Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro

Bulukumba, Ulama Salaf Online. Pemerintah Kabupaten Bulukumba bekerja sama dengan Komunitas Rumah Cinta dan Universitas Islam Makassar mengadakan Festival Datu Tiro. Kegiatan bertajuk “Vitalisasi Budaya dan Spirit Islamisasi Datu Tiro” tersebut dipusatkan di Pantai Samboang Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulukumba Gelar Festival Perjuangan Penyebaran Islam Datu Tiro

Festival Budaya pada 1 Februari 2015 ini bertujuan mengingatkan upaya Datu Tiro dalam menyebarkan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah di tanah Bulukumba atau yang dikenal Bumi Panrita Lopi.

“Datu Tiro menyebarkan Islam tanpa harus menghilangkan identitas budaya yang melekat di masyarakat Bulukumba,” ungkap Andika sebagai Ketua Panitia.

Ulama Salaf Online

Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud menghargai para leluhur, utamanya Datu Tiro sebagai salah satu penyebar Islam Ahlusunnah wal Jamaah di Bulukumba.

Untuk memajukan sebuah wilayah, kata dia, masyarakat mesti memelihara dan mengamalkan nilai-nilai kearifan lokal apa tak lagi terkait dengan nilai-nilai keislaman Nusantara. ?

Ulama Salaf Online

Rektor Universitas Islam Makassar Dr. Majdah M. Zain Agus AN menyampaikan orasi budaya. Menurut dia, penyebaran Islam di Sulawesi Selatan tak terlepas dari peran tiga datu yang dikenal, yaitu Datu Ribandang, Datu Fatimang, dan Datu Tiro.

Nama Datu Tiro, kata yang juga Ketua Lajnah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan ini, dikenal sebagai peletak batu pertama penyebaran Islam di Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Menurut Majdah, kedatangan Datu Tiro dalam menyebarkan Islam di Bulukumba, dikenal mampu memadukan ajaran Islam dan nilai-nilai budaya sebagai sebuah ajaran yang diterima secara luas masyarakat Bulukumba.

Ia berpendapat, nilai-nilai budaya yang disebarkan Datu Tiro di tanah Bulukumba ini harus senantiasa dipelihara dan diamalkan sebagai sebuah ajaran dan identitas masyarakat Bulukumba.

Kemudian Majdah juga menyinggung bobroknya moralitas kepemimpinan bangsa ini, tak lain disebabkan nilai-nilai Islam jauh dari amalan keseharian kita. Dalam tradisi kepemimpinan Bugis yang sesuai dengan ajaran Islam, kita mengenal istilah macca (cerdas), lempu (jujur), warani (berani), dan getteng (tegas).

“Ketika empat nilai ini diamalkan, Insya Allah bangsa ini jauh dari keterpurukan moralitas, tambahnya.

Dalam prosesi Festival Datu Tiro ini menampilkan beberapa kesenian diantaranya pembacaan riwayat dan sepak terjang Datu Tiro melalui kesenian Singrili, Gandrang Bulu Sitobo Lalang Lipa, seni bela diri.

Secara simbolik Rektor UIM memberikan bantuan Al Quran kepada masyarakat Desa Tri Tiro Bulukumba yang diwakili Pemerintah setempat sebagai bentuk UIM peduli buta aksara Quran.

Tampak hadir menyaksikan Festival Datu Tiro ini Ketua DPRD Bulukumba, Wakil Rektor I UIM Musdalifah Mahmud, Dekan Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIM Arfah Shiddiq, Asdir I Pasca Sarjana UIM Suardi Bakri, Ketua Muslimat NU Bulukumba, dan ribuan masyarakat Nahdliyin Bulukumba. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sunnah, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Rabu, 07 Februari 2018

Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat

Yogyakarta, Ulama Salaf Online  

Dalam rangka memperingati hari pangan dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, Forum Silaturrahmi Mahasiswa Pascasarjana Nahdlatul Ulama UGM bekerjasama dengan Pusat Studi Energi UGM menyelenggarakan diskusi bulanan ke-3 pada Rabu, (18/10). Diskusi ini mengusung tema “Peran Pangan Fungsional untuk Kesejahteraan Masyarakat.” 

Hadir sebagai pembicara Satyaguna Rakhmatullah, alumni S2 Fakultas Peternakan UGM yang sekarang menjadi  peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM. Selain itu ia juga aktif sebagai pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU DIY. 

Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat

Satyaguna menyampaikan bahwa pangan fungsional itu erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pangan fungsional ini adalah pangan yang tidak hanya memberikan nutrient atau nilai gizi, tetapi juga memberikan nilai kesehatan lebih bagi tubuh kita. 

Lebih lanjut, Satyaguna mengatakan bahwa pangan fungsional yang jumlahnya sangat banyak itu dapat kita temukan di lingkungan sekitar kita baik dalam bentuk umbi, sayur, maupun buah-buahan lokal. 

Ulama Salaf Online

Pemerintah diharapkan dapat mendorong kampanye pangan fungsional ini dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidup masyarkat baik dalam sisi kesehatan maupun dalam konteks ekonomi. Setiap desa diharapkan dapat mengembangkan pangan fungsional yang berasal dari hasil alam yang organik sebagi ciri khas daerah tersebut dan sekaligus untuk menguatkan ketahanan pangan masyarakat.

Sementara Ahmad Rahma Wardhana, perwakilan Pusat Studi Energi menyampaikan bahwa yang terpenting dalam menyelenggarakan diskusi seperti ini adalah keistiqomahan. 

Ulama Salaf Online

Selain itu ia juga menyampaikan, sebagai forum yang berisi mahasiswa dari litas disiplin, forum ini memungkinkan kita untuk mengembangkan sudut pandang multi perspektif, untuk keluasan dan kedewasaan dalam mengambil keputusan. 

Diskusi ini diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa S2 dan S3 yang berasal dari bebagai jurusan di kampus UGM, UIN Sunan Kalijaga dan UNY.  Forum ini merupakan wadah diskusi untuk mengembangkan intelektualitas mahasiswa Pascasarjana dari berbagai disiplin ilmu yang terikat oleh satu rasa emosi yang sama, yakni sebagai keluarga besar Nahdhlatul Ulama. (Irsyadul Ibad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sunnah, Fragmen Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Februari 2018

Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah

Jakarta, Ulama Salaf Online. Pikiran orang Wahabi tidak istiqomah. Klasifikasi bid‘ah seringkali ditentukan sepihak oleh mereka. Namun ketika mereka sendiri melakukan amal ibadah tertentu yang bersifat bid‘ah, mereka tidak komentar apapun, bahkan merasa nyaman dengan amal itu. 

Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pikiran Orang Wahabi Tidak Istiqomah

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur KH Muhyiddin Abdusshomad mengatakan perihal itu dalam pelatihan aswaja dan empat pilar di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7) sore.

KH Muhyiddin Abdusshomad menunjuk sejumlah praktik ibadah yang terdapat di bulan suci Ramadhan. Ia menyebut doa panjang seraya menangis saat sembahyang Tarawih di malam ke 27 dan 29 Ramadhan.

Ulama Salaf Online

“Ini tidak terdapat dalam hadis Rasulullah SAW apalagi Al-Quran,” tegas KH Muhyiddin Abdusshomad di hadapan sedikitnya 100 peserta pelatihan.

Ulama Salaf Online

Belum lagi misalnya, lanjut KH Muhyiddin Abdusshomad, mereka mematok satu juz Al-Quran setiap malamnya. Hal ini dimaksudkan agar Al-Quran bisa dikhatamkan selama bulan Ramadhan.

Kita baru mencatat ketidakistiqomahan pikiran ini di dalam bulan Ramadhan. Sementara praktik ibadah yang termasuk bid‘ah di luar bulan Ramadhan lebih banyak lagi ditemukan.

Penentuan bid‘ah secara sepihak sementara mereka juga mengerjakan bid‘ah dalam bentuk lainnya, merupakan tindakan sewenang-wenang dan kezaliman dalam beragama.

Pelatihan Aswaja dan Empat Pilar berlangsung dari Jum‘at-Ahad (19-21/7). Pelatihan diikuti oleh kader Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (Hidmat NU) di lima cabang Jakarta dan kader da‘i Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Ahlussunnah, Sunnah, Khutbah Ulama Salaf Online

Kamis, 01 Februari 2018

Kisah Abu Bakar Digigit Ular

Tulisan ini adalah lanjutan dialog Kontributor Ulama Salaf Online Moh Yasir Alimi dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani. Pada bagian pertama, telah diartikan apa itu thariqat, getar di dada, dan kisah tentang Sahabat Abu Bakar. Berikut ini lanjutannya, bagian kedua.

Kisah Abu Bakar selanjutnya bagaimana, Syaikh? 

Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar.  "Ooo … Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rasulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayidina Abu Bakar.” With no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Kisah Abu Bakar Digigit Ular (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Abu Bakar Digigit Ular (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Abu Bakar Digigit Ular

Pertama-tama, dalam Islam yang kita butuhkan bukan`ngerti syariat, tapi cinta terhadap yang mengajarkannya dan Dzat Maha Suci yang menurunkannya. Tanpa kacamata tersebut, tanpa rasa cinta tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi "The Matter of Transaction", tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rasulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan, "Oooo … Rasulullah mau istirahat di Gua Tsur."

Ulama Salaf Online

Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu reason, pikiran digunakan sesudah ‘cinta’, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang well enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (tidak senonoh), yang bisa bertingkah macam-macam, menimbulkan problem. 

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Abu Bakar?.

Ulama Salaf Online

Beliau kemudian mendekati Rasulullah, kasih aku kesempatan masuk. Rasulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3. Barangkali sudah kruntelan di situ, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang di situ. Beliau buka sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rasulullah. Beliau tidak mau Rasulullah digigit ular. 

Akhirnya kakinya dicatel (digigit) oleh ular. Kemudian Beliau bilang, “Silakan masuk Rasulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon.” Rasul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rasulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rasulullah. 

Bagaimana respon Rasulullah, Syaikh?. "Nangis Sampean?” tanya Rasulullah.

"Tidak,” jawab Abu Bakar, “kakiku digigit ular." 

There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rasulullah berkata pada ular.

" Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?" 

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau. 

"Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?. "Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. "

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah. (Bersambung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sunnah, Pendidikan, Hikmah Ulama Salaf Online

Kamis, 25 Januari 2018

Usaha Tidak Pernah Mengkhianati Hasil

Sumedang, Ulama Salaf Online - Siswi Madrasah Aliyah (MA) Mia Siti Rahmani (18) berhasil menyandang peringkat kedua pada Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat MA se-Kabupaten Sumedang. Pada kompetisi berlangsung di Pondok Pesantren Darul Hikmah Sukawangi beberapa waktu lalu itu, Mia berhasil juara pada mata pelajaran biologi.

Siswi kelas XI Madrasah Aliyah Plus Al-Hikam Tanjungkerta itu menceritakan pengalamannya. "Memerlukan persiapan yang matang, ketekunan, dan semangat yang tinggi untuk mencapainya,“ ujarnya ketika ditemui di aula PCNU Sumedang (12/5).

Usaha Tidak Pernah Mengkhianati Hasil (Sumber Gambar : Nu Online)
Usaha Tidak Pernah Mengkhianati Hasil (Sumber Gambar : Nu Online)

Usaha Tidak Pernah Mengkhianati Hasil

Untuk mengikuti kompetisi itu, Mia berlatih selama tiga bulan, “Dari Februari sampai April dibantu oleh guru yang ahli dalam bidangnya, beliau bernama Ibu Hediana," lanjutnya.

Ulama Salaf Online

Siswi yang aktif di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengaku, mengikuti kegiatan itu merupakan pengalaman pertamanya. “Pertama kalinya saya mengikuti dan menjuarai KSM tingkat MA se-Kabupaten Sumedang," ujar santriwati yang hobi membaca ini.

Meski meraih juara dua, dari 16 peserta di bidang Biologi, Mia mengaku senang dan bangga atas usaha yang ditempuhnya, “Ya walaupun sedikit kecewa. Memang benar usaha itu tidak ada yang mengkhianati hasil. Mungkin waktu yang saya tempuh untuk memperdalamnya terlalu singkat dan usaha saya pun mungkin kurang, jadi hasilnya tidak maksimal," pungkasnya.

Ulama Salaf Online

Kompetisi Sains Madrasah yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang ini disponsori Ganesha Operation (GO), dihadiri oleh 105 orang peserta? dari berbagai cabang mata pelajaran. Masing-masing mata pelajarannya adalah Kimia, Fisika, Biologi, Matematika, Ekonomi, dan Geografi. (Ayu Linggasari/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sunnah Ulama Salaf Online

Minggu, 21 Januari 2018

Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas

Jakarta, Ulama Salaf Online - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menggelar kajian fikih ramah penyandang disabilitas di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (19/10). Mereka dalam kajian ini menghadirkan sejumlah komunitas penyandang disabilitas.

Dalam kesempatan ini komunitas tersebut mengungkapkan sejumlah konstruksi dan fasilitas rumah ibadah agama Islam yang belum ramah terhadap penyandang disabitilas. Mereka juga menyampaikan kebutuhan buku-buku hadits dan fikih berhuruf Braile yang masih sangat minim.

Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Materi Munas, LBM PBNU Dengarkan Aspirasi Komunitas Penyandang Disabilitas

Ketua LBM PBNU KH Najib Hasan menyampaikan bahwa kesadaran raham penyandang disabilitas memang belum merata di kalangan pengelola fasilitas ibadah baik masjid maupun mushala.

Ulama Salaf Online

“Belum ada masjid dan pesantren yang memikirkan masalah penyandang disabilitas. Untuk itu kita ingin mendorong semua pihak untuk terbuka dengan amsalah ini,” kata Kiai Najib.

Ulama Salaf Online

Sekretaris LBM PBNU KH Sarmidi Husna mengatakan bahwa P3M sebenarnya sudah lama memberikan masukan kepada PBNU.

“Pak Setia, waktu itu ia datang ke PBNU menemui Ketua PBNU KH Imam Aziz, lalu ia memanggil saya. Isu disabilitas ini disetujui Kiai Said Aqil Siroj dan Rais Aam PBNU. Pertemuan kita kali adalah dalam rangka menyiapkan draf awal terkait materi fikih ramah disabilitas,” kata Sarmidi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Hadits, RMI NU, Sunnah Ulama Salaf Online

Minggu, 07 Januari 2018

Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi

Tarim, Ulama Salaf Online. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman menerapkan sistem Ahlul Halli pada pemilihan pemimpin baru dalam Konferensi Cabang Istimewa Ke-3. Penentuan rais syuriah dan ketua tanfidhiyah dilakukan oleh tim formatur yang terdiri dari utusan beberapa organisasi di Yaman.

Tim formatur terdiri dari para ketua organisasi seperti PPI, AMI Al Ahgaff, FLP Yaman, dan organisasi kedaerahan seperti OPISI (Sumatera), Pajajaran (Jawa Barat & Banten), PPJJ (Jawa Tengah), Keramat Jatim, Fosmaya (Madura), dan Roudlotul Banjariyyin.

Sidang pleno yang dipimpin Rais Syuriah PCINU Yaman Nuril Izza Muzakki ini sebelumnya memunculkan dua kandidat rais Syuriah, yaitu Hasan Bashri Hayy dan Muhammad Gufron, dan dua kandidat ketua tanfidhiyah, yakni H M Thohir Uzt dan Abdul Rahman Malik.

Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi

Pemilihan yang diagendakan hanya 15 menit berjalan alot hingga molor sampai satu jam. Namun forum akhirnya memutuskan dan menetapkan Hasan Bashri Hayyi sebagai Rais Syuriah PCINU Yaman dan Abdul Rahman Malik sebagai Ketua Tanfidhiyah PCINU Yaman masa khidmah 2015-2016.

Ulama Salaf Online

Pemilihan ketua yang digelar di Auditorium Kampus Universitas Al Ahgaff, Tarim, Rabu malam (11/15) waktu setempat itu berlangsung dalam sidang pleno ketiga. Sebelumnya telah dilaksanakan sidang laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus demisioner dan sidang soal program PCINU ke depan.

"Laporan pertanggungjawaban merupakan hasil realisasi program selama satu periode berdasarkan lajnah dan lembaga yang ada di PCINU Yaman," tutur Nuril. Lajnah dan lembaga itu meliputi Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengemembangan Sumber Daya Manusia), LDNU (Lembaga Dakwah NU), LMI-NU (Lembaga Media dan Informasi NU), LTNNU (Lanjah Talif wa Nasyr NU) dan LBMNU (Lajnah Bahtsul Masail NU).

Ulama Salaf Online

Acara pada malam itu disambung dengan peluncuran buku karya aktivis NU Yaman "Membumikan Maqashid Syariah" dan kitab "Mighnathisul Afrah fi Adiyatin Nikah". Acara semakin meriah dengan pengumuman pemenang Lomba Menulis Artikel Islam (LMAI) PCINU Yaman yang digelar sejak 30 Desember 2014. Hadiah berupa uang tunai, piagam penghargaan, dan buku “Wisata Religi di Negeri Para Wali” karya LTN-NU diberikan kepada tiga juara terbaik.

Rangkaian acara Konferensi Cabang Istimewa ini dimulai sejak Ahad (8/2) dengan agenda seminar tentang ISIS, bahtsul masail, diskusi panel, dan kuliah umum bersama KH Yunus Roichan. (Arman Malieky/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Humor Islam, Fragmen, Sunnah Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock