Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global

Oleh Suwendi*

Belakangan ini, kalangan pendidikan Islam Indonesia, khususnya pemangku kebijakan yang bertanggung jawab atas pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, menekadkan diri untuk menjadikan pendidikan Islam Indonesia sebagai destinasi pendidikan Islam global. Tentu kebijakan ini pada aspek tertentu membutuhkan kesiapan strategi dan keseriusan internal Kementerian Agama, di samping dukungan masyarakat dan seluruh stakeholders secara serius.

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren sebagai Destinasi Pendidikan Islam Global

Terdapat sejumlah alasan mengapa kita perlu mendukung kebijakan itu. Pertama, pemahaman Islam yang berkembang di Indonesia adalah pemahaman Islam yang Rahmatan lil’alamin. Islam yang senaniasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak-hak asasi manusia, menghormati ragam budaya dan kultur masyarakat, mengidamkan kedamaian, keadilan, toleransi, dan sikap yang keseimbangan (tawazun). Di tengah pelbagai perbedaan dan keragaman sosio-kultural, agama, adat dan budaya, bahasa, dan lokalitas dalam ribuan pulau serta lainnya, namun Indonesia tetap kekar dalam bingkai persatuan dan kesatuan keindonesiaan. Ini menunjukkan pemahaman keagamaan Islam yang berkembang adalah Islam yang damai, toleran, dan menghargai segala bentuk perbedaan. Kedua, sebagai negara-bangsa yang mayoritas muslim dengan sosial budaya dan kultur yang sangat beragam, Indonesia patut untuk mengambil bagian strategis sebagai barometer tingkat peradaban pendidikan Islam yang dibanggakan. Dalam konteks ini, Indonesia diharapkan mampu menjadi teladan bagi negara muslim dunia lainnya. Ketiga, gejolak sosial politik di Indonesia jauh lebih kondusif dibanding dengan negara muslim lainnya. Kondisi gejolak sosial-politik dan perkembangan keislaman di sejumlah negara muslim belakangan ini, terlebih di kawasan Timur Tengah, patut disayangkan. Gejolak tersebut mengakibatkan pusat-pusat keislaman pun menjadi redup. Mesir, Libya, Suriah, Yaman dan Saudi, kini ditimpa musibah konflik yang hingga kini belum usai. Demikian juga dengan pusat-pusat keislaman di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei cenderung belum mendapatkan momentumnya yang tepat. Maka bisa dikatakan, Indonesia menjadi negara yang paling memungkinkan untuk mengambil posisi sebagai pusat harapan pendidikan Islam dunia.

Di samping sejumlah alasan di atas, sesungguhnya yang menjadi alasan kuat untuk menjadikan pendidikan Islam Indonesia sebagai destinasi pendidikan dunia lebih disebabkan karena negara ini memiliki lembaga pendidikan Islam asli (genuin) Indonesia, yakni pondok pesantren. Dibanding dengan lembaga pendidikan Islam lainnya, semisal sekolah, madrasah dan perguruan tinggi agama Islam, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam khas dan otentik Indonesia.

Pondok pesantren merupakan dunia tradisonal Islam yang mampu mewarisi dan memelihara kesinambungan tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu. Oleh karena itu, ketahanan lembaga pesantren agaknya secara implisit menunjukkan bahwa dunia Islam dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini bukan hanya disebabkan kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu, tetapi juga lebih banyak disebabkan karena karakter eksistensialnya. Karakter yang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan Nurcholish Madjid, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).?

Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat sekitar, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan. Hal ini tidak hanya terlihat dari hubungan latar belakang pendirian pesantren dengan lingkungan tertentu, tetapi juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri melalui pemberian wakaf, sadaqah, hibah, dan sebagainya. Sebaliknya, pihak pesantren melakukan ‘balas jasa’ kepada komunitas lingkungannya dengan bermacam cara, termasuk dalam bentuk bimbingan keagamaan, sosial, kultural, dan ekonomi. Dalam konteks terakhir inilah, pesantren dengan kiainya memainkan peran yang disebut Clifford Geertz sebagai ‘cultural brokers’ (pialang budaya) dalam pengertian seluas-luasnya.

Ulama Salaf Online

Di samping karakter keindonesiaan, pesantren senantiasa mentransmisikan pemahaman keagamaan Islam yang ramah, damai, toleran, saling menghargai, dan tidak radikal. Jauh dari doktrin terorisme, saling mengkafir-bid’ahkan, apalagi pembenaran atas letupan-letupan bom bunuh diri. Dalam kondisi Indonesia yang komplek dan plural, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat. Oleh karenanya, tidak berlebihan jika pesantren menjadi garda terdepan dalam membangun pemahaman Islam yang Rahmatan lil’alamin.

Setidaknya terdapat lima substansi yang dikembangkan oleh pondok pesantren. Pertama, Pesantren mengajarkan nasionalisme. Sejarah membuktikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperjuangkan oleh ulama-ulama. Para kiai dan santri memiliki ‘saham’ besar dalam membentuk bangsa dan negara ini. Sejak awal, nasionalisme sudah tertanam kuat dalam dada para santri. Tidak satupun pesantren yang menolak pondasi dassar negara; Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Kedua, pendidikan pesantren menanamkan ajaran-ajaran Islam yang toleran. Toleransi merupakan basis dan pilar pendidikan Islam di pesantren. Pesantren senantiasa menghargai akan perbedaan pendapat yang berbeda dan jauh dari klaim-klaim kebenaran tunggal. Ketiga, pendidikan Islam di pesantren mengajarkan Islam yang moderat, tidak ekstrim radikal dan tidak ekstrim liberal. Keseimbangan dan penguatan akan nilai-nilai moderasi (tawazun) ini telah menjadi kekhasan lembaga pendidikan pesantren. Keempat, pesantren menghargai keragaman agama, budaya, dan etnis (multikulturalisme) yang diarahkan dalam rangka lita’arafu (agar saling mengenal), bukan litabaghadu (saling membenci dan memusuhi). Kelima, pendidikan pesantren mengajarkan Islam yang bersifat inklusif, bukan eksklusif. Pesantren terbuka dan menerima siapapun, termasuk non-muslim. Kelima pilar inilah yang selama ini diajarkan di pondok-pondok pesantren.?

Peran dan karakteristik pesantren inilah yang di antaranya membedakan antara pesantren dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi agama Islam merupakan bentuk improvisasi dan modernisasi lembaga pendidikan yang mengadopsi dari dunia luar. Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan ini jauh lebih belakangan dibanding pondok pesantren. Demikian juga, lembaga-lembaga ini tidak hanya dimiliki oleh Indonesia, tetapi juga terdapat di dunia muslim lainnya, bahkan dengan tingkat kualitas yang lebih baik. Oleh karenanya, pesantrean sebagai kekhasan Indonesia patutlah didorong sebagai destinasi pendidikan Islam global, tentunya dengan keseriusan kita bersama.

Ulama Salaf Online

* Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi NU dan alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tokoh, Sholawat, Lomba Ulama Salaf Online

Sabtu, 24 Februari 2018

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

Sleman, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Nusron Wahid mengutuk kekerasan atas nama agama yang dilancarkan kelompok kecil bersenjata. Nusron menyebut kelompok ekstrem ini sebagai penjahat kemanusiaan tiada tara.

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

“Kekerasan beberapa hari lalu di Perancis dan juga di Timur Tengah, sama sekali mencemarkan keluhuran ajaran Islam,” kata Nusron dalam sambutan pembukaan Kongres XV GP Ansor di pesantren Sunan Pandanaran jalan Kaliurang, kabupaten Sleman, Kamis (26/11) pagi.

Perhatian masyarakat dunia dikejutkan oleh penyerangan kelompok kecil bersenjata terhadap sipil yang merenggut lebih dari seratus korban jiwa. Bagaimana pun, Nusron menambahkan, kekerasan atas nama apapa pun tidak bisa diterima.

Ulama Salaf Online

Ia mengajak warga Nahdlatul Ulama termasuk aktivis GP Ansor untuk berpartisipasi menyebarkan keluhuran dan keberadaban Islam di tengah masyarakat dunia.

Ulama Salaf Online

“NU dan Ansor wajib melawan kejahatan semacam ini. Wajib dicegah,” tegas Nusron. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pertandingan, Jadwal Kajian, Tokoh Ulama Salaf Online

Senin, 12 Februari 2018

Pesantren Wahid Hasyim Peringati Haul Ke-XVI KH Abdul Hadi

Sleman, Ulama Salaf Online. Pesantren Wahid Hasyim yang terletak di Jalan Wahid Hasyim No. 3, Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta, menggelar peringatan Haul ke-XVI KH Abdul Hadi As-Syafi’i, Jum’at malam (30/5). ? KH Abdul Hadi As-Syafi’I merupakan sang pendiri Pesantren Wahid Hasyim tahun 1977 M.?

Pesantren Wahid Hasyim Peringati Haul Ke-XVI KH Abdul Hadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Wahid Hasyim Peringati Haul Ke-XVI KH Abdul Hadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Wahid Hasyim Peringati Haul Ke-XVI KH Abdul Hadi

Hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara, Rais Syuriah PWNU DIY, KH Asy’ari Abta. Dalam kesempatan tersebut, KH. Asy’ari Abta menceritakan kisah yang pernah diungkapkan oleh KH Ali Maksum.?

“Ada orang sebut saja namanya fulan. Fulan ini kalau suka terhadap seseorang itu suka sekali, ada juga yang disukai kalau butuh saja, dan ada juga yang sangat dibenci. Suatu saat, fulan ini ditangkap polisi. Dia lalu datang kepada orang yang paling disukai untuk meminta pertolongan. Tapi ternyata orang tersebut tidak bisa menolongnya,” ujar Kiai Asy’ari.?

Ulama Salaf Online

Setelah itu, lanjut Kiai Asy’ari, Fulan meminta tolong pada orang yang disukai kalau pas butuh saja. Orang itu pun tidak bisa menolong si Fulan. Dengan terpaksa, si Fulan meminta pertolongan kepada orang yang dibencinya. Dan di luar dugaan, orang yang dibenci tersebut, malah siap memberikan pertolongan.?

“Sebenarnya, polisi dalam cerita tersebut ya malaikat. Sedangkan ketiga tipe orang tersebut merupakan gambaran dari harta, tetangga dan amal jariah. Ketika orang sudah meninggal, harta tidak akan mampu menolong. Begitu juga dengan tetangga. Hanya amal jariyah-lah yang mampu menolong,” jelas Kiai Asy’ari.?

Ulama Salaf Online

Ketika orang meninggal, lanjut Kiai Asy’ari, hanya ada tiga hal yang pahalanya tidak pernah putus, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih. Dan Insya’allah KH Abdul Hadi As-Syafi’I memiliki ketiga-tiganya.?

Di akhir pembicaraan, Kiai Asy’ari berpesan kepada para hadirin agar mempersiapkan putra-putri yang shalih sebagai bekal ketika sudah meninggal nanti. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tokoh Ulama Salaf Online

Minggu, 11 Februari 2018

GP Ansor Sumenep Gelar Aksi Simpatik Ramadhan

Sumenep, Ulama Salaf Online. Menjelang masuknya bulan suci Ramadhan,puluhan aktivis GP Ansor Sumenep, Jumat (26/5) melakukan seruan marhaban ya Ramadhan. Aktivis yang menamakan dirinya Forum Silaturrahim Aliansi PAC GP Ansor Se-Sumenep ini membagi bagikan jadwal imsakiyah dimulai dari taman bunga menuju jalan protokol perempatan Sumenep.

Aksi simpatik ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya kemudian dilanjutkan dengan membagi bagikan jadwal imsakiyah kepada setiap pengendara yang lewat.

GP Ansor Sumenep Gelar Aksi Simpatik Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumenep Gelar Aksi Simpatik Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumenep Gelar Aksi Simpatik Ramadhan

Dalam pantauan dilapangan Santoso sebagai Ketua Forum Aliansi PAC (Forsi) sekaligus Koorlap mengatakan aksi ini sekaligus membagikan jadwal imsakiyah agar warga masyarakat Sumenep bisa menyambut dan menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang dan tepat waktu.

Ikut hadir dalam kegiatan ini PC GP Ansor Sumenep M. Muhri, Abdul Wasid, Rasidi, Mohammad Rasyid, Moh Sholeh dan puluhan aktivis GP Ansor dari berbagai kecamatan se Sumenep.

Ulama Salaf Online

Sattar Efendi selaku Sekretaris PAC GP Ansor Batuputih mengaku senang karena respon setiap pengendara yang lewat dan mendapat jadwal imsakiyah sangat antusias. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Berita, Tokoh, IMNU Ulama Salaf Online

Jumat, 26 Januari 2018

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Riyadh, Ulama Salaf Online. Langkah Arab Saudi untuk melakukan reformasi kebijakan dan menerabas konservatisme terus bergulir. Yang terbaru, perempuan di negara monarki ini diizinkan mengeluarkan fatwa.

Keputusan bersejarah tersebut merupakan hasil pemungutan suara di Dewan Syura atau badan penasihat resmi Arab Saudi. Sebanyak 107 suara mendukung adanya mufti perempuan.

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Dengan demikian, aspirasi ini mengakhiri monopoli mufti laki-laki yang bertahan selama 45 tahun. Seperti dipaparkan Arab News, Jumat (29/9), para mufti perempuan dipilih oleh dekret Kerajaan.

Aspirasi tersebut semula muncul dari salah satu anggota Dewan Syura dalam pertemuan ke-49, yang meminta Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, untuk membuka bagian independen untuk perempuan.

Ulama Salaf Online

Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa merupakan satu-satunya badan pemerintah yang berwenang menerbitkan fatwa di Kerajaan Arab Saudi.

Ini bukan kali pertama Arab Saudi mulai terbuka bagi perempuan. Sebelumnya, Raja Salam bin Abdul Aziz mengeluarkan dektrit langka dengan memperbolehkan perempuan menyetir. Keputusan tersebut secara resmi berlaku pada Juni 2018.

Pada perayaan hari nasional 23 September 2017, pemerintah Arab Saudi juga secara perdana memperbolehkan perempuan memasuki stadion lalu menikmati kemeriahan konser musik dan tarian tradional. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Ulama, Tokoh Ulama Salaf Online

Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon

Rembang, Ulama Salaf Online - proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak atau abrasi terjadi di beberapa daerah di sekitar Desa Pandangan Kulon, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Bahaya ini menarik keprihatinan para anggota Satkoryon Banser Kragan yang juga menggerus sebelah utara masjid Badrut Tamam Desa Pandangan Kulon Kragan.

Kepala Biro Informasi dan Komunikasi Banser Rembang Abdul Hakim mengatakan, abrasi yang terjadi di Pandangan Kulon ini terjadi mulai tahun 2015. Hal ini terjadi dikarenakan dampak dari pembangunan dermaga Tempat Penakaran Ikan (TPI) di Pandangan Kulon sepanjang 100 meter dari bibir pantai.

Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon

Hal ini mengakibatkan abrasi ketika terjadi angin timur atau ombak timur pada musim kemarau. Abrasi juga terjadi di pesisir barat dermaga, sekitar 300 meter yang memanjang ke barat.

Ulama Salaf Online

"Bahkan bibir pantai akibat abrasi ini tergerus hingga kurang lebih 130 cm ke bawah. Dalam setahun hal ini sudah terjadi sebanyak dua kali," terangnya kepada Ulama Salaf Online, Senin (22/8).

Ia menambahkan, kegiatan ini hanya bersifat mendadak. Para anggota Banser Satkoryon Kragan mengadakan iuran untuk membantu meminimalisasi terjadinya abrasi yang terjadi di Pandangan Kulon.

Ulama Salaf Online

"Dari hasil iuran tersebut, kami belikan batu belah dan kami serahkan ke tamir masjid Badrut Tamam Pandangan Kulon. Karena memang dampak abrasi yang paling parah terjadi di sana," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Bahtsul Masail, Pesantren, Tokoh Ulama Salaf Online

Senin, 22 Januari 2018

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah

Magelang, Ulama Salaf Online. Pagi yang cerah di lereng Gunung Sumbing disambut riuh kicau burung di pepohonan, 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah tampak bersemangat mengikuti kegiatan hari itu, Rislah Ruhiyyah atau perjalanan spiritual yang diadakan Kelompok Kerja Madrasah Ma’arif  se-Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang yang diikuti siswa kelas VI  dari 11 Madrasah dibawah yayasan Ma’arif  NU. 

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah

Ketua Panitia Rozib Sulistyo menjelaskan, rihlah ruhiyyah adalah perjalanan menggunakan hati dan jiwa spiritualisme siswa agar dapat meneladani sifat, sikap dan perjuangan tokoh-tokoh NU, tidak hanya sekedar perjalanan fisik belaka dari pagi hingga sore mendatangi makam di kabupaten Magelang.

Acara ini merupakan dukungan riil terhadap visi misi Nahdlatul Ulama yaitu “al mukhafadhotu “alal qodimi wal ahdhu bil jadidil aslahi” mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik dan mempertahankan hal lama yang masih baik. Di sisi lain secara akademis siswa kelas VI Madrasah Ma’arif Nahdlatul Ulama harus menjalani ujian praktek mata pelajaran ke-NU-an sebagai mata pelajaran kelembagaan yang salah satunya membaca tahlil, siswa diperkenalkan kepada tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama di wilayah Magelang agar menghargai dan melanjutkan perjuangan mereka.

Ulama Salaf Online

Tujuan lain adalah menjadi ajang silaturahmi dan menghilangkan kejenuhan bagi siswa yang dalam waktu beberapa minggu ini bergelut dengan berbagai model soal guna menghadapi Ujian Nasional.

Ulama Salaf Online

Pukul 8 pagi semua siswa dan guru pendamping menggunakan 15 angkudes dan 4 mobil pribadi telah berada dititik awal kegiatan di makam Kiai Raden Abdullah di Tonoboyo Bandongan kemudian menuju Banjaragung Kajoran makam Kiai Raden Abdul Chamid, dilanjutkan makam KH Nur Muhammad di Ngadiwongso Salaman, tujuan berikutnya adalah makam Kiai Haji Raden Ma’sum di Tempuran dan kompleks makam Keluarga Kerajaan Mataram di Gunung Pring Muntilan, tempat terakhir pukul 3 sore adalah kompleks makam KH Chudlori di Tegalrejo Magelang.

“Siswa tidak diajarkan untuk meminta kepada arwah tokoh yang diziarahi namun mendoakan agar waliyullah tersebut diampuni dosanya, sedangkan siswa tetap berdoa kepada Allah dengan masing-masing sesuai hajat atau keinginannya,” tutur Rozib

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Santri, Tokoh Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock