Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

Sleman, Ulama Salaf Online. Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Nusron Wahid mengutuk kekerasan atas nama agama yang dilancarkan kelompok kecil bersenjata. Nusron menyebut kelompok ekstrem ini sebagai penjahat kemanusiaan tiada tara.

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Kekerasan Kelompok Kecil Nodai Islam

“Kekerasan beberapa hari lalu di Perancis dan juga di Timur Tengah, sama sekali mencemarkan keluhuran ajaran Islam,” kata Nusron dalam sambutan pembukaan Kongres XV GP Ansor di pesantren Sunan Pandanaran jalan Kaliurang, kabupaten Sleman, Kamis (26/11) pagi.

Perhatian masyarakat dunia dikejutkan oleh penyerangan kelompok kecil bersenjata terhadap sipil yang merenggut lebih dari seratus korban jiwa. Bagaimana pun, Nusron menambahkan, kekerasan atas nama apapa pun tidak bisa diterima.

Ulama Salaf Online

Ia mengajak warga Nahdlatul Ulama termasuk aktivis GP Ansor untuk berpartisipasi menyebarkan keluhuran dan keberadaban Islam di tengah masyarakat dunia.

Ulama Salaf Online

“NU dan Ansor wajib melawan kejahatan semacam ini. Wajib dicegah,” tegas Nusron. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pertandingan, Jadwal Kajian, Tokoh Ulama Salaf Online

Selasa, 20 Februari 2018

Makna Ukhuwah Islamiyah

Selama ini, masyarakat seringkali memaknai ukhuwah Islamiyah sebagai persaudaraan terhadap sesama orang Islam. Mestinya tidak demikian. Ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhood) berbeda dengan ukhuwah baynal-muslimin atau al-Ikhwanul-Muslimun (moslem brotherhood).

Makna persaudaraan antara sesama orang Islam itu bukan ukhuwah Islamiyah, tetapi ukhuwah baynal-muslimin/ al-Ikhwanul-Muslimun (Moslem Brotherhood). Jika dikaji dari segi nahwu, ukhuwah Islamiyah adalah dua kata yang berjenis mawshuf atau kata yang disifati (ukhuwah) dan shifat atau kata yang mensifati (Islamiyah). Sehingga, ukhuwah Islamiyah seharusnya dimaknai sebagai persaudaraan yang berdasarkan dengan nilai-nilai Islam. Sedangkan persaudaraan antar sesama umat Islam dinamakan dengan ukhuwah diniyyah.

Dari pemaknaan tersebut, maka dapat dipahami bahwa ukhuwah diniyyah (persaudaraan terhadap sesama orang Islam), ukhuwah wathâniyyah (persaudaraan berdasarkan rasa kebangsaan), dan ukhuwah basyâriyyah (persaudaraan berdasarkan sesama makhluk Tuhan) memiliki peluang yang sama untuk menjadi Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah tidak sekedar persaudaraan dengan sesama orang Islam saja, tetapi juga persaudaraan dengan setiap manusia meskipun berbeda keyakinan dan agama, asalkan dilandasi dengan nilai-nilai keislaman, seperti saling mengingatkan, saling menghormati, dan saling menghargai.

Makna Ukhuwah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Ukhuwah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Ukhuwah Islamiyah

Implementasi Ukhuwah Islamiyah

Revitalisasi makna ukhuwah Islamiyah tersebut merupakan sebuah pencerahan terutama ketika jaman ini sudah didominasi oleh sikap radikal dan agresif meski itu dalam bidang agama dan keyakinan. Peristiwa saling menyerang dan merugikan dalam internal agama meski berbeda paham sudah sangat sering dijumpai di negeri ini, negeri yang katanya paling religius dan memiliki norma paling halus di antara negeri lain.

Hanya karena berbeda penafsiran dari ayat Al Qur’an dan Hadits, tak jarang suatu kelompok menjelek-jelekkan kelompok lain, bahkan sampai keluar kata “kafir dan sesat”. Tidak hanya sampai itu, kebencian terhadap kelompok lain yang sejatinya masih seagama itu juga disebarkan ke kalangan awam. Terlebih lagi kebencian terhadap kalangan agama lain, yang seringkali disertai argumentasi yang berasal dari fantasi sendiri sehingga menjadi bumbu penyedap yang pada akhirnya virus kebencian tersebut benar-benar menyebar.

Indonesia, 90% lebih penduduknya beragama Islam. Kondisi ini membuat Indonesia menajdi negara yang penduduk Islamnya terbanyak sedunia. Di dalam agama Islam itu sendiri, tidak dapat dipungkiri dan sudah menjadi sunnatulah, bahwa terdapat bermacam penafsiran terhadap teks Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum Islam. Pada akhirnya muncul berbagai paham dan madzhab dalam Islam. Hal ini pun sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad SAW bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 golongan (Sunan al-Tirmîdzî [2565]).

Ulama Salaf Online

Kondisi yang mustahil untuk dihindari ini mestinya disikapi dengan bijak, terlebih lagi Islam adalah agama yang tidak hanya sekedar membuat pengikutnya selamat di akhirat, tetapi juga di dunia. Islam berasal dari kata “salimu” yang artinya selamat, bahkan Nabi Muhammad SAW mempertegas orang tidak dikatakan beragama Islam jika orang yang berada di sekitarnya belum selamat dari mulut, tangan, dan sikapnya. Pemaknaan ini yang juga mempertegas bahwa Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

Ulama Salaf Online

Revitalisasi makna Ukhuwah Islamiyah tersebut seharusnya menjadi spirit baru dalam kehidupan beragama, sehingga agama menjadi sebuah institusi yang menyejukkan, bukan institusi yang menebar virus kebencian. Di satu sisi, keteguhan dalam memegang prinsip dan tafsir yang diyakini adalah penting, tetapi di sisi lain, keteguhan tersebut tidak menjadi kebenaran ketika disertai dengan sikap memaksa, mengkafirkan, menyesatkan, dan menyebarkan kebencian. Pada taraf inilah, ukhuwah (persaudaraan) dengan orang Islam tidak menjadi ukhuwah Islamiyah, ketika disertai dengan sikap saling merugikan dan mendhalimi. Tetapi, ketika persaudaraan dengan orang lain meskipun berbeda keyakinan, pada saat itu juga persaudaraan itu menjadi ukhuwah Islamiyah.

Implementasi dari ukhuwah Islamiyah ini memang harus benar-benar ditegakkan. Ditegakkan bukan hanya sekedar simbol dan semboyan. Tetapi juga harus berusaha diinternalisasikan kepada seluruh orang Islam. Seringkali penulis masih menemui kondisi yang tidak mencerminkan ukhuwah Islamiyah meskipun sesama orang Islam sendiri. Padahal, seluruh pimpinan ormas-ormas Islam di Indonesia mencontohkan kerukunan dan persaudaraan yang tinggi, misalkan antara para petinggi di PBNU dan PP Muhammadiyah. Pada taraf ini, persaudaraan sudah terjalin dengan baik.

Namun, satu hal yang tertinggal, bahwa internalisasi nilai ukhuwah Islamiyah tersebut juga harus sampai pada tingkat “akar rumput”, misalkan tingkat desa. Hal yang seringkali terjadi adalah pada tingkat atas sudah dapat mengimplementasikan ukhuwah Islamiyah dengan baik sedangkan pada tingka “akar rumput” belum mampu melaksanakannya. Kondisi ini harus menjadi perhatian khusus.

Selain itu, bagaimana ukhuwah Islamiyah ini bisa terimplementasikan dengan baik tidak hanya sekedar ketika bertemu dengan orang yang berlainan pemahaman, tetapi juga ketika tidak bertemu sekalipun. Masih banyak majelis-majelis yang membicarakan kejelekan saudara Islam dan menjatuhkannya meski hanya persoalan perbedaan pemahaman. Ini menjadi PR besar untuk semua umat Islam di Indonesia.

Pada konteks eksternal, ukhuwah Islamiyah inter keyakinan dan agama ini juga masih harus ditingkatkan demi kemaslahatan. Sikap saling menghargai dan menghormati baik itu ketika berada “di depan” maupun ketika berada “di belakang” harus lebih ditingkatkan dengan memahamkan masyarakat bahwa berbeda itu bukan berarti lawan, karena semua manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki hak asasi dalam beragama. Sikap ukhuwah ini tentunya tetap disertai dengan sikap keteguhan dan memegang prinsip dan keyakinan sebagai jati diri beragama.

Dengan demikian, sikap ukhuwah Islamiyah akan menjadi representasi Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Ukhuwah Islamiyah akan merepresentasikan bahwa agama adalah institusi yang menyelamatkan dan menyejukkan. Pada akhirnya kerukunan dan persaudaraan pada agama Islam pada khususnya dan Indonesia pada umumnya akan menjadi kuat dan kokoh. Dengan ukhuwah, umat akan terberdayakan. Dengan ukhuwah, umat akan mencapai kemaslahatan.

Ahmad Saifuddin, Mahasiswa S2 Program Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bergiat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama Kabupaten Klaten dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

 

Catatan: Sebagian besar artikel ini diinspirasi dari KH Abdul Malik Madani, Katib Aam PBNU saat menyampaikan materi dalam Seminar Nasional yang bertemakan “Merajut Ukhuwah, Membangun ‘Izzah, Menggapai Mashlahah (Aktualisasi Ukhuwah Islamiyah dan Kesejahteraan Umat)”. Seminar diselenggarakan Sabtu, 15 Maret 2014, oleh Yayasan Jama’ah Haji Al Mabrur Kabupaten Klaten dalam rangka tasyakuran Hari Lahirnya yang ke-35. Selain KH Abdul Malik Madani, hadir Prof Hamim Ilyas dari PP Muhammadiyah, dan Prof Musa Asy’ari, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nusantara, Pertandingan Ulama Salaf Online

Minggu, 04 Februari 2018

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP

Jakarta, NU.Online
Perubahan? pengelolaan perguruan tinggi negeri (PTN) dari pola birokrasi menuju paradigma profesional masih menyisakan sejumlah kontroversial dimasyarakat.? Hal ini terlihat dari pola penerimaan mahasiswa dengan 2 pola seleksi? yaitu, Penelurusan Minat Bakat dan Potensi (PMBP) dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang sebelumnya satu jalur lewat UMPTN.

Dibeberapa perguruan tinggi negeri yang menggunakan pola BHMN (Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor) menuai kritik karena dengan pola baru tersebut dianggap mematikan potensi mahasiswa yang tidak mampu secara finansial. dan berpotensi menebar benih-benih diskriminasi dan eksklusivisme dalam kehidupan kampus.

Komentar tersebut dikemukakan sejumlah kalangan, Senin (16/6), setelah sejumlah PTN berlomba membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru dengan memasang tarif Rp 15 juta hingga Rp 150 juta. Langkah PTN menjaring dana dengan berbagai cara itu menyusul kebijakan dijadikannya kampus mereka sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN), yang diharuskan untuk mencari dana sendiri

Menanggapi "komersialiasi" PTN tersebut, Mendiknas Malik Fadjar menegaskan, ukuran masuk perguruan tinggi tetap akademis, dan sumbangan yang ditetapkan sama sekali tidak menghilangkan ukuran akademis itu. "Saya selalu menekankan jangan sampai uang menjadi persyaratan utama untuk masuk sekolah," ujar Malik usai menghadap Wakil Presiden Hamzah Haz di kantor Wapres di Jakarta, Senin.

Malik? mengatakan, sumbangan itu sifatnya sukarela. Ditanya mengapa sampai ada yang mematok Rp 150 juta, Malik menjawab, "Yang penting itu terbuka, transparan, dan akuntabilitasnya terjamin. Itu saja." Malik menambahkan, besarnya sumbangan tidak perlu diberi batasan. "Kita berikan peluang kepada masing-masing untuk tetap memperhatikan kemampuan (uang) dan persoalan (akademis). Ukurannya harus tetap akademis. Dulu juga kita sudah punya aturan seperti itu, tapi tidak jalan karena banyak mahasiswa mengaku dari golongan tidak mampu," katanya.

Ditanya soal mekanisme kontrol tentang sumbangan itu, Malik menjawab, "Kan sudah ada wali amanah dan dewan akuntabilitas akademis."

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri Brodjonegoro, pembukaan jalur mandiri dalam penerimaan mahasiswa baru PTN harus disertai dengan akuntabilitas penggunaan anggaran dan jaminan mutu akademik. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas akan mengevaluasi kinerja PTN yang membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru di luar jalur reguler. Berdasarkan evaluasi tersebut pemerintah akan membuat rambu-rambu menyangkut penerimaan mahasiswa baru yang berorientasi pencarian dana.

"Intinya, setiap PTN boleh saja mencari dana melalui penerimaan mahasiswa baru. Akan tetapi, harus transparan soal penggunaan anggaran, tidak diskriminatif, dan lebih penting lagi hasil seleksinya harus sesuai standar mutu akademik," kata Satryo Soemantri? Brodjonegoro

Sementara menurut? anggota Komisi VI DPR Ferdiansyah dari Fraksi Partai Golkar "Aturan itu ibarat menebar benih-benih diskriminasi dan eksklusivisme dalam kehidupan kampus," kata , menilai maraknya pembukaan jalur mandiri di kalangan PTN itu. Walaupun mahasiswa jalur mandiri dipersyaratkan mengikuti seleksi, dipertanyakan siapa yang bisa menjamin bahwa PTN bersangkutan bisa obyektif.

"Karena niat dari awal mencari dana, PTN bersangkutan bakal tergiur dengan kemampuan ekonomi calon mahasiswa. Kalau begini, hasil seleksi bisa jadi tidak merupakan pertimbangan utama," katanya.

Dalam pelayanan akademik, lanjut Ferdiansyah, akan sangat sulit bagi PTN untuk berlaku sama rata terhadap seluruh mahasiswanya. Ada kemungkinan mahasiswa jalur mandiri dimanjakan dengan sejumlah kemudahan, termasuk dalam persyaratan kelulusan mata kuliah. Hal yang buruk itu akan terakumulasi nantinya dalam mutu kelulusan sarjana.

Sementara itu, kendati sejumlah PTN favorit berlomba-lomba membuka jalur khusus, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tetap bertahan dengan sistem yang ada selama ini.

"ITS tidak akan ikut serta menyelenggarakan program serupa," kata Rektor ITS Dr Ir Mohammad Nuh DEA. "Dalam menyeleksi calon mahasiswa baru, kami tetap mengutamakan nilai akademis calon mahasiswa. Selain itu, ITS juga memiliki nilai-nilai tetap, salah satunya berupa tanggung jawab sosial, dengan memberikan kesempatan memperoleh pendidikan bagi siapa pun," ujarnya.

Rektor ITS menegaskan, pihaknya tidak akan mengubah nilai-nilai yang mereka tetapkan dalam menerima mahasiswa baru.Tanpa menyalahkan PTN yang telah menerapkan kebijakan program khusus tersebut, Nuh menandaskan bahwDari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pertandingan, Olahraga, Warta Ulama Salaf Online

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benih Diskriminatif dalam PMBP

Selasa, 30 Januari 2018

Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal

Wonosobo, Ulama Salaf Online. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin resmi me-launching Pendidikan Diniyah Formal (PDF) dan Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren. Peresmian ditandai dengan pemukulan bedug dan penyerahan Piagam Pendidikan Diniyah Formal untuk 14 pesantren dan Surat Keputusan bagi 31 Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren ? yang diwakili pimpinan pesantren masing-masing di Pesantren Al-Mubaarak, Manggisan – Wonosobo, Selasa (26/5) malam.

Hadir dalam acara tersebut, Direktur PD Pontren Mohsen, Kakanwil Kemenag Jateng Ahmadi, Kakanwil Kemenag Yogyakarta Nizar, Bupati Wonosobo Abdul Khalik Farid, dan ulama dan tokoh masyarakat Wonosobo. Demikian berita yang dikutip dari situs kemenag.go.id

Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Launching Pendidikan Diniyah Formal

Meng menjelaskan, pendidikan diniyah formal ini hakekatnya adalah pesantren yang selama ini mengembangkan pendidikan diniyah kemudian itu diformalkan. Dalam artian, bahwa tetap kebebasan masing-masing pontren itu tetap menjadi hak-nya masing-masing pontren.?

Ulama Salaf Online

“Pemerintah atau negara menyiapkan kurikulum, pola pengajaran, menyiapkan sejumlah mata pelajaran yang 70 persen itu agama, 30 persen umum yang semuanya itu kita coba standarkan,” terang Menag.?

Ulama Salaf Online

Dan ini, tandas Menag, tidak sama sekali ada paksaan, ini sepenuhnya sukarela bagi pondok-pondok pesantren yang bersedia mengikuti program ini, yang nanti kemudian dengan standarisasi yang sama dilakukan ujian dan evaluasi secara nasional.

Hingga kemudian, lanjut Menag, diniyah kita yang selama ini lulusannya sulit melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi itu, kemudian disamakan keberadaannya dengan madrasah-madrasah lain dan lulusannya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Bedanya pendidikan diniyah formal dengan madrasah, kalau madrasah formalnya ada di madrasah, sementara pendidikan diniyah formal proses belajarnya tetap dilakukan di pontren. Ini salah satu wujud tanggung jawab pemerintah ? terhadap keberadaan pontren kita,” ujar Menag.?

Dikatakan Menag, mengapa negara perlu bertanggungjawab terhadap keberlangsungan pontren, menurutnya karena kita sadar betul bahwa dalam konteks keindonesiaan, keberadaan pontren ada jauh sebelum merdeka, pontren hakekatnya adalah lembaga pendidikan khas Indonesia.?

Ini cara pendahulu dan guru-guru kita, begitu arifnya mereka dalam memperkenalkan nilai-nilai Islam masuk ke wilayah nusantara ini. Pontren sesungguhnya adalah pola pendidikan yang sebelum Islam masuk ke nusantara itu sudah dikenal oleh masyarakat nusantara. Bagaimana sejumlah santri berkumpul, lalu mencari seorang guru, lalu guru yang diangkat karena memiliki keahlian itu kemudian ditimba ilmunya.?

Menurutnya, itulah corak pendidikan sejak ratusan tahun lalu, oleh para pendahulu kita pola tersebut tidak dirubah, yang dirubah adalah materi atau muatannya. Hingga kemudian pontren merupakan corak khas pendidikan di Indonesia dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan keagamaan Islam.?

“Ini yang menyebabkan Islam di Indonesia memiliki ciri khasnya sendiri,” kata Menag. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kajian Sunnah, Sejarah, Pertandingan Ulama Salaf Online

Senin, 22 Januari 2018

IPNU-IPPNU Blimbing Gelar Safari Ramadhan

Malang, Ulama Salaf Online. Bulan Ramadhan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini IPNU-IPPNU Anak Cabang Blimbing Kota Malang mengadakan acara Safari Ramadhan Penuh Hikmah 2013 Bareng IPNU IPPNU Ancab Blimbing. 

IPNU-IPPNU Blimbing Gelar Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Blimbing Gelar Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Blimbing Gelar Safari Ramadhan

Acara yang berlangsung setiap akhir pekan di bulan Ramadhan 1434 H ini dilaksanakan di halaman Masjid Sabilillah.

Dibuka dengan penampilan grup sholawat IPNU-IPPNU Komisariat SMKN 5 Malang, hari Sabtu,13 Juli 2013 bada Ashar, suasana di halaman Masjid Sabilillah kian ramai. Acara berlangsung hingga pukul 17.00, dilanjutkan dengan pengajian sebelum berbuka puasa dan pembagian takjil.

Ulama Salaf Online

Pada hari Ahad, diadakan ajang kreasi patrol yang diikuti oleh grup patrol dari wilayah Kecamatan Blimbing. "Alhamdulillah acara berlangsung cukup meriah, walaupun sempat diguyur hujan yang semakin menambah suasana menjadi lebih berkesan,” ungkap Maziatul Hikmah, selaku ketua pelaksana kegiatan.

Ulama Salaf Online

Tampil sebagai pemenang adalah grup Kicauan Kuda dari Kelurahan Polowijen yang menampilkan patrol dengan iringan musik kontemporer ala remaja Polowijen.

Tampil sebagai juri adalah M Afifudin dari Lesbumi kota Malang serta Hisbullah Huda perwakilan dari media.

"Acara seperti ini harus bisa dikemas semakin menarik supaya tidak hancur oleh jaman dan semoga tahun depan IPNU-IPPNU bisa mengadakan kegiatan yang tak kalah menarik lagi,” ungkap rekan yang lebih akrab dipanggil Mas Hisa yang juga pernah menjadi presenter di salah satu televisi lokal tersebut.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Uswatun Hasanah, Elfy Rahmanita

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Budaya, Pertandingan, Nasional Ulama Salaf Online

Kamis, 11 Januari 2018

LAZISNU Kudus Bagi-bagi Makanan ke Tukang Becak

Kudus, Ulama Salaf Online. Untuk kesekian kalinya, Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan aksi kepeduliannya pada kaum dhuafa. Jumat pagi (26/9) kemarin, pengurus dan relawan LAZISNU membagikan nasi bungkus untuk para tukang becak.

LAZISNU Kudus Bagi-bagi Makanan ke Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Bagi-bagi Makanan ke Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Bagi-bagi Makanan ke Tukang Becak

Setiap tukagn Becak yang berada di sepanjang jalan, mulai kantor NU Jalan Pramuka, Pasar Bitingan hingga Alun-alun Kudus mendapatkan satu nasi bungkus bersama minuman sebagai menu makan siang mereka. Pada kesempatan itu,  relawan juga membagikan brosur LAZISNU kepada masyarakat untuk memperkenalkan eksistensi lembaga yang mengurusi dan menyalurkan zakat, infak dan sedekah ini.

Ketua LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, pemberian makan kaum dhuafa merupakan bentuk program kepedulian sosial yang akan dilaksanaka setiap hari Jumat. Pihaknya ingin berbagi kebahagiaan dan empati terhadap kehidupan kaum lemah ini.

Ulama Salaf Online

 

"Alhamdulillah,  LAZISNU sudah memperoleh mitra sebagai donatur tetap dalam merealisasikan program ini. Insyaallah rutin seminggu sekali," katanya kepada Ulama Salaf Online.

Ulama Salaf Online

 

Untuk yang pertama kali ini, kata dia, pemberian makan difokuskan pada para tukang becak karena  mereka ini termasuk pekerja berat untuk mencari rezeki bagi keluarganya. Sebagai permulaan, LAZISNU baru  membagi 50 bungkus nasi dan minuman dahulu pada mereka.

 

"Walaupun kecil nilainya namun bisa mengurangi beban biaya makan siang mereka dan alhamdulillah para abang becak merasa sangat senang," ujar Syaroni.

 

Ditambahkan, saat ini LAZISNU masih mencari formula teknis pelaksanaan program sehingga ke depan bisa bertambah baik dari sisi pelayanan dan jumlahnya. "Dalam pengembangannya nanti, kita akan berusaha tidak hanya abang becak , tapi semua kaum dhuafa di pelosok ranting pedesaan juga bisa tersentuh merasakan program LAZISNU berbagi ini," pungkasnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Pertandingan, AlaSantri Ulama Salaf Online

Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya

Makassar, Ulama Salaf Online 

Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Selatan Hasid Hasan Palogai mengingatkan kepada peserta Pelatihan Penggerak Masjid tentang keberadaan masjid-masjid yang berkultur Nahdlatul Ulama yang sudah mulai dikuasai oleh kelompok-kelompok lain.

Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya

Menurut Hasan, kelompok yang melakukan pengambilan masjid NU itu menggunakan strategi yang matang. Dari mulai menjadi tukang sapu masjid, tukang adzan, menjadi imam, sampai menjadi pengurus masjid. 

Demikian disampaikan Hasid Hasan Palogai saat memberikan sambutan pada acara Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Aula Masjid Syuro Kota Makassar yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Senin (4/12). 

"Anehnya, masyarakat tidak mempersoalkan, ini karena bisa jadi pemahaman masyarakat (tidak mengerti)," katanya. 

Ulama Salaf Online

Oleh karena itu, ia berpesan kepada peserta yang mengikuti pelatihan agar lebih mengaktifkan dan menyemarakkan masjid untuk mencegah pengambilan masjid-masjid oleh kelompok-kelompok lain. 

Kegiatan yang mengusung tema "Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid Sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI" ini dibuka Ketua PCNU Kota Makassar Abdul Wahid Tahir didampingi Wakil Rais Syuriah PCNU Kota Makassar KH Abdul Mutthalib, dan Bendahara PCNU Kota Makassar H Hasnawi Makkatutu. 

Adapun peserta yang mengikuti pelatihan di Kota Makassar ini berjumlah 100 orang  yang terdiri atas beberapa badan otonom NU seperti Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU, PMII dan juga dari remaja masjid sekitar Kota Makassar. (Husni Sahal/Mahbib)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Kyai, Pertandingan Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock