Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Kiai Abbas Buntet, selain menjadi salah seorang tokoh sentral NU, juga pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren tersebut, hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang. Di sana, bukan saja menggelar kitab kuning, tapi mengobarkan semangat juang.

Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam sistem pendidikan pesantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kanacah perjuangan. 

Ulama Salaf Online

Kiai Abdullah ukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet, ayah Kiai Abdullah sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Ulama Salaf Online

Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. 

Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon. 

Setelah  meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir tiap hari tentara penjajah Belanda melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus  begerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mhah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu  dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia  pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. 

Tiga tahun pertama, ditunjukkan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini  menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

Dengan demikian, pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf bdi daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. 

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu Syekh Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karyanya masyhur itu. 

Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada  para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante- Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet, warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fiqih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Dengan sikapnya itu, nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seurang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas  menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Duhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. 

Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. 

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya  mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. 

Ketika memasuki masa senjanya, Kiai Abbas lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah. Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucunya. Karena itu, Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya dan memperkaya jiwanya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu  Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. 

Dalam kamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.   

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.  

Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tangguh dan disegani musuh, kekuatan itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid. 

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas, putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak di dareah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tersebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu  di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Di antaranya adalah KH Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. 

Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas, sebagai Laskar andalannya, datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. 

Atas restu Hadratus Syaikh, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, Kiai Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. 

Sekitar tahun 1900, Kiai Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi ang mengganggu pesantren tebuireng kapok tidak berani mengganggu lagi. 

Tradisi pesantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya. Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946  itu. 

Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit. Kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Jumat pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.  

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Dan karena itu pula, ketika masa ramainya gerakan reformasi, pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. 

Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (Abdul Munim DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Maret 2018

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Probolinggo, Ulama Salaf Online. Sebagai upaya untuk meneladani para tokoh pendiri NU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, Rabu (30/4).

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Nobar film Sang Kiai ini diikuti oleh seluruh pengurus dan kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Sumberasih. Mereka berbaur dengan Nahdliyin menyaksikan tayangan film di layar lebar dengan menggunakan LCD.

Hadir dalam nobar Sang Kiai tersebut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim serta para Ketua Ranting dan komisariat IPNU se Kecamatan Sumberasih.

Ulama Salaf Online

Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim mengungkapkan bahwa nobar Sang Kiai ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan para tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah berdirinya NU. Dengan demikian, para kader IPNU tahu perjuangan ulama dalam mendirikan organisasi terbesar di Indonesia ini.

Ulama Salaf Online

“Kami ingin memperkenalkan lebih dalam bagaimana sejarah tokoh NU, terutama KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu melahirkan sebuah resolusi jihad,” ungkapnya.

Menurut Lukman, nobar Sang Kiai ini sangat penting bagi kader IPNU untuk masa depan perjuangan NU. Sebab selama ini banyak Nahdliyin yang hanya mengetahui sejarah berdirinya NU dari buku-buku dan cerita saja.

“Mudah-mudahan dengan nobar Sang Kiai ini ada semacam inspirasi dan motivasi serta semangat untuk berjuang demi membesarkan organisasi NU. Sebab dengan menonton langsung, para kader tentunya akan tahu seberapa besar pengorbanan para ulama untuk bisa mendirikan NU,” tegasnya.

Nobar Sang Kiai ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono. Menurutnya, langkah ini merupakan sebuah cara yang positif dan efektif supaya para kader IPNU bisa meneladani figur pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang sangat gigih berjuang demi merebut kemerdekaan Indonesia.

“Semoga sosok dari Kiai Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi teladan dan inspirasi para kader IPNU dan Nahdliyin agar tidak berputus asa dalam mengkader pelajar NU yang nantinya akan menjadi estafet penerus perjuangan di organisasi NU beberapa tahun mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Jadwal Kajian, AlaNu Ulama Salaf Online

Sabtu, 24 Februari 2018

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

Sleman, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Nusron Wahid mengutuk kekerasan atas nama agama yang dilancarkan kelompok kecil bersenjata. Nusron menyebut kelompok ekstrem ini sebagai penjahat kemanusiaan tiada tara.

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

“Kekerasan beberapa hari lalu di Perancis dan juga di Timur Tengah, sama sekali mencemarkan keluhuran ajaran Islam,” kata Nusron dalam sambutan pembukaan Kongres XV GP Ansor di pesantren Sunan Pandanaran jalan Kaliurang, kabupaten Sleman, Kamis (26/11) pagi.

Perhatian masyarakat dunia dikejutkan oleh penyerangan kelompok kecil bersenjata terhadap sipil yang merenggut lebih dari seratus korban jiwa. Bagaimana pun, Nusron menambahkan, kekerasan atas nama apapa pun tidak bisa diterima.

Ulama Salaf Online

Ia mengajak warga Nahdlatul Ulama termasuk aktivis GP Ansor untuk berpartisipasi menyebarkan keluhuran dan keberadaban Islam di tengah masyarakat dunia.

Ulama Salaf Online

“NU dan Ansor wajib melawan kejahatan semacam ini. Wajib dicegah,” tegas Nusron. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pertandingan, Jadwal Kajian, Tokoh Ulama Salaf Online

Senin, 19 Februari 2018

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa

Semarang, Ulama Salaf Online

Dalam rangka menyongsong bulan Muharram serta meramaikan Hari Santri Nasional, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan mengadakan lomba esai tingkat mahasiswa se-Pulau Jawa.

Kegiatan perdana ini mengambil tema “Inovasi Muslim untuk Dunia” dengan enam subtema, yakni teknologi, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, lingkungan, dan politik. Pendaftaran lomba tersebut dibuka mulai 10 Agustus hingga 20 September 2016.

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa

Proses registrasi dapat dilakukan melalui pesan singkat (SMS) ke Dani Puspitasari (085600570393) dengan format Nama_Perguruan Tinggi_3 Kata Awal Judul Esai. Untuk mengikuti lomba esai, peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp35 ribu per karya.

Ulama Salaf Online

Peserta merupakan mahasiswa D3 atau S1 dari perguruan tingi negeri atau swasta di Jawa. Peserta diperbolehkan mengirim maksimal dua karya untuk dilombakan.

Zainuddin, selaku panitia kegiatan tersebut menuturkan bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah untuk memberikan sarana berkreasi bagi mahasiswa. "Lomba ini menjadi ajang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk meningkatkan daya intelektualitas dan kreativitas dengan memberikan gagasan bagi peradaban Islam dunia," tuturnya.

Ulama Salaf Online

Informasi lebih lanjut berkenaan dengan lomba tersebut dapat menghubungi ke 085600570393 (Dani Puspitasari) dan 089689310963 (Zaenuddin) atau mengunjungi portal resmi penyelenggara di http://ipnuippnuunnes.or.id.

Hadiah lomba esai tersebut adalah Rp1 juta (Juara 1), Rp750 ribu (Juara 2), dan Rp500 ribu (Juara 3). Selain itu seluruh peserta juga akan mendapatkan e-sertifikat dari panitia. (Mazid Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Jombang, Ulama Salaf Online - Setidaknya ada enam lagu baru yang akan? ditetapkan sebagai lagu perjuangan nasional oleh Kementerian Sosial, salah satunya adalah "Ya Ahlal Wathan" atau yang kerap disebut “Ya ‘Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah.

"Kini dalam proses penyelesaian oleh tim sebelum nanti ditetapkan jelang peringatan hari pahlawan, 10 November 2016," ujar Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansah saat menghadiri Haul pendiri , penggerak NU, KH Wahab Chasbullah ke-45 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (13/8) malam.

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Mensos menambahkan, lagu Cinta Tanah Air yang diciptakan KH Wahab Chasbullah ini menurutnya layak untuk menjadi salah satu lagu nasional. Karena menggelorakan semangat cinta tanah air yang sangat luar biasa. (Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini)

"Kita tahu lagu-lagu nasional sejak lama tidak ada perubahan, sejak saya duduk di SD lagu-lagu nasional tidak ada perubahan. Ketika lagu ini saya perdengarkan ke tim yang sudah menggodok ternyata layak untuk dijadikan lagu nasional," imbuh Khofifah yang datang bersama pejabat Direktorat Jenderal Kepahlawanan dari Kementerian Sosial.

Ulama Salaf Online

Menurutnya, untuk dapat menjadi lagu perjuangan nasional, maka ada sejumlah syarat yang harus dilalui, di antaranya aransemen. "Kami telah menyiapkan aransemen dan partitur lagu tersebut," kata perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Demikian pula syair lagu yang awalnya berbahasa Arab, maka harus digubah ke bahasa Indonesia. "Karena kalau tetap berbahasa Arab, kami khawatir ini dikira lagunya ISIS. Itu kan bahaya," katanya disambut tawa hadirin.

Persyaratan lain yang mesti dilalui dalam penetapan ini adalah izin dari pihak keluarga. Jika direstui untuk diubah, kata Khofifah, maka lagu Ya Ahlal Wathon akan menjadi salah satu dari 6 lagu yang sekarang dalam penyelesaian oleh tim.

Ulama Salaf Online

“Saat ini sudah ada 5 lagu, jika disetujui pihak keluarga maka akan ada 6 lagu nasional. Salah satunya lagu Ya Ahlal Wathan," kata Menteri yang dikenal dekat dengan Presiden KH Abdurrahman Wahidini.

Lagu Ya Ahlal Wathan diciptakan Mbah Wahab sekitar tahun 1916, saat aktif dalam dunia pergerakan kebangsaan di Surabaya. Lagu ini selalu dinyanyikan siswa atau santri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya.

?

Khofifah pun mengatakan, sebelumnya sudah meminta elemen yang ada di NU agar selalu menyanyikan lagu ini saat mengadakan acara. Seperti acara diklat, seminar, maupun lainnya. "PMII, Fatayat, Muslimat sudah kami minta menyanyikan lagu ini saat acara," katanya.

?

Haul Mbah Wahab kali ini mengambil tema mengukuhkan hubbul wathan minal iman. Tampak hadir Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dan pejabat yang lain. (Muslim Abdurrahman/Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Hikmah, Pondok Pesantren Ulama Salaf Online

Jumat, 16 Februari 2018

Shalat Tarawih NU Lama dan Baru

Meski dikenal mempunyai perbedaan pendapat yang sangat tajam, Gus Dur dan Soeharto tetap berteman baik. Gus Dur merupakan salah seorang tokoh yang kerap berani mengkritik rezim Soeharto di era Orde Baru.

Suatu hari di bulan Ramadhan, Gus Dur diundang oleh mantan Presiden Soeharto ke kediamannya di Jalan Cendana Jakarta untuk berbuka puasa bersama. Waktu itu Gus Dur hadir ditemani Kiai Asrowi.

?

Shalat Tarawih NU Lama dan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Tarawih NU Lama dan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Tarawih NU Lama dan Baru

Setelah buka, kemudian shalat maghrib berjamaah. Setelah minum kopi, minum teh, dan makan, terjadilah dialog antara Soeharto dan Gus Dur.

?

Ulama Salaf Online

Soeharto: Gus Dur sampai malam di sini?

Gus Dur: Enggak pak! Saya harus segera pergi ke tempat yang lain.

Soeharto: Oh, iya ya ya....silaken. Tapi kiainya kan di tinggal disini, ya?

Ulama Salaf Online

Gus Dur : Oh, ? Iya Pak! Tapi harus ada penjelasan.?

Soeharto: Penjelasan apa?

Gus Dur: Shalat tarawihnya nanti itu "ngikutin " NU lama atau NU baru?

Mendengar ucapan Gus Dur itu, Soeharto jadi bingung. Baru kali ini ia mendengar ada NU lama dan NU baru. Kemudian dia bertanya.?

Soeharto: Lho, NU Lama dengan NU baru apa bedanya?

Gus Dur: Kalau NU lama, tarawih dan witirnya itu 23 rakaat.

Soeharto: Oh Iya..ya..ya..ya....gak apa-apa.

Gus Dur sementara diam tak lagi berbicara. Sejurus kemudian Suoharto bertanya lagi.

Soeharto: Lha, kalau NU baru bagaimana?

Gus Dur: Diskon 60 persen! Hahaha... (Gus Dur, Soeharto dan semua orang yang ada di sekitarnya ngakak mendengar dialog itu)?

Gus Dur: Ya, jadi shalat tarawih dan witirnya cuma tinggal 11 rakaat.

Soeharto: Ya sudah, saya ikut NU baru saja, pinggang saya sakit.

(Fathoni)

Disunting dari buku “Ngakak Bareng Gus Dur” karya Muhammad Wahab Hasbullah (Penerbit Insania Yogyakarta, 2010).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, AlaNu Ulama Salaf Online

Kamis, 15 Februari 2018

Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU

Jakarta,Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj resmi membuka kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Kamis (3/12) malam. Didampingi Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa, Kang Said mengungkapkan apresiasinya terhadap pengabdian Muslimat NU untuk kemaslahatan umat maupun warga NU.

Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PBNU Resmi Buka Rakernas Muslimat NU

“Faktor kepemimpinan yang disertai dengan pengembangan program membuat saya sangat mengapresiasi Hj Khofifah, semoga kader lain bisa mewarisi dan meniru beliau,” ujar Kang Said di depan ratusan kader Muslimat NU dari berbagai wilayah.

Muslimat NU yang memiliki cabang istimewa di negara Saudi Arabia, Malaysia, maupun di negara-negara lain juga membuktikan, bahwa semangat berkhidmah ibu-ibu NU ini tidak diragukan lagi meskipun berada jauh di negeri seberang.

Ulama Salaf Online

Selanjutnya, Kang Said mengungkapkan, bahwa konsep kembali ke pesantren sebagai representasi jati diri NU perlu dikembangkan oleh Muslimat NU. “Misal kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Muslimat bisa memanfaatkan pesantren sebagai simbol kultural kebanggam NU yang penuh dengan komitmen dan ketuma’ninahan,” jelasnya.

Sebelum Kang Said memberikan sambutannya, Khofifah lebih dulu memberikan arahan kepada para peserta Rakernas. Selain melibatkan seluruh pengurus wilayah di Indonesia, beberapa cabang Muslimat dari luar negeri juga hadir mengikuti kegiatan bertajuk ‘Penguatan Organisasi menuju Kemandirian Muslimat NU’ ini. (Fathoni)?

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pesantren, Kyai, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock