Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Kiai Abbas Buntet, selain menjadi salah seorang tokoh sentral NU, juga pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren tersebut, hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang. Di sana, bukan saja menggelar kitab kuning, tapi mengobarkan semangat juang.

Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam sistem pendidikan pesantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kanacah perjuangan. 

Ulama Salaf Online

Kiai Abdullah ukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet, ayah Kiai Abdullah sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Ulama Salaf Online

Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. 

Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon. 

Setelah  meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir tiap hari tentara penjajah Belanda melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus  begerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mhah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu  dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia  pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. 

Tiga tahun pertama, ditunjukkan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini  menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

Dengan demikian, pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf bdi daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. 

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu Syekh Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karyanya masyhur itu. 

Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada  para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante- Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet, warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fiqih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Dengan sikapnya itu, nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seurang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas  menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Duhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. 

Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. 

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya  mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. 

Ketika memasuki masa senjanya, Kiai Abbas lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah. Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucunya. Karena itu, Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya dan memperkaya jiwanya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu  Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. 

Dalam kamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.   

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.  

Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tangguh dan disegani musuh, kekuatan itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid. 

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas, putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak di dareah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tersebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu  di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Di antaranya adalah KH Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. 

Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas, sebagai Laskar andalannya, datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. 

Atas restu Hadratus Syaikh, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, Kiai Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. 

Sekitar tahun 1900, Kiai Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi ang mengganggu pesantren tebuireng kapok tidak berani mengganggu lagi. 

Tradisi pesantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya. Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946  itu. 

Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit. Kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Jumat pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.  

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Dan karena itu pula, ketika masa ramainya gerakan reformasi, pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. 

Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (Abdul Munim DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Minggu, 07 Januari 2018

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat

Den Haag, Ulama Salaf Online - Belakangan ini ideologi populisme berbasis sentimen primordial kian menguat di berbagai penjuru dunia, termasuk di negara-negara dengan tradisi demokrasi dan hak-hak sipil yang kuat. Di benua Amerika Utara, tiga peristiwa penting yang baru-baru ini terjadi menggambarkan hal tersebut: kebijakan Presiden Trump mencegah warga negara dari tujuh negara Muslim masuk ke wilayah negara USA, pembakaran masjid di Texasm USA, dan penembakan membabi buta jamaah yang sedang shalat di sebuah masjid di Quebec, Kanada.

Seperti ditunjukkan oleh tiga peristiwa tersebut, populisme berbasis sentimen primordial telah berimbas pada menguatnya sikap intoleransi pada kelompok minoritas dan tindakan permusuhan terhadap para migran. Sayangnya, gejala semacam ini sekarang juga mulai merebak di Tanah Air.

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat

Fenomena semacam di atas menjadi keprihatinan dan bahan refleksi dalam tasyakuran peringatan Harlah Nahdlatul Ulama ke-91 yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Belanda belum lama (30/01). Acara ini berlangsung di kediaman KH Ade Syihabuddin, Syuriah PCINU Belanda di Den Haag, Belanda. Hadir dalam acara ini jajaran PCINU Belanda, warga Nahdliyin maupun para pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi lanjut di Belanda.

“Kami sangat menyesalkan aksi intoleran dan kekerasan yang bermotif sentimen primordialisme di berbagai belahan dunia. PCINU Belanda menyikapi serius kejadian semacam ini. Untuk itu, kami kini sedang merancang kegiatan untuk mempromosikan Islam Nusantara sebagai Islam yang moderat di Indonesia,” kata M. Shohibuddin, Katib Syuriyah PCINU Belanda.

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

“Pada saat yang sama, kami juga menyadari bahwa gejala yang sama sekarang juga merebak di Tanah Air. Hal ini tentu harus menjadi bahan refleksi dan pemikiran-ulang bagi umat Islam di Indonesia, khususnya kalangan Nahdliyin,” jelasnya lebih lanjut.

Dalam kesempatan yang sama, Fachrizal Afandi, Ketua Tanfidziyah PCINU Belanda menyatakan tugas PCINU sebagai duta NU di luar negeri semakin berat dan menantang. Untuk itu, pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) PCINU Belanda yang kedua pada Maret 2017 mendatang akan dijadikan momentum untuk mempromosikan Islam Nusantara ke publik Barat.

“Islam Nusantara harus dipromosikan sebagai sumbangan Muslim Indonesia kepada tatanan dunia yang lebih damai dan harmonis. Islam Nusantara harus menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia dalam rangka menghilangkan Islamophobia di Dunia Barat,” kata kandidat Doktor di Leiden University ini menambahkan. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai, Nusantara Ulama Salaf Online

Senin, 01 Januari 2018

Kekeringan Berkepanjangan, Warga NU Tunaikan Istisqo

Jepara, Ulama Salaf Online. Jepara menjadi salah satu daerah yang sedang dilanda kekeringan berkepanjangan. Sebagai bentuk ikhtiar, ratusan warga NU yang diinisasi Rijalul Ansor GP Ansor Jepara mengadakan sembahyang istisqo yang berlangsung di alun-alun Jepara, Jum’at (18/9) pagi.

Kegiatan yang diikuti ratusan jamaah ini diimami Rais Majelis Hubbur Rasul Habib Abdullah Al-Hindwan dengan khotib Wakil Rais Syuriyah PCNU Jepara KH Ubaidillah Nur Umar.

Kekeringan Berkepanjangan, Warga NU Tunaikan Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekeringan Berkepanjangan, Warga NU Tunaikan Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekeringan Berkepanjangan, Warga NU Tunaikan Istisqo

Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi dalam paparannya mewakili panitia mengatakan, kegiatan merupakan bentuk ikhtiar ruhani dalam rangka keluar dari kekeringan.

Ulama Salaf Online

“Negara kita, khususnya desa kita sedang dilanda kekurangan air bersih. Sementara sholat istisqa’ yang kita lakukan ini tidak lain untuk mengharapkan turunnya hujan dari sang pencipta,” terang Marzuqi.

Dengan ikhtiar tersebut, harapannya dalam waktu tidak lama segera turun hujan sehingga limpahan rahmat Allah turun. Dalam memandang kegiatan ini masyarakat menurutnya masih beda-beda persepsi.

Ulama Salaf Online

“Bagi bakul kerupuk dan penjual batu bata tentu tidak ingin hujan di saat ini,” misalnya.

Tetapi masyarakat secara umum tentu menginginkan segera turun hujan. Sebagaimana yang dilakukan warga NU ini usaha tersebut bukanlah sia-sia. Sebab dalam kitab Jauharatut Tauhid disebutkan hamba Allah diwajibkan untuk berusaha soal keberhasilan itu menjadi kekuasaan sang pencipta. Ia juga menegaskan air merupakan kebutuhan untuk bercocok tanam. Karena hasil dari pangan ini untuk kebutuhan masyarakat.

Di sela-sela kegiatan kepada Ulama Salaf Online, pihaknya berharap shalat dua gerhana rembulan dan matahari, khusufain juga perlu dilakukan secara jamaah dengan melibatkan banyak orang.

“Dengan kegiatan ini kami berharap menjadi media pembelajaran bagi kita maupun anak-anak kita. Sebab kita jarang melaksanakannya,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai Ulama Salaf Online

Minggu, 31 Desember 2017

Pidato di PBB, Aktivis NU Ini Ingatkan Pemuda Dunia Tantangan Global

Jakarta, Ulama Salaf Online

Salah satu aktivis NU, Gugun Gumilar, mendapat kesempatan berpidato di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat. Pada forum “International Young Leaders Assembly 2015” ini ia mengangkat tema “Peran Pemuda di Abad 21”.

Menurutnya, ada begitu banyak tantangan bangsa dunia yang harus diselesaikan. Tantangan terbesar adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengurangi kemiskinan dan pengangguran, mengatasi kesenjangan ekonomi, serta memberantas korupsi.

Dalam konteks global, pemuda menghadapi tantangan yang tidak ringan. Globalisasi dicirikan dengan persaingan yang makin ketat, dan kondisi ini tidak bisa dihindari. “Dalam waktu dekat, Pemuda Indonesia akan menghadapi free trade era (perdagangan bebas) di kawasan Asia Pasifik dan ASEAN Economic Community 2015,” tutur Gugun di hadapan seribu pemuda dari 90 negara, Selasa (18/) lalu, sebagaina disampaikan dalam siaran pers.

Pidato di PBB, Aktivis NU Ini Ingatkan Pemuda Dunia Tantangan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato di PBB, Aktivis NU Ini Ingatkan Pemuda Dunia Tantangan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato di PBB, Aktivis NU Ini Ingatkan Pemuda Dunia Tantangan Global

Lulusan pascasarjana Harford Seminary hasil program beasiswa PBNU ini menambahkan, kunci untuk memenangkannya adalah dengan meningkatkan daya saing bangsa. Daya saing bangsa yang merupakan akumulasi dari daya saing daerah harus dipacu dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia, variabel-variabel ekonomi, serta penegakan hukum, dan reformasi birokrasi.

Secara makroekonomi, lanjutnya, ekonomi Indonesia telah masuk dalam kelompok negara-negara G20. Namun dilihat dari daya saing sumber daya manusia kita, Human Development Index Indonesia tahun 2014 menurut UNDP masih cukup rendah.

Ulama Salaf Online

“Tahun ini indeks kita (Indonesia) mengalami peningkatan dari ranking 112 menjadi 108. Bandingkan dengan negara-negara ASEAN yang masih unggul dari Indonesia seperti Singapura peringkat 9, Brunei Darussalam peringkat 30, Malaysia di peringkat 62, dan Thailand 89. Begitu pula untuk kelompok negara-negara BRIC, Indonesia kalah dari Rusia di peringkat 57, Brasil di 79, China 91, dan hanya lebih baik dari India di peringkat 135,” kata Gugun Gumilar.

Untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa ini Indonesia mesti mengembangkan kualitas sumber daya manusianya. “Menurut seorang pakar manajemen modern, Forbes, sumber kemakmuran masa depan tidak lagi terdapat pada seberapa besar comparative advantage (sumber daya alam yang melimpah) karena pada akhirnya sumber daya alam akan habis, tetapi oleh competitive advantage, yakni sumber daya manusia,” imbuhnya.

“Kekuatan sumber daya manusia tidak akan pernah habis karena kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah penggerak utama pembangunan. Sekarang ini adalah era knowledge based economy. Di mana  kualitas sumber daya manusia menjadi roda penggerak kemajuan ekonomi suatu negara. Kita sudah tidak bisa lagi bergantug pada sumber daya alam saja,” tutup Gugun. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Kiai, Pemurnian Aqidah Ulama Salaf Online

Sabtu, 30 Desember 2017

Fatayat NU Probolinggo Gelar Lomba Ceramah, Sholawat, dan Dongeng

Probolinggo, Ulama Salaf Online - Dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-94 Nahdlatul Ulama (NU) dan harlah ke-67 Fatayat NU, Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo menggelar lomba daiyah, sholawat an-nahdliyah, dan berdongeng, Sabtu (8/4). Kegiatan ini diikuti oleh utusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU se-Kabupaten Probolinggo.

Panitia mengangkat tema Meneguhkan Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan untuk meningkatkan peran aktif para wanita NU dalam berbagai momen kedaerahan maupun nasional.

Fatayat NU Probolinggo Gelar Lomba Ceramah, Sholawat, dan Dongeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Probolinggo Gelar Lomba Ceramah, Sholawat, dan Dongeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Probolinggo Gelar Lomba Ceramah, Sholawat, dan Dongeng

Ketua Fatayat NU Probolinggo Elysa Candra Maya menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk kesetiaan kaum perempuan kepada NU dan Negara. Lomba ini diharapkan bisa bermanfaat bagi kemajuan Fatayat NU secara khusus dan umumnya bagi warga NU.

“Lomba daiyah dipilih perannya Fatayat NU bisa berkiprah secara maksimal dalam bidang pendampingan ke masyarakat sehingga membutuhkan keterampilan khusus dalam penguasaan retorika dakwah, lomba Sholawat An-Nahdliyah sesuai dengan tema harlah sedangkan lomba mendongeng di mana para Fatayat NU juga banyak memberikan peran pendidikan PAUD, TK dan RA,” katanya.

Ulama Salaf Online

Sementara Katib PCNU Probolinggo KH Masrur Nashor banyak mengupas sejarah berdirinya Fatayat NU. Menurutnya, berdirinya Fatayat tidak lepas dari peran tiga tokoh perempuan yang dikenal dengan Tiga Serangkai Perintis Fatayat, yakni Murthasiyah, Khuzaimah Mansur, dan Aminah.

“Berdirinya Fatayat NU tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi induknya dan sejarah Indonesia sebagai tanah airnya,” ungkapnya.

Ulama Salaf Online

Menurut Kiai Masrur, penjajahan selama bertahun-tahun telah menyebabkan bangsa Indonesia terpuruk. Perjuangan melawan keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, dan keterpurukan akibat penjajahan ini kemudian mengkristal dan melahirkan semangat kebangkitan di seantero negeri hingga mencapai puncaknya pada tahun 1908 yang dikenal sebagai tahun Kebangkitan Nasional.

“Kalangan pesantren merespon spirit ini dengan membentuk berbagai organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, Tanwirul Afkar atau dikenal juga dengan Nadlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran) pada 1918 yang bergerak di bidang pendidikan sosial politik, Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Kaum Saudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat,” jelasnya.

Kiai Masrur menegaskan, kebangkitan perempuan NU juga membakar semangat kalangan perempuan muda NU yang dipelopori oleh tiga serangkai, Murthasiyah (Surabaya), Khuzaimah Mansur (Gresik), dan Aminah (Sidoarjo). “Pada Kongres NU ke XV tahun 1940 di Surabaya, juga hadir puteri-puteri NU dari berbagai cabang yang mengadakan pertemuan sendiri yang menyepakati dibentuknya Puteri Nahdlatul Ulama Muslimat,” tegasnya.

Lebih lanjut Kiai Masrur menambahkan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kemudian menyetujui pembentukan Pengurus Pusat Putri NUM yang diberi nama Dewan Pimpinan Fatayat NU pada tanggal 26 Rabiul Akhir 1939/14 Februari 1950. Selanjutnya Kongres NU ke-XVIII tanggal 20 April-3 Mei 1950 di Jakarta secara resmi mengesahkan Fatayat NU menjadi salah satu badan otonom NU.

“Namun berdasarkan proses yang berlangsung selama perintisan hingga ditetapkan, FNU menyatakan dirinya didirikan di Surabaya pada tanggal 24 April 1950 bertepatan dengan 7 Rajab 1317 H,” pungkasnya.

Setelah melalui tahapan penilaian dari dewan juri, untuk Lomba Da’iyah, juara I diraih oleh PAC Fatayat NU Kecamatan Wonomerto, juara II diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Sumberasih dan juara III diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Lumbang.

Untuk Lomba Sholawat An-Nahdliyah, juara I diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Sukapura, juara II diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Leces dan juara III diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Lumbang. Sementara Lomba Mendongeng juara I diraih oleh PAC Fatayat NU Kecamatan Sumberasih, juara II diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Wonomerto dan juara III diraih PAC Fatayat NU Kecamatan Dringu. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai Ulama Salaf Online

Kamis, 21 Desember 2017

PCNU Sumedang Gelar Halaqah Aswaja

Sumedang, Ulama Salaf Online. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menggelar Halaqah Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) se-Kabupaten Sumedang di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri Tanjungkerta Sumedang Jawa Barat.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Kami (17/1) ini dihadiri perwakilan dari tiap Majelis Wakil Cabang (MWC) NU dan banom-banom NU se-Kabupaten Sumedang. 

PCNU Sumedang Gelar Halaqah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Gelar Halaqah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumedang Gelar Halaqah Aswaja

Kegiatan halaqoh dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 dan diisi dengan tiga materi. Materi pertama tentang Aswaja sebagai manhajul fikr dan makna sejarah kelahiran firqoh-firqoh dalam Islam yang disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sumedang, KH. Drs. Adam Malik Ibrahim.

Ulama Salaf Online

Materi kedua tentang Pandangan Aswaja terhadap masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya serta penerapannya yang disampaikan oleh Ketua PCNU Kabupaten Sumedang, KH. Sa’dulloh, SQ., M.M.Pd. Dan materi ketiga tentang peran NU dalam penegakan hukum di Indonesia yang disampaikan oleh Katua GP Anshor Propinsi Jawa Barat, Hendrik Kurniawan, S.Ag. 

Ulama Salaf Online

KH. Sa’dulloh, SQ., M.M.Pd. dalam sambutannya mengatakan, Halaqah Ulama Aswaja yang diselenggarakan ini merupakan Halaqoh Ulama Aswaja yang kedua. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan yang serupa ini pada tahun yang lalu dengan menghadirkan pemateri Habib Luthfi yang menjabat sebagai Ketua Jam’iyyah Thoriqoh Al-Mu’tabaroh Pusat.

Kegiatan Halaqah Ulama Aswaja ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan demi menjaga ajaran faham-faham Aswaja yang benar ala Nahdlatul Ulama khususnya di daerah Kabupaten Sumedang.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ayi Abdul Kohar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Anti Hoax, Kiai Ulama Salaf Online

IPNU-IPPNU Kudus Konsep Lakut Mirip KKN

Kudus, Ulama Salaf Online. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kudus tengah sibuk mempersiapkan jenjang pengkaderan formal Latihan Kader Utama (Lakut). Tak selayak pelaksanaan kaderisasi pada umumnya, sejak awal pengurus mengonsep Lakut kali ini mirip Kuliah Kerja Nyata (KKN).

IPNU-IPPNU Kudus Konsep Lakut Mirip KKN (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Konsep Lakut Mirip KKN (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Konsep Lakut Mirip KKN

Dalam konsep ini, selama pelatihan berlangsung para peserta sehari-hari akan berbaur langsung dengan masyarakat setempat. Peserta secara berkelompok akan tinggal di rumah-rumah warga, namun jika masuk jadwal jam efektif mereka diwajibkan mengikuti kegiatan bersama di auditorium atau lokasi-lokasi yang telah ditentukan.

Pelaksanaan Lakut direncanakan akan berlangsung pada tanggal 4-8 Februari mendatang di desa wisata Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus. Tempat tersebut termasuk wilayah pinggir di kabupaten Kudus, memiliki tradisi pedesaan dengan penduduk yang tak cukup padat, namun telah secara resmi menjadi salah satu desa wisata di Kota Kretek ini.

Ulama Salaf Online

"Harapan para pengurus, selain pelaksanaan yang kita lakukan jauh berbeda dari kegiatan-kegiatan biasanya, pemilihan lokasi yang belum pernah dijangkau ini membawa misi menghidupkan kembali Ranting IPNU dan IPPNU Wonosoco. Jika sudah, nanti akan ditindaklanjuti oleh PAC IPNU bersama IPPNU Undaan. Biar bisa merangkul para remaja dan pelajar yang ada di Wonosoco lewat jamiyyahan remaja mushola atau remaja masjid," kata Ketua PC IPPNU Kudus Futuhal Hidayah.

Untuk menyiapkan penyelenggaraan acara kaderisasi tersebut, Ahad malam lalu (10/1), PC IPNU-IPPNU Kudus menggelar diskusi bersama alumni di rumah salah satu pengurus PCNU Kudus, Agus Hari Ageng. Pertemuan di kediaman mantan pengurus IPNU Kudus yang terletak di Kecamatan Gebog itu berlangsung hingga dini hari.

Ulama Salaf Online

Salah satu alumni, Ayuna Turhamun mengungkapkan apresiasinya kepada pengurus yang masih tetap menjalin hubungan dengan alumni. Menurutnya, alumni berfungsi sebagai sistem pendukung dan tempat berbagi. "Silaturrahim dan sharing itu penting," katanya yang kini pengurus Gerakan Pemuda Ansor.

Dalam pertemuan itu, ia menyoroti tentang urgensi kesiapan dan kesigapan panitia. "Kesiapan, kesigapan dan penyikapan dari panitia juga sangat dibutuhkan mengingat lokasi dan waktu, juga padatnya perencanaan jadwal sejak pra pelaksanaan, dari waktu pendaftaran sampai akhir proses. Semua terlibat dalam suksesi agenda ini, mulai panitia sendiri, pemateri, fasilitator, serta peserta. Rekrutmen pesertanya pun jangan sampe asal-asalan," ungkap mantan Wakil Ketua bidang Pengkaderan ini.

Sementara Noor Zakiyah, salah satu alumni IPPNU yang hadir, berharap besar pada kedua banom yang berisikan anak-anak muda NU ini. "Semoga IPNU dan IPPNU makin berjaya dan memasyarakatkan diri agar keberadaan organisasi semakin kuat," ujarnya bersemangat.

Ketua PC IPPNU Kudus Futuhal Hidayah mengatakan, “Tanggapan dan masukan dari para alumni akan pihaknya godok dan mantapkan lagi, yakni oleh para pengurus harian. Ini merupakan diskusi yang sangat bermakna," ujarnya. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai, Amalan Ulama Salaf Online

Minggu, 17 Desember 2017

Arab Pegon Pemersatu dan Pemicu Perlawanan terhadap Penjajahan

Sleman, Ulama Salaf Online?



Rektor UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta Yudian Wahyudi mengatakan, keberadaan Arab pegon berkembang seiring dengan proses islamisasi di Nusantara (sebelum, indonesia terlahir).?

Arab pegon, lanjutnya, tidak dapat dipisahkan dari aktivitas perdagangan yang masif kala itu. “Arab pegon merupakan akulturasi dari kebudayaan Arab dengan kebudayaan lokal Nusantara seperti Jawa,” ungkapnya pada seminar Kajian Literasi Arab Pegon dan Budaya Literasi Khasanah Sastra dan Pengetahuan Keislaman di masjid Pathok Negoro Plosokuning, Sleman, Yogyakarta pada Senin (27/3) yang dimotori Pesantren Qashrul Arifin.?

Arab Pegon Pemersatu dan Pemicu Perlawanan terhadap Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Arab Pegon Pemersatu dan Pemicu Perlawanan terhadap Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Arab Pegon Pemersatu dan Pemicu Perlawanan terhadap Penjajahan

Ia menambahkan, perkembangan dan kelestarian Arab pegon tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pondok-pondok pesantren dan Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya. ? Sebagian besar pengikut Pangeran Diponegoro merupakan santri-santri pondok pesantren yang tersebar dibeberapa karasidenan di Jawa, seperti karasidenan Madiun, Kedu, Banyumas dan lainnya.?

“Arab pegon menjadi budaya tulis bagi masyarakat, terlebih bagi pondok pesantren, banyak dari kitab kuning yang bertuliskan Arab pegon. Bahkan dalam beberapa penafsiran banyak berisikan pesan antikolonialisasi.”

Dalam beberapa kitab, lanjutnya, seperti Majemuk Syareat yang bertuliskan Arab pegon secara langsung menyebutkan meniru-niru gaya hidup pihak kolonial dikatakan sebagai perbuatan tidak terpuji dan beberapa kebiasaan pihak kolonial dianggap sebagai keharaman.?

Ulama Salaf Online

Ia menyebutkan Arab pegon sebagai budaya pemersatu dan melahirkan budaya perlawanan terhadap kolonialisasi. “Hilangnya budaya tulis Arab pegon, terkait dengan kebijakan negara dengan adanya program pemberantasan buta huruf,” ujarnya.?

Ulama Salaf Online

Nasionalisme sebagai kekuatan baru, dengannya tercipta kesatuan dan lahirnya NKRI dan dengan adanya identitas nasional, maka bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan ilmiah secara otomatis bergandeng dengan aksara Latin. Tetapi Arab pegon masih menjadi bagian dari dinamika kebudayaan, lanjutnya.?

Walaupun bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, akan tetapi bukan berarti tidak ada persinggungan dengan budaya tulis pegon dikarenakan adanya Arab pegon Melayu. “Untuk kembali memasifkan Arab pegon dalam masyarakat dapat dimulai kembali, seperti pembuatan komik dengan Arab pegon dan cara-cara lainnya,” usulnya.?

Selain Rektor UIN Sunan Kalijaga, pembicara seminar itu adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tarekat Qashrul Arifin KH Ruhullah Taqi Murwat dan perwakilan Dinas Kebudayaan Yogyakarta dan Kraton Ngayogyakarta. (Wiwit Subekti/ Hasan Bashori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pahlawan, Kiai Ulama Salaf Online

Selasa, 05 Desember 2017

PBNU Kembangkan Penelitian Aswaja di Indonesia

Padang, Ulama Salaf Online. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengembangkan penelitian seputar perkembangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Indonesia dengan mengumpulkan bahan-bahan awal berdirinya NU di wilayah dan cabang.

"Salah satu perhatian kami adalah Sumatera Barat. Bahwa mayoritas paham keagamaan di Sumatera Barat itu NU. Problemanya, NU dipersepsikan sebagai organisasi keagamaan yang terlalu Jawa," kata Ketua PBNU H Abdul Aziz dalam temu ramah dengan Pengurus Wilayah NU Sumbar di sekretariat PWNU Jalan Ciliwung No. 10 Padang, Senin (16/7).

PBNU Kembangkan Penelitian Aswaja di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kembangkan Penelitian Aswaja di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kembangkan Penelitian Aswaja di Indonesia

Diharapkan para ulama memberikan kontribusi, berupa informasi-informasi penting pengembangan faham Aswaja di daerah masing-masing. "Seperti di Kalimantan, para ulamanya bisa menghilangkan kesan bahwa NU itu hanya untuk Jawa," katanya.

Abdul Aziz yang membidangi Komunikasi dan Informasi PBNU menyebutkan hasil Muktamar NU di Boyolali mengenai konsolidasi organisasi dan paham keagamaan Aswaja. Dikatakan, sekarang ini semakin banyak faham impor yang tidak sesuai dengan faham keagamaan bangsa Indonesia sehingga menimbulkan berbagai ketegangan di tanah air.

"Hal tersebut perlu kita pahami bersama, lalu disosialisasikan dengan baik. Dimana posisi kita, dimana paham keagamaan yang sesuai dengan ajaran Islam yang dibawa Rasululllah SAW ini?" ujarnya.

Ulama Salaf Online

Secara teknis, pengembangan penelitian dan sosialisasi dilakukan oleh Lajnah Talief wan Nasy (LTN) dan media Ulama Salaf Online.

"Tugas sebagai Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi, ingin mengembangkan penelitian mengenai informasi lengkap perkembangan paham Ahlussunnah tersebut. Di Pauh Kota Padang ada tradisi tahlil masih jalan. Maka para pengurus untuk perlu perhatian yang sungguh kepada data-data," tambahnya.

Penelitian sementara menyebutkan, pengembangan faham keagamaan di Indonesia lebih diperankan oleh tarekat. Tarikat di Sumatera Barat misalnya berpusat pada Syekh Burhanuddin yang ada di Ulakan Kabupaten Padangpariaman.

Ulama Salaf Online

"Tarikat menjadi salah satu kekuatan NU. Guru-guru tarikat itu merasakan bagian dari NU dengan faham keagamaannya yang moderat," kata Abdul Aziz yang juga Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.

Hadir dalam temu ramah itu sejumlah pengurus PWNU Sumbar, di antaranya Wakil Ketua H Khusnun Aziz, Sekretaris Firdaus, Wakil Sekretaris DPW PKB Sumbar A.Damanhuri Tuanku Mudo. (Laporan Bagindo Armaidi Tanjung dari Padang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai Ulama Salaf Online

Minggu, 03 Desember 2017

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj

Tasikmalaya, Ulama Salaf Online?

Pondok Pesantren Al-Istiqomah Cibunigeulis, Bungursari pimpinan KH Didi Ruyani, dipadati jamaah pengajian. Santri dan ratusan warga masyarakat berbaur memadati tempat yang dipersiapkan panitia untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.?

Mengawali pengajian pada Rabu siang (5/5) itu, jamaah disuguhkan dengan penampilan qosidah rebana dan kreasi seni dari para santri.?

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi Nahdliyyin, Kader Ansor Tasik Peringati Isra Miraj

Ketua panitia Ajat Sudrajat mengatakan, peringatan Isra dan Mi’raj ini dilaksanakan untuk menjaga tradisi keagamaan yang ada di NU.

“Saat ini telah terjadi fenomena dimana banyak kelompok yang terus gencar membidah-bidahkan tradisi dan amalan-amalan yang biasa dilaksanakan oleh kalangan NU. Makanya kita jadikan acara ini sebagai bentuk penguatan pemahaman terhadap Nahdliyyin,” terang pengurus Ansor Tasikmalaya bidang IPTEK ini.?

Lebih lanjut, Ajat mengingatkan akan peran dari pondok pesantren dalam upaya menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan para ulama terhadap umat.?

Ulama Salaf Online

"Pesantren Al-Istiqomah ini sudah cukup lama berdiri di Bungursari, dan akan terus berkomitmen menjaga tradisi yang ? telah diwariskan oleh para ulama Ahlisunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah," terang keponakan dari KH Didi Ruyani ini.?

Ketua PMII Kota Tasik 2014-2015 ini mengatakan, "Tujuan kegiatan ini disamping untuk merawat tradisi, juga untuk menjaga ukhuwah Islamiah, serta mengambil Hikmah dari peristiwa Isra wal Miraj Nabi Muhammad SAW," pungkasnya

Mubaligh yang mengisi pengajian pada kegiatan itu adalah Pimpinan Pondok Hidayatul Ulum Awipari ? KH Asep Nur Ilyas. Dalam taushiyahnya, ia mengingatkan perihal perlunya menjaga tradisi Rajaban sebagai upaya memperkuat ukhuwah islamiyyah, wathoniyah dan basyariyah. (A. Arif/Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kyai, Olahraga, Kiai Ulama Salaf Online

Sabtu, 25 November 2017

Kesetian Berkarya: H Usep Romli HM

H. Usep Romli HM, lahir di Balubur Limbangan, Kabupaten Garut, 16 April 1949. Menempuh pendidikan SD dan SMP di Limbangan, sambil nyantri di beberapa pesantren kecil dekat rumah (1955-1964). Melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) di kota Garut (1964-1967), juga sambil nyantri antara lain di pesantren tradisional Galumpit.?

Ia mengikuti “pengajian politik” di rumah Bapak KH Prof. Dr. Anwar Musaddad, Jl.Ciledug, Garut, yang berlangsung setiap awal bulan, dihadiri para politikus NU dan para ajengan pesantren terkenal dari Garut dan sekitarnya. Aktif sebagai anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan GP Ansor.

Kesetian Berkarya: H Usep Romli HM (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesetian Berkarya: H Usep Romli HM (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesetian Berkarya: H Usep Romli HM

Tahun 1964, Usep mulai mengumumkan tulisan sastra (prosa dan puisi),serta jurnalistik. Dimuat dalam surat kabar Harian Banteng (corong PNI Jabar), Harian Rakyat (corong PKI Jabar). Tapi tak pernah satu kalipun dimuat di Harian Karya (corong NU Jabar), walapun sering direkomendasikan oleh pengurus IPNU, GP Ansor dan PCNU Garut. Lulus dari SPGN Garut (1967), langsung diangkat menjadi PNS Guru SD di pedesaan Kecamatan Kadungora. Professi guru dijalani hingga tahun1983, ketika diangkat menjadi Kepala Seksi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jabar.

Namun tahun 1984, mengundurkan diri dari PNS tanpa meminta pensiun karena ingin fokus kepada professi wartawan yang telah dirintis sejak tahun1966 dengan menjadi koresponden freelance untuk beberapa surat kabar terbitan Bandung, Jakarta dan Medan. Selama menjadi wartawan full time di SK Pikiran Rakyat Bandung (1984-2004), pernah mendapat tugas jurnalistik ke seluruh penjuru tanah air dan luar negeri. Antara lain kawasan Timur Tengah, Balkan, Eropa Barat, Eropa Timur dan Asia Tengah. Terutama yang berkaitan dengan masalah politik dan kebudayaan Islam. Tahun1998-2002, menjabat Ketua Seksi Diklat PWI Jabar. Kini menjadi pemegang “kartu biru” keanggotaan PWI seumur hidup.

Ulama Salaf Online

Pernah menimba ilmu bahasa dan sastra Arab di IKIP Bandung (1983) dan IAIN Sunan Gunung Jati (1986). Setelah pensiun sebagain wartawan aktip PR, menjadi kontributor tulisan untuk beberapa majalah dan surat kabar, sambil mengelola pesantre anak asuh du’afa wal yatama di kampungnya, Desa Majasari, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut. Menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia, yang sudah diterbitkan berupa buku antara lain: A. Bahasa Sunda 1. Sabelas Taun (kumpulan sajak), Nyi Kalimar Bulan (ceritera anak-anak), Oray Bedul Macok Mang Konod (humor pedesaan), Bongbolongan Nasrudin (humor terjemah dari bahasa Arab), Dulag Nalaktak (humor pesantren), Bentang Pasantren (novel), Dalingding Angin Janari (novel), Dongeng-dongeng Araheng (dongeng anak-anak), Ceurik Santri (kumpulan cerpen) Jiad Ajengan (kumpulan cerpen) Sanggeus Umur Tunggang Gunung (kumpulan cerpen) Sapeuting di Cipawening (kumpulan cerpen) Nu Lunta Jauh (kumpulan sajak) Jurig Congkang Bisul na Bujur (kumpulan cerita misteri-humor) Lalakon Ngatrok : Saba D

esa Saba Nagara (kumpulan pengalaman jurnalistik) Saur Bapa Gubernur (kumpulan carpon), Nganteurkeun (novel), Paguneman jeung Firaon (kumpulan carpon), The Last Herro (novel).

Usep juga menulis dalam Bahasa Indonesia di antaranya Si Ujang Anak Peladang (ceritera anak-anak) Pahlawan-Pahlawan Hutan Jati (ceritera anak-anak), Sehari di Bukit Resi (ceritera anak-anak), Desa Tercinta (ceritera anak-anak), Berlibur di Kaki Gunung (ceritera anak-anak), Aki Dipa Pemburu Tua (ceritera anak-anak), Bambu Runcing Aur Kuning (ceritera anak-anak), Pahlawan Tak Dikenal (ceritera anak-anak), Percikan Hikmah (kumpulan anekdot sufi), Pertaruhan Domba dan Kelinci (ceritera anak-anak bergambar), Zionis Israel di Balik Serangan AS ke Irak (analisa).

Ulama Salaf Online

Semua buku ceritera anak-anak baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia, dibeli oleh pemerintah (proyek Inpres Buku Bacaan), sejak tahun1973 hingga tahun1986. Tiap judul rata-rata dibeli 24.000 (dua puluh empat ribu) eksemplar, honornya dibayar tunai.

Dua kali mendapat Hadiah Rancage. Yang pertama, hadiah sastra, untuk karyanya Sanggeus Umur Tunggang Gunung tahun 2010 dan yang kedua hadiah jasa berkat pengabdian terhadap bahasa dan sastra Sunda tahun 2011. Di lingkungan NU, pernah menjabat penasihat Lajnah Ta’lif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2001). Pernah menjadi aggota pengurus DPW PKB Jabar (1998-1999).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai, News Ulama Salaf Online

Kamis, 09 November 2017

Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan

Syech KH Ali Akbar Marbun adalah Pendiri sekaligus Pengasuh Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Jl Pelajar No 264 Medan, Sumatera Utara. Syech KH Ali Akbar Marbun lahir di desa Siniang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Medan.

Syekh KH Ali Akbar Marbun adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, ayahnya Buyung Marbun (Alm) dengan ibunya Hj Chadijah bt Nainggolan (meninggal pada usia 105 tahun) adalah petani dan orang yang taat beragama Islam.

Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan

Syekh Ali belajar di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Sumatera Utara yang didirikan oleh Syech Musthafa Husain Nasution yang pada waktu itu dipimpin oleh H Abdullah Musthafa Nasution dan guru besarnya Syech Abdul Halim Lubis.

Setelah belajar di Pesantren Musthafiyah selama 4 tahun, pada tahun 1969 Syech Ali Akbar Marbun menunaikan ibadah Haji ke Mekkah. Setelah menunaikan ibadah haji, Syekh Ali tinggal di Mekkah untuk belajar. Syekh Ali banyak belajar dari ulama-ulama Sunni di Mekkah, salah satunya kepada Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani.

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Usai belajar di Mekkah, pada tahun 1978 Syech Ali Akbar Marbun pulang ke Medan dan mendirikan Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar.

Syekh KH Ali Akbar Marbun terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) di Muktamar Ke-33 NU Jombang yang dipilih oleh para Muktamirin. Setelah diadakan tabulasi, Syekh Ali mendapat suara sebanyak 246 suara. Anggota Ahwa bertugas memilih Rais Aam PBNU yang akan menahkodai NU di periode 2015-2020. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Berita, Kiai Ulama Salaf Online

Rabu, 08 November 2017

Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo

Sukoharjo, Ulama Salaf Online

Rangkaian kegiatan menyambut momentum hari lahir ke-61 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan hari lahir ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Sukoharjo, Jawa Tengah, rencananya akan ditutup dengan kegiatan sosial donor darah, Ahad (10/4) mendatang.

Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Donor Darah Tutup Harlah IPNU-IPPNU di Sukoharjo

“Insyallah penutupan harlah, kita akan mengadakan kegiatan donor darah,” terang Luffi, Koordinator Departemen Jaringan Komunikasi Informatika IPPNU Sukoharjo, Jumat (1/4) lalu.

Luffi menjelaskan, sebelumnya rangkaian kegiatan peringatan harlah sudah terlaksana, 27 Maret lalu, dengan diadakannya acara pengajian dan sarasehan di Madrasah Sedahromo Lor Kartasura.

Ulama Salaf Online

Pada acara yang bertemakan “Pelajar NU Bersinergi Membangun Negeri” tersebut juga dilengkapi dengan acara doa bersama menjelang Ujian Nasional (UN), sebagai bentuk perhatian IPNU-IPPNU kepada para pelajar. Acara ini dihadiri puluhan kader IPNU-IPPNU, pengurus NU dan banom NU setempat, serta para pelajar dan santri.

Ulama Salaf Online

Sementara itu, pada momentum harlah IPNU-IPPNU, Ketua PC IPPNU Sukoharjo Nindya Aswaranti Seysar memiliki sejumlah harapan khusus. Gadis yang akrab disapa Nindy tersebut ingin IPPNU di daerah Sukoharjo lebih berkembang dan bergeliat.

Saat ini, papar Nindy, dari 12 Kecamatan di Sukoharjo baru ada 1 kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang sudah terbentuk, yakni di Kecamatan Kartasura. “Harapannya segera terbentuk semua PAC di Kabupaten Sukoharjo,” ungkap Nindy. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Cerita, Kiai Ulama Salaf Online

Selasa, 07 November 2017

PMII Dukung Penguatan Peran Perempuan di Sektor Publik

Jakarta, Ulama Salaf Online. Tanggal 8 Maret yang ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional menjadi titik balik perjuangan perempuan atas keberhasilan mereka di bidang ekonomi, politik dan sosial. Namun, kaum perempuan masih menghadapi problem kompleks salah satunya karena pengaruh arus globalisasi.

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Korps PMII Putri ( PB Kopri) Athik Hidayatul Ummah kepada Ulama Salaf Online, Rabu (8/3) di Jakarta.

PMII Dukung Penguatan Peran Perempuan di Sektor Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Dukung Penguatan Peran Perempuan di Sektor Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Dukung Penguatan Peran Perempuan di Sektor Publik

"Kita yang terlahir sebagai perempuan patut bersyukur dapat menjadi perhatian agama, negara, bahkan dunia. Walaupun saat ini perempuan masih menghadapi problem yang kompleks. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari arus globalisasi," kata Athik.

Salah satu problem tersebut adalah adanya sebagian pihak yang mempersoalkan kiprah perempuan di sektor publik. Menurut Athik hal itu mestinya tidak perlu lagi dipersoalkan, karena fakta membuktikan bahwa perempuan memiliki peran cukup strategis bagi masa depan bangsa dan dunia ini.

Ulama Salaf Online

"Setiap zaman memiliki orangnya. Zaman yang terus berganti, tantangannya juga mengikuti. Sejarah telah mencatat sederet nama perempuan yang berhasil memimpin kerajaan, peradaban, gerakan, dan menjadi negarawan yang dapat menjadi inspirasi kiprah perempuan muda masa kini," katanya.

Lulusan Magister Komunikasi Politik Universitas Indonesia ini menyadari, budaya patriarki di berbagai daerah di Indonesia masih kental dan kuat. Perempuan masih dianggap sebagai kelas kedua dari sisi perannya setelah laki-laki.?

"Perlu kita sadari sebagian dari kita masih hidup di tengah masyarakat patriarki. Masih banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan, trafficking, dan lainnya. Kompleksitas persoalan perempuan ini menunjukkan gagalnya negara mewujudkan kebahagiaan rakyatnya," tegasnya.

Upaya menuju sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik harus terus digulirkan melalui gerakan perempuan di semua lini kehidupan. Pembangunan kapasitas diri perempuan perlu dilakukan dengan selalu mengasah intelektual dan meningkatkan keterampilan yang dimiliki.

Ulama Salaf Online

"Melihat realitas ini, perempuan harus bangkit. Kebangkitan perempuan harus dengan kualitas dan prestasi. Maka, diperlukan serangkaian aksi demi melampaui sebuah fase kebebasan, kepemimpinan dan keadilan," imbuhnya.

Kandidat Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) PB PMII ini menegaskan bahwa PMII sebagai organisasi kader, tempat bergeraknya kaum intelektual organik yang mempunyai tanggung jawab untuk hadir menyumbangkan pikiran dan bergerak ke lapangan untuk melakukan kerja kritis bagi penguatan peran perempuan untuk membangun peradaban dunia.

"Melalui wadah perempuan PMII, Kopri mempunyai peran penting untuk dapat memberikan solusi atas segala masalah tentang perempuan dan Indonesia sekaligus. Ikhtiar ini sudah dimulai dengan skema kaderisasi yang ada di dalam tubuh PMII. Sehingga nanti, perempuan di PMII akan bisa berteriak dengan lantang dan berani menyatakan, inilah kami wahai Indonesia," pungkasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tegal, Warta, Kiai Ulama Salaf Online

Rabu, 25 Oktober 2017

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Jakarta, Ulama Salaf Online
Selama ini, sejarah tentang NU lebih banyak ditulis oleh para peneliti dari kalangan non NU, para orientalis dan pengikutnya. Dalam pandangan mereka, NU dicitrakan sebagai organisasi yang bersifat Jawa yang oportunis, koservatif serta agraris yang tidak rasional. Keadaan ini perlu dirubah dengan melakukan perubahan paradigma penulisan sejarah NU yang dilakukan kalangan sendiri yang bisa mencitrakan NU sesuai dengan apa adanya dengan data serta argumen yang memadai.

Lembaga Ta’lief Wan Nasr (LTN NU) atau Lembaga Penelitian dan Pengembangan Informasi NU mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya di daerah Minang, Sunda dan Sasak di Gd. PBNU (22/8). Penelitian merupakan upaya untuk melihat sejarah NU dari sudut pandang orang NU sendiri. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut Enceng Sobirin, Abdul Aziz Ahmad, Mun’im Dz, dan Adnan Anwar

“Walaupun dianggap tradisional, tetapi NU punya daya tahan sehingga bisa terus berkembang, ketika organisasi serupa sudah berguguran. Kekuatan itu tidak pernah diteliti, hanya kelemahan saja yang dicari,” tandas Ketua LTN NU Mun’im Dz (22/8).

Penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke daerah-daerah tersebut lebih memfokuskan pada dinamika internal, yaitu bagaimana para tokoh NU mencitrakan dirinya serta memaknai tindakannya serta menjelaskan argumennya sesuai dengan rasionalitas kaum nahdliyyin.

“Dengan pendekatan tersebut berbagai data bisa ditemukan, berbagai informasi didapatkan, beberapa pengalaman para tokoh dan saksi bisa diungkapkan dan dijadikan sumber utama penulisan,” tambahnya.

Dengan adanya sumber alternatif ini, buku babon tentang NU yang sudah dianggap klasik hanya dijadikan sumber sampingan, bahkan tidak sedikit yang terpaksa dibuang, diganti dengan sumber yang lebih orisinil dan lebih valid. Dengan cara demikian, citra NU bisa ditampakkan dan NU luar Jawa yang selama ini diabaikan juga bisa diperlihatkan eksistensi dan pengaruhnya terhadap NU Indonesia.

Budaya NU memiliki keragaman yang luas sesuai dengan lokalitasnya masing-masing. Dimanapun, baik di Jawa maupun luar Jawa, NU memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan diri dengan budaya lokal.

Di Sumatra Barat, NU berinteraksi erat dengan Perti, sementara di Sumatra Utara memiliki kesamaan cultural dengan jam’iyah Al Washiliyah. Di Sunda NU beraliansi dengan Mathla’ul Anwar sedangkan di NTB dengan Nahdlatul Wathon. Demikian juga, di Sulawesi bahu-membahu dengan Al-Khairat.

Mun’im yang juga peneliti di LP3Es tersebut menjelaskan selama berada di tiga daerah tersebut, para pimpinan NU lokal memberi sambutan yang luar biasa dengan memberikan data dan waktunya. Selama ini mereka sendiri kurang faham tentang sejarah NU di lingkungannya, bahkan banyak diantara tokohnya yang malah menulis sejarah tokoh dari ormas lainnya.

Hasil penelitian ini akan terus disempurnakan, baik dengan melakukan penelitian lebih lanjut atau mengundang para ahli untuk berdiskusi. Jika sudah dianggap memadai, penelitian ini akan diterbitkan dalam bentuk buku.(mkf)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai, Meme Islam Ulama Salaf Online

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Minggu, 08 Oktober 2017

Ansor Jatim Kawal Penuntasan Kasus Penembakan Mathur Husairi

Surabaya, Ulama Salaf Online. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Jumat petang (6/2/) kemarin, menjenguk aktivis antikorupsi Mathur Husairi di RSUD Dr Soetomo Surabaya. LBH GP Ansor Jatim berjanji akan mengawal pengungkapan dan penuntasan kasus penembakan Mathur Husairi.

Ansor Jatim Kawal Penuntasan Kasus Penembakan Mathur Husairi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jatim Kawal Penuntasan Kasus Penembakan Mathur Husairi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jatim Kawal Penuntasan Kasus Penembakan Mathur Husairi

“Kami akan mengadvokasi hingga adanya tuntuntan di pengadilan, baik secara litigasi maupun non-litigasi,” kata Direktur LBH GP Ansor Jatim Othman Ralibi.

Othman datang menjenguk aktivis Madura Corruption Watch (MCW) itu dengan didampingi M Ja’farShodiq, Muhammad Rutabus Zaman (wakil direktur), Mansyur, (sekretaris direktur), serta sejumlah pengurus lain, di antaranya Anang Romli dan M Yunus.

Ulama Salaf Online

Kedatangan mereka disambut istri Mathur, Muthmainah. Kondisi Mahtur sudah dalam tahap penyembuhan. Sehingga, aktivis LBH Ansor Jatim dapat berbincang bersamanya selama hamper satu jam.

Mathur yang juga salah satu pengurus GP Ansor Kabupaten Bangkalan adalah pegiat antikorupsi yang kerap mengungkap berbagai kasus korupsi di Bangkalan. Bahkan, dia yang melaporkan ke KPK. Mathur ditembak oleh orang tak dikenal di depan rumahnya di Bangkalan, Senin dini hari, 20 Januari 2015 lalu. Saat itu ia baru selesai diskusi dengan rekan sesame aktivis di Surabaya.

Ulama Salaf Online

Othman menilai, penembakan yang dialami Mathur tersebut bukan criminal biasa. Menurutnya, ha litu dapat ditengarai adanya motif politis yang dilakukan oleh orang-orang yang khawatir  terhadap  perilaku koruptif yang selama ini dilakukannya.

“LBH Ansor Jatim berkewajiban untuk mengawal dan mengadvokasi korban agar terlindungi dari ancaman dan intimidasi yang berkelanjutan, baik  terhadap  diri pribadi korban maupun terhadap keluarganya dan mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum yang seadil-adilnya ” tegasnya.

Othman meminta pihak kepolisian untuk melakukan penyidikan dan penyelidikan secara tuntas hingga ditetapkannya tersangka baik kepada pelaku utama (eksekutor) maupun  aktor intelektualnya dengan tetap mengedepankan asas praduga tidak bersalah.

“Kasus ini dapat dijadikan sebagai pelajaran, untuk meningkatkan kewaspadaan dan pihak kepolisian harus mengungkap  adanya peredaran senjata ilegal,” pungkasnya. (Hady/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Makam, Halaqoh, Kiai Ulama Salaf Online

Jumat, 29 September 2017

Ikatan Alumni Annuqayah Pamekasan Resmi Dibentuk

Pamekasan, Ulama Salaf Online  . Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Pamekasan resmi dibentuk, Jumat (19/10). Peresmian bertempat di kediaman salah seorang alumni Annuqayah, H Mahmudi, Maddis, Desa Blumbungan, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Acara tersebut dihadiri oleh KH Basri Hasan (salah seorang pengasuh Annuqayah, red), Ketua IAA Pusat K Imam Mawardi Jazuli beserta jajaran, dan tidak kurang dari 50 puluh perwakilan alumni Annuqayah yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan.

Ikatan Alumni Annuqayah Pamekasan Resmi Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikatan Alumni Annuqayah Pamekasan Resmi Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikatan Alumni Annuqayah Pamekasan Resmi Dibentuk

Usai shalat Jumat, sekitar pukul 13.00, dipandu oleh H Mahmudi, proses pembentukan tersebut diawali dengan pemilihan Ketua IAA Cabang Pamekasan. Setelah muncul nama-nama, akhirnya H Miftahun Na’im mengemban amanah untuk menakhodai IAA Cabang Pamekasan. Lelaki kelahiran Pamekasan ini terpilih secara aklamasi.

Ulama Salaf Online

KH Imam Mawardi Jazuli dalam sambutannya menegaskan, alumni Annuqayah sudah banyak mengabdi di berbagai tempat. Sebut saja di pulau Jawa, Sumatra, Irian Jaya, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Bahkan, tersebar hingga ke luar negeri.

“Ini potensi besar. Manakala terus dilakukan komunikasi secara terus-menerus, tentu bisa menjadi kekuatan positif dalam memajukan bangsa dan agama,” terang lelaki yang juga tercatat sebagai anggota DPRD Sumenep ini.

Ulama Salaf Online

Pihaknya berharap, di Kabupaten Pamekasan, pengurus IAA bisa terbentuk hingga ke tingkat kecamatan. Di Sumenep, terang K Mawardi, itu sudah tercapai.

“Sebagai pengurus IAA Pusat, kami berharap, daerah yang belum terbentuk IAA, bisa segera terbentuk. Di organisasi ini ada bidang usaha. Karenanya, mari berupaya untuk melakukan terobosan-terobosan,” ujarnya. 

K Mawardi mencontohkan usaha IAA Kabupaten Sumenep. Di mana, telah mengadakan urunan untuk membeli tanah. Dalam hal ini, menggerakkan usaha properti. Nantinya, hasilnya akan dipersentasekan untuk juga diberikan ke Annuqayah. 

"Kita akan berjalan bersama. Apa yang bisa kita inveskan ke alumni di Pamekasan, nanti kita usahakan. Saling memberikan manfaat adalah kuncinya," tekannya.

Sebagai tindak lanjut dari pembentukan pengurus IAA Cabang Pamekasan, dalam waktu dekat ini akan dilangsungkan launching IAA Cabang Pamekasan yang tempatnya belum ditentukan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai Ulama Salaf Online

Selasa, 19 September 2017

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara

Jombang, Ulama Salaf Online. Menegaskan tema besar Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Pascasarjana STAINU Jakarta menggelar seminar bertajuk ‘Mengarusutamakan Konsep dan Gerakan Islam Nusantara’ di Aula Yayasan Tambakberas, Jombang, Ahad (2/8).

Seminar ini juga dimaksudkan untuk meluncurkan buku ‘Mengenal Konsep Islam Nusantara’ yang disusun dan diterbitkan oleh Tim Penulis Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana STAINU Jakarta Luncurkan Buku Konsep Islam Nusantara

Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir, Direktur Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta, Prof Dr M Ishom Yusqi, dan Prof Dr Akh Muzakki, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dengan dimoderatori oleh Dr Abdul Moqsith Ghazali, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Ulama Salaf Online

Dalam sambutannya, Menteri Agama yang juga putra KH Saifuddin Zuhri ini mengapresiasi STAINU Jakarta yang secara serius menyelenggarakan program kajian Islam Nusantara (IN).

Ulama Salaf Online

"Masyarakat tidak perlu khawatir IN akan memecah belah persatuan umat, karena IN tidak menegasikan kelompok lain," ujar Lukman.

Ia juga menegaskan bahwa Islam Nusantara tidak ingin melakukan de-arabisasi. IN tidak anti manapun, termasuk anti-Arab. IN ingin mengambil yang positif dan menanggalkan yang negatif.

Pembicara dalam seminar ini, Prof Isom Yusqi, menyampaikan bahwa sebagai sebuah kajian, Islam Nusantara sudah memenuhi syarat dan layak diteladani.

"Dalam kajian klasik, kita mengenal ada mabadi asyrah atau sepuluh prinsip dasar. IN sudah mencakup semuanya, mulai dari definisi, ruang lingkup, manfaat, hubungan dengan kajian lain, keistimewaan, perintis, sebutan resmi, sumber, hukum mempelajari, dan pokok masalah kajian," papar Isom.

KH Afifuddin Muhajir, dalam paparannya memberikan definisi praktis terhadap Islam Nusantara. "IN adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat," kata Kiai dari Situbondo ini.

Wujud penyesuaian budaya

Sementara itu, Prof Akh Muzakki, mengilustrasikan Islam Nusantara seperti fried chicken (ayam goreng) sebagai komoditas beberapa perusahaan Amerika. "Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping," ujar Sekretaris PWNU Jawa Timur ini.

Menurutnya, penyertaan nasi ini merupakan wujud penyesuaian terhadap budaya orang Indonesia. "Kalau belum makan nasi, kita belum merasa makan. Ya seperti itulah Islam menerima budaya kita sebagai pendamping," lanjutnya.

Menyinggung kesalahpahaman sebagian kalangan yang mengira Islam Nusantara hendak melakukan sinkretisasi, Prof Muzakki mengibaratkannya dengan ayam goreng dan nasi pecel atau rawon.

"Meski nasi pecel atau rawon sangat populer di negeri ini, jangan harap fried chicken Amerika menjualnya sebagai pendamping. Karena itu jelas keluar dari khittah atau trademarknya. Demikian juga budaya Nusantara yang dapat merusak esensi Islam tentunya tidak akan digunakan," pungkasnya. (Dawam Multazam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kiai Ulama Salaf Online

Minggu, 10 September 2017

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

Jakarta, Ulama Salaf Online 



Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, reuni, kongres atau apapun namanya boleh saja dilakukan. Apalagi jika dimaksudkan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sesama warga negara).

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

Ia mengatakan hal itu ketika mengomentari Reuni alumni 212 yang akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Sabtu (2/12). Reuni itu memperingati aksi yang dilakukan umat Islam setahun yang lalu.   

"Namun, jangan ada upaya untuk mengarus-utamakan agama dalam percaturan politik praktis, apalagi menjadikan agama sebagai tunggangan politik. Politisasi agama akan mengoyak kohesivitas sosial yang pada gilirannya merusak persatuan dan kesatuan bangsa," katanya di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (30/11). 

Ia meminta untuk menjadikan agama sebagai inspirasi dalam  mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan jadikan agama sebagai aspirasi politik. Kesepakatan para pendiri bangsa atas NKRI (mu’ahadah wathaniyyah, konsep negara bangsa) harus kita junjung tinggi.

“Betapa rendah kedudukan agama bila dijadikan aspirasi politik hanya untuk menangguk keuntungan politik elektoral lima tahunan. Apalagi untuk dikonversi dengan perolehan suara dalam politik elektoral.” (Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Jadwal Kajian, Pemurnian Aqidah, Kiai Ulama Salaf Online

Minggu, 03 September 2017

Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor!

Rangkasbitung, Ulama Salaf Online. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi menegaskan, hukuman mati bagi pelaku koruptor harus diterapkan untuk memberikan efek jera terhadap pelakunya. Menurutnya, hukuman mati terhadap pelaku korupsi yang merugikan keuangan negara dan menyengsarakan rakyat banyak, tidak bertentangan dengan undang-undang.

Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor! (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor! (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor!

”PBNU sangat mendukung hukuman mati itu tanpa pandang bulu dengan idealisme Indonesia yang makmur dan adil bagi semua rakyat,” kata KH Masdar Farid Masudi seusai acara peletakan batu pertama pembangunan TK/SD/SMP/SMA di Kabupaten Lebak, Sabtu (16/6).

Korupsi di Tanah Air sudah menggurita terjadi di mana-mana dengan melibatkan pejabat negara, kepala daerah, wakil rakyat, dan politisi. Bahkan, hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang menyatakan DPR adalah lembaga terkorup di negeri ini. "Hukuman mati dibenarkan undang-undang kita guna memenuhi rasa keadilan jika pelaku korupsi sudah sangat keterlaluan hingga menimbulkan kerugian uang Negara yang cukup besar," kata Masdar. 

Ulama Salaf Online

PBNU sebagai elemen masyarakat sipil sangat mendorong penerapan hukuman mati bagi koruptor agar dapat memberikan efek jera. Selain itu lanjutnya, aparat penegak hukum diminta dapat kerja keras untuk membongkar juga mencegah tindakan korupsi hingga menyeret pelaku ke pengadilan tanpa pandang bulu.

Penegakan hukum dinilai belum konsisten sehingga pemberantasan korupsi tidak maksimal, meskipun, pemerintah sudah memiliki undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juga pembentukan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Semestinya, kita komitmen untuk melaksanakan UU Tipikor yang sudah dibuat dan harus dilaksanakan," ujarnya.

Ulama Salaf Online

Terus merebaknya kasus korupsi, akibat penegakan hukum belum maksimal dengan memberikan hukuman ringan dan tidak memberikan efek jera. Selain itu juga seseorang yang melakukan korupsi akibat lemahnya keimanan kepada Allah SWT, sehingga mereka hidup pragmatis hedonisme dengan mengejar kekayaan dengan cara melanggar hukum negara dan agama.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor: Candra Zaini

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Olahraga, Anti Hoax, Kiai Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock