Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global

Oleh Suwendi*

Belakangan ini, kalangan pendidikan Islam Indonesia, khususnya pemangku kebijakan yang bertanggung jawab atas pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, menekadkan diri untuk menjadikan pendidikan Islam Indonesia sebagai destinasi pendidikan Islam global. Tentu kebijakan ini pada aspek tertentu membutuhkan kesiapan strategi dan keseriusan internal Kementerian Agama, di samping dukungan masyarakat dan seluruh stakeholders secara serius.

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global

Terdapat sejumlah alasan mengapa kita perlu mendukung kebijakan itu. Pertama, pemahaman Islam yang berkembang di Indonesia adalah pemahaman Islam yang Rahmatan lil’alamin. Islam yang senaniasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak-hak asasi manusia, menghormati ragam budaya dan kultur masyarakat, mengidamkan kedamaian, keadilan, toleransi, dan sikap yang keseimbangan (tawazun). Di tengah pelbagai perbedaan dan keragaman sosio-kultural, agama, adat dan budaya, bahasa, dan lokalitas dalam ribuan pulau serta lainnya, namun Indonesia tetap kekar dalam bingkai persatuan dan kesatuan keindonesiaan. Ini menunjukkan pemahaman keagamaan Islam yang berkembang adalah Islam yang damai, toleran, dan menghargai segala bentuk perbedaan. Kedua, sebagai negara-bangsa yang mayoritas muslim dengan sosial budaya dan kultur yang sangat beragam, Indonesia patut untuk mengambil bagian strategis sebagai barometer tingkat peradaban pendidikan Islam yang dibanggakan. Dalam konteks ini, Indonesia diharapkan mampu menjadi teladan bagi negara muslim dunia lainnya. Ketiga, gejolak sosial politik di Indonesia jauh lebih kondusif dibanding dengan negara muslim lainnya. Kondisi gejolak sosial-politik dan perkembangan keislaman di sejumlah negara muslim belakangan ini, terlebih di kawasan Timur Tengah, patut disayangkan. Gejolak tersebut mengakibatkan pusat-pusat keislaman pun menjadi redup. Mesir, Libya, Suriah, Yaman dan Saudi, kini ditimpa musibah konflik yang hingga kini belum usai. Demikian juga dengan pusat-pusat keislaman di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei cenderung belum mendapatkan momentumnya yang tepat. Maka bisa dikatakan, Indonesia menjadi negara yang paling memungkinkan untuk mengambil posisi sebagai pusat harapan pendidikan Islam dunia.

Di samping sejumlah alasan di atas, sesungguhnya yang menjadi alasan kuat untuk menjadikan pendidikan Islam Indonesia sebagai destinasi pendidikan dunia lebih disebabkan karena negara ini memiliki lembaga pendidikan Islam asli (genuin) Indonesia, yakni pondok pesantren. Dibanding dengan lembaga pendidikan Islam lainnya, semisal sekolah, madrasah dan perguruan tinggi agama Islam, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam khas dan otentik Indonesia.

Pondok pesantren merupakan dunia tradisonal Islam yang mampu mewarisi dan memelihara kesinambungan tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu. Oleh karena itu, ketahanan lembaga pesantren agaknya secara implisit menunjukkan bahwa dunia Islam dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini bukan hanya disebabkan kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu, tetapi juga lebih banyak disebabkan karena karakter eksistensialnya. Karakter yang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan Nurcholish Madjid, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).?

Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat sekitar, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan. Hal ini tidak hanya terlihat dari hubungan latar belakang pendirian pesantren dengan lingkungan tertentu, tetapi juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri melalui pemberian wakaf, sadaqah, hibah, dan sebagainya. Sebaliknya, pihak pesantren melakukan ‘balas jasa’ kepada komunitas lingkungannya dengan bermacam cara, termasuk dalam bentuk bimbingan keagamaan, sosial, kultural, dan ekonomi. Dalam konteks terakhir inilah, pesantren dengan kiainya memainkan peran yang disebut Clifford Geertz sebagai ‘cultural brokers’ (pialang budaya) dalam pengertian seluas-luasnya.

Ulama Salaf Online

Di samping karakter keindonesiaan, pesantren senantiasa mentransmisikan pemahaman keagamaan Islam yang ramah, damai, toleran, saling menghargai, dan tidak radikal. Jauh dari doktrin terorisme, saling mengkafir-bid’ahkan, apalagi pembenaran atas letupan-letupan bom bunuh diri. Dalam kondisi Indonesia yang komplek dan plural, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat. Oleh karenanya, tidak berlebihan jika pesantren menjadi garda terdepan dalam membangun pemahaman Islam yang Rahmatan lil’alamin.

Setidaknya terdapat lima substansi yang dikembangkan oleh pondok pesantren. Pertama, Pesantren mengajarkan nasionalisme. Sejarah membuktikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperjuangkan oleh ulama-ulama. Para kiai dan santri memiliki ‘saham’ besar dalam membentuk bangsa dan negara ini. Sejak awal, nasionalisme sudah tertanam kuat dalam dada para santri. Tidak satupun pesantren yang menolak pondasi dassar negara; Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Kedua, pendidikan pesantren menanamkan ajaran-ajaran Islam yang toleran. Toleransi merupakan basis dan pilar pendidikan Islam di pesantren. Pesantren senantiasa menghargai akan perbedaan pendapat yang berbeda dan jauh dari klaim-klaim kebenaran tunggal. Ketiga, pendidikan Islam di pesantren mengajarkan Islam yang moderat, tidak ekstrim radikal dan tidak ekstrim liberal. Keseimbangan dan penguatan akan nilai-nilai moderasi (tawazun) ini telah menjadi kekhasan lembaga pendidikan pesantren. Keempat, pesantren menghargai keragaman agama, budaya, dan etnis (multikulturalisme) yang diarahkan dalam rangka lita’arafu (agar saling mengenal), bukan litabaghadu (saling membenci dan memusuhi). Kelima, pendidikan pesantren mengajarkan Islam yang bersifat inklusif, bukan eksklusif. Pesantren terbuka dan menerima siapapun, termasuk non-muslim. Kelima pilar inilah yang selama ini diajarkan di pondok-pondok pesantren.?

Peran dan karakteristik pesantren inilah yang di antaranya membedakan antara pesantren dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi agama Islam merupakan bentuk improvisasi dan modernisasi lembaga pendidikan yang mengadopsi dari dunia luar. Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan ini jauh lebih belakangan dibanding pondok pesantren. Demikian juga, lembaga-lembaga ini tidak hanya dimiliki oleh Indonesia, tetapi juga terdapat di dunia muslim lainnya, bahkan dengan tingkat kualitas yang lebih baik. Oleh karenanya, pesantrean sebagai kekhasan Indonesia patutlah didorong sebagai destinasi pendidikan Islam global, tentunya dengan keseriusan kita bersama.

Ulama Salaf Online

* Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi NU dan alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tokoh, Sholawat, Lomba Ulama Salaf Online

Senin, 26 Februari 2018

Persaudaraan Tarekat Naqsyabandiyah Komit Setia Aswaja dan NKRI

Sampang, Ulama Salaf Online

Organisasi yang menamakan diri Silaturrahim Ikhwan dan Akhwat Thoriqoh Naqsyabandiyah (Sitqon) Gersempal menunjukkan komitmennya terhadap ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan kesetiaannya terhadap Tanah Air.

Persaudaraan Tarekat Naqsyabandiyah Komit Setia Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Persaudaraan Tarekat Naqsyabandiyah Komit Setia Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Persaudaraan Tarekat Naqsyabandiyah Komit Setia Aswaja dan NKRI

Salah satu Pembina Sitqon Pusat, KH Syafiuddin Abdul Wahid berharap Sitqon sebagai wadah persaudaraan penganut tarekat Naqsabandiyah berpegang teguh dengan Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamah dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, serta tradisi dan ajaran ulama-ulama salafus salih.

Syaifuddin juga mengingatkan kepada anggota untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menolak gerakan-gerakan ekstrem yang mengatasnamakan Islam tapi hendak menghancurkan Nusantara.

Ulama Salaf Online

Hal ini disampaikan seiring dengan momen penyelenggaraan Majelis Dzikir dan Haul Akbar Masyayikh Thoriqoh An-Naqsyabandiyah Mudzhari Gersempal oleh Pengurus SITQON Pusat di Masjid Agung Sampang, Sampang, Jawa Timur, akhir pekan kemarin (14/2).

Hadir dalam perhelatan tersebut Wakil Gubernur Jatim H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), para ulama, habib, pejabat setempat, Imam Khwajagan Naqsyabandiyah Gersempal, dan pengurus Sitqon dari pusat, cabang, hingga ranting.

Ulama Salaf Online

Menurut Ketua Panitia, KH Nuruddin JC, selama hampir satu tahun ini, Sitqon sudah terbentuk di 16 Cabang yang menyebar di Indonesia dengan berbagai program kegiatan yang dilaksanakan bagian pendidikan dan dakwah, bagian humas, bagian media dan informasi, bagian perekonomian, serta bagian seni dan budaya.

Nuruddin berharap ke depan pembentukan pengurus cabang Sitqon di kabupaten lainnya dapat terbentuk yang tujuannya di antaranya sebagai syiar islam, memasyarakatkan tarekat dan berpartsipasi dalam pembangunan bangsa.

Sementara Gus Ipul berpendapat, tarekat merupakan ajaran yang mengajak orang masuk surga dengan rombongan. "Karena ingin masuk surga secara rombongan, maka harus ada pemimpinnya yaitu mursyid atau dalam bahasa kita sebagai penerang yang mengarahkan jalan-jalannya sehingga pada akhirnya memperoleh ridha Allah SWT,” katanya.

Karena itu, menurutnya, seorang Mursyid tentunya harus memiliki sanad dan silsilah yang akhirnya bersambung kepada Rosulullah SAW. “Justru dengan majelis-majelis dzikir seperti  ini negara kita  diselamatkan oleh Allah SWT, sementara di negara-negara Islam lainnya seperti Suriah, Irak dan lainnya sedang mengalami kehancuran,” sambung Gus Ipul. (Dedi Haryono/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sholawat, Sejarah Ulama Salaf Online

Sabtu, 20 Januari 2018

Tiga Resep Kiai Sahal Agar Terhindar Racun Hati

Pati, Ulama Salaf Online. KH Khoiruzzad selalu terkenang akan petuah KH M A Sahal Mahfudh kala mengajar kitab Mukhtashar Ihya’. Petuah itu ia ungkapkan kembali di hadapan ratusan jama’ah pada malam 100 hari wafatnya Rais Aam PBNU tersebut, di Pati, Jawa Tengah.

Tiga Resep Kiai Sahal Agar Terhindar Racun Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Resep Kiai Sahal Agar Terhindar Racun Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Resep Kiai Sahal Agar Terhindar Racun Hati

“Kebanyakan manusia, paham betul akan kekurangan orang lain. Namun sebaliknya, ia tak tahu, bahkan abai pada keadaan dirinya sendiri,” bagitu dawuh Mbah Sahal yang diungkapkan Khoiruzzad yang termaktub pada salah satu kitab babon dalam bidang tasawuf, Sabtu malam (3/5).

Untuk itulah, sambung Khoiruzzad, Kiai Sahal memberikan tiga resep agar terhindar dari racun hati ini. Pertama, hendaklah selalu mukholathah (berkumpul) dengan para masyayikh yang dapat mengetahui sirr al-qalb (rahasia hati). Namun, mereka ini adalah golongan yang amat langka.

Ulama Salaf Online

Untuk mengatasinya, bisa mempraktikkan resep yang kedua, carilah teman karib yang saleh. Resep ini dicontohkan oleh sahabat Umar bin Al-Khattab kala menjabat khalifah. Ia meminta sahabat Salman untuk mengevaluasi kinerjanya.

Ulama Salaf Online

Resep yang terakhir, dengarkanlah ucapan musuhmu, orang yang membencimu atau mendengkimu. Karena mereka tidak akan pernah mengatakan secuil kebaikan yang ada pada dirimu. Ini menjadikan dirimu akan selalu tawadlu’ dan muhasabah al-nafs (introspeksi diri).

Setelah KH Khoiruzzad menyampaikan sambutan keluarga, acara selanjutnya yaitu tahlil dan do`a yang dipimpin oleh Kiai Ali Fattah Ya’qub. Ia salah satu guru yang mengampu di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Di PIM inilah, Kiai Sahal menjabat sebagai direktur selama puluhan tahun. Setelah al-Fatihah pengiring doa selesai, acara kemudian ditutup oleh Kiai Muhshon. (Mukhamad Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sholawat Ulama Salaf Online

Sabtu, 13 Januari 2018

Blitar Sudah Tak Ada Lagi Ploncoan Siswa

Blitar, Ulama Salaf Online. Heee.... gembrot, kamu kesini? Panggil salah satu instruktur pendamping pada Masa Orentasi Siswa (MOS) Baru di Madrasah Aliyah Ma’arif, salah satu sekolahan di Blitar tahun lalu. Setelah Gembrot menghadap, ia ditanya mengapa kamu tidak pakai baju kresek biru seperti teman-temanmu yang lain. Selain itu mengapa kamu tidak pakai jilbab hitam?

Ditanya begitu, Gembrot langsung menjawab “Lupa Kak...tadi tergesa-gesa,’’ jawabnya.

Blitar Sudah Tak Ada Lagi Ploncoan Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Blitar Sudah Tak Ada Lagi Ploncoan Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Blitar Sudah Tak Ada Lagi Ploncoan Siswa

Tahu keselahan kamu? gertak instruktur.

Ulama Salaf Online

“Tidak tahu kak,’’ jawabnya. “Kalau gitu kamu pus up 10 kali,’’perintah? instruktur tadi dengan ketus.

Ulama Salaf Online

Model ploncoaan dalam MOS? siswa baru seperti itu pada tahun ini di Madrasah Aliyah Ma’arif Udanawu sudah tidak ada lagi. Sekarang pola itu diganti dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan berbagai peraturan yang lebih mendidik.

“Kita sudah tidak menggunakan MOS. Kita laksanakan MPLS,’’ ungkap Edi Basuki, kepala Aliyah Ma’arif kepada Ulama Salaf Online, Selasa siang (19/7).

Mengingat, lanjut Edi Basuki, sesuai evaluasi Mendiknas pola seperti itu tidak ada korelasinya dengan dunia pendidikan. Bahkan cenderung merugikan siswa.

”Tidak jarang pola orientasi seperti itu menjadikan siswa sakit. Bahkan ada yang meninggal meski di Ma’arif tidak ada yang pernah meninggal karena MOS,’’ katanya.

Untuk itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan peraturan baru yakni Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah, maka mulai pada tahun pelajaran 2016 – 2017 Masa Orientasi Siswa Baru berubah menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah dilakukan maksimal 3 hari oleh penyelenggara yaitu guru,’’ tambahnya.

Sementara Plt Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Suhartono mengatakan Pengenalan Lingkungan Sekolah dilakukan pada hari dan jam sekolah dan tidak boleh melibatkan alumni atau senior. Mereka hanya untuk membantu guru sebagai penyelenggara.

“Pada Pengenalan Lingkungan Sekolah dihari pertama, kami memastikan tidak ada perpeloncoan di lembaga sekolah di Kabupaten Blitar. Selain itu untuk wali murid dapat mengantarkan anak didik hingga masuk kesekolah. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan orang tua murid dengan guru maupun mengenal lingkungan sekolah,’’ ujar? Suhartono.

Masih menurut Suhartono, total Lembaga yang melakukan Pengenalan Lingkungan Sekolah di Kabupaten Blitar berjumlah 7 Lembaga untuk SMA Negeri, SMK 6 Lembaga dan SMP Negeri 48 Lembaga dengan total 61 Lembaga.

Begitu juga di lingkungan pendidikan agama dibawah kementerian agama di Kabupaten Blitar. Menurut salah satu guru Aliyah Negeri di wilayah Kabupaten Blitar Moh Syaikoni, mulai ajaran baru tahun ini sudah tidak ada lagi model peloncoaan. Karena sudah menerapkan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah.

”Semua sekolah di Blitar sudah melaksanakan Permendikbud No 18tahun 2016,’’ ungkap Syaikoni. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sholawat, Bahtsul Masail Ulama Salaf Online

Rabu, 10 Januari 2018

Katib Aam PBNU: Siapa Lebih Buruk dari Kemarin, Celaka

Jakarta, Ulama Salaf Online. Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengaku gembira dengan umat Islam Tanah Air yang dalam dekade terakhir aktif memperingati tahun baru dalam kalender hijriyah. Menurut dia, ini adalah momentum terbaik bagi evaluasi diri (muhasabah).

Katib Aam PBNU: Siapa Lebih Buruk dari Kemarin, Celaka (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam PBNU: Siapa Lebih Buruk dari Kemarin, Celaka (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam PBNU: Siapa Lebih Buruk dari Kemarin, Celaka

Kiai Malik menyampaikan hal tersebut dalam program rutin Bincang Tentang NU (Bintang NU) Radio NU yang disiarkan secara online di radio.nu.or.id, Senin (4/10), pukul 10.00 WIB.

“Dan muhasabah ini diungkapkan dalam bahasa yang sangat indah oleh Sayyidina Umar bin Khattab: hasibu anfusakum qabla an tuhasabu. Wazinuha qabla an tuzanu. Lakukanlah perhitungan terhadap dirimu sebelum pihak lain menghitungmu. Timbanglah dirimu sebelum pihak lain, terutama Allah, menimbangmu,” katanya.

Ulama Salaf Online

Kiai asal Madura ini lalu mengutip pernyataan Imam al-Ghazali yang? berbunyi, “Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, wa man kana yaumuhu mitsla amsihi fahuwa khasirun. Wa man kaan yaumuhu syarran min amsihi fahuwa halikun (Siapa harinya lebih baik dari kemarin maka beruntung, siapa yang harinya sama dengan kemarin maka merugi, dan siapa yang harinya lebih buruk dari kemarin maka celaka)."

Menurut Kiai Malik, pertambahan tahun memberi beban kepada setiap manusia untuk berupaya lebih baik. Hal itu pula yang sedang diusahakan NU sebagai ormas sosial keagamaan dengan melakukan koreksi diri dan peningkatan kerja kelembagaan.

Ulama Salaf Online

“Kita merangsang lembaga, lajnah, dan banom (badan otonom) untuk meningkatkan kiprahnya di bidang sosial itu juga agar ke depan secara lebih baik,” ujarnya.

Pada tahun 1435 hijriyah kali ini, lanjut Kiai Malik, tantangan menjadi kian besar karena menjelang musim politik 2014. Warga NU diuji idealismenya untuk tidak tergoda dengan kepentingan-kepentingan pragmatis yang dapat merugikan organisasi, bahkan Indonesia secara umum. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sholawat, Berita Ulama Salaf Online

Minggu, 31 Desember 2017

Hukum Membunuh dalam Islam

Oleh Hengki Ferdiansyah



Pada dasarnya tidak ada satupun agama di dunia ini yang menghalalkan pembunuhan, sebab tujuan agama adalah untuk perdamaian, menyebarkan kasih sayang, dan mengatur tatanan sosial agar lebih baik. Begitu pula dengan doktrin agama Islam, sejak awal penurunannya sudah ditegaskan bahwa Islam mengemban visi kerahmatan (QS: al-Anbiya’: 107). Sehingga hampir tidak ditemukan pembenaran kejahatan dalam ajaran Islam. Dengan demikian, bila ada sekelompok orang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam, ketahuilah bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan filosofi Islam itu sendiri.

Hukum Membunuh dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membunuh dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membunuh dalam Islam

Dalam al-Qur’an dikatakan, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS: Al-Maidah: 32).Ayat ini adalah salah satu contoh kecaman Islam atas setiap pembunuhan yang dilakukan dengan semena-mena.

Membunuh satu orang manusia ditamsilkan dengan membunuh semua manusia. Karena setiap manusia pasti memiliki keluarga, keturunan, dan ia merupakan anggota dari masyarakat. Membunuh satu orang, secara tidak langsung akan menyakiti keluarga, keturunan, dan masyarakat yang hidup di sekelilingnya. Maka dari itu, Islam menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar kedua setelah syirik (HR: al-Bukhari dan Muslim). Kelak pelaku pembunuhan akan mendapatkan balasan berupa neraka jahannam (QS: al-Nisa’: 93).

Ulama Salaf Online

Aturan ini tentu tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja dan bukan berati non-muslim dihalalkan darahnya,karena misi kerahmatan yang dibawa Islam tidak hanya untuk orang Islam semata, tetapi untuk seluruh semesta. Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan, man qatala dzimmiyan lam yarih ra‘ihah al-jannah, orang yang membunuh seorang dzimmi (non-muslim yang berada dalam perjanjian keamanan), maka ia tidak akan mencium aroma surga.? Hadis ini ialah salah satu landasan larangan membunuh non-muslim dalam Islam.

Pembunuhan yang Diperbolehkan

Ulama Salaf Online



Dalam kondisi terntentu, pembunuhan tetap diperbolehkan dengan beberapa syarat dan aturan. Ada dua kondisi yang dibolehkan untuk menghilangkan nyawa manusia: membunuh ketika perperangan dan membunuh ketika menghukum. Membunuh dalam kedua kondisi ini diperbolehkan selama tidak berlebih-lebihan (QS: Al-Baqarah: 190). Konflik yang berimbas pada perperangan tentu membunuh antara satu sama lainnya tidak terelakkan.

Perperangan yang dimaksud di sini ialah perperangan yang terjadi dalam rangka mempertahankan agama, negara, dan harga diri. Perang bisa dilakukan ketika keberadan satu komunitas diancam oleh komunitas lain dan tidak menemukan cara lain? untuk mengatasinya kecuali dengan berperang. Selama masih bisa diselesaikan dengan cara lain, maka perang tidak boleh dilakukan. Oleh sebab itu, jika merujuk kepada sejarah Islam, perang adalah solusi terakhir dan biasanya terjadi ketika umat Islam sudah diserang dan dikhianati terlebih dahulu oleh musuh.

Namun perlu digarisbawahi, membunuh diperbolehkan ketika kedua belah pihak sudah sepakat untuk berperang. Bila salah satunya sudah mengalah, maka menyerang lawan tidak boleh dilakukan. Dan perlu diketahui pula, yang diperbolehkan untuk dibunuh hanyalah pasukan perang saja. Sementara anak, istri, dan keluarganya yang tidak ikut berperang tidak boleh dibunuh.

Andaikan terjadi perperangan antara orang Islam dengan non-muslim, maka non-muslim yang dibunuh hanyalah yang ikut serta dalam perperangan saja, sedangkan yang tidak ikut berperang diharamkan untuk dibunuh. Ibnu al-‘Arabi dalam Ahkam al-Qur’an mengatakan, “Janganlah membunuh kecuali terhadap orang yang telah memerangimu. Orang yang diperbolehkan untuk dibunuh dalam perperangan ialah laki-laki dewasa saja, sementara perempuan, anak-anak, dan para pendeta tidak diperbolehkan untuk membunuhnya.”

Kemudian, pembunuhan boleh dilakukan ketika menghukum pelaku kriminal. Maksudnya, membunuh dalam rangka menghukum. Hal ini tentu hanya berlaku bagi negara yang menerapkan hukuman mati. Dalam Islam,? hukum mati boleh dilakukan ketika pelaku telah membunuh orang lain, melakukan pemberontakan, dan melakukan kejahatan yang menganggu kenyaman hidup orang banyak. Hukuman mati boleh dilakukan ketika di sebuah negara sepakat untuk menerapkannya dan orang yang diperbolehkan untuk melakukannya hanyalah pejabat yang sudah ditunjuk oleh hakim ataupun presiden.

Jika seorang melakukan pembunuhan misalnya, hukuman tersebut bisa diterapkan bila keluarga korban menuntut untuk membalasnya dengan bentuk hukuman yang setimpal (nyawa dibayar nyawa). Akan tetapi, hukuman qishash? terbatalkan bila pelaku mendapatkan ampunan dan maaf dari keluarga korban. Begitu pula dengan pelaku makar dan perusak hidup orang banyak, mereka baru bisa dihukum mati bila hakim dan pembuat kebijakan negara memutuskan hukuman mati untuk mereka. Wallahu a’lam

Hengky Ferdiansyah adalah Peneliti Hadis di El-Bukhori Institute. Alumni Pondok Pesantren ilmu hadis Darus-Sunnah, Ciputat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Khutbah, Sholawat Ulama Salaf Online

Jumat, 29 Desember 2017

Bupati Jember Puji Keberhasilan Ma’arif NU

Jember, Ulama Salaf Online. Bupati Jember Hj Faida memuji Lembaga Ma’arif Pengurus Cabang Nahlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember Jawa Timur atas keberhasilannya merubah sistem manajemen pendidikan dan organisasi lebih modern.

?

Bupati Jember Puji Keberhasilan Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jember Puji Keberhasilan Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jember Puji Keberhasilan Ma’arif NU

Hati Bupati semakin tergerak setelah lantunan Hubbul Wathon dikumandangkan, bahkan Faida, menyangsikan, jika yang hadir tidak merinding ketika mendengar lantunan lagu itu dan melihat ribuan generasi cilik Nahdlatul Ulama (NU) Jember ini yang pandai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

?

"Gus Jun (pembina TPQ Ma’arif), saya ke sini mengajak Umi saya. Beliau bisik-bisik ke saya, Subhanallah acara ini luar biasa, Faida...! Ini acara hebat, LP Ma’arif itu hebat," ujar Faida menirukan pernyataan ibunya, yang disambut tepuk tangan ribuan hadirin dan santri di GOR PKSO Jember, Ahad (14/5).

Ulama Salaf Online

?

"Tapi Umi lantas bisik-bisik lagi. Apakah sudah ada anggaran di APBD Jember, apa belum? " tanya Umi. Saya langsung menjawab bahwa tahun 2017 ini anggaran untuk TPQ LP Ma’arif NU Kabupaten Jember, akan kita perjuangkan," katanya usai mewisuda 300 santri TPQ LP Ma’arif NU Jember.

?

Ulama Salaf Online

Ketua LP Ma’arif, Hobri mengatakan bahwa manajemen LP Ma’arif sudah modern, tidak konservatif, tidak jadul, dan tidak kolot. Bahkan, agar bisa mencetak generasi Islam NU yang berkualitas dan modern dirinya sedang menyusun naskah akademik sistem pendidikan dan pengajaran TPQ.

?

"LP Ma’arif masih menyusun naskah akademik kurikulum, metode pengajaran dan pendidikan, mulai mahorijul huruf hingga teori pendidikan dan pengajaran khot. "Kita akan bekerja sama dengan Pemkab Jember agar cita-cita mewujudkan Jember religius bisa terwujud," ujarnya.

?

Metode yang dipakai, "Alliman" berjenjang I-VI, teori taksonomi Bloom, salah-satunya diterapkan TPQ Al Hikmah. Metode Lorin Anderson ditemukan Benyamin S Bloom, ahli pendidikan kognitif, AS.?

"Pengajaran bertahap, proses mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan berkreativitas.

?

Bahkan kualitas tutor dibuat dalam 5 jenjang berikut afeksinya. Metode ini menitikberatkan kualitas kontrol. Sejak tahun ini, ustadz-ustadzah akan diberi sertifikat dengan tiap tingkatan. "Berkat kegigihan pembina TPQ Gus Moch Junaidi Al Hafidz, lulusan santri TPQ meningkat," ujar Hobri.

?

Hal itu dibenarkan pembina TPQ Ma’arif NU Jember, KH Moh Junaidi, menurutnya berdasar data, LP Ma’arif telah melakukan munasaqoh atau ujian akhir setiap tahun dengan sembilan gelombang. Tahun ini meningkat dari 1.200 menjadi 2.600 santri TPQ dan pasca-TPQ yakni Madrasah Diniyah yang telah hotami (lulus).

?

Setelah semua siswa TPQ ? diwisuda diharapkan jenjang yang ditempuh tetap di lingkungan Ma’arif, yakni ke Madrasah Diniyah LP Ma’arif, selama tiga tahun. Saat ini, jumlah TPQ di Kabupaten Jember lebih kuang ada 400 lembaga, dengan 3.500 ustadz dan ustadzah, serta 30 ribu orang santri.

?

Yang membanggakan kata Gus Jun, dari 2.600 santri yang diwisuda sekarang terdapat satu santriwati lulusan ? terbaik dan juaran MTQ tartil tingkat Kabupaten Jember. Menurut rencana dia akan dikirim ke MTQ Tartil tingkat Jatim, duta dari Jember.

?

Bak gayung bersambut, perubahan menejemen ini disambut baik, bahkan Faida, meminta uji kompetensi guru ngaji, diselenggarakan atas fasilitasi Pemkab. "Para ustad-ustadzah, pimpinan Ma’arif, pimpinan NU, pembina, pengasuh, sesepuh TPQ ? agar tetap kuat melahirkan ? generasi Islam yang qurani", pungkasnya. (Khoerus/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sholawat Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock