Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan

Blitar, Ulama Salaf Online. Resolusi Jihad NU yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 merupakan kepawaian pembacaan para kiai NU terhadap situasi bangsa saat itu. Keberhasilan itu harus diikuti NU pada situasi sekarang ini.

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan

Menurut Ach. Dofir Zuhri, bahwa semua kader NU harus mengembalikan nalar kritis dalam mebaca situasi bangsa ini, karena pada zaman sekarang tantangan NU dan bangsa ini sangat kompleks, mulai ekonomi, budaya, politik dan lain sebagainya.

“Untuk itu mengembalikkan nalar kritis sangat penting dalam kondisi saat ini yakni perang dingin atau perang ideologi,” katanya pada Bedah Film dan Refleksi Sejarah peringatan Resolusi Jihad NU yang digelar Lakpesdam NU Kota Blitar di Aula Masjid Agung, Sabtu, (26/10).

Ulama Salaf Online

Selain itu menurut narasumber Drs. Syaiful Maarif, bahwa NU sekarang belum memiliki ulama yang memiliki ketokohan dan kewaro’an seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Wahid Hasyim.

Ulama Salaf Online

“Untuk itu kader-kader NU khususnya ulama-ulama sekarang harus merefleksikan dan mencontoh? ketokohan ulama-ulama tersebut,” imbaunya.

Gigih Wardana selaku Sekretaris PC Lakpesdam NU Kota Blitar mengatakan, peringatan Resolusi Jihad NU harus menjadi agenda rutinan tiap tahun. “Peringatan ini sebagai momentum refleksi kader-kader NU untuk senantiasa meneruskan perjuangan ulama dan santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Kegiatan bertema “Resolusi Jihad NU Melawan Penjajah: Peran NU Bagi NKRI” dibuka Ketua PCNU Kota Blitar KH. Ahmad Subakir.

Hadir dalam acara tersebut Ketua GP Ansor Kota Blitar Drs Ahmad Harir, Ketua Umum PC PMII Blitar Mahathir Muhammad serta kader-kader PMII, dan anggot banom-banom NU seperti GP Ansor dan Banser, Musimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, ISNU dan lainnya. (Imam Kusnin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Kajian Ulama Salaf Online

Sabtu, 24 Februari 2018

KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot

KH. Ruhiat adalah tokoh terkenal pada zamannya karena dialah pendiri pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Namun generasi saat ini kurang lagi mengenal ketokohannya. Bahkan puteranya yaitu KH Iyas Ruhiat lebih dikenal apalagi setelah menduduki jabatan tertinggi di NU sebagai Rais Aam. Hal itu bisa dimengerti, kiai sepuh tersebut telah meninggal 29 tahun lalu. Tanggal 17 Dzulhijjah 1426 H yang bertepatan dengan 17 Januari 2006, adalah haul (peringatan hari wafat) ke-29 KH. Ruhiat.

Pesantren Cipasung saat ini merupakan pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya mengembangkan pesantren yang responsif pada perkembangan dunia pendidikan, pada masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Ajengan Patriot

Jika syarat seorang pahlawan nasional adalah mendukung kemerdekaan sejak awal mula diproklamasikan, maka Ajengan Ruhiat (AR) memenuhi syarat itu. Tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Cipasung, AR segera pergi ke kota Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, ia berpidato di babancong, podium terbuka yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih cocok dengan perjuangan Islam, oleh karenanya harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dia tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu.

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya ‘mendirikan negara di dalam negara’ itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustofa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial. Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Kecintaan sang Ajengan pada NU sangat mendalam, oleh karena itu pada saat Ajengan Sukamanah berbulat tekad untuk melawan Jepang, keduanya membuat kesepakatan. Ajengan Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi, agar NU tidak menjadi sasaran tembak tentara Jepang. Secara organisatoris, Ajengan Sukamanah menyatakan keluar dari NU (Aiko Kurasawa,1993). Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya--sesuatu yang sudah mereka perhitungkan--, organisasi NU tidak akan terbawa-bawa dan AR tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Kesepakatan itu dibuktikan oleh Ajengan Ruhiat lewat keterlibatannya di NU sampai ke tingkat pusat.

Karirnya di PBNU dibuktikan dengan menjadi A’wan (pembantu) Syuriah PBNU periode 1954-56 dan 1956-59, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung. Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya selama sembilan bulan pada aksi polisionil kedua, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa AR seorang non-kooperatif sehingga sangat dibenci penjajah yang membonceng pasukan NICA itu. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang solat ashar bersama tiga orang santrinya. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda itu memberondongkan peluru ke arah mereka yang sedang solat. AR luput dari tembakan, tetapi dua santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala.

Mungkin ia tidak disebut sebagai pahlawan karena tidak pernah menduduki jabatan dalam pemerintahan, sebab konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekat-nya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” ujarnya. Atau karena tidak pernah menjadi politisi yang berjuang di parlemen. Sebab katanya, “Biarlah bagian politik itu sudahDari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Budaya, Kajian Ulama Salaf Online

KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot (Sumber Gambar : Nu Online)
KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot (Sumber Gambar : Nu Online)

KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot

Jumat, 23 Februari 2018

KH Muslih Abdurrahman Mranggen

Bagi kaum thariqah di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muslih Abdurrahman Mranggen tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN, yang sekaligus aktif dalam mengembangkan dan membesarkan Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (Jatman) hingga akhir hayat pada tahun 1981, membuat muridnya menyebut Kiai Muslih sebagai Abul Masyayekh dan Syeikhul Mursyidin.

Tak hanya itu, Kiai Muslih berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, baik sebagai anggota laskar Hizbullah yang berlatih kemiliteran bersama Syeikh KH Abdulloh Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat, maupun ketika bergabung dengan komando pasukan Sabilillah yang beranggotakan para kiai/ulama di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.

Kiai Muslih dilahirkan di Suburan Mranggen Demak, pada tahun 1908, dari pasangan Syekh KH Muslih bin Syeikh KH Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah. Dari jalur ayah, silsilah kiai Muslih sampai kepada Syeikh Al-Jali atau Syeikh Al-Khowaji yang berasal dari Baghdad keturunan Sayyidina Abbas r.a, paman Nabi Muhammad saw. Sedangkan ibunya masih keturunan dari Sunan Ampel.

KH Muslih Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muslih Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muslih Abdurrahman Mranggen

Sejak kecil Muslih sudah gemar ngaji. Tercatat, ia pernah berguru mulai dari ayahnya, Syekh KHAbdurrahman bin Qosidil Haq, hingga kepada para Masyayikh yang ada di Haromain, diantaranya Syeikh Yasin Al-Fadani Al- Makky. Kiai Muslih juga pernah menimba ilmu kepada Syeikh KH Ibrohim Yahya (Mranggen); KH Zuber, Syeikh Imam, Syeikh Imam, dan KH Maksum (Rembang); dan Syeikh Abdul Latif Al- Bantani. Selain itu, Kiai Muslih juga pernah belajar di Pesantren Termas Pacitan.

Dari hasil pendidikannya tersebut Kiai Muslih mendapatkan banyak ilmu seperti ilmu kalam Bahasa Arab, tauhid, fiqh, tafsir, hadist, Ilmu Tasawwuf dan berbagai ilmu lainnya.

Membesarkan Pesantren Futuhiyyah

Ulama Salaf Online

Pondok Pesantren Futuhiyyah yang diasuh ayahnya mengalami rehabilitasi pada tahun 1927 M. Saat itu sudah ada puluhan santri yang ikut ngaji, namun aktifitas Madrasah tersebut menjadi terhenti, setelah diminta oleh NU cabang Mranggen. 

Selang beberapa waktu, Syekh KH Muslih berusaha mendirikan kembali Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di komplek Pesantren Futuhiyyah. Kali ini ia mengambil sikap, jika NU ingin mengelola Madrasah lagi supaya mendirikan sendiri. Keputusan tersebut  diambil karena, dua kali Futuhiyyah mendirikan Madrasah, yakni pada tahun 1927 dan 1929 M, dua kali pula diminta oleh NU Cabang Mranggen dengan cara Bedol Madrasah, yakni murid dan gurunya dipindah tempat, yang kemudian dikelola oleh NU Cabang Mranggen. Hal tersebut menjadikan aktivitas di Futuhiyyah menjadi sedikit terkendala.

Setelah madrasah baru yang didirikan oleh Kiai Muslih berjalan lancar, satu tahun kemudian beliau kembali mondok ke Termas dan pengelolaan madrasah diserahkan kepada adiknya, KH Murodi, yang baru pulang mondok dari Lasem. NU Cabang Mranggen, akhirnya juga dapat mendirikan sendiri Madrasah Diniyyah Awaliyyah dan dapat bertahan hingga sekarang, di Kauman Mranggen, yang dikenal kemudian dengan nama Madrasah Ishlahiyyah.

Kiai Muslih saat datang di Termas, langsung diminta oleh KH Ali Maksum (Krapyak Yogya), selaku kepala Madrasah di Termas saat itu, untuk mengajar kelas Alfiyyah. Semula Kiai Muslih menolak, dengan alasan belum mampu mengajar Alfiyyah. Namun setelah dibujuk gurunya, dia pun bersedia. Di Termas pula, Kiai Muslih belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sistem klasikal (madrasah).

Dengan berbekal Ilmu yang lebih luas dan pengalaman selama menjadi guru madrasah Tsanawiyyah di Termas itulah, pada tahun 1935 M Kiai Muslih pulang dan bermukim kembali di Suburan Mranggen. Dengan tekad untuk mengembangkan Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen. Pada tahun 1936 M berdirilah Madrasah Ibtida’iyyah. Madarasah tersebut terus berkembang dan bertahan sampai sekarang.

Ulama Salaf Online

Ada hal yang menarik pada saat proses penerimaan siswa baru. Pada saat itu meskipun belum ada radio, tidak ada stensil, tidak ada pula mesin tulis apalagi fotocopy, namun info tentang madrasah di Mranggen berkembang luas. Banyak sekali calon santri, baik yang berasal dari desa-desa wilayah kecamatan Mranggen dan sekitarnya hingga Gubug-Purwodadi, berdatangan. Hal ini terjadi karena tersiarnya berita bahwa di pondok Suburan Mranggen telah muncul seorang tokoh kiai yang alim, siapa lagi kalau bukan Kiai Muslih Abdurrahman. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online IMNU, Kajian Ulama Salaf Online

Minggu, 18 Februari 2018

Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU

Jakarta, Ulama Salaf Online. Pemerhati anak yang juga pendongeng Seto Mulyadi mengatakan akan mendorong istrinya untuk menjadi anggota Muslimat NU.

“Tadi pas dinyanyikan Mars Muslimat NU, saya ikut bernyanyi. Muslimat NU ini hebat sekali. Lalu saya ingin mendorong istri saya jadi anggota Muslimat NU,” kata Psikolog yang akrab disapa Kak Seto saat tampil pada Halal Bihalal Muslimat NU dan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.?

Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kak Seto Dorong Istrinya untuk Masuk Muslimat NU

Tak ayal para hadirin pun menyambut ucapan Kak Seto dengan tepuk tangan meriah.

Pada kesempatan tersebut Kak Seto tampil bersama Kak Heny Purwonegoro dan tim akrobatik. Mereka membawakan lagu-lagu dan cerita berisi pesan-pesan kebaikan dan karakter yang sesuai untuk anak-anak serta aksi-aksi akrobat.

Ulama Salaf Online

?

Sesekali mereka menyapa dan mengajak anak-anak menari dan bernyanyi, sehingga pertunjukan menjadi sangat interaktif. Kegiatan halal bihalal ini dihadiri oleh Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan para kader Muslimat NU dari sejumlah daerah.? (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian, Fragmen, Khutbah Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Jumat, 16 Februari 2018

PMII Pacitan Galang Dana Peduli Gaza

Pacitan, Ulama Salaf Online. Puluhan aktivis PMII Pacitan mengadakan penggalangan dana peduli korban sipil di Gaza. Mengutuk tindakan brutal Israel, mereka melakukan long march yang bertolak dari kantor sekretariat cabang PMII jalan Veteran nomor 20, Pacitan, Kamis (17/7) siang. Menyusuri jalan protocol, mereka bergerak menuju alun-alun kota Pacitan lalu mengarah ke perempatan Penceng.

PMII Pacitan Galang Dana Peduli Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pacitan Galang Dana Peduli Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pacitan Galang Dana Peduli Gaza

Dalam orasi terbuka, Ketua PMII Pacitan Septian Dwi Cahyo mengatakan, apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang, melainkan pembantaian. Pasalnya, sasaran Israel bukanlah tentara Hamas melainkan rakyat sipil.

Septian mengecam kejahatan militeristik di Gaza. Kejahatan itu, Septian melanjutkan, harus segera dihentikan. “Perserikatan Bangsa Bangsa diberi amanah warga dunia untuk menghentikan agresi Israel di Gaza. PBB harus segera menentukan sikap,” tegas Septian.

Ulama Salaf Online

Sebagai simbol perlawanan atas agresi Israel, para aktifis melakukan sholat ghaib dan mendoakan para korban tidak berdosa di Palestina. Rencananya hasil penggalangan dana yang didapat akan didonasikan melalui PB PMII. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Kajian Ulama Salaf Online

Senin, 12 Februari 2018

Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan

Banyuwangi, Ulama Salaf Online



Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Karangrejo mengadakan pengajian rutin. Pekan ini mereka menggelarnya di masjid Al-Ikhlas, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Senin (9/10) malam.

Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan

Turut hadir pada pengajian rutin dua mingguan itu pengurus Syuriah dan Tanfidziyah serta puluhan warga mulai. Kegiatan diawali dengan pembacaan surat Al-Waqiah, Rotibul Haddad, dan istighosah bersama. Kemudian pengajian umum sekaligus pembekalan dari Rais Syuriah Tanfidziyah.

Ketua PRNU Kelurahan Karangrejo Ahmad Thoyib mengatakan, dengan adanya rutinan organisasi seperti itu, akan menambah daya gedor perjuangan.

Ulama Salaf Online

"Apa pun gerakannya, sebesar apapun massanya, jika tidak diimbangi dengan perkumpulan rutin, hanya omong kosong," tegasnya. 

Ia menambahkan, dengan agenda kegiatan seperti ini PRNU Kelurahan Karangrejo mampu membaca perubahan, peluang, dan tantangan terbaru secara up to date.

"Seperti malam ini, kita dapat merapatkan persiapan agenda kegiatan menyongsong Hari Santri Nasional (HSN). Serta mampu merekrut masyarakat sekitar untuk terlibat dalam struktural organisasi NU lebih giat. Tak kalah penting juga menambah persaudaraan antar pengurus dan anggota baru," terang Thoyib.

"Semoga kegiatan ini selalu diberikan keistiqomahan. Karena istiqomah lebih baik daripada seribu karomah. Juga dengan amalan yang istiqomah ini, Allah lebih menyukai meskipun sedikit," tutup Thoyib.

Dalam kesempatan ini juga dihadiri oleh perwakilan jajaran pengurus cabang Rijalul Ansor Ahmad Sugiono. Serta pengurus PAC IPNU Kecamatan Banyuwangi. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online





Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Humor Islam, Kajian, Pondok Pesantren Ulama Salaf Online

PBNU Sesalkan Pernyataan Wapres Soal Iran

Malang, Ulama Salaf Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sangat menyesalkan pernyataan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa negara-negara di Timur Tengah (Timteng) tak mempersoalkan sikap Indonesia yang mendukung sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) terhadap Iran terkait program nuklirnya.

“Sulit dicari negara Arab yang netral, sedangkan ulama adalah kelompok idealis yang dengan negaranya sendiri sering tidak cocok. Di Indonesia sendiri, antara pemerintah dan ulamanya berbeda,” ungkap Ketua Umum PBNU Dr KH Hasyim Muzadi di di Kediamannya di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, Ahad (2/4).

Wapres Kalla, usai menjalankan ibadah umroh di Mekkah, Jumat (30/3) lalu, mengatakan, beberapa negara di Timteng yang ditemuinya merespon positif sikap Indonesia yang mendukung resolusi DK PBB nomor 1747 terkait pengayaan uranium Iran. Hal itu, menurut Wapres, sama sekali tak diduga oleh pemerintah Indonesia.

PBNU Sesalkan Pernyataan Wapres Soal Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sesalkan Pernyataan Wapres Soal Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sesalkan Pernyataan Wapres Soal Iran

Namun demikian, pernyataan itu dibantah oleh Hasyim. Ia menilai ada negara-negara di Timteng yang justru merasa senang dengan sanksi yang dijatuhkan DK PBB terhadap Iran. Hal itu terjadi karena adanya kepentingan, pertimbangan praktis, politis dan ekonomis. “Karena itulah, negara-negara Arab tidak pernah menang,” tandasnya.

Presiden World Conference on Religion for Peace itu menegaskan, akibat dukungan pemerintah RI atas resolusi DK PBB, pihaknya sempat diprotes dari ulama dan tokoh agama di Timur Tengah. Mereka menyesalkan sikap pemerintah, karena Indonesia sebenarnya diharapkan menjadi penengah berbagai konflik, terutama di Timteng.

Ulama Salaf Online

 

“Saya tidak mengatakan Indonesia dijauhi negara Timteng, tapi dipertanyakan ulama-ulamanya. Kalau Wapres mendapat dukungan dari Libanon, karena Libanon adalah negara ‘unik multisektarian’ mungkin saja yang ketemu itu tidak suka terhadap Iran,” tutur Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu.

Ulama Salaf Online

Doktor Kehormatan bidang Peradaban Islam itu hingga kini masih kecewa dengan sikap pemerintah Indonesia soal nuklir Iran. Padahal, NU sebenarnya berharap agar Indonesia mengambil posisi lebih tinggi dari negara-negara di Timur Tengah yang bertikai. ”Harapan saya terhadap Indonesia ternyata terlalu tinggi. Ternyata kita masih kelas masih ‘inlander’,” pungkasnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock