Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Dimana dan Kemana Pisau Tajam NU

Oleh Faridur Rohman

Tidak sedikit warga NU itu seperti pisau, tajam menggilas bagi siapa saja yang menghujat ritual keagamaan juga pada orang-orang yang merongrong keutuhan berbangsa dan bernegara. Sayangnya pisau itu perlu diasah kembali agar lebih tajam untuk membela kaum petani dan kebanyakan.

Dimana dan Kemana Pisau Tajam NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimana dan Kemana Pisau Tajam NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimana dan Kemana Pisau Tajam NU

Langit masih mendung, beberapa jam lalu gerimis mengguyur. Gedung berundak yang menjulang tinggi di Jalan Pahlawan Kota Semarang masih dikerumuni puluhan orang bercaping dan berjarik. Sudah seminggu lamanya mereka bertahan. Sisa-sisa hujan masih tercecer membasahi jalan bercampur dengan air mata.?

Ada yang duduk menggigil kedinginan, ada yang berdiri menghadap ke jalan, melihat lalu lalang kendaraan. Sebagian lagi menatap tajam pada siapa saja yang ada di dalam gerbang sembari memegang erat payung di tangan kanan. Mereka setia menunggu keputusan tegas dari sang durjana. Setegas spanduk yang mereka bentangkan pada pagar beruji besi “#RembangMelawan #TolakPabrikSemen #KawalPutusanMA”.

"Saya sangat mendukung gerakan ibu-ibu dari pegunungan Kendeng yang menuntut pemerintah dalam hal ini gubernur Jateng supaya melaksanakan putusan MA. Tidak ada hukum yang tertinggi selain MA. Oleh karena itu saya minta kepada Pak Ganjar untuk bersikap sebagai negarawan dan tidak berbelit belit. Sebenarnya urusan melestrikan lingkungan itu urusan negara juga."

Ulama Salaf Online

Begitu bunyi pesan yang disampaikan salah satu ketua ormas keagamaan terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama. Menjadi oase di padang kerontangnya garis perjuangan. Imam Aziz kala itu, Jum’at (30/12) dengan memakai kemeja lengan pendek, celana bahan bersandal jepit mendatangi aksi petani pegunungan Kendeng dan sekitar. Membagi suplemen semangat dan harapan. Berdiri bersama memegang payung sebagai simbol kaum papa harus dilindungi. Memberi isyarat bahwa NU bersama anak muda dan mahasiswa progresifnya juga masih peduli dengan isu-isu agrarian.

Lain Kendeng lain Sukamulya. Para petani desa yang menolak pengukuran lahan imbas akan dibangunnya bandara terpaksa bentrok dengan aparat. Peristiwa November itu juga menjadi catatan merah soal isu-isu agrarian. Lewat lembaga batuan hukum NU, dibantu pemudanya (Anshor) dan mahasiswanya (PMII) sigap melakukan kajian strategis dan turut aktif membantu menyelesaikan soal sengketa lahan ini. Menegasikan kembali, ditataran akar rumput NU hadir mejadi bahu untuk mereka bersandar.

Masih banyak contoh sengketa lahan yang terjadi pada tahun ini, 2016. Entah itu melibatkan warga dengan pabrik, Aparat, Perusahaan korporasi, tambang dan lain sebagainya. Masih ingat? Sebut saja, Selok Awar Awar, Lumajang, Urut Sewu Kebumen, Kendal,Tulang Bawang, Lampungdan banyak lagi di Sumatera ditambah Kalimatan dan wilayah timur Indonesia yang tak terekam media. Mestinya ini juga menjadi garis perjuangan NU baik ditataran pusat sampai yang paling rendah, ranting atau desa.

Di mana semestinya NU

Refleksi itu bernama cermin, tempat di mana seseorang bisa berkaca tentang apa yang ada pada diri dan apa yang harus dibenahi. Semestinya NU juga harus harus berkaca tentang tujuan untuk apa ia didirikan. Salah satu butir yang ditelurkan berdirinya NU atau yang disebut Khittah NU 1926 adalah membentuk organisasi untuk memajukan pertanian, perdagangan, dan industri yang halal menurut hukum Islam. Ini memberikan bukti bahwa kiai-kiai khas NU memikirkan soal pertanian sekaligus para petaninya.Tidak berhenti pada itu, hasil muktamar Situbondo 1984, juga menelurkan hal yang sama salah satunya soal pengembangan pertanian.

Ulama Salaf Online

Bagi kalangan nahdliyin (sebutan warga NU) pasti tidak asing dengan kata “Pak Tani itulah penolong negeri”. Kata itu benar adanya, pernah ditulis oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy’ri, kurang lebih kata itu diambil dari cuplikan tulisan beliau, “Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat ? negeri didasarkan.”

Dimana semestinya NU jika terjadi sengketa lahan yang melibatkan para petani?. Bagi penulis setiap penambangan yang dilakukan oleh korporasi, mesti madharatnya lebih besar dibanding asas kemanfaatan. Semisal yang terjadi pada petani Kendeng jika pabrik semen benar berdiri? Apa ada jaminan ia memberikan kesejahteraan atau sebaliknya kerusakan ekosistem lingkungan, bencana, kekeringan dan langka pangan yang terjadi.?

Yang hanya ada janji janji pendapatan bertambah dan itu memang benar. Bertambah bagi segelintir orang dan pucuk perwakilan. Sedang para petani dan kebanyakan akan menjadi buruh di mana setelah kering keringatnya, mereka akan tersingkir digantikan keringat yang segar. Bagaimanapun juga, menjaga kelestarian adalah harga mati, seperti halnya menjaga keutuhan NKRI, semestinya.

Ratusan orang tidak cukup untuk mengembalikan hutan yang gundul dalam sekejap. Tidak saja menanam tapi merawat agar tumbuhan tetap tumbuh dan besar butuh energi ekstra dan waktu yang amat panjang. Sedangkan cukup, tidak lebih dari puluhan orang, dan puluhan hari satu hutan bisa dihabiskan dalam waktu yang singkat.

“Mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, ? apabila menimbulkan dlarar, maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat)” begitu bunyi Keputusan Muktamar NU Cipasung, Tasikmalaya 1994. Diperkuat lagi dengan Halaqoh Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan Hidup Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta 2007, negara sedang genting mengalami krisis ekologi adalah kaca di mana semestinya NU berdiri.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip kata Imam Syafi’i “Pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan, sedangkan pendapatmu salah tetapi bisa jadi memiliki kebenaran.” Wallahu A’lam.

Penulis adalah Pegiat Omah Aksoro, Nyantri di Nutizen dan pernah belajar di STAINU Jakarta, Kader PMII karena sudah menyelesaikan PKD.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Daerah, Bahtsul Masail, Habib Ulama Salaf Online

Kamis, 25 Januari 2018

Dua Pilar Utama dalam Beragama

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Dua Pilar Utama dalam Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Pilar Utama dalam Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Pilar Utama dalam Beragama

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ulama Salaf Online

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali atau yang kita kenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa agama itu mengandung dua hal pokok, yakni meninggalkan maksiat dan berbuat ketaatan. Semua hal yang dilarang Allah adalah maksiat. Sedangkan melaksanakan ketaatan berarti mematuhi perintah-perintah-Nya.

Ulama Salaf Online

Demikianlah, perintah dan larangan, maksiat dan taat, merupakan dua unsur beragama yang bertolak belakang. Dua-duanya menjadi bagian mutlak dalam menjalani kehidupan beragama. Terkait dua hal itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa meninggalkan maksiat lebih berat ketimbang berbuat taat. Kata beliau dalam kitab Bidâyatul Hidâyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Meninggalkan maksiat itu amat berat. Setiap orang masih sanggup melakukan ketaatan. Tapi berpaling dari syahwat (hawa nafsu) hanya mampu dilakukan oleh orang-orang shiddîqûn (yang benar-benar beriman).”

Jamaah Shalat Jum’at asadakumullâh,

Meninggalkan larangan lebih berat daripada melaksanakan perintah karena kecenderungan sifat manusia yang ingin bebas tanpa ada yang membatasi. Inginnya, semua hal yang dikehendaki terwujud; seluruh yang membuatnya penasaran bisa terungkap. Nah, sementara larangan menjadi musuh itu semua dan karenanya menjadi sangat berat.

Kita semua mungkin saja masih bisa melaksanakan perintah shalat jum’at, puasa, zakat, dan seabrek ibadah lainnya. Namun, berapa banyak dari kita yang sanggup meninggalkan maksiat godaan hawa nafsu yang ditimbulkan setelah berbuat ketaatan tersebut? Shalat dan puasa itu bisa dikatakan mudah. Yang susah adalah shalat dan puasa tetapi tetap tidak merasa lebih suci dan lebih baik dari orang lain yang tidak melaksanakan shalat dan puasa. Sedekah dan menolong orang lain bisa dikatakan mudah. Yang susah adalah sedekah dan menolong orang lain tetapi tidak mengharap imbalan dan pujian apa pun dari siapa pun.

Hal ini juga membuktikan bahwa taat dan maksiat memang bertolak belakang, namun keduanya bukan berarti tak bisa bercampur. Seorang hamba di satu masa bisa sangat rajin ibadah tapi di saat bersamaan menumpuk maksiat dan melenyapkan pahala ibadah tersebut karena melanggar rambu-rambu penyakit hati, seperti ‘ujub (bangga diri), riya’ (pamer), dan lainnya. Itulah mengapa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Al-muhâjiru man hajaras sû’a wal mujâhidu man jâhada hawâhu (orang yang berhijrah adalah rang pindah dari keburukan, sementara orang yang berjihad adalah orang berperang dengan hawa nafsunya sendiri).”

Jamaah Shalat Jum’at asadakumullâh,

Seluruh anggota badan manusia adalah titipan atau amanat. Ia tak hanya harus disyukuri tapi juga wajib dipelihara agar tak melenceng dari fungsi maslahatnya. Berbuat maksiat, kata Imam Al-Ghazali, masuk kategori pengkhianatan terhadap titipan Tuhan. Selain itu, sikap tersebut juga cerminan dari ketaksanggupan seseorang dalam menjalankan fungsi kepemimpinan terhadap dirinya sendiri. Padahal Rasulullah mengingatkan:

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya ini.”

Memimpin tak selalu identik dengan kekuasaan politik atau jabatan publik. Memimpin juga bisa terjadi dalam sekup yang paling kecil, seperti komunitas, keluarga, hingga diri sendiri. Sering kali memimpin diri sendiri lebih susah ketimbang memimpin orang lain. Adakah musuh dan halangan paling berat ketimbang diri sendiri?

Demikian, semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang sanggup melaksanakan perintah tapi juga meninggalkan larangan dengan sepenuh hati. Menjadi pribadi yang taat dan jauh dari maksiat (baik jasmani maupun ruhani) yang berlandaskan kesadaran penuh ketuhanan.

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi LuhurDari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Ahlussunnah, Anti Hoax, Habib Ulama Salaf Online

Selasa, 23 Januari 2018

Direktur Koperasi NU Pamekasan Dorong Kemandirian Nahdliyin

Pamekasan, Ulama Salaf Online - Koperasi NU Mandiri Syariah diluncurkan di halaman Kantor PCNU Pamekasan, Selasa (28/3). Peluncuran ini dihadiri pengurus dan warga nahdliyin dari 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Pamekasan.

"Sesuai namanya, koperasi ini hadir dalam rangka mendorong warga nahdliyin mandiri secara ekonomi," ujar Direktur Koperasi NU Mandiri Syariah KH Mudarris (Gus Dar).

Direktur Koperasi NU Pamekasan Dorong Kemandirian Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Direktur Koperasi NU Pamekasan Dorong Kemandirian Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Direktur Koperasi NU Pamekasan Dorong Kemandirian Nahdliyin

Ia menambahkan, dengan diresmikannya koperasi milik PCNU Pamekasan pihaknya berharap akan menambah semangat dan kerja sama yang baik dalam menjalankan program NU yang sudah direncanakan.

"Semoga diresmikan Koperasi NU Mandiri Syariah ini akan menambah semangat seluruh pengurus PCNU, MWCNU, serta banom-banomnya dalam berorganisasi dengan niat berjuang di jalan Allah," tegas Pengasuh Pesantren Nurul Falah, Batubintang, Batumarmar Pamekasan tersebut.

Ulama Salaf Online

Kepada para pengurus koperasi, Gus Dar mengajak agar memantapkan niat, berusaha sekuat tenaga untuk membesarkan koperasi NU karena lembaga keuangan tersebut berjalan dengan baik jika pengelolaannya dilakukan dengan baik.

Ulama Salaf Online

"Tentunya didasari dengan SDM yang mumpuni," kata Gus Dar. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama, Habib Ulama Salaf Online

Sabtu, 13 Januari 2018

Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit

Semarang, Ulama Salaf Online. Panitia pelaksana Liga Santri Nusantara (LSN) Regional 2 Jawa Tengah menggelar Technical Meetting (TM) dan diskusi publik di Gedung Berlian (DPRD Jawa Tengah) Kota Semarang, Kamis (25/8).?

Demi menjaga moralitas santri yang dikenal santun dan anti kekerasan, dalam TM itu disepakati oleh para manajer klub bahwa setiap pemain yang mendapat kartu kuning harus mencium tangan wasit. "Ini demi menjaga supaya tidak ada santri yang main kemudian terjadi hal-hal yang diinginkan," demikian dikatakan salah satu peserta TM. ?

Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapat Kartu Kuning, Pemain LSN Jateng Wajib Cium Tangan Wasit

Ketua panitia pelaksana Regional 2 Jateng, Shalahuddin menyatakan ada 18 klub pesantren yang telah dinyatakan lolos verifikasi data dengan catatan penting semua klub harus main fair play terlebih masalah pemain santri. "Kalau ditemukan ada pemain dari non-santri, kami tidak segan untuk mendiskualifikasi klub tersebut," tandasnya. (Mundzir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Nahdlatul Ulama, Hadits, Habib Ulama Salaf Online

Selasa, 09 Januari 2018

LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu

Jakarta, Ulama Salaf Online. Lembaga Pengembangan Perekonomian Nahdlatul Ulama Lampung Selatan mengambil pembudidayaan lebah madu sebagai program unggulannya ke depan. Kesepakatan ini diambil dalam musyawarah pengurus LPPNU Lampung Selatan, Sabtu (6/12).

LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu

Ketua LPPNU Lampung Selatan Slamet Novianto mengatakan, LPPNU Lampung Selatan ke depan fokus pada pembudidayaan lebah madu sebagai salah satu potensi lokal.

“Tentu kita juga berharap untuk bisa menjaga, melanjutkan, dan membangun hasil-hasil pertanian masyarakat Lampung Selatan yang warganya mayoritas Nahdhiyyin, di samping hasil bumi pertanian dan peternakan,” ujar Slamet.

Ulama Salaf Online

Pembudidayaan lebah madu sudah diawali sebelumnya oleh salah satu pengurus LPPNU Ustadz Khoiruddin. Ia merupakan Koordinator Divisi Kehutanan dan Tata Ruang di LPPNU.

Ulama Salaf Online

Ketua PCNU Lampung Selatan H Nur Mahfud yang hadir pada rapat pengurus ini mengajak pengurus LPPNU Lampung Selatan agar bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

“Kalau diamati Lampung Selatan sangat luas dan mayoritas petani baik itu perkebunan, sawah, peternakan dan lainnya. Banyak potensi yang harus dikembangkan. Dengan wadah LPPNU ini masyarakat bisa terbantu baik dalam pengolahan, pemasaran yang benar-benar bisa bermafaat,” kata H Mahfud. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Habib Ulama Salaf Online

Sabtu, 16 Desember 2017

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan

Yogyakarta, Ulama Salaf Online. Pemerintah dinilai panik dan frustasi menyikapi persoalan perberasan yang meruncing karena harga beras di banyak tempat telah naik tajam. Keputusan pemerintah menambah jumlah beras impor sebesar 500.000 sangat membahayakan ketahanan pangan Indonesia.

”Bagi saya, ini sungguh keputusan politik yang tergesa-gesa. Alasan-alasan yang dibangun juga sangat klasik, produksi yang turun, konsumsi naik, jumlah penduduk naik, dan alasan-alasan instan reaktif lainnya,” kata KH. Mohammad Maksum, Wakil Ketua Penguruts Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta kepada Ulama Salaf Online di Yogyakarta, Kamis (15/2).

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan

Menurut Maksum yang juga peneliti di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gajah Mada (UGM), semua pihak harus duduk bersama dan mencermati urusan pangan dari perpektif jangka panjang. Keberlanjutan ketahanan dan kedaulatan RI harus diprioritaskan.

“Banyak yang harus kita telah sehingga tidak reaktif -impor begitu saja. Padahal itu membahayakan kedaulatan pangan dan RI kita. Selain itu impor beras untuk kebutuhan Operasi Pasar itu lebih banyak mubazirnya,” kata Maksum.

Dikatakan, mestinya pemerintah berangkat dari mempertanyakan kenapa OP yang baru-baru ini digencarkan selalu gagal dan tidak efektif. Menurut teori OP berfungsi untuk menyetabilkan harga, namun kenyataannya tidak demikian. “Misteri itu harus diungkap.. Harus kita sadari bahwa misteri itu ada,” katanya.

Gejolak perberasan memang menjadi kebiasaan tahunan. Pada Januari-Februari tahun ini kenaikan harga beras termasuk paling dahsyat. Namun, kata Maksum, perlu diingat bahwa ada kelambatan panen di satu fihak dan ada manipulasi pasar di fihak lain. Pembangunan pertanian harus dilakukan secara sistemik pernah sistemik dan tidak reaktif begitu saja.

Ulama Salaf Online

”Apakah dengan impor persoalan selesai? Saya yakin tidak! Kecuali kita reorientasi membangun bangsa ini dengan mementingkan pertanian dan kaum sebagai kiblat dan pusat perhatian, bukan hanya sebagai semboyan seperti dulu. Tanpa memahami sistem pasar yang terjadi di balik dinamika harga ini, solusinya pasti reaktif, jangka pendek, dan tidak pernah selesaikan persoalan,” katanya. (nam)

Ulama Salaf Online



Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kyai, Habib, Khutbah Ulama Salaf Online

Minggu, 10 Desember 2017

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Padang Pariaman, Ulama Salaf Online. Ketua yayasan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan H Idarussalam memberikan gelar “Tuanku Imam Nahdliyin” untuk Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi di pesantren Nurul Yaqin, Pakandangan, Padang Pariaman, Ahad (18/1). Pemberian gelar kehormatan ini merupakan kali pertama dilakukan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan.

Pemberian gelar ini berlangsung saat tabligh akbar maulud Nabi Muhammad SAW. Kiai Hasyim sendiri hadir sebagai penyampai taushiyah pada tabligh akbar tersebut.

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Menurut H Idarussalam, pemberian gelar merupakan kesepakatan pimpinan dan majelis guru pesantren Nurul Yaqin. "Kami menilai kehadiran Kiai Hasyim ke pesantren Ringan-Ringan patut diberikan penghargaan. Walaupun banyak tokoh yang sudah pernah hadir di pesantren ini, namun kehadiran Kiai Hasyim mampu mengangkat harkat pesantren Nurul Yaqin," kata H Idarussalam.

Ulama Salaf Online

Yang lebih penting lagi, kata H Idarussalam, Kiai Hasyim merupakan tokoh kiai kaliber nasional yang memahami kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Ringan-Ringan. Kiai Hasyim merupakan tokoh ulama, bukan sekadar ulama. Paham keagamaannya Aswaja seperti yang diajarkan di pesantren Nurul Yaqin ini.

Ulama Salaf Online

"Gelar Tuanku Imam Nahdliyin disematkan karena Kiai Hasyim memang imamnya orang NU yang disebutkan warga nahdliyin. Sebagai pesantren yang melahirkan ulama dengan gelar “Tuanku” dan diakui oleh Pemkab Padang Pariaman, kita patut memberikan gelar tersebut," kata H Idarussalam.

Pesantren Nurul Yaqin selama ini terbuka terhadap kultur masing-masing santri dalam memberikan sebuah gelar. Sehingga gelar dari tamatan pesantren Nurul Yaqin pun beragam. Ada yang berbau Padang Pariaman seperti Tuanku Sidi, Bagindo, Sutan. Ada pula yang berbau Arab, Indonesia, dan juga ada yang menyesuaikan dengan daerah masing-masing di luar Padang Pariaman.

"Kita serahkan kepada masing-masing keluarga santri siapa gelar “Tuanku” yang diberikan kepada anaknya," tambah H Idarussalam. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Internasional, Olahraga, Habib Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock