan mencari sesuatu apalagi bersifat materi dan kebendaan, maka menurutnya, orang tersebut harus bersiap-siap untuk kecewa.

Ulama Salaf Online

Para pengurus NU lanjutnya, harus peduli dan terus aktif menghidupkan NU dan mewariskannya kepada para generasi penerus. "Jika kita masa bodoh terhadap NU maka siap-siap kita menghadapi kehancuran para generasi penerus kita," ingatnya.

Ketika kepedulian untuk mewariskan NU kepada para generasi penerus hilang lanjut Taufiq, maka kita harus bersiap mewarisi para generasi penerus yang beraqidah lain. "Kalau kita tidak peduli maka orang lain yang akan peduli. Orang lain yang akan membina dan mencuci otak mereka dengan paham mereka," tandasnya.

Kepedulian pengurus kepada para generas muda akan menghindarkan mereka dari paham di luar Ahlusunnah wal-Jamaah yang sekarang ini sangat gencar. "Jangan sampai anak-anak kita nanti tidak mau mendoakan kita ketika kita telah tiada karena mereka anti tahlil dan anti kirim doa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock