Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting

Pringsewu, Ulama Salaf Online

Ketertiban dan kelengkapan administrasi dalam sebuah organisasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh pengurus. Tertib administrasi dimaksudkan untuk menunjang kelancaran semua program yang telah disusun sekaligus cermin keseriusan dalam mengelola organisasi.

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting

Pentingya hal tersebut ditindak lanjuti oleh PCNU Pringsewu dengan menggelar Lomba Majelis Wakil Cabang Nahadlatul Ulama (MWCNU) dan Ranting NU sehat yang penilaiannya digelar selama 4 bulan mulai Februari sampai dengan Mei 2016.?

Kegiatan yang merupakan salah satu rangkaian menyambut Harlah ke-93 NU pada 16 Rajab 1437 H ini akan menilai sisi kelengkapan administrasi organisasi disamping beberapa kriteria lainnya.

Menurut Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, Lomba ini diharapkan dapat memicu kesemangatan NU di tingkat kecamatan dan ranting untuk menata ulang keadministrasian masing masing.?

Ulama Salaf Online

"Surat menyurat, dokumen kegiatan dan keberadaan Plang merupakan perwajahan sebuah organisasi. Hal ini juga bisa menjadi tolok ukur keaktifan dan keberhasilan organisasi," katanya, Rabu (17/02/16).

Taufiq menambahkan bahwa Lomba ini akan diikuti oleh seluruh tingkatan kepengurusan yang terdiri 9 MWC dan 124 Ranting yang ada di Kabupaten Pringsewu. "Untuk memperlancar program ini, PCNU Pringsewu telah menyusun Tim yang bertugas menilai kelengkapan yang telah ditentukan serta Tim Pendamping yang bertugas membina serta mengarahkan hal-hal yang diperlukan untuk menyukseskan lomba ini," jelasnya.

Untuk memberikan stimulus dalam kegiatan Lomba ini, PCNU Pringsewu, jelas Taufiq, sudah menyiapkan bentuk Apresiasi bagi pemenang lomba. "Bagi MWC dan Ranting yang memiliki kelengkapan administrasi paling lengkap akan mendapatkan satu set komputer dan dana pembinaan," terang Taufiq sekaligus berharap Komputer tersebut dapat membantu kelancaran administrasi organisasi.

Taufiq juga berharap setelah program ini dilaksanakan seluruh tingkatan dapat mempertahankan ketertiban administrasi yang telah disusun selama lomba. "Tentunya tertib organisasi ini tidak hanya dilakukan selama lomba saja namun setelah lomba selesai semua tingkatan dapat mempertahankannya sekaligus merawat dokumen organisasi untuk kelanjutan program di masa yang akan datang," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Doa Ulama Salaf Online

Sabtu, 10 Februari 2018

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Ulama Salaf Online. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Ulama Salaf Online

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ulama Salaf Online

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online AlaNu, Doa, Hadits Ulama Salaf Online

Sabtu, 03 Februari 2018

LAZIS NU Se-Indonesia Serentak Sembelih Hewan Kurban

Jakarta, Ulama Salaf Online. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZIS) NU Se-Indonesia secara serentak akan memulai penyembelihan hewan kurban pada Rabu, 17 November 2010. Penyaluran hewan kurban pada tahun ini diprioritaskan ke daerah-daerah yang mayoritas penduduknya adalah dhuafa.

“Sesuai dengan keputusan PBNU bahwa Idul Adha jatuh pada hari Rabu, maka LAZIS NU se-Indonesia akan memulainya Rabu pagi setelah salat Ied. Mudah-mudahan berjalan dengan lancar,” tegas KH Masyhuri Malik, Ketua LAZIS PBNU kepada Ulama Salaf Online Selasa, 14 November 2010.

LAZIS NU Se-Indonesia Serentak Sembelih Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS NU Se-Indonesia Serentak Sembelih Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS NU Se-Indonesia Serentak Sembelih Hewan Kurban

Sementara itu, Bendahara LAZIS PBNU, Agus Salim Thoyib menyatakan, “Kami terus berkoordinasi dengan LAZIS Wilayah, Cabang, dan Cabang Luar Negeri untuk meningkatkan jumlah hewan kurban. Namun yang terpenting bagaimana agar kurban tepat sasaran. Hewan kurban juga ada yang kita kirim ke Merapi dan Mentawai.”

Ulama Salaf Online

Peningkatan jumlah hewan kurban yang diterima LAZIS NU tahun ini meningkat cukup cukup signifikan. “Hasil koordinasi di daerah-daerah, peningkatan penerimaan hewan kurban naik hingga 70 persen,” ujar Mohamad Zuhdi, Sekretaris LAZIS PBNU.

Ulama Salaf Online

Selain itu, pemilihan hewan kurban yang disalurkan oleh LAZIS NU juga melalui pemerikasaan yang cukup ketat. LAZIS NU juga bekerjasama dengan pihak terkait untuk memeriksa kesehatan hewan yang akan disembelih. “Kalau tidak hati-hati, kurban bisa menimbulkan penyakit karena daging yang tidak sehat. Makanya sebelum disembelih kami telah memeriksanya dengan teliti,” lanjut Zuhdi.

LAZIS NU juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dermawan yang telah memercayakan kurban melalui LAZIS NU. “Kami atas nama LAZIS NU, menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas kepercayaan yang diberikan kepada kami,” pungkas Agus Salim.

Pengelolaan hewan kurban adalah salah satu bagian penting dari tugas pokok dan fungsi LAZIS NU. Program-program yang ditangani LAZIS NU berorientasi menibgkatkan kesejahteraan masyarakat. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Islam, Nahdlatul Ulama, Doa Ulama Salaf Online

Kamis, 01 Februari 2018

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Depok, Ulama Salaf Online. Sejak pagi, ribuan warga Nahdliyin Kota Depok tampak gembira. Dengan berseragam batik hijau, anggota Fatayat-Muslimat memenuhi aula Masjid Dian Al-Mahri Jl Meruyung Raya Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (15/5).

Mereka bersiap sejak kemarin untuk menyambut kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang dijadwalkan melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Depok periode 2013-2018.

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Dalam pantauan Ulama Salaf Online, di sepanjang jalan menuju masjid yang kerap disebut Masjid Kubah Mas ini tampak bendera NU yang melambai-lambai dari pepohonan rindang. Beberapa jamaah Nahdliyat tampak berjalan santai menuju aula masjid tempat pelantikan digelar. Bus-bus dan kendaraan pribadi berdatangan sejak pagi hingga menjelang siang. Aparat keamanan baik negeri (Polisi) maupun swasta (Banser) tampak berjaga-jaga di beberapa titik.

Ulama Salaf Online

Dalam pidato pengarahannya selaku Ketum PBNU, Kiai Said menyatakan pentingnya Nahdliyin Depok memahami garis perjuangan NU. Selain mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), NU Depok juga harus mendakwahkannya. Hal ini dilakukan agar bangsa ini tidak pecah, tidak tercabik-cabik, dan tererai-berai. Agama Islam harus dipahami dan dikaji, bukan dilembagakan.

Ulama Salaf Online

“NU tidak butuh negara Islam. Sayang kalau namanya sudah kadung jadi negara Islam tetapi pejabatnya banyak yang korupsi, banyak yang dipanggil KPK. Malu nggak Islam? Makanya, NU lebih memilih negara kebangsaan, negara nasionalis, tetapi berakhlak mulia,” kata Kang Said.

Hal ini, lanjutnya, seperti Nabi Muhammad SAW ketika dari kota Mekah ke kota Yatsrib. Pada waktu itu, Rasulullah mendapati masyarakat yang plural. Ada orang orang Islam: Auz dan Khazraj, ada pula non muslim, Yahudi: Bani Quraidhah, Bani Qainuqa’, Bani Nadlir. Makanya di Quran banyak ayat yang mengajak bicara orang Yahudi. Artinya penduduk Yatsrib itu multikultural.

“Lalu, Rasulullah membuat perjanjian yang disepakati bersama antara kaum muslimin dan non muslim. Perjanjian tersebut terkenal dengan sebutan Mitsaq al-Madinah. Rasulullah menegaskan, Ini ketetapan Muhammad untuk semua warga, asal satu cita-cita, satu visi-misi, satu garis perjuangannya sesungguhnya mereka itu umat yang satu,” papar Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah Saudi Arabia ini menambahkan, Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah negara yang diikat dengan satu cita-cita dan visi-misi. Tidak diikat dengan dasar agama atau kesukuan. Nabi tidak mendeklarasikan negara berbasis agama dan suku karena di dalamnya ada Muslim dan non-Muslim, ada Arab dan non-Arab.

“Anehnya, dalam perjanjian Madinah itu sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawiyah juz II halaman 61, 2 setengah halaman tidak ditemukan kata-kata Islam sama sekali. Artinya Nabi membangun masyarakat berbasis budaya dan peradaban,” tegas Kiai Said.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Said, yang asalnya bernama Yatsrib berubah nama menjadi Madinah yang berarti peradaban (berasal dari kata tamaddun, madaniyyah, masyarakatnya disebut mutamaddin). Warganya yang benar dilindungi, yang salah dihukum. Negara seperti ini disebut Negara Madinah.

“Contohnya, ada sahabat membunuh orang Yahudi. Nabi marah besar. Barangsiapa membunuh nonmuslim berhadapan dengan saya, saya advokatnya nanti. Dan barangsiapa yang berhadapan dengan saya, maka tidak akan masuk surga,” ujar Kiai Said. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Doa, Hadits Ulama Salaf Online

Rabu, 03 Januari 2018

Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Kudus, Ulama Salaf Online. Mbah Arwani satu-satunya kiai di Kudus yang pada masa hayatnya berpenampilan meneladani Nabi Muhammad SAW. Kiai yang alim dalam bidang Al-Qur’an ini, membawa sisir ke mana saja untuk menjaga penampilan dan kerapian.

Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Demikian dikatakan Mustasyar PBNU KH Sya’roni  Ahmadi saat menerangkan sifat dan tabiat Nabi Muhammad SAW kepada jamaah pengajian rutin Tafsir Al-Quran di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Jum’at (9/5) pagi.

KH Sya’roni menceritakan, Nabi Muhammad mempunyai rambut panjang tidak lebih sampai telinga, mbah Arwani juga menjaga rambutnya hingga telinga.

Ulama Salaf Online

“Seperti juga yang dilakukan kanjeng Nabi,  Mbah Arwani juga selalu membawa sisir untuk merapikan  rambut usai melaksanakan wudhu,” kata KH Sya’roni.

Ulama Salaf Online

Mbah Arwani selalu memakai cincin Seloko bukan cincin batu akik seperti yang dipakai kebanyakan orang. Sebab, cincin Nabi yang dipakai juga berupa seloko. “Tidak ada ulama yang bisa meniru prilaku kanjeng nabi kecuali mbah Arwani,”tegas KH Sya’roni.

Mengenang sosok Mbah Arwani,  Pengurus Bidang Media ISNU Kudus Rosidi menuturkan hal yang berbeda. Menurutnya, Mbah Arwani pernah menerima penghargaan “Al-Qoriul Kabir” dari pemerintah Arab Saudi pada tahun 2009.

“Ia menerima gelar itu karena karya tulisnya kitab Faidh al-Barakat fi as-Sabi’a Qira’at.  Mbah Arwani mempunyai tradisi menulis karya yang patut menjadi inspirasi dan teladan bagi santri dan generasi masa kini,” kata Rosidi saat memberi motivasi menulis santri di Madrasah Aliyah NU TBS.

KH Arwani merupakan ayahanda  Rais Syuriyah PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani. Ia lahir pada 15 Rajab 1323 H bertepatan dengan 5 September 1905 M di kampung Kerjasan Kota Kudus Jawa Tengah. iamendirikan pesantren Yanbu’ul Qur’an.

Pada 1 Oktober 1994 M, Mbah Arwani Wafat dalam usia 92 tahun (dalam hitungan Hijriyah) dan dikebumikan di kompleks pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus. Hingga kini makamnya selalu ramai diziarahi para santri dan masyarakat Kudus dan sekitarnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa, AlaNu Ulama Salaf Online

Selasa, 02 Januari 2018

Panji NU di Karnaval Budaya Bumiayu

Brebes, Ulama Salaf Online . Bendera dan replika lambang NU menghiasi pawai Karnaval Tradisi dan Budaya Bumiayu Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Ahad Sore (8/9). Panji-panji NU tersebut diusung siswa siswi SMA Bustanul Ulum NU Bumiayu. 

“Hidup NU, NU pertahankan tradisi Islami,” teriak anak-anak SMA BU NU lewat pengeras suara saat arak-arakan karnaval yang menyedot  puluhan ribu warga. Sambil melambai-lambaikan tangan kepada seluruh penonton dan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, anak-anak NU itu melantunkan shalawat Nabi. 

Panji NU di Karnaval Budaya Bumiayu (Sumber Gambar : Nu Online)
Panji NU di Karnaval Budaya Bumiayu (Sumber Gambar : Nu Online)

Panji NU di Karnaval Budaya Bumiayu

Tidak hanya itu anak-anak SMA BU NU menampilkan marching band Jagadraya. Marching band tersebut selalu dinanti masyarakat Bumiayu karena telah berprestasi tingkat nasional sejak tahun 1990-an.

Ulama Salaf Online

Ketua Majelis Wakil Cabang NU Bumiayu H Taufiq Tohari bangga bisa berpartisipasi dalam pawai HUT ke-68 Kemerdekaan RI. “Kami bangga, dari unsur NU tampil memikat hati masyarakat,” kata Taufiq di sela menyaksikan jalannya karnaval dari atas panggung penghormatan. 

Ulama Salaf Online

Selain penampilan replika lambang NU dan panji-panji NU juga mengusung tokoh-tokoh NU dari periode ke periode. Termasuk penegasan NU sebagai organisasi yang plurarisme yang mengakui perbedaan di bumi Indonesia. 

Tampak juga pasukan pencak silat Pagar Nusa yang merupakan seni bela diri milik NU. Tidak ketinggalan iringan rebana dan seni tradisional Kuntulan. “Seni Kuntulan pernah jaya di Bumiayu saat kepemimpinan Haji Basori era 70-an,” kata H Faris Sulhaq yang juga mantan Wakil Bupati Brebes.

Sindiran terhadap hukuman kematian bagi para koruptorpun diusung para peserta dari SMU BU NU. Sekelompok orang mengusung keranda sementara di belakangnya terlihat setan-setan perempuan. Menggambarkan, para koruptor yang tidak langsung ke kuburan, tetapi akan menjadi setan yang gentayangan. 

Ketua Panitia HUT RI Bumiayu H Taryono menjelaskan, kegiatan Karnaval merupakan rangkaian kegiatan HUT. Sebanyak 154 peserta yang terdiri dari kelompok masyarakat, anak sekolah bahkan partai politik berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. “Kami mempersilahkan partai atau calon legislatif memeriahkan acara karnaval, tetapi dilarang meneriakan yel-yel,” pungkasnya.

Pawai yang dimulai pukul 12.00 itu berakhir hingga bada Maghrib. Arus lalu lintas terpaksa dialihkan ke jalan lingkar Bumiayu  untuk menghindari kemacetan. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pesantren, Doa, Kyai Ulama Salaf Online

Jumat, 29 Desember 2017

Muslim Tengger Idul Adha 17 November

Lumajang, Ulama Salaf Online. kaum muslimTengger yang berada di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, akan melaksanakan shalat Idul Adha pada Rabu (17/11). Mereka mengikuti Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah yang menetapkan Idul Adha pada Rabu besok.

Pejabat sementara (Pjs) Kepala Desa Argosari, Martiam, pada Senin (15/11), mengatakan jika kaum muslim Tengger menjalankan ibadah shalat Idul Adha sesuai dengan ketetapan pemerintah dan juga NU.

Muslim Tengger Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Tengger Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Tengger Idul Adha 17 November

"Kaum muslim Tengger akan berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di desa setempat untuk menunaikan shalat Idul Adha. Perbedaan pelaksanaan shalat Id tidak menjadi masalah bagi mualaf Tengger karena warga Tengger sangat menghargai toleransi dan perbedaan yang ada,”tutur Martiam.

Ulama Salaf Online

Perbedaan itu biasa saja. Kami semua di Tengger katanya, tidak terlalu menganggap perbedaan itu hal penting karena agama adalah persoalan keyakinan masing-masing dan sepenuhnya hak masing-masing untuk menunaikan shalat Id.

Menurut Martiam , di Desa Argosari, terdapat lima dusun yakni Dusun Pusung Dhuwur, Dusun Gedok, Dusun Puncak, Dusun Bakalan dan Dusun Argosari. Sedangkan mualaf Tengger terbanyak berada di Dusun Gedok, sedangkan empat dusun lainnya masih banyak warga Tengger yang beragama Hindu dan jumlah mualaf Tengger di empat dusun itu masih sedikit.

Ulama Salaf Online

Meski demikian, lanjut Martiam warga Tengger yang beragama Islam hidup rukun berdampingan dengan warga Tengger yang beragama Hindu, bahkan toleransi beragama dijunjung tinggi oleh Suku Tengger.

"Toleransi umat beragama di sini masih tinggi, sehingga suku Tengger saling menghormati, meski keyakinannya berbeda. Mereka yang beragama Hindu menghormati pelaksanaan shalat Id yang dilakukan mualaf Tengger," terang mualaf Tengger yang masuk Islam pada tahun 2004 itu.

Hingga kini, jumlah mualaf Tengger di Desa Argosari bertambah dua orang menjadi 298 orang. "Biasanya sejumlah lembaga Islam dari berbagai daerah membagikan hewan kurban kepada seluruh mualaf Tengger yang berada di Desa Argosari," katanya.

Setelah Shalat Id menurut Martiam, biasanya kaum muslim Tengger akan pulang ke rumah masing-masing dan tidak menunggu pembagian daging kurban seperti di sejumlah daerah yang antre untuk menerima sebungkus daging kurban.

"Memang sejak dulu, warga Tengger enggan mengantre hanya untuk menunggu pembagian hewan kurban karena mereka malu menerima bantuan itu,"ujar Martiam.(amf/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Santri, Doa Ulama Salaf Online

Jumat, 22 Desember 2017

Masjid Harus Jadi Pusat Ekonomi Umat

Jakarta, Ulama Salaf Online. Sudah waktunya umat Islam membuat masjid-masjid di seluruh tanah air lebih berdaya sehingga mampu menjadi pusat-pusat pemberdayaan ekonomi umat, kata Khatib Aam PBNU Prof Dr Nasaruddin Umar.

"Di Turki, hampir semua mesjid mengelola supermarket sehingga masjid bisa mandiri dan membiayai ulama dan dakwahnya, dan selanjutnya memberdayakan umatnya. Itu yang harus dicontoh," kata Nasaruddin kepada wartawan di Jakarta, Rabu.

Nasaruddin yang juga Dirjen Bimas Islam, Depag tersebut menyatakan bahwa potensi yang ada dalam masyarakat Islam untuk membuat sekitar 643 ribu masjid di Indonesia lebih berdaya, sangat besar, sayangnya selama ini bersifat pasif.

Masjid Harus Jadi Pusat Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Harus Jadi Pusat Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Harus Jadi Pusat Ekonomi Umat

Dari suatu penelitian, potensi zakat dari umat Islam Jabotabek jika diberdayakan mampu membangun lima masjid Istiqlal setiap tahun, yang berarti umat seharusnya mampu menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi Islam.

Sementara itu, potensi wakafnya juga sangat berlimpah ruah dengan total tanah wakaf seluas 600km2 sama dengan luas negara Singapura yang kalau saja diberdayakan akan membuat umat Islam lebih mandiri dalam perekonomiannya.

"Di Mesir, pemerintahnya bahkan meminjam modal kepada Lembaga wakaf Yayasan Al Azhar Mesir, ini mencerminkan bagaimana kemampuan yayasan wakaf jika saja diberdayakan," kata tokkoh asasal Sulsel tersebut.

Ulama Salaf Online

Paradigma umat memberdayakan masjid seperti selama ini, ujarnya, harus dibalik menjadi masjid memberdayakan umat dan karena itu mesjid harus berdaya.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah tersebut juga mengandaikan Dana Abadi Umat (DAU) lebih digunakan untuk memberdayakan umat dalam arti yang sebenarnya, bukan untuk hal-hal yang tak berhubungan dengan pemberdayaan umat seperti dilakukan di masa lalu.

Mengenai dipisahkannya Ditjen Bimas Islam dari Ditjen Penyelenggaraan Haji, ia juga menyatakan puas karena dengan cara ini masalah pemberdayaan umat yang selama ini tertutup oleh masalah haji, akan dapat terangkat.

"Permasalahan umat Islam sangat luas dan banyak, selama ini tak tertangani dengan fokusnya Depag ke masalah haji. Sayangnya anggaran Ditjen Bimas Islam hanya 1,2 persen dari anggaran Depag yang pada 2007 hanya mendapat pagu Rp105,74 miliar," keluhnya. (ant/mkf)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Olahraga, Pondok Pesantren, Doa Ulama Salaf Online

Selasa, 12 Desember 2017

Pendidikan Kader GP Ansor Lebak Kuatkan Keaswajaan dan Keindonesiaan

Jakarta, Ulama Salaf Online - Pengurus GP Ansor Kabupaten Lebak menggelar Diklat Terpadu Dasar (DTD) kader-kader Ansor se-Kabupen Lebak, Jumat-Ahad (3-5/2). Kegiatan yang bertema Membangun Militansi Organsiasi, Memperkokoh NKRI ini diikuti oleh 140 peserta dari 28 kecamatan di Kabupaten Lebak.

Masing-masing kecamatan mengirimkan lima kader terbaiknya.

Pendidikan Kader GP Ansor Lebak Kuatkan Keaswajaan dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Kader GP Ansor Lebak Kuatkan Keaswajaan dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Kader GP Ansor Lebak Kuatkan Keaswajaan dan Keindonesiaan

“Di masa kepengurusan saya yang belum dilantik ini, DTD diselenggarakan pertama kali di Lebak Banten. Tugas saya memang untuk menyiapkan kader-kader Ansor yang militan, yang berkomitmen membela Aswaja dan NKRI,” ujar Ketua GP Ansor Banten Ahmad Nuri yang baru terpilih beberapa minggu lalu.

Ketua GP Ansor Lebak Ade Bujhaerimi mengatakan, target utama penyelenggaraan DTD ini adalah memperkuat komitmen kader Ansor yang tersebar di seluruh daerah di Lebak.

Ulama Salaf Online

“Kami ingin mencetak kader-kader Ansor dan Banser yang militan dalam menjaga Islam Aswaja serta NKRI,” ujar Ade yang juga Ketua KPID Banten ini.

“Masing-masing kecamatan kita minta lima kader dari desa yang berbeda-beda. Masing-masing kecamatan ke depan kita arahkan membuat diklat serupa dengan peserta lima orang per desanya. Insya Allah akan muncul ribuan kader-kader Ansor ke depan,” ujarnya.

Ulama Salaf Online

Bupati Lebak Hj Iti Octavia menyambut gembira dan bangga kegiatan Ansor ini. Bupati perempuan pertama di Kabupaten Lebak ini berharap, GP Ansor bisa terus bersinergi dan bermitra dengan pemerintah setempat dalam kegiatan pembangunan.

“Pemuda harus bergerak dengan militan, ada atau tidak ada dana. Organisasi nalurinya seperti itu. Mari kita bersama-sama membangun Lebak tercinta dan Pemda akan senantiasa siap bersinergi,” ujarnya.

Sementara Kepala Kementerian Agama Wilayah (Kakanwil) Banten H Bazari Syam mengatakan, NKRI bisa kokoh berdiri tak lain karena peran NU dan juga Ansornya. Hanya organisasi keagamaan inilah yang lunak dan fleksibel, namun juga militan.

Tampak hadir juga di acara pembukaan Sekda Lebak Dede Jaelani, Kepala-kepala Dinas, Ketua PCNU Lebak H Anda, Kapolres Lebak, Dandim Lebak, para kiai, dan berbagai aktivis kepemudaan.

Pemateri yang hadir antara lain adalah Moh Husen (DPRD Kabupaten Lebak), Eli Mulyadi (DPRD Propinsi), Iyan Fitriyana (MUI Banten), Nurul H Maarif (Pesantren/Kampus) dan banyak lagi. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa, Ubudiyah Ulama Salaf Online

Sabtu, 09 Desember 2017

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Raden Sutisna Sendjaya lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M dan wafat di Bandung pada 11 Desember tahun 1961. Selain sebagai tokoh NU, ia sangat dikenal sebagai tokoh pers di Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, ia lanjutkan hingga tingkat wilayah. Tahun 1948 menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Selain aktif di NU, ia juga salah seorang tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan.

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Dalam dunia jurnalistik, selain di Al-Mawaidz, ia pernah menjadi redaktur di beberapa surat kabar pada masa penjajahan Belanda seperti Silliwangi (1921-1922). Aktif menulis di surat kabar Sipatahoenan (1923). Dalam menulis, ia sering menggunakan inisial Sutsen.

Ulama Salaf Online

Pendidikan Sutsen ditempuh di Sakola Raja (KweekSchool) di Bandung pada tahun 1911. Sutsen pernah mengajar di HIS Banten kemudian di HIS Bandung. Kemudian ia melanjutkan belajar ke HKS, dan kemudian melanjutkan kembali kegiatan mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

Ulama Salaf Online

Pada zaman penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo Sangi in. Kemudian menjadi koordinator pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.

Pada zaman penjajahan Belanda, Sutsen bersama pengurus NU Tasikmalaya seperti KH Ruhiat (ayah dari Rais Aam PBNU KH Ilyah Ruhiat), berpandangan, gelar ulil amri bagi pemerintah kolonial harus dipandang sebagai suatu siyasi (politik). Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahan yang sah, tetapi statusnya tetaplah penguasa asing yang hanya berkuasa secara politik.

Dengan demikian, pemerintah hanya berwenang mengatur masyarakat berkaitan urusan politik. Masalah lain seperti keagamaan, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menjadi panutan rakyat. ?

Zaman kemerdekaan, pada tahun 1952, Sutsen menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Kemudian bersama teman-temannya kembali aktif dalam jurnalistik. Ia menerbitkan mingguan berbahasa Sunda Kalawarta Kudjang (1956) dan bertindak sebagai pemimpin redaksi. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pemurnian Aqidah, Doa Ulama Salaf Online

Jumat, 08 Desember 2017

Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI

Jakarta, Ulama Salaf Online?



Sekitar 13 oraganisasi massa (ormas) Islam yang tergabung di Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mendukung pemerintah untuk membubarkan HIzbut Tahrir Indonesia. ? Pernyataan tersebut disampaikan di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (1/6).

Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI

Ketiga belas ormas Islam tersebut adalah Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikadi, Azzikra, Syarikat Islam Indonesia, Alwashliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Ummat Islam, dan HBMI.?

Pernyataan ormas-ormas tersebut disampaikan Sekretaris Umum LPOI ? Lutfi A. Tamimi didampingi Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia ? Wiranto dan Ketua DPD RI Osman Sapta Odang.?

Selain mendukung pembubaran HTI, LPOI juga mendukung untuk menjaga keutuhan NKRI, mendukung presiden untuk mengemban jabatan sampai akhir periode, pemberantasan narkoba, dan terorisme.?

Ulama Salaf Online

Berikut pernyataan lengkap LPOI tersebut.?



Ulama Salaf Online

1. Membela dan menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2. Mendukung Presiden sebagai kepala negara yang dipilih secara konstitusional sampai masa jabatannya berakhir.?

3. Mendukung upaya pemerintah dalam memerangi terorisme dan radikalisme dalam segala bentuk.

4. Mendukung pemerintah dalam memerangi narkoba dan korupsi

5. Menindak tegas ormas-ormas radikal dan media sosial yang memecah belah bangsa

6. Lembaga Persahabatan Ormas Islam mendukung Pemerintah Republik Indonesia membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia.?

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa Ulama Salaf Online

Rabu, 06 Desember 2017

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Jakarta, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima kunjungan dan silaturrahim elit pengurus Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sore ini, Jumat (8/1) di Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164.

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Kedatangan elit partai pemenang pemilu 2014 itu dalam rangka mengundang secara khusus Ketua Umum dan Sekjend PBNU ke acara Rakernas dan Harlah PDI-P pada tanggal 10 Januari 2016 di JJC Kemayoran Jakarta Pusat.

Dalam sambutannya, Sekjend PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa ada banyak kesamaan visi antara PBNU dengan PDIP terutama yang menyangkut pendampingan wong cilik dan program-program kerakyatan.

Ulama Salaf Online

“PDIP memiliki visi memberdayakan rakyat kecil dan itu sejalan dengan visi NU yang sangat peduli pada rakyat kecil,” tandas Hasto.

Ulama Salaf Online

Sementara itu, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah menceritakan, ia telah melaporkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri soal dirinya yang bergabung dalam kepengurusan LAZISNU periode 2015-2020 ini. Menanggapi hal itu Megawati sangat berbahagia dan mendukung sepenuhnya.

Sementara itu dalam sambutannya KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa PDIP sebagai partai penguasa hendaknya harus terus bersinergi dengan ormas-ormas yang ada untuk urusan sosial kemasyarakatan.

Selain itu, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta itu juga banyak memberi masukan soal keadaan terkini dunia Islam terutama soal kondisi konflik yang mendera negara-negara teluk di kawasan Timur Tengah.

“Di saat negara-negara teluk berkonflik, kita di Indoenesia harus memberi contoh, bahkan harus siap memediasi,” tandas Kang Said.

Lebih Lanjut, Sekjen HA Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Indonesia sangat siap untuk menjadi juru damai dan mediator konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran ini.

“Kita sangat siap untuk menjadi juru damai konflik negara-negara teluk yang sangat meresahkan itu. Kedua negara baik Iran mapun Arab Saudi adalah representasi negara Islam. Jadi sebagai sesama muslim kita siap membantu mengatasi konflik,” ujar Kang Helmy.

Selain KH Said Aqil Siroj dan H Helmy Faishal Zaini, hadir juga Bendum PBNU, Bina Suhendra, Wasekjen PBNU H Imam Pituduh, dan H Ishfah Abidal Aziz.

Sementara dari pihak PDIP rombongan terdiri dari Sekjen Hasto Kristiyanto, Wasekjen Ahmad Basarah serta beberapa pengurus harian lainnya. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa, Makam, Berita Ulama Salaf Online

Jumat, 24 November 2017

Pelajar NU Klaten Latih Dai Muda

Klaten, Ulama Salaf Online . Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kabupaten Klaten menggelar training dai-daiyah muda di Klaten, Jawa Tengah pada Ahad, (14/7).

Pelajar NU Klaten Latih Dai Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Klaten Latih Dai Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Klaten Latih Dai Muda

Ketua PC IPNU Kabupaten Klaten Ahmad Saifuddin mengatakan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi beberapa hal. Di satu sisi, sudah banyak muncul orang yang baru hafal satu dua ayat maupun hadits, lalu berani berdakwah, bahkan berfatwa. 

Di sisi lain, banyak pendakwah yang justru lebih mementingkan aspek hiburan semata, sehingga menjadi sasaran tembak untuk membunuh karakter pendakwah. 

Ulama Salaf Online

“Dalam training ini, peserta akan dibekali retorika dakwah dan cara menghadapi masyarakat sebagai lahan dakwah serta berbagai tips menjadi pendakwah super”, ungkapnya.

Ulama Salaf Online

Lebih lanjut Saifuddin mengatakan, training tersebut bukan merupakan “produksi satu kali langsung jadi”, namun lebih pada sebuah langkah awal untuk membangkitkan motivasi dan mental para kader muda untuk berani berdakwah dan menyiapkan diri mereka untuk menegakkan kebenaran Islam. 

Sehingga, diharapkan akan ada tindak lanjut dari para peserta dan panitia untuk membentuk karakter pendakwah yang berkualitas.

Training tersebut diikuti 54 peserta dari berbagai kecamatan, bahkan ada yang dari luar Klaten, misalnya Boyolali. 

Kegiatan tersebut dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama, Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Drs. Syamsuddin Asyrofi, MM menyampaikan "retorika dakwah". 

Sesi kedua, salah seorang pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Klatenh KH. Drs. Munawwir menyampaiakn materi “memahami masyarakat sebagai lahan dakwah. 

Sementara sesi tiga, para peserta mempraktikan apa yang disampaikan para pemateri. Sementara pemateri sendiri memberikan masukan demi meingkatnya kualitas para peserta.

Pada pembukaan kegiatan bertema “Menjadi Pendakwah Super” hadir sejumlah tokoh NU Klaten, badan otonom-badan otonom NU Klaten, dan juga dewan Pembina IPNU-IPPNU Klaten. Hadir juga perwakilan dari pemerintah, seperti perwakilan dari bupati, MUI, Kementerian Agama, dan Dinas Pendidikan Klaten. 

Redaktur: Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa, Amalan, Humor Islam Ulama Salaf Online

Senin, 20 November 2017

Kenapa Merokok Batalkan Puasa?

Keisengan selalu muncul di waktu senggang. Pengasuh pesantren Gedongan Cirebon KH Mukhlas yang sudah sepuh itu hadir dalam pelantikan pengurus baru pelajar NU Cirebon. Acara pelantikan belum juga selesai. Padahal melantik tidak perlu makan waktu lama. Yang penting kan aksinya.

Dari sinilah keisengan muncul. Ia duduk di salah satu ruang di kantor PCNU Cirebon dikelilingi 3 santri. Entah berapa batang rokok berubah menjadi abu di tangannya.

Kenapa Merokok Batalkan Puasa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Merokok Batalkan Puasa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Merokok Batalkan Puasa?

Lalu seseorang datang menyapa mereka. Usai cium tangan, yang datang menawarkan kopi atau teh manis kepada sang kiai. Yang ditawarin menjawab sambil senyum, “Kula puasa (Saya puasa).” Yang menawarkan dan yang mendengar tahu kiai sedang tidak berpuasa. Ia lalu pamit menghilang entah ke mana.

Mereka lalu meneruskan perbincangan. Sambil mencabut sebatang rokok, Kiai meminta 3 santri di sekitarnya menjawab, “Kalian tahu kenapa rokok membatalkan puasa?”

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Mereka kaget menerima pertanyaan tak terduga. Salah seorang dari mereka mencoba menjawab sekenanya. Sementara lainnya meraba-raba ke mana maksud pertanyaan sang kiai.

Udut membatalaken puasa ya asape metu maning (Rokok membatalkan puasa karena asapnya keluar lagi). Lamun bli metu, ya wis bli pa pa (Coba kalau nggak keluar, ya puasanya tidak batal),” kata Kiai Mukhlas yang sebentar serius sebentar gurau itu.

Mendengar jawaban itu, keheningan ruangan pecah oleh derai tawa mereka. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa, Tokoh Ulama Salaf Online

Minggu, 12 November 2017

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Jakarta, Ulama Salaf Online - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menggelar pendidikan istinbathul ahkam (proses pengambilan keputusan dalam hukum Islam) di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Selama dua hari, Rabu-Kamis (8-9/2), pengurus harian LBM PBNU menjelaskan teknik-teknik musyawarah, teknik menghadapi masalah, dan juga cara membuat rekomendasi ala NU.

Tampak hadir sebagai narasumber di pesantren asuhan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin ini adalah pengurus harian LBM PBNU seperti KH Abdul Moqhsith Ghozali, KH Solahuddin Al-Ayubi, KH Mahbub Ma’afi, dan KH Sarmidi Husna. Selain pria, tampak juga peserta pendidikan dari kalangan wanita.

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)
Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Menurut Sekretaris LBM PBNU Kiai Sarmidi, pendidikan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail diadakan mengingat kondisi SDM bahtsul masail yang sudah mulai berkurang. Sementara pesantren-pesantren yang memproduksi santri dengan kompetensi berbahtsul masail juga mulai berkurang.

“Sangat urgen untuk melakukan pelatihan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail di PCNU atau pesantren-pesantren yang kegiatan bahtsul masailnya kurang maksimal.”

Ulama Salaf Online

Pendidikan seperti ini, kata Kiai Sarmidi, merupakan upaya regenerasi dan kaderisasi pelaksanaan bahtsul masail guna menjaga eksistensi bahtsul masail.

“Pendidikan ini merupakan program utama LBM PBNU,” katanya. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Ubudiyah, Doa Ulama Salaf Online

Rabu, 08 November 2017

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU

Peristiwa di akhir Oktober hingga paruh awal November 1945, merupakan babak penting dalam sejarah pergolakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Bentrokan yang melibatkan massa dalam jumlah besar terjadi di Surabaya pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945.

Bentrokan terjadi antara pasukan Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan lain dengan pasukan Inggris dan pasukan sewaannya. Letusan terjadi karena upaya Belanda melalui pasukan Inggris, hendak mengambil alih kekuasaan Nusantara setelah pendudukan Jepang runtuh.

Saat Jakarta, Bandung, dan? Semarang sudah takluk, Surabaya menjadi kota yang penuh dinamika pergolakan. Bentrokan terus terjadi karena masyarakat Surabaya dan sekitarnya mempertahankan kota dari penyerbuan dengan kekuatan 6000 pasukan Inggris yang terus mencoba masuk ke Surabaya. Bentrokan massa bersenjata akhirnya memuncak pada tanggal 10 November 1945. Sedikitnya 2000 pasukan terlatih Inggris tewas berikut Brigjend AWS. Mallaby, Komandan Pasukan Inggris. Banyaknya korban di pihak Inggris sebagai pasukan terlatih, membuat Inggris kehilangan muka di kalangan militer internasional.

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU

Hari dimana pertempuran sengit tersebut terjadi kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional RI. Peristiwa 10 November 1945, “tidak bisa dipisahkan dengan keputusan Resolusi Jihad fi Sabilillah yang dikeluarkan NU,” kata Maulidah Zahro, Wakil Bendahara PP IPPNU, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Resolusi Jihad fi Sabilillah, sebuah putusan berisi sikap NU dalam mempertahankan NKRI yang baru dua bulan diproklamasikan dari penjajahan bangsa asing. Putusan Resolusi Jihad dirancang oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah 21 Oktober dan dibacakan oleh KH. Hasyim Asyari, Rois Akbar NU pada 22 Oktober 1945, hampir tiga minggu sebelum peristiwa Surabaya.

Isi putusan Resolusi Jihad antara lain berbunyi, “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”

Peristiwa bersejarah dalam bangsa ini tidak bisa dipandang sebagai sebuah kejadian yang berdiri sendiri dan tiba-tiba. Ada beberapa rangkaian pergolakan sejarah yang mengantarkan Indonesia sampai pada peristiwa 10 November 1945 tersebut.

Ulama Salaf Online

“Ada semangat yang mendukung bagaimana 10 November itu bisa hadir,” kata Maulidah.

Semangat pergerakan dan kepahlawanan melatarbelakangi peristiwa tersebut. Pembacaan terhadap peristiwa 10 November menggantung ketika mengesampingkan entitas PBNU yang pada saat itu berkantor di jalan Bubutan, Surabaya, dan semangat Resolusi Jihadnya.

Ulama Salaf Online

Nama Bung Tomo sebagai propagandis yang sanggup mendidihkan semangat rakyat Jawa Timur dimana orasi agitatifnya diteruskan melalui radio-radio, memang melekat dengan peristiwa 10 November. Tetapi fakta sejarah bahwa KH. Hasyim Asyari kerap memenuhi permintaan nasihat Bung Tomo, tidak pernah hadir dalam sejarah umum.

Siapa berani menyingkirkan nama KH. Abdul Wahab Chasbullah yang merancang putusan Resolusi Jihad fi Sabilillah dari peristiwa 10 November? Putusan ini memiliki tenaga untuk mengalirkan santri-santri dan kiai dari daerah sekitar Surabaya ke dalam kota Surabaya. Karena, putusan tersebut menyatakan bahwa pertempuran demi mempertahankan wilayah negara bernilai sebagai perang suci.

Agak berat memisahkan Hari Pahlawan dengan NU, karena “NU memiliki andil besar dalam peristiwa yang kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan,” tambah Maulidah.

Belum lagi keterlibatan laskar Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Masykur dan laskar Hizbullah dengan KH. Zainul Arifin sebagai komandan tertinggi? Kedua kiai tersebut tidak lain adalah para pemimpin NU.

Hubungan Resolusi Jihad fi Sabilillah dan Peristiwa 10 November, tertanam kuat di dalam benak warga NU meski segelintir pihak mencoba untuk mengubur fakta tersebut.

“Kesadaran sejarah 10 November memang tidak ada di dalam materi kaderisasi IPPNU. Fakta-fakta ini sudah menjadi pengetahuan umum yang saya terima dari materi ke-NUan dalam kaderisasi. Itu pun hanya sedikit disinggung, dimasukkan.”

Maulidah, yang juga pengurus Rumah Pelajar IPPNU di Ciputat mengharapkan bahwa kaderisasi IPPNU ke depan akan menegaskan isu seputar Resolusi Jihad fi Sabilillah dalam konteks peristiwa 10 November yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

“Dengan penekanan seperti itu, pemuda-pemudi NU akan sadar bahwa NU memiliki andil besar terhadap pertahanan dan kelestarian Indonesia,” kata Maulidah, Senin (5/11) sore seusai rapat dengan Pemda Palembang untuk mempersiapkan kongres XVI IPPNU di Palembang 30 November-4 Desember 2012. (Alhafiz Kurniawan/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba, Doa, Pesantren Ulama Salaf Online

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Solo, Ulama Salaf Online. Pengasuh majelis Rijalul Ansor Solo Habib Muhammad Al-Habsyi mengimbau umat Islam untuk tetap menaruh rasa hormat kepada para kiai yang berbeda wadah partai dengan mereka. Karena, sebagai warga negara para kiai memiliki hak berpolitik di partai mana pun.

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

“Orang tidak lagi hormat dan patuh pada ulama. Apabila ada ulama di partai A, maka sebagian umat yang di partai B tidak menyukai ulama tersebut,” terang Habib Muhammad yang merupakan cucu penulis kitab Simthud Durar Habib Ali Al-Habsyi menyayangkan sikap umat Islam demikian, Rabu (5/3).

Menurutnya, keterlibatan para kiai di ranah politik praktis menjadi berkah tersendiri. Sekurangnya mereka dapat memperbaiki kondisi politik, yaitu mengisi pemerintahan dengan jiwa keulamaan.

Ulama Salaf Online

Ia berharap, para ulama yang terjun dalam lingkar kekuasaan dapat meniru jejak para khalifah yang sukses menggabungkan kesalehan dan kekuasaan kendati tidak menutup fakta bahwa sebagian kiai belum berhasil mengharmoniskan keduanya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online PonPes, Doa Ulama Salaf Online

Kamis, 02 November 2017

Bazar Murah MANU Putri Buntet Pesantren untuk Hari Raya Yatim

Jakarta, Ulama Salaf Online. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putri Buntet Pesantren, Cirebon, menggelar bazar pakaian murah di halaman sekolah tersebut. Para siswi menyerahkan pakaian masih layak guna kepada Ketua Murid masing-masing kelas. Lalu dikumpulkan di pengurus OSIS. Kemudian OSIS menjualnya ke khalayak dengan harga berkisar seribu sampai lima ribu rupiah.

Bazar Murah MANU Putri Buntet Pesantren untuk Hari Raya Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Murah MANU Putri Buntet Pesantren untuk Hari Raya Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Murah MANU Putri Buntet Pesantren untuk Hari Raya Yatim

Pembina OSIS MANU Putri Buntet Pesantren Titim Mutimmatunnur mengatakan, bazar yang berlangsung , pada Kamis (13/10) tersebut dalam rangka memperingati 10 Muharam.

“Tidak hanya baju, ada juga tas, sepatu dan lain-lain,” katanya ketika dihubungi Ulama Salaf Online.

Ulama Salaf Online

Rencananya, kata Titim, hasil penjualan bazar akan disumbangkan kepada anak yatim untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan pekan pada depan, Kamis (20/10).

Ulama Salaf Online

“Kalau dana yang terkumpul melebihi target, akan kita belanjakan untukk barang-barang yang mereka butuhkan ditambah dengan uang jajan,” tulis guru bahasa Inggris itu.

Menurut KH Faris El Haq, tiap 10 Muharam diperingati sebagai hari raya anak yatim berdasarkan hadis Nabi, "Barangsiapa yang mengusap rambut anak yatim di hari Asyuro (10 Muharam) maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat." Ia menambahkan, 10 Muharam sebagai hari raya anak yatim dikutip dalam kitab Tanbihul Ghofilin

Lebih lanjut ia menjelaskan, setidaknya ada 12 Nabi yang mendapat kemenangan di hari yang mulia itu, yakni Nabi Adam As., Nabi Idris As., Nabi Musa As., Nabi Ibrahim AS., Nabi Nuh As., Nabi Yusuf As., Nabi Yakub As., Nabi Yunus As., Nabi Sulaiman As., Nabi Daud As., Nabi Isa As. dan Nabi Muhammad Saw. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa Ulama Salaf Online

Kamis, 19 Oktober 2017

Kisah Penyebar Islam Muizin dan Muizah

Boyolali, Ulama Salaf Online. Zaman dahulu, sepasang kakak-beradik keturunan dari Kerajaan Majapahit yang bernama Muizin dan Muizah tiba di daerah Boyolali. Mereka adalah para penyebar Islam yang berkelana ke pondok-pondok pesantren dan menyebarkan agama Islam di wilayah sekitar Boyolali.

Perjuangan mereka tidak sia-sia, sampai sekarang banyak warga di daerah Mojosongo khususnya yang banyak memeluk agama Islam, bahkan di daerah tersebut juga banyak pesantren yang berdiri.

Kisah Penyebar Islam Muizin dan Muizah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Penyebar Islam Muizin dan Muizah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Penyebar Islam Muizin dan Muizah

Maka tak heran, bila setiap tahunnya warga dari empat dusun, yakni Karang Duren, Karang Andong, Pakis Taji, Karang Nongko dan juga dari daerah lain, memperingati acara haul kedua penyebar Islam itu.

Ulama Salaf Online

Tahun ini, acara haul diselenggarakan pada Sabtu malam (8/6) lalu, di kompleks makam Sono Lurus Dusun Karang Duren, Desa Methuk, Mojosongo, Boyolali. Ratusan warga dari berbagai dusun itu hadir di tempat itu untuk mendoakan para leluhur yang telah berjasa menyebarkan Islam.

“Menurut sejarah, makam ini merupakan makam kakak beradik putra dari Kerajaan Mjapahit, yang diusir keluar kerajaan karena memeluk agama Islam” kata Prihantono, salah satu panitia.

Ulama Salaf Online

Acara yang dipimpin KH Ali Mahfud itu, diisi dengan pembacaan yasin, zikir, tahlil dan doa bersama. Selain mendoakan keduanya, warga juga berdoa agar tetap dalam lindungan Allah dan diberi keselamatan dunia akhirat serta limpahan rejeki yang halal dan barokah.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Doa Ulama Salaf Online

Rabu, 11 Oktober 2017

Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang?

Jakarta, Ulama Salaf Online



Ketua Badan Pelaksana Perguruan Tinggi Nahdaltul Ulama (BPPTNU) KH Mujib Qulyubi ? mempertanyakan adakah korelasi antara tingkah laku dan cara berpikir seseorang ketika dewasa dengan pendidikan yang didapatnya saat usia dini?

Pertanyaan itu disampaikannya saat membuka Seminar Nasional “Prospek dan Tantangan Guru PAUD pada Era Global” yang digelar Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) di Auditorium PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (29/4).

Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Korelasi Pendidikan Dini dengan Saat Dewasa Seseorang?

“Sekali lagi saya ingin tanyakan, adakah korelasi maksimal anak-anak yang mengikuti pendidikan dini dengan ketika sudah dewasa? Kalau ada, maka tantangan kita saat ini adalah menanamkan rasa cinta agama sekaligus cinta tanah air dan bangsa kepada anak-anak usia dini,” urai Kiai Mujib.

Kiai Mujid menyebut realitas saat ini menyatakan di lima negara di Timur Tengah yaitu Siria, Afganistan, Irak, Somalia, dan Yaman belum juga kunjung damai, padahal di sana banyak kiai, ulama, dan PAUD.

“Pihak-pihak yang ada, hari ini bersama-sama tetapi di kesempatan lain bisa saling bermusuhan. Pimpinan dan orang-orang dewasa di sana menanamkan kepada jamaah agar mencintai agama lebih besar daripada kepada bangsa,” papar kiai yang juga Khatib Syuriah PBNU.

Ulama Salaf Online

Kiai Mujib menegaskan pada titik itulah PAUD di Indonesia harus mendesain sedemikian rupa pola dan sistem pengajaran agar peserta didik memiliki kecintaan kepada negara, selain kepada agama, seperti yang dikembangkan di Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

Ulama Salaf Online

“Banyak yang mencirikan bahwa orang Islam yang melakukan istighotsah, membaca doa qunut saat salat subuh, tawasul, atau tahlilan adalah pengikut NU. ? Itu betul, tetapi tak sempurna bila tidak masuk ke kepribadian NU. Anak didik yang sesuai dengan NU diajarkan dua pilar, ada harakah (gerakan), ada fikrah (pemikiran),” lanjutnya.?

Kaitannya dengan PAUD ke depan, Kiai Mujib menyebut harakah NU meliputi berbagai dinamika seperti ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.?

“Sementara fikrah ideologi akidah anak didik kita bekali militansi akidah yang betul menurut aswaja,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba, Daerah, Doa Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock