Senin, 19 Maret 2018

Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura

Jakarta, Ulama Salaf Online. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menghadiri ASEAN Labour Ministers Meeting on Occupational Safety and Health at the XXI World Congress On Safety and Health at Work 2017 (Pertemuan Menteri-Menteri Tenaga Kerja ASEAN  dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Kongres Dunia ke-21 tentang K3 yang diadakan di Singapura pada 3-8 September 2017.

Acara Kongres Dunia tingkat ASEAN tentang K3 ini dihadiri oleh Menteri-menteri Tenaga Kerja negara-negara ASEAN yang terdiri dari 10 negara yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja.  

Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura

"Pertemuan tingkat Menteri ini untuk memperkuat komitmen dan kerja sama negara-negara ASEAN dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja," kata Menteri Hanif di Jakarta, Sabtu (2/9). 

Menteri Hanif mengatakan kerja sama  negara-negara ASEAN dalam penerapan standar K3 sangat penting karena setiap pekerja memiliki hak atas lingkungan kerja yang aman dan sehat.

"Oleh karena itu, dibutuhkan tekad kolektif ASEAN untuk mempercepat pengembangan K3 dan meningkatkan standar, kinerja dan kemampuan ASEAN melalui langkah-langkah untuk mengatasi risiko dan bahaya yang muncul di lingkungan bisnis dan teknologi baru yang berkembang," kata Hanif.

Ulama Salaf Online

Menteri Hanif menambahkan penerapan K3 di negara-negara kawasan ASEAN ini ditujukan juga untuk meningkatkan aspek perlindungan bagi para pekerja dan mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan 

(SDGs).

Ulama Salaf Online

"Penerapan standar K3 di kawasan ASEAN ini juga dapat memotivasi kita untuk mencapai Tujuan Pembangunan Ekonomi  Berkelanjutan pada tahun 2030 dan untuk menciptakan pekerjaan yang layak untuk semua," kata Hanif.

Kerangka kerja K3 yang kuat di kawasan ASEAN, kata Hanif akan memberikan landasan yang kuat dalam mendukung tujuan Masyarakat Sosio-Kultural ASEAN untuk mengangkat kualitas hidup masyarakatnya dengan menempatkan kesejahteraan mereka sebagai prioritasnya.

Dalam kunjungan kerja ke Singapura ini, Menteri Hanif juga diagendakan akan melakukan kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura untuk meninjau pelatihan TKI yang diselenggarakan KBRI Singapura 

Selain itu, Menteri Hanif diagendakan juga melakukan pertemuan bilateral dalam acara jamuan makan malam dengan Menteri Tenaga Kerja Singapura dan melakukan kunjungan ke "Workforce" Singapura. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Humor Islam, Santri, Berita Ulama Salaf Online

Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme

Jakarta, Ulama Salaf Online



Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin menyesalkan bahwa ada pejabat negara yang ikut gabung kelompok terorisme ISIS (Negara Islam Irak dan Syiria).?

Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi acara International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta, Senin, (9/5).

Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme

“(Salah satu motifnya adalah) Mereka mempercayai bahwa sekarang sudah akhir zaman, maka mereka berbondong ke tanah Suriah untuk jihad dan menunggu sang imam Mahdi,” kata Hamidin.

Menurutnya, ada dua cara mengapa orang bisa sampai bergabung dengan kelompok radikalisme tersebut. “Pertama face to face (antara calon teroris dan teroris) dan yang kedua adalah lewat media sosial,” tegasnya. ? ?

Ia menjelaskan bahwa ada 133 organisasi terorisme di dunia, 21 jaringan berada di Indonesia, 7 yang berkaitan langsung dengan ISI. “Tiga (dari tujuh) diantaranya melakukan rekrutmen langsung untuk ISIS,” ungkap laki-laki kelahiran Sumatera Selatan tersebut.

Ulama Salaf Online

Meski demikian, lanjut Hamidin, Indonesia tidak bisa melakukan banyak hal terhadap gerakan-gerakan yang secara benderang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia karena Undang-undang tentang terorisme itu usang dan perlu diperbaharui. ?

“Orang menyerukan teroris, orang berangkat ke luar negeri (untuk gabung kelompok terorisme), orang mengaku ISIS, orang mengaku tentara ISIS terang-terangan, orang mendukung ISIS, dan orang yang simpati terhadap ISIS. Mereka tidak bisa diapa-apakan oleh negara,” paparnya.

Hamidin menilai bahwa kelompok terorisme itu bukanlah Islam. “Pada saat menangkap Basri (anggota kelompok teroris Santoso), saya melihat banyak tato di tubuhnya, ada juga gambar wanita telanjang. Ketika saya ajak debat soal agama, meski pengetahuan agama saya seadanya, ia tidak bisa menjawab,” ungkap Hamidin.

“Mereka hanya menggunakan simbol agama (Islam) untuk membenarkan dan melegitimasi gerakan mereka,” pungkasnya.

Ulama Salaf Online

Selain Brigjen Pol Hamidin, ada KH Yahya Cholil Staquf (Katib ‘Aam Nahdlatul Ulama) dan C Holland Taylor (Direktur Bayt Rahmah California Amerika) yang juga menjadi narasumber. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Olahraga, Nahdlatul Ulama Ulama Salaf Online

Minggu, 18 Maret 2018

PBNU Mengutuk Kekerasan Terhadap Syiah

Jakarta, Ulama Salaf Online. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk terulangnya aksi kekerasan terhadap warga Islam Syiah di Nanggernang, Sampang, Madura, Jawa Timur. 

Peristiwa tersebut dinilai sebagai kriminal murni, dan aparat penegak hukum didesak dapat menjalankan tugas penegakan dengan baik. 

PBNU Mengutuk Kekerasan Terhadap Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Mengutuk Kekerasan Terhadap Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Mengutuk Kekerasan Terhadap Syiah

"Saya melihat (kejadian) itu sebagai kriminal murni, karena dakwah tidak dibenarkan kalau sampai harus saling melukai, apalagi saling bunuh. Oleh karenanya aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, harus bisa bertindak sesuai dengan hukum yang ada," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (27/8). 

Ulama Salaf Online

Terkait tudingan sejumlah pihak Syiah sebagai aliran sesat, Kiai Said menambahkan, dengan tegas NU menolak penyelesaiannya dilakukan melalui jalur kekerasan. Jalur dakwah untuk tujuan pencerahan diminta tetap dikedepankan. 

Ulama Salaf Online

"Tidak dibenarkan kalau penyelesaiannya melalui jalan kekerasan. Laa ikraha fiddin, tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), tidak ada kekerasan dalam agama," sambungnya tegas. 

Dalam kesempatan yang sama Kiai Said kembali menegaskan sikap NU, yaitu menolak kekerasan dari dan kepada siapapun, apapun latar belakang kejadiannya. 

"NU dengan Syiah jelas beda, terlebih dengan Ahmadiyah, jelas berbeda. Tapi dalam pergaulan kami menolak adanya kekerasan, karena ajakan berubah itu ada metodenya. Dakwah, diskusi yang bermartabat, dan itu semua yang selama ini kami lakukan," tandas Kiai Said. 

PBNU sejauh ini sudah melakukan sejumlah upaya untuk membantu menyelesaikan perselisihan warga Islam Syiah di Sampang, Madura. Ketua PBNU Saifullah Yusuf yang juga tercatat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, secara khusus sudah diberikan mandat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, tetap sesuai dengan prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama. 

Warga Islam Syiah di Nanggernang, Sampang, Madura, Jawa Timur, kembali diserang oleh sekelompok orang hingga mengakibatkan jatuhnya 2 korban jiwa dan beberapa lainnya luka. Polisi sejauh ini sudah mengamankan tujuh orang yang diduga sebagai pelaku penyerangan tersebut. 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Emha Nabil Harun

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Humor Islam Ulama Salaf Online

Sabtu, 17 Maret 2018

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu

Guna mempersiapkan kader NUyang bermutu, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Jawa tengah akan menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator ke-2 tahun 2014.

Kegiatan ini akan di selenggarakan pada tanggal 23-25 Desember 2014 di Wisma Anak Mandiri kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jateng Buka Pelatihan Kader Bermutu

Syarat mengikuti kegiatan tersebut di antaranya: pernah mengikuti LAKUT (dibuktikan dengan sertifikat), membuat paper dengan tema "IPNU-IPPNU dan Tantangan Bangsa" minimal 5 halaman kertas HVS A4, spasi 1,5, dan font Times New Roman.

Untuk info pendaftaran dan sebagainya bisa menghubungi 082 234 141 107 (Much Mashum) dan 085 876 212 380 (Rofika Cicau). (Ahmad Syaefudin/Abdullah Alawi)

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Quote, Khutbah Ulama Salaf Online

Minggu, 11 Maret 2018

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Grobogan, Ulama Salaf Online. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan amal ibadah lainnya. Bahkan puasa pada 10 Muharram diyakini menghapus doa yang lalu dan akan datang.

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Kemuliaan bulan Muharram ini dihayati warga NU Grompol, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Di bawah pimpinan KH Imam Sujoto, mereka menggelar istighotsah dan tahlil setiap Kamis malam selama bulan Muharram di Masjid Baitus Salam, Kradenan, Grobogan. Kamis (28/11) kemarin menjadi puncak dari rutinitas istighasah dan tahlil di bulan Suro (Muharam) ini.

“Manusia hidup memiliki dua tas,” tutur Kiai Imam. “Tas plastik berguna untuk menampung harta, sementara tas qalb (hati) butuh siraman rohani. Manusia lebih sering memenuhi tas plastik dibanding tas qalb. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan hidup dan kurang nyamannya hidup,” tegasnya

Ulama Salaf Online

Ia menambahkan, dzikir sanggup menjadi penentram hati sekaligus bekal untuk kehidupan kelak. Selain itu, bagi anggota keluarga yang telah berpulang terlebih dahulu, doa sangat mereka butuhkan. Orang yang telah meninggal ibarat orang tenggelam. Melalui tahlil inilah, anak cucu saudara memberikan bantuan berupa “pelampung penyelamat”.

Ulama Salaf Online

Selama lebih dari dua jam jamaah tampak khusyuk berdzikir dan berdoa. Meskipun di dalam masjid yang masih dalam tahap renovasi, jamaah larut dalam ibadah. Mereka juga berdoa, agar pembangunan masjid kebanggaannya segera rampung. (Hanif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba Ulama Salaf Online

Diikuti 1024 Pesantren, Pembukaan Kompetisi LSN 2016 Digelar di Balikpapan

Balikpapan, Ulama Salaf Online. Liga Santri Nusantara kembali digelar pada tahun 2016. Setelah tahun sebelumnya LSN diikuti oleh 184 pesantren Pesantren, pada pelaksanaan LSN tahun ini akan diikuti oleh 1.024 Pondok Pesantren di Indonesia.

Menurut Ketua Liga Santri Nusantara Abdul Ghaffar Rozin, pembukaan kick off secara nasional akan dilangsungkan di Balikpapan pada 19 Agustus 2016. "Tepatnya di Stadion Persiba Balikpapan," katanya.

Diikuti 1024 Pesantren, Pembukaan Kompetisi LSN 2016 Digelar di Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Diikuti 1024 Pesantren, Pembukaan Kompetisi LSN 2016 Digelar di Balikpapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Diikuti 1024 Pesantren, Pembukaan Kompetisi LSN 2016 Digelar di Balikpapan

Lelaki yang akrab disapa Gus Rozin ini melanjutkan, pada pembukaan kick off LSN 2016 akan dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Gubernur Kalimantan Timur, Wali Kota Balikpapan, dan kiai/tokoh Pondok Pesantren di Balikpapan.

"Ini akan menjadi langkah baik bagi santri yang memiliki skill dan semangat olahraga yang cukup menjanjikan bagi masa depan persepakbolaan Indonesia," tegasnya.

Ulama Salaf Online

Sedangkan, menurut Sekretaris LSN Koirudin Abbas mengatakan, kick off pembukaan LSN secara nasional dilakukan secara unik dan kreatif. "Kalau biasanya, kick off dalam dunia sepak bola dibuka dengan tendangan, pada kali ini dilakukan dengan menabuh bedug sebanyak lima buah," tambah pria yang akrab disapa Cak Din ini.

Selain itu, lanjut Cak Din, pertunjukan kesenian khas dunia pesantren akan diperlihatkan pada kick off LSN tahun ini. Mulai dari seni hadrah sampai pertunjukan pencak silat yang dibawakan oleh Pagar Nusa.

"Bahwa santri merupakan bagian terpenting menjaga tradisi Indonesia. Dan melalui sepak bola, santri dan pesantren akan memajukan dunia olahraga Indonesia. Liga Santri ini milik seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

Ulama Salaf Online

Pada laga pembukaan kick off Liga Santri Nusantara 2016 ini akan mempertemukan Ponpes Naam dan Ponpes Al Muhajirin yang masing tim berasal dari Regional Kalimantan I yang meliputi Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Selain itu, pada pembukaan kick off LSN 2016 ini akan ada pertandingan eksebisi antara Tim PON Kaltim berhadapan dengan Tim PON Jabar. (Rizam Syafiq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Syariah, Olahraga, AlaNu Ulama Salaf Online

Jumat, 09 Maret 2018

Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan

Brebes, Ulama Salaf Online. Islam terlahir dan berkembang bukan karena hunusan pedang. Ia pun hadir untuk kedamaian melalui penyempurnaan akhlak. Ritual berupa shalat, puasa, haji, zakat, dan bentuk ibadah lainnya semata-mata untuk perubahan akhlak.

Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Coreng Islam dengan Tindak Kekerasan

Demikian disampaikan Dr KH Abas Fuad Hasyim dari Buntet Pesanteren Cirebon, Jawa Barat, saat mengisi pengajian Maulud Nabi Muhammad SAW tingkat Kabupaten Brebes di Masjid Darul Muttaqin Desa Cikeusal Kidul, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, Kamis (29/1).

Kang Babas, demikian biasa disapa, mengajak kepada warga untuk tidak mencoreng Islam dengan melakukan tindak kekerasan. “Jangan marah, karena marah berasal dari setan,” kata Babas yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor itu.

Ulama Salaf Online

Dia berharap umat Islam mampu menunjukan sebagai umat Nabi yang mengutamakan akhlakul karimah. Bisa santun, menebar kasih saying dan tidak mudah marah. “Bila dua kubu saling menyerang, maka kedua-keduanya akan masuk neraka,” tandas Babas seraya menyitir sebuah hadits.

Ulama Salaf Online

Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Kab Brebes K Agus Mudrik Khaelani Al Khafidz. Menurutnya, kehidupan akan terasa indah manakala dihiasi dengan kedamaian. Kenyamanan akan tercipta bila masyarakat bisa saling menjaga silaturahmi, saling menghargai, dan hidup rukun.

“Alangkah indahnya, pada saat ini juga tengah berkumpul antara ulama dan umara sebagai lambang kekuatan bangsa, kekuatan Brebes,” ungkap  Pengasuh Pondok Pesanteren Bustanul Arifin Bangbayang Bantarkawung itu.

Sementara Drs KH Dirjo Abdul Hadi menyampaikan pentingnya penghormatan kepada orang yang lebih tua dan menyayangi yang muda. Anak-anak jangan sampai durhaka kepada orang tua, demikian juga sebaliknya orang tua harus memberi contoh teladan yang terbaik bagi anak-anaknya. “Mau jadi apa kalau anak sampai durhaka pada orang tuanya,” tutur Ujo dalam bahasa yang kocak.

Peringatan Maulud Nabi mengambil tema menjalin persatuan, merajut persaudaraan demi terwujudnya masyarakat Brebes yang mandiri dan bermatarbat meski diguyur hujan deras namun pengunjung yang berjumlah ribuan orang itu tetap bertahan.

Bupati Brebes dalam kata sambutannya berharap kepada masyarakat Brebes untuk makin menguatkan persatuan dan kesatuan demi suksesnya pembangunan daerah. Pemerintahan tidak bisa berjalan kalau tidak ada dukungan dari umat. Untuk stabilitas keamanan dan keimanan harus sejajar demi mencapai kesuksesan bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati memberikan santunan kepada 100 anak yatim piatu. Santunan diberikan secara simbolis karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kapolres Brebes Ferdi Sambo, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI, staf Ahli Bupati, para pejabat eselon II, III dan IV Kabupaten Brebes dan undangan lainnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Lomba, News Ulama Salaf Online

Kamis, 08 Maret 2018

Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA

Jakarta, Ulama Salaf Online. Presiden Turki terpilih Recep Tayyip Erdogan, dibantu oleh Perdana Menteri baru Ahmet Davutoglu memulai masa jabatannya dengan perbaikan besar-besaran pada sistem pendidikan di negeri ini. 

Meskipun telah ditetapkan setahun yang lalu, rencana reformasi, yang sebagian besar tidak menarik perhatian publik, mulai dilaksanakan tahun ini dan memperluas pendidikan agama Islam untuk semua tingkat sekolah. 

Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Turki Mulai Wajibkan Pendidikan Agama dari SD-SMA

Turki baru Erdogan, yang akan merayakan seratus tahun Republik Turki sekuler yang didirikan oleh Kemal Ataturk pada 2023, mewajibkan pendidikan agama Islam dari tingkat sekolah dasar dan menengah untuk 12 jenjang kelas. Sampai saat ini, pendidikan agama hanya tersedia di sekolah menengah berbasis agama seperti Aliyah di Indonesia, mulai di kelas 9. 

Ulama Salaf Online

Perubahan signifikan lain adalah bahwa lulusan sekolah agama sekarang dapat mendaftar di seluruh fakultas di universitas agar bisa mendapat keahlian untuk posisi administrasi publik. Bahkan presiden Turki saat ini, yang mempelajari Administrasi Bisnis, bukan ilmu politik, harus keluar karena dia lulusan sekolah agama. 

Tampak jelas bahwa sistem sekolah yang dimimpikan oleh para pemimpin AKP terinspirasi oleh sekolah agama yang ada. 

Ulama Salaf Online

Langkah berikutnya dalam reformasi adalah pengajaran bahasa Arab, bahkan sebagai bahasa kedua, untuk memungkinkan siswa untuk memahami Al-Quran. 

Namun, sekolah Turki Armenia dan Ortodoks tidak perlu untuk memberikan pendidikan agama Islam untuk siswa mereka yang masing-masing berjumlah 2.000 dan 250. 

Mereka yang tidak ingin masuk sekolah negeri untuk menghindari pendidikan agama harus masuk ke sekolah swasta, yang hanya bisa dimasuki orang kaya karena biaya pendidikan yang tinggi. (islam. ru/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Fragmen, Meme Islam, Ahlussunnah Ulama Salaf Online

Rabu, 07 Maret 2018

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya

Purwakarta, Ulama Salaf Online

Akhlak menjadi hal paling pokok dalam kehidupan manusia. Ia menjadi parameter bagi keunggulan kualitas kepribadiannya. Atas dasar ini pula Allah memosisikan Rasulullah SAW pada derajat paling tinggi.

”Allah memuji Nabi Muhammad karena akhlaknya, bukan karena ilmunya,” Katib Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj dalam ceramah peringatan Isra’ dan Mi’raj di Purwakarta, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Menurut Kiai Musthofa, berbekal kemuliaan moral, Rasulullah sukses menyebarkan kebenaran Islam dalam waktu kurang dari 23 tahun. Rasulullah merupakan rujukan ajaran dan pusat teladan bagi setiap makhluk di semesta alam ini.

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya

Nahdlatul Ulama, lanjutnya, berusaha mengikuti jejak ini dengan terus mengedepankan akhlak dalam sikap dakwah dan perjuangannya. Ormasi Islam terbesar ini juga tak ingin gegabah menghujat atau memvonis sesat kelompok lain.

Peringatan Isra’ dan Mi’raj digelar bersamaan dengan acara pembukaan Konferenci Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Purwakarta. Perayaan rutin bulan Rajab ini antara lain diisi tahlil, hadlarah, dan tausiyah.

 

Ulama Salaf Online

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Lomba, Bahtsul Masail Ulama Salaf Online

Selasa, 06 Maret 2018

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia

Jakarta, Ulama Salaf Online. Presiden Jokowi telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 74/M Tahun 2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dalam Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia.

Melalui Keppres tersebut Presiden mengangkat 27 orang warga negara Indonesia menjadi anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) masa jabatan tahun 2017-2020.

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia

Nama-nama yang diangkat oleh Presiden menjadi anggota BWI masa jabatan 2017-2020 ialah sebagai berikut:



Ulama Salaf Online

1. Prof. Dr. H. Mohammad Nuh;

2. Dr. H. Slamet Riyanto, M.Si.;

3. Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si.;

Ulama Salaf Online

4. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag.;

5. Muhammad Fuad Nasar, M.Sc.;

6. Prof. Dr. H.E. Syibli Syarjaya. LML, M.M.;

7. Dr. H. Muhammad Luthfi;

8. Ir. Jurist Efrida Robbyantono;

9. Ir. Iwan Agustiawan Fuad, M.Si.;

10. Siti Soraya Devi Zaeni, S.H., M.Kn.;

11. Ir. Rachmat Ari Kusumanto; 

12. Dr. Imam Teguh Saptono;

13. A. Muhajir, S.H., M.H.;

14. Dr. Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P.;

15. Ahmad Wirawan Adnan, S.H., M.H.;

16. Dr. Atabik Luthfi;

17. Diba Anggraini Aris, M.E.;

18. Dr. Fahruroji, Lc., M.A.;

19. Dr. Hendri Tanjung;

20. Imam Nur Aziz, M.Sc.;

21. Drs. H. Zakaria Anshar;

22. H. Mochammad Sukron, S.E.;

23. Dr. H. Nurul Huda, S.E., M.M., M.Si.;

24. H. Nur Syamsuddin Buchori, S.E., S.Pd., M.Si., CIRBD;

25. H. Sarmidi Husna, M.A.;

26. Drs. H. Susono Yusuf;

27. Dr. Yuli Yasin, M.A.Berdasarkan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, jumlah anggota BWI terdiri atas paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 30 (tiga puluh) orang. 

Struktur organisasi BWI, menurut Pasal 51 undang-undang wakaf tersebut, terdiri atas Dewan Pertimbangan dan Badan Pelaksana. Badan Pelaksana merupakan unsur pelaksana tugas BWI, sedangkan Dewan Pertimbangan merupakan unsur pengawas pelaksanaan tugas BWI. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sejarah, Bahtsul Masail Ulama Salaf Online

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting

Pringsewu, Ulama Salaf Online

Ketertiban dan kelengkapan administrasi dalam sebuah organisasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh pengurus. Tertib administrasi dimaksudkan untuk menunjang kelancaran semua program yang telah disusun sekaligus cermin keseriusan dalam mengelola organisasi.

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting

Pentingya hal tersebut ditindak lanjuti oleh PCNU Pringsewu dengan menggelar Lomba Majelis Wakil Cabang Nahadlatul Ulama (MWCNU) dan Ranting NU sehat yang penilaiannya digelar selama 4 bulan mulai Februari sampai dengan Mei 2016.?

Kegiatan yang merupakan salah satu rangkaian menyambut Harlah ke-93 NU pada 16 Rajab 1437 H ini akan menilai sisi kelengkapan administrasi organisasi disamping beberapa kriteria lainnya.

Menurut Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, Lomba ini diharapkan dapat memicu kesemangatan NU di tingkat kecamatan dan ranting untuk menata ulang keadministrasian masing masing.?

Ulama Salaf Online

"Surat menyurat, dokumen kegiatan dan keberadaan Plang merupakan perwajahan sebuah organisasi. Hal ini juga bisa menjadi tolok ukur keaktifan dan keberhasilan organisasi," katanya, Rabu (17/02/16).

Taufiq menambahkan bahwa Lomba ini akan diikuti oleh seluruh tingkatan kepengurusan yang terdiri 9 MWC dan 124 Ranting yang ada di Kabupaten Pringsewu. "Untuk memperlancar program ini, PCNU Pringsewu telah menyusun Tim yang bertugas menilai kelengkapan yang telah ditentukan serta Tim Pendamping yang bertugas membina serta mengarahkan hal-hal yang diperlukan untuk menyukseskan lomba ini," jelasnya.

Untuk memberikan stimulus dalam kegiatan Lomba ini, PCNU Pringsewu, jelas Taufiq, sudah menyiapkan bentuk Apresiasi bagi pemenang lomba. "Bagi MWC dan Ranting yang memiliki kelengkapan administrasi paling lengkap akan mendapatkan satu set komputer dan dana pembinaan," terang Taufiq sekaligus berharap Komputer tersebut dapat membantu kelancaran administrasi organisasi.

Taufiq juga berharap setelah program ini dilaksanakan seluruh tingkatan dapat mempertahankan ketertiban administrasi yang telah disusun selama lomba. "Tentunya tertib organisasi ini tidak hanya dilakukan selama lomba saja namun setelah lomba selesai semua tingkatan dapat mempertahankannya sekaligus merawat dokumen organisasi untuk kelanjutan program di masa yang akan datang," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online Doa Ulama Salaf Online

Minggu, 04 Maret 2018

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan

Blitar, Ulama Salaf Online. Resolusi Jihad NU yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 merupakan kepawaian pembacaan para kiai NU terhadap situasi bangsa saat itu. Keberhasilan itu harus diikuti NU pada situasi sekarang ini.

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepiawaian Kiai NU Membaca Situasi Bangsa Harus Diteruskan

Menurut Ach. Dofir Zuhri, bahwa semua kader NU harus mengembalikan nalar kritis dalam mebaca situasi bangsa ini, karena pada zaman sekarang tantangan NU dan bangsa ini sangat kompleks, mulai ekonomi, budaya, politik dan lain sebagainya.

“Untuk itu mengembalikkan nalar kritis sangat penting dalam kondisi saat ini yakni perang dingin atau perang ideologi,” katanya pada Bedah Film dan Refleksi Sejarah peringatan Resolusi Jihad NU yang digelar Lakpesdam NU Kota Blitar di Aula Masjid Agung, Sabtu, (26/10).

Ulama Salaf Online

Selain itu menurut narasumber Drs. Syaiful Maarif, bahwa NU sekarang belum memiliki ulama yang memiliki ketokohan dan kewaro’an seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Wahid Hasyim.

Ulama Salaf Online

“Untuk itu kader-kader NU khususnya ulama-ulama sekarang harus merefleksikan dan mencontoh? ketokohan ulama-ulama tersebut,” imbaunya.

Gigih Wardana selaku Sekretaris PC Lakpesdam NU Kota Blitar mengatakan, peringatan Resolusi Jihad NU harus menjadi agenda rutinan tiap tahun. “Peringatan ini sebagai momentum refleksi kader-kader NU untuk senantiasa meneruskan perjuangan ulama dan santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Kegiatan bertema “Resolusi Jihad NU Melawan Penjajah: Peran NU Bagi NKRI” dibuka Ketua PCNU Kota Blitar KH. Ahmad Subakir.

Hadir dalam acara tersebut Ketua GP Ansor Kota Blitar Drs Ahmad Harir, Ketua Umum PC PMII Blitar Mahathir Muhammad serta kader-kader PMII, dan anggot banom-banom NU seperti GP Ansor dan Banser, Musimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, ISNU dan lainnya. (Imam Kusnin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Nahdlatul, Kajian Ulama Salaf Online

Sabtu, 03 Maret 2018

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Kiai Abbas Buntet, selain menjadi salah seorang tokoh sentral NU, juga pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren tersebut, hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang. Di sana, bukan saja menggelar kitab kuning, tapi mengobarkan semangat juang.

Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam sistem pendidikan pesantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kanacah perjuangan. 

Ulama Salaf Online

Kiai Abdullah ukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet, ayah Kiai Abdullah sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Ulama Salaf Online

Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. 

Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon. 

Setelah  meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir tiap hari tentara penjajah Belanda melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus  begerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mhah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu  dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia  pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. 

Tiga tahun pertama, ditunjukkan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini  menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

Dengan demikian, pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf bdi daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. 

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu Syekh Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karyanya masyhur itu. 

Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada  para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante- Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet, warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fiqih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Dengan sikapnya itu, nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seurang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas  menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Duhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. 

Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. 

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya  mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. 

Ketika memasuki masa senjanya, Kiai Abbas lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah. Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucunya. Karena itu, Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya dan memperkaya jiwanya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu  Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. 

Dalam kamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.   

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.  

Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tangguh dan disegani musuh, kekuatan itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid. 

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas, putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak di dareah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tersebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu  di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Di antaranya adalah KH Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. 

Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas, sebagai Laskar andalannya, datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. 

Atas restu Hadratus Syaikh, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, Kiai Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. 

Sekitar tahun 1900, Kiai Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi ang mengganggu pesantren tebuireng kapok tidak berani mengganggu lagi. 

Tradisi pesantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya. Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946  itu. 

Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit. Kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Jumat pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.  

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Dan karena itu pula, ketika masa ramainya gerakan reformasi, pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. 

Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (Abdul Munim DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Ulama Salaf Online

Jumat, 02 Maret 2018

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Oleh Dawam Multazam

Akhir-akhir ini panggung diskusi publik kita diramaikan oleh tema Islam Nusantara, terutama sejak kejadian pembacaan al-Qur’an dalam sebuah acara di Istana Negara oleh seorang qori’ yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Qiro’ah tersebut menjadi buah bibir masyarakat karena, sebagaimana disebutkan oleh pembawa acara, menggunakan langgam khas Nusantara, tilawah (cara membaca) al-Qur’an yang kurang lazim didengar oleh sebagian masyarakat.

Setelah kejadian tersebut, tak pelak timbul pro-kontra yang cukup panjang, apalagi Pemerintah, melalui Presiden Jokowi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan dukungannya terhadap tilawah tersebut. Dukungan yang diberikan Pemerintah sebenarnya tidak hanya terhadap qiro’ah berlanggam Nusantara, tetapi lebih besar daripada itu, yakni dukungan terhadap Islam Nusantara. Menurut Presiden Jokowi, ia mendukung Islam Nusantara, karena merupakan “Islam kita, yang penuh sopan santun, tata krama, dan toleransi” (BBC Indonesia, 14/6).

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara, Dari NU untuk Dunia

Ramainya panggung diskusi publik seputar Islam Nusantara ini juga seiring dengan rencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadikan tema Muktamar NU ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015, berbunyi“Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Menurut Ketua Muktamar tersebut, H Imam Aziz, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari agenda jam’iyyah NU menjelang seabad usianya. Islam Nusantara, sebagai model keislaman yang dianut oleh Nahdliyin (warga NU), perlu untuk ditunjukkan posisi strategisnya sebagai “agen” Islam rahmatan lil alamin di Indonesia dan di seluruh dunia. Terkait peran NU di Indonesia, tentu saja sudah menjadi pengetahuan umum bahwa NU yang lahir pada tahun 1926 merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, sehingga sudah barang tentu memiliki peran yang signifikan bagi perjalanan bangsa dan negara ini.

Kemudian, mengenai kiprah NU di panggung dunia, selain beberapa kali pengurusnya hadir dalam beberapa forum pro-perdamaian dan pro-toleransi Internasional,  NU juga menginspirasi, antara lain, ulama Afghanistan untuk membentuk organisasi masyarakat yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Berawal dari pertemuan dengan PBNU pada 2013, saat ini ulama Afghanistan sudah membentuk Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), organisasi masyarakat yang berprinsip tawasut (moderat), tawazun (seimbang-equal), adalah (keadilan), tasamuh (toleran), dan musyarokah (serikat-persatuan). Sebagaimana diketahui, prinsip yang dianut oleh NUA tersebut mengadopsi prinsip-prinsip yang dianut oleh NU berdasarkan petunjuk para ulama salaf (pendahulu).

Tanggung Jawab NU untuk Umat

Ulama Salaf Online

Berangkat dari kesadaran atas perannya yang signifikan bagi masyarakat, tampaknya NU juga menyadari bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar. Akhirnya, dengan menghilangkan sekat organisasi masyarakat yang dimilikinya, NU kemudian memunculkan tema Islam Nusantara. Pemunculan frasa Islam Nusantara ini sebenarnya bukan merupakan penemuan aliran atau ajaran Islam yang baru. Karena, menurut Dr H Eman Suryaman, Ketua PWNU Jawa Barat, Islam Nusantara merupakan “sebuah model keislaman yang berdasarkan demografi-sosiologis” (Ulama Salaf Online, 9/6).

Selain ia bukan merupakan aliran atau ajaran, ia juga bukan hal yang baru (saja) dilahirkan oleh NU. Memang betul bahwa NU adalah pihak pertama yang dewasa ini begitu gencar memunculkan istilah ini, tercatat pada tahun 2008 lalu, Taswirul Afkar (Jurnal yang diterbitkan oleh Lakpesdam NU), mengangkat tema “Islam Nusantara” sebagai bahan kajian di edisi ke-26.Kemudian, sejak tahun 2013 di lingkungan perguruan tinggi NU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama, STAINU, Jakarta) sudah dibuka program pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam yang berkonsentrasi pada Islam Nusantara. Tetapi sejatinya Islam Nusantara sudah eksis sejak pertama kali dakwah Islam hadir dan berkembang di Tanah Air Nusantara ini, meskipun tentu saja belum dirumuskan dalam frasa Islam Nusantara.

Ulama Salaf Online

Begitu dua kata yang tersusun dari entitas agama dan budaya ini ramai dibincangkan, barulah para tokoh NU berikhtiar merumuskan definisinya. Prof Isom Yusqi, Direktur Program Pascasarjana STAINU Jakarta, misalnya, menyebutkan bahwa Islam Nusantara merupakan “istilah yang digunakan untuk merangkai ajaran dan paham keislaman dengan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam” (Ulama Salaf Online, 25/6). KemudianKH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU dan Guru Utama Fiqh-Ushul Fiqh di Pesantren Sukorejo, Situbondo, memaknai Islam Nusantara sebagai “pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara” (Ulama Salaf Online, 27/6). Begitu juga Abdul Moqsith Ghozali, menyebut Islam Nusantara sebagai “Islam yang sanggup berdialektika dengan kebudayaan masyarakat” (Ulama Salaf Online, 29/6).

Aneka definisi yang diberikan para tokoh NU tersebut, semakin melengkapi tujuan mengingatkan umat untuk kembali meneladani perjuangan para ulama yang telah berhasil mendakwahkan Islam sehingga dapat tersebar secara kuat dan luas di bumi pertiwi. Keberhasilan dakwah para ulama tersebut, menurut Agus Sunyoto (2012), setelah mereka – para ulama, khususnya Walisongo pada abad ke-15, dapat memahami bagaimana cara mengenalkan Islam secara tepat kepada masyarakat asli Nusantara. Keberhasilan dakwah ala Walisongo tersebut, seperti hujan yang datang setelah kemarau panjang; tak kurang dari tujuh abad semenjak Muslim pertama datang di Aceh, Walisongo “hanya” perlu waktu kurang dari satu abad untuk menemukan “formula dakwah jitu” dan menyebarkan Islam di hampir semua pulau besar di Nusantara. Kekayaan, kekhasan, dan keunikan Islam Nusantara inilah yang hendak dieksplorasi oleh para mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta untuk kemudian dipublikasikan pada dunia internasional (STAINU Jakarta, 2013).

Nusantara, Tidak Hanya Jawa

Namun sayangnya, di tengah diskursus yang menarik tersebut, masih ada kesalahpahaman dari sementara kalangan, terutama pihak yang kontra terhadap topik Islam Nusantara ini. Menurut masyarakat yang tampaknya masih awam terhadap pengertian Islam Nusantara, misalnya, Islam Nusantara dianggapsesat dan menyesatkan, karena dikira anti-Arab dan hendak melakukan pribumisasi-nusantarasasi Islam yang bermuara pada sinkretisme. Dalam pemahaman mereka, sinkretisme yang ada dalam Islam Nusantara diwujudkan dalam, misalnya, wudhu dengan air kembang; membenci bahasa Arab sehingga adzan dan shalat dengan bahasa Indonesia; mengkafani jenazah dengan kain batik; arah kiblat dan pergi haji ke gunung atau candi di Indonesia;  dan beragam tuduhan menggelikan lainnya.

Terhadap tuduhan kelompok ini, Rijal Mumazziq Zionis, Dosen Pendidikan Anti Korupsi IAIN Jember, menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak mungkin anti-Arab (Suara-Islam, 18/6). Menyitir pendapat sastrawan Remi Sylado yang menyebut bahwa 9 dari 10 kosakata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Asing, ia menegaskan bahwa masyarakat pesantren, pendidikan khas Islam Nusantara, masih menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Sehingga, terlepas dari tidak mungkinnya beragam tuduhan tadi dijalankan oleh umat Islam, sikap anti-Arab merupakan hal yang mustahil.

Sedangkan sanggahan yang lebih baik datang dari sebagian pihak yang lebih memiliki pemahaman, tetapi menolak Islam Nusantara – terutama, menurut hemat penulis, semata karena alasan berbeda afiliasi organisasi. Bagi kelompok ini, Islam Nusantara perlu ditolak karena terlalu Jawa-sentris, sehingga ketika dipaksakan justru dapat memicu disintegrasi antar sesama muslim di Indonesia.Menurut mereka, adanya Islam Nusantara yang Jawa-sentris dapat memicu juga lahirnya Islam Minang, Islam Aceh, Islam Makassar, Islam Lombok, dan lain-lain, sebagai sikap ketidakpuasan terhadap Islam Nusantara. Selain itu, Islam Nusantara juga dapat memantik munculnya Islam Malaysia, Islam China, Islam Eropa, Islam Amerika, dan lain-lain.

Kelompok terakhir ini sepertinya belum mengetahui, atau sekurangnya lupa, bahwa terdapat jaringan ulama Nusantara yang membentang luas secara geografis dari seluruh wilayah Indonesia saat ini, hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani (Thailand). Pada masa Tanah Hijaz belum dikuasai oleh Kerajaan Saudi Arabia yang didukung oleh ulama Wahabi, ulama Nusantara berperan cukup penting di sana. Banyak ulama Nusantara yang belajar di tanah kelahiran Islam tersebut, dan tak sedikit pula yang menjadi pengajar di sana. Sebagai identitas terhadap orang-orang yang datang dari kawasan yang kini Asia Tenggara tersebut, diberikan nisbah sesuai negeri asalnya, al-Jawi. Bagi yang pernah membaca sekilas sejarah yang menyebut nama ulama al-Jawi ini, barangkali mengira bahwa yang dimaksud sebagai “Jawi” adalah Pulau Jawa saja.

Padahal, sebutan al-Jawi ini berlaku untuk semua orang yang berasal dari kawasan geografis yang membentang di Asia Tenggara kini. Sebagai contohnya, ada nama besar Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falimbani di Palembang, dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani al-Jawi di Patani (Thailand). Semuanya memakai nisbah al-Jawi sekalipun tidak berasal ataupun tinggal di Pulau Jawa. Selain itu, Ahmad Baso (2012), mengungkapkan sejarah jaringan kyai-santri, guru-murid, baik secara langsung maupun melalui tulisan,terjalin secara luas mulai dari wilayah-wilayah yang penulis singgung di atas, bahkan hingga ke daerah Kepala Burung dan Fakfak di Pulau Papua. Luasnya cakupan geografis ini, sejak zaman dahulu memang lazim disebut sebagai “Jawi”, “Negeri Bawah Angin”, dan “Nusantara” – terma yang menjadi bahan diskusi hangat kali ini.

Selain dari aspek kesejarahan yang menihilkan sangkaan Jawa-sentris terhadap Islam Nusantara, secara esensial pun Islam Nusantara tidak hendak melakukan Jawanisasi. Dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang terjalin antara ulama dari berbagai daerah di Nusantara, pada zaman dahulu maupun saat ini, tidak tampak adanya upaya radikal dari ulama Jawa untuk melakukan Jawanisasi di wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, misalnya, Islam sudah lebih dahulu berkembang daripada di Pulau Jawa, sehingga motif melakukan Jawanisasi Sumatera tidak menemukan bentuknya. Di Banjar Kalimantan, meskipun Islam masuk di sana sebagai syarat yang diberikan Sultan Demak atas dukungan politik pada Raja Banjar, tidak juga didapati upaya Jawanisasi Banjar yang berlebihan. Demikian juga di Lombok, yang mana Islamnya memiliki “citarasa” tersendiri dalam wujud Islam Wetu Telu, atau di Makassar, yang baru masuk Islam di awal abad ke-17 tetapi langsung gigih dalam menyebarkan agama tauhid tersebut. Sepanjang sejarah, harus diakui bahwa tidak ada upaya Jawanisasi terhadap model beragama yang ada di Nusantara.

Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara menjadi payung bagi “submodel” Islam Aceh, Islam Minang, Islam Jawa, Islam Lombok, Islam Banjar, Islam Makassar, Islam Melayu, Islam Patani, dan Islam-Islam “yang lain” di wilayahnya. Sebagai payung, Islam Nusantara akan menaungi dan mengayomi model keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal dalam koridor agama Islam, di manapun ia berada. Islam Nusantara bersifat lentur tetapi teratur. Terhadap hal ini, Zastrouw al-Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semacam “school of thought” dalam aspek apapun. Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing lahirnya model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Tiongkok, dan lain sebagainya, tidaklah menjadi persoalan sepanjang tetap di dalam kerangka Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.Wallahu a’lam.

 

*) Dawam Multazam, Santri Islam Nusantara STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Meme Islam, Pesantren, Khutbah Ulama Salaf Online

Berdoalah, Perkara Terkabul Urusan Allah

Pringsewu, Ulama Salaf Online. Allah SWT sudah menentukan bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah diatur dan dibagi sesuai qodrat irodat-Nya. Manusia hanya berusaha untuk melakukan ikhtiar dan tawakkal terhadap ketentuan ini. Bentuk usaha tersebut dapat dilakukan dengan berdoa agar diberi yang terbaik oleh-Nya.

"Perlu dipahami bahwa pada dasarnya doa yang kita panjatkan tidak akan mempengaruhi apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Itu adalah hak prerogratif-Nya dan kita harus menyadarinya jika doa kita tidak dikabulkan oleh Allah SWT," demikian pernyataan Mustasyar MWCNU Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung, KH Solikhin Thohir dalam Jihad Pagi di Gedung NU Pringsewu, Minggu (24/1).

Berdoalah, Perkara Terkabul Urusan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdoalah, Perkara Terkabul Urusan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdoalah, Perkara Terkabul Urusan Allah

Lalu kenapa kita dianjurkan dalam Al-Quran untuk berdoa dan selalu mengharapkan ridho dari Allah SWT? "Kita ini makhluk yang lemah. Karena kelemahan itulah maka kita minta perlindungan dan pertolongan Allah dengan berdoa," lanjut alumni Pesantren Lirboyo Jawa Timur ini.

Ulama Salaf Online

Selain karena manusia makhluk yang lemah, berdoa juga merupakan sebuah perintah langsung dari Allah. Karenanya, maka prinsip kita adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Perkara hasil serahkan kepada-Nya," ujarnya.

Ulama Salaf Online

Tema tasawuf yang diangkat pada kesempatan tersebut mengingatkan segenap jamaah untuk menyadari bahwa Allah berkehendak untuk memberikan Rahmat-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan sebaliknya Allah juga berkehendak untuk mencabut rahmat dari orang yang diinginkannya.

Jadi, kata dia, jangan merasa Amal kita sudah baik dan diterima. Bisa jadi amal yang kita lakukan akan ditolak semua di akhir hidup kita. Dan juga jangan menganggap amal orang lain tidak baik karena bisa jadi mereka akan dirahmati Allah dengan husnul khotimah.

Oleh karenanya, Kiai Solihin mengajak jamaah untuk senantiasa berdoa agar kehidupan yang sedang dijalani ini bermuara kepada kondisi akhir yang husnul khotimah. "Mari sisa umur yang kita miliki digunakan untuk menuju keridoan-Nya. Segala yang di dunia ini bukan milik kita. Kita hanya mengaku-ngaku, tapi sebenarnya tidak memiliki. Semua akan kembali kepada Nya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Humor Islam, Berita, Pondok Pesantren Ulama Salaf Online

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija

Jember, Ulama Salaf Online - NU tidak cuma dakwah dengan kata-kata, tapi dakwah dengan kepedulian sosial yang nyata. Hal itu dilakukan salah satu lembaga NU, Lesbumi kepada Mbok Marija, warga Desa Karangharjo, Silo, Jember, Jawa Timur. Perempuan renta ini hidup sebatangkara, rumahnya berdinding gedek reyot dimakan usia, mendapat ularan tangan dari lembaga seni dan budaya tersebut.

Pengurus Cabang Lesbumi Jember mengirimkan bantuan berupa 1 kwintal beras dan uang 1 juta kepadanya. “Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Mbok Marija dengan bahasa Madura saat menerima bantuan itu, Selasa (9/8).

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija (Sumber Gambar : Nu Online)
Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija (Sumber Gambar : Nu Online)

Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija

Bantuan tersebut diserahkan H. Fathurrosi, tokoh masyarakat Silo, didampingi Ketua PC Lesbumi Jember H. Rasyid Zakaria dan Wakil Ketua NU Cabang Jember H. Misbahus Salam. Menurut H. Fathurrosi, rumah Mbok Marija hanya salah satu contoh dari sekian banyak rumah tak layak huni yang bertebaran di pelosok desa.

Kendati pemerintah sudah lama mempunyai program bedah rumah, tapi masih cukup banyak rumah orang miskin yang tidak tersentuh program tersebut. Atau, kalaupun dapat bantuan bedah rumah, tapi yang dipermak hanyalah rumah bagian depan saja. Sedangkan badan rumahnya tidak tersentuh, meskipun? sudah lapuk.

Ulama Salaf Online

Ulama Salaf Online

“NU harus berperan, memberikan atau mencarikan sumbangan, betapapun kecilnya. Ini agar NU rahmatan? lil’alamin. Karena itu, kita ucapkan terima kasih kepada NU Jember, khususnya Lesbumi yang telah berkenan memberikan bantuan,” ucapnya.

Sementara itu, H. Misbahus Salam berharap agar bantuan tersebut dapat merangsang para aghniya’ (kaya) atau instansi untuk turut serta menyalurkan bantuan bagi wanita tersebut. Menurutnya, masalah sosial yang terkait dengan nestapa kehidupan warga miskin sejatinya cukup banyak, tapi tak pernah terekspos ke luar.

Hal tersebut, katanya, tentu tidak bisa dipasrahkan kepada pemerintah semata. Sebab, anggarannya juga terbatas. “Karena itu, semangat gotong royong harus diabangun, dan kepedulian para aghniya’ juga perlu terus didorong,” ungkapnya kepada Ulama Salaf Online. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Makam, Sejarah Ulama Salaf Online

Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng

Jombang, Ulama Salaf Online - Para penggemar novel-novel Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) dapat kembali menikmati sajian cinta yang indah dan menggugah dari penulis terkemuka Indonesia tersebut. Kang Abik akan meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Bidadari Bermata Bening. Ia direncanakan tampil bersama Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah), Jumat (28/4) siang.

Dipilihnya Pesantren Tebuireng sebagai tempat peluncuran novel ini berasal dari inisiatif dan permintaan Kang Abik. Terkait pemilihan tempat, ada dua alasan yang diungkapkan pria kelahiran Semarang ini.

Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Habiburrahman El-Shirazy Luncurkan Novel Terbaru di Tebuireng

"Pertama, Tebuireng merupakan tempat yang bersejarah secara nasional. Tidak hanya tentang NU. Bicara tentang peta keislaman di Indonesia, maka Tebuireng dan Jombang tidak bisa dipisahkan," ujar Kang Abik.

Ulama Salaf Online

Alasan kedua, cerita dan tokoh dalam novel Bidadari Bermata Bening itu berakar dari pesantren. "Maka, sangat tepat novel Bidadari Bermata Bening diluncurkan di pesantren, tepatnya Pesantren Tebuireng," tutur novelis alumnus Al-Azhar University Kairo itu.

Ketua Panitia Peluncuran dan Bedah Novel Bidadari Bermata Bening Septian Pribadi menuturkan, acara tersebut akan dihadiri tidak hanya santri Tebuireng.

Ulama Salaf Online

"Panitia mengundang perwakilan seluruh pesantren di Jombang, bahkan hingga Kediri. Insya Allah peluncuran dan bedah novel Bidadari Bermata Bening akan dihadiri sekitar 2.000 orang," kata Septian, Pemimpin Redaksi Majalah Tebuireng ini. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Amalan, Aswaja Ulama Salaf Online

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Probolinggo, Ulama Salaf Online. Sebagai upaya untuk meneladani para tokoh pendiri NU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, Rabu (30/4).

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Nobar film Sang Kiai ini diikuti oleh seluruh pengurus dan kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Sumberasih. Mereka berbaur dengan Nahdliyin menyaksikan tayangan film di layar lebar dengan menggunakan LCD.

Hadir dalam nobar Sang Kiai tersebut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim serta para Ketua Ranting dan komisariat IPNU se Kecamatan Sumberasih.

Ulama Salaf Online

Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim mengungkapkan bahwa nobar Sang Kiai ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan para tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah berdirinya NU. Dengan demikian, para kader IPNU tahu perjuangan ulama dalam mendirikan organisasi terbesar di Indonesia ini.

Ulama Salaf Online

“Kami ingin memperkenalkan lebih dalam bagaimana sejarah tokoh NU, terutama KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu melahirkan sebuah resolusi jihad,” ungkapnya.

Menurut Lukman, nobar Sang Kiai ini sangat penting bagi kader IPNU untuk masa depan perjuangan NU. Sebab selama ini banyak Nahdliyin yang hanya mengetahui sejarah berdirinya NU dari buku-buku dan cerita saja.

“Mudah-mudahan dengan nobar Sang Kiai ini ada semacam inspirasi dan motivasi serta semangat untuk berjuang demi membesarkan organisasi NU. Sebab dengan menonton langsung, para kader tentunya akan tahu seberapa besar pengorbanan para ulama untuk bisa mendirikan NU,” tegasnya.

Nobar Sang Kiai ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono. Menurutnya, langkah ini merupakan sebuah cara yang positif dan efektif supaya para kader IPNU bisa meneladani figur pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang sangat gigih berjuang demi merebut kemerdekaan Indonesia.

“Semoga sosok dari Kiai Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi teladan dan inspirasi para kader IPNU dan Nahdliyin agar tidak berputus asa dalam mengkader pelajar NU yang nantinya akan menjadi estafet penerus perjuangan di organisasi NU beberapa tahun mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Aswaja, Jadwal Kajian, AlaNu Ulama Salaf Online

Kamis, 01 Maret 2018

MA Al Irsyad Gajah Juara 1 Film Dokumenter

Demak, Ulama Salaf Online. Batikku Sudah Tak Bermotif Lagi adalah judul film dokumenter karya Yatimul Chotimah yang memenangi lomba film dokumenter se Kabupaten Demak. Sang sutradara merupakan utusan Madrasah Aliyah Al Irsyad Gajah, sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Demak.

Film yang naskahnya ditulis M. Azhar --siswa kelas XI IPA Madrasah Aliyah Al Irsyad Gaja-- itu berkisah tentang perjuangan seorang anak yang memperjuangkan batik, menguatkan usaha orang tuanya. 

MA Al Irsyad Gajah Juara 1 Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Al Irsyad Gajah Juara 1 Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Al Irsyad Gajah Juara 1 Film Dokumenter

Guru pembimbing Nurul Asror menuturkan pembuatan film ini merupakan kali kedua setelah anak-anak membuat film pendek dengan judul Bejo. Bejo berkisah tentang salah satu anak MA Al Irsyad Gajah Demak yang bernama Bejo dengan prestasinya sehingga mampu mendapatkan beasiswa di Yaman untuk dilombakan tingkat Nasional dengan mendapat juara harapan I.

Ulama Salaf Online

“Kami patut bangga karena karya anak-anak kami menang dalam lomba yang diadakan dinas pariwisata Demak. Perlu diketahui anak-anak itu tidak hanya kali ini saja dulu juga pernah juara harapan satu tingkat nasional,” tutur Asror yang juga ketua Ansor Mijen.

Ulama Salaf Online

Selain itu, lanjut Asror, pembuatan film di samping sebagai latihan bermain peran dan berkreasi kegiatan ini diharapkan dapam mengasah kemampuan anak-anak melihat dan menterjemahkan kondisi sosio kultural dilingkungan masyarakat sekitarnya.Sementara itu, Kepala Madrasah Aliyah Al Irsyad Gajah H Fachrurrozi meminta anak-anak tidak puas hanya sampai di sini, terus bakatnya perlu dikembangkan. 

“Keberhasilan anak-anak NU yang ndesa-ndesa jangan dilihat dengan sebelah mata, dikarenakan prestasinya tidak kalah dengan sekolah negeri maupun swasta yang di kota dan bayarnya mahal,” ujarnya berbangga.

“Syukur alhamdulillah dengan diraihnya juara satu film dokumenter tingkat kabupaten Demak ini akan lebih memantapkan kedudukan madrasah di kalangan LP Maarif sejajar dengan sekolah sekolah yang ada,” sambung Fahrurrozi.

Di tempat terpisah Kepala Dinparbud Kabupaten Demak HM Ridwan menjelaskan, lomba karya film dokumenter merupakan tindak lanjut dari program serupa yang selenggarakan Dinbudpar Jateng. “Ini upaya mengekspos sekaligus publikasi potensi unggulan daerah, sehingga bisa terangkat atau lebih dikenal masyarakat luas,” katanya.  

Pemenang kedua didapat oleh SMK Negeri 1 Demak berjudul Primadona yang Terlupakan. Sementara juara ketiga utusan dari SMA Negeri 1 Karanganyar dengan film Puing-puing Kertas

Kontributor : A. Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Sejarah Ulama Salaf Online

Rabu, 28 Februari 2018

LPBI dan PCNU Aceh Utara Salurkan Paket Lebaran untuk Pengungsi Rohingya

Aceh Utara, Ulama Salaf Online. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Aceh Utara bekerjasama dengan Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melakukan aksi kemanusiaan, Selasa (14/7) dengan mengunjungi pengusi Rohingya di Kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh Utara di Dusun Krueng Inoeng, Desa Blang Adoe, Kemukiman Buloh Blang Ara Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara,? sekitar pukul 14.30 WIB.

LPBI dan PCNU Aceh Utara Salurkan Paket Lebaran untuk Pengungsi Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI dan PCNU Aceh Utara Salurkan Paket Lebaran untuk Pengungsi Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI dan PCNU Aceh Utara Salurkan Paket Lebaran untuk Pengungsi Rohingya

Kunjungan kali ini untuk membagikan paket lebaran, berupa alat kosmetik dan peralatan mandi.? “Sumbangan ini semua bersumber dari Pimpinan Pusat LPBI NU yang disalurkan oleh PCNU Aceh Utara,” kata Teungku Zulfadli selaku koordinator penyalur bantuan dan juga sekaligus ketua tanfidziyah PCNU Aceh Utara.

Bantuan diserahkan langsung kepada pengungsi Rohingnya dan mereka sangat antusias dan mengucapkan terimakasih kepada PP LPBI NU. “Mereka sampaikan ucapkan terimakasih kami dan salam kami kepada PP LPBI NU”, tutur Hasan salah satu pengungsi Rohinngya yang bisa bahasa Melayu.

Ulama Salaf Online

Turut hadir Sekretaris Tanfidziyah PCNU Aceh Utara Tgk. Armia Sulaiman, Bendahara Tgk. Hamdani A.Hamid serta satu orang perwakilan muntasyar Tgk. H.Ismail. (Indra/Anam)

Ulama Salaf Online

Dari Nu Online: nu.or.id

Ulama Salaf Online Tegal, Pahlawan, Makam Ulama Salaf Online

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ulama Salaf Online sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ulama Salaf Online. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ulama Salaf Online dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock